
"Kalian terlihat serius?!" Lili bertanya pada Arata yang masih berbincang-bincang bersama Kenzo.
Kenzo terkejut mendengar Lili yang tiba di belakangnya karena dia takut jika Yuki mendengar apa yang baru saja dikatakannya pada Arata. Setelah melihat kebelakang dia tidak melihat Yuki, dia merasa lega tetapi dia bingung kemana Yuki berada.
"Di mana Yuki?!" tanya Kenzo pada Lili.
Lili menjawab jika Yuki tertidur saat bermain di taman, sehingga dia menggendongnya. Lalu seorang pelayan mengantarnya menuju kamar Yuki. Setelah itu Lili bergabung dengan Arata dan Kenzo.
"Apa yang kalian bicarakan? Sehingga kalian terlihat ketakutan?!" Lili bertanya sembari duduk di samping Arata.
Kenzo tersenyum lalu berkata, "Biarkan Arata yang menceritakannya padamu, setelah kalian tiba di rumah kalian nanti."
Arata pun mendukung apa yang dikatakan oleh Kenzo karena jika diceritakan kembali takut ada yang mendengarnya. Lalu semua informasinya bisa tersebar ke luar.
Karena Arata dan Kenzo sudah berkata seperti itu Lili pun diam. Dia tidak akan memaksa lagi tetapi dia pasti akan bertanya pada Arata jika mereka sudah berada di rumah.
Dilain tempat Novi yang sedang bertemu dengan Faisal di sebuah restoran merasa kesal. Karena pria itu menginginkan sesuatu yang tidak sudah tidak mungkin.
"Kau terlihat cantik meski sudah menutup auratmu tetapi itu tidak merubah pandanganku terhadapmu! Kau masih sama seperti wanita yang menghabiskan malam bersamaku." Faisal berkata dengan nada merendahkan.
"Hentikan ini! Aku adalah istri dari kakakmu, apakah kau tidak bisa menghargai itu?" Novi bertanya dengan kesal.
Faisal tersenyum tipis, dia merasa begitu menginginkan Novi. Dia berniat untuk menjadikan Novi sebagai miliknya. Karena Satria pasti akan memberikan istrinya pada dirinya. Faisal begitu percaya dirinya jika Satria akan memenuhi keinginannya.
"Aku ingin malam ini kau menemaniku!" ucap Faisal dengan nada perintah.
Namun, Novi merasa kesal dengan yang diucapkan oleh Faisal. Dia tidak menjawab apa-apa lalu pergi begitu saja meninggalkannya. Novi sudah tidak peduli lagi dengan apa yang akan dilakukan oleh Faisal.
Jika memang Satria lebih membela adiknya maka Novi akan menyerah dan mundur perlahan dari kehidupan kedua pria itu. Yang satu sudah membuatnya menderita dan yang satu sudah membuatnya merasakan kebahagiaan.
Dalam perjalanan pulang, Novi merasa sedih dan kesal. Dia merenungi nasibnya. "Apakah aku tidak berhak untuk bahagia? Apakah dosa-dosaku terlalu banyak, hingga aku tidak berhak untuk bahagia." Gumamnya sembari menjalankan mobil.
Ckitttt!
Novi menghentikan mobilnya di sebuah taman, dia keluar bdsri dalam mobil. Lalu berjalan menelusuri taman, hatinya sedang sedih dengan semua yang terjadi.
Dia duduk di atas kursi taman, melihat orang-orang yang berlalu-lalang. Melihat pasangan muda-mudi yang sedang bergandengan tangan. Betapa bahagianya mereka dengan pasangannya.
Seperti tidak ada masalah yang menerpa mereka, inilah kebahagiaan yang Novi inginkan. Setelah semua kesedihan yang dia alami selama di Indonesia.
"Apa yang akan kau lakukan Novi? Jika kau menceritakan semuanya pada suamimu, apakah dia akan menerima kenyataannya? Atau dia akan lebih mempercayai adiknya?" gumam Novi sembari menghela napasnya.
Langit sudah tidak terang lagi, sekarang berganti gelap Novi masih saja duduk di kursi taman tanpa bergerak sedikit pun. Hatinya ingin pulang tetapi sebagian hatinya mengatakan tidak perlu kembali ke rumah.
Ponselnya berdering, Satria menghubungi Novi berkali-kali. Namun, dia tidak pernah menjawabnya. Akhirnya dia mengangkat telepon dari Satria, dengan cepat Satria bertanya keberadaan Novi.
Satria begitu khawatir karena Novi belum tiba di rumah karena sudah malam. Karena dia hanya meminta izin untuk makan siang saja.
Novi mengatakan pada Satria akan segera kembali ke rumah, dia meminta maaf karena tidak memasakkan makana malam. Satria tidak mempermasalahkan itu karena dia sudah menyiapkan makan malam.
Setelah mengatakan jika dia akan segera pulang, Novi menutup teleponnya lalu dia berjalan menuju mobil. Hatinya masih tidak mengizinkan untuk kembali ke rumah. Namun, dia harus kemabali karena Satria sudah menunggunya.
Tibalah Novi di apartemennya, dia berjalan perban menuju apartementnya. Entah mengapa hatinya merasa tidak enak, apakah akan terjadi sesuatu? Sehingga hatinya merasa tidak tenang.
Novi menghempaskan pikiran buruknya lalu dia melangkah dengan cepat menuju apartementnya. Saat membuka pintu apartemennya dia melihat pria yang tidak ingin dia temui yaitu Faisal.
"Sayang, duduklah!" Satria menyuruh Novi untuk duduk disampingnya.
Novi berjalan dengan malas menuju Satria lalu dia duduk disampingnya. Faisal terus saja menatap Novi dengan tatapan ingin menikmatinya. Dia teringat malam itu saat dia menghabiskan malam berdua di kamar hotel.
"Sayang, untuk malam ini dan beberapa hari kedepan Faisal akan menginap di sini." Satria berkata pada Novi.
Novi merasa kesal karena Satria tidak bertanya terlebih dahulu padanya sebelum mengijinkan orang lain menginap di apartemen. Meski dia adalah adiknya paling tidak dia mengatakannya terlebih dahulu pada Novi.
Novi tidak mengatakan apa-apa lalu dia pergi meninggalkan Satria dan Faisal. Lalu dia berjalan menuju kamarnya, apakah dia sudah tidak menghargai Novi sebagai istrinya.
Dia melepaskan satu per satu pakaiannya lalu berjalan memasuki kamar mandi guna membersihkan diri. Kepalanya begitu penuh dengan banyak pertanyaan, sehingga membuatnya menangis.
Hanya menangis yang bisa dia lakukan saat ini karena dia belum sanggup untuk mengatakan semuanya pada Satria. Ditambah lagi dengan sikap Satria yang tidak berkata terlebih dahulu jika mengizinkan Faisal untuk tinggal di apartemen.
Tok! Tok! Pintu kamar mandi diketuk oleh Satria, dia bertanya apakah Novi tidak apa-apa. Namun, Novi menghiraukannya dia sangat kesal dengan keputusan yang diambil oleh Satria.
"Sayang, kau tidak apa-apa? Cepatlah keluar, kita makan malam dulu!" ucap Satria sembari mengetuk pintu kamar mandi.
Namun, Novi terus saja menghiraukan Satria yang terus saja bicara dan mengetuk pintu kamar mandi. Saking khawatirnya Satria karena Novi tidak menjawabnya. Dia terus mengetuk pintu hingga Faisal masuk ke dalam kamar dan bertanya ada apa.
"Keluarlah kalian! Aku akan keluar sebentar lagi!" perintah Novi pada Satria dan Faisal.
Mereka berdua pun keluar dari kamar, setelah merasa jika sudah tidak ada siapa-siapa. Novi keluar dari kamar mandi, dia melihat sekeliling kamar sudah tidak ada siapa pun.
Dia berjalan menuju almari guna mengambil pakaian, lalu dia bersiap untuk makan malam bersama Satria dan Faisal. Meski hatinya tidak ingin makan bersama mereka saat ini.
Setelah siap Novi membuka pintu kamarnya lalu dia berjalan menuju meja makan yang posisinya dekat dengan pantry. Dia melihat Satria dan Faisal yang sudah duduk menunggunya.
Novi duduk di samping Satria tampa mengucapkan apa-apa, mereka pun mulai menyantap makan malam yang sudah disiapkan oleh Satria.
Namun, perut Novi tidak lagi merasa lapar yang ada adalah rasa kenyang meski dia belum makan sedari siang. Dia hanya melihat makanan yang sudah tersedia di atas meja makan.
__ADS_1
"Sayang, kenapa kau tidak makan?" tanya Satria dengan lembut pada Novi.
"Aku sudah kenyang, maafkan aku pergi istirahat duluan! Biarkan saja piring kotor di pantry, besok pagi aku akan membereskannya!" Novi berkata lalu berjalan menuju kamar, guna menghindari tatapan Faisal yang membuatnya muak.
Novi melepaskan kain yang menutupi kepalanya lalu dia menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Dia sungguh kesal dengan semua yang terjadi padanya hari ini.
Beberapa saat kemudian satria masuk ke dalam kamar setelah menyelesaikan makan malam bersama Faisal. Dia melihat Novi yang sudah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Satria membawa semangkuk buah-buahan untuk Novi karena dia tahu jika Novi belum makan. Dia mendekati Novi dan melihat apakah dia sudah tidur atau belum.
"Kau masih terjaga, makanlah buah yang aku bawa untukmu!" perintah Satria pada Novi.
Novi menghiraukan perkataan Satria, sehingga membuat Satria kesal dengan sikap Novi.
"Senangnya apa yang terjadi padamu hah!" bentak Satria pada Novi.
Novi terkejut karena Satria membentaknya, ini kali pertama dia membentak Novi. Semuanya sudah berkahir, sekarang hanya akan ada pertengkaran antara dirinya dan dia.
Tidak terasa air mata Novi menetes karena mendengar bentakan dari Satria. Dia membalikkan tubuhnya sehingga membelakangi Satria, sungguh hatinya begitu sakit mendengar bentakan Satria.
Satria merasa bersalah karena sudah membentak Novi, dia membalikkan tubuh Novi secara perlahan lalu melihat wajah Novi yang sudah basah dengan air mata.
"Maafkan aku, sayang! Sungguh aku tidak bermaksud membentakmu!" Satria berkata dengan penuh penyesalan laku dia memeluk Novi dengan erat.
"Aku lelah." Ucap singkat Novi pada Satria.
Satria tidak membolehkan Novi untuk tidur dengan perut kosong, dia memaksa Novi untuk memakan buah-buahan terlebih dahulu baru dia boleh tidur.
Novi sudah tidak ingin banyak bicara, akhirnya dia bangun dan memakan buah-buahan yang sudah dibawa oleh Satria. Setelah memakannya dia kembali tidur.
**
Dilain tempat Lili yang sudah siap untuk beristirahat bertanya pada Arata tentang
"Sayang, cepat ceritakan apa yang kau bicarakan dengan Kenzo?" Lili bertanya dengan rasa ingin tahu yang begitu besar.
Melihat istrinya yang sudah tidak sabar sedari tadi, akhirnya Arata mengatakan semua yang dia bicarakan bersama dengan Kenzo. Setelah mendengar cerita dari Arata, mengapa perasaan Lili semakin tidak enak.
Sepertinya akan ada sesuatu yang sangat besar dalam waktu dekat ini. Entah apa itu tetapi yang pasti itu akan merubah hidupnya dan juga Arata.
"Apa kau merasakan sesuatu akan terjadi, setelah kau mendengar ceritaku?" Arata bertanya pada Lili yang masih berada di dalam pikirannya.
Arata menggoyangkan tubuh Lili dengan lembut lalu dia bertanya sekali lagi apa yang ditanyakan tadi. Mendengar pertanyaan itu lili mengangguk.
Ternyata apa yang dia rasakan oleh Arata sama dengan yang dirasakan oleh Lili. Namun, yang pasti mereka berdua akan selalu bersama untuk menghadapi semua masalah yang akan menghadang mereka.
Keesokan harinya Lili sudah siap untuk pergi ke kantor begitu pula dengan Arata. Seorang pelayan mengetuk pintu untuk mangtakan jika sudah ditunggu oleh ibu dan ayah untuk sarapan.
Setelah mengatakan itu pelayan pergi meninggalkan Lili dan Arata, setelah itu Lili mengambil tasnya. Dia berniat setelah sarapan akan langsung pergi ke kantornya.
Mereka berjalan menuju ruang makan, terlihat ini dan ayah sudah menunggu untuk sarapan. Lili duduk seperti biasa di samping Arata, melihat kedua anaknya yang akan bekerja membuat ibu merasa senang sekaligus sedih.
Karena ibu sudah menginginkan seorang cucu tetapi ini juga tidak bisa memaksakan kehendaknya. Setelah membayangkan betapa menderitanya Lili setelah tahu bahwa dia kehilangan bayinya.
Mungkin ibu harus bersabar untuk menimang cucu dari Lili dan Arata. Ibu juga tidak ingin membuat Lili merasa tertekan dengan keinginannya. Biarlah semuanya mengalir dengan baik agar tidak ada beban diantara ibu dan menantunya.
Setalah selesai sarapan Lili dan Arata pamit pada ibu serta ayah untuk pergi ke kantor begitu juga dengan Arata. Setelah melihat kedua putra dan putrinya.
"Bersabarlah Bu, Ayah tahu apa yang kau inginkan saat ini! Tapi bagaimanapun Lili juga adalah putri kita." Ayah Amida berkata pada ibu.
"Iya Ayah, maafkan aku yang sudah memperlihatkan emosi seperti itu." Ibu menjawab dengan rasa penyesalan.
Rupanya ayah tahu betul apa yang ada dipikiran ibu tetapi ayah berusaha mengingatkan ibu agar tidak terlalu memaksakan kehendaknya. Karena itu bisa menghadirkan keharmonisan keluarga yang sudah bahagia ini.
Setalah semuanya selesai sarapan ayah kembali ke ruang bacanya untuk melihat semua informasi tentang perusahaan. Meski sekarang Arata yang memegang kendali tetap saja ayah selalu mengawasi semuanya.
Sedangkan ibu seperti biasa mengurus semua tanaman yang sudah dia tinggalkan selama ibu berada di pedesaan menemani ayah. Jika sedang berada di taman, ibu bisa lupa akan waktu. Sehingga ayah selalu mengingatkan ibu akan waktu yang sudah berjalan.
Lili tiba di kantor dengan perasaan yang belum tenang karena memikirkan Yuki dan juga perkataan Kenzo. Dia berjalan menuju ruangannya, saat dia melewati ruangan Novi. Dia melihat Novi yang sedang duduk tetapi terlihat sedang melamun.
Tanpa berpikir panjang Lili masuk ke dalam ruangan Novi, benar saja saat Lili masuk Novi tidak menyadarinya. Semakin kuatlah Lili merasa khawatir.
"Ada apa denganmu?!" tanya Lili pada Novi.
Namun, Novi bergeming dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Lili. Karena tidak ada tanggapan, dia pun menggoyangkan tubuh Novi guna menyadarkannya dari lamunan.
Novi terkejut melihat Lili yang sudah ada di ruangannya, lalu dia bertanya ada apa. Namun, Lili berbalik bertanya padanya sebenarnya apa yang terjadi.
Tidak terasa air mata Novi menetes sehingga membuat Lili semakin khawatir. Tidak begitu lama setelah Novi merasa tenang, dia menceritakan kejadian kemarin siang dan malam harinya.
Lili tidak percaya dengan apa yang dia dengar, bahwa Faisal meminta Novi untuk melayaninya. Apakah dia tidak sadar dengan yang dikatakannya. Bukankah Faisal sudah tahu jika sekarang Novi adalah istri dari kakaknya.
Lalu Lili mendengar jika Satria tanpa mengatakan terlebih dahulu pada Novi, masalah mengizinkan Faisal untuk tinggal di apartemen mereka.
"Apakah aku harus bicara dengan Satria?!" Lili bertanya pada Novi.
"Tidak, biar semua itu menjadi urusanku!" jawab Novi pada Lili yang masih merasa kesal dengan sikap Faisal dan Satria.
__ADS_1
Setelah mengatakan semua itu pada Lili hati Novi menjadi sedikit tenang. Dia mengatakan pada Lili untuk fokus pada pekerjaan hari ini. Karena banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.
Lili melihat sesat Novi, dia sudah terlihat lebih tenang sehingga Lili meninggalkannya lalu berjalan ke ruangannya. Meski hatinya masih kesal dengan kelakuan dua bersaudara itu yang membuat Novi bersedih.
Di saat Lili dan Novi sedang sibuk dengan pekerjaannya. Di tempat lain Sella yang sudah berada di apartemennya sedang merapikan semua ruangan guna melupakan semua rasa kesalnya pada Nathan.
Ponsel Sella selalu berdering tetapi dia menghiraukannya karena dia tahu siapa yang menghubunginya. Tidak lain adalah Nathan yang masih berada di Qatar.
Nathan tahu jika saat ini Sella sudah berada di Jepang, dia hanya ingin mengetahui kabarnya. Dan sedikit menjelaskan tentang kesalahpahaman yang terjadi diantara mereka berdua.
Namun saat ini Sella sedang tidak ingin bicara dengan Nathan karena dia masih emosi. Dia takut jika masih dalam keadaan emosi maka dia akan mengeluarkan kata-kata yang akan membatalkan Nathan semakin benci dan marah padanya.
Karena bagaimanapun Sella masih sangat mencintai Nathan, dia masih berpikir bagaimana caranya untuk membalas semua perbuatan Nathan padanya.
Mulai saat ini Sella sudah tidak akan takut lagi dengan Nathan, semua keberaniannya sudah kembali. Semua perlakuan yang dia terima selama menikah dengan Nathan tidak akan lagi terjadi padanya. Karena dia tidak akan membiarkan Nathan berlaku kasar lagi padanya.
Setslah selesai membersihkan semua ruangan apartementn, Sella memutuskan untuk mencari tempat untuk berlatih bela diri. Karena Lili mensyaratkan agar dia belajar ilmu bela diri jika ingin mulai berperang dengan sang paman.
Sebelum dia pergi mencari tempat belajar bela diri, Lili memberinya sebuah alamat. Diamana alamat itu merupakan tempat untuk belajar ilmu bela diri.
Setelah mendapatkan alamatnya, Novi pergi meninggalkan apartementnya menuju tempat berlatih. Dalam perjalan menuju tempat berlatih, ponsel Sella berdering kembali.
Seperti biasa yang menghubunginya adalah Nathan, dia tidak pernah menyerah. Karena dia tidak ingin Sella terus salah paham padanya.
Tibalah Sella di tempat yang dituju, rupanya pimpinan dari tempat latihan itu sudah di beritahu oleh Lili tentang kedatangan Sella. Pimpinan tersebut menyuruh Sella untuk berganti pakaiannya dengan pakaian untuk berlatih yang sudah disiapkan.
Setalah Sella mengganti pakaiannya, ada seorang pria paruh baya yang sudah menunggunya. Dia adalah master Banjiro yang bertugas untuk melatih Sella dari sekarang hingga nanti dia sudah bisa bela diri.
**
Nathan tidak sangat kesal karena Sella tidak mengangkat teleponnya, hari ini pekerjaannya sudah selesai. Dia segera berkemas lalu bersiap untuk penerbangan ke Jepang.
Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Sella untuk menjelaskan semuanya. Mungkin dia pantas untuk dimarahi Sella karena sudah tidak jujur padanya.
"Aku harap kau bisa memaafkanku, karena aku tidak berkata jujur padamu! Jika kau marah dan menghukumku maka aku akan menerimanya!" gumam Nathan sembari berjalan menuju lobi hotel.
Setalah check-out Nathan segera menuju taksi yang sudah dipesan menuju bandara. Dalam perjalanan hatinya merasa tidak tenang karena Sella belum memaafkannya. Tibalah Nathan di bandara dia menunggu sebentar untuk jadwal penerbangannya.
Di saat Nathan melakukan perjalanan pulang menuju Jepang. Sella yang kelelahan sehabis berlatih langsung membersihkan diri lalu menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur.
Dia tidak tahu jika Nathan saat ini sedang dalam perjalanan pulang ke Jepang. Namun dia mendapatkan sebuah pesan untuk berlatih di sebuah pedesaan selama beberapa hari mungkin bisa dua Minggu.
Karena itu semua demi kebaikan Sella dan juga udara pedesaan sangat cocok untuk berlatih. Setelah mendapatkan pesan dari master Banjiro, dia merapikan semua barang yang hendak dia bawa.
Sebelum kepergiannya Sella menghubungi Lili karena dia akan pergi ke sebuah pedesaan bersama master banjir. Mendengar itu Lili juga mengetahui rumah master Banjiro di pedesaan.
Sella merasa tenang karena Lili sudah mengenal baik master Banjiro, sehingga dia tidak khawatir jika pergi ke pedesaan bersama orang yang baru dia kenal.
Keesokan harinya Sella pergi meninggalkan apartementnya menuju pedesaan bersama master Banjiro. Tidak membutuhkan waktu lama untuk tiba di pedesaan tersebut.
Sella di sambut dengan hangat oleh nyonya Banjiro, dia tidak menyangka jika master memiliki istri yang begitu baik dan lembut. Rupanya ada alasan lain master Banjiro mengajak Sella berlatih di pedesaan.
Alasan yang pertama adalah untuk pelatihan dengan di pedesaan akan membuat Sella melakukan dengan serius. Sedangkan alasan yang kedua karena saat ini sang istri sedang tidak sehat dan putranya sedang pergi beberapa hari ke kota.
Tidak terasa sudah dua hari Sella berada di pedesaan, sedangkan Nathan yang sudah ada di apartemen kebingungan mencari keberadaan Sella.
Dia hendak menghubungi Lili untuk bertanya keberadaan Sella tetapi dia selalu menghempaskan masalah menghubungi Lili. Karena dia tahu pasti Lili akan melindungi Sella dan tidak akan mengatakan keberadaan Sella.
Hari ketiga berlalu dengan cepat Nathan masih saja mencari keberadaan Sella. Dia mengerahkan seluruh pengawalnya untuk mencari keberadaan Sella. Namun, semuanya nihil tidak ada yang bisa menemukan Sella.
Dihari berikutnya Nathan memberanikan diri untuk bertemu dengan Lili di kantornya. Karena dia sudah tidak tahan ingin bertemu dengan Sella.
Tibalah Nathan di kantor Lili, setelah resepsionis mengatakan tentang kedatangannya pada Lili. Nathan diizinkan untuk masuk ke ruangan Lili.
Lili yang tahu alasan Nathan menemuinya pasti mencari Sella yang tidak ada di apartemennya. Sungguh terkejutnya Lili saat melihat keadaan Nathan yang sudah tidak sebersih dulu. Dagunya ditumbuhi oleh jambang. Sepertinya dia tidak merawat tubuhnya dengan baik.
"Ada apa kau kemari?!" Lili bertanya pada Nathan.
"Aku mohon, kayaknya dimana Sella? Aku sungguh membutuhkannya!" jawab Nathan pada Lili.
Lili tidak menyangka Nathan akan berkata seperti itu, dia melihat sorot matanya memang sudah tidak ada rasa ingin memilikinya. Namun, ayang ada adalah sorot mata seorang pria yang mencari wanitanya yaitu Sella.
Mungkin sekarang Nathan sudah sadar jika dia sangat mencintai dan membutuhkan Sella. Namun, mengapa dia tidak berkata jujur pada Sella sehingga dia kembali kecewa padanga.
"Aku tahu di mana Sella tetapi aku tidak ingin memberitahukannya padamu!" Lili berkata dengan penekanan.
Mendengar itu tidak membuat Nathan marah tetapi membuatnya merasa sedih. Mungkin ini adalah hukuman baginya karena sudah menyakiti Sella dan menyia-nyiakannya.
Melihat Nathan yang sudah berubah membuat Lili yakin jika Nathan benar-benar mencintai Sella. Sebenarnya dia ingin tahu siapa yang bicara dengannya saat Sella mendengarnya di Qatar.
Namun semua itu dia hempaskan karena yang berhak bertanya seperti itu adalah Sella bukan dirinya. Lalu dia memberikan sebuah alamat dimana Sella berada sekarang.
"Dengar! Aku berikan alamat Sella berada tetapi kau harus ingat, jangan kau buat dia menderita kembali! Karena dia sudah cukup menderita karenamu!"
Nathan tersenyum saat Lili memberikan alamat keberadaan Sella, dia berterima kasih padanya karena sudah membantunya menemukan Sella.
Dia pun meminta maaf pada Lili karena sudah membuatnya menderita dan kehilangan bayinya. Jika Lili mau menghukumnya dia bersedia untuk di hukum setelah dia kembali bersama Sella.
__ADS_1
Setelah mengatakan itu Nathan pergi dari ruangan Lili guna menuju pedesaan dimana Sella berada. Dia tidak peduli jika nanti akan mendapatkan amarah dari Sella.