
Setelah acara makan malam yang berjalan dengan baik, akhirnya tanggal pernikahan Novi akan dilaksanakan awal bulan ini. Yang jika dihitung harinya tinggal 7 hari menuju pernikahan Novi dan Satria.
"Sayang, apakah kau bisa melakukan persiapan dengan waktu 7 hari saja untuk pernikahan Novi?" Lili bertanya pada Arata.
"Kau tenang saja, aku sudah menyiapkan semuanya dengan baik! Kita akan adakan acara pernikahan mereka di sebuah hotel saja, aku sudah membicarakan semuanya dengan Novi dan Satria." Arata menjawab guna menenangkan hati Lili yang merasa gelisah mengenai hari pernikahan Novi.
Lili tersenyum mendengar jawaban dari Arata, dia mengecup sekilas bibir Arata guna berterima kasih atas semuanya. Dalam benaknya merasa bersyukur akhirnya Novi menikah dengan pria yang baik, semoga saja Satria bisa membagikan Novi.
"Sudahlah kau tenang saja, aku yakin Satria adalah pria yang akan membuat Novi merasakan kebahagiaan." Arata berkata seraya mengetahui apa yang ada di dalam pikiran Lili.
Lili tersenyum lalu memeluk Arata dengan erat, dia sungguh tidak menyangka bahwa suaminya bisa memahami apa yang sedang dia pikirkan. Arata membalas pelukan Lili dalam benaknya dia sangat beruntung mendapatkan Lili sebagai istrinya.
Ponsel Arata berbunyi dia mengambil ponselnya di atas meja, lalu mengangkatnya. Yang menghubunginya adalah Kenzo, dia mengatakan bahwa Yuki rindu pada Lili. Arata melihat Lili yang sedang duduk santai di atas sofa, dia berpikir jika Lili mendengar suara Yuki pasti dia merasa sangat senang.
Arata menghampiri Lili yang sedang duduk, lalu dia menempelkan ponselnya di telinga Lili. Lili bingung apa yang dilakukan oleh Arata, beberapa saat kemudian terdengar suara mungil dari gadis kecil yang selalu dia rindukan.
"Yuki...." Terikat Lili yang kegirangan.
Mereka pun berbincang sangat lama, Arata hanya melihat Lili dengan kegembiraan hingga posisi Lili sekarang bersandar pada kedua paha Arata. Melihat istrinya tiduran di atas pahanya sembari menelepon Yuki, Arata mengelus lembut kepala Lili sembari membaca dokumen.
Setelah satu jam Lili berbincang dengan Yuki di jaringan telepon, akhirnya mereka memutuskan sambungan teleponnya. Arata yang sedari tadi tidak merubah posisi duduknya merasa keram dibagikan kedua pahanya.
Lili tersadar lalu dia, segera merubah posisi tidurnya menjadi duduk. Dia melihat Arata yang berusaha untuk meluruskan kedua kakinya. Lili merasa bersalah laku dia menyuruh Arata untuk meletakan kedua kakinya di atas pahanya. Lalu dia memijit bagian paha lalu menjalar kebagian kaki Arata.
"Apa kau sudah puas?" Arata bertanya dengan senyum.
Lili tersenyum sembari terus memijit paha Arata, akan tetapi dia merasa akan terjadi sesuatu hal yang membuat kehidupannya berubah.
"Sayang, aku merasa jika sesuatu hal yang besar akan terjadi pada kita!" Lili berkata ada sedikit rasa khawatir.
Arata merasakan hal yang sama dengan Lili, akan tetapi dia selalu menghempaskan semua pikiran buruknya. Dia tidak ingin semua pikiran buruknya mengganggu semua aktivitas kesehariannya, lagipula Arata saat ini lebih memilih untuk membahagiakan Lili.
"Sudahlah kau tidak usah memikirkan hal-hal yang buruk! Sekarang kita harus fokus untuk pernikahan Novi." Arata berkata guna mengalihkan topik pembicaraan yang akan membuat Lili berpikir keras.
Lili berpikir bahwa yang dikatakan oleh Arata ada benarnya juga, setelah selesai memijit Arata dia kembali mengerjakan apa saja yang sudah disiapkan untuk pernikahan Novi. Dia menginginkan acara pernikahan Novi terlihat sangat indah dan tidak akan dilupakan oleh Novi, karena pernikahan merupakan sekali dalam seumur hidupnya.
Seorang pelayan mengetuk pintu kamar Lili, dia mengatakan bahwa Sarada dan Novi sudah menunggu di ruang tamu. Setelah memberikan informasi tersebut, pelayan pun undur diri untuk melakukan kembali pekerjaannya.
"Sayang, kau mau ikut? Novi dan Sarada sudah berada di ruang tamu menunggu kita?" Lili berkata seraya mengajak Arata untuk bergabung bersama mereka.
Arata berusaha berdiri lalu meregangkan kedua kakinya, dia berjalan perlahan menghampiri Lili. Lalu di berjalan berdampingan menuju ruang tamu guna menemui Sarada dan Novi.
Lili melihat Sarada dan Novi yang sedang berbincang-bincang, dia mendekati mereka lalu duduk di atas sofa. Tanpa basa-basi mereka membicarakan tentang rencana pernikahan Novi, sedangkan Arata dia memilih untuk pergi ke ruang baca bersama Maru.
"Maru, coba kau cari semua informasi tentang Kenzo Arsalan!" ucap Arata pada Maru.
Maru mengangguk lalu dia mulai mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Arata, akan tetapi Arata mengatakan pada Maru jangan sampai Lili mengetahui apa yang diperintahkannya. Maru berpikir itu artinya dia juga tidak boleh menceritakan pada Sarada, karena dia tahu Sarada pasti akan memberitahukan semuanya pada Lili.
Semua persiapan untuk acara pernikahan sudah mulai dijalankan, semua keluarga Novi yang akan menghadiri acara pernikahan pun sudah mulai berdatangan. Namun yang menjadi kekhawatiran Lili adalah mengenaliku kedua orangtua Novi.
Lili merasa khawatir jika orangtua Novi akan membuat masalah pada saat berlangsungnya acara pernikahan Novi. Lalu dia mengatakan semua kekhawatirannya pada Arata, dengan cepat Arata mengatakan sesuatu hal yang membuat Lili merasa tenang.
"Apapun yang terjadi nanti kita hanya bisa berusaha untuk meminimalisir masalah yang mereka buat! Namun yang pasti aku akan memperketat penjagaan saat pernikahan Novi, bagaimanapun juga Satria adalah sahabatku dan Novi adalah saudarimu!" ucap Arata.
"Syukurlah kalau begitu, apa mungkin aku terlalu banyak berpikir karena tidak terasa lusa Novi sudah akan menikah dengan Satria." Lili berkata sembari menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur.
Arata mendekati Lili lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, pas sekali disampingnya tubuh Lili. Dia memeluk Lili dengan lembut, dia hanya ingin membuat istrinya merasa nyaman dan tidak terlalu banyak berpikiran buruk. Karena itu bisa berpengaruh pada kesehatannya.
Lili senang dengan pelukan Arata karena itu bisa membuatnya merasa tenang, lalu dia menenggelamkan wajahnya ke dalam dada Arata. Sehingga membuat Arata merasa ingin bermain dengan Lili.
"Sayang, ayo kita bermain? Untuk melanjutkan program kita!" bisik Arata dengan lembut di telinga Lili.
Mendengar perkataan itu Lili berpikir jika Arata semakin mesum saja, saat Lili melepaskan diri dari dekapan Arata. Dia tidak bisa lepas dengan mudah, karena Arata menariknya masuk kembali kedalam pelukannya.
Tangan Arata mulai bermain di bagian tubuh Lili yang sangat sensitif, sehingga membuat Lili menggeliat. Arata mengecup bibir Lili yang begitu menggodanya, lalu dia memainkan lidahnya di dalam rongga mulut Lili dengan lembut. Permainan itu membuat Lili tidak bisa menolaknya sehingga dia pun ikut dalam permainan Arata.
Tanpa disadari satu persatu pakaian sudah terlepas dari tubuh Lili begitupun sebaliknya. Mereka bergulat dengan permainan yang membuat mereka terhayut dalam kenikmatan, tidak ada yang bisa membuat mereka berhenti kecuali jika mereka sudah mencapai titik puncaknya.
Terdengar erangan yang sudah tidak bisa ditahan oleh Lili, akan tetapi semua itu semakin membuat Arata terprovokasi. Sehingga Arata semakin merasakan kenikmatan, hentakan demi hentakan sudah beraturan. Mereka berdua merasakan hentakan yang begitu membuat diri mereka lupa akan setiap masalah.
***
__ADS_1
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu oleh Lili tiba juga yaitu hari pernikahan Novi dan Satria. Semua persiapan sudah selesai, semuanya berjalan dengan apa yang diinginkan oleh Lili dan Novi.
"Kau sangat cantik Novi," ucap Lili yang melihat Novi sedang duduk menghadap sebuah cermin.
Novi berbalik tanpa mengucapkan sepatah katapun dia langsung memeluk Lili dengan erat, dia sungguh tidak menyangka bahwa dia akan merasa kebahagiaan seperti ini, dia juga tidak menyangka akan menikah dengan pria yang sangat baik baginya.
"Terima kasih atas semuanya, jika bukan karena kau mungkin aku sudah tiada." Novi berkata dengan beruraian air mata.
"Hentikan tangismu! Dengarlah aku merasa bersyukur dengan kau yang sekarang, apapun yang terjadi kau tetaplah saudariku. Aku tidak mungkin membuangnya begitu saja, aku harap kau bisa berbahagia bersama Satria. Lupakanlah masa lalumu, raihlah masa depan dengan kebahagian bersama suamimu!" ucap Lili pada Novi.
Semua ucapan yang terlontar dari bibir Lili membuat hati Novi tenang, dia merasa beruntung memiliki saudari yang begitu baik padanya. Walaupun dulu dia pernah berbuat jahat padanya.
"Hentikan tangisanmu, nanti make-upnya luntur." Lili berucap sembari menghapus air mata di pipi Novi lalu merapikan make-upnya.
"Wah keponakan Mama cantik sekali." Mama Hani berkata langsung memeluk Novi.
Novi pun membalas pelukan Mama Hani, karena saat ini dia sudah menganggap mama Hani sebagai mamanya sendiri. Karena sang ibu tidak mau lagi menganggapnya sebagai putrinya sendiri. Dia merasa beruntung masih memiliki mama Hani, Lili, papa Karim sekarang dia memiliki Satria.
Sarada masuk ke ruangan lalu dia mengatakan bahwa pengantin pria sudah siap, acara pernikahan akan segera di mulai. Sudah saatnya Novi untuk melihat calon suaminya dan acara akad nikah akan segera dimulai.
Novi berjalan perlahan ditemani oleh Lili dan Sarada, Satria melihat dari kejauhan betapa cantiknya Novi hari ini. Dia tidak menyangka bahwa Novi akan mengenakan hijab di acara pernikahan mereka.
Satria berharap jika Novi akan selalu mengenakan hijabnya, karena Novi sangat terlihat cantik dengan hijabnya. Novi berjalan perlahan mendekati Satria yang sudah duduk dihadapan pemimpin pernikahan. Novi duduk di samping Satria yang sedari tadi sudah memandanginya dengan lembut.
Acara akad nikah berlangsung dengan khidmat, tidak ada sesuatu yang membuat acara pernikahan ini kacau. Semua tamu pun menikmati acara selanjutnya sembari menyantap makanan yang sudah disediakan.
Saat semua sedang menikmati camilan dan minuman semabri berbincang-bincang, semua orang dikejutkan dengan kehadiran kedua orangtua Novi. Mereka mulai berbuat kekacauan, ayahnya mulai berbicara yang buruk mengenai Novi.
Arata langsung bergerak cepat, dia menyuruh para pengawal untuk mengusir mereka. Namun mereka tidak mau pergi sebelum bicara dengan Novi dan Satria, akhirnya Satria menyetujuinya apa yang diinginkan oleh ayahnya Novi.
"Kau tidak berhak untuk bicara denganku apalagi kau ingin bicara dengan suamiku!" Novi berkata dengan penuh penekanan.
Novi tidak ingin jika nanti ayahnya akan mengatakan hal-hal yang akan membuat Satria semakin membenci tindakan kedua orangtuanya. Namun apa yang dikatakan oleh Novi tidak membuat sang ayah menghentikan keinginannya.
"Sudah, sayang lebih baik kita bicara dengan kedua orangtuamu." Satria berkata dengan lembut pada Novi.
Namun satria menyuruh kedua orangtua Novi untuk menunggu di kamar, karena pesta pernikahan mereka belum selesai. Ayah Novi mengangguk lalu dia akan menunggu di kamar, seorang pengawal menemani orangtua Novi menuju kamar yang sudah ditetapkan.
Pesta pernikahan pun sudah selesai, Satria dan Novi berjalan menuju sebuah kamar untuk menemui kedua orangtua Novi. Lili pun mengikuti mereka dari belakang, karena Lili tidak ingin terjadi sesuatu pada Novi. Arata pun mengikutinya, sebelum itu dia meminta ijin pada Satria untuk ikut bicara dengan kedua orangtua Novi.
"Kau harus bisa berkata sopan padaku! Aku ini masih Ayahmu!" ucap sang ayah yang kesal mendengar perkataan Novi.
Novi hanya diam, dia kembali apa yang sudah pernah dikatakan oleh sang ayah padanya. Kemarin-kemarin sang ayah pernah mengatakan bahwa dia harus melupakan jika dia memiliki ayah.
"Apa kau mau jadi anak durhaka hah! Kau berkata tidak sopan pada Ayahmu, beginikah pengaruh Lili terhadapmu! Aku juga masih Ibumu, apa aku tidak berhak melihat putriku menikah?" ucap sang ibu dengan nada tinggi.
Novi sudah tidak bisa berkata-kata lagi, dia hanya diam mendengar semua perkataan yang terlontar dari mulut ibu dan ayahnya. Melihat Novi hanya diam saja, membuat kedua orangtuanya semakin merajalela. Mereka terus mengayuh sesuatu yang harus dibayar oleh Novi.
"Sudah cukup hentikan semua ini Paman!" Lili berkata dengan penuh kemarahan.
Arata berusaha menenangkan Lili akan tetapi tidak berhasil, hingga akhirnya Lili meluapkan semua kemarahannya. Bukannya diam mereka semakin menggila, mereka menghina Lili yang sudah tercemar. Namun mereka tidak tahu bahwa yang melakukan semua itu adalah Arata.
Niat dari ayah Novi adalah untuk menghancurkan juga rumah tangga Lili dan Arata dengan memngatayak. Semua kejadian buruk yang menimpa Lili, semua itu membuat Arata semakin marah. Dia tidak mau Lili kembali terkenang dengan masa lalu yang kelam bagi mereka berdua.
Semua berargumen saling membela atau menjelekkan satu sama lain, itu membuat Novi tidak tahan lagi. Apalagi setelah mendengar kedua orangtuanya menghina Lili dan berkata buruk mengenai Lili. Dia tidak rela jika mereka terus menyakiti Lili.
"Sudah cukup, apa yang kalian inginkan dariku?!" Novi berkata dengan dingin.
"Aku ingin kau membayar semua kerugian yang telah kau buat dan juga semua biaya yang telah aku berikan dari kau bayi hingga saat ini!" ucap sang ayah dengan santainya.
Novi terhenyak begitupun dengan Lili, mereka berdua tidak menyangka akan mendengar perkataan seperti itu dari seorang ayah kepada putrinya sendiri. Namun Novi sudah tidak bisa berharap pada kedua orangtuanya.
"Berapa yang harus aku bayar Tuan?" Novi bertanya dengan lirih.
"500 miliar." Jawab singkat sang ayah.
"Hanya sebesar itu harga diriku ini Tuan. Aku akan kesegaran melunasi hutangku kepada Anda. Jadi sekarang lebih baik Anda pergi dari sini, setelah ini kita tidak ada hubungan apa-apa lagi." Lili berkata dengan dingin lalu dia berjalan memasuki kamar mandi.
"Aku akan urus semuanya! Tapi kalian harus ingat jauhi semua keluargaku termasuk Novi!" Arata berkata dengan penuh penekanan dan tatapan rasa ingin menghabisi, sehingga membuat merinding ayah Novi.
Setelah mengatakan itu Arata menyuruh para pengawalnya untuk mengantar mereka pergi dari hotel dan memastikan agar mereka pergi dari Jepang hari ini juga. Setelah kepergian mereka Lili terkulai lemas, dia sudah tidak bisa menahan rasa marah dan kesalnya sehingga dia menangis dalam pelukan Arata.
__ADS_1
"Mengapa mereka berkata seperti itu pada Novi, bukankah Novi adalah putri mereka! Jika aku tahu mereka akan berbuat seperti ini lebih baik aku melarang mereka bertemu dengan Novi." Lirih Lili dalam pelukan Arata.
"Tenanglah sayang, lebih baik kita kembali ke rumah! Masalah Novi biar Satria yang menenangkan Novi!" Arata berkata lalu menggendong Lili berjalan menuju mobilnya lalu kembali ke rumah.
***
Setalah semua pulang, Satria terduduk dia sungguh tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Begitu menderitanya Novi saat ini, dia berdiri lalu berjalan perlahan menuju kamar mandi. Dia mengetuk pintu kamar mandi, akan tetapi dia tidak mendengar suara Novi sama sekali.
Yang dia dengar adalah suara air yang menyamarkan suara tangisan Novi yang merasa sedih. Dia tidak bisa menahan semuanya hanya menangis yang bisa dia lakukan saat ini, ingin rasanya pergi jauh dari sini dan melupakan semuanya. Namun dia tidak bisa, dia masih mengingat tentang Satria yang baru saja menjadi suaminya.
Satria membuka pintu kamar mandi yang tidak terkunci, dia melihat istrinya yang sedang menangis. Dia berjalan mendekatinya lalu memeluknya dengan erat, seraya ingin membuatnya tenang dan merasa terlindungi.
Satria menggendong Novi lalu berjalan keluar dari kamar mandi, lalu berjalan perlahan dan mendudukkannya di atas tempat tidur. Dia melihat air mata yang terus saja mengalir dari kedua matanya. Dia menyeka air mata yang membasahi kedua pipi Novi.
"Menangis lah jika itu bisa membuatmu lega, aku akan selalu berada disampingnya!" Satria berkata dengan lembut pada Novi.
Mendengar itu pecahlah tangis Lili yang memecah keheningan ruangan, dia memeluk satrai dengan erat semabri menangis. Tangisnya tidak berhenti dia terus menangisi kenapa dia bisa lahir di keluarga seperti ini.
Akhirnya Novi tertidur dalam pelukan Satria, begitupun Satria yang sudah merasa lelah dengan acara hari ini. Baginya saat ini adalah bisa menenangkan Novi dan akan selalu ada untuknya. Masalah permintaan kedua orangtua Novi akan dia urus setelah semuanya tenang. Dia akan membicarakan semuanya dengan Arata.
Novi terbangun saat tengah malam, dia merasa kerongkongannya kering. Saat dia terbangun dia terkejut karena melihat Satria yang tertidur disampingnya. Dia melihat pakaian yang masih menempel di tubuhnya, ruaonya dia belum mengganti pakaian pengantinnya.
Novi bangun dari posisi tidurnya, lalu dia berjalan menuju kamar mandi guna membersihkan dirinya. Saat di dalam kamar mandi dia membuka satu per satu pakaiannya, setelah semuanya terlepas dia mulai membersihkan dirinya.
Setelah selesai dengan rutinitas membersihkan dirinya, Novi keluar dari dalam kamar mandi. Dia melupakan tidak membawa pakaian tidurnya, lalu dia menggunakan sehelai handuk yang melingkar di tubuhnya. Sungguh terkejutnya Novi saat melihat Satria yang sudah berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Bersihkan dirimu, lalu kembali beristirahat." Ucap Novi dengan menundukkan kepalanya karena dia merasa malu dengan apa yang dia kenakan malam ini.
Satria tersenyum, dia mendekati Novi lalu berbisik secara lembut di telinga Novi. "Kita salat bersama setelah itu kita istirahat."
Wajah Novi merona karena bisikan Satria, setelah bersisik satria langsung memasuki kamar mandi guna membersihkan dirinya. Dia tersenyum karena melihat wajah Novi yang merona akibat bisikannya.
Novi mencari pakaian tidurnya, akan tetapi dia tidak menemukan satupun pakaian tidur yang biasa dia kenakan. Yang ada hanya pakaian yang begitu menerawang, jika melihat pakaian tidur ini dia teringat akan masa lalunya yang kelam.
"Ini pasti ulah Lili jika bukan pasti Sarada." Gumamnya.
Karena tidak ada pakaian tidur yang bisa digunakan lagi, dia terpaksa menggunakan pakaian tidur yang sudah ada. Namun dia bergegas memakai mukena untuk menutupi semuanya.
"Kau sudah siap rupanya," Satria berkata dengan lembut akan tetapi membuat Novi terkejut.
Mereka pun salah bersama setelah itu Satria merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, dia mengambil ponselnya lalu memainkannya sebentar. Novi merasa ragu saat akan melepaskan mukenanya, karena pakaian yang dia gunakan terlalu sexi.
Novi sudah memutuskan untuk menutup semua auratnya setelah dia menikah dan semua keputusan itu sempat dia tanyakan pada Lili. Mendengar jika Novi akan berhijab membuat Lili sangat bahagia, dia pun mendukung 100% dengan keputusan yang diambil Novi.
"Kenapa kau masih menggenakan mukenamu?" Satria yang bingung dengan sikap Novi bertanya.
Novi terdiam, lalu dia membuka secara perlahan mukena yang dia kenakan. Satria kembali fokus pada ponselnya. Namun saat Novi sudah membuka dan melipat mukenanya, Satria terkejut dengan pakaian yang dikatakan oleh Novi.
"Aku tidak menemukan pakaian tidurku! Sehingga aku terpaksa mengenakkan ini!" Novi berkata.
Novi berjalan cepat menuju tempat tidur lalu dia merebahkan tubuhnya dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Satria tersenyum dengan sikap Novi yang seperti ini, dai sungguh tidak ingin menggodanya.
Namun setelah melihat sikap Novi seperti ini munculah niat nakal Satria pada Novi. Dia menyimpan ponselnya di atas nakas. Lalu dia mendekatkan tubuhnya pada tubuh Novi, dia memeluk Novi dengan lembut sembari membisikkan kata-kata yang bisa membuat Novi merasakan kegelian.
"Kau terlihat cantik menggunakannya, akan tetapi itu hanya boleh saat kau bersamaku!" bisik Satria dengan lembut sembari mengecup punggung Novi.
Novi tampak begitu menggoda, matanya, bibirnya, tubuhnya membaut Satria ingin memakannya. Dia mengecup lembut bibir Novi, setelah puas dengan bibirnya kecupan itu menjalar ke lehernya. Dia menyentuh setiap lekuk tubuh Novi dengan lembut sehingga membuat Novi menggeliat. Sehingga terdengar desau yang memprovokasi Satria untuk terus melanjutkan permainannya.
Semakin lama kecupan dan sentuhan yang diberikan oleh Satria kepada Novi semakin liar. Desauan yang terdengar dari mulut Novi yang menandakan dia sangat menikmatinya, lalu Satria menggerakkan tubuhnya secara perlahan dan lembut.
Setiap hentakan yang dilakukan Satria membuat Novi mendasau, semakin lama hentakan yang dilakukan oleh Satria semakin cepat. Sehingga Novi menikmati semua permainan Satria.
Novi pun mengikuti ritme permainan Satria, semua itu membuat Satria merasakan akan mencapai titik puncaknya. Lalu dia berbisik pada Novi bahwa dia akan mencapai titik puncak kenikmatan. Begitupun dengan Novi yang akan mencapai titik puncak kenikmatannya. Akhirnya mereka mencapai titik puncak kenikmatan bersama.
Setelah pergulatan mereka selama beberapa jam, membuat mereka tertidur pulas. Rasa lelah akibat permainan mereka tidak terasa, raut wajah mereka terlihat begitu tenang dan bahagia. Mereka tidak memikirkan apa yang sudah terjadi tadi sore.
__________________________________________
Jika ada yang ingin ditanyakan padaku tentang karya dan bisa langsung menghubungi ku via akun Instagram.
Klik search di Instagram dengan nama akun :
__ADS_1
@macan_nurul
Sekali lagi terimakasih untuk kalian semua 💋💋 jangan lupa ya like dan komen ya juga vote ya 😉 jangan lupa juga jadikan favorit ya 😉 😉