Musuhku Menjadi Imamku

Musuhku Menjadi Imamku
Extra Part Lili-10


__ADS_3

Arata sudah kembali ke rumah, beberapa saat kemudian Lili pun sampai di rumah. Dia melihat Arata sedang membuka kemejanya, tapi dia kesulitan, mungkin karena tadi dia tidak melawan sama sekali saat bertarung dengan Rio.


'Tapi kenapa aku harus memikirkannya, hai Li ngapain kamu perduli sama monster itu. Biarkan saja dia merasakan akibat yang telah dia perbuat,' batinnya. Tapi kenapa kaki dan tangan Lili ingin membantunya, dia pun melangkah mendekatinya.


"Sini ku bantu kau melepaskan pakaian mu!"


Arata yang kaget dengan kedatangan Lili, langsung mundur dan menghindar dari Lili. Karena dia tidak mau Lili teringat akan hal yang menjijikkan itu.


"Tidak perlu aku bisa sendiri, lebih baik kau istirahat saja." Ucap Arata sambil pergi masuk ke kamar mandi.


"Huh dasar kau monster, aku mau membantumu tapi kau tidak mau. Ya sudah kau lakukan saja semuanya sendiri." Aku berkata sambil meninggalkan dia sendiri.


"Maafkan aku Lili, aku tidak mau kau terus mengingat hal itu. Dan aku pun sebenarnya sakit sekali jika kau memanggilku monster. Tapi itu memang pantas untuk ku. Karena sifat monsterku yang dulu telah menghancurkan mu," gumam Arata.


Beberapa saat kemudian Arata selesai membersihkan lukanya, namun dia belum mengoleskan obat pada luka di tubuhnya. Banyak sekali memar-memar di tubuhnya, dia menahan semua rasa sakitnya. Dia berpikir ini belum seberapa dengan hal yang dia lakukan pada Lili dan Alin.


Ini adalah hukuman baginya, karena telah melakukan hal yang menjijikkan. Arata pun merebahkan badannya di kasur, walau badannya terasa sakit. 'Lebih baik aku tidur saja, mungkin besok rasa sakit ini akan sedikit berkurang,' batinnya.


Beberapa saat kemudian Lili masuk ke dalam kamar, dilihat Arata sudah berbaring di atas ranjang. 'Kenapa aku memikirkannya, tapi hati ini masih sangat membencinya. Lebih baik aku tidur saja, lagian dia juga pantas menerima semua ini seharusnya lebih parah dari ini. Kau lihat saja akan ku balas semua yang telah kau lakukan padaku. Aku ingin kau sangat menderita sampai akhir,' batinnya.


Meski dalam hatinya ingin membalas semua perbuatan Arata, namun hati baiknya ingin memaafkan dan menerima dia sebagai suaminya. Dalam hatinya berkecamuk antara memaafkan dan membalas segala perbuatan Arata padanya.


Awwww!


Terdengar suara erangan kesakitan Arata saat dia akan membalikkan badannya. Dia hanya menggunakan kimono untuk tidur. Jadi terlihat jelas memar yang ada di tubuhnya. Aku pun langsung mendekatinya dengan membawa kotak obat.


'arrrggh apa yang kulakukan sih, biarkan saja dia merasakan kesakitan. Dia memang pantas mendapatkannya! Lebih baik aku tidur sajalah,' dalam hati Lili. Dia pun melangkah pergi keluar kamar, karena air persediaan di kamar habis.


Arata terbangun meliha Lili keluar kamar, dia melihat kotak obat di atas meja samping tempat tidur tersenyum tipis. Dan Arata kembali tertidur, anehnya rasa sakit yang dirasakan tadi berangsur menghilang.


Setelah mengambil minum, Lili langsung menyimpannya di atas meja. Lili pun tidur karena besok dia harus mengerjakan sesuatu. Dia pun menuju sofa yang cukup besar, sengaja di simpan di dalam kamar agar dia bisa tidur disana.

__ADS_1


Sebelum tidur Lili membuka laptop guna mengecek email yang masuk. Tanpa terasa matanya semakin berat, dia tak bisa menahan rasa kantuknya dia pun tertidur.


Arata yang terbangun karena haus, melihat Lili tertidur di atas sofa. Dia mendekatinya lalu menyelimutinya. "Andai saja kita bertemu dengan cara yang berbeda, mungkin tidak akan menjadi seperti ini. Maafkan aku yang telah membuatmu sangat menderita," gumam Arata.


Keesokan harinya, Lili terbangun dia melihat tubuhnya tertutup selimut. Seingatnya tidak memakai selimut tadi malam, apa mungkin dia lupa. Lili pun bangun hendak bangun untuk mengambil air wudhu lalu sholat. Saat hendak masuk ke kamar mandi, Lili kaget Arata keluar dari kamar mandi.


"Kita sholat bersama, cepatlah ambil wudhu mu!" Ucap Arata dengan lembut.


Lili pun tanpa berkata langsung menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu. 'Aku tak mengira bahwa dia sholat, yang aku tahu dia memang seorang keturunan Jepang Muslim,' dalam hatinya. Setelah mengambil air wudhu dia pun keluar, bersiap menggunakan mukenanya. Ternyata Arata sudah menunggunya, mereka pun akhirnya sholat bersama.


Meskipun dia terlihat berbeda dan sudah menjadi lebih baik, Lili masih belum bisa melupakan perbuatannya. Jika Lili melihat dia, selalu terbayang peristiwa itu rasanya Lili ingin menghajarnya.


Drrrttttt!


Suara handphone Lili berbunyi ternyata Hani yang menelepon, mama Hani meminta Lili untuk bertemu salah satu client yang ada di Bandung, sekalian juga menjenguk nenek disana. Lili pun mengiyakan akan ke Bandung hari ini setelah urusannya selesai.


Mama Hani menyuruh Lili untuk pergi bersama Arata, dia diingatkan oleh mama Hani agar bersikap sewajarnya. Karena nenek tidak tahu tentang masalah Lili dan Arata. Lili kesal dengan ucapan mama Hani, apakah perlakuannya tidak wajar pada Arata.


Lili bertanya pada Arata, apakah dia sedang banyak pekerjaan atau tidak. Karena Lili akan mengajak Arata siang ini ke Bandung, Arata menggelengkan kepalanya seraya menjawab tidak. Lili pun mengerjakan travel bag-nya, membereskan apa saja kebutuhan yang akan di bawa ke Bandung.


"Mau kemana kau?!"


Arata bertanya pada Lili, karena dia tidak tahu jadwal Lili hati ini. Lili pun menjawab bahwa nanti siang akan ke Bandung. Perlengkapan Lili sudah selesai, giliran Lili menyiapkan perlengkapan Arata. Dalam pikiran Arata mungkin dia juga mengajaknya ke Bandung. Arata tersenyum melihat Lili merapikan apa yang akan dibawa.


Sebelum berangkat ke Bandung, Lili harus ke kantornya terlebih dahulu begitupun dengan Arata. Setelah urusan selesai Lili akan menjemput Arata di kantornya. Arata pun dengan cepat menyelesaikan semua masalah kecil yang ada di perusahaan cabangnya. Dia tidak sabar menanti kepergiannya ke Bandung bersama Lili.


****


Bandung


Bandung, adalah tempat kelahiran mama Hani. Begitu banyak kenangan mama Hani di kota ini, banyak penderitaan yang diterima di sini. Perjuangan mama untuk menikah dengan papa kandung Lili, keteguhan mama Hani dalam mempertahankan Lili dalam kandungan. Setiap penghinaan yang diterimanya dari orang serta semua kelurganya. Hanya satu orang yang selalu ada untuk mama Hani yaitu nenek Salamah.

__ADS_1


Lili sempat beberapa kali mengunjungi nenek Salamah di Bandung, karena banyak yang tidak menyukainya sehingga dia tidak terlalu sering mengunjunginya. Hari ini baru pertama kali berkunjung ke rumah nenek Salamah bersama Arata. Sebelum ke rumah nenek Salamah, Lili menemui client mama Ditemani oleh Arata.


Urusan dengan client sudah beres, hari sudah malam Lili pun mendapatkan pesan dari nenek untuk segera ke rumah jika urusannya sudah selesai. Lili pun segera menuju rumah nenek Salamah, dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan sang nenek. Dia begitu merindukan nenek yang selalu ada dan menyayangi mama Hani dan dirinya.


"Nenek?!"


Teriak Lili yang melihat neneknya sudah menunggu di depan pintu, sang nenek tidak sabar menanti kedatangan cucunya yang sudah lama tak bertemu. Dipeluknya Lili erat-erat berlinanglah air mata nenek membasahi kedua pipinya, dia begitu merindukan cucunya ini. Sudah begitu lama dia tak mengunjungi neneknya. Bahkan saat menikah pun tidak diberitahukan pada semua keluarga.


Mama Hani kecewa dengan perlakuan semua keluarga terhadap dirinya, dilihatnya kakak yang duduk menikmati secangkir coklat hangat. Dia melihat Lili sekejap lalu memalingkan arah pandangannya. Lili yang melihat itu merasa sedih, apakah kakek belum bisa menerima dirinya sampai saat ini.


Mama Hani memang cukup jarang kembali ke rumah nenek, jika pulang dia hanya berkunjung sebentar guna mengetahui keadaan ibu dan ayahnya. Meski sang ayah tidak pernah bicara sepatah katapun, sebagai tanda baktinya mama Hani tetap tersenyum menerima perlakuan ayahnya.


Kemarahan sang ayah sampai sekarang belum pudar, akibat mama Hani lebih memilih menikah dengan papa kandung Lili, beberapa bulan setelah menikah papa kandung Lili meninggal dalam sebuah kecelakaan. Saat sedang dalam kesedihan, mama Hani menyadari bahwa dirinya sedang mengandung. Rasa sedih dan bahagia menyatu, sang ayah menyuruh mama Hani menggugurkan kandungannya. Namun mama Hani berusaha mempertahankan kandungannya.


Semua keluarga mencemooh mama Hani, dengan berjalannya waktu datanglah papa Karim. Dia menyukai saat pertama kali bertemu dengan mama Hani, dia tahu bahwa mama Hani sedang mengandung. Tapi papa Karim tetap ingin menikahi mama Hani, mereka pun menikah. Papa Karim membawa Mama Hani pergi ke Jakarta.


Meski sudah sekian lama, kakek belum juga bisa memaafkan mama Hani. Jangankan bicara dengan Lili, sang kakek pun tidak pernah memangku Lili dalam pangkuannya. Setiap bertemu dengan Lili kakek tidak pernah menganggap Lili. Itu yang membuat dia merasa sedih, sehingga Lili tidak ingin berkunjung ke Bandung. Namun mama Hani selalu mengajaknya ke Bandung, untuk bertemu dengan nenek yang begitu menyayanginya.


____________________________________________


Hai para pembaca setiaku, maaf kalau membingungkan ya, yang ingin tahu kelanjutan Alin dan Alex bisa lanjut baca di "Pembalasan si Kembar Wibowo" sudah bisa di baca ya selamat membaca 😊😉


__________________________________________


Jika ada yang ingin ditanyakan padaku tentang karya dan bisa langsung menghubungi ku via akun Instagram.


Klik search di Instagram dengan nama akun :


@macan_nurul


Sekali lagi terimakasih untuk kalian semua 💋💋 jangan lupa ya like dan komen ya juga vote ya 😉 jangan lupa juga jadikan favorit ya 😉 😉

__ADS_1


__ADS_2