Musuhku Menjadi Imamku

Musuhku Menjadi Imamku
Extra Part Lili-68


__ADS_3

"Sayang, istirahatlah dahulu! Kita baru saja tiba di Bali." Arata berkata pada Lili yang sedang berdiri di balkon.


Lili tersenyum, dia sungguh bahagia bisa kembali ke Indonesia dan berlibur di Bali. Dia merindukan kedua sahabatnya Alin dan Salma, jika saja mereka bisa berkumpul di Bali mungkin akan terasa sangat menyenangkan. Namun semua itu tidak mungkin karena mereka sekarang sudah sibuk dengan keluarganya masing-masing.


Arata menggendong Lili lalu berjalan masuk ke dalam kamar, sikap Arata ini yang membuat Lili sangat bahagia. Arata begitu memanjakannya, sehingga tidak pernah terpikir jika akan jauh dengannya.


"I love you Arata," ucap Lili sembari mengecup sekilas bibir Arata.


"I love you too sayang." Jawab Arata dengan senyuman menggoda.


Arata mendudukan Lili di atas tempat tidur, dia menyuruh Lili untuk beristirahat karena besok adalah waktunya bagi mereka untuk menjelajahi Bali. Namun masih ada yang mengganjal dalam hati Lili, dia memikirkan kembali Sella. Bagaimanapun Sella pantas mendapatkan kebahagiaan.


"Sayang, apakah kita beri kesempatan untuk Nathan? Aku yakin Sella bisa merubah Nathan menjadi baik dan akan mencintai Sella." Lili berkata dengan apa yang ada di pikirannya.


Arata terdiam dia memikirkan yang baru saja terlontar dari mulut Lili, sebenarnya dia tidak ingin melepaskan Nathan. Kerena Nathan telah membuat Lili menderita dan kehilangan bayi mereka. Pikirnya jika tidak saling memaafkan maka akan terus berkembang permusuhan antara mereka.


"Apa kau yakin dengan semua keputusanmu? Apakah kau sudah memaafkan segala perbuatannya padamu?" Arata bertanya pada Lili.


"Mungkin aku tidak akan melupakan peristiwa itu, tetapi aku akan berusaha memaafkannya. Aku tidak bisa hidup dalam rasa dendam karena dia sudah membuatku kehilangan bayi kita. Aku ingin memberikannya kesempatan untuk memperbaiki dirinya dan juga aku ingin memberikan kesempatan pada Sella. Agar dia bisa merubah Nathan dengan rasa cinta yang dia miliki." Jawab Lili dengan yakin.


"Baiklah kalau begitu, aku akan menghubungi pengacaraku untuk membebaskannya dengan beberapa syarat!" Arata berkata pada Lili meski dalam hatinya belum sepuhnya yakin atas keputusan ini.


Di Jepang, Sella tidak pernah lelah untuk selalu mengunjungi Nathan. Entah mengapa rasa cintanya pada Nathan semakin besar, dia tidak tahu mengapa itu terjadi. Padahal dia bisa dengan mudah pergi meninggalkan Nathan yang saat ini sedang terkurung di dalam jeruji besi.


"Bagaimana keadaanmu?" Sella bertanya dengan nada sedihnya pada Nathan.


Nathan hanya diam, dia melihat wanita yang selama ini dia sakiti masih mau mengunjunginya. Padahal jika Sella mau, dia bisa pergi kapan saja di saat Nathan berada di dalam penjara.


"Mengapa kau kemari? Bukannya kau ingin pergi dariku? Pergilah kau berhak bahagia!" ucap Nathan.


"Aku akan selalu ada di sampingmu, meski kau tidak menginginkanku! Aku akan berusaha untuk mengeluarkanmu dari sini, maka bersabarlah." Sella berkata sembari tersenyum.


Nathan tidak menyangka bahwa Sella masih mau menemuinya, padahal dia sudah membuatnya menderita. Dia merasa bersalah dengan semua yang sudah diperbuatnya, penyesalan mulai menggelayuti hati Nathan.


Namun dia kembali teringat akan segala perbuatan Sella padanya, sehingga rasa marah dan dendam kembali muncul dalam benak Nathan. Jika saja bukan karena Sella mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi.


"Aku tahu dalam hatimu masih besar rasa kebencian terhadapku, tetapi yang pasti rasa cintaku padamu tidak memudar!" Sella berkata dengan penuh keyakinan.


Dalam hatinya dia berkata akan berusaha membuat Nathan jatuh hati dengannya, meskipun membutuhkan waktu yang lama. Karena rasa cinta yang dia miliki hanya untuk Nathan seorang hingga akhir hayatnya.


"Pulanglah! Aku tidak ingin kau terus mengunjungiku atau kau bisa pergi sejauh mungkin dariku!" ucap Nathan dengan nada dingin.


"Baiklah, lusa aku akan kembali mengunjungimu! Jaga kesehatanmu," jawab Sella dengan senyumnya lalu berjalan meninggalkan Nathan.


Sella berjalan keluar dari kantor polisi, dia berpikir apakah Nathan masih belum bisa melupakan dan memaafkan semua yang pernah dilakukannya. Namun dia tidak akan menyerah, dia akan berusaha membuat Nathan jatuh hati padanya. Saking cintanya pada Nathan dia rela mengorbankan nyawanya deminya, karena cintanya hanya untuk Nathan seorang.


Sebelum pulang ke apartementnya Sella memutuskan untuk membeli beberapa bahan di supermarket. Setelah itu dia kembali melanjutkan perjalanan ke apartementnya.


Dia menyimpan semua barang yang di beli di meja pantry, lalu dia berjalan menuju sebuah sofa. Dia duduk di atas sofa tersebut dengan memikirkan bagaimana caranya untuk membantu Nathan agar bisa keluar dari jeruji besi.


Ponsel Sella berdering, dia mengmbil ponsel yang berada di dalam tasnya. Dia melihat layar ponselnya tertera nama Lili, dia langsung mengangkatnya.


"Hallo Li."


Sella mendengarkan setiap kalimat yang di ucapkan Lili dari sambungan telepon, raut wajahnya berubah. Yang tadinya hanya ada cahaya sendu di wajahnya sekarang berubah menjadi cahaya kebahagian. Di tidak percaya dengan yang baru saja di dengar, dia menyuruh Lili untuk mengulanginya lagi.


"Dengarkan aku Sella, aku sudah memaafkan semua yang kau lakukan padaku begitupun dengan apa yang telah dilakukan oleh Nathan padaku. Aku akan memberikan satu kali lagi kesempatan pada Nathan untuk memperbaiki dirinya sendiri. Aku harap kau bisa merubah Nathan menjadi lebih baik dan juga kuharap Nathan bisa jatuh hati padamu serta menerimamu apa adanya. Semoga kalian bahagia." Lili berkata dari seberang sana.


Setelah mengatakan apa yang harus disampaikan Lili memutuskan sambungan teleponnya. Sella benar-benar tidak menyangka dengan apa yang baru saja di sampaikan Lili. Dia begitu sangat bahagia sekali, akhirnya Lili bisa memberikan kesempatan pada dirinya dan Nathan.


"Aku akan berusaha membuat Nathan jatuh hati padaku! Meski itu memerlukan seluruh waktuku!" gumamnya.


Beberapa saat kemudian Sella mendapatkan sebuah informasi dari pengacara Nathan, bahwa besok Nathan sudah bisa bebas. Namun mengharuskan Sella ada saat pembebasan, karena Arata memberikan beberapa syarat yang mengharuskan Sella ada saat pembebasan Nathan.


Setelah mendapatkan informasi itu tidak menyurutkan kebahagian Sella, dia berjalan menuju pantry lalu merapikan barang belanjaan yang sudah dia beli tadi di supermarket. Dalam benaknya memikirkan masakan apa yang akan dia masakan saat Nathan kembali ke apartement.


Sella mulai merapikan semua ruangan di apartementnya, semua dia bersihkan tidak ada yang terlewat. Dia memasuki kamar Nathan, semuanya masih terlihat rapi dan bersih. Namun dia kembali mengganti semua kain yang menutupi tempat tidur, meski tidak ada debu yang menempel di barang-barang Nathan yang berada di dalam kamar dia membersihkannya lagi.


Dia tidak sabar menunggu hari esok, karena esok adalah Nathan akan bebas. Dia tidak peduli jika Nathan belum bisa menerimanya dengan baik. Meski dia akan bertindak jahat padanya, dia akan terus berada di sisinya.


"Mungkin aku adalah wanita yang bodoh, karena aku masih sangat mencintai pria yang sudah berlaku jahat padaku! Semua ini karena aku sangat mencintainya." Gumamnya.


Malam semakin larut, Sella tidak bisa terlelap dia masih memikirkan bagaimana menyambut kebebasan Nathan esok hari. Dia berusaha memejamkan matanya, karena dia harus segera beristirahat. Akhirnya Sella tertidur sembari memegang foto Nathan, itulah rasa cinta Sella pada Nathan.


Keesokan harinya, Sella sudah bersiap-siap untuk menuju penjara. Dia sudah mendapatkan jam yang pasti untuk pelepasan Nathan. Dia keluar dari apartementnya lalu bergegas menuju tempat parkiran mobil.


Dalam perjalanan menuju penjara, hatinya sangat senang akhirnya dia bisa melihat Nathan terbebas dari jeruji besi. Sekarang dia bisa bernapas lega karena tidak merasa khawatir terus menerus karena Nathan selalu di bully di dalam penjara oleh teman satu selnya.


Tibalah Sella di penjara, dia melihat pengacara yang membantu Nathan untuk pembebasan kali ini. Selain pengacara terlihat juga Nathan yang sedang membaca sebuah dokumen, Sella berjalan menghampiri mereka. Dia tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan.

__ADS_1


"Apa kabar Nona Sella, silahkan duduk!" Pengacara berkata lalu menyodorkan beberapa dokumen pada Sella.


Sella membaca dokumen yang baru saja di sodorkan oleh pengacara, dia membaca sekilas bahwa itu semua adalah persyaratan yang harus di tanda tangani oleh Nathan dan Sella. Rupanya Arata menentukan beberapa syarat untuk kebebasan Nathan, jika Nathan tidak setuju dengan semua syarat itu maka Arata tindak akan membebaskannya.


Sella sedikit terkejut karena syarat yang diberikan ada beberapa yang bisa membantunya untuk selalu berada di dekat Nathan. Apakah ini semua Lili yang merencanakannya. Apakah itu artinya secara tidak langsung Lili membantu Sella untuk meraih cinta Nathan.


"Bagaimana? Apakah Tuan Nathan akan menyetujui semua persyaratan yang Tuan Arata berikan?" tanya pengacara.


Nathan berpikir sejenak, dia tahu jika tidak menyetujui semua ini maka dia akan terkurung di balik jeruji besi dalam jangka waktu yang lama. Namun dalam hatinya tidak menginginkan apa yang disyaratkan Arata, karena itu membuatnya akan selalu bersama Sella.


Nathan berpikir kembali, jika dia tidak keluar dalam waktu cepat. Maka semua bisnisnya akan hancur, bisnis yang dia rintis dari nol akan hancur tak bersisa. Dia melihat wajah Sella sesaat, dia juga tahu jika Arata dan Lili bersedia melepaskannya itu semua berkat Sella.


Nathan tahu bahwa Sella selalu berusaha menemui Lili dan Arata guna meminta maaf dan berusaha agar mereka mau membebaskannya. Dalam benaknya mungkin sudah saatnya dia melupakan Lili, karena sekarang dia sudah tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan hatinya Lili.


"Baiklah aku akan menyetujui semua syarat yang diberikan!" Nathan berkata lalu mengambil pena untuk membubuhkan tanda tangannya.


"Bagaimana dengan Anda Nona Sella?" Pengacara itu bertanya pada Sella yang masih membaca ulang semua persyaratan yang ada di dalam dokumen tersebut.


Dalam benak Sella berkata, lebih baik dia menyetujui semua ini. Mungkin ini adalah jalan baginya untuk meraih cinta Nathan. Dia merasa berterima kasih kepada Lili dan Arata karena mereka sudah membantunya secara tidak langsung.


"Baiklah aku menyetujuinya!" Sella berkata lalu membubuhkan tanda tangannya setelah Nathan.


Setelah selesai semua dengan persyaratan pembebasan Nathan pun segera di bebaskan oleh pihak kepolisian. Sella menunggu Nathan di luar kantor kepolisian, dia melihat Nathan berjalan keluar. Nathan menghampiri Sella yang sudah menunggunya.


Tanpa mengucapkan sepatah katapun Nathan berjalan menuju mobil yang sudah terparkir. Sella berjalan mengikutinya dari belakang, dia sudah cukup bahagia dengan kebebasan Nathan. Meski Nathan bersikap dingin padanya, dia tidak peduli.


Dalam perjalanan pulang suasana di dalam mobil sunyi senyap, tidak ada yang memulai pembicaraan hingga mereka tiba di apartement. Mereka berjalan dari parkiran menuju apartement.


Saat memasuki apartement, Nathan merasakan suasana yang dia rindukan. Rumah yang begitu nyaman, terlihat ruangan yang begitu rapi dan bersih sama sebelum dia masuk ke jeruji besi.


"Bersihkan dirimu lalu beristirahatlah, aku akan menyediakan makan siang!" Sella berkata kalau berjalan menuju pantry.


Nathan tidak banyak bicara, dia berjalan perlahan menuju kamarnya. Dibukanya pintu kamar, dia melihat kamarnya sangat rapi, bersih dan wangi. Dia tersenyum dengan apa yang sudah dilakukan oleh Sella.


Dia membuka satu per satu pakaiannya lalu berjalan memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia masih belum bisa berpikir dengan baik dengan apa yang baru saja terjadi padanya. Dia masih tidak bisa menerima bahwa dia harus selalu bersama Sella. Karena dalam hatinya dia masih merasakan kebencian meski Ra benci itu tidak terlalu besar.


Setelah selesai dengan rutinitas membersihkan dirinya, Nathan melihat pakaian yang sudah ada di atas tempat tidurnya.


"Rupanya kau sudah menyiapkan semuanya saat aku berada di kamar mandi," gumamnya.


Nathan menggunakan pakaian yang sudah di siapkan oleh Sella, lalu dia menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidurnya. Dia melihat ke langit-langit kamarnya, begitu tenang dan nyaman kali ini. Dia tidak usah mendapatkan perlakuan buruk dari teman satu selnya.


Tok!


Tok!


Sella memutuskan untuk langsung membuka pintu kamar Nathan, akan tetapi dia ragu. Karena dia takut Nathan akan marah besar jika dia masuk kedalam kamarnya tanpa ijin darinya. Namun dia berusaha menguatkan dirinya, dia juga merasa khawatir takut terjadi apa-apa pada Nathan.


Sella membuka pintu kamar Nathan secara perlahan agar tidak menimbulkan suara yang dapat menganggu Nathan. Saat dia masuk, dia melihat Nathan yang sedang merebahkan tubuhnya namun matanya tidak terpejam. Entah apa yang ada di dalam pikiran Nathan.


Namun yang pasti sekarang sudah saatnya Nathan untuk makan siang, mungkin selama di dalam penjara dia tidak bisa makan dengan enak dan nyaman. Sehingga berat badannya turun, karena bisa terlihat dengan jelas tubuh Nathan yang semakin kurus.


"Nathan, bangunlah sudah saatnya makan siang! Aku sudah menyiapkan semuanya untukmu," Sella berkata dengan lirih sembari menyentuh pundak Nathan.


Nathan tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Sella, dia masih saja tebang dalam pikirannya sendiri. Sella menggoyangkan pundak Nathan dengan perlahan agar tidak membuatnya marah.


Nathan tersadar dari lamunannya, dia melihat Sella yang sudah berada di sampingnya. Sella segera berdiri lalu mundur beberapa langkah, dia merasakan ketakutan karena tatapan Nathan.


"Ada apa?" Nathan bertanya dengan singkat.


Mendengar Nathan yang berbicara dengan nada biasa saja, Sella menarik napasnya lalu mengatakan bahwa makan siang sudah siap. Setelah itu dia berjalan perlahan meninggalkan kamar menuju kamarnya. Karena itu sudah menjadi kebiasaanya jika Nathan makan di rumah maka dia akan berada di dalam kamarnya, jika Nathan bsudah selesai makan baru giliran Sella untuk makan.


Setalah kepergian Sella, Nathan merubah posisi tidurnya menjadi duduk lalu dia beranjak dan berjalan keluar dari kamar. Saat berada di meja makan, dia tidak melihat keberadaan Sella. Dia berjalan menuju kamar Sella lalu mengetuk pintu kamarnya. Sella membuka pintu kamarnya, dia melihat Nathan yang ada di depan pintu kamarnya.


"Ada apa? Apa ada yang kurang?" Sella bertanya dengan nada sedikit ketakutan.


"Ikutlah denganku! Temani aku makan siang!" Nathan berkata kalau berjalan meninggalkan Sella dengan rasa terkejutnya.


Sella masih bergeming dia sungguh tidak menyangka bahwa Nathan menyuruhnya untuk menemani dia makan siang. Ini kali pertama Nathan menyuruh Sella untuk menemaninya makan.


Sella bergegas menyusul Nathan yang sudah berjalan terlebih dahulu ke ruang makan yang berada dekat dengan pantry. Dia melihat Nathan yang sudah duduk di kursi meja makan.


"Duduklah! Dan siapkan makanan untukku." Nathan berkata dengan singkat untuk menyuruh Sella duduk di sampingnya.


Sella duduk di samping Nathan, lalu dia menyiapkan makanan untuk Nathan. Dia tidak menyangka akan melayani Nathan layaknya sebagai seorang istri. Dia keluar Nathan memakan makanan yang dia siapkan dibatas piringnya dengan lahap, betapa senangnya dia melihat semua itu.


"Makanlah, jangan kau terus menatapku!" Jatah berkata dengan dingin pada Sella yang terus menatapnya.


Sella tersadar dengan apa yang dia lakukan, akhirnya dia mengambil piring lalu mengambil makanan untuk dia santap. Akhirnya mereka pun makan siang bersama, ini makan siang mereka berdua dari pertama mereka menikah hingga hari ini.

__ADS_1


Setelah selesai makan siang, Nathan kembali masuk ke kamarnya. Sedangkan Sella membersihkan meja makan dan membereskan pantry. Hatinya sungguh senang dengan perubahan Nathan, meski dia bersikap dingin akan tetapi dia tidak bersikap kejam seperti dulu.


***


Dilain tempat Sarada yang masih sangat kesal dengan segala perbuatan Mike yang telah mengganggu acara berliburnya. Suasana hati Sarada menjadi tidak tenang, dia selalu terbawa oleh emosinya sendiri. Sehingga Maru berusaha keras untuk menahan emosi Sarada.


"Tenangkan dirimu, sayang! Aku sudah mengurus semuanya, dia tidak akan menganggumu lagi!" Maru berkata sembari memeluk Sarada guna menenangkannya.


"Aku sudah muak dengannya, aku mohon padamu kita kembali saja ke Jepang!" ucap Sarada dengan kesedihan.


Sarada berusaha bersikap tenang akan tetapi Mike selalu saja membaut masalah untuknya. Meski Maru sudah memperketat penjagaan yang, Mike masih bisa menerobos masuk untuk menganggu Sarada.


"Baiklah kita kembali ke Jepang, bersiaplah!" ucap Maru.


Setelah mendengar perkataan Maru membuat hati Sarada tenang, dia merapikan barang yang akan dibawa kembali ke Jepang. Maru mempersiapkan semua tiket dan dokumen untuk keperluannya kembali ke Jepang.


Semuanya sudah siap, saatnya mereka ke bandara. Mereka tidak menyadari jika Mike sudah merencanakan sesuatu untuk menculik Sarada. Saat di dalam perjalanan menuju bandara, ada beberapa mobil yang membuntuti mobil yang di tumpangi oleh Maru dan Sarada.


Cekitt!"


Mobil yang ditumpangi oleh Maru dan Sarada berhenti mendadak, rupanya di depan ada sebuah mobil yang menghadang mereka. Beberapa orang berpakaian preman turun dari mobil, lalu mereka mendekati mobil Maru.


Mereka menyuruh Maru dan Sarada untuk keluar dari dalam mobil, Maru pun keluar bersama Sarada. Maru melihat betapa orang yang sudah berani menghadang perjalanannya.


"Sayang, sepertinya mereka mencari Maslah dengan kita!" ucap Sarada dengan nada menyindir.


"Sepertinya begitu, sayang." Jawab Maru dengan singkat.


Mereka kesal dengan apa yang dikatakan oleh Sarada dan Maru, tanpa mengucapkan sepatah katapun mereka menyerang Maru dan Sarada. Dalam benak Sarada, kedatangan mereka sungguh tepat sekali. Karena suasana hatinya yang sedang kesal pada Mike, bisa dia keluarkan dengan menghajar mereka hingga tak berdaya.


Bug!


Whussss!


Brugggg!


Sarada menyerang mereka dengan pukulannya yang bertubi-tubi, setelah itu dia melayangkan tendangannya. Sehingga seorang musuh terjatuh, karena tidak suka temannya di hajar Sarada. Salah seorang musuh mengeluarkan sebilah pisau, lalu dia menyerang Sarada dengan pisau yang dipegangnya.


Whussss!


Srettt!


Lengan Sarada terluka karena sabetan pisau musuh yang begitu cepat, sehingga dia tidak bisa menghindarinya. Maru yang melihat Sarada terluka bergegas mendekatinya guna melindunginya. Namun Sarada tersenyum dia mengatakan tidak apa-apa.


Maru sangat marah dengan penjahat yang sudah melukai lengan Sarada, tanpa aba-aba dia langsung menendang musuh tersebut dengan sekuat tenaga. Sehingga musuh yang melukai lengan Sarada tersungkur tak berdaya.


"Sayang, kau tidak apa-apa?" Maru bertanya dengan nada khawatir.


"Aku, tidak apa-apa! Lebih baik kita segera selesaikan mereka semua!" Sarada berkata sembari tersenyum.


Maru tersenyum tipis melihat Sarada menikmati semua ini, itu tandanya dia bisa melepaskan semua kekesalan yang ada di hatinya. Karena sedari kemarin dia terlalu emosi menghadapi ulah dari Mike, jika saja Mike ada di sini mungkin Sarada akan menghajarnya hingga tak berdaya.


"Haha tidak kusangka sekarang kau bisa bela diri, Sarada." Ucap seorang pria di belakang Sarada dan Maru.


Sarada tidak merasa terkejut dengan kehadiran Mike, dia hanya menatapnya dengan perasaan kesal. Karena Mike selalu membuatnya mengingat semua penderitaan yang dia alami sewaktu bersama Mike.


Sarada tersenyum tipis lalu berkata, "Kau tidak usah memujiku Mike, sekarang saatnya untukku untuk memberikan apa yang seharusnya sudah kulakukan dari kemarin."


Sarada langsung berlari menghampiri Mike, dia berusia untuk melayangkan tinjuannya. Mike berhasil bertahan dari serangan Sarada, akan tetapi Sarada terus saja menyerangnya tanpa ampun. Dia melayangkan tinjuannya secara bertubi-tubi, sehingga Mike merasa kewalahan.


Dalam benak Mike dia tidak menyangka jika Sarada bisa sekuat ini, apakah selama tidak bertemu dengannya Sarada sudah bekerja keras untuk melatih bela dirinya. Di sisi lain Maru hanya memperhatikan Sarada menyerang Mike, karena dia sudah melumpuhkan semua preman yang di utus Mike.


"Apa kau ingin menghabisiku, sayang?" Mike berkata dengan terengah-engah karena menghadapi serangan Sarada.


Bug!


Brugggg!


Sarada melayangkan tinjuan dengan sekuat tenaga, sehingga membuat Mike tersungkur. Melihat Mike terjatuh membaut hatinya merasa puas, sudah lama dia ingin menghajar Mike seperti ini.


Mike masih bisa berdiri, dia tersenyum karena Sarada berhasil menjatuhkannya. Namun dia merasa tidak kecewa, malahan dalam hatinya masih ingin memiliki Sarada seutuhnya. Dia ingin merebut Sarada dari tangan Maru, dia ingin mendapatkan Kemabli cinta Sarada.


"Kau membuatku kembali jatuh cinta padamu, sayang!" Mike berkata dengan senyum piciknya.


"Dan aku semakin muak melihatmu, Mike!" jawab Sarada lalu berjalan menghampirinya. Dia melayangkan tendangannya dengan sekuat tenaga, sehingga Mike terjatuh kembali dan tidak bisa berdiri.


Maru yang melihat semua itu hanya bisa tersenyum, dalam benaknya berkata jika Sarada sudah marah itu terlihat sangat manis. Sarada yang melihat Maru tersenyum, melangkah mendekati Maru.


"Apa kau ingin di hajar seperti Mike, sayang?!" Sarada berkata dengan sedikit penekanan.

__ADS_1


"Iya aku mau dihajar olehmu di atas ranjang saja," Maru berkata lalu menarik Sarada, sehingga wanita yang dia cintai itu berada di dalam pelukannya.


Maru mencuri kecupan manis dari bibir Sarada, itu membuat Sarada tersenyum. Setalah itu mereka memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan menuju bandara. Karena mereka akan kembali ke Jepang.


__ADS_2