
Akhirnya Maru menemukan keberadaan Novi, dia bergegas menuju ruangan Arata. Guna menyampaikan informasi yang baru saja dia dapatkan tentang keberadaan Novi saat ini.
Maru mengetuk pintu ruangan Arata, setelah mendengar ucapan masuk dari Arata. Dia segera membuka pintu dan masuk ke ruangan Arata.
Dia melihat Satria dengan wajah tidak berdayanya karena mencari keberadaan istrinya. Terkadang mari merasa kesal dengan sikap Satria yang tidak bisa percaya pada istrinya.
Karena Maru mengetahui paling tidak sedikit mengenai masalah Novi dan Satria. Dia juga merasa kasihan pada Novi yang sudah diperlakukan tidak adil oleh suaminya sendiri.
"Dimana keberadaan Novi sekarang?" tanya Arata pada Maru.
"Prefektur Kochi daerah Shikoku!" jawab singkat Maru.
Lalu Maru menyerahkan sebuah kertas dimana semua informasi Novi. Hingga hotel yang menjadi tempat menginap saat ini Novi berada.
Setelah membaca semua informasi itu Arata memebrikannya pada Satria. Dengan cepat Satria mengambilnya dari tangan Arata, dia berterima kasih karena sudah membantunya.
"Kau harus ingat Satria! Jangan kau membuatnya kecewa kembali, jika tidak aku dan Lili akan bertindak!" ucap Arata pada Satria dengan penekanan.
Satria mengangguk lalu dia berjalan dengan cepat menuju mobilnya. Dia akan menemui Novi, akan menjelaskan semua padanya dan akan meminta maaf atas semua kesalahan yang diperbuatnya.
Disisi lain Novi yang sedang menikmati hari yang tenang lebih suka memandangi seluruh pemandangan yang indah. Jika sedang malas untuk berjalan-jalan, dia lebih suka berada di dalam kamar hotel saja.
Hari ini rencana Novi pergi ke pantai Katsuharama, pantai itu merupakan salah satu tempat dengan keindahan alam tercantik di Kochi. Namun, rencana itu dia ubah menjadi ke kastil Kochi.
Dia berjalan melihat seluruh pemandangan yang bisa di lihat dari atas kastil Kochi. Dia tidak mengetahui jika sebentar lagi Satria akan tiba di Kochi.
Setelah menikmati semua pemandangan di kastil Kochi, Novi memutuskan untuk kembali ke hotel untuk beristirahat. Saat sudah sampai di lobi hotel, dia melihat Satria yang bertanya pada resepsionis tentangnya.
Satria juga meminta nomor kamar Novi tetapi tidak diberikan karena itu merupakan rahasia. Satria duduk di atas sofa sembari melihat orang yang keluar masuk dari hotel.
Novi membatalkan untuk masuk ke kamar hotelnya, dia mencari cara untuk masuk tetapi tidak diketahui oleh Satria. Dia berjalan keluar dari hotel guna mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk menutupi dirinya, agar tidak dikenali oleh Satria.
"Bodoh sekali kau Novi, mengapa pula kau takut untuk bertemu dengan pria itu! Dia pasti tidak akan mengenalimu karena yang kamu kenakan sekarang bisa melewatinya dengan mudah." Gumam Novi sembari berjalan masuk ke hotel.
Dia berjalan perlahan melewati Satria yang masih memperhatikan setiap orang. Benar saja Satria tidak mengenali Novi sama sekali, dia tersenyum sebesar ini juga dia mencintainya sehingga tidak mengenalinya.
Novi sudah berada di depan kamar hotel, membuka pintu kamar lalu masuk dan menutup rapat pintu kamarnya. 'Bagaimana dia bisa tahu jika aku berada di sini?!' batinnya.
Novi mengambil ponselnya lalu menghubungi Arata karena dia tahu siapa lagi yang bisa melacak keberadaannya. Arata mengangkat teleponnya, tanpa basa-basi Novi bertanya padanya apakah dia yang memberitahukan keberadaannya pada Satria.
Arata mengiyakan apa yang dikatakan oleh Novi, lalu menyuruhnya untuk memberikan kesempatan pada Satria untuk menjelaskan apa tujuannya menemuinya.
Novi menutup teleponnya setelah mendengar perkataan Arata tetapi yang pasti tidak akan semudah yang dikatakan. Rasa sakit di hatinya masih terasa hingga saat ini.
Jika melihat wajah Satria itu membuat Novi kembali teringat peristiwa malam itu. Dimana dia tidak percaya akan Novi dan tidak memberikan kesempatan sedikit pun untuk menjelaskan semuanya.
"Biarkan saja dia menunggu sepuasnya, lebih baik aku merapikan semua barang dan pergi dari hotel ini! Tidak akan mudah baginya untuk meminta maaf!" gumam Novi sembari memasukkan semua barangnya ke dalam tas.
Terdengar suara pintu kamar di ketuk, Novi tidak menyadari jika yang sudah ada di depan pintu kamarnya adalah Satria. Dia berjalan mendekati pintu kamar untuk membukanya.
Sungguh terkejutnya Novi saat melihat Satria sudah berada dihadapannya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun dia menutup pintu kamarnya. Namun, kaki Satria menahan pintu kamar agar tidak tertutup. Sehingga Satria bisa membukanya dan memotong pintu tersebut lalu masuk ke dalam kamar.
"Apa yang kau lakukan di sini?!" lirih Novi pada Satria yang melangkah mendekatinya.
Satria sudah tidak tahan dengan rasa rindunya pada Novi tetapi rasa bersalahnya yang begitu besar membuatnya langsung memeluk erat Novi.
Novi berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Satria, yang ada di dalam pikirannya adalah kenyataan bahwa pria yang sudah menjadi suaminya ini tidak percaya akan dirinya.
"Maafkan aku, sayang! Aku sungguh-sungguh menyesalinya— aku mohon maafkan aku," ucap Satria yang masih memeluk Novi.
"Apakah cukup hanya dengan kata maaf, setelah kau tidak mempercayaiku sebagai istrimu? Apa hanya sebatas itu rasa percayamu padaku? Aku tahu jika masa laluku sangat kelam, apakah aku tidak berhak untuk berubah? Apakah perubahanku tidak terlihat oleh hatimu? Apakah rasa cintaku tidak terasa oleh hatimu?" Semua pertanyaan itu membuat Satria terdiam.
Melihat Satria hanya diam membuta Novi kesal, lalu dia menyuruh Satria untuk keluar dari kamarnya. Karena dia masih kesal dan tidak ingin melihat wajahnya untuk saat ini.
Satria tidak bisa berkata apa-apa, dia berjalan keluar kamar tetapi langkahnya terhuyung. Lalu berpegangan pada tembok, kepalanya terasa berat.
Novi yang melihat keadaan Satria bergegas mendekatinya lalu menyentuh kening Satria dengan lembut. Suhu tubuh Satria tidak baik, sepertinya dia sedang demam.
Novi tidak tega dengan keadaan Satria dalam benaknya berkata, tidak mungkin membiarkannya tidur di kamar lain tanpa ada yang menjaganya. Lalu dia memapah Satriani menuju tempat tidur dan menyuruh Satria untuk berbaring di atas tempat tidur.
"Apa kau sudah makan?" tanya Novi pada Satria.
"Belum," jawab singkat Satria.
Novi memesan makanan hotel, setelah itu dia mengambil handuk kecil yang bisa dijadikan kain kompres untuk kening Satria. Dia merasa khawatir dengan kondisi Satria.
Dia bertanya pada Satria apakah mau ke dokter? Satria menggelapkan kepalanya dengan arti dia tidak ingin ke dokter. Dengan istirahat sejenak pasti akan sembuh jawabnya pada Novi.
Beberapa saat kemudian datang seorang pria yang membawakan makanan yang di pesan oleh Novi. Pria tersebut pergi setelah mengantarkan makanan yang dipesan Novi.
Novi mendudukan Satria agar dia bisa memakan bibir yang sudah di pesan Novi. Karena dengan memakan bibir memudahkan untuk Satria memakannya di saat sedang demam.
"Makanlah selagi hangat!" ucap Novi pada Satria sembari menempatkan sebuah mangkuk di atas meja kecil yang bisa disimpan di atas pangkuan.
__ADS_1
"Apa kau tega sayang, membiarkan aku makan sendiri?" tanya Satria dengan nada lemah.
Mendengar itu Novi mengambil meja kecil yang ada dipangkuan Satria. Lalu menyimpannya di meja dekat sofa, setelah itu memegang mangkuk yang berisi bubur hangat dan mendekati Satria.
Novi menyuapi Satria dengan lembut dan penuh kasih sayang. Dalam benak Satria mengatakan jika dia sangat beruntung sakit di waktu yang tepat. Sehingga bisa merasakan perhatian Novi yang sudah dia sia-siakan.
Setelah menghabiskan bibir dalam mangkuk, Novi memberikan obat pada Satria. Setelah meminum obat itu Satria tertidur pulas, sedangkan Novi masih menjaganya semalaman untuk mengganti kain kompres untuk kening Satria.
Keesokan harinya Satria terbangun, dia melihat Novi yang tidur disampingnya sembari menyentuh tangannya. Dia begitu bahagia saat terbangun di pagi hari melihat wanita yang begitu dia cintai.
"Maafkan aku, sayang! Aku ingin kau kembali bersamaku, jika kau ingin pergi jauh dariku— aku tidak akan melepaskanmu! Karena kau adalah wanitaku selamanya!" bisiknya pada Novi yang masih tertidur.
"Jika aku memaafkanmu— apakah kau akan percaya akan kesetiaan dan rasa cintaku padamu?" timpal Novi yang terbangun karena bisikan Satria.
Satria langsung memeluk Novi dengan erat lalu mengatakan dia akan percaya dengan cinta dan kesetiaannya. Satria pun meminta Novi untuk percaya akan cinta serta kesetiaannya. Novi tersenyum lalu dia membalas pelukan Satria.
"Bagaiman keadaanmu?!" Novi bertanya pada Satria.
"Aku sudah baikan!" jawab singkat Satria.
Novi berjarak dari tempat tidur lalu berjalan menuju kamar mandi guna membersihkan diri. Sedangkan Satria masih terduduk di atas tempat tidur.
Satria tidak tahu bagaimana jika sampai kehilangan wanita yang sangat dia cintai ini. Hanya karena perkataan tidak benar dari adiknya sendiri.
"Faisal, mengapa kau berubah menjadi seperti ini?! Apakah semua yang kulakukan untukmu tidak ada artinya?" gumam Satria.
Novi keluar dari kamar mandi lalu dia menyuruh Satria untuk membersihkan dirinya agar tubuhnya terasa segar. Satria mengangguk lalu berjalan menuju kamar mandi guna membersihkan dirinya.
Setelah beres dengan rutinitas membersihkan diri dia menggunakan handuk. Dia teringat jika dirinya tidak membawa pakaian ganti karena dia tidak berpikir panjang. Setelah mengetahui keberadaan Novi bergegas pergi tanpa membawa pakaian untuk ganti.
Satria keluar dari kamar mandi, dia melihat celana jins dan kaos berada di atas tempat tidur. Semua baju itu yang sering dia gunakan jika sedang berada di apartemen.
"Cepat pakailah! Aku membeli pakaian itu semalam, saat kau tertidur!" ucap Novi dengan senyum manis dari bibirnya.
Satria tersenyum, dia sungguh senang karena Novi sangat pengertian. Lalu dia memakai pakaian yang sudah disediakan Novi, setelah siap Novi menyuruh Satria untuk sarapan terlebih dahulu.
"Duduklah! Kita sarapan bersama!" perintah Satria pada Novi dengan lembut.
Novi berjalan mendekatinya lalu duduk disampingnya, mereka menyantap sarapan bersama. Lalu Satria bertanya aoabrnavana hari ini pada Novi.
Dia terdiam sejenak mendengar pertanyaan Satria, memikirkan tempat apa yang akan dia kunjungi setelah sarapan kali ini.
"Pantai Katsuharma!" jawab singkat Novi karena hari ini dia ingin pergi ke sebuah pantai.
Novi mengatakan jika pantai Katsuharama adalah pantai yang sangat indah. Dia juga ingin menikmati sunset di sana itulah yang menjadi tujuannya kali ini.
Melihat wajah Novi yang sangat berbinar membuat Satria merasa senang. Dia akan menemani kemana pun Novi hendak berjalan dan tidak akan meninggalkannya.
Novi mengatakan jika pergi ke pantai ingin menggunakan alat transportasi umum yaitu bus. Satria mengikuti apa saja yang diinginkan oleh Novi, dia sama sekali tidak ingin berdebat dengannya. Yang diinginkannya kali ini adalah menikmati kebersamaan mereka.
Mereka pun memulai perjalanan menuju pantai Katsuharama, hanya membutuhkan 30 menit saja untuk tiba di pantai. Mereka tiba dengan suasana hati yang begitu senang.
"Apa kau senang, sayang?" tanya Satria pada Novi yang tidak henti-hentinya mengagumi keindahan alam.
Novi mengangguk kecil, dia tidak bisa mengatakan apa-apa karena hatinya sangat senang. Ditambah lagi dengan kehadiran Satria di sisinya. Hatinya sudah kembali tenang karena menerima permintaan maaf Satria.
***
Setalah menikmati liburannya di Kochi, Novi dan Satria memutuskan untuk kembali. Novi merasa tidak enak juga dengan Lili yang sedang banyak pekerjaan.
Dia juga mendengar jika mama Hani sedang sakit, sebenarnya Novi hendak pulang setelah mengetahui mama Hani sakit. Namun, Lili melarang karena dia tahu jika Novi membutuhkan waktu untuk menenangkan dirinya.
Semenjak kepulangannya dari Kochi Novi tidak kembali ke apartemen Satria meliankna kembali menempati apartementnya sendiri.
Satria juga tidak bisa melarang Novi untuk tinggal di apartemennya. Karena dia tahu jika masih ada Faisal, Novi tidak akan kembali dan tentu saja akan terjadi masalah lagi.
Satria pun tidak bisa begitu saja menyuruh pergi Faisal, entah mengapa dia menjadi tidak berdaya terhadap Faisal. Namun, dalam hatinya sudah ingin mengusirnya dari apartemen.
Setiap Satria marah pada Faisal, dia selalu teringat perkataan sang ibu sebelum menghembuskan napas terakhirnya. Sang ibu mengatakan jika Satria harus selalu menjaga Faisal dan memaafkan segala kesalahannya.
Satria pun mengatakan pada Novi alasannya mengapa dia tidak bisa bersikap tegas pada Faisal dan selalu memaafkannya. Setelah mengetahui itu Novi hanya terdiam, dia merasa jika Satria begitu sayang terhadap adiknya. Namun, adiknya yang tidak tahu betapa kakaknya menyayanginya.
"Mungkin kau terlalu memanjakannya, sehingga Faisal berubah menjadi seperti ini!" Novi berkata pada Satria yang sedang duduk disampingnya.
"Bisa jadi ... Dan juga aku tidak bisa tegas padanya, sehingga dia menjadi pria seperti ini!" jawab Satria dengan rasa penyesalan karena tidak bisa mendidik adiknya dengan benar.
Novi memeluk Satria, dia tahu jika suaminya ini telah melakukan yang terbaik untuk Faisal. Namun, Faisal yang tidak menghargai kerja keras sang kakak.
"Pulanglah ke apartemenmu, mungkin Faisal sedang menunggumu!" ucap Novi pada Satria yang terlihat tidak ingin meninggalkannya.
"Izinkan aku bermalam di sini kali ini saja!" Satria berkata dengan lembut pada Novi.
Novi tersenyum, dia mengizinkan Satria untuk menginap malam ini. Ponsel Satria berdering lalu dia mengangkatnya, lalu dia mengatakan dengan tidak bersuara bahwa yang menghubunginya adalah Faisal.
__ADS_1
Novi diam, dia memandang satria yang sedang berbicara dengan Faisal. Lalu dia berjalan mendekati tempat tidur untuk merapikannya sebelum ditiduri olehnya dan Satria.
Selesailah Novi merapakina tempat tidur, dia masih melihat Satria masih bicara melalui ponselnya. Dalam benak Novi mengatakan, apakah itu masih dengan Faisal? Mengapa lama sekali mereka bicara.
Dia mengabaikan apa yang menjadi pertanyaannya itu, lalu berjalan keluar kamar untuk mengambil air minum di pantry. Setelah itu dia kembali masuk kedalam kamar.
Novi melihat Satria berdiri di balkon, dia menyimpan air minum yang baru dia bawa di nakas. Lalu menghampiri Satria yang sedang berdiri di balkon.
"Ada apa?" tanya Novi sembari memeluk Satria dari belakang.
Satria terdiam sembari memegang tangan Novi yang melingkar di dadanya. Dia sangat senang dengan adanya Novi dalam hidupnya, karena Novi bisa mengerti apa yang sedang terjadi padanya.
"Faisal— dia memintaku untuk berpisah denganmu! Dia ingin menjadikanmu sebagai miliknya." Satria menjawab dengan nada sedih bercampur kesal.
"Apa kau menyetujuinya?!" tanya Novi guna mengetahui apa yang menjadi keputusan Satria.
"Tidak! Aku tidak akan melepaskanmu deminya, karena dia adalah pria yang sudah membuatmu menderita dan juga aku tidak mau kehilanganmu! Hanya maut yang bisa memisahkan kita!" Satria menjawab dengan penuh keyakinan.
Novi tersenyum, akhirnya dia dapat melihat Satria yang pertama kali dia temui. Kini Novi bertekad tidak akan meninggalkan Satria apa pun yang terjadi, hanya maut yang dapat memisahkan mereka berdua.
"Ayo kita masuk! Udara malam semakin dingin!" Novi mengajak Satria untuk masuk.
Satria langsung menggendong Novi dengan lembut lalu berjalan menuju tempat tidur. Dia membaringkannya dengan lembut, ditatapnya wajah wanita yang sangat dia cintai itu.
Satria tersenyum lembut lalu mengecup lembut kening Novi, lalu menjalar ke setiap wajah hingga berkahir di bibir yang sudah lama menggodanya.
Bibirnya terus bermain sehingga membuat Novi menikmati permainan yang dilakukan oleh Satria. Tidak hanya bibir saja yang bermain, tangan Satria pun mulai nakal.
Tangannya berjalan menelusuri setiap lekuk tubuh Novi yang mulus. Novi merasakan kegelian tetapi dia menikmati semua itu, apalagi setelah tangan Satria bermain di bagian dada atas Novi.
Mereka mulai bermain dengan indahnya sehingga membaut rasa nikmat yang sudah mereka nantikan. Hingga mencapai puncak yang mereka inginkan. Setelah itu mereka terlelap dan tidak memikirkan masalah apa pun.
Keesokan harinya, Novi terbangun karena kecupan hangat di pagi hari yang dilakukan oleh Satria. Dia tersenyum lalu membalas kecupan itu.
Novi melihat jam yang menempel di dinding kamarnya, dia dengan cepat berjalan masuk ke kamar mandi guna membersihkan diri. Karena dia tidak ingin terlambat masuk kantor hari ini.
Setalah selesai membersihkan diri Novi keluar dari kamar mandi dan bersiap. Lalu dia menyuruh Satria untuk membersihkan dirinya, sedangkan dia menyiapkan sarapan untuk Satria sebelum dia pergi.
Satria pun sudah selesai dengan rutinitas membersihkan dirinya, lalu dia bersiap. Satria sengaja membeli pakaian untuk dia kerja dan menyimpannya di apartemen Novi. Sehingga dia tidak kerepotan jika bermalam di apartemen Novi.
Satria berjalan menuju pantry, dia melihat wanita yang sangat cantik sedang menyiapkan sarapan untuknya. Setelah mendekat ke pantry, dia duduk sembari melihat wanita cantik itu memasak.
"Sudah siap, makanlah!" Novi berkata sembari tersenyum dan menyodorkan piring berisikan sarapan untuk Satria.
Setelah itu dia berjalan memasuki kamarnya guna mengenakan hijabnya. Lalu dia membawa tas kerjanya dan melihat Satria yang sudah menghabiskan sarapannya.
Setalah itu Novi pergi terlebih dahulu karena dia sudah terlambat, sedangkan Satria menunggu sebuah telepon dari client-nya yang ingin bertemu sebelum dia pergi ke kantor.
Novi tiba di kantor lalu dia bergegas menuju ruangannya, beberapa saat kemudian Lili menyuruhnya untuk ke ruangan Lili. Novi pun bergegas menuju ruangan Lili.
Tanpa basa-basi Lili langsung bertanya tentang apa yang terjadi selama beberapa hari kebelakang. Novi sudah tidak bisa menghindarinya lagi.
Novi pun menceritakan kejadian dari awal hingga Satria menemuinya di Kochi. Dan meminta maaf atas semua kesalahan yang sudah dia lakukan.
"Faisal— jika aku bertemu dengannya! Akan ku hajar dia hingga tidak bisa berdiri!" Lili berkata dengan nada marah.
Lili kesal dengan sikap Satria juga yang tidak bisa percaya dengan Novi malah dia percaya dengan adiknya yang berprilaku buruk tetapi semuanya sudah terjadi. Sekarang yang penting adalah Satria dan Novi bisa bersama-sama kembali.
"Novi, karena mama sedang sakit— aku akan mengurus perusahaannya sebelum menemukan orang yang cocok untuk membantuku mengurus perusahaan mama!" Lili berkata pada Novi sembari menghela napasnya.
Novi berpikir jika orang yang tepat mengurus perusahaan mama Hani adalah Sella. Karena dia tahu jika Sella adalah wanita yang sangat pintar. Lagi pula Novi tahu jika Sella memiliki bisnis yang tidak diketahui oleh siapa pun.
"Bagaimana jika Sella yang membantumu untuk mengurus perusahaan mama Hani!" Novi mengatakan itu pada Lili karena dia sangat yakin jika Sella bisa di percaya.
"Kenapa kau begitu percaya pada Sella?!" tanya Lili guna mengetahui apa yang menjadi alasan Novi percaya pada Sella.
"Aku telah menyelidiki Sella, ternyata dia masih memiliki saham di perusahaan keluarganya. Namun, tidak ada yang mengetahui itu semua! Dia menjalankan pekerjaannya tanpa di ketahui oleh musuh-musuhnya." Novi menjawab dengan yakin.
Lalu Lili bertanya mengapa Sella tidak mengatakan semuanya itu padanya. Novi mengatakan mungkin saja belum saatnya dia menceritakan semuanya pada Lili.
"Baiklah, kita lihat nanti! Setelah Sella kembali dari berlatihnya, aku ingin tahu apakah dia benar-benar berada di pihak kita? Atau dia ingin menghancurkan kita!" Lili berkata semabri melanjutkan pekerjaannya.
"Bagaimana dengan keadaan mama Hani?" tanya Novi pada Lili karena dia belum menjenguknya.
Lili menjawab bahwa keadaan mama Hami sekarang sudah membaik. Dia juga mengatakan agar Novi menjenguknya karena mama Hani selalu menanyakan perihal dirinya. Mungkin juga mama Hani merasakan jika Novi sedang mengalami masalah karena tidak menemuinya.
Novi pun mengangguk, sore ini selepas kerja dia akan menjenguk mama Hani. Lalu dia pamit pada Lili untuk melanjutkan pekerjaannya karena sudah beberapa hari dia tidak masuk kerja. Otomatis banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan olehnya.
Lili terpikirkan kembali tentang Sella, apakah yang dikatakan oleh Novi benar. Apakah Sella benar-benar orang yang tepat mengurus perusahaan mama Hani.
Semua pertanyaan mulai menyayangi di pikiran Lili, dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Untuk saat ini lebih baik dia fokus pada pekerjaannya dan perusahaan mama Hani.
Jika memang Sella orang yang tepat, maka akan terlihat dari sikap Sella. Karena selama ini Lili tidak pernah salah menilai orang yang berkompeten dalam mengurus bisnis.
__ADS_1
Ponsel Lili berdering, dia mengangkat teleponnya karena Arata yang menghubunginya. Dia bertanya apakah sore ini akan ke rumah sakit kembali.
Lili mengatakan jika sore ini akan ke rumah sakit, sepertinya akan pergi bersama Novi. Karena Novi sudah mulai kembali bekerja, Arata merasa senang itu artinya Satria sudah berhasil meminta maaf pada Novi dan menyakinkannya bahwa dia mencintai Novi.