
Setelah Yuki masuk kedalam mobil, Arata mulai menatap para musuh dengan tatapan tajam. Sorot matanya berubah seketika menjadi ingin membunuh. Dia tidak akan memaafkan orang yang hendak menyakiti orang yang dia sayangi.
Bug! Bug! Arata mulai melayangkan tinjuannya pada seorang musuh yang hendak menyerangnya. Dia sama sekali tidak akan melepaskan orang yang hendak mencelakai Yuki.
Terjadilah perkelahian diantara mereka, Arata mengira musuh sudah bisa di kalahkan. Namun, perhitungannya tidak tepat, beberapa saat kemudian tiba beberapa mobil musuh.
"Maru— mengapa para pengawal kita belum tiba?!" tanya Arata dengan napas yang terengah-engah.
Maru menjawab tidak tahu, karena dia sulit menghubungi mereka melalui earphone-nya. Maru melihat jika musuh semakin bertambah dia berpikir mungkin lebih baik lari untuk menyelamatkan Arata dan Yuki.
"Tuan lebih baik pergi dari sini dan baya Nona Yuki pergi, biar kami yang menghalangi mereka!" ucap seorang pengawal pada Arata dan Maru.
Maru terkejut ternyata ada seorang pengawal yang satu pemikiran dengannya. Namun, Arata tidak mau pergi meninggalkan pengawalnya karena dia bukanlah tipe orang yang meninggal pengawal yang sudah lemah.
Bukan hanya satu pengawal saja yang menyuruh Arata dan Maru pergi, 3 orang pengawal yang melindungi Yuki menyuruh pergi. Mereka lebih baik berkorban asalkan tuan mereka selamat. Mungkin mereka akan bertahan hingga rekan-rekan mereka tiba.
Bagi mereka yang terpenting adalah Arata dan Maru pergi untuk menyelamatkan Yuki. Arata pun terpaksa mengikuti permintaan mereka karena dia memikirkan Yuki yang ketakutan.
Arata dan Maru masuk kedalam mobil, Maru langsung tancap gas untuk pergi secepat mungkin ke tempat yang lebih aman. Arata yang melihat Yuki masih menangani berusaha untuk menenangkan dirinya.
Ponsel Arata berbunyi dia melihat layar ponselnya tertera nama istriku tercinta. Dia langsung mengangkatnya dan berbicara dengan nada yang menyiratkan tidak terjadi apa-apa. Dia juga mengatakan jika sekarang sedang menuju rumah bersama Yuki.
Lili bertanya mengapa Arata bisa bersama Yuki? Arata menjawab jika tadi dia sengaja menjemput Yuki di toko buku. Setelah mengatakan itu tiba-tiba ada yang menabrak bagian belakang mobil Arata. Sehingga Yuki berteriak ketakutan.
Lili yang mendengar teriakan Yuki, bertanya pada Arata ada apa sebenarnya. Namun, Arata mengatakan akan segera kembali dan tunggulah. Setelah itu Arata memutuskan sambungan teleponnya, dia tidak ingin membuat Lili semakin khawatir.
Lili yang merasa jika Arata berbohong, lalu dia mencari tahu apa yang terjadi. Rasa khawatirnya semakin meningkat sehingga mengakibatkan rasa nyeri di perutnya.
Dia mengerang kesakitan di area perutnya, mungkin dia terlalu stres sehingga berpengaruh pada kandungannya. Ibu yang melihat dan mendengar Lili mengerang kesakitan langsung berlari ke arahnya.
"Ada apa sayang? Bagian mana yang sakit?!" Ibu bertanya pada Lili dengan khawatir.
Tidak begitu lama tiba seorang pelayan, ibu menyuruh pelayan itu untuk memberitahu Amida dan menghubungi ambulance sekarang. Pelayan itu bergegas dan berlari untuk menelepon ambulance dan memberi tahu tuan Amida tentang Lili.
"Aku ingin Arata— Bu! Dia pasti dalam bahaya!" ucap Lili pada ibu sembari menahan rasa nyeri di perutnya.
"Apa yang kau katakan, sayang?!" tanya ayah yang baru saja tiba dengan napas yang terengah-engah.
Lili terus saja mengatakan pada ayah agar membantu Arata dan membawanya kembali padanya. Tidak begitu lama ambulance tiba, Lili segera di bawa ke rumah sakit. Ibu yang menemani Lili di dalam ambulance terus saja mendengar Lili meminta tolong untuk menyelamatkan Arata.
Ibu yang tidak tahu harus bagaimana hanya bisa memberi kekuatan pada Lili. Meski hatinya merasa khawatir dengan keselamatan putra kandungnya. Namun, di sini juga ada putri dan bayi dari Arata.
Tibalah Lili di rumah sakit, dia langsung di bawa ke ruang persalinan. Saat Lili berada di ruang persalinan dia berteriak memanggil- manggil Arata. Seorang perawat keluar dan bertanya keberadaan Arata, ibu bingung harus bagaimana.
Ayah yang baru saja tiba mengatakan bagaimana pun caranya harus menyelamatkan putri dan cucunya. Jika terjadi sesuatu pada mereka dia akan menuntut rumah sakit ini.
Mendengar itu perawat bergegas menuju ruang persalinan, Lili yang sedang berjuang di ambang kehidupan dan kematian guna melahirkan bayi mungilnya. Begitu pula dengan Arata yang sedang berjuang demi menyelamatkan dirinya dan Yuki.
Terdengar suara tangis bayi yang mengemas di ruang persalinan. Lili yang terkulai lemas melihat dan mendengar suara tangis anaknya begitu bahagia. Tidak lama dari itu dia tidak sadarkan diri.
Lili pun dibawa ke ruang rawat inap dan sang bayi di bawa ke ruangan bayi. Ibu dan ayah bergegas menemui Lili yang masih tidak sadarkan diri karena kelelahan.
Saat di dalam ruangan ibu melihat Lili terbaring tak sadarkan diri, dia mendekatinya. Lalu membelai lembut kepala Lili, ada rasa bahagia karena sudah memiliki cucu. Namun, ada rasa khawatir tentang Arata yang belum diketahui kabarnya.
Beberapa saat kemudian Lili tersadar lalu dia bertanya tentang Arata, dia melupakan bayi yang baru saja dia lahirkan.
"Tenanglah sayang— tidak terjadi apa-apa pada Arata, Ibu yakin sebentar lagi dia pasti menuju kemari!" Ibu berkata lembut guna menenangkan Lili.
Namun, Lili tidak bisa tenang karena dia merasakan ada yang aneh. Dia tidak bisa memikirkan jika kehilangan Arata saat ini. Saat Lili terus saja meminta ayah untuk mencari Arata, seorang perawat membawa bayi Lili.
Lalu bayi itu diberikan pada Lili, dia melihat bayi laki-laki yang begitu mungil. Dia langsung memberikan asi pada bayinya, hingga dia sedikit tenang dan tidak terlalu khawatir pada Arata.
Setalah memberi asi sang bayi di gendong oleh ibu karena ibu sudah tidak sabar ingin menggendong cucunya yang baru lahir. Tidak begitu lama ponsel ayah berbunyi. Ayah sungguh terkejut dengan kabar yang baru saja dia terima.
Ibu meletakan bayi mungilnya di atas box bayi lalu bertanya pada ayah, "Apa yang terjadi?!"
Ayah hanya diam sekarang giliran Lili yang bertanya, "Apa yang terjadi Ayah? Apakah itu Arata?!"
Ayah terkulai lemas lalu mengatakan jika terjadi kecelakaan terhadap mobil yang Arata tumpangi. Seketika ibu langsung histeris dia berteriak memanggil Arata.
"Bagaimana keadaannya?!" Lili bertanya pada ayang dengan nada dingin.
"Arata menghilang dan belum ditemukan!" Ayah menjawab semabri memeluk istrinya.
Lili hanya diam, dia tidak berteriak atau menangis histeris. Tatapannya kosong, dia tidak menyangka apa yang ditakutinya terjadi. Namun, dia percaya jika suaminya masih hidup.
Ibu jatuh tidak sadarkan diri lalu ayah meanggil perawat dan ibu langsung didatangkan oleh oleh dokter. Ibu dibawa ke ruang rawat inap lain. Ayah memutuskan untuk menemani Lili sesaat karena dia tahu Lili lebih terpukul daripadanya dan istrinya.
"Ayah pergi saja— temani ibu karena ibu yang lebih membutuhkan Ayah!" Lili berkata pada Ayah.
Namun, sebelum pergi Lili meminta ponselnya. Sebenarnya ayah tidak ingin memberikan ponsel Lili yang ada di saku celananya. Namun, ayah terpaksa memberikan ponselnya.
__ADS_1
Setelah kepergian ayah, Lili langsung menekan nomor ponsel Maru. Nada sambung terdengar tetapi tidak dijawab. Beberapa saat kudis ponselnya diangkat dan yang mengangkatnya adalah Sarada.
Dia mengatakan dengan nada sedih jika Maru sedang di rawat di rumah sakit. Yuki pun ada di rumah sakit tempat Maru di rawat, Lili bertanya bagaimana keadaan Yuki.
Sarada mengatakan Yuki mengalami luka-luka ringan tetapi dia selalu saja histeris. Setelah itu Lili bertanya bagaimana dengan Arata, Sarada tidak bisa menjawab karena sampai saat ini belum bisa menemukan Arata.
Karena tidak mendapatkan jawaban Lili bertanya kembali di rumah sakit mana Yuki di rawat. Sarada pun mengatakan alamat rumah sakit, setelah mendapatkan nama rumah sakitnya. Lili menutup sambungan teleponnya.
***
Sarada yang terkejut dengan kedatangan Lili beserta bayi di gendongannya. Dia begitu sedih melihat Lili dengan keadaan seperti ini, Lili menghampirinya dengan tatapan dingin.
"Bagaimana Maru? Apakah dia sudah sadar?!" Lili bertanya tanpa ekspresi sedih atau kalut.
Sarada meminta bayinyang Lili gendong, lalu mempersilakan Lili untuk masuk ke ruang rawat Maru. Lili pun menitipkan bayinya dan dia berjalan perlahan masuk ke ruang rawat Maru.
Lili melihat Maru yang tidak sadarkan diri tubuhnya dipenuhi luka-luka, dia tidak bisa membayangkan bagaimana dengan Arata. Dalam benaknya saat ini adalah harus kuat demi mencari Arata.
Karena Lili yakin jika Arata masih hidup, sebelum itu dia harus bertanya pada Maru. Tentang peristiwa kecelakaan itu terjadi saat Maru sudah sadar nanti.
Lili keluar dari ruang rawat Maru, lalu dia meminta Sarada untuk menemaninya ke ruang Yuki. Sarada pun mengangguk lalu dia menemani Lili semabari menggendong bayi laki-laki yang begitu mungil.
Saat berjalan menuju ruangan Yuki, terlihat ayah dan ibu berjalan mendekati Lili. Ibu melihat dengan lekat menantunya itu, ada rasa sedih yang menghinggapi hati ibu. Namun, dia kesal karena Lili tidak memperhatikan kesehatan dirinya dan bayinya.
"Ibu sudah sehat?" Lili bertanya pada ibu dengan senyum di bibirnya.
"Apa kau tidak sayang dengan tubuhmu dan bayimu?!" Ibu balik bertanya dengan bercucuran air mata.
"Aku tidak apa-apa— bayiku juga tidak apa-apa! Kami harus kuat demi Arata!" Lili menjawab pertanyaan ibu.
Plak!
Tamparan kerasa mengenai pipi Lili, ibu sudah tidak tahan dengan sikap Lili yang seperti ini. Dia ingin Lili menjaga kesehatannya terlebih dahulu baru dia bisa mencari Arata.
"Bu, apa yang kau lakukan?!" Ayah berkata pada ibu yang terkejut atas tamparan ibu pada Lili.
Seketika Lili menangis dia mengeluarkan semua kesedihannya, dia tidak ingin kehilangan suaminya. Karena dia masih membutuhkan Arata untuk berada di sampingnya.
"Menangislah sayang, jangan kau pendam semuanya! Kelautan semua rasa sedih yang ada di hatimu!" Ibu berkata sembari memeluk erat Lili.
Novi dan Sella yang baru saja tiba, melihat keadaan Lili yang begitu terpuruk membuat mereka tidak bisa menahan air matanya. Mereka hanya diam melihat semua itu, mereka tidak menyangka jika akan terjadi peristiwa yang akan mengakibatkan sahabat mereka sangat menderita.
Setelah Lili tenang dia meminta maaf pada ayah dan ibu karena sudah membuat khawatir. Dia tidak bermaksud seperti itu karena yang ada di pikirannya adalah menemukan Arata.
Ibu yang melihat Sarada sedang menggendong cucunya bergegas mengambil cucunya. Lalu ibu bertanya, "Bagaimana dengan putrimu?!"
"Ibu saya sudah tiba dari desa dan sedang menjaganya di apartemen," Sarada menjawab ibu.
Setalah itu Sarada pamit untuk kembali ke ruangan Maru karena dia ingin ada di sisinya saat Maru terbangun nanti. Ibu mengizinkan Sarada untuk pergi.
Lili yang sudah tenang masuk ke ruangan di mana Yuki berada, dia melihat putrinya itu sedang tertidur. Dia mendekatinya secara perlahan semabri menahan rasa sakit setelah pasca melahirkan.
Dia menatapnya dengan lembut, terlihat luka-luka di tubuh putrinya itu. Lili berpikir mungkin saat dia terbangun akan langsung memeluknya dengan erat.
Novi dan Sella ikut masuk ke ruangan Yuki, mereka hanya melihat saja karena mereka tidak bisa berbuat apa-apa untuk saat ini. Namun, Sella sudah meminta bantuan Nathan untuk mencari keberadaan Arata. Sekarang Nathan dan Satria sedang mencari Arata.
Yuki terbangun, dia melihat Lili disampingnya. Dia mengingat semua yang terjadi lalu dia berteriak memanggil nama Arata dan dia meminta maaf karena ini semua salahnya.
Dia pun tidak ingin memeluk Lili karena merasa bersalah, jika saja dia tidak keluar rumah maka semua ini tidak akan terjadi. Dia berpikir jika semua yang dia sayangi akan pergi jauh meninggalkannya. Itu sebabnya Yuki tidak ingin didekati oleh Lili.
Lili memeluk erat Yuki guna menenangkan Yuki, dan mengatakan jika yang dia pikirkan tidak benar. Karena Arata pasti masih hidup dan akan kbali bersama-sama. Namun, Yuki belum bisa menerima semua itu, dia masih berpikir jika semua itu terjadi kerena dia.
Ibu yang mendengar teriakannya Yuki bergegas masuk dan diikuti oleh ayah. Mereka sangat sedih melihat Yuki seperti ini, gadis kecil yang malang ini kembali mengalami trauma.
"Ini semua salahku Ibu— jika saja aku tidak pergi Mungin ayah masih bersama kita! Ini semua salahku! Lebih baik aku saja yang tiada!" Yuki berkata dengan nada tinggi.
"Hentikan itu sayang, ini bukan salahmu! Semuanya akan baik-baik saja dan ayah Arata akan kembali bersama kita." Lili berkata dengan lembut pada Yuki.
Namun, Yuki masih saja histeris sehingga dokter dan perawat menyuntikan obat penenang. Semua itu harus dilakukan karena jika tidak Yuki akan melukai dirinya sendiri.
Setalah Yuki tenang Lili berusaha untuk berdiri, dia teringat akan bayinya. Saat dia berdiri tiba-tiba tubuhnya terjatuh dan dia tidak sadarkan diri. Dokter dan perawat yang masih ada di ruangan langsung memberikan perawatan pada Lili.
Dan Lili pun harus diberi cairan infus untuk mengembalikan kesehatannya. Ibu merasa sedih mengapa semua ini harus terjadi pada keluarganya. Seharusnya hari ini adalah hari yang membahagiakan bagi keluarganya.
Keesokan harinya.
Maru sudah sadarkan diri, dia begitu sedih karena tidak bisa menyelamatkan Arata. Karena Arata menyuruhnya menyelamatkan Yuki itulah yang membuatnya menyesal.
Lili yang mendengar Maru sudah sadarkan diri langsung menemuinya, dia melihat Maru sudah bisa bicara dengan jelas. Lalu dia menghampiri Maru yang baru saja diperiksa oleh dokter.
"Maafkan aku Nona...," Maru menyadari kehadiran Lili dan meminta maaf padanya.
__ADS_1
"Ceritakan padaku apa yang terjadi?!" Lili bertanya pada Maru.
Maru pun menceritakan semua kejadian itu pada Lili, dia sungguh-sungguh meminta maaf karena tidak bisa menolong Arata sehingga terjatuh dari bukit. Maru mengatakan jika dia diperintahkan oleh Arata untuk menyelamatkan Yuki terlebih dahulu.
Namun, saat dia hendak menyelamatkan Arata, dia tidak sempat karena Arata sudah terjatuh. Akan tetapi dia yakin jika Arata masih hidup dan dia akan pergi mencarinya.
Maru berusaha melepaskan selang infus yang ada ditangannya tetapi Sarada menghentikan semua yang dilakukan oleh Maru.
"Hentikan itu! Biar aku yang mencari suamiku! Terimakasih karena sudah menyelamatkan Yuki! Sekarang kau harus menyembuhkan semua luka-luka yang kau derita!" Lili berkata sembari pergi meninggalkan Maru.
***
Sudah 3 hari Arata masih belum ditemukan, Lili mulai sangat khawatir tetapi dia tidak pernah putus asa. Dia berusaha dengan sekuat tenaga untuk mencari Arata dan juga mengurus bayinya.
Lili juga harus merawat Yuki yang masih berpikiran jika semua yang terjadi pada Arata adalah kesalahannya. Sehingga Yuki hanya diam dan tidak banyak bicara serta dia menjauh dari Lili.
"Sayang, lebih baik kau istirahat sejenak! Ibu khawatir dengan kesehatanmu dan kau juga harus ingat ada anakmu yang butuh perhatian darimu!" Ibu berkata dengan lembut.
Meski di hati sang ibu menginginkan Arata segara kembali tetapi dia juga tidak ingin kehilangan lagi menantunya. Apalagi ibu melihat keadaan Yuki yang belum bisa kembali seperti semula.
Lili memutuskan untuk merawat Yuki di rumah karena dia khawatir jika di rumah sakit akan membahayakannya. Dia tahu jika Yuki masih menjadi incaran Asamu.
Lili mengetahui jika penyerangan itu dilakukan oleh Asamu, Maru yang sudah bisa beraktivitas seperti biasa mulai kembali mencari Arata. Meski Sarada menyuruhnya untuk beristirahat. Namun, mati bersikeras untuk mulai mencari Arata. Sehingga Sarada tidak bisa melarangnya.
Maru menemui Lili, dia memberikan informasi mengenai Asamu. Dia meminta izin untuk menyerang balik Asamu atas semua perbuatannya yang mengakibatkan Arata menghilang sampai saat ini.
"Tidak! Belum saatnya kita membalas Asamu! Sekarang kita harus fokus menemukan Arata!"
Lili berkata dengan tegas pada Maru, dia tidak ingin membalas semua yang sudah dilakukan oleh Asamu. Jika Arata sudah bisa ditemukan batu merencanakan balas dendam pada Asamu.
Mendengar Lili berkata begitu Maru pamit untuk pergi, dia akan mencari Arata m dia yakin jika Arata masih berada di hutan dan dia akan menemukannya.
"Aku akan ikut denganmu! Kita akan memasuki hutan dan akan menemukannya kali ini!" Lili berkata pada Maru.
Namun, Maru tidak menyetujui keputusan Lili karena dia takut jika terjadi sesuatu padanya jika ikut masuk kedalam hutan. Akan tetapi loli bersikeras dengan keputusannya sehingga tidak ada yang bisa melarangnya. Termasuk ayah dan ibu, ayah sekarang lebih fokus pada perusahaan semenjak Arata menghilang. Sedangkan ibu membatu Lili mengurus Yuki dan bayinya jika Lili tidak berada di rumah.
Sedangkan perusahaan Lili di tangani oleh Novi karena dia ingin membatu Lili untuk segera menemukan Arata. Meski dia tidak terjun langsung mencari Arata. Namun, Satria yang terjun langsung mencari Arata. Begitu pula dengan Nathan, dia memutuskan untuk terjun langsung mencari Arata.
"Sayang, apakah benar kau akan masuk kedalam hutan?!" Ibu bertanya pada Lili yang sedang bersiap.
"Iya— aku akan masuk kedalam hutan! Aku minta maaf karena menyusahkanmu Bu— aku titip anak-anak." Lili menjawab semabri memeluk ibu.
Ibu hanya bisa berdoa agar kedua putra putrinya selamat dan bisa kembali berkumpul. Karena ibu sudah tidak bisa melarang Lili untuk melakukan apa yang menurutnya benar.
Lili pun pergi bersama Maru menuju hutan dimana Arata menghilang, selam dalam perjalanan Lili hanya memikirkan Arata. Bagaiman dia akan bertahan di hutan selama 3 hari lebih. Apakah dia akan baik-baik saja.
Semua pikiran negatif menggelayuti pikiran Lili, lalu dia menghempaskan semuanya. Lebih baik dia berpikir semua hal-hal yang baik. Karena Arata adalah pria yang kuat.
Tibalah Lili di hutan, dia sudah melihat beberapa orang yang sudah siap untuk masuk kedalam hutan guna mencari Arata. Dia juga melihat Satria dan Nathan. Semua sudah terbagi menjadi 3 kelompok, semuanya akan menyisir kembali hutan.
"Bagaimana keadaanmu?!" Nathan bertanya pada Lili.
"Aku baik!" jawabnya singkat.
Setalah itu terdengar aba-aba untuk memulai masuk kedalam hutan, Lili bersama Maru dengan satu kelompok mulai berpencar memasuki hutan. Lili berjalan menelusuri hutan, dia menyapu sitiap jalan yang dia lewati guna mencari Arata.
Lili sudah menempuh jarak yang sangat jauh hingga masuk kedalam hutan. Dia tidak menyerah terus mencari dan mencari keberadaan Arata, dia tidak pernah merasa lelah padahal jika orang yang mengikutinya sudah merasakan kelelahan.
"Nona, lebih baik kita istirahat sejenak!" Maru berkata pada Lili yang terus saja berjalan.
"Jika kalian ingin istirahat, kalian bisa istirahat— aku akan melanjutkan pencarian!" jawab Lili.
"Nona, coba Anda lihat dibelakang? Apakah Anda tidak memberikan kesempatan pada mereka untuk beristirahat! Jika Nona terus berjalan lama mereka akan terus mengikuti Anda!" Maru berkata pada Lili.
Lili menghentikan langkahnya, lalu dia melihat kebelakang. Dilihatnya orang-orang yang sudah kelelahan. Dia pun memutuskan untuk beristirahat, seorang mendengar suara aliran air. Mereka memutuskan untuk mencari lautan air tersebut lalu beristirahat sejenak.
Akhirnya mereka menemukan aliran sungai lalu mereka beristirahat sejenak. Lili berjalan melihat sekitar apakah ada sesuatu, Maru yang melihat Lili berjalan menelusuri sungai. Langsung mengatakan agar dia tidak berjalan terlalu jauh. Lili mengatakan tantang saja dia hanya berjalan perlahan di pinggir aliran sungai.
Lili melihat seorang pria paruh baya sedang mengambil air dari sungai, dia bergegas menghampiri pria itu. Lalu dia bertanya apakah melihat seorang pria yang terjatuh akibat kecelakaan.
"Apakah Nona, keluarga dari pria itu?!" ucap pria paruh baya itu.
Lili mengambil ponselnya lalu memperlihatkan foto Arata pada pria paruh baya itu. Pria itu melihat dengan seksama foto dari ponsel Lili, dia terlihat mengenalinya.
"Iya— benar, dia adalah pria itu!" Pria parah baya itu berkata karena dia mengenali wajah Arata.
"Apakah Anda yakin? Pria ini yang Anada temukan?!" Lili bertanya kesekian kalinya untuk meyakinkan dirinya.
Pria tersebut mengangguk dia sangat yakin dengan perkataanya karena matanya masih sehat dan dia tidak mungkin salah mengenali orang. Lili senang dengan apa yang dikatakan oleh pria paruh baya itu.
"Bisakah Anda membawa saya ke tempat suami saya?!" Lili bertanya untuk segera dipertemukan dengan Arata.
__ADS_1
Sebelum pria paruh baya itu menjawab, Maru tiba bersama yang lainnya. Lili mengatakan pada Maru jika Arata masih hidup dan diselamatkan oleh pria paruh baya itu.