Musuhku Menjadi Imamku

Musuhku Menjadi Imamku
Extra Part Lili-57


__ADS_3

Beberapa hari ini Lili sangat manja, dia tidak ingin ditinggal oleh Arata. Syarat Arata bisa pergi bekerja adalah dia harus sering mengabari Lili, jika dia menghubunginya harus segera dijawab. Terkadang Arata merasa lucu dengan tingkah laku istrinya yang begitu manja.


"Sayang, lebih baik kau ikut saja ke kantor! Sehingga kau bisa melihatku setiap detik!" gurau Arata pada Lili yang sedang duduk di depan meja riasnya.


Merasa dirinya menjadi bahan candaan, Lili langsung melemparkan sorot mata yang begitu tajam. Sehingga membuat Arata terkekeh lalu dia berjalan mendekati Lili. Dia memeluk Lili dengan erat serasa tidak ingin melepaskannya, dikecupnya pucuk kepala Lili dengan lembut.


"Dengarkan aku sayang, aku tidak akan melakukan seperti beberapa hari yang lalu! Sehingga membuatmu dan calon bayi kita resah," bisik Arata dengan lembut, sehingga membuat Lili semakin tenang.


"Apa kau tidak risih jika selalu kuikuti kemanapun kau pergi?!" Lili bertanya, dia ingin tahu jawaban dari Arata. Tatapan matanya berharap jawaban yang jujur dari suaminya.


Arata tersenyum melihatnya seperti itu, lalu dia mengatakan bahwa tidak ada sedikitpun rasa terganggu meski Lili selalu mengikutinya. Malahan dia suka dengan adanya Lili disampingnya, itu membuatnya tenang.


Lili mendapatkan pesan dari Novi bahwa hari ini ada meeting yang harus dia hadiri, dia pun mengingat jadwal yang sudah diberikan oleh Novi kemarin. Setelah selesai bersiap dia berniat untuk segera pergi ke kantor, seperti biasa dia selalu diantar oleh Arata.


Dalam perjalanan menuju kantor, Lili mendapatkan sebuah pesan dari nomor yang dia tidak kenal. Dalam pesannya tertulis kalimat yang membuat Lili tidak suka lalu dia memberikan handphone-nya pada Arata.


Arata sangat marah melihat pesan yang ada di handphone Lili,dia langsung menghubungi nomor yang mengirimi pesan tidak sopan pada istrinya itu. Nada sambung terdengar namun tidak diangkat-angkat.


Arata langsung memblokir nomor tersebut, agar tidak bisa menghubungi Lili lagi. Lili mulai berpikir siapa yang berani berkata seperti itu padanya, karena selama ini nomor yang dia pegang tidak diketahui siapapun kecuali orang terdekatnya.


Karena jika berhubungan dengan pekerjaan Lili tidak pernah memberikan nomornya, dia selalu memberikan nomor asistenya atau sekertarisnya. Semua itu demi kenyamanan dia dan juga menjaga privasi dirinya.


Tibalah lilin di kantornya, Arata mengecup kening Lili dengan lembut dan mengecup sekilas bibir Lili. Dia tersenyum dengan perlakuan Arata padanya, setelah itu dia berjalan memasuki kantornya. Dia disambut dengan hangat oleh para karyawannya.


Seorang resepsionis memberikan sebuah karangan bunga mawar yang begitu besar, Lili senang melihatnya dia menyangka karangan bunga itu Arata yang memberikannya. Dia menyuruh resepsionisnya untuk membawa karangan bunga tersebut ke ruangannya.


Lili memasuki ruangannya dengan hati yang senang karena Arata memberinya karangan bunga mawar yang sangat indah. Dia memandangi terus karangan bunga tersebut, dia pun mengambil handphone-nya guna menghubungi Arata untuk mengucapkan terimakasih.


Belum sempat dia menghubungi Arata, handphone-nya berbunyi dilihatnya nomor yang menghubunginya nomor yang tidak dia kenal lagi. Dia mengangkat teleponnya, namun tidak ada suara yang menyaut di seberang sana.


"Hallo!" Lili mengatakannya beberapa kali hingga dia kesal, disast akan menutup teleponnya. Orang di seberang sana mulai bicara, Lili merasa mengenal suara pria ini.


"Hallo Nyonya Arata yang sebentar lagi akan menjadi Nyonya Nathan! Bagaimana dengan karangan bunga yang kukirimkan padamu! Apakah kau menyukainya?" Nathan berunjar yang membuat Lili merasa muak.


Lili terkejut saat Nathan mengatakan tentang karangan bunga, dia melihat karangan bunga yang ada di ruangannya. Yang dia kira pengirimnya adalah Arata namun dia keliru, ternyata yang mengiriminya karangan bunga adalah Nathan.


"Kau sudah tahu kalau aku sudah menikah! Mengapa kau tidak usrus saja istrimu! Bahagiakan saja istrimu, jangan kau mengganggu istri orang lain!" Lili berkata dengan kata dingin.


Nathan tidak menyangka bahwa Lili sudah tahu kalau dirinya sudah menikah, dalam hatinya berkata apakah Lili telah menyelidiki dirinya. Bukannya merasa malu, dia semakin yakin jika Lili memiliki perasaan terhadapnya. Itu sebabnya Lili mencari informasi mengenai dirinya, mungkinkah Lili cemburu? Dia tersenyum merasakan bahwa dia masih memiliki secercah harapan.


"Apakah cemburu? Itu sebabnya kau mencari tahu informasi tentangku?" tanya Nathan pada Lili.


Lili tersenyum kecut, dia berpikir betapa percaya diri sekali dia. Apa tidak salah dia menganggapku cemburu? Jatuh cinta saja tidak apalagi harus cemburu. Dia sudah bosan mendengar ocehan Nathan, tanpa sepatah katapun dia menutup sambungan teleponnya.


Setelah menutup teleponnya, terdengar suara ketukan pintu. Dia menyuruhnya masuk, terlihat Novi membuka pintu lalu berjalan memasuki ruangan. Novi membawa beberapa dokumen yang harus di bubuhi tanda tangan oleh Lili dan mengingatkan ada meeting sebentar lagi.


Lili membaca dokumen yang dibawa oleh Novi, setelah membaca semuanya dan tidak ada masalah barulah dia menanda tangani dokumen tersebut. Lalu dia mengatakan jika meeting sudah di mulai untuk menjemputnya. Novi mengangguk lalu dia pamit undur diri, sebelum Novi keluar ruangan Lili menyuruh Novi untuk membuang karangan bunga mawar merah yang bertengger di atas meja.


"Mengapa kau membuangnya? Bukankah itu terlihat sangat indah!" Novi bertanya yang tidak mengerti mengapa Lili ingin membuang karangan bunga mawar itu.

__ADS_1


"Itu dari Nathan! Kau buang saja! Aku tidak ingin melihatnya!" jawab Lili dengan nada kesal.


Novi pun membawa karangan bunga tersebut lalu berjalan keluar ruangan, dalam benaknya mengapa pria itu masih mengejar Lili. Bukankah dia sudah tahu bahwa Lili sudah menikah dan akan memiliki seorang anak.


Novi menghempaskan semua pertanyaan tentang Nathan dalam hatinya, dia berpikir saat ini lebih baik dia membuang karangan bunga ini. Dia pun berpiki bahwa Nathan adalah pria yang bisa menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Seperti Novi harus bisa melindungi Lili dengan semua kemampuan yang dia miliki.


Handphone Lili berbunyi lagi, dia mengangkatnya namun dengan nada marah "hallo!"


Dia tidak menyadari bahwa yang menghubunginya adalah Arata, sehingga membuat Arata bingung kenapa dengan Lili.


"Ada apa denganmu, sayang?!" tanya Arata yang kebingungan dengan sikap Lili saat dia menghubunginya.


Lili tersadar jika yang menghubunginya adalah Arata, dia segera meminta maaf padanya dengan nada manja. Dia menceritakan apa yang baru saja terjadi sehingga membuatnya kesal.


Arata ikut kesal setelah mendengar cerita Lili, sekarang giliran Arata yang marah-marah tidak jelas. Lili terkekeh mendengar ocehan arata, dia tidak menyangka bahwa Arata bisa bersikap seperti itu.


Mendengar Lili terkekeh membuat Arata kesal juga, lalu dia mulai menceramahi loli dengan banyak petuah. Sehingga membuat Lili semakin terkekeh hingga dia mengeluarkan buliran air mata.


"Sudah hentikan itu sayang! Aku sudah tidak tahan lagi!" ucap Lili yang sudah tidak tahan lagi dengan tawanya.


Arata pun memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan karena dia harus menghadiri sebuah rapat. Begitupun dengan Lili karena Novi sudah menjemput untuk meeting yang segera akan dimulai.


Meeting pun sudah berakhir, Lili mengajak Novi untuk makan siang. Mereka pun pergi ke sebuah restoran, dalam benaknya mudah-mudahan makan siang kali ini dia tidak bertemu dengan orang yang tidak ingin ditemuinya.


Tibalah mereka di Surabaya Indonesia restoran, ini adalah salah satu restorandi Jepang yang menyediakan makanan khas Indonesia. Karena saat ini yang Lili inginkan adalah memakan masakan khas Indonesia.


Setelah memesan menu, pramusaji itu bergegas untuk menyiapkan pesanan yang dipesan oleh Lili. Sembari menunggu pesanan mereka tiba, Lili membicarakan masalah pekerjaan namun diseling dengan urusan pribadi mereka.


"Hai, apa kabar Nona Novi?!" sapa seorang pria pada Novi yang sedang asik berbincang dengan Lili.


Novi terkejut mengapa dia bisa bertemu lagi dengan Satria, dalam hatinya dia sudah tidak ingin bertemu dengannya. Karena dia tidak pantas berdekatan dengan seorang pria yang taat pada agamanya.


Lili yang bingung melihat Novi yang tidak menjawab sapaan pria itu, menepuk pundak Novi lalu menatapnya dengan arti bertanya siapa pria itu. Yang semula Novi tidak ingin cerita, jadi menceritakan kembali bahwa pria itu yang telah menolongnya.


Lili tersenyum pada Satria, lalu dia memperkenalkan diri sebagai saudarinya. Satria pun menyambut hangat perkenalan mereka, Lili melihat tatapan Satria berbeda terhadap Novi. Dia mengatakan pada Satria untuk bergabung dengannya untuk makan siang kali ini, hitung-hitungan sebagai rasa terima kasih Lili terhadap Satria yang telah menolong Novi.


Beberapa orang pramusaji mengantarkan pesanan yang sudah dipesan oleh Lili dan Novi. Terihat sekali jika Novi berusaha menghindari Satria, itu semua membuat Lili semakin ingin mendekatkan mereka berdua. Berdasarkan dari kaca matanya bahwa Satria adalah pria yang baik, mungkin dia bisa membahagiakan dan melindungi Novi.


Satria memang pria yang baik dan mudah akrab dengan orang yang baru dia temui, sehingga membuat Lili semakin yakin dengan pandangannya. Bahwa Satria cocok untuk Novi, dia berharap mereka bisa bersatu menjadi sepasang suami-istri. Dia ingin melihat Novi hidup berbahagia karena dia sudah banyak menderita.


"Nyonya Lili, sepertinya Anda orang yang suka seni bela diri ya?!" ucap Satria.


Lili tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Satria, lalu dia menyuruh Novi untuk menceritakan tentang diriku padanya. Asalnya Novi tidak ingin bicara, karena jika sudah menyangkut seni bela diri Lili dia tidak bisa membendung tingkat kecerewetannya.


Satria menatap Lili tanpa berkedip, mungkin ini kali pertama dia melihat sifat yang berbeda dari Novi. Iya karena selam ini Novi selalu diam tidak banyak bicara, dia menjadi sangat tertutup semenjak kematian Nova.


Tidak terasa waktu berlalu dengan cepat, Lili tersadar setelah Arata mengirimkan sebuah pesan padanya. Dia melihat jam yang melekat di pergelangan tangannya, ini waktu baginya dan Novi untuk kembali ke kantor.


"Saya pamit dulu ya Satria, jika ada jodoh dan kesempatan kita bisa bertemu kembali!" ucap Lili.

__ADS_1


Akhirnya mereka pun berpisah, sebelum berpisah satria meminta nomor telepon Novi pada Lili. Karena dia tahu jika meminta langsung pada Novi, dia tidak akan mendapatkannya. Lili tersenyum lalu mengeluarkan sebuah kartu nama yang tertera nama Novi beserta nomor telepon yang bisa dihubungi.


Satria sangat senang mendapatkan nomor telepon Novi, itu dapat terlihat dengan jelas oleh Lili. Merekapun berpisah, dalam perjalanan menuju kantor Lili membahas mengenai Satria. Namun raut wajah Novi terlihat sedih. Karena dia tidak ingin terlalu berharap pada siapapun, menurutnya dia sudah tidak suci lagi.


"Jodoh, maut dan rejeki ada di tangan Allah, kita sebagai umatnya hanya bisa berharap, berusaha serta dibarengi oleh do'a!" ucap Lili pada Novi.


Novi tahu maksud dari perkataan Lili, dia hanya tersenyum tipis. Dia berharap Allah akan memberikan seseorang untuk menjadi imamnya. Yang bisa menerima semua kekurangan dan kelebihannya. Serta bisa menerima masa lalunya yang begitu menjijikkan.


Mereka pun tiba di kantor, saat mereka tiba sudah disuguhi banyak dokumen yang harus diselamatkan. Sehingga membuat Lili mengerutkan keningnya, dia tidak menyangka hanya meninggalkan kantor dalam beberapa jam saja pekerjaannya sudah menumpuk.


Tidak terasa matahari telah terbenam, pekerjaan Lili pun sudah selesai. Novi menghampiri Lili yang mengatakan bahwa di lobi sudah menunggu Arata untuk menjemputnya.


Lili bergegas merapikan mejanya, setelah itu dia mengambil tasnya dan berjalan ke lobi untuk menemui Arata. Novi mengingutinya dari belakang, Lili teringat dengan pria yang baru bertemu dengannya tadi siang. Dia menghentikan langkahnya untuk menyeimbangkan langkahnya dengan Novi.


"Pria itu terlihat cocok denganmu, coba untuk menerimanya! Sudah saatnya kau merasakan kebahagiaan," ucap Lili.


Novi tahu siapa pria yang dimaksud oleh Lili dia adalah Satria. Namun dia belum siap untuk menerima seorang pria dalam hidupnya. Masih ada rasa takut di hatinya, bagaimana jika dia tahu tentang masa lalunya? Apakah dia akan menerimanya atau meninggalkannya.


"Bagaimana kabarmu Novi?" tanya Arata.


Novi tersenyum lalu mengatakan dia baik-baik saja, Lili mulai menggoda Novi kalau sudah ada yang mulai mengejarnya. Arata mengerutkan dahinya dengan arti dia belum mengerti apa yang dimaksudkan oleh Lili.


"Sudahlah hentikan itu Li! Pulang sana! Aku juga mau pulang," unjar Novi yang sudah tidak ingin mendengar celotehan Lili.


Arata tersenyum melihat kelakuan istrinya jika sedang menggoda saudarinya, dia pun merangkul Lili lalu mengecup keningnya dengan lembut. Setelah itu dia mengajaknya untuk segera masuk mobil.


"Sayang apa yang kau maksud tadi tentang Novi?!" tanya Arata.


Muncul niat jahil Lili lalu dia berkata, "Mau tahu? Apa mau tahu banget?" Lili terkekeh.


Melihat istrinya menjahilinya, Arata mendekap Lili lalu berbisik padanya. Setiap kata yang dibisikkan membuat wajah Lili merona dan akhirnya dia menyerah lalu mengatakan semuanya pada Arata.


Lili mengatakan bahwa ada seorang pria yang sedang mendekati Novi, dia yakin pria itu sangat cocok dengannya. Terlihat jelas dari setiap sikap dan tatapan pria tersebut. Lili mengira jika pria itu memegang teguh ajaran agamanya, maka dari itu Lili yakin dengan penilaiannya.


"Mmmm...."


Setelah penjelasan panjang kali lebar hanya itu jawaban yang diberikan oleh Arata, merasa tidak puas dengan jawaban yang diberikan membuat Lili menutup rapat mulutnya. Dalam benaknya dia berkata, sudah panjang lebar hanya hmmm jawabnya.


Arata tahu jika Lili sudah mulai diam itu tandanya dia sedang kesal, lalu dia mengatakan padanya bahwa dia belum bertemu dengan pria yang dimaksud. Sehingga dia tidak bisa menilai apakah pria itu baik atau tidak.


___________________________________________


Haiii para readers maafkan penulis yang banyak maunya ini ya xixixix....


Jangan lupa like di setiap episode, trus klik love biar dpt notif updatean terbaru dan klik bintang 5 biar penulis semakin semangat.


Oia satu lagi jangan lupa komen juga ya, karena like dan komen kalian sangat berarti bagiku.


Satu lagi deh jangan lupa berikan poin kalian untuk ceritaku ya 😉😉

__ADS_1


__ADS_2