
Seperti biasanya setiap malam Lili selalu terbangun di sela-sela tidurnya, dia selalu bermimpi kejadian itu sehingga membuatnya tak bisa tidur kembali. Dia selalu tidur menjelang subuh, entah mengapa hari ini dia tidak tertidur kembali stelah subuh. Lili melakukan rutinitas seperti biasanya, joging setelah itu dia berlatih di ruangan latihannya. Dia belum mau untuk melanjutkan pekerjaannya di kantor. Lili masih membutuhkan beberapa hari lagi untuk mengurus semua pekerjaannya.
Dilain tempat tuan Amida, menyuruh istrinya dan Arata untuk bersiap-siap. Arata tidak bertanya akan pergi kemana, dia hanya menuruti semua perkataan ayahnya. Setelah siap semua mereka pun segera pergi, dilihatnya ayah dan ibunya berpakaian sangat rapi.
"Sebenarnya kita mau kemana?!" tanya Arata yang merasa penasaran.
Ayah dan ibunya tidak menjawab pertanyaannya, sehingga Arata kembali diam dan memandangi suasana di luar. Dilihatnya setiap orang sedang berlalu-lalang, rutinitas di pagi hari bagi para pencari uang. Arata mulai terhayut dalam suasana, entah apa yang ada di pikirannya. Dia tak menyadari bahwa mobil yang dia tumpangi, sudah berhenti di halaman rumah Lili. Tuan Amida pun turun dari dalam mobil di ikuti oleh ibu Rima, sang ibu yang melihat Arata masih belum tersadar dari lamunannya memanggil Arata. Namun dia hanya terpaku dan tidak mendengar panggilan ibu Rima.
"Arata!" Teriak ayah pada Arata, sehingga membangunkan Arata dari lamunannya.
Arata terkejut dengan apa yang baru disadari, ternyata dia sudah berada di halaman rumah Lili. Dia tidak tahu apa yang akan di rencanakan oleh ayah dan ibunya. Dia hanya bisa diam dan menuruti semua perintah sang ayah, karena dia merasa sudah melakukan hal yang sangat buruk. Arata pun keluar dari dalam mobil, dia melihat seorang gadis yang baru saja keluar dari ruangan latihan. Entah apa yang ada di pikiran Arata, dia tak bisa mengalihkan pandangannya dari Lili.
Lili yang mengetahui kedatangan tuan Amida dan keluarga, segera menyambut mereka dan mempersilahkannya untuk masuk. Mama dan papa yang melihat kedatangan tuan Amida langsung menyambutnya dan mempersilahkan untuk duduk. Seorang pelayan menghidangkan minuman dan beberapa camilan. Lili berpamitan untuk membersihkan diri, sembari berjalan meninggalkan kedua orangtuanya untuk berbincang dengan tuan Amida.
Tanpa basa-basi tuan Amida mengatakan maksud dari kedatanganya pada tuan Karim. Dia bermaksud meminang Lili untuk Arata, karena sudah kewajiban bagi Arata untuk bertanggungjawab atas segala perbuatannya pada Lili. Papa Karim tidak bisa memutuskan begitu saja, karena semua keputusan berada di tangan Lili. Jadi papa Karim memutuskan untuk menunggu Lili turun dan menanyakan hal tersebut padanya. Tuan Amida pun memahami semuanya, dia pun menunggu Lili turun kebawah.
Tak berselang lama, Lili pun keluar dari kamarnya dan menuju ruang tamu dimana sudah menunggu Tuan Amida beserta yang lainnya. Sekilas melihat suasana di ruang tamu Lili bertanya-tanya apa yang sedang mereka bicarakan. Lili mendekati mereka, dia duduk di tengah-tengah papa Karim dan mama Hani. Papa Karim mengatakan niat dari kedatangan tuan Amida, betapa terkejutnya Lili mendengar semua itu. Dia belum siap untuk menikah dengan orang yang sudah merenggut kesuciannya.
"Tidak! Aku tidak ingin menikah dengannya! Aku sangat membencinya Pa, Ma!" Penolakan Lili setelah mendengar perkataan papa Karim.
"Tapi Nona Lili sudah kalah taruhan bukan! Saat bertarung melawan Arata, Nona Lili jatuh tak sadarkan diri! Sehingga Arata lah yang memenangkan pertarungan itu!" Tuan Amida berusaha mengingatkan Lili dengan pertarungan pertama yang hasilnya dia tak sadarkan diri.
Lili terdiam, dia mengingat semua kejadian yang baru saja dikatakan oleh tuan Amida.
Flashback On
"Untuk apa kau datang kemari hah!" Lili berkata dengan nada tinggi ke arah Arata.
"Kenapa kau tidak mengharapkan ku datang menemui mu, apa kau belum puas dengan yang kemarin?" Sindir Arata, yang membuat Alin dan Lili kembali mengingat kejadian itu.
Alin yang kesal mendengar perkataan Arata menghampirinya, dia melatanyangkan tinjuannya ke wajah Arata. Semua terkejut melihat apa yang dilakukan oleh Alin. Namun semua itu pantas di terima oleh Arata karena dia yang bersalah. Sehingga tuan Amida tidak membalas perlakuan Alin pada putranya. Alin yang masih kesal menantang Arata untuk bertarung di atas ring. Namun Lili menghalanginya, masih banyak kemarahan yang ada di dalam hatinya. Dia ingin mengeluarkannya dengan memghajar orang yang sudah melecehkannya.
Arata yang mendengar ucapan Lili merasa tertantang, karena selama ini belum ada wanita yang sudah ia hancurkan semakin kuat. "Baiklah aku terima tantangan mu! Tapi apa yang akan kau berikan jika aku menang dari mu?"
Karena Arata dan Lili berencana bertarung di atas ring, tuan Amida berkata, jika Arata kalah maka Lili bisa dengan bebas untuk menghukum putranya dengan cara apapun. Tuan Amida tidak akan melarang Lili menghukum Arata. Sedangkan jika sebaliknya yang kalah adalah Lili, maka tuan Amida meminta Lili untuk menjadi menantunya.
"Baik, aku setujui itu semua! Aku akan mengalahkanmu! Memghajarmu sampai kau tak berdaya Arata!" Lili berkata dengan ketus.
Arata pun membuka jasnya, membuka kancing atas kemejanya dan membuka kancing kedua lengannya, dia bersiap-siap untuk bertarung dengan Lili di atas ring.
"Dasar kau ********, kau pikir aku wanita lemah hah! Jika saja kemarin kau tidak membius ku, maka kau tidak bisa melakukan hal yang menjijikkan itu padaku!" Ucap Lili dengan marah.
"Baiklah kita lihat siapa yang kuat, kau pikir dengan tidak di bius kau lebih kuat dari ku, Hahahaha jangan mengkhayal kau Nona!" Arata membalas ucapan Lili dengan nada sindiran nya.
Akhirnya mereka pun memulai perkelahian mereka, Lili melayangkan tinjunya, sesekali melayangkan tendangannya. Emosinya memuncak karena di hadapannya adalah berdiri seseorang yang telah merenggut kesuciannya. Arata masih bersikap tenang menghadapi serangan Lili. Alin melihat Lili yang bertubi-tubi menyerang Arata semakin kelelahan. Alin pun berteriak agar Lili menurunkan emosinya, jika dia terus emosi yang ada adalah kekalahan bagi Lili.
Lili yang mendengar perkataan Alin tersadar, jika dia terlalu emosi yang ada dia bisa kalah dari Arata. Seketika gaya bertarung Lili berubah, Arata mulai kewalahan. Arata yang hanya menghindar sekarang mulai menyerang Lili dengan tinjuan dan tendangannya. Namun Lili bisa menangkis tinjuan Arata serta menghindar dari tendangan Arata. Lili melayangkan pukulannya, pukulan yang dilayangkan Lili mengenai pipi Arata.
Arata membalas dengan melayangkan tinjunya, tinjuannya itu mengenai perut Lili. Satu jam sudah berlalu, mereka sudah kelelahan. Lili yang sudah kehabisan tenaganya karena dia sudah mengeluarkan banyak tenaga, akhirnya jatuh tak sadarkan diri. Arata yang mengetahui Lili akan terjatuh, langsung memegangnya dan menidurkannya di bawah.
Melihat Lili terjatuh tak sadarkan diri, mama Hani menyuruh papa Karim untuk menggendongnya ke kamar. Namun Arata sudah menggendong Lili, dia berkata pada tuan Karim untuk menunjukkan dimana kamar lili berada. Entah apa yang ada di pikiran Arata, tapi Alin merasakan aura yang berbeda dari sebelumnya. Perubahan sikap Arata seperti ini membuatnya sangat bingung. Arata menggendong Lili sampai di kamarnya, dan menidurkannya di kasur. Tatapan Arata pada Lili sangat berbeda, ada tatapan kelembutan yang muncul di matanya.
Flashback Off
__ADS_1
Lili pun pergi meninggalkan ruang tamu, dia berlari menuju kamarnya dan mengunci rapat pintu kamarnya. Melihat sikap Lili seperti itu tuan Amida memakluminya begitupula dengan ibu Rima. Tapi yang pasti tuan Amida teguh dengan keputusannya, bahwa Lili dan Arata harus menikah. Selain karena Arata yang sudah melecehkan Lili, dia yakin bahwa Arata bisa hidup bahagia bersama Lili. Karena penilaiannya selama ini tidak salah, sebenarnya sejak pertama kali bertemu dengan Lili, tuan Arata sudah berniat untuk menjodohkannya dengan Arata.
Namun takdir mempertemukan mereka berdua dengan cara yang menyakitkan. Setelah mendengar keputusan tuan Amida, menimbang segala hal akhirnya papa Karim dan mama Hani menyetujui keinginan tuan Amida. Tapi papa Karim juga mengatakan bahwa semuanya tergantung keputusan Lili, jika Lili setuju maka dia akan mengijinkan Arata untuk jadi suami dari putrinya. Jika Lili tidak ingin menikahi Arata, maka tidak akan ada pernikahan antara mereka berdua.
Dilain sisi Lili yang kesal dengan rencana pernikahannya, berganti pakaian dengan pakaian untuk mengendarai motor. Dia berencana untuk pergi berjalan-jalan untuk menenangkan diri. Dilihatnya tuan Amida masih berada di rumah, Lili memutuskan untuk pergi lewat pintu samping. Sehingga tidak ada yang melihat kepergiannya. Diambilnya helm dan kunci motornya, dia langsung mengendarai motornya dengan kecepatan penuh.
"Pa, Lili pergi!" ucap mama Hani yang mendengar suara motor Lili pergi dari halaman rumah.
Papa berusaha menenangkan mama Hani, dia yakin Lili hanya mencari udara segar guna menenangkan dirinya. Meski ditenangkan oleh papa Karim, mama Hani tetap khawatir. Akhirnya tuan Amida memutuskan untuk pulang, dia juga berjanji untuk mencari keberadaan Lili. Dan akan menjadi calon menantunya. Mendengar perkataan tuan Amida, perasaan mama Hani sedikit tenang.
Tuan Amida pun pergi meninggalkan rumah Lili, di dalam mobil dia memerintah kepada semua anak buahnya untuk mencari keberadaan Lili. Jika mereka menemukannya, mereka harus terus memperhatikannya dan melindunginya. Arata yang mendengar semua kekhawatiran ayahnya terhadap Lili hanya diam. Setibanya di rumah, tuan Amida langsung menuju ruangan kerjanya sedangkan ibu Rima menuju kamarnya.
Sedangkan Arata dia mengambil kunci mobilnya dan pergi meninggalkan rumahnya. Dia pun membutuhkan waktu dengan semua rencana sang ayah, "mana mungkin wanita yang sudah ku nodai, mau menikah dengan ku! Baginya aku ada seorang monster yang menghancurkan hidupnya!" gumam Arata.
Hari semakin sore, biasanya Arata mengunjungi sebuah bar untuk menghabiskan malam. Namun semenjak kejadian itu dia sudah tidak mengunjungi bar lagi. Dia memilih pergi ke suatu tempat yang nyaman baginya, dia memberhentikan mobilnya di sebuah taman. Dia melihat sesosok gadis sedang duduk di atas motornya sembari memandangi susana di sore hari. Entah apa yang terjadi, kaki Arata mendekati gadis itu. Hatinya tidak ingin mendekatinya namun otaknya menyuruh kakinya untuk mendekatinya.
Lili yang tersadar ada seseorang mendekatinya, dia langsung melihat kebelakang. Ternyata dia melihat pria yang tidak ingin dilihatnya untuk saat ini dan seterusnya. Dalam hatinya dia berkata 'kau adalah musuhku! Selamanya akan menjadi musuhku!'
"Pergi kau! Aku tak ingin melihatmu di sini!" ucap Lili dengan dingin pada Arata.
"Ijinkan aku untuk menemanimu, kau tidak usah memedulikan keberadaan ku! Anggap saja aku tidak ada!" jawab Arata pada Lili.
Lili hanya diam mendengar semua ucapan Arata, dia tidak ingin berurusan lagi dengan Arata. Lili semakin tak nyaman dengan keberadaan Arata, akhirnya dia yang mengalah dan pergi meninggalkan Arata. Sebelum pergi Arata berkata pada Lili, "sebaiknya kau langsung pulang ke rumah mu! Kasihan mama Hani, dia sangat khawatir padamu!"
Tanpa menjawab Arata, Lili menarik gas motornya dengan kecepatan penuh. Sehingga motornya melesat meninggalkan Arata, di lihatnya Lili hingga menghilang dari pandangannya. "Begitu bencinya dirimu padaku! Tapi semua itu pantas kau lakukan padaku! Maafkan aku Lili!" gumam Arata, sembari memasuki mobilnya dan pergi meninggalkan taman itu.
****
Beberapa hari kemudian muncul berita mengenai pelecehan yang dilakukan Arata pada Lili. Anehnya semua berita itu hanya muncul di perusahaan yang bekerjasama dengan papa dan mama Lili. Entah siapa yang menyebarkan semua berita itu, akibat munculnya berita itu ada beberapa client yang membatalkan kerjasamanya dengan perusahaan mama dan papa Lili. Semua menjadi kalang kabut, banyak karyawan yang membicarakan musibah itu di belakang Lili.
"Maru, cepat cari siapa dalang yang mengacaukan perusahaan keluarga Lili! Dalam 1 jam aku ingin tahu siapa dalangnya!" Perintah Arata pada asistennya.
Maru pun pergi dia berusaha menyelesaikan apa yang diperintahkan oleh Arata. Dia mengerahkan semua para pengawal untuk mengecek semuanya. Maru tidak ingin mengecewakan tuannya, sehingga dia bertindak cepat. Sudah batas waktu yang diberikan oleh Arata pada asistennya, Maru pun masuk kedalam ruangan Arata. Dia memberikan sebuah dokumen, disana berisikan semua informasi siapa di balik kekacauan di perusahaan Lili.
Pranggg!
Dia melempar semua benda yang ada di atas mejanya, dia sangat kesal dengan apa yang baru saja dia baca. Ternyata dibalik semua kekacauan ini adalah Akhira, apa dia tidak memikirkan efek yang akan di rasakan oleh Lili. Maru terkejut dengan sikap tuannya, dia hanya diam dan menunggu perintah selanjutnya. Setelah melepaskan semua kekesalannya, Arata pergi meninggalkan ruangannya. Dia menghubungi Akhira, dia ingin bertemu dengan Akhira. Mereka pun menentukan tempat untuk bertemu. Akhira meminta Arata untuk bertemu di sebuah cafe CCC. Arata pun langsung menuju mobilnya, dia segera menemui Akhira di cafe CCC.
Tuan Amida masuk ke ruangan Arata, guna menanyakan apakah dia sudah menemukan dalang di balik kekacauan di perusahaan tuan Karim. Melihat ruangan yang berantakan, dia hanya melihat Mari dan beberapa orang sedang membersihkan kekacauan di ruangan Arata.
"Apa yang terjadi?!" tanya tuan Amida pada Maru.
Maru menceritakan semua yang terjadi, tuan Amida marah pada Maru kenapa dia tidak mengikuti kemanapun Arata pergi. Karena sekarang sudah menjadi tugas Maru, itu sebabnya tuan Amida menugaskan Maru untuk menjadi asistennya. Maru meminta maaf atas kelalaiannya, dia siap dihukum atas kelalaian yang sudah dia lakukan. Tuan Amida pergi meninggalkan ruangan Arata, dia menyuruh Maru untuk mencari keberadaan Arata. Maru pun segera melaksanakan tugas yang diberikan tuan Amida.
Dilain tempat Akhira sedang menikmati secangkir kopi di sebuah cafe, suasana hatinya sedang senang. Karena rencana yang dia lakukan berhasil, dia ingin mempermalukan Lili di depan umum. Dan juga ingin membuat Lili benci pada Arata, sehingga Lili tidak mau menikah dengan Arata. Dalam hatinya masih ada dendam pada Lili, karena perbuatannya kemarin sewaktu di rumah tuan Amida. Lili menpar Akhira dan menghajarnya. Beberapa saat kemudian Akhira melihat kedatangan Arata, dia sangat senang melihat wajah Arata yang penuh dengan amarah.
Arata menghampiri Akhira, ingin rasanya langsung menghajar Akhira tanpa ampun. Namun dia masih menganggapnya sebagai kakaknya, di urungkannya niat untuk menghajar Akhira. Arata duduk berhadapan dengan Akhira, dia ingin mendengar penjelasan darinya.
"Sebenarnya apa salahku dan Lili?! Sehingga kau ingin membuat kami hancur?" Arata berkata dengan nada kesal.
Semakin Arata kesal itu membuat hati Akhira senang, karena inilah yang dia mau. Kehancuran Arata adalah salah satu tolak ukur dari keberhasilan Akhira.
"Hahaha itulah yang aku inginkan! Agar kau hancur sehingga tak bisa berdiri kembali. Sedangkan untuk gadis sial itu! Aku ingin menghancurkannya sehingga dia tidak bisa bangkit kembali! Aku ingin membuat kalian saling menghancurkan, sehingga aku yang menikmati semuanya!"
__ADS_1
Arata kesal dengan semua ucapan yang terlontar dari mulut Akhira, akhirnya dia memutuskan untuk pergi meninggalkannya. Dia tidak mau mengotori tangannya dengan darah Akhira. Arata berusaha menahan emosinya. Dia tidak masalah jika Akhira mengganggunya tapi jika sudah merugikan orang lain, Arata tak bisa diam begitu saja.
"Hai kau Arata, mengapa kau pergi hah! Apa kau begitu lemah sehingga kau tidak bisa melawanku? Ternyata hanya segini kemampuan dari putra Tuan Amida! Pria yang sangat lemah!"
Arata menghiraukan semua ucapan Akhira, dia terus berjalan keluar menuju mobilnya. Dia pun segera meninggalkan cafe tersebut, dalam pikiran Arata muncul berbagai masalah yang selama ini bergelayut dalam benaknya. Yang dia butuhkan adalah menenangkan diri, dia memilih mencari suasana yang nyaman dan tenang.
Disisi lain, Akhira tidak menyadari bahwa dibelakangnya duduk seorang gadis. Gadis itu mendengar semua rencana Akhira, akhirnya Lili tahu dalang dibalik kekacauan di hidupnya adalah Akhira. 'ingin rasanya langsung menghajar Akhira!' batinnya. Namun keinginan itu dia hempaskan. Tidak ada gunanya Lili menghajar iblis seperti Akhira, setelah melihat Akhira pergi meninggalkan cafe tersebut. Lili pun beranjak dari duduknya, dia pun pergi dari cafe yang sudah memberinya banyak informasi yang tak terduga.
Di saat dalam perjalanan Arata mendapatkan pesan dari Maru, pesan itu berisikan bahwa Arata harus segera kembali ke kantor. Karena tuan Amida mencarinya dan Arata harus segera mungkin menghadap tuan Amida. Setelah membaca pesan tersebut, Arata langsung tancap gas mobilnya pun melesat dengan kecepatan tinggi.
Tak membutuhkan waktu yang lama, Arata tiba di kantor dia langsung menuju ruangan ayahnya. Dia tidak ingin menambah beban pada ayahnya lagi. Maru yang sudah menunggunya di lobi, langsung menemani Arata untuk bertemu dengan ayahnya. Arata melihat asistennya tersebut, terlihat jelas kecemasan terhadapnya.
Tok!
Tok!
"Masuk!"
Arata masuk bersama Maru ke dalam ruangan tuan Amida, dilihatnya sang ayah sudah mengeluarkan kekesalannya. Dia menyuruh Arata untuk duduk, sedangkan Maru hanya berdiri melihat tuannya hendak dimarahi oleh tuan Amida.
"Apa yang kau lakukan hah! Sudah ku bilang jangan menghadapi Akhira sendirian! Dia bukan kakakmu yang dulu! Dia sudah berubah setelah memiliki penyakit iri hati padamu!"
Arata hanya diam seribu bahasa, dia tidak mau melawan ayahnya. Sudah cukup masalah yang sudah diperbuatnya, sehingga membuat malu keluarga. Tuan Amida sudah membaca laporan mengenai siapa di balik kekacauan di perusahaan tuan Karim. Tidak ada jalan lain selain Arata dan Lili menikah secepatnya. Tuan Amida harus memastikan kembali kesediaan Lili untuk menikah dengan Arata, semua ini demi Lili dan Arata.
Tuan Amida menyuruh Arata untuk melanjutkan semua pekerjaannya, Arata pun membungkuk dan pergi meninggalkan ruangan ayahnya. Setelah kepergian Arata, tuan Amida menghubungi Lili. Dia ingin bertemu dengan Lili dan membicarakan semuanya. Lili pun menyetujui untuk bertemu dengan tuan Amida. Mereka janji bertemu di sebuah restoran tradisional Jepang NNN.
****
Ternyata tuan Amida lebih dulu samapai di restoran NNN, Lili yang baru saja tiba memberi hormat dan langsung duduk. Lili sudah tahu maksud dari pertemuan ini, karena Lili pun sudah memutuskan apa yang harus dia lakukan. Tanpa basa-basi tuan Amida langsung mengatakan maksud dari pertemuan kali ini. Dengan maksud tidak ada lagi penolakan dari Lili.
"Nona Lili sudah tahu apa yang akan saya tanyakan kali ini?!"
Lili tidak menjawab, dia terdiam sebelum mengatakan keputusan yang sudah dia ambil. Menimbang dari janji sebelum perkelahian dengan Arata yang membuatnya tak sadarkan dirinya. Dan juga semua kekacauan yang di timbul oleh Akhira, akhirnya Lili mengambil keputusan, "saya bersedia menikah dengan Arata!"
Mendengar jawaban dari Lili, seketika ekspresi tuan Amida berubah menjadi cerah. Dia sangat bersyukur dengan keputusan yang diambil oleh Lili. Karena hanya Lili yang bisa membimbing Arata menjadi manusia yang lebih baik. Setelah pembicaraan mereka selesai, Lili pamit untuk pulang. Begitupun tuan Amida dia pulang ke rumahnya dengan suasana hati berbunga.
Setibanya di rumah tuan Amida menceritakan semuanya pada istrinya, betapa senangnya sang istri mendengar kabar tersebut. Setelah berbincang dengan istrinya, tuan Amida memutuskan bahwa besok dia harus berkunjung ke rumah orangtua Lili. Dia segera mengeluarkan handphone-nya dan mengabari hal tersebut pada tuan Karim. Ibu Rima segera menyediakan semua perlengkapan untuk dibawanya ke kediaman Lili. Tuan Amida menunggu kedatangan Arata untuk memberitahukan kabar ini. Karena Arata pun harus bersiap-siap untuk esok hari.
Kediaman Lili, setelah mendengar kabar dari tuan Amida, papa Karim langsung memberitahukan semuanya pada mama Hani. Mendengar ucapan suaminya, mama Hani hanya bisa diam dia tidak tahu apa yang harus dia rasakan. Rasa bahagiakan? Atau rasa sedih? Karena putrinya akan menikah dengan pria yang sudah merenggut kesuciannya.
"Ma ini semua sudah takdir putri kita, pernikahan ini adalah jalan terbaik untuk Lili. Kita do'akan saja semoga Lili dapat berbahagia, Tuhan pasti memberikan kebahagian pada putri kita."
Mendengar ucapan suaminya, mama Hani pun bangun dari duduknya dan menyiapkan segala sesuatu untuk kedatangan tuan Amida. Hanya keikhlasan yang bisa dilakukan sekarang. Semua ini demi kebaikan Lili karena mama Hani tidak ingin melihat dan mendengar penghinaan orang pada putrinya.
____________________________________________
Sampai bertemu di part berikutnya 😊
___________________________________________
Jika ada yang ingin ditanyakan padaku tentang karya dan bisa langsung menghubungi ku via akun Instagram.
Klik search di Instagram dengan nama akun :
__ADS_1
@macan_nurul
Sekali lagi terimakasih untuk kalian semua 💋💋 jangan lupa ya like dan komen ya juga vote ya 😉 jangan lupa juga jadikan favorit ya 😉 😉