
Setelah selesai dengan pekerjaannya hari ini, Lili mengajak Novi untuk pergi bersama menjenguk mama Hani di rumah sakit. Dia mengatakan pada Novi untuk menyimpan mobilnya di kantor.
Novi pun menyetujui usulan Lili, lalu mereka pergi menuju rumah sakit. Dia memberi pesan pada Satria bahwa dia akan ke rumah sakit dulu untuk menjenguk mama Hani.
Satria pun membalas pesan Novi, dia juga mengatakan akan menyusulnya ke rumah sakit. Karena dia juga ingin menjenguk mama Hani, bagaimana pun mama Hani sudah dianggap seperti ibu kandungnya sendiri.
Sampailah Lili di rumah sakit, dia langsung berjalan memasuki ruang rawat mama Hani. Melihat mama Hani yang sudah mulai membaik, ajahnya sudah terlihat segar.
"Bagaimana keadaanmu Tante Hani?" Novi bertanya dengan nada lembut.
"Aku sudah membaik, ingin rasanya cepat pulang ke rumah. Namun, Ayah Papa melarang Mama untuk pulang," ucap Mama Hani sembari cemberut.
Lili segera menyela pembicaraan mama karena menurutnya apa yang dilakukan papa sudah benar. Jika ada di rumah mungkin mama tidak akan beristirahat.
"Bagaimana dengan perusahaan Mama?" tanya mama pada Lili.
Lili menjawab jika dia akan mencari orang terpercaya untuk mengurus perusahaan. Sebelum menemukan orang yang pas dia akan mengurus perusahaan mama Hani.
"Mama tenang saja, aku akan mengurus semuanya." Lili mengatakan itu semua untuk menghilangkan rasa cemas.
Beberapa saat kemudian saat mereka sedang asik berbincang-bincang. Arata tiba dan diikuti oleh Satria, mereka bertemu saat berjalan menuju ruang mama Hani.
Novi dan Satria pamit untuk pulang karena hari sudah malam juga, mama Hani pun sudah harus istirahat. Begitu pula dengan Lili yang pulang bersama Arata.
***
Dilain tempat, Sella yang medapati Nathan yang berada di rumah tuan Banjiro. Karena tidak enak dengan tuan Banjiro, Sella memutuskan untuk menghentikan latihannya di pedesaan.
Dia mengatakan pada tuan Banjiro akan melanjutkan latihannya di tempat pelatihan saja di kota. Tuan Banjiro pun mengijinkan Sella untuk kembali ke kota. Karena latihannya sudah dirasa cukup sehingga dia bisa melanjutkannya di tempat pelatihan.
Setalah mengatakan itu Sella pamit untuk masuk ke kamar untuk berkemas. Karena besok pagi dia akan segera kembali ke kota, di dalam kamar dia melihat Nathan yang sedang terduduk di atas tempat tidur.
"Mengapa kau kemari?!" tanya Sella dengan nada dingin.
"Aku kemari untuk meminta maaf dan menjelaskan semuanya," jawab Nathan pada Sella.
Maaf setelah semua yang dia lakukan apakah hanya dengan maaf bisa mengembalikan semua kepercayaannya. Setiap kali Novi memaafkannya pasti ada saja perbuatan Nathan yang membuatnya kecewa kembali.
"Lebih baik kau istirahat, besok kita kembali ke kota!" Sella berkata lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai membersihkan diri dia melihat slnathan yang sudah tertidur. Dia memandangnya dengan lekat, setiap melihat wajahnya dia teringat kembali apa yang dia dengar sewaktu di Qatar.
Hatinya belum sembuh sehingga masih terasa sakit, dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tepat di samping Nathan. Namun, di dekat oleh bantal sehingga memisahkan tubuh mereka berdua.
Keesokan harinya Nathan terbangun, dia melihat Sella yang masih tertidur di sampingnya. Namun ada beberapa bantal yang menjadi penghalang bagi mereka.
Dia tersenyum, mungkin Sella masih marah padanya sehingga dia memberi batasan. Namun, dia bertekad untuk meminta maaf pada Sella dan akan terus berada di dekatnya.
Tidak terasa lengan Nathan mengeluh lembut rambut Sella dan menyibakkan rambut yang menutupi matanya. Sella terbangun dengan sentuhan Nathan.
Dia melihat di hadapannya wajah Nathan yang baru saja bangun, dia pun bangun dari tidurnya. Lalu berjalan menuju kamar mandi guna membersihkan diri.
Setelah selesai membersihkan diri, dia menyuruh Nathan untuk segera membersihkan diri. Karena setelah sarapan akan segera pergi dari rumah tuan Banjiro.
Nathan selesai dengan rutinitasnya membersihkan diri, dia melihat Sella yang sudah siap untuk pergi. Terdengar suara pintu kamar di ketuk, Sella berjalan menghampiri pintu kamar guna melihat siap yang mengetuk pintu.
Dia melihat nyonya Banjiro yang sudah berdiri dengan senyum lembutnya. Dia mengatakan bahwa sarapan terlebih dahulu baru diizinkan untuk pergi.
Sella tersenyum lalu mengatakan dia akan menyantap sarapan yang sudah di siapkan oleh nyonya Banjiro. Setelah mengatakan itu nyonya banjir pergi dan menunggu Sella di ruang makan.
"Ayo, kita sarapan terlebih dahulu setelah itu kita pergi!" Sella berkata pada Nathan.
Nathan merasa sikap Sella terhadapnya sudah berubah menjadi dingin. Dia tidak marah akan sikapnya seperti itu, karena dia pantas menerima perlakuan itu dari Sella.
Setelah selesai sarapan Sella berpamitan pada tuan dan nyonya Banjiro. Selama dalam perjalanan pulang Sella sama sekali tidak banyak bicara. Dia lebih memilih membaca atau mendengarkan musik lewat ponselnya menggunakan earphone.
Melihat Sella yang bersikap seperti ini tidaklah mudah bagi Nathan untuk mengajaknya bicara. Setiap dia bertanya, Sella menjawab seperlunya selebihnya dia kembali diam.
Sella dan Nathan tiba di apartemen di siang hari, Nathan mengambil ponselnya lalu memesan makanan siap saji. Karena dia tahu Sella pasti merasa lapar.
Dan tidak memungkinkan bagi Sella untuk memasak, saat ini dalam hati Nathan tidak akan emosi dalam menghadapi Sella. Jika dia emosi maka Sella akan pergi lagi meninggalkannya, itu adalah hal yang tidak diinginkannya.
Terdengar suara bel berbunyi, Nathan bergegas mendekati pintu untuk melihat siapa yang datang. Dia melihat seorang pria yang mengantarkan makanan yang dipesannya.
Setelah mendapatkan bayarannya pria pengantar makanan pun pergi meninggalkan apartemen. Nathan menutup pintu apartemennya lalu berjalan menuju meja makan yang berdekatan dengan pantry.
Dia mengambil beberapa piring dan mangkuk untuk menyiapkan makanan. Setelah tertata rapi Nathan menghampiri Sella yang masih berada di dalam kamar.
Nathan mengetuk pintu kamar Sella, terdengar kata masuk dari dalam kamar. Dia pun membuka pintu kamar lalu masuk ke dalam kamar Sella.
"Kita makan siang dulu, setelah itu kau bisa beristirahat!" Nathan berkata dengan lembut pada Sella yang sedang merapikan pakaiannya.
"Makanlah duluan, aku belum selesai merapatkan semua ini!" jawab sela sembari merapikan pakaiannya.
"Aku akan menunggumu di meja makan!" Nathan mengatakan itu lalu dia pergi meninggalkan Sella.
Sella hanya terdiam, dia masih belum yakin sepenuhnya dengan apa yang dilakukan Nathan. Dia akan melihat selama beberapa bulan ini apakah Nathan memang sudah berubah.
Sella keluar dari kamar setelah merapikan pakaiannya, dia berjalan menuju meja makan. Dia melihat Nathan yang duduk di atas sofa, apakah dia benar-benar menunggunya untuk makan bersama Sella.
"Kau belum makan?" tanya Sella pada Nathan yang tidak menyadari kehadirannya.
Nathan mendongak melihat Sella yang bertanya, dia tersenyum tetapi Sella bersikap dingin. Lalu Nathan berdiri dan berjalan menuju meja makan.
Nathan duduk sedangkan Sella melangkah menuju pantry guna mengambil minuman. Setelah mengambil minuman, Sella duduk di hadapan Nathan. Mereka pun menyantap makan siang tanpa ada pembicaraan apa-apa.
Setelah selesai makan siang, seperti biasa Sella mencuci piring kotor. Sedangkan Nathan menunggu Sella di meja sembari melihat Sella yang sedang berada di pantry.
__ADS_1
Nathan sudah tidak tahan lagi, dia berjalan mendekati Sella lalu dia memeluknya dari belakang. Sella hanya diam sembari melanjutkan pekerjaannya.
"Lepaskan pelukanmu! Aku belum selesai membersihkan piring kotornya!" Sella berkata pada Nathan.
"Sayang, aku sungguh-sungguh minta maaf padamu! Akan aku ceritakan semuanya padamu!" lirih Nathan.
"Baiklah, lepaskan dulu pelukannya! Setalah aku selesaikan semua ini kita bicara." Sella mengatakan itu agar dia bisa menyelesaikan pekerjaan dengan cepat.
Sella sudah menyelesaikan semua pekerjaannya di pantry, lalu dia berjalan menghampiri Nathan yang masih duduk di sofa. Dia pun duduk di sampingnya.
"Apa yang mau kau jelaskan padaku?!" tanya Sella.
Nathan menghela napasnya lalu mulai menceritakan semuanya pada Sella. Bahwa pamannya masih menginginkan saham yang dimilikinya. Namun, semua itu tidak akan terjadi karena Nathan tidak akan memberikannya dengan mudah.
"Yang aku sesalkan, mengapa kau begitu mudah memberikan sahammu pada pamanmu! Meski aku tahun kau menggunakannya untuk menolong Lili. Tapi setidaknya kau bicarakan terlebih dahulu padaku." ucap Nathan pada Sella.
Sella terdiam, dia hanya mendengarkan apa yang Nathan katakan. Karena dia tidak tahu harus percaya sepenuhnya atau tidak, hatinya masih bimbang atas sikap Nathan yang sebenarnya.
Sehingga Sella tidak mengatakan jika dia masih memiliki saham di perusahaan itu. Meski dia tahu Nathan masih memiliki beberapa persen saham di perusahaan keluarganya.
"Apa yang pamanku tukar dengan saham milikmu?!" tanya Sella.
"Kau!" jawab Nathan dengan singkat.
Sella terkejut karena yang ingin pamannya tukar adalah dirinya, sebenarnya apa yang ada di dalam pikiran pamannya itu. Sehingga bisa menjadikannya sebagai alat tukar.
"Apa maksudmu?" Sella bertanya dengan nada terkejut.
Nathan mengatakan jika pertukaran saham dengan nyawa Sella, dia sudah tahu jika sekarang kelemahan Nathan adalah Sella sehingga sang paman sudah berani mengancamnya. Sella masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar, apakah itu sungguh atau sandiwaranya saja.
"Aku sudah mengatakan semua kebenarannya, sekarang itu terserah padamu— percaya atau tidak padaku!" Nathan berkata lalu pergi meninggalkan Sella yang masih terduduk di atas sofa.
"Maafkan aku karena belum bisa sepenuhnya percaya padamu," gumam Sella.
Sella berjalan menuju kamarnya, dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ponselnya berdering, dia bergegas mengambil ponselnya lalu mengangkatnya.
Rupanya yang menghubunginya adalah Lili, dia bertanya apakah sudah kembali atau masih di pedesaan. Sella menjawab jika dia sudah berada di apartemen.
Mendengar itu membuat Lili benang, dia meminta Sella untuk bertemu besok siang. Ada yang ingin dibicarakan sehingga mereka perlu bertemu secara langsung.
Sella menyetujuinya dia akan bertemu dengan Lili besok siang, setelah pembicaraan itu Sella menutup sambungan teleponnya. Dia kembali merebahkan diri di atas tempat tidur.
"Apa yang hendak Lili katakan padaku? Apakah sudah terjadi masalah besar yang diakibatkan oleh Pasaman?" gumam Sella.
Tidak terasa rasa kantuk mulai menghampiri Sella sehingga dia mulai tertidur. Pintu kamarnya terbuka secara perlahan, Nathan berjalan mendekati Sella yang sedang tertidur.
Nathan memandangi wajah Sella dengan lekat, dia sungguh tidak ingin kehilangannya. Karena baginya sekarang Sella adalah wanita yang sangat penting dan berharga.
Dia mengecup kening Sella dengan lembut lalu pergi keluar dari kamar. Nathan menghubungi seseorang, dia menyuruh untuk mencari semua informasi mengenai pamannya Sella yaitu Abimanyu.
Setelah memerintahkan pada orang kepercayaannya, Nathan menutup sambungan telepon. Dia kembali terduduk di atas sofa, tiba-tiba ponselnya berdering.
Nathan sudah merencanakan kepindahannya ke sebuah rumah impian bersama Sella. Sebelum dia keluar dari penjara karena melihat kesungguhan cinta Sella yang besar untuknya.
Dia kembali mengingat masa lalu, dahulu Sella yang mengejar-ngejarnya. Sekarang gilirannya untuk mengejar cinta Sella, meski itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
Sella terbangun saat hari sudah gelap, dia lupa untuk memasak untuk makan malam. Dia bangun lalu bergegas menuju pantry, saat tiba di pantry dia melihat Nathan yang sedang menyiapkan makan malam kali ini.
"Duduklah, makan malam sudah siap!" Nathan berkata dengan senyum lembutnya sembari menatap piring dibatas meja.
"Kau memasak semua ini?" tanya Sella karena tidak percaya apa yang baru dilihatnya.
Nathan mengangguk, bahwa dia yang menyiapkan semuanya sediri tanpa bantuan dari orang. Atau pun beli memesan dari restoran terdekat.
Nathan membukakan tempat duduk seraya mempersilakan Sella untuk duduk. Sella pun duduk sembari melihat menu makan malam kali ini.
"Ayo makan, selagi masih hangat!" Nathan berkata seraya memerintah Sella untuk menyantap makannya.
Sella mencicipi sedikit demi sedikit makanan yang sudah tertata rapi dia atas piring. Dia merasakan makanan Nathan, dia tersenyum karena makanan yang masuk ke mulutnya sangat enak.
Dia tidak menyangka jika Nathan pandai memasak karena selama ini dia tidak pernah melihat Nathan memasak. Mungkin karena dulu Nathan begitu benci pada Sella sehingga tidak mengeluarkan perhatian dan keromantisannya.
Setalah menyantap makan malam, Sella membersihkan pantry dilihatnya dengan seksama pantry terlihat berantakan. Dia tersenyum, ini yang akan terjadi jika seorang pria memasak.
Selesai membersihkan pantry Sella kembali masuk ke kamar guna membersihkan diri. Sebelum masuk ke kamarnya, Nathan memangil Shella untuk ke kamarnya.
Sella pun berjalan ke kamar Nathan, dia ingin tahu apa yang akan dikatakan oleh Nathan padanya. Dia melihat Nathan yang duduk di atas sofa di kamarnya.
"Ada apa memanggilku?" tanya Sella dengan nada dingin.
"Duduklah!" perintah Nathan sembari menepuk sofa di sampingnya.
Nathan mengatakan pada Sella untuk segera berkemas barang apa saja yang hendak dia bawa. Karena lusa sudah akan pindah ke rumah yang baru.
"Mengapa kita pindah rumah? Apartemen ini masih layak huni?" Sella bertanya karena dia bingung mengapa harus pindah rumah.
Nathan menjelaskan bahwa dia ingin suasana yang baru, jika masih di apartemen ini maka kenangan masa lalunya akan kembali. Dia tidak ingin Sella mengingat semua perlakuan buruknya.
"Terserah kau saja, jika itu yang kau suka maka jalani saja." Sella menjawab.
"Baiklah, jika kau setuju. Bawa saja barang-barang yang penting selebihnya semua peralatan sudah tersedia di rumah baru kita!" ucap Nathan.
"Jika tidak ada yang dibicarakan lagi, aku akan kembali ke kamar!" Sella bertanya.
Nathan merasa sedih dengan sikap dingin Sella tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Karena semuanya tidak bisa dipaksakan kembali, dia pun mengijinkan Sella untuk kembali ke kamarnya.
Sella pun pergi dari kamar Nathan menuju kamarnya guna mempersiapkan untuk hari esok bertemu dengan Lili. Dia belum mengatakan pada Nathan jika hari esok akan bertemu dengan Lili.
__ADS_1
Di kamar Sella melihat ponselnya untuk mengecek email yang masuk. Dia membacanya, tidak ada masalah dengan perusahaan. Dan juga namanya masih aman, paman animasi belum mengetahui jika ada beberapa persen saham miliknya di perusahaan keluarga.
***
Keesokan harinya Sella seperti biasa memasak sarapan untuk Nathan. Setelah Nathan pergi kerja dia merapikan apartemen, sudah terlihat rapi dia bergegas pergi untuk ke tempat latihan terlebih dahulu.
Kurang lebih selama satu atau dua jam Sella latihan bela diri, setelah selesai latihan dia kembali ke apartemennya. Untuk membersihkan diri, lalu bersiap untuk bertemu dengan Lili di kantornya.
Ponsel Sella berdering, dia langsung mengangkatnya. Yang menghubunginya adalah Nathan, dia bertanya apakah siang ini bisa makan siang bersama.
Sella menolak secara halus ajakan makan siang hari ini karena dia sudah ada janji untuk bertemu dengan Lili. Nathan bertanya Sella akam bertemu dengan siapa.
Dalam hatinya Sella kembali memikirkan apakah dia harus memberitahukan padanya jika dia akan bertemu dengan Lili. Lagi pula Nathan masih menjadi suaminya.
Sella pun mengatakan jika siang ini akan bertemu dengan Lili karena ada yang harus dibicarakan. Mendengar itu Nathan mengizinkan Sella untuk bertemu dengan Lili.
Mendapatkan izin dari Nathan membuat Sella memberi poin plus untuknya. Dia memutuskan sambungan teleponnya lalu bergegas menuju parkiran mobil. Dia pergi menggunakan mobilnya menuju kantor Lili.
Tidak begitu lama Sella tiba di kantor Lili, dia langsung diantarvoleh sekretaris Lili menuju ruang kerja. Sekretaris tersebut mengetuk pintu ruangan, terdengar seruan masuk.
Sekretaris tersebut membuka pintu lalu mempersilahkan Sella untuk masuk. Setelah itu sekretaris pergi meninggalkan Sella bersama Lili.
Lili menyambut Sella dengan senyum hangatnya lalu mempersilakannya untuk duduk. Begitu pula dengan Lili duduk di hadapannya.
"Ada kepentingan apa hingga kau menyuruhku menemuinya langsung?!" Sella bertanya pada Lili.
"Aku ingin meminta bantuanmu!" jawab Lili.
Sella penasaran mengapa Lili bisa meminta secara langsung untuk di bantu. Sebenarnya ada apa? Apakah paman Abimanyu sudah mengacau kemabali? Semua pertanyaan itu berada di dalam otaknya.
Lili mengatakan jika mama Hani sakit, mungkin karena tekanan yang dilakukan oleh paman Abimanyu. Dan saat ini perusahaan sedang membutuhkan seorang pemimpin yang bisa melawan paman Abimanyu.
"Aku hanya bisa percaya padamu! Karena aku juga tahu jika kau masih melakukan bisnis tanpa sepengetahuan Nathan." ucap Lili pada Sella.
Sella terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Lili lalu dia bertanya, "Apakah kau sudah menyelidik aku?"
Lili mengangguk dan meminta maaf karena sudah lancang menyelidikan privasinya. Sella tersenyum, dia tidak mempermasalahkan semua itu
Lagi pula Sella memang berniat mengatakan semua itu pada Lili karena dia ingin bekerja sama dengan Lili. Untuk menghadapi paman Abimanyu, yang menurutnya sudah diluar batas.
"Aku akan menerima tugas itu tetapi aku tidak membutuhkan surat kuasa sepenuhnya! Itu sebagai bukti bahwa aku serius membantumu!" Sella berkata dengan nada serius.
Lili mengatakan bahwa dia hanya akan memberikan kekuasaan untuk menjalankan perusahaan. Hanya itu sehingga dia bisa memutuskan jalan apa yang terbaik bagi kemajuan perusahaan.
"Baiklah kau buat surat perjanjian kita, aku ingin semuanya jelas sehingga tidak ada keraguan diantara kita!" Sella berkata pada Lili.
Lili memanggil Novi untuk membawa surat perjanjian kerjasama dengan Sella. Beberapa saat kemudian Novi masuk dengan membawa sebuah dokumen.
Lili menyuruh Novi untuk duduk bergabung dengan mereka untuk membicarakan perusahaan. Sebelum itu Novi menyodorkannya dokumen pada Lili.
Sella menerima dokumen dari Lili dan membacanya dengan serius dari poin dari hingga poin terakhir. Tidak ada satu poin pun yang merugikannya atau merugikan pihak Lili. Dia sangat sekutu dengan syarat yang diberikan oleh Lili untuknya.
"Setelah membaca ini, aku setuju dengan kerja sama kita! Sekarang saatnya kita bertahan dari serangan paman Abimanyu, setelah dirasa cukup barulah kita serang balik." Sella berkata dengan penuh keyakinan.
Lili tersenyum begitu juga dengan Novi, mereka melihat semangat yang membara dari sorot mata Sella. Dalam benak Novi dia mengatakan tidak salah telah menyarankan Sella untuk mengurus perusahaan mama Hani.
"Kita belum makan siang, -kan? Bagaimana jika kita makan siang bersama?" tanya Novi pada Lili dan Sella.
Lili sangat setuju dengan usulan Novi, sehingga mereka memutuskan untuk makan siang di sebuah restoran Jepang. Lili pergi menggunakan mobil Novi sedangkan Sella menggunakan mobilnya sendiri.
Sella mengikuti mobil Novi dari belakang untuk menuju restoran yang telah diputuskan untuk makan siang hari ini. Tibalah mereka di restoran yang mereka tuju.
Novi sudah memesan tempat terlebih dahulu selagi di kantor tadi. Sehingga tidak begitu lama mereka menunggu makanan yang sudah dipesan.
Semabri makan siang, mereka membicarakan apa saja yang akan dilakukan untuk bertahan dan menyerang pamannya Abimanyu. Sekarang saatnya mereka bertiga akan menggebrak paman Abimanyu.
"Mengapa kau tidak meminta bantuan suamimu untuk menghancurkan paman Abimanyu?" tanya Sella yang tahu betul dengan kekuatan Arata dalam menghancurkan semua saingannya.
"Aku ingin mengatasinya sendiri karena Arata memiliki kesibukannya sendiri! Dan aku membutuhkan rekan yang bisa diandalkan." Jawab Lili dengan lalu menyiapkan makanan ke mulutnya.
"Apa kau sudah menemukan orang yang tepat itu?!" Sella bertanya kembali.
"Tentu saja sudah, yang pertama adalah asistenku Novi dan yang kedua adalah sahabatku Sella." Lili menjawab dengan penuh percaya diri.
Selesai mereka makan siang, Lili dan Novi kembali ke kantor sedang Sella memutuskan untuk kembali ke apartemennya tetapi dia mendapatkan telepon dari Nathan untuk membawakannya makan siang.
Sella tidak bisa menolak selagi masih ada di restoran, dia pun memesan makanan untuk dikemas lalu menuju perusahaan Nathan. Dalam perjalanan dia memikirkan kembali apa yang sudah direncanakanmya dengan Lili.
"Mungkin ini adalah jalan untuk menebus semua rasa bersalahku padamu Lili!" gumam Sella sembari menambah kecepatan mobilnya.
Tibalah Sella di perusahan Nathan, dia dipersilakan untuk langsung menuju ruangan Nathan. Sekarang semua karyawan mengetahui status Sella. Sehingga semua karyawan Nathan menaruh hormat padanya.
Sella mengetuk pintu ruang kerja Nathan, terdengar seruan masuk. Dia pun membuka pintu lalu memasuki ruang kerjanya, melihat sekilas pria yang sedang duduk sembari membaca dokumen yang ada di tangannya.
"Makanlah, selagi masih hangat!" Sella bertanya seraya menyuruh Nathan untuk berhenti bekerja.
Nathan merasa senang dengan kedatangan Sella ke kantornya, dia menyimpan beberapa dokumentasi di atas meja. Lalu berjalan menuju sofa untuk duduk.
Setelah duduk di atas sofa Nathan menyuruh Sella untuk duduk menemaninya makan. Dia tahu jika Sella tidak akan makan karena dia sudah makan siang bersama Lili.
Sella pun duduk meski hanya diam menemani Nathan makan, di sela-sela makannya Nathan bertanya pada Sella apa yang dibicarakan dengan Lili.
Sella mengatakan semuanya pada Nathan, jika dia bekerjasama dengan Lili untuk membantu mama Hani mengurus perusahaannya. Karena mama Hani sedang sakit.
Mendengar itu Nathan merasa khawatir karena secara tidak langsung akan berhadapan dengan paman Abimanyu.
"Apakah kau sudah yakin dengan keputusanmu? Karena cepat atau lambat kau akan berhadapan dengan paman Abimanyu?" tanya Nathan pada Sella.
__ADS_1
"Aku sudah siap! Kau tidak usah khawatir denganku!" Sella menjawab dengan penuh keyakinan.
Melihat Sella yang begitu yakin, Nathan tahu akan sangat sedikit melarangnya. Yang bisa dia lakukan adalah melindunginya dari belakang.