
Sewaktu di jalan Alin melihat kejadian yang membuatnya bersedih, rasa bersalahnya memuncak. Dia melihat kembali kecelakaan dimana seorang wanita terserempet mobil. Alin pun langsung terdiam tanpa mengucapkan sepatah kata pun, mukanya pucat pasi apalagi setelah melihat wanita tersebut berlumuran darah.
Dalam hati ya Alin bergumam maafkan aku mba, maafkan aku ayah, aku bukan pembunuh mba Nita, 'kan? Tidak terasa air mata mengalir di pipi putih Alin. Astaghfirullah ya Allah ... Alin istighfar guna menenangkan dirinya sendiri. Dia pun bergegas meninggalkan tempat kejadian lalu berjalan menuju kampus. Sesampainya di kampus, dia berjalan menuju ruangan Leo.
Alin pun masuk mengetuk pintu, mengucapkan salam lalu dia langsung duduk di sebelah Anna. Tanpa kata, tanpa ekspresi ceria.
Anna yang melihatnya begitu khawatir. "Lin ... Lin," Anna memanggil pelan Alin karena tidak berani dengan suara kencang sebab sedang berada ruangan dosen.
Alin masih terdiam dengan wajahnya yang pucat dan tidak merespon panggilan Anna. Dan Anna pun menggil Alin lagi dengan sedikit menggoyang badan Alin. Alin pun tersadar, lalu berkata "Ehh iya Ann kenapa?" Alin berkata bingung dan gelagapan.
" Kamu kenapa Lin kamu sakit?" tanya anna dengan wajah khawatirnya.
"Ga pa pa, aku ga pa pa ko." Jawab Alin guna menenangkan Anna
Leo yang memperhatikan Alin dari sebrang berkata dalam hatinya, 'ada yang aneh dengan ni bocah.' Tanpa sadar Leo pun mengambil handphone-nya, mengirimkan pesan yang menanyakan keadaanya. "Ada apa dengamu? Apa kamu sakit?"
Handphone Alin bergetar, dia membukanya. Ada rasa terkejut dalam dirinya karena ada nomor yang tidak dikenalnya. Serta bertanya tentang keadaannya. Dalam hatinya bertanya sebenarnya siapa dia? Tetapi dia mengabaikannya dan kembali fokus pada yang dibicarakan dalam kelompoknya. Akhirnya diskusi selesai, Leo pun mengirim pesan lagi dan menanyakan hal yang sama seperti tadi.
Pada saat Alin hendak berdiri untuk keluar ruangan Alin pun melihat handphone-nya dan membaca pesan yang masuk, dia bingung siapa sih nih orang. Akhirnya Alin pun mencoba menelepon si nomor yang selalu memberinya pesan.
Tut...tut...Tut...Tut...
Alin pun tersadar ada suara handphone berbunyi, Alin mematikannya lalu Alin menelepon lagi handphone yang sering mengirim pesan berbunyi. Alin mematikannya lagi, sambil berbalik ke belakang dan meneleponnya lagi. Rupanya handphone Leo berbunyi lagi.
Dalam hati Leo berkata, 'sial ketauan deh gue!Tapi ini pasti akan terjadi dan mengharuskan gue jujur sama dia.'
Alin pun kaget kenapa dia? Apakah dia yang selama ini memberinya pesan setiap malam.
"Ohh jadi ini nomor Lo ya! Tau dari mana Lo no gue?!" Dengan nada kesal dan sedih yang masih berkecamuk dalam hati nya.
__ADS_1
"Bukan urusan Lo gue tau dari mana nomor Lo! Yang penting Lo harus ke dokter muka Lo pucat!" Leo menjawab dengan nada dingin.
"Bukan urusan gue kata Lo?! Oke kalo gitu, satu hal lagi bukan urusan Lo juga nyuruh-nyuruh gue ke dokter segala!" Alin pun pergi meninggalkan ruangan
****
Alin pergi menuju kelas karena sebentar lagi kelas akan dimulai. "Kenapa sih sama tu orang? Sukanya ganggu gue mulu." Gumam Alin dengan rasa kesal di dalam hatinya.
"Lin ... buruan!" Anna memanggilnya.
Alin berjalan dengan cepat setelah mendengar ajakan Anna. Setelah tiba di kelas dia duduk sambil menunggu dosen. Alin tidak bisa fokus dalam mengikuti perkuliahan, dia masih terbayang akan kecelakaan tadi pagi sehingga muka Alin menjadi semakin pucat. Alin sudah tidak kuat lagi rasanya ingin menangis.
Setelah perkuliahan selesai Alin langsung pergi dari kelas dan keluar kampus dia sudah tidak ada semangat untuk kuliah. Yang dia butuhkan saat ini adalah tempat untuk dia mengeluarkan emosinya dengan menangis.
Pada saat Alin akan keluar, dia berpapasan dengan Leo. Air mata alin sudah tak bisa di bendung lagi. Alin tidak memperdulikan Leo lalu dia bergegas pergi meninggalkannya.
Leo merasa aneh lalu mengikuti Alin dari belakang dan juga dia merasa khawatir terjadi sesuatu yang akan membahayakannya. Alin sampai di sebuah taman dekat kampus yang pada jam tersebut masih sepi.
Beberapa saat kemudian setelah tangisan Alin reda Leo duduk disampingnyanya. Dia menawarkan sapu tangannya untuk menghapus air mata Alin. Alin pun memalingkan wajahnya tuk melihat siapa yang ada di sampingnya.
Alin menghela napasnya lalu berkata dalam hati, 'Ternyata dia Leo, aku sudah tidak ada tenaga untuk berdebat dengannya lebih baik aku diam saja.'
"Lo kenapa bisa pergi begitu saja? Padahal masih ada jam perkuliahan?" tanya Leo.
Alin diam tak ingin membahasnya karena yang dia inginkan adalah ketenangan.
"Kenapa?" tanya Leo kembali.
"Jawab kalo ada orang yang bertanya jangan diam saja!" Leo berkata dengan sedikit nada tinggi. Itu membuat Alin tersulut emosi.
__ADS_1
"Bukan urusan Lo! Lo ga usah ikut campur masalah gue!!" Alin berteriak dan air matanya menetes kembali. " Lo juga ga usah perduliin gue lebih baik Lo pergi aja!!"
"Kalo gitu gue telepon Rio biar dia yang bicara sama Lo!" Leo berkata sembari menelepon Rio. Terdengar suara nada sambung.
"Matikan ... matikan! Udah gue bilang matikan!!" Alin berkata dengan nada sedih bercampur emosi.
"Gue matiin nih handphone, asal Lo cerita sama gue apa yang terjadi?" jawab Leo sedikit mengancam.
"Iya ... iya gue cerita puas Lo!?"
Sebelum handphone dimatikannya ternyata Rio sudah mengangkatnya "Hallo bro ada apa nih telepon gue?"
Alin terkejut mendengar suara masnya dan dia tidak mau membuat masnya khawatir dengan keadaannya. Alin pun menatap Leo dengan maksud jangan cerita.
"Ehh sorry bro gue ga sengaja pijit no handphone Lo!" jawab Leo.
"Ahh Lo ... Bilang aja Lo kangen 'kan sama gue?" candaan Rio yang garing.
"Najis amat gue kangen sama Lo mending gue kangen sama adek Lo!" Ups gila gue keceplosan ucapnya dalam hati Leo.
"Apa...apa ... Apa Lo bilang bro? Ga salah denger nih kuping gue?" Rio seranya menanyakan untuk diulang perkataan Leo tadi dengan nada sindiran.
"Udah ahh nanti kita lanjut lagi gue mo ada kelas nih, by Assalamualaikum." Leo pun menutup telepon nya sebelum mendengar kata kata Rio.
Aduh apa nih bocah denger yang gue obrolin tadi ya...gumam Leo dalam hati.
Sebenernya Alin ga denger sih apa yang di obrolin Leo dan Rio karena pikiran Alin sedang melayang entah kemana seperti layangan putus.
terimakasih telah membaca novel ku..😊
__ADS_1
jangan lupa like dan komen nya Thor tunggu loh..😉