Musuhku Menjadi Imamku

Musuhku Menjadi Imamku
Extra Part Lili-4


__ADS_3

Saat kembali ke rumah, Lili melihat mama Hani sedang sibuk menyiapkan sesuatu. Dalam benaknya ' apakah akan ada acara penting? Sehingga mama menyuruh seluruh pelayan merapihkan rumah. Padahal ini sudah malam!'


"Kamu sudah pulang Li?!" tanya mama pada Lili yang hendak bertanya ada apa sebenarnya.


Lili menjawab iya, dia pun bertanya "apakah akan ada pesta?"


Mama Hani pun menceritakan semuanya, ternyata tuan Amida bergerak cepat. Begitu inginnya Lili menjadi menantunya, sehingga dia melakukan semua ini. Lili hanya diam, dia lebih memilih masuk ke dalam kamar dan berendam. Dia menyuruh seorang pelayan untuk menyiapkan air intinya berendam. Pelayan pun segera melaksanakan apa yang di suruh oleh nonanya. Setelah air untuk berendam tersedia pelayan pergi untuk membatu yang lainnya. Lili pun mulai berendam, dinyalakannya musik yang dia sukai. Dia membayangkan hari-hari bersama sahabat-sahabatnya.


Begitu indahnya masa-masa sekolah bersama kedua sahabatnya. Masa-masa kebersamaan yang tidak memikirkan hal-hal yang berat, sungguh Lili sangat merindukan semuanya. Dia tertidur di dalam bhatup sembari mendengarkan alunan musik yang membuatnya tenang.


"Aaaaaa!"


Lili terhenyak dan terbangun dari tidurnya, dia tersadar bahwa dia masih di dalam bhatup. Air mata menetes sedikit demi sedikit membasahi pipi Lili, dia masih saja tidak bisa tidur nyenyak. Bayangan yang dilakukan oleh Arata terus saja mengusiknya. Semenjak kejadian itu, Lili benar-benar tidak bisa tidur nyenyak karena dia belum berdamai dengan dirinya sendiri.


Dia pun segera berdiri dan membersihkan dirinya, setelah itu dia mengeringkan tubuhnya menggunakan handuk. Dilihatnya meja di dekat ranjangnya ada sebuah laci, Lili membuka laci tersebut didalamnya adasebuah botol obat. Diambilnya satu butir obat dari dalam botol tersebut. Lili mengambil gelas dan meminum obat tersebut, setelah meminum obat Lili merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Entah sudah berapa hari ini Lili selalu mengkonsumsi obat tidur, mama dan papa Karim tidak mengetahui hal tersebut.


Lili terbangun oleh kicauan burung yang di pelihara oleh papa Karim, itulah yang membuat suasana rumah seperti taman burung. Saking cintanya terhadap burung, papa Karim membuat sebuah taman yang berisikan burung peliharaanya. Dilihatnya jam di dinding, Lili segera bangun dan membersihkan diri. Setelah selesai membersihkan diri, Lili masihenggunakan jubah handuknya. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya, seorang pelayan memberitahukan bahwa tuan Amida sudah berada di bawah.


"Sepagi ini tuan Amida sudah berada di rumahku?" Lili pun segera bersiap.


Saat sedang bersiap, mama Hani masuk ke dalam kamar Lili guna melihat apakah dia sudah bersiap-siap. Dilihatnya putri kesayangannya, dipeluknya dengan erat. Kesedihan menyeruak, mama Hani tidak sanggup menahan semuanya. Melihat begitu menderitanya Lili, dia tidak menyangka bahwa putri satu-satunya akan mengalami hal seperti ini.


"Mama ingin melihat Lili kembali seperti Lili yang dulu! Tapi semua ini tidak mungkin!" Mama Hani berkata sambil menangis.


"Aku tetap Lili anakmu Ma! Jadi jangan menangis lagi! Jika Mama menangis seperti ini maka aku akan menjadi lemah kembali!" jawab Lili dengan mengeluarkan senyumannya dan menyeka air mata yang membasahi pipi mama Hani.


Mama Hani dan Lili keluar dari kamarnya, mereka turun menuju ruang tamu yang sudah dirapihkan sedari semalam. Disana sudah ada Arata, tuan Amida beserta istri. Semuanya sudah berkumpul, tuan Amida membuka pembicaraan. Dia langsung menentukan tanggal pernikahan, mama dan papa Karim terkejut mendengar tanggal yang di tentukan oleh tuan Amida. Itu berarti tuan Amida hanya memberikan waktu 2 minggu saja. Lili hanya diam, dia sudah tidak perduli mengenai tanggal pernikahan. Yang pasti dia harus bersiap menjadi istri seorang iblis, yang sanggup melecehkan seorang wanita.


"Aku punya satu permintaan, aku tidak ingin menggunakan adat apa pun! Yang penting pernikahan ini sah di mata agama dan hukum!" Itu adalah permintaan Lili, dalam hatinya dia tidak ingin direpotkan dengan berbagai adat atau prosesi pernikahan.


Dulu Lili pernah berangan-angan jika menikah dengan pria yang dicintai, dia sudah merencanakan tema pesta yang romantis. Angan-angan itu hancur seketika karena perbuatan Arata. Tuan Amida pun meminta satu permintaan pada Lili, bahwa akan ada satu pesta khusus di rumahnya dan tamu undangannya adalah para client. Lili pun menyetujui permintaan tuan Amida, jadi semua sudah sepakat kedua belah pihak setuju dengan permintaan yang diajukan.


Setelah kepulangan tuan Amida sekeluarga, Lili meminta ijin untuk pergi keluar untuk mencari angin pada mama dan papanya. Dia pun di ijinkan untuk pergi, Lili pun pergi mengendarai mobilnya. Dalam perjalanan dia bingung akan kemana, dilihatnya sebuah taman yang sepi dari pengunjung. Dia pun menghentikan mobilnya dan memarkirkan mobilnya. Dia keluar dari mobil, dilangkahkan kakinya menelusuri jalanan taman yang indah.


Setelah berjalan cukup lama Lili memutuskan untuk istirahat dan duduk di sebuah kursi. Dipandanginya bunga-bunga yang tumbuh di taman ini, ada kupu-kupu yang bisa terbang bebas. "Ingin rasanya aku seperti kupu-kupu itu bisa terbang bebas! Akan aku bisa bebas seperti mereka?"


"Kau bisa seperti mereka! Menikahlah dengan ku maka kau akan merasakan kebebasan seperti kupu-kupu!"


Lili terkejut mendengar suara yang dia kenal, dia adalah Malik. Lili pun mau pergi meninggalkan Malik namun Malik menarik tangannya dan mendekap Lili dengan erat. Dia tidak masih trauma dengan sentuhan dan dekapan seorang pria. Dia berusaha melepaskan diri dari dekapan Malik, keringat bercucuran dia teringat kembali akan peristiwa itu. Semakin Lili berusaha melepaskan diri, semakin kuat pula Malik mendekapnya.


"Lepaskan aku! Aku bukan wanita mu! Kau tidak berhak memperlakukan ku seperti ini!" Teriak Lili yang sudah tidak tahan dengan dekapan Malik.


Malik terus saja memohon pada Lili untuk kali bersamanya, dia akan berusaha keras membujuk kedua orangtuanya untuk menerima Lili sebagai menantunya. "Aku begitu mencintaimu Lili! Aku mohon menikahlah dengan ku!"


Bug!


Lili mengarahkan tinjuannya ke arah perut Malik, seketika Malik melepaskan dekapannya karena rasa sakit di bagian perutnya. Lili mundur beberapa langkah guna mengatur rasa takunya. Malik yang tidak mengetahui rasa takut dalam diri Lili, berusaha kembali mendekapnya. Lili berlari guna menghindari Malik, namun langkah Malik begitu cepat sehingga Malik berhasil menangkap tangan Lili.


"Lepaskan aku Malik! Semua sudah terlambat, aku sudah tidak bisa menerima mu menjadi calon suami ku! Sudah cukup penghinaan orangtuamu pada Mama dan Papa ku! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah jadi istrimu! Cepat lepaskan aku!"

__ADS_1


Mendengarkan ucapan Lili membuat Malik sedih, begitu kecewanya Lili akibat perkataan ibunya. Malik menyadari perbuatan ibunya sangat menyakitkan. Dan saat itu Malik tidak bisa membela sedikitpun Lili, dia hanya diam melihat perlakuan ibunya pada Lili dan keluarga. Selagi Malik memikirkan semuanya, Lili pergi meninggalkan Malik dengan semua rasa bersalahnya karena tidak bisa membela Lili.


****


"Apakah yang kulakukan ini sudah benar? Apakah aku bisa menjadi istri yang baik baginya? Apakah aku sanggup menerima dia sebagai suamiku? Apakah aku bisa memandang wajah yang ku benci? Setiap kali ku lihat wajahnya aku merasa duniaku hancur? Benci di hatiku masih banyak untuknya! Apa keputusan aku ini benar?" Semua pertanyaan muncul di benak Lili, semua itu membuat hati Lili kembali bimbang.


Beberapa saat kemudian Mama Hani masuk ke dalam kamar bersama dengan seorang yang akan merias Lili di hari pernikahannya. Dilihatnya putrinya, mama Hani tahu dalam hati Lili masih ada keraguan. Mama Hani pun duduk di sampingnya dan menyuruh orang yang hendak merias Lili keluar dahulu.


"Dengar sayang, jika kau masih bimbang itu wajar. Jika kamu ingin menghentikan semua ini Mama akan selalu mendukungmu, apa pun yang terjadi baik Mama dan Papa akan selalu ada untuk kamu! Jika kamu menikah dengannya, maka kamu harus belajar menjadi seorang istri yang baik. Meski kamu belum mencintai dia bahkan kamu masih membencinya. Kamu harus tetap melayani dia karena dia adalah suami mu! Mama yakin jika kamu ikhlas dengan semua ini, kamu pasti bisa mengatasi semuanya! Yakinlah pada Tuhan."


Lili memeluk Mama Hani setelah mendengar perkataan yang dikatakan oleh mama Hani. Dia menangis sambil memeluk Mama Hani karena setelah dia menikah, pasti akan tinggal di rumah suaminya. Lili akan berpisah dengan mamanya, itu hal yang begitu berat juga baginya. Belum cukup rasanya waktu Lili bersama kedua orangtuanya. Mama Hani pun melepaskan pelukannya, dia menyuruh Lili untuk bersiap. Mama Hani pun menyuruh orang yang akan merias Lili masuk ke dalam kamar.


Mama Hani membiarkan Lili untuk bersiap, dia tidak kuat jika melihat lebih lama lagi putrinya yang akan meninggalkannya. Dia kembali ke kamarnya untuk membantu papa Karim bersiap. Saat di kamar dilihatnya sang suami yang sedang memandangi foto Lili. Terlihat kesedihan di wajahnya, meski dia bukan ayah kandungnya namun dia sudah mengurus Lili sejak lahir. Papa Karim sudah menganggap Lili sebagai putri kandungnya sendiri. Dia selalu memanjakan Lili, bahkan disaat mama Hani memarahi Lili papa Karim selalu membelanya. Bagi Lili papa Karim adalah papa terbaik.


"Pa ...!" Mama Hani memanggil suaminya yang sedang terbenam dalam lamunannya.


Papa Karim yang mendengar panggilan istrinya, segera meletakan kembali bingkai foto Lili di atas meja. Dia menghampiri mama Hani dan langsung memeluknya dengan erat. Dalam hatinya masih belum rela untuk melepaskan Lili. Apalagi Lili harus menikah dengan pria yang sudah melecehkannya. Mama Hani berusaha untuk menenangkan papa Karim, dia tahu pasti sangat berat melepaskan Lili pada Arata.


Waktu yang di tentukan sudah tiba, Arata dan keluarga sudah tiba di kediaman Lili beserta seorang penghulu. Semua sudah dipersiapkan, tidak ada hal yang kurang dalam acara ijab qobul hari ini. Setelah semau berkumpul, Lili pun berjalan keluar dari kamarnya menuju acara ijab qobul. Lili pun duduk di sebelah Arata, dimulailah ijab qobul. Suasana begitu khidmat, setalah terdengar kata "SAH" semua yang ada di dalam ruangan merasakan kelegaan. Setelah acara selesai, Lili langsung di boyong oleh tuan Amida ke rumahnya. Sedangkan acara pesta yang akan diadakan untuk rasa syukur atas pernikahan Arata dan Lili, akan diadakan besok malam.


Sampailah Lili di rumah tuan Amida, seorang pelayan membawakan tas Lili menuju kamar Arata. Sebenarnya Lili sudah lelah hari ini, namun masih ada sanak saudara yang mesti di temani. Waktu sudah larut malam, para sanak saudara sudah pulang. Lili pun diantarkan oleh ibu Rima menuju kamar Arata.


"Ibu senang akhirnya Lili menjadi putriku! Ibu harap kalian bisa saling memahami dan kalian bisa bahagia sampai akhir hayat kalian!" ucap ibu Rima dengan lembut dibarengi dengan senyum keibuannya.


"Maafkan saya jika belum bisa menerima sepenuhnya Arata menjadi suami! Maaf jika nanti saya akan menimbulkan keributan di dalam rumah ini!" Lili meminta maaf atas hal yang belum terjadi, ibu Rima terkejut mendengar permintaan maaf Lili.


Ibu Rima memeluk lili dengan hangat, sambil berkata "jalanin adalah putra dan putri ku! Jika kalian membuat keributan, kami hanya akan mendenagtkan semua keributan kalian!" Setalah mengatakan itu ibu Rima terkekeh dan meninggalkan Lili di depan pintu kamar Arata.


"Kanapa tidak masuk?!"


Lili terkejut karena kedatangan tuan Amida, "Tuan Amida ..., Ops Ayah!"


Ayah Amida terkekeh dengan sikap Lili, dia bertanya kembali kenapa belum masuk ke dalam kamar. Lili hanya diam, dia bingung mau menjawab apa. Akhirnya ayah Amida membukakan pintu kamar Arata, dia menyuruh Lili untuk masuk ke kamar. Lili pun memasuki kamar Arata dengan sedikit keraguan dan rasa gugup dibarengi ketakutan. Dia merasa ketakutan jika berada di dalam satu ruangan bersama Arata.


Di dalam kamar Lili melihat Arata yang sudah tertidur di atas ranjang, mungkin dia sudah kelelahan. Lili pun sudah merasa lelah, dia memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu lalu pergi tidur. Dia mencari tas yang dia bawa tadi dari rumah, tapi tidak menemukannya. Dia terus mencari di setiap sudut ruangan dimana tasnya berada.


"Pakaian mu sudah ada di dalam almari!" ucap singkat Arata yang terbangun karena pencarian tas Lili.


Dilihatnya sekeliling hanya ada 1 almari besar dalam ruangan ini, apa mungkin araya berbagi almari bersama Lili. Untuk membuktikan apa yang sudah dikatakan Arata, Lili pun membuka almari tersebut. Dilihatnya sudah tertata rapi pakaiannya bersandingan dengan pakaian Arata. Dia mengambil pakaian untuk tidur dan langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Dipandanginya kamar mandi Arata, ternyata disini juga sudah tersedia perlengkapan yang biasa Lili gunakan tidak ada satupun yang terlewat. Dalam pikiran Lili mungkin semua ini mama Hani yang mengirimkannya ke rumah Arata.


Tok!


Tok!


"Apa kau sudah selesai?! Kalau sudah keluarlah, aku ingin membersihkan diri!" ucap Arata pada Lili yang masih berada di dalam kamar mandi.


Lili pun keluar dari kamar mandi, mereka berpapasan Arata yang melihat Lili dengan tampilan seadanya terkesima. Karena dia masih terlihat cantik meski tanpa polesan make-up. Tanpa disadari dirinya sendiri Arata mendekati Lili. Merasa terpojok Lili melayangkan tinjuannya pada Arata, dengan refleks Arata menangkisnya. Lili berusaha menjauhi Arata namun Arata terus mendekatinya. Lili yang masih kesal dengan Arata melayangkan tendangannya namun Arata berhasil menghindarinya. Terjadilah perkelahian kecil antara mereka berdua.


Sifat asli Arata seketika muncul kembali setelah melihat ekspresi Lili, sifat aslinya adalah jahil. Karena sebelum di racuni pikirannya oleh Akhira, Arata merupakan sosok pria jahil. Bahkan kejahilan Arata bisa membuat Alex tertawa terbahak-bahak. Tiga puluh menit berlalu mereka masih saling bertahan dan menyerang. Pakaian Lili sudah basah oleh keringat, padahal dia baru saja mengganti pakaian dan membersihkan diri.

__ADS_1


"Sudah hentikan! Sudah cukup olah raga malam hari ini!" Arata berkata sembari pergi meninggalkan Lili masuk ke dalam kamar mandi.


"Dasar kau iblis busuk!" gumam Lili dengan terengah-engah karena napasnya tersita oleh perkelahian kecil antara dia dan Arata.


Arata yang mendengar umpatan Lili tersenyum, "menarik!" Gumam Arata di dalam kamar mandi.


Beberapa saat kemudian Arata keluar dari kamar mandi, dia sudah terlihat segar. Dilihatnya Lili yang membawa satu setel pakaian bersih, dia pun berjalan memasuki ke kamar mandi.


"Bukannya kau sudah membersihkan diri?!" tanya Arata pada Lili.


Lili hanya diam dan memicingkan matanya karena kesal dengan ulah Arata, yang membuatnya berkeringat kembali. Sehingga Lili harus membersihkan diri kembali. Arata terkekeh melihat sikap Lili seperti itu, dia tidak menyangka bahwa wanita ini begitu menarik. Sebenarnya Arata menikahi Lili hanya karena tanggungjawabnya saja. Dan juga atas paksaan ayah dan ibunya.


Arata pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang, dia pun berusaha menutup matanya. Dia harus istirahat karena besok pasti akan sangat melelahkan. Disaat Arata berusaha untuk istirahat Lili keluar dari kamar mandi. Dia sudah siap untuk istirahat pula, dilihatnya tidak ada sofa untuk tempat tidurnya. Dia pun terpaksa tidur di sisi Arata dengan menghalangi antara tubuhnya dan tubuh Arata dengan bertumpuk-tumpuk bantal dan selimut tebal.


Arata yang melihat kelakuan Lili merasa geli, niat jahilnya kembali dia ingin menggoda Lili. Dia pun membuang semua batas penghalang antara mereka. Araya dengan cepat mendekap Lili, dia berusaha melakukan hal-hal yang membuat Lili ketakutan. Lili tak bisa melawannya yang ada dipikirannya hanya ketakutan, semua tenaga dan ilmu bela dirinya mendadak hilang. Lili berusaha untuk melepaskan diri dari dekapan Arata, namun semua yang dia lakukan tak berhasil.


Pertama hanya niat jahil Arata yang muncul, namu sekarang Arata semakin tergoda dengan kecantikan Lili. Dia tidak bisa menahan hasratnya untuk melahap Lili. Dia berusaha mengecup bibir Lili dengan paksa, Lili berusaha menghindar dari kecupan paksa Arata.


"Hentikan! Aku mohon! Jangan menyentuhku seperti ini! Aku tidak menyukainya!" Air mata Lili tumpah ruah membuat Arata tersadar.


Arata menghentikan semua kegiatan yang membuat Lili menangis, dia menarik napasnya. Dilihatnya Lili yang menangis tersedu-sedu sembari mendekap kedua kakinya. Arata merasa bersalah karena tindakannya membuat Lili seperti ini. Arata berusaha menyentuh Lili guna menenangkannya, namun Lili tidak mau di sentuh oleh Arata.


"Maafkan aku! Aku tidak akan melakukan hal-hal yang membuatmu ingat atas kebusukan ku! Tidurlah!"


Arata meminta maaf pada Lili, dia berdiri mengambil sebuah gelas berisikan air putih. Diberikannya gelas itu pada Lili, dia menyuruhnya untuk meminum air tersebut. Agar bisa sedikit lebih tenang, Lili pun mengambil gelas itu dengan tangan yang masih bergetar karena rasa takut yang memuncak. Arata melihat semua itu, dia merasa bersalah karena perbuatannya bisa membuat wanita yang kuat ini menjadi wanita lemah dan rapuh.


Setelah Lili meminum semua air yang berada di dalam gelas, dia pun berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri. Dia berusaha untuk menutup matanya dan tidur. Arata keluar dari kamarnya, dia ingin Lili bisa cepat tenang. Arata menuju ruangan bacanya, dia membaca beberapa dokumen. Dia terbayang wajah Lili yang ketakutan, 'apakah wajah ketakutan itu juga muncul saat kejadian itu? Begitu menderitanya dia akibat ulahku? Kenapa aku tak melihat wajah ketakutannya saat itu? Kau memang iblis Arata! Kau sudah membuat gadis tak berdosa menderita!' gumamnya.


Jam menunjukkan sudah pukul 02.00, Arata memutuskan untuk menghentikan semua pekerjaannya. Dia pun kembali ke kamarnya, dilihatnya Lili sudah tertidur. Dia tidak mengetahui bahwa Lili meminum sebutir pil tidur. Melihatnya sudah tertidur pulas, Arata pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dipandanginya Lili dengan seksama, "maafkan aku! Mulai detik ini aku tidak akan menyakitimu lagi! Akan ku tunggu kau sampai bisa memaafkanmu!"


___________________________________________


Terimakasih untuk kalian yang sudah memberikan vote koin dan poin untuk contest novel ku ini 😘


Lagi-lagi aku meminta kebesaran hati kalian untuk vote lagi 😂


Jika kalian masih memiliki sisa poin kalian silahkan untuk vote lagi, sebagai tanda kasih kalian untukku 😔


Dan kalian juga masih bisa mengumpulkan poin kalian untukku di hari ini dan besok.


Bagaimana caranya mendapatkan poin?


Kalian bisa memasuki beranda aplikasi MangaToon atau NovelToon, kemudian selesaikan misi yang tertera di dalam fitur PUSAT MISI itu.


Jika ada hal lain yang ingin kalian tanyakan padaku, kalian bisa menghubungiku via Instagram dengan nama akun @macan_nurul


Sampai bertemu di episode selanjutnya 😂


Itu pun jika kalian memberikan banyak poin kalian untuk judul karya ku yang ini 😒

__ADS_1


Dan ingat!! Aku tidak pernah memaksa kalian 😏


__ADS_2