Musuhku Menjadi Imamku

Musuhku Menjadi Imamku
Extra Part Lili-65


__ADS_3

Makan malam hari ini terasa lengkap bagi Satria, karena dia bisa makan malam dengan Novi. Sedangkan Novi yang tidak berniat untuk makan malam di rumah Lili, terpaksa harus mengikuti permintaan Lili yang menyuruhnya untuk makan malam bersama.


Lili melirik Satria yang selalu mencuri pandang, dia berpikir apakah mungkin Satria sudah benar-benar jatuh hati pada Novi. Namun dia kembali terpikirkan oleh masa lalu Novi, karena itu adalah salah satu alasan Novi selalu menghindarinya.


"Sayang, jangan melamun! Nanti salah suap gimana?" bisik Arata pada Lili


Lili tersenyum lalu dia menyuapkan makanan yang sudah ada di atas sendoknya, dengan maksud agar Arata tidak banyak bicara yang akan membuatnya kesal. Karena dia masih kesal dengan kenakalan Arata tadi siang, sehingga membuatnya cemburu.


Novi yang melihat tingkah laku Lili dan Arata terkekeh, namun dia dengan cepat menghentikan tawanya itu. Karena Lili memandanginya dengan sorot mata yang tajam.


Acara makan malam selesai, Novi pun ijin untuk pulang. Sebelum pulang dia menyuruh Lili untuk memeriksa dokumen yang dia bawa tadi. Besok saat ke kantor dokumen itu harus di bawa.


"Tunggu kau akan pulang sendiri?" tanya Satria pada Novi.


"Tentu saja, karena aku membawa kendaraan sendiri!" jawab Novi dingin.


Lili menemani Novi berjalan untuk menuju mobilnya, diikuti Arata dan Satria di belakang mereka. Lili bertanya pada Novi tentang Satria, dia hanya diam. Lili tahu karena masa lalunya dia menjadi tidak percaya diri.


"Aku sudah katakan padamu 'kan Li, bahwa dia tidak cocok denganku! Aku adalah wanita dengan masa lalu yang kotor. Lebih baik dia mencari wanita yang baik-baik!" jawab Novi.


Lili sudah tidak bisa bicara apa-apa lagi, sekarang tinggal bagaimana Satria bisa membuat Novi percaya akan kesungguhannya. Jika dia benar-benar mencintai Novi maka dia akan menerima masa lalu Novi yang kelam.


"Tunggu! Aku antar kau sampai apartemenmu ya!" Satria berkata sembari menghentikan Novi.


"Tidak usah, aku masih bisa sendiri!" Novi berkata lalu masuk kedalam mobilnya, secara perlahan mobilnya berjalan perlahan. Sedikit demi sedikit kecepatannya bertambah hingga meninggalkan rumah Lili.


Arata yang penasaran dengan sikap Satria pada Novi, dia bertanya pada Satria apakah menyukai Novi. Satria mengangguk, Arata langsung menatap Lili. Dia tahu apa yang dipikirkan Lili, dia memutuskan untuk membicarakan semuanya nanti setelah Satria pulang.


"Aku menyukainya sejak pertama kali bertemu dengannya! Entah mengapa aku tidak bisa melupakannya begitu saja, biasanya aku mudah melupakan orang yang baru pertama kali bertemu. Menurutku dia berbeda dengan wanita lainnya!" Satria berkata dengaj serius.


Setalah mengatakan itu satria pergi, dalam benaknya dia merasa khawatir dengan Novi. Dia menambahkan kecepatan mobilnya guna mengejar mobil Novi, saat melihat mobil yang dikendarai Novi. Dia mengikutinya dari belakang dengan tidak terlalu dekat agar Novi tidak merasa ketakutan karena diikuti.


Dilain tempat Arata masih ingin menanyakan tentang Novi dan Satria pada Lili, dia menunggu Lili yang masih berada di kamar mandi. Setalah Lili keluar dari kamar mandi, dia menyuruh Arata untuk membersihkan diri. Arata pun berjalan memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri.


Saat Arata keluar dari kamar mandi, dia melihat Lili yang sudah tertidur di atas ranjang. Dia tahu bahwa Lili berpura-pura tertidur, karena dia hapal betul dengan sandiwaranya.


Arata berjalan perlahan untuk mendekati Lili, dia langsung mengilikitik Lili sehingga terkekeh karena merasa geli. Lili berusaha untuk menjauh dari Arata namun tidak bisa karena Arata langsung mendekapnya dengan erat.


"Sudah hentikan Arata! Geli tahu!" Lili berkata sembari menahan tawa, namun dia tidak bisa menahan rasa geli sehingga di terus tertawa hingga air matanya menetes.


Arata tidak menghentikan kegiatannya mengilikitik Lili, karena dia sudah berani berpura-pura tertidur. "Akan aku hentikan jika kau berkata jujur padaku!" Arata berkata lalu menghentikan kegiatannya.


"Jujur..., Apa aku pernah berbohong padamu? Bukankah kau yang telah membohongiku!" jawab Lili yang masih beruraian air mata.


"Aku serius! Apakah Novi menyukai Satria?" Arata berkata dengan nada seriusnya.


Lili melihat keseriusan Arata namun di hatinya yang ada bukan ingin menjawabnya, yang ada adalah ingin menggodanya. Dia ingin membalas apa yang dilakukan Arata padanya tadi siang.


"Yang mencintai Satria bukan Novi melainkan aku sendiri!" Lirih Lili.


Arata terkejut mendengar apa yang dikatakan Lili kali ini, dia menatap lekat wajah Lili guna melihat apakah yang dikatakan olehnya benar atau tidak. Lili tertunduk dia tidak ingin melihat wajah Arata, karena dia tidak tahan ingin tertawa. Dia berusaha menahan rasa tawanya agar sandiwaranya tidak terbongkar.


Arata beranjak lalu menjauhi Lili, dia berjalan perlahan menuju balkon. Dia terdiam dalam hatinya ada rasa ingin marah dan langsung berkata tinggi pada Lili. Namun dia tidak kuasa, dia begitu mencintai Lili. Jika Lili mencintai pria lain maka dia akan mundur, yang terpenting adalah kebahagian Lili.


Lili berjalan mendekati Arata, dia tahu candaannya sudah keterlaluan. Dia memeluk Arata dari belakang, dia terus memeluk Arata tanpa berkata apa-apa. Arata memegang tangannya, lalu melepaskan ya dengan lembut.


Arata berbalik lalu menatap wajah Lili dan berkata, "Jika kau mencintainya, kau boleh mengejarnya! Aku akan mundur perlahan dari hidupmu!"


"Untuk apa kau mundur perlahan dari hidupku? Jika kau mundur perlahan, maka aku akan mengejarmu dengan kecepatan penuh!" Lili berkata dengan tersenyum dan akhirnya dia terkekeh karena sudah tidak tahan dengan ekspresi Arata yang sudah tertipu olehnya.


Arata berpikir sejenak, dia mulai tersadar semua yang dikatakan Lili semuanya bohong. Jadi tadi dia menjahilinya, Arata tanpa mengucapkan sepatah katapun langsung menggendong Lili. Dia berjalan menuju ranjang, dihempaskannya Lili ke atas ranjang.


Dia membuka satu per satu kancing pakaian tidurnya, dalam hatinya malam ini akan menghukum wanita yang sudah bertindak nakal. Lili hanya menatap Arata, dia tidak bisa melakukan apa-apa karena Arata mengunci tubuhnya dengan kedua kaki Arata.


"Aku tanya sekali lagi! Apakah Novi mencintai Satria?" Arata bertanya dengan mengecup tengkuk lereh Lili, sehingga dia merasakan kegelian sehingga menggeliat.


"Hentikan Arata, aku akan katakan yang sebenarnya. Tapi lepaskan aku dulu! ucap Lili lirih yang membuat Arata tergoda.


Arata menghentikan serangannya pada Lili, lalu dia menunggu Lili untuk mengatakan semuanya dengan kejujuran.


"Novi menyukai Satria namun dia menolak mengakuinya, karena dia tidak mau hatinya terluka jika suatu saat nanti masa lalunya akan menghancurkan kebahagiaannya! Dia memilih untuk menjauhi Satria karena dia tidak percaya diri, dia takut kalau Satria tahu masa lalunya, Satria akan meninggalkannya." Lili menjawab dengan apa yang dia ketahui.


Setalah mendengarkan jawaban Lili, Arata tersenyum lalu dia mengecup bibir Lili dengan lembut sehingga Lili menikmati setiap permainan yang dilakukan oleh Arata. Lili pun membalas kecupan Arata, mereka berdua sangat menikmati permainannya.


**


Di lain tempat Satria yang masih mengikuti Novi memikirkan bagaimana caranya untuk mendekatinya. Dia merasa jika Novi selalu menghindarinya, entah apa itu dia merasa begitu banyak kesedihan jika melihat kedua bola matanya.


Tibalah Novi di apartemennya, Satria hanya melihatnya dari kejauhan. Dia ingin melihat Novi hingga masuk apartemennya hingga hilang dari pandangan. Satria pun pergi dari apartemen Novi. Dalam benaknya ingin rasanya menghapus semua kesedihannya dan menggantinya dengan kebahagiaan.


Novi merasa lelah dengan aktivitasnya hari ini, dia mengingat kembali apa yang di katakan oleh Lili. Dalam hatinya dia tidak ingin menderita lagi karena penolakan, karena jika Satria tahu tentang masa lalunya yang begitu gelap pasti dia akan meninggalkannya.


Dia berjalan perlahan sembari melepaskan pakaiannya lalu memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai membersihkan diri, dia melangkah mendekati tempat tidurnya. Dia menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur, lalu menutup kedua matanya.


Novi terbangun oleh pantulan sinar matahari di pagi hari, dia melihat jam yang menempel di dindingnya. Betapa terkejutnya dia karena dia sudah terlambat untuk masuk kantor, dia segera bangun lalu bergegas membersihkan diri dan bersiap.

__ADS_1


Setelah selesai bersiap, dia berjalan keluar dari kamarnya lalu dia mengambil kunci mobilnya. Dia memasuki mobilnya dan menjalankan mobilnya dengan perlahan keluar dari area parkir apartemennya. Setelah itu dia menambah kecepatan mobilnya, sehingga melesat meninggalkan apartemen.


Tibalah Novi di kantor, dia berjalan dengan cepat menuju ruangannya. Setelah itu dia duduk sebentar untuk mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Terdengar suara ketukan pintu, dia pun menyuruh masuk. Masuklah seorang sekretaris, dia membawakan secangkir teh hangat untuknya.


"Kau, tahu saja jika Aku membutuhkan itu?" ucap Novi pada sekertarisnya.


Sekertaris itu tersenyum lalu dia pergi meninggalkan Novi dengan secangkir teh hangat. Setelah napasnya kembali normal, dia membuka semua jadwal yang harus dikerjakan olehnya dan juga Lili. Dia berjalan menuju ruangan Lili, dia melihat Lili bsudah berada di ruangannya.


Tok!


Tok!


Masuk!


Terdengar suara Lili menyuruh Novi masuk ke ruanganya, dia membuka pintunya lalu berjalan memasuki ruangan Lili. Dia mendekati Lili lalu bertanya apakah dokumen yang semalam dibawanya. Lili mengangguk sembari menunjukkan dokumen yang ada di mejanya.


Novi memberikan semua jadwal hari ini, setelah mengatakan semua jadwal hari ini. Dia hendak undur diri namun Lili menghentikannya, dia ingin Novi duduk terlebih dahulu bersamanya di sofa. Novi pun duduk di atas sofa lalu Lili berjalan menuju sofa.


"Novi, apakah tidak sebaiknya kau memberikan kesempatan pada dirimu dan juga Satria?" tanya Lili pada Novi dengan nada penuh hati-hati, karena dia takut membuat Novi tersinggung.


"Aku belum bisa memutuskan semua itu, jika dia memang benar-benar ingin serius denganku maka dia harus melamarku! Namun sebelum itu aku akan menceritakan tentang masa laluku yang kelam!" Novi menjawab.


Lili menghela napasnya, dia tahu apa yang dikatakan oleh Novi tidak bisa di rubah lagi. Sekarang semuanya tergantung kesungguhan Satria saja, jika mereka jodoh pasti mereka akan menikah.


"Lebih baik aku kembali ke ruanganku saja!" Novi berkata lalu pergi meninggalkan Lili di ruanganya.


Novi berjalan menuju ruangannya, dia memikirkan kembali atas jawaban yang dia berikan pada Lili. Apakah itu benar hasil dari hatinya? Apakah dia berharap Satria akan menerimanya.


Pekerjaan hari ini selesai dengan lancar seperti biasanya, Novi memutuskan untuk segera pulang ke apartemennya. Karena selama ini hanya kantor dan apartemen yang menjadi tujuannya.


Dalam perjalanan pulang dia melihat sebuah taman, dia menghentikan mobilnya lalu kelautan dari mobil. Dia berjalan perlahan menuju taman itu lalu duduk di salah satu kursi. Dia melihat orang-orang yang berlalu-lalang, melihat begitu banyak pasangan yang berjalan bergandengan tangan.


"Apakah kita merasa kesepian?" tanya seorang pria yang baru duduk di samping Novi.


Novi terkejut melihat Satria ada di sampingnya, namun dia merasa tidak percaya pada dirinya sendiri. Jika berada di dekatnya, dia memutuskan untuk pergi meninggalkan Satria.


"Tunggu! Mengapa kau menghindariku terus?" Satria berkata sembari memegang tangan Novi.


Novi menghentikan langkahnya, dalam benaknya mungkin sekarang saatnya dia mengatakan paya yang dia katakan pada Lili tadi pagi. Dia duduk kembali di kursi lalu diam sesaat, dia menghela napasnya.


"Aku tidak membutuhkan seorang kekasih, yang aku inginkan adalah seorang imam yang mampu membimbingku untuk selalu berada di jalan-Nya!" ucap Novi lirih namun masih bisa terdengar dengan jelas oleh Satria.


"Maka aku akan langsung melamarmu!" jawab singkat Satria.


Novi melihat ekspresi Satria yang berubah, dia tahu pasti tidak semudah itu menerima wanita yang sudah tercemar. Novi beranjak lalu berjalan meninggalkanku Satria dengan pikirannya.


"Sudah aku duga, jika aku menceritakan semua masa lalu yang kelam, semua pria yang mengejarku pasti akan mundur secara perlahan," gumamnya sembari memasuki mobilnya.


Novi menyalakan mesin mobilnya, lalu dia menjalankan secara perlahan mobilnya. Secara perlahan kecepatan mobilnya dia tambahkan, dia tidak peduli dengan apa yang akan dilakukan oleh Satria. Jika dia ingin melanjutkan semuanya maka dia akan menemuinya, jika tidak Novi tetap akan melangkah kedepan untuk dirinya sendiri.


Tibalah Novi di apartemennya, niatnya masih ingin berada di taman namun semua terganggu akibat kedatangan Satria. Sebelum beristirahat dia memutuskan untuk membersihkan diri dahulu, setelah itu dia beristirahat.


Niat hati ingin segera tertidur namun dia tidak bisa menutup kedua matanya, dia beranjak lalu berjalan menuju balkon. Dipandanginya langit malam yang tidak ditemani oleh sang bulan dan bintang. Dia menghela napasnya, begitu sepi sendiri tidak ada teman yang menemani.


Novi tidak menyadari bahwa ada seseorang yang terus saja memandanginya, dengan sorot mata yang penuh dengan kesedihan. Dia adalah Satria yang sudah seminggu lebih pindah ke apartemen yang lebih dekat dengan Novi, sehingga dia bisa terus melihatnya dan melindunginya.


"Betapa menderitanya kau, sehingga kau takut untuk memulai hubungan baru!" gumam Satria sembari memandanginya.


Udara malam semakin dingin sehingga merasuki ke tulang, Novi memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya. Setelah melihat Novi masuk, Satria pun masuk ke dalam kamarnya.


Novi berjalan menuju pantry guna mengambil air minum karena persediaan minum di kamar sudah habis. Setelah mengambil air minum dia kembali menuju kamarnya, dia menyimpan air minum yang dia bawa di atas nakas.


Direbahkannya secara perlahan tubuhnya yang sudah merasakan kelelahan karena semua aktivitasnya seharian tadi. Dimatikannya lampu kamar sehingga yang menyala adalah lampu kecil yang berada di sampingnya.


**


Hari ini adalah jadwal Novi untuk melatih bela diri dengan Sarada, sudah sebulan lebih dia meminta Sarada untuk mengajarinya seni bela diri. Dia bersyukur Sarada mau ngajarinnya seni bela diri, dia sudah lelah karena kedua orangtuanya selalu menyuruh orang untuk menculiknya.


Paling tidak dengan memiliki sedikit ilmu bela diri dia bisa melindunginya dirinya sendiri. Karena untuk saat ini dia belum menemukan seseorang yang mau menerima dia apa adanya, apalagi dengan masa lalunya yang begitu menjijikan.


"Apakah kau sudah siap Nona Novi?" tanya Sarada pada Novi.


"Ok, aku siap!" jawab Novi singkat.


Saat Novi sedang melakukan pemanasan, dia melihat kedatangan Lili. Dia menghentikan pemanasannya lalu mendekati Lili, dia bertanya sedang apa lili berada di sini. Karena kesehatan Lili belum pulih betul, dia masih perlu banyak istirahat.


"Tenang saja, aku hanya melihat latihanmu saja! Dan melihat sampai dimana perkembanganmu!" ucap Lili pada Novi sembari menyuruh Novi untuk kembali melanjutkan latihannya.


Novi pun kembali melanjutkan latihannya bersama Sarada, melihat mereka berdua latihan membuat Lili tergoda untuk latihan kembali. Namun dia masih dalam tahap penyembuhan atas keguguran kemarin, sehingga dia menahan semua keinginannya untuk banyak bergerak.


Lili sangat senang melihat Novi berlatih seni bela diri, karena itu sangat penting baginya. Paling tidak jika ada yang berupaya menyerangnya, dia bisa melakukan pertahanan dan menyerang guna menyelamatkan dirinya sendiri. Karena Lili tidak bisa selamanya melindungi Novi dari kejahatan kedua orangtuanya.


"Aku berdo'a untukmu Novi, semoga kau menemukan seseorang yang bisa menjadi imammu! Juga bisa menerima semua kekurangan dan masa lalumu, karena kau adalah wanita yang baik." Gumam Lili sembari melihat perkembangan seni bela diri Novi.


Ponsel Lili berdering, dilihatnya nomor yang tertera di ponselnya adalah Arata. Setelah menerima telepon Arata, dia memberikan tanda pada Novi dan Sarada bahwa dia akan pergi.

__ADS_1


Setelah melihat kepergian Lili, Novi kembali berlatih dengan Sarada. Sudah satu jam lebih mereka berlatih, Sarada menghentikan latihan mereka. Karena Novi sudah terlihat kelelahan.


"Hari ini cukup sekian kita berlatih, aku tidak bisa menemanimu untuk pergi ke taman kali ini! Tidak apa-apa 'kan?!" ucap Sarada pada Novi.


"Iya tidak apa-apa, pergilah! Maru pasti sudah menunggumu!" jawab Novi sembari tersenyum.


Sarada pun pergi meninggalkan Novi yang masih membereskan barang-barangnya. Novi terduduk sesaat, dalam hatinya ada rasa iri terhadap Sarada dan Lili yang memiliki pasangan yang begitu mencintai mereka.


"Apakah aku akan menemukan pria seperti Arata dan Maru yang mencintai istri mereka dengan segenap hatinya." Gumam Novi lalu beranjak dan berjalan menuju mobilnya.


Dalam perjalanan menuju apartemennya dia melihat seseorang yang dia kenal, akan tetapi itu tidak mungkin. Karena yang dia tahu pria itu masih berada di Indonesia. Jika di berada di Jepang Novi tidak ingin bertemu dengan pria itu, karena dia yang telah menyebabkan dirinya terkena penyakit yang menjijikan.


Novi langsung tancap gas, dalam hatinya tidak ingin bertemu dengan pria itu. Jika melihat pria itu rasanya seluruh tubuhnya menjadi terasa kotor. Sampai saat ini dia belum mengetahui nama dari pria yang telah membuatnya terkena penyakit kelamin.


Setelah tiba di apartemennya, Novi bergegas mengunci pintu apartemennya. Dia langsung menuju kamar lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, karena tubuhnya di penuhi oleh keringat sehabis dia berlatih bersama Sarada.


Sehabis menyelesaikan rutinitas membersihkan diri, Novi berjalan menuju pantry dia mengambil camilan dan membuat minuman sebagai temannya menonton. Setelah itu dia berjalan menuju sofa dan menyalakan televisi. Tanpa dia sadari dia pun tertidur di atas sofa.


Prang!


Terdengar suara pecahan kaca sehingga membuat Novi terbangun, dia berdiri lalu mencari dari masa asal suara tersebut. Dia berkeliling di semua ruangannya akan tetapi tidak menemukan pecahan kaca. Dia membuka pintu apartemennya, ternyata benar suara itu berasal dari luar, rupanya ada tetangga sebelah yang memecahkan cermin yang baru saja di belinya pada saat mau dimasukan ke dalam apartemen.


Novi kembali masuk dan menutup dengan rapat pintu apartemennya, hari masih sore dia merasakan tingkat kebosanan yang lumayan tinggi. Dia berjalan menuju kamarnya untuk bersiap, setelah itu dia pergi untuk menghilangkan kebosanannya.


Untuk menghilangkan kebosanannya Novi selalu keluar apartemen dan bersantai di sebuah taman semabri menikmati suasana taman yang indah. Dia bisa melihat orang-orang berlalu-lalang atau sepanjang kekasih yang terlihat bahagia. Hanya itu rutinitas Novi setiap hari jika tidak ke kantor dia akan ke taman atau menghabiskan waktu di dalam apartemennya.


Sudah satu bulan setelah kejadian dimana dia mengatakan yang sebenarnya pada Satria, dia sudah tidak pernah lagi menerima telepon atau pesan darinya. Sehingga Novi menyadari bahwa Satria sudah menyerah akan dirinya.


"Novi, bisakah kau gantikan aku untuk meeting hari ini?" ucap Lili pada Novi.


"Oke!" jawab singkat Lili.


Novi langsung mengiyakan semua dokumen yang akan dia bawa saat meeting nanti, hari ini dia akan meeting di sebuah perusahaan Obayashi. Sebetulnya Novi tidak mengurus kerjasama sama dengan perusahaan Obayashi, namun dia mengetahui design yang di rancang oleh Lili. Sehingga Lili percaya padanya untuk menghandle meeting kali ini.


Setelah siap dengan alat tempurnya Novi bergegas untuk ke perusahaan Obayashi, dalam perjalan menuju perusahaan tersebut Novi terhenti karena ada seorang anak yang hendak tertabrak olehnya. Dia turun dari mobil lalu memeriksa keadaan anak tersebut, dia tidak menyangka jika peristiwa ini sudah direncanakan oleh sekelompok orang yang ingin berbuat jahat pada siapa saja yang lewat dan berhenti karena anak tersebut.


"Bagaimana keadaanmu, Nak?" tanya Novi dengan lembut.


Sebelum sang anak menjawab, beberapa orang pria mengepungnya. Dia tahu semua ini adalah jebakan dari mereka, dia yakin jika mereka bukanlah orang baik-baik. Novi berdiri, dia ingin tahun apakah dia bisa pergi dari tempat ini ataukah harus berkelahi dengan mereka.


"Nona serahkan kunci mobilmu!" Seorang pria mengatakan dengan penuh ancaman.


"Jangan harap!" jawab singkat Novi yang membuta mereka kesal.


Tanpa basa-basi mereka mulai menyerang Novi dengan membabi-buta, Novi hanya bisa bertahan sejenak. Dia mencari celah untuk membalas balik mereka, dirasa dia sudah menemukan celah.


Bug!


Brugggg!


Novi melayangkan tinjuannya yang diakhiri oleh tendangan, sehingga satu per satu dari mereka terjatuh. Sebelum mereka kembali berdiri Novi memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. Dia tidak menyadari bahwa kakinya terluka akibat serangan tadi. Dia langsung tancap gas tidak peduli dengan rasa sakit di kakinya.


Tibalah Novi di perusahaan Obayashi, saat berjalan dia merasakan nyeri di kakinya. Namun dia harus tetap melakukan presentasi untuk menyelesaikan tugas dari Lili, karena dia tidak ingin mengecewakan Lili. Dia berjalan sedikit terpincang-pincang guna menahan rasa sakit, dia diterima dengan sangat baik oleh seorang wanita yang bekerja sebagai resepsionis.


Wanita tersebut mengantarkan Novi ke sebuah ruangan seorang sekretaris, disama dia pun berlanjut memasuki ruang rapat dengan sekertaris tersebut. Di ruangan itu belum ada satu orangpun yang hadir. Dia duduk di sebuah kursi lalu dia membuka sepatunya guna melihat luka di kakinya. Dia berpikir mungkin kakinya terkilir.


Beberapa saat kemudian beberapa orang memasuki ruangan rapat, Novi pun bergegas memakai sepatunya kembali. Acara meeting di mulai akan tetapi CEO dari perusahaan Obayashi belum hadir. Saat Novi melakukan presentasi seorang pria masuk dan duduk di kursi yang masih kosong.


Dia sangat terkejut karena pria itu adalah Satria yang sudah sebulan ini tidak pernah mengiriminya pesan atau menghubunginya. Dia berusaha mengatasi rasa terkejutnya lalu kembali ke topik yang sedang dia jelaskan. Semua penjelasan darinya sudah membuat semua orang merasa puas termasuk Satria.


Novi berjalan perlahan menhan rasa sakit di kakinya lalu dia duduk di kursinya. Beberapa saat kemudian acara meeting selesai dengan sukses, dia berharap bisa melakukan kerjasama dengan perusahaan Obayashi. Karena jika berhasil dia bahagia sudah bisa membatu Lili dalam mengembangkan perusahaan.


Seorang sekretaris mengatakan bahwa CEO ingin menemuinya untuk membicarakan tentang design yang telah di presentasikan. Novi merasa heran jika dia mau bertanya bukankah bisa dia tanyakan sewaktu meeting tadi. Sekertaris tersebut membawa Novi kes sebuah ruangan, dia memasuki ruangan tersebut. Sekeras itupun keluar setelah mengantarkan Novi. Dia tidak bisa melihat dengan jelas siapa orang yang duduk membelakanginya.


"Jika Tuan ingin bertanya silahkan? Karena masih banyak yang harus saya kerjakan di kantor!" ucap Novi untuk mempercepat pertemuan ini, karena rasa sakit di kakinya semakin menjadi.


"Duduklah!" jawab singkat pria itu.


Novi pun duduk di atas sofa, dia melemaskan kakinya yang terkilir. Dia tidak menyadari bahwa pria itu berjalan mendekatinya dengan membawa obat di tangannya.


"Jika kakimu terluka, mengapa kau memaksakan diri untuk memakai sepatu yang sangat tinggi!" ucap pria itu dengan lembut yang tak lain adalah Satria.


Novi menyadari bahwa dia adalah Satria, dia langsung berdiri dan membujuk memadai hormat lalu dia berjalan perlahan meninggalkan Satria.


"Tunggu!" ucap Satria penuh penekanan sembari memegang tangan Novi.


"Lepaskan tangan saya Tuan! Masih banyak yang harus saya selesaikan!" Novi berkata dengan mengibaskan tangan satria yang memegang tangannya.


Tanpa mengucapkan apa-apa Satria menarik tangan Novi sehingga dia terjatuh kepangkuan Satria. Novi berusaha berdiri kembali tetapi tidak bisa karena rasa sakit di kakinya semakin menjadi.


"Sudah aku bilang untuk duduk!" ucap Satria penuh penekanan derasnya tidak ingin ada bantahan lagi.


Akhirnya Novi duduk di atas sofa, Satria melepaskan sepatu Novi lalu mengoleskan. Obat pada kaki Novi yang terlihat membengkak. Satria menggelengkan kepalanya dalam benaknya, wanita ini sungguh memekasakn diri. Satria memijat kakinya sembari mengoleskan obat pada kaki Novi.


"Sudah selesai bukan? Kalau begitu saya pamit undur diri!" Novi berkata sembari berdiri lalu berjalan perlahan keluar dari ruangan satria.

__ADS_1


__ADS_2