
Sudah seminggu Novi melakukan penyembuhan di rumah sakit, selama itu pula Lili selalu mengunjunginya. Lili melihat dia mulai membaik, Lili sangat bersyukur jika penyakit yang dideritanya bisa hilang.
Mudah-mudahan dengan kejadian ini dapat merubah sifat buruknya, Lili berkata dalam hatinya. Seperti biasa setelah dari rumah sakit, Lili kembali ke kantor untuk menyelesaikan semua pekerjaannya.
Dilain tempat Arata sangat kesal, karena ada seseorang yang berani mengacaukan perusahaannya. Dia menyuruh Maru untuk menyelidiki siapa orang yang sudah berani kepadanya.
"Aku tunggu samapai besok! Aku ingin semua informasi tentang orang itu!" Perintah Arata pada Maru.
Mari mengangguk lalu dia pergi meninggalkan ruangan Arata, dia berpikir siapa yang sudah berani mengacau. Handphone Arata berbunyi, dilihatnya Lili memberi pesan padanya.
Lili meminta Arata untuk tidak usah menjepitnya, karena dia akan pulang sendiri ke rumah. Arata tidak mengijinkan Lili untuk kembali ke rumah sendirian, entah mengapa dia merasa khawatir dengan Lili.
Arata bergegas pergi untuk menjemput Lili, karena dia tahu jika Lili sudah ada keinginan dia akan melakukannya. Maru yang melihat tuannya pergi mengikutinya dari belakang.
"Bagaimana sudah ada perkembangannya?!" Arata bertanya pada Maru.
Maru mengatakan bahwa belum mendapatkan informasi yang lengkap, Arata menyuruh Maru agar menemukan siapa orang yang sudah menggangunya.
Tibalah Arata di perusahaan Lili, dia disambut dengan baik lalu diantarkan ke ruang Lili oleh seorang karyawan. Arata langsung masuk ke dalam ruangan Lili.
Lili tidak menyadari bahwa Arata sudah ada di dalam ruangan kerjanya, dia masih fokus untuk menyelesaikan semua pekerjaannya. Arata tidak mau menggangu Lili, sehingga dia duduk di atas sofa sembari menunggu Lili selesai bekerja.
Maru menyuruh seorang karyawan untuk membuatkan minuman untuk Arata, beberapa saat kemudian ada karyawan yang mengantarkan minuman untuk Arata.
Karena seriusnya Lili tidak menyadari semua itu, Arata pun mengerjakan pekerjaannya disana. Dia menyuruh Maru untuk membawakan Notebook-nya. Maru pun menyuruh sopir untuk mengambil Notebook yang berada di dalam mobil.
Beberapa saat kemudian sopir mengantarkan Notebook, dia memberikan pada Maru. Lalu Maru memberikan pada Arta, dibukalah Notebook oleh Arata. Dia mulai mengerjakan apa yang hendak dia selesaikan.
Pekerjaan Lili sudah selesai, dia melihat jam di tangannya. Betapa dia terkejutnya melihat Arata sudah ada di ruangannya.
"Sayang sejak kapan kau ada di ruanganku?!" tanya Lili pada Arata sembari dia berjalan menghampirinya.
__ADS_1
Arata tersenyum lalu dia berkata, "Mungkin sudah ada 30 menit yang lalu."
Lili tertegun mendengar bahwa Arata sudah sedari tadi berada di ruangannya, namun dia sama sekali tidak menyadari kehadirannya. Arata melambaikan tangannya guna menyadarkan Lili dari lamunannya.
Arata menutup Notebook-nya, lalu dia menyimpannya di atas meja. Lalu dia mendekati Lili, "Akan ku hukum kau nanti di rumah! Karena kau sudah tidak menyadari kehadiranku!" bisiknya.
Mendengar perkataan Arata yang dibisikkan di telinganya, membuat Lili memikirkan apa yang akan hendak Arata lakukan. Dan sejak kapan juga dia menjadi pemarah seperti ini.
"Ayo kita pulang!" Arata berkata sembari mengulurkan tangannya pada Lili, seraya Lili harus mengikutinya.
Lili pun menerima uluran tangan Arata, sebelumnya dia mengambil barang yang hendak dibawa dia pulang. Lalu Lili kembali menghampiri Arata, mereka pun keluar kantor menuju mobil.
Dalam perjalanan pulang Lili tertidur di bersandar pada pundak Arata. Arata tersenyum, dia membelai lembut kepala Lili yang tertutup hijab bewarna merah.
Mobil terhenti menandakan bahwa mereka sudah tiba di rumah. Arata yang tidak ingin membangunkan Lili, dia menggendong Lili secara perlahan. Lalu dia berjalan langsung menuju kamarnya.
Di tidurkannya Lili secara lembut di atas ranjang, dia masih tertidur pulas. Mungkin dia kelelahan karena bekerja seharian ini, Arata berkata dalam hatinya.
"Mungkin Arata yang menggendongku kemari!" gumamnya sembari berjalan memasuki kamar mandi.
Lili membuka pakaiannya satu persatu hingga tidak ada sehelai kainpun yang menempel di tubuhnya. Dinyalakannya kran shower, tetesan air mulai membasahi tubuh Lili.
Arata kembali kedalam kamar, dia tidak mendapati Lili di atas ranjang. Namun dia mendengar suara air menyala di kamarandi, muncul niat jahil Arata. Dia melepaskan pakaiannya, lalu dia masuk kedalam kamar mandi.
Lili tidak pernah mengunci pintu kamar mandi, karena tidak ada seorangpun yang berani masuk jika terdengar suara air di dalam kamar mandi.
"Kau terlihat sexi jika sedang mandi!" Arata berbisik dengan kedua lengannya memeluk Lili yang sedang berdiri di bawah shower.
Lili berusaha melepaskan diri dari dekapan Arata, "Apa yang kau lakukan?"
Arata hanya tersenyum melihat ekspresi Lili, dia semakin ingin menggoda Lili. Kenapa juga dia harus malu, aku kan suaminya. Lagipula aku sudah melihat seluruh tubuhnya, Arata berkata dalam hati.
__ADS_1
Arata memijit sebuah kotak yang tertempel di dinding, yang berisikan sabun cair. Lalu dia mengusapkan telapak tangan yang sudah menempel sabun cair ke punggung Lili dengan lembut.
Tangan Arata terus berselancar di tubuh Lili dengan busa putih yang memancarkan keharuman. Tanpa disadari Lili terbuai oleh sentuhan lembut Arata.
"Apa kau menyukainya sayang?" bisik Arata lalu dia meniup telinga Lili, perbuatan Arata itu membuat Lili merasa geli.
Lili berbalik lalu mendorong Arata secara perlahan, namun Arata menarik lengan Lili sehingga dia jatuh dalam dekapan Arata. "Aku tidak akan melepaskanmu!" gumam Arata.
Lili tahu jika sudah seperti ini maka dia tidak bisa melepaskan diri. Akhirnya dia hanya diam dengan perlakuan Arata padanya, namun permainan Arata sangat lembut. Sehingga membuat Lili semakin menikmatinya.
Tangan Arata menyapu seluruh bagian tubuh lili dengan busa sabun yang masih menempel di telapak tangannya. Arata melihat Lili yang menutup kedua matanya, terlihat jelas bahwa Lili sangat menikmati semua sentuhan yang dia berikan.
Arata mengecup bibir Lili dengan lembut, lili pun membalas kecupan Arata. Merekapun terhanyut oleh suasana, tangan Arata masih bermain dengan lembut.
Tangannya sampai di dada Lili, lalu turun perlahan hingga menyentuh kedua gundukan kembar yang begitu indah. Dia mengusapkan busa sabun, Lili menggeliat dia merasakan kegelian akibat sentuhan Arata.
Namun dia begitu menikmatinya, sehingga terdengar suara yang membuat Arata semakin terprovokasi. Arata pun menyalakan kran showernya, meneteskan air ke atas tubuh Lili sehingga semua busa sabun yang ada di tubuh Lili mengalir kebawah. Mengikuti arus air.
Ditatapnya dengan lekat wajah Lili membuat Arata semakin ingin memakannya. Namun dia tahu bahwa Lili sedang mengandung, sehingga dia melakukannya secara perlahan sehingga tidak membahayakan kandungan Lili.
__________________________________________
Jika ada yang ingin ditanyakan padaku tentang karya dan bisa langsung menghubungi ku via akun Instagram.
Klik search di Instagram dengan nama akun :
@macan_nurul
Sekali lagi terimakasih untuk kalian semua 💋💋 jangan lupa ya like dan komen ya juga vote ya 😉 jangan lupa juga jadikan favorit ya 😉 😉
Karena like dan komen kalian sangat berarti bagi kami para penulis.
__ADS_1