
Lili sudah bersiap untuk berangkat ke kantor, meski kehamilannya semakin membesar dia masih tetap ingin beraktivitas seperti biasa. Sebenarnya Arata sudah menyuruhnya untuk mengurangi aktivitasnya, namun Lili tidak mau karena dia akan merasakan bosan jika tidak beraktivitas.
"Sayang, sebaiknya kau beristirahat saja hari ini!" ucap Arata pada Lili yang merasa khawatir.
Lili tersenyum lalu dia mendekati Arata, dia mengalungkan kedua tangannya di leher Arata. Dia mengatakan bahwa dirinya tidak apa-apa, jika merasa lelah dia akan beristirahat. Untuk beberapa hari ini dia tidak bisa libur untuk bekerja, karena perusahaannya sedang mengikuti sebuah tender yang sangat penting.
Lili mengecup sekilas bibir Arata dengan lembut dengan maksud agar dia diberi ijin untuk pergi bekerja. Arata tersenyum dia mengerti jika Lili mulai bersikap manis seperti ini, karena Lili ingin diijinkan untuk pergi bekerja.
"Baiklah, kau kuijinkan untuk pergi bekerja! Namun dengan syarat, jika kau sudah merasa lelah harus istirahat sejenak!" ucap Arata pada Lili dengan sedikit penekanan.
Sebenarnya Arata masih khawatir dengan Lili, karena hampir setiap malam tubuhnya merasa pegal-pegal sehingga Arata selalu melakukan pijat refleksi pada tubuh Lili. Sehingga Lili bisa tidur dengan lelap.
"Terima kasih sayang, aku mencintaimu!" Lirih Lili sembari mengecup lembut bibir Arata.
Araya tersenyum lalu membalas kecupan yang sudah Lili layangkan padanya, entah mengapa dia merasa bahwa Lili semakin membuatnya merasa bahagia. Sikap dan tingkah lakunya semakin manis. Bahkan selalu menggodanya jika sedang fokus pada pekerjaan.
Saat akan mengantarkan Lili ke kantor, Arata melihat Maru sudah siap di rumah. Ternyata Maru sudah kembali dari rumah kedua orangtuanya, Arata sangat menyukai Maru karena dia selalu bisa menepati janjinya. Dalam pekerjaanpun dia bisa dengan cepat menyelesaikannya.
"Maru pabagimana keadaan kedua orangtua kalian di desa?" tanya Lili pada Maru yang memecah keheningan di dalam perjalan menuju kantor.
Maru hanya menjawab singkat bahwa kedua orangtuanya dalam keadaan sehat, merekapun mengirimkan sesuatu untuk Lili dan Arata. Namun barang tersebut tertinggal di rumah. Mendengar barangnya tertinggal Lili terkekeh, dia berkata ternyata Maru tidak sesempurna itu. Karena dia sekarang menjadi pelupa.
Melihat Lili terkekeh membuat Maru dan Arata tersenyum, tibalah mereka di kantor Lili. Arata memberi pesan bahwa Lili harus ingat pesannya sebelum berangkat bekerja.
"Aku mengerti sayang! Kau tidak usah khawatirkan aku ya!" ucap Lili dengan mengecup sekilas bibir Arata lalu dia pergi memasuki perusahaannya.
Lili berjalan dengan perlahan menuju kantornya, dia disambut oleh para karyawan dengan hormat dan hangat. Bagi para karyawan Lili adalah atasan yang sangat baik, dia tidak pernah membuat mereka merasa terhina sebagai bawahannya. Namun Lili juga memiliki sikap yang sangat tegas, jika salah satu dari karyawannya melakukan kesalahan.
Lili memasuki ruanganya, baru saja dia duduk. Dia sudah di sodorkan beberapa dokumen yang harus dia periksa dan dibubuhi tanda tangannya. Novi tersenyum saat melihat ekspresi wajah Lili yang setelah itu menghela napasnya.
"Kau terlihat sedang sekali! Apa kau ingin menyiksaku hah! Dengan begitu banyak dokumen yang kau sodorkan ini?" Lili berkata namun ada sedikit nada gurauan.
Novi semakin terkekeh mendengar apa yang baru saja Lili katakan, dia sungguh tidak bermaksud untuk menyiksa Lili dengan dokumen-dokumen itu. Karena dokumen itu seharusnya Lili periksa dan di bubuhi tanda tangannya.
"Sudahlah hentikan rengekan anak kecilmu itu Li! Itu semua sudah menjadi tugasku!" Novi berkata yang diakhiri dengan tawa.
Akhirnya merekapun tertawa, setelah itu Novi mengatakan bahwa siang ini ada meeting di luar kantor pada jam makan siang. Lili mengangguk sembari membaca semua dokumen yang di sodorkan oleh Novi.
Selagi Lili memeriksa dokumen tersebut, Novi undur diri dia harus mengerjakan apa yang belum dia selesaikan sebelum pergi menghadiri meeting nanti siang. Lili pun mengijinkannya pergi.
Tanpa dirasa matahari sudah bertengger di atas kepala, yang artinya Lili dan Novi harus segera pergi untuk menghadiri acara meeting di sebuah restoran Jepang. Setelah tiba di restoran tersebut, mereka langsung membicarakan tentang kerjasama.
Setelah pembicaraan selesai, sekarang giliran Lili untuk menikmati acara makan siangnya. Dia tidak menyadari bahwa ada seorang wanita yang selalu memperhatikannya.
Wanita itu berjalan perlahan menghampiri Lili namun dalam hatinya masih ada keraguan. Apakah dia harus bertemu dengan lilin atau tidak, namun dalam hatinya dia ingin berbicara dan meminta maaf pada Lili atas semua perbuatannya.
"Hallo Li! Apa kabar?" sapa Sella dengan lirih pada Lili yang sedang menikmati makan siangnya.
Lili terkejut melihat siapa yang menyapanya, ternyata itu Sella. Dia tersenyum lalu menyuruh Sella untuk duduk bersamanya. Novi tahu bahwa wanita itu pasti ingin bicara hanya berdua saja dengan Lili, sehingga Novi berinisiatif untuk pergi terlebih dahulu.
Dalam benak Novi, dia akan menunggu Lili di meja lain yang bisa dia lihat dengan jelas. Karena Novi tidak ingin terjadi sesuatu pada Lili, sehingga dia mengawasinya dari kejauhan.
"Bagaiman kabarmu Sella?!" Lili bertanya dengan lembut.
Sella terdiam sesaat, dia sungguh malu dan merasa bersalah terhadap Lili. Sejenak dia mengingat kembali apa yang sudah dia lakukan pada Lili, namun semua yang dia lakukan tidak ada yang mengetahuinya selain dia dan Nathan tentunya.
Nathan mengetahui apa yang telah Sella lakukan semenjak dia menikah dengan Sella. Sehingga pernikahan Sella seperti di dalam neraka, karena Nathan ingin membalas semua perbuatan buruknya terhadap Lili dan Nathan.
"Sella!" Lili memanggil Sella guna menyadarkannya dari lamunan.
Sella tersadar setelah mendengar panggilan Lili, dia tersenyum namun terlihat jelas penderitaan dari matanya. Itu membuat Lili merasa sedih namun dia tidak mengetahui dengan jelas apa penyebabnya.
"Li, aku minta maaf ya! Aku sudah banyak salah terhadapmu!" Lirih Sella yang sebentar lagi akan berurai air mata.
"Maaf untuk apa?" Lili bertanya karena dia tidak mengerti dengan yang dikatakan oleh Sella.
Sella memberanikan diri untuk menceritakan semuanya pada Lili, meski itu akan membuatnya di benci oleh Lili. Karena semua itu pantas dia terima, sudah banyak perbuatan yang dilakukannya pada Lili saat masih sekolah dulu.
Lili diam, dia menunggu Sella untuk menceritakan semuanya. Dia ingin tahu apa yang telah dia lakukan padanya sehingga Sella harus meminta maaf padanya. Dia melihat begitu sulitnya Sella memulai ceritanya, namun dia berusaha sabar menunggu keberanian Sella untuk bicara. Lili memegang tangan Sella guna memberikan dorongan untuk mengatakan semuanya.
__ADS_1
Akhirnya Sella mulai menceritakan semuanya dari awal hingga akhir, dia tidak kuasa menahan air matanya lagi. Aku sungguh tidak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar. Jadi dia adalah orang dibalik semuanya, sehingga aku mengalami hal-hal buruk di sekolah.
"Li maafkan aku ya? Tapi aku tahu kamu pasti tidak akan mudah memaafkan aku! Sekarang aku sudah menerima buah dari perbuatannya yang buruk! Hanya itu yang mau aku katakan." Sella berkata lalu dia pergi meninggalkan Lili dengan rasa tidak percayanya.
Novi yang melihat Sella pergi, bergegas menghampiri Lili. Dia melihat Lili hanya terdiam, dia memanggil-manggil Lili namun dia hanya diam saja. Novi tidak tahu ada apa ini, mengapa Lili bisa menjadi seperti ini setelah berbicara dengan Sella.
"Li ... Lili ada apa denganmu?!" Novi berkata semabri menggoyang-goyang pundak Lili dengan pelan.
Lili tersadar dari lamunannya, dia tidak banyak berkata apa-apa. Dia mengajak Novi untuk kali ke kantor, Novi mengangguk dia tidak bisa memaksa Lili untuk bercerita padanya. Dalam perjalanan menuju kantor dia masih tetap diam, itu membuat Novi merasa cemas.
Tibalah mereka di kantor, Lili berjalan perlahan memasuki ruangannya. Dia sudah tidak bisa berpikir lagi. Dalam pikirannya adalah semua cerita yang dikatakan oleh Sella. Dia tidak bisa lagi memikirkan hal yang lain.
Novi melihat Lili hanya diam, dia mengambil semua dokumen yang sudah diperiksa dan dibubuhi tanda tangan oleh Lili. Lalu dia pergi meninggalkannya dengan pikirannya yang entah ada dimana.
Tidak terasa jam kerjapun sudah selesai, Arata menjemput Lili di kantornya. Novi yang melihat Arata sudah berada di lobi, memberitahukan padanya bahwa ada sesuatu yang terjadi pada Lili.
"Ada apa dengannya?!" Arata bertanya dengan serius pada Novi.
Novi pun menceritakan apa yang baru saja terjadi tadi siang, setelah mendengar ceritanya dia langsung berlari menuju ruangan Lili. Dia melihat istrinya hanya berdiri terdiam melihat keluar jendela.
"Sayang!" Arata memangil Lili dengan lembut namun tidak mendapatkan respon darinya.
Arata melangkah mendekati Lili lalu memeluknya dengan lembut, Lili tersadar bahwa ada yang memeluknya. Dia melihat Arata di pantulan jendela, dia tersenyum.
"Kau sudah menjemputku!" ucap Lili singkat lalu dia melepaskan diri dari dekapan Arata dan mengambil tasnya.
Arata melihat sikap Lili yang berbeda dari tadi pagi, dia mengingat apa yang dikatakan oleh Novi. Bearti yang dia katakan telah terjadi sesuatu pada Lili itu benar adanya.
"Ayo kita pulang!" Arata berkata lalu menggandeng Lili untuk menuju mobil.
Dalam perjalanan pulang terlihat jelas Lili yang sangat pendiam, ada sesuatu yang mengusik pikirannya. Semua itu membuat Arata ingin mengetahui sebenarnya apa yang sudah terjadi pada istrinya ini.
Arata hendak bertanya namun diurungkannya, lebih baik dia bertanya jika sudah berada di rumah. Dia tidak ingin bicara dengan Lili secara baik-baik sehingga tidak akan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan.
Mobil mereka terhenti di halaman rumah Arata, merekapun turun dari mobil. Arata menyuruh Maru untuk pulang saja, karena sudah tidak ada yang dia perlukan lagi. Maru pun pergi setelah melihat Arata memasuki rumahnya bersama Lili, setelah itu dia bergegas pulang ke apartemennya.
Lili terdiam sesaat, lalu dia mengatakan akan menceritakan semuanya namun saat ini dia ingin membersihkan diri terlebih dahulu. Arata pun membantu Lili untuk membersihkan diri. Lili membual kain yang menutupi mahkotanya lalu berjalan memasuki kamar mandi.
Arata pun membuka satu per satu pakaiannya, dia berniat untuk membersihkan diri juga. Dia pun memasuki kamar mandi, dia melihat Lili terdiam tanpa melakukan apa-apa. Arata menghampirinya lalu memutar keran shower sehingga air membasahi seluruh tubuh Lili.
Lili terkejut namun setelah melihat Arata dia tersenyum, Arata mulai membatu Lili memberikan diri begitupun sebaliknya. Setelah selesai denah ritual membersihkan diri, mereka pun keluar dari kamar mandi.
Arata membawakan pakaian untuk Lili, dia pun membantu Lili. Semua perhatian dan perlakuan lembut Arata pada Lili, membuatnya sangat beruntung memiliki suami sepertinya. Dia tersenyum lalu mengecup bibir Arata sekilas sebagai tanda terima kasih.
"Sekarang kau bisa menceritakan semuanya padaku?!" Arata berkata dengan lembut namun ada sedikit penekanan.
Sebelum menceritakan semuanya Lili tidak kuasa menahan air matanya, dia menangis. Arata terkejut karena Lili belum menceritakan semuanya namun dia sudah menangis. Arata langsung mendekatinya lalu memeluk Lili agar dia bisa merasa tenang.
Arata membiarkan Lili untuk menangis terlebih dahulu, agar semua hatinya merasa lega. Dia masih bersabar dengan Lili, karena dia begitu sangat menyayangi istrinya itu. Meski itu dia harus menjadi sandaran Lili disaat dia sedang menangis.
Tangisan Lili sudah reda, dia pun mulai menceritakan apa yang membuatnya merasa sedih dan kecewa. Tadi siang dia bertemu dengan Sella yang merupakan temanya semasa sekolah dulu. Yang sekarang adalah istri dari Nathan.
Arata sedikit terkejut dengan yang di ceritakan Lili, dia tidak menyangka kalau Nathan sudah menikah. Namun mengapa dia masih ingin mengejar Lili, apakah dia tidak bisa menghargai dan menghormati istrinya itu.
"Lalu apa yang membuatku kecewa? Apa kau kecewa Nathan menikah dengan Sella?!" Arata bertanya karena Lili terlihat sedih.
"Bukan itu! Yang aku kecewakan adalah perbuatan Sella, dia sudah membuatku dalam masalah kala itu! Beruntung aku memiliki Alin dan Salma, mereka selalu menemaniku dan melindungiku!" jawab Lili pada Arata
Terlihat kelagaan pada Arata mendengar jawaban Lili, lalu dia bertanya apakah yang sudah dilakukan oleh Sella semasa sekolah. Sehingga membuatnya merasa sedih.
Lili menceritakan sebuah kejadian semasa di sekolah dulu, dulu dia bersahabat dengan Alin, Salma dan Sella. Namun Sella mulai menjauhi Lili dan yang lainnya, dia tidak mengetahui apa alasan Sella menjauhinya.
Setelah Sella menjauhi Lili, tersebar berita bahwa dia adalah merupakan anak pungut dan juga tersebar bahwa dia adalah anak tanpa diketahui siapa ayahnya. Semua sekolah mulai membully Lili, sehingga menyebabkannya tidak mau masuk sekolah.
Pernah suatu hari sewaktu Lili berangkat ke sekolah, ada seorang murid yang melempari dirinya dengan telur busuk. Semenjak kejadian itu baik Alin atau Salma mulai menjadi sangat, mereka akan bertindak brutal demi melindunginya.
Sehingga semenjak itu tidak ada yang berani melawan Alin, Salma dan Lili. Namun yang lebih menakutkan jika Alin yang marah, dia bisa langsung menghajar siapin yang bertindak keterlaluan.
Arata memeluk Lili dengan sangat lembut, itu menandakan bahwa sekarang ada dia sebagai pelindungnya. Lalu dia membisikkan sebuah kalimat yang membuat hatinya menjadi tenang.
__ADS_1
Dalam benak Lili itu hanyalah salah satu ulah yang diperbuat oleh Sella, masih banyak yang sudah dia lakukan. Bahkan hampir membuat Lili mengalami kecelakaan yang akan menewaskannya.
Baik Lili, Alin dan Salma sempat mencari siapa dibalik kekacauan dalam hidup Lili namun mereka tidak dapat menemukan siapa orang dibalik semua itu. Sekarang Lili sudah mengetahui semuanya, Sella adalah dalang dari semua kekacauan dalam hidupnya.
Sekarang yang membuat Lili penasaran adalah alasan dibalik kekacauan yang dibuat oleh Sella. Mengapa Sella bisa bertindak demikian terhadapnya, karena semasa sekolah dia tidak pernah mencari masalah baik dengannya atau dengan yang lain.
"Sudahlah tidak usah kau pikirkan lagi, sekarang lebih baik kau istirahat dulu! Bukankah besok kau masih bekerja?" ucap Arata dengan lembut sembari menyuruhnya masuk kedalam dekapannya.
Brugggg!
Lili terbangun di pagi hari dengan mendengar suara benda yang terjatuh, dia mencari suara itu berasal. Dia menyapu sekeliling ruangan guna mencari apa yang terjatuh yang membuatnya terbangun.
Terdengar suara rintihan Arata, Lili mencari dimana suara itu. Dia tidak melihat Arata disampingnya, Arata terbangun dari bawah dengan meringis kesakitan. Lili tidak berniat tertawa, namun melihat suaminya meringis dia tahu bahwa yang terjatuh adalah Arata.
Lili terkekeh karena sudah tidak bisa menahannya, melihat Lili yang menertawakannya Arata langsung mendekatinya dan menyerangnya dengan kecupan di bibirnya. Seketika Lili terdiam.
"Kau berenang menertawakanku hah!" Arata berucap dengan penuh penekanan, dalam benaknya dia merasakan kesakitan Lili malah menertawakannya.
Lili menggelengkan kepalanya dan tidak akan tertawa lagi, setelah itu Arata melepaskan dekapannya pada Lili. Lalu Lili bertanya mengapa dia bisa terjatuh setelah bertanya dia terkekeh kembali.
"Sudahlah! Aku mau membersihkan diri saja, dari pada aku ditertawakan oleh istriku sendiri!" Arata berkata lalu berjalan memasuki kamar mandi.
Lili tersenyum lalu dia mengikuti Arata memasuki kamar mandi, dia mendekati Arata yang hendak melepaskan pakaiannya. Lili berbisik, "Biarkan aku membantumu kali ini!"
Setelah selesai membersihkan diri, merekapun bersiap untuk pergi ke kantor. Arata seperti biasa mengantar Lili terlebih dahulu, lalu dia pergi ke kantornya. Dalam perjalanan ke kantor Arata masih memikirkan apa yang semalam di ceritakan oleh Lili.
Dia masih tidak mengerti dengan Nathan yang masih ingin mengejar Lili, padahal dia sudah memiliki istri. Dan juga mengapa dia ingin mengacaukan perusahaanku, mengacaukan juga bisnisnya yang lain.
Sampailah Arata di perusahaannya, dia menyuruh Maru untuk mencari tahu secepatnya mengenai Nathan. Dia tidak ingin semua bisnisnya hancur oleh Nathan, dan juga dia tidak ingin Nathan membuat Lili menderita.
Mari mengangguk lalu berpikir meningkatkan Arata di ruangannya, Arata pun meminta seseorang untuk menyelidiki semaunya. Orang itu adalah Akhira, sudah lama dia tidak meminta bantuan padanya.
Mungkin sudah saatnya dia meminta bantuan pada Akhira, sebenarnya semenjak pernikahan Akhira dan Fumiko. Dia tidak pernah merepotkan Akhira, namun Nathan pasti akan bertindak lebih gila lagi jika tidak mendapatkan Lili.
Sekarang Arata tinggal menunggu kabar dari Maru dan Akhira. Mudah-mudahan dia mendapatkan informasi yang lebih akurat lagi, sehingga dia bisa mengambil tindakan apa yang harus dia lakukan.
Dilain tempat Nathan sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Lili, dia mengunjungi kantor Lili. Dia berharap saat bertemu dengannya dia sambut dengan hangat, namun yang dia pikirkan salah.
Lili sangat terkejut dengan kedatangan Nathan Wijaya ke kantornya, dia tidak ingin melihat wajahnya saat ini. Dia mengingat kembali dengan Sella yang mengatakan bahwa dia sudah menikah dengan Nathan.
"Lili, bagaimana keputusanmu? Apakah kau akan meninggalkan Arata lalu menikah denganku! Masalah bagi dalam kandunganmu, aku akan menerimanya seperti anak kandungku sendiri!" Nathan berkata dengan penuh percaya diri.
"Apa aku tidak salah dengar? Bukankah kau sudah memiliki seorang istri! Jika kau menikah denganku? Mau kau kekanakan istrimu itu! Lagipula aku tidak akan bersedia meninggalkan suamiku, karena aku sangat mencintainya! Lebih baik kau urus istrimu, berilah dia cinta dan kasih sayang sehingga rumah tangga kalian akan bahagia!" Lili berkata dengan nada kesalnya.
Dia sungguh tidak menyangka Nathan akan berkata seperti itu, apakah dia tidak bisa menghargai dan menghormati Sella sebagai istrinya. Karena penilaian Lili setelah melihat Sella kemarin, bahwa Sella begitu sangat mencintai Nathan. Mungkin jika Nathan berlaku buruk padanya, Sella akan selalu diam dan menerimanya.
Nathan sungguh kesal mendengar perkataan Lili, namun dia tidak menyangka bahwa Lili mengetahui bahwa dia sudah menikah dengan Sella. Dalam benaknya berkata apakah Sella sudah bertemu dengan Lili? Jika benar itu adanya, maka Sella harus di hukum. Karena dia telah menyebabkan Lili marah padanya.
"Lebih baik kau pergi saja! Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan! Lebih baik kau memiliki rencana untuk memiliki anakmu sendiri dengan Sella! Bukannya menginginkan aku dan anakku!" Lili berkata dengan dingin.
Mendengar semua perkataan Lili semakin ingin dia memiliki Lili dan semakin dia menginginkan melihat penderitaan di mata Sella. Marahnya pergi tanpa berkata apa-apa. Dalam hatinya dia sangat marah terhadap Sella.
Setelah kepergian Nathan, Lili menghubungi Arata dia menceritakan semua yang baru saja terjadi. Mendengar itu Arata geram rasanya ingin dia menghajar Nathan tanpa ampun. Namun Lili mengatakan padanya agar menahan semua emosinya, akhirnya Arata tenang.
Arata berkata jika hari ini Lili tidak diijinkan untuk keluar kantor jika tidak ada pengawal. Nanti saat pulang Arata akan menjemputnya sehingga Lili tidak usah pergi sendirian. Karena Arata semakin khawatir dengan apa yang akan dilakukan oleh Nathan.
Lili mengikuti perintah Arata, karena dalam hatinya pun merasa khawatir. Apalagi sekarang dia tidak bisa melakukan gerakan yang bisa membahayakan bayi yang ada dalam perutnya.
Beberapa saat kemudian Novi masuk ke ruanganku, seperti biasa dia membawa beberapa berkas dan design yang sudah dibuatnya. Dia begitu bekerja keras dalam beberapa Minggu ini, akhirnya dia bisa melupakan apa yang sudah terjadi padanya.
Lili memeriksa semua dokumen setelah itu dibubuhi tanda tangannya, sedangkan design yang diberikan oleh Novi, dia akan memeriksanya dengan seksama. Sehingga tidak ada kesalahan sekecil apapun.
Terdengar suara ketukan pintu, Lili menyuruhnya masuk. Seorang sekertaris masuk dia mengatakan bahwa ada seorang wanita yang sedang menunggunya untuk bertemu. Lili bertanya siapa yang ingin bertemu dengannya.
"Nyonya Sella!" jawab singkat sekertaris.
Lili menyuruhnya untuk masuk, sekertaris itupun berjalan meninggalkan ruangan Lili untuk menyuruh Sella menemui Lili. Dalam benak Lili apa lagi yang akan di katakan. Bukankah semuanya sudah dia bicarakan kemarin. Apakah yang akan dia bicarakan ada hubungan dengan Nathan.
Jika benar ada hubungannya dengan Nathan aku tidak ingin mendengarnya, aku tidak ingin ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka. Jika mereka menghadapi masalah rumah tangga lebih baik mereka menyelesaikannya berdua saja, tidak usah membawaku ke dalam masalah mereka.
__ADS_1