
"Sayang, hari ini jadwal kontrol kandunganmu -kan?" Arata bertanya pada Lili yang sedang duduk sembari menyisir rambutnya.
Lili mengangguk lalu dia mengatakan pada Arata apakah mau ikut ke dokter kandungan. Karena bulan kemarin saat menemaninya kontrol Arata mendadak pusing, dia tidak kuat mencium bau rumah sakit. Sehingga dia memutuskan untuk menunggu di dalam mobil.
"Aku akan ikut, mungkin kali ini aku bisa bertahan karena aku ingin melihat dan mendengar pertumbuhan calon bayi kita di dalam kandunganmu." Arata menjawab dengan penuh keyakinan.
"Apakah Ayah serius akan ikut bersama ibu ke rumah sakit?!" Yuki bertanya pada Arata dengan nada tidak percaya.
Mendengar pertanyaan Yuki membuat Lili terkekeh, karena Yuki tahu pasti kemarin Arata tidak kuat berada di ruang dokter. Sebab Yuki pun selalu ikut saat Lili memeriksakan kandungannya.
Arata langsung menggendong Yuki dan mengilikitiknya, sehingga Yuki tertawa kegelian. Dia meminta Arata untuk menghentikan kilikitikkannya tetapi Arata tidak menghentikannya.
"Sudah cukup Ayah! Aku menyerah! Aku percaya jika Ayah bisa kuat berada di dalam ruangan rumah sakit!" Yuki berkata semabri tertawa karena ulah Arata.
Lili yang melihat tingkah merek berdua merasa bahagia apalagi jika ditambah oleh kehadiran bayi yang akan lahir dari perutnya sendiri. Dia berharap jika kelak kebahagiaan mereka tidak akan pernah hilang.
Yuki meminta bantuan Lili untuk menyuruh Arata menghentikan kilikitikkannya. Namun, Arata tidak akan memaafkan Yuki buang sudah membuatnya merasa tidak berguna.
"Sudah hentikan itu, sayang! Kau tidak lihat Yuki sudah menangis!" Lili berkata dengan sedikit memerintah.
Arata pun menghentikan kegiatannya mengilikitik Yuki, dia melihat Yuki yang sudah meneteskan air mata karena tertawa. Dia merasa sudah menang lalu pergi keluar dari kamar karena teringat ada yang harus dibicarakan pada Maru.
Dia melihat Maru yang sedang bicara dengan beberapa pengawal, Arata mendekati Maru dan mengatakan padanya untuk mengikutinya menuju ruang baca.
Maru pun mengikuti Arata yang sudah berjalan terlebih dahulu ke ruang baca. Setelah mereka berada di ruang baca, Arata menyuruh Maru untuk duduk.
"Bagaimana apakah kau sudah menemukan Kenzo?!" tanya Arata pada Maru.
Maru mengatakan jika dirinya belum menemukan Kenzo, sepertinya semua informasi tentang keberadaan Kenzo di lindungi secara ketat. Sehingga dia tidak bisa dengan mudah menemukannya.
Yang menjadi masalah bagi Arata sekarang adalah apakah Kenzo dilindungi dengan aman hingga tiba waktunya dia kembali. Atau dia sedang di sekap oleh Asamu.
Karena sampai saat ini Arata belum bisa menemukan jasadnya jika dia sudah tiada. Entah mengapa Arata merasakan jika Kenzo masih hidup tetapi dia tidak tahu dimana keberadaannya.
"Teruslah kau cari keberadaan Kenzo karena aku yakin dia masih hidup! Meski butuh bertahun-tahun untuk menemukannya kita harus terus mencarinya!" perintah Arata pada Maru.
"Baik!" jawab Maru singkat lalu dia pamit untuk melakukan pekerjaannya karena masih ada yang harus dia bahas masalah kemanan di rumah Arata.
Maru terkejut saat dia membuka pintu ruang baca Arata, dia melihat Yuki yang sedang berdiri di balik pintu. Apakah Yuki mendengar percakapan mereka berdua, itulah yang ada di dalam pikiran Maru saat ini. Yuki tersenyum melihat Maru, lalu dia membungkuk dan masuk ke ruang Arata.
"Ayah, apakah sudah siap untuk pergi bersama Ibu?!" tanya Yuki pada Arata dengan ceria meski dalam hatinya merasa sedih.
Karena Yuki mendengar apa yang dibicarakan oleh Arata dan Maru tetapi dia tidak ingin membuat Arata menjadi sedih karena dia juga sangat merindukan ayah kandungnya.
"Baiklah kita pergi, di mana ibumu?" tanya Arata pada Yuki.
"Ibu sudah menunggu di luar sembari duduk di taman depan," jawab Yuki.
Setelah itu Arata berdiri lalu mengajak Yuki untuk menghampiri Lili yang sudah menunggu di depan. Dia melihat Lili yang duduk santai sembari memainkan ponselnya.
"Kau sudah siap, ayo kita pergi!" Arata bertanya pada Lili.
Lili tersenyum, dia mengangguk lalu berdiri dan berjalan menuju mobil yang sudah siap. Terlihat Maru sudah membukakan pintu mobil seraya menyuruh Lili dan semuanya untuk segera masuk.
Mereka pun pergi menuju rumah sakit untuk melakukan kontrol kandungan Lili. Tidak begitu lama mereka tiba di rumah sakit, Lili langsung menuju ruangan kontrol. Karena dia sudah mengadakan janji terlebih dahulu sehingga dia tidak menunggu lama.
Arata dan Yuki pun ikut masuk ke ruangan kontrol, mereka berdua ingin tahu bagaimana keadaan calon bayi yang masih ada di dalam kandungan Lili.
Dokter memeriksa kandungan Lili dan mengatakan jika semuanya baik-baik saja. Bayi yang ada di dalam kandungannya pun sehat, setelah melakukan kontrol Yuki ingin ke sebuah toko es krim.
Lili dan Arata pun menyetujuinya keinginan Yuki yaitu pergi ke toko es krim. Mereka duduk semabri memakan es krim yang sudah di pesan.
"Jika bayi kalian sudah lahir, apakah kalian akan tetap menyayangi diriku seperti ini?!" Yuki bertanya pada Lili dan Arata.
Pertanyaan Yuki ini membuat Arata serta Lili terkejut, mereka tidak menyangka jika Yuki akan berkata demikian. Bagi mereka Yuki sudah dianggap seperti putri kandung.
"Mengapa Yuki berkata demikian? Bagi Ibu atau Ayah Yuki tetap anak perempuan kami! Jika bayi ini lahir, dia akan menjadi adikmu. Apakah kau akan menyayanginya?" Lili berkata sekaligus bertanya pada Yuki.
Yuki tersenyum lalu dia mengatakan jika nanti sang bayi sudah lahir maka dia akan menyayanginya seperti adiknya sendiri. Mendengar itu Lili dan Arata merasa senang karena Yuki tidak berpikir lagi seperti yang tadi diucapkannya. Setelah selesai memakan es krim mereka semua memutuskan untuk kembali ke rumah.
Setelah tiba di rumah, Lili melihat ibu dan ayah yang baru saja tiba. Mereka memutuskan untuk kembali tinggal di rumah karena kandungan Lili sudah besar.
Ibu memutuskan untuk selalu ada di rumah sampai lili melahirkan bayinya. Karena ibu sangat menantikan kehadiran cucu pertamanya itu. Sehingga ayah tidak bisa menahan ibu yang ingin segera ke Tokyo.
"Aku senang Ibu ada di sini karena aku ada teman ngobrol," Lili berkata sembari memeluk ibu.
"Ibu akan selalu ada untukmu sayang," Ibu berkata dengan penuh kasih sayang.
"Yuki juga senang bisa melihat Kakek dan Nenek ada di rumah," celetuk Yuki yang menyadarkan ibu bahwa Yuki berada dibelakang Lili.
Ibu langsung memeluk Yuki dengan erat, entah mengapa rasa sayang yang dia curahkan pada Yuki begitu nyata. Ibu tidak membeda-bedakan antara kasih sayang pada Yuki dan calon bayi yang masih ada di dalam kandungan Lili.
"Iya dan aku pun dilupakan oleh para wanita yang aku sayangi," Ayah berkata dengan sikap manjanya.
Lili, ibu, Yuki serta Arata terkekeh mendengar ayah yang bersikap manja. Namun, Arata pun merasakan sedikit cemburu jika Lili sudah mulai mengobrol bersama ibu dan Yuki. Karena Lili suka melupakan Arata yang selalu menunggunya.
__ADS_1
***
Dilain tempat Novi yang sedang berada di apartemen dikejutkan dengan kedatangan Faisal. Dia tidak menyangka jika Faisal tahu apartementnya.
"Mau apa kau kemari?!" tanya Novi dengan nada dingin dan tidak mengijinkan Faisal untuk masuk.
"Aku ada perlu denganmu! Izinkan aku masuk!" jawab Faisal dengan mendorong pintu apartemen Novi sehingga dia berhasil masuk.
Saat Faisal masuk, Novi mulai menjaga jarak aman darinya karena dia tidak mau terjadi hal-hal yang akan membuatnya merasa dirugikan.
Novi bertanya sekali lagi pada Faisal tentang keperluan Faisal menemuinya. Terlihat senyum miring di bibir Faisal yang membuat Novi merasakan ngeri dan jijik.
Novi berharap jika Faisal segera pergi meninggalkan apartementnya. Dia tidak ingin terjadi kesalahpahaman antara dirinya dan Satria. Karena Satria masih belum bisa tegas memilih antara adik atau istrinya.
"Pergilah kau dari sini!" Novi memerintahkan Faisal untuk segera pergi dari apartementnya.
Namun, Faisal masih tidak ingin, dia masih ingin tinggal lebih lama dengan Novi. Dia tidak akan pergi sebelum Novi meninggalkan Satria dan kembali pada dirinya.
Novi terkekeh mendengar perkataan Faisal tersebut, dia tidak menyangka begitu percaya dirinya Faisal menyuruh Novi untuk meninggalkan Satria dan kembali kepelukannya.
Melihat Novi terkekeh membuat Faisal kesal karena dia mengatakan itu dengan keseriusannya. Namun, Novi malah menertawakannya.
Sehingga Faisal berdiri lalu mendekati Novi, dia mendekap erat Novi. Seraya dia tidak ingin melepaskannya, Novi berusaha lepas dari pelukannya Faisal tetapi tidak bisa karena pelukannya begitu kuat.
Bug! Novi mengepalkan tangannya lalu dia memeluk perut Faisal dan menginjak kaki Faisal dengan sekuat tenaga. Akhirnya Novi bisa lepas dari pelukan Faisal yang membuatnya sesak.
"Jika kau tidak mau pergi, aku akan hubungi pihak keamanan untuk mengusir dirimu!" Novi berkata dengan madu tinggi karena dia sudah kesal dengan sikap Faisal yang selalu mengganggunya.
Faisal langsung menarik tangan Novi tetapi bisa dihenpaskannya oleh Novi. Terjadi perkenalkan kecil diantara mereka berdua, Faisal tidak menyangka akan sesulit ini untuk mendapatkan Novi.
"Hentikan Faisal!" teriak Satria yang baru saja tiba di apartemen Novi.
Faisal menghentikan tindakannya lalu dia berjalan mendekati sofa dan duduk di atas sofa dengan santainya. Satria menatap Novi yang penuh dengan kemarahan. Dia menyadari jika tindakan Faisal sudah keterlaluan, sehingga Novi terlihat marah seperti itu.
Satria berjalan mendekati Faisal yang sedang duduk lalu dia duduk saling berhadapan dengan Faisal. Lalu dia mulai bicara dengan Faisal agar menghentikan semua usahanya yang tidak akan menghasilkan apa-apa.
Karena sifat keras kepala, Faisal tidak mauenyerah dia masih ingin mendapatkan Novi. Dia tidak peduli dengan perasaan Novi padanya, yang terpenting adalah perasaanya pada Novi.
"Biarkan rasa cintaku yang akan mengubah kebencian menjadi cinta!" Faisal berkata dengan penuh percaya diri.
Novi yang mendengar perkataan Faisal membuatnya semakin geram. Lalu dia mengatakan dengan nada marah jika sampai kapanpun dia tidak akan pernah kembali ke dalam pelukan Faisal. Karena baginya sudah tidak ada tempat Faisal dalam hatinya.
Rasa benci Novi pada Faisal sudah semakin besar, dia tidak akan pernah memaafkan Faisal atas semua perbuatan yang sudah dilakukan oleh Faisal kepadanya.
Entah apa yang terjadi pada Faisal, meski Novi sudah menolaknya beberapa kali dia masih saja teguh pendiriannya untuk mendapatkan Novi. Sekarang giliran satria yang sudah kesal dengan sikap Faisal.
Novi terkejut Satria bisa berkata tegas seperti itu karena selama ini Satria selaku lemah pada Faisal. Meski Satria sudah berkata seperti itu, Faisal masih jasa menginginkan Novi menjadi miliknya.
"Yang aku inginkan adalah Novi bukan wanita lain!" Faisal berkata lalu pergi meninggalkan apartement Novi.
"Apa itu adikmu? Yang ingin menghancurkan rumah tangga kakaknya sendiri!" tanya Novi pada Satria yang masih duduk di atas sofa.
Lalu Novi berjalan memasuki kamarnya, dia masih sangat kesal dengan tingkah Faisal. Ingin rasanya dia menghajarnya sampai tidak bisa berdiri lagi.
Namun, tadi Satria tiba sehingga Novi tidak bisa melanjutkan menghajar Faisal. Novi membuka bungkus rokok, dia berniat untuk menghisap satu batang rokok. Namun, dia membatalkannya, dia teringat jika apa yang dia lakukan sangat buruk bagi kesehatannya.
Dia pun teringat pesan dokter yang mengatakannya jika dirinya sedang mengandung. Namun, Novi belum menceritakan kabar bahagia itu pada semua orang termasuk Lili apalagi Satria.
Tiba-tiba perutnya merasa sakit yang begitu kuat, dia berusaha bertahan dengan rasa sakit yang dirasakan. Dia berharap tidak terjadi sesuatu pada bayinya. Karena dia sangat menyayangi calon anak yang akan dia lahirkan.
Satria yang baru masuk kamar, melihat Novi yang sedang kesakitan langsung mendekatinya lalu bertanya ada apa. Novi tidak bisa menjawab karena dia masih mengerang kesakitan.
Satria menggendong Novi lalu membawanya keluar apartement, setelah itu dia berjalan menuju mobilnya. Dia berniat membawa Novi ke rumah sakit karena dia tidak tahu sebab Novi merasakan sakit seperti itu.
Novi terlihat menderita karena sakit di bagian perutnya, Satria merasa sangat khawatir. Lalu dia memegang tangan Novi agar tidak menekan bagian perutnya.
Selama dalam perjalanan Novi sama sekali tidak berhenti menangis karena rasa nyeri yang begitu kuat. Tibalah mereka di rumah sakit. Novi langsung di tangani oleh dokter dan perawat.
Seorang perawat memberikan informasi bahwa Novi akan di bawa ke ruang rawat inap. Setelah itu seorang dokter menghampiri Satria dia menyuruh Satria untuk ikut ke ruangannya.
Saat Satria sudah tiba di ruangan dokter, sang dokter mengatakan jika Novi sedang mengandung. Dan di harapkan untuk tidak terlalu banyak pikiran karena itu bisa memicu stress. Sehingga mengakibatkan keram di perut yang terasa sangat sakit. Bahkan bisa meningkatkan resiko keguguran.
Mendengar itu Satria merasa senang sekaligus sedih, senangnya karena dia akan memiliki seorang anak. Dan perasaan sedih karena semua rasa sakit yang diderita Novi karena ulahnya yang tidak bisa melindungi Novi dari Faisal.
Setelah bicara dengan dokter, Satria kembali ke ruang rawat inap Novi. Dia melihat istrinya yang belum terbangun akibat obat yang diberikan oleh dokter untuk menghilangkan rasa nyeri di perutnya.
Dia berjalan mendekati Novi secara perlahan agar tidak mengganggunya. Dia duduk di samping Novi lalu memegang tangannya dengan lembut. Dan mengecup lembut punggung telapak tangan Novi.
Satria merasa sedih dan bersalah karena tidak tahu jika istrinya sedang mengandung. Dia malah membuat istrinya memikirkan banyak masalah sehingga membuatnya stress dan hampir kehilangan bayinya.
***
Hari sudah larut Novi pun sudah terbangun, dia merasa pusing di bagian kepalanya. Dan dia bingung dengan ruangan yang dilihatnya karena ini bukanlah kamarnya.
"Bagaimana keadaanmu?!" Satria bertanya sembari mendekati Novi.
__ADS_1
Sebelum Novi terbangun dia keluar terlebih dahulu untuk menghubungi karyawannya. Karena ada urusan pekerjaan yang belum terselesaikan.
"Mengapa aku ada disini?!" Novi balik bertanya.
Karena rasa sakit yang di rasakan sehingga Novi tak sadarkan diri saat di tangani oleh dokter. Mungkin dia tidak menyadari jika dirinya sudah berada di rumah sakit.
"Kau merasa kesakitan di bagian perut, aku membawamu ke rumah sakit!" jawab Satria dengan membelai rambut Novi dengan lembut.
"Mengapa kau tidak memberitahukan padaku jika kau sedang mengandung anak kita?!" Satria kembali berdnya dengan lembut pada Novi.
Novi terdiam, dia sebenarnya ingin memberitahukan pada Satria masalah kandungannya. Namun, dia masih kesal dengan sikapnya yang tidak bisa tegas terhadap adiknya sendiri.
"Sayang, kenapa kau diam?!" tanya Satria kembali.
"Sebenarnya aku ingin mengatakan padamu tetapi kau masih belum bisa tegas pada Faisal! Sehingga aku merasa kesal dengan sikap lembekmu pada adikmu." Novi menjawab dengan lirih.
Satria terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Novi, dia tidak menyangka sikap lemahnya pada Faisal sudah membuat istrinya kesal. Mungkin sekarang sudah saatnya dia bersikap tegas pada Faisal. Karena sekarang Novi sedang mengandung dan dia tidak ingin terjadi sesuatu pada calon anaknya.
Satria mengatakan pada Novi jika saat ini dia akan melindunginya dan juga bayi yang ada di dalam kandungannya. Dia akan menyuruh Faisal untuk kembali ke Indonesia dan memegang salah satu cabang perusahaan yang ada di Indonesia.
Keesokan harinya, Novi yang dirawat di rumah sakit membuat Lili terkejut dia bergegas menuju rumah sakit dan melihat keadaan Novi. Setelah tiba di rumah sakit keterkejutannya bertambah setelah mendengar bahwa Novi sedang mengandung.
"Apa! Kau sedangkan mengandung? Mengapa kau tidak mengatakannya padaku hah?!" tanya Lili pada Novi.
Novi tersenyum melihat sikap Lili seperti itu lalu dia menjawab, "Kau baru tiba sudah memarahiku?!"
Lili terkekeh karena yang dikatakan oleh Novi benar, dia baru saja tiba tetapi sudah membuat keributan dengan suara tinggi.
"Sudah sayang kau jangan membuat keributan di rumah sakit!" timpal Arata sembari tersenyum dengan sikap istrinya.
Semuanya terkekeh lalu kembali normal karena seorang perawat masuk dan dokter masuk ke ruangan. Dokter mengatakan jika kesehatan Novi serta kandungannya sudah mulai membaik. Maka besok bisa kembali ke rumah.
Mendengar kabar itu membuat Novi merasa senang karena dia sudah tidak betah berada di rumah sakit. Dia lebih memilih berada di kamar apartemennya.
Setalah dokter pergi, Lili serta Arata pun pamit untuk pulang. Karena Yuki menghubungi Arata agar segera pulang karena ada seseorang yang ingin bertemu dengan Arata.
"Istirahatlah! Aku akan pergi keluar sebentar!" Satria berkata lalu berjalan keluar ruangan.
Novi mengambil ponselnya, dia ingin melihat apakah ada email untuknya. Dia melihat sebuah pesan yang masuk dari ayahnya, diaembaca pesan tersebut.
Dia tersenyum masam membaca pesan tersebut, dia sungguh tidak mengerti dengan pola pikir ayahnya. Bukannya sang ayah sudah membuangnya dan tidak membutuhkannya.
Namun, sekarang dia mengirim pesan lalu meminta bantuan pada Novi. Dia menyimpan kembali ponselnya lalu pikiran kembali terbayang akan masa lalunya.
Semua penderitaan yang diterimanya dan juga Nova kembali terbayang. Dia merasa bukan seorang putri dari ayah dan ibunya karena semua sikap kedua orangtuanya sangat tidak mencerminkan orangtua yang sanyang pada anak-anaknya.
Novi terlihat sangat sedih, Satria bertanya-tanya apa yang sudah terjadi padanya. Sehingga terlihat sangat sedih padahal dokter tidak membolehkannya terlalu banyak pikiran karena bisa mengakibatkan stress.
"Ada apa denganmu, sayang?!" Satria bertanya saat dia baru masuk kedalam ruang rawat.
Novi menatap Satria lalu dia tersenyum dan mengatakan tidak ada apa-apa. Dia merasa apa yang diinginkan oleh sang ayah karena sang ayah sudah cukup mendapatkan keuntungan dari hari pernikahannya.
Satria tahu jika Novi merahasiakan sesuatu padanya lalu dia mengatakan padanya tidak boleh ada lagi rahasia diantara mereka berdua. Mendengar itu Novi mengatakan jika ayahnya mengirimnya pesan.
"Apa yang ayahmu pinta?!" tanya Satria.
"Apalagi kalau buka uang, mereka berdua sangatlah tamak! Aku tidak bisa membuat mereka puas saat masih bersama mereka! Sehingga aku harus mengorbankan tubuh dan harga diriku!" jawab Novi dengan nada kesal.
Satria berusaha menenangkan Novi karena dia tidak ingin Novi stress dan akhirnya akan berpengaruh pada kandungannya.
"Sudahlah, biarkan saja yang terpenting sekarang adalah kau menjaga kandunganmu! Besok kita kembali ke apartemen!" ucap Satria guna menenangkan Novi.
Novi pun berusaha untuk menenangkan dirinya karena dia sangat menyayangi calon anaknya. Dia berpikir tidak akan melakukan hal yang dilakukan oleh kedua orangtuanya pada dirinya.
Keesokan harinya Satria merasa senang dia bergegas mengurus dokumen kepulangan Novi. Setelah semuanya selesai dia masuk ke ruang rawat. Dia melihat Novi sudah bersiap untuk kembali ke apartemen.
Novi tidak tahu jika Satria sudah menyiapkan hadiah, Novi merasa ada yang aneh karena jalan yang dilewatinya bukan menuju apartementnya.
"Sayang, ini bukan menuju apartemen kita?!" Novi bertanya pada Satria yang sedang fokus melihat jalanan.
Satria tersenyum lalu dia mengatakan akan mengajak Novi ke suatu tempat. Novi hanya diam sembari menikmati jalanan kota Tokyo. Dia merasa ingin ke sebuah taman, lalu dia meminta Satria untuk mengajaknya ke sebuah taman.
Satria pun membawa Novi ke taman diamankan mereka pertama kali bertemu. Tibalah mereka di taman, Novi berjalan perlahan menelusuri taman.
Satria menggandeng tangan Novi dengan lembut, mereka berjalan beiringan. Dia ingin melindungi Novi dari apa pun yang akan membuatnya menderita meski itu dia harus bersikap kejam pada adik dan ayah mertuanya.
Setelah selesai berjalan-jalan, mereka duduk di kursi taman sembari menikmati taman yang sangat indah. Mereka melihat seorang anak yang sedang menjaga adiknya yang masih bayi, terlihat sang ibu sedang memperhatikan tingkah kedua anaknya.
"Sayang, jika bagi kita lahir aku akan mengajaknya kemari! Karena taman ini adalah tempat pertama kali kita bertemu." Satria berkata sembari mengecup punggung telapak tangan Novi.
"Baiklah, taman ini akan menjadi kenangan kita selamanya!" jawab Novi dengan senyum lembutnya.
Setelah selesai menikmati suasana di pagi hari, mereka memutuskan untuk segera kembali melanjutkan perjalanan. Karena hari sudah mulai panas dan itu membuat tidak nyaman bagi mereka berdua.
Tidak begitu lamaereka tiba di sebuah rumah yang sangat indah, meski terlihat sederhana. Namun, bisa terlihat bahwa rumah ini begitu hangat dan akan menghasilkan suasana yang membahagiakan.
__ADS_1
"Selamat datang di rumah, sayang!" Satria berbisik.
Novi terkejut dengan apa yang dibisikkan Satria tetapi dia merasa senang dengan ada yang di depan matanya. Ini adalah rumah yang dia idam-idamkan, sebuah rumah yang sederhana tidak terlalu besar.