
"Mah, ada acara apakah malam ini? Terlihat begitu istimewa?!" Lili bertanya pada mama yang sedang menyiapkan segala sesuatunya di atas meja.
Mama mengatakan bahwa malam ini akan datang seorang anak dari teman papa Karim, mama juga mengatakan bahwa dia adalah teman waktu Lili SMA di Jakarta. Lili bingung dengan yang mama Hani katakan, namun dia menghiraukannya mungkin nanti dia akan tahu siapa orang itu.
Karena tamu yang diundang belum tiba, Lili menghampiri Arata yang masih berada di dalam kamarnya. Lili berjalan perlahan menelusuri anak tangga karena dia harus berhati-hati dalam melangkah. Pintuku kamar tertutup rapat, Lili membuka pintu kamarnya.
Lili melihat Arata sedang berdiri di balkon, dia berjalan perlahan menghampiri Arata. Dia memeluknya dari belakang, Arata terkejut dia memalingkan wajahnya guna melihat siapa yang memeluknya. Setelah dia tahu itu adalah istrinya, dia memegang lengan Lili dengan erat. Dia begitu senang dengan pelukan Lili.
"Sayang, kau sedang memikirkan apa?" Lili bertanya pada Arata, dia ingin mengetahui apa yang sedang dia pikirkan saat ini.
Arata tersenyum, dia merenggangkan dekapan Lili secara perlahan lalu dia membalikkan tubuhnya dan memeluk Lili dengan erat. Sembari berkata bahwa tidak ada yang dia pikirkan sekalian Lili.
Lili tersipu saat mendengar perkataan Arata, padahal dia sering mendengar Arata mengatakan itu padanya. Dikecupnya kening Lili dengan lembut, kecupan itu menjalar ke bibir. Mereka pun menikmagi permainan mereka, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Sehingga merekapun menghentikan permainan mereka.
Dibukanya pintu kamar Lili, rupanya sudah berdiri di balik pintu seorang pelayan yang diperintahkan oleh mama Hani untuk memanggil Lili dan Arata untuk kebawah. Karena tamu yang ditunggu sudah tiba.
Lili menyuruh pelayan itu untuk turun terlebih dahulu, pelayan itu pun pergi berjalan kebawah. Lili bergegas merapikan pakaiannya yang sudah terlihat sedikit berantakan, begitupun dengan Arata.
Setelah rapi mereka berjalan menuju meja makan, Arata menggandeng tangan Lili. Betapa terkejutnya mereka setelah melihat siapa tamu yang diundang oleh papa Karim. Namun tamu undangan tersebut terlihat tersenyum saat melihat Lili dan Arata.
"Hallo apa kabar Nyonya dan Tuan Arata?!" sapa pria tersebut yang tidak lain adalah Nathan Wijaya dengan mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
Arata menyambut uluran tangan Nathan dengan memberikan senyuman juga, dalam benaknya berkata dia tidak boleh menghancurkan suasana makan malam kali ini. Karena dia melihat papa dan mama yang sudah bekerja keras menyiapkan semuanya.
Lili yang tidak bisa menyembunyikan suasana hatinya memperlihatkan wajah tidak senang dengan kehadiran Nathan Wijaya. Dia tidak hanya diam dan memperhatikan setiap gerak-gerik Nathan. Dan juga dia berpikir apakah dia adalah teman sewaktu SMA-nya dulu.
Mama Hani yang sedari tadi memperhatikan Lili, tersenyum dalam hatinya berkata mungkin Lili tidak mengenali Nathan. Mama Hani pun mulai membuka pembicaraan lalu mengingatkan kembali Lili akan Nathan.
Mama Hani menunjukkan sebuah foto, di dalamnya ada Lili yang sedang duduk bersama Alin dan Salma. Lalu mama Hani menunjuk seorang pria yang berdiri di belakang Lili dan sahabatnya.
Lili melihat dengan seksama pria yang tepat berada di belakangnya, dia mengingat semuanya. Ternyata dia adalah Nathan Wijaya, dia terlihat sangat berbeda sehingga membuat Lili tidak mengenalinya.
"Kau dulu gemuk! Itu sebabnya aku tidak mengenalimu! Sepertinya kau telah banyak berubah?" Lili berkata pada Nathan yang sedang senang akhirnya wanita yang ada di depannya mengenalinya.
Meski Lili sudah mengingat semuanya, dia masih saja tidak bisa melupakan semua sikap dan perkataan Nathan Wijaya selama ini padanya. Perasaan tidak suka Lili pada Nathan tidak berkurang sedikitpun.
Acara makan malam pun dimulai, semuanya mulai menyantap makanan yang sudah disiapkan oleh mama Hani. Arata sangat memanjakan Lili, dia mengambilkan makanan yang harus dimakan oleh Lili. Mereka terlihat sangat harmonis.
Mama Hani yang melihat tingkah laku putri dan menantunya hanya tersenyum begitu pula dengan papa Karim. Namun ada seseorang yang tidak senang dengan tingkah laku Arata yang memanjakan Lili.
Dalam hati Nathan berkata, seharusnya dia yang berada di posisi Arata. Karena Arata tidak pantas mendampingi Lili setelah apa yang telah dilakukan Arata pada Lili. Ternyata Nathan tahu apa yang terjadi sebelum Lili menikah dengan Arata.
Nathan berkata dalam hatinya, bahwa dia akan merebut kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya. Dia tidak akan dengan mudah melepaskan Lili untuk menjadi milik Arata, pria yang sudah mencemari Lili.
Acara makan malam pun selesai, Nathan dan papa Karim berbincang-bincang di ruang tamu. Mau tidak mau Arata dan Lili ikut bergabung dengan mereka, marahan mulai menceritakan apa yang terjadi sewaktu SMA dulu. Dia mencoba membuat Arata kesal lalu marah, namun semua itu tidak terjadi.
Arata hanya tersenyum mendengar semua perkataan Nathan yang bernada memprovokasi dirinya untuk berdebat. Lili tahu apa yang direncanakan oleh Nathan, dia ingin menghancurkan reputasi Arata yang sudah baik di depan mama dan papa.
Lili menggenggam tangan Arata lalu memainkan jari-jemarinya sehingga membuat Arata merasa tenang. Karena asik memainkan jemari Arata sehingga Lili tidak fokus terhadap apa yang dibicarakan oleh Nathan Wijaya. Itu membuta Nathan merasa kesal dengan yang dia lihat.
__ADS_1
Arata melihat kekesalan di wajah Nathan, sehingga dia semakin bersemangat mengikuti permainan jari-jemari Lili. Melihat mereka berdua sangat menikmati permainannya, Nathan pun memutuskan untuk segera pulang.
Papa dan mama mengantarkan Nathan ke depan sedangkan Lili dan Arata kembali ke kamarnya. Saat di dalam kamar Arata terkekeh saat dia mengingat kembali ekspresi dari wajah Nathan Wijaya.
"Kenapa kau tertawa?!" Lili bertanya karena tidak paham dengan sikap Arata.
Arata pun menceritakan yang terjadi saat berbincang-bincang dengan Nathan, Lili terkekeh juga setelah mendengar cerita Arata. Dia juga bingung mengapa dia sampai kehilangan fokusnya saat berbincang-bincang.
Setelah selesai dengan tawa mereka, Lili memutuskan untuk membersihkan diri. Arata berbisik padanya bahwa malam ini dia akan memanjakan istrinya, dia akan membantu Lili untuk membersihkan diri.
Arata menggendong Lili dengan lembut, dia berjalan dengan perlahan memasuki kamar mandi. Di turunkannya Lili secara perlahan, dibukanya kancing baju yang dikenakan oleh Lili. Satu per satu pakaian Lili terlepas dari tubuhnya.
Arata menyalakan keran air lalu menpungnya di dalam bhatup, dirasa sudah cukup hangat dan penuh. Dia menyuruh Lili untuk segera masuk kedalam bhatup, Lili duduk dengan nyaman di dalam bhatup yang terisi air hangat yang sudah dicampur aroma terapi oleh Arata.
Arata mengambil sabun cair lalu meletakkannya di telapak tangannya, lalu dia mulai mengusapkan secara lembut sabu cair itu pada punggung Lili hingga keseluruhan bagian tubuh Lili.
Lili sangat menikmati perlakuan Arata terhadapnya, dia tidak menyangka Arata bisa bertidak manis seperti ini. Dalam benaknya dia berkata, mudah-mudahan semua kebahagian ini akan terus berlangsung.
Setelah selesai membersihkan diri, Arata mengeringkan rambut Lili yang basah menggunakan alat pengering rambut. Setelah rambut Lili kering sekarang giliran rambut Arata yang dikeringkan oleh Lili.
"Aku harap kita akan melakukan hal ini lagi!" Lili berkata dengan lembut pada Arata sembari mengeringkan rambut basah Arata.
Arata sangat senang dengan yang baru saja dia dengar, dia berbalik lalu mengelus perut Lili dengan lembut. Lalu dia berkata pada anak yang masih berada di dalam kandungan. Dia mengatakan bahwa bundanya sangat manja dan selalu ingin dimanja.
Mendengar itu Lili tersipu, dia juga tidak tahu kenapa lebih senang diperlakukan manja oleh Arata. Terkadang dia juga tidak ingin pergi jauh dari Arata, dia selalu ingin dekat dengan suaminya itu.
Mama Hani merasa ada yang aneh dengan sikap Nathan, dia merasa bahwa Nathan memiliki perasaan terhadap Lili. Mama Hani menggelengkan kepalanya, sehingga dia berpikir apa yang dia lihat dan rasakan itu salah.
"Anakku sayang, kau jangan percaya pada mulut manis Ayahmu! Yang harus kau percaya adalah Ibumu ini!" Lili berkata dengan lembut semabri mengelus perutnya yang sudah terlihat sedikit membesar.
Arata tidak terima dengan yang diucapkan oleh Lili, dia kembali melakukan pembelaan terhadap anak yang ada di dalam kandungan. Dia mengatakan bahwa ibunya yang sudah membuatnya sedih dan kesusahan.
Lalu dia berkata bahwa selama ini sudah berusaha untuk menjadi ayah dan suami yang baik. Namun ibumu tidak percaya pada ayahmu ini, itulah yang membuat ayahmu ini merasa sedih. Arata berbisik pada perut Lili dengan mengecup lembut perutnya.
Lili tertegun mendengar apa yang di katakan Arata pada bayi yang adalah di dalam perutnya. Dia memeluk Arata dengan lembut, lalu dia berkata "Maafkan aku!"
"Mengapa kau meminta maaf padaku?!" ucap Arata dengan sedikit menggoda Lili.
Lili tidak menjawab pertanyaan Arata, dia semakin memeluk Arata seakan tidak ingin melepaskannya. Arata tersenyum, dia menggendong Lili lalu menidurkannya di atas ranjang dengan lembut.
Arata hendak melepaskan pelukan Lili namun dia tidak melepaskannya, itu membuat Arata bingung. Lalu dia mengatakan bahwa dia akan mengecek sebuah dokumen yang sudah dikirimkan oleh Maru padanya.
"Ini sudah malam, lebih baik kita tidur! Aku ingin tidur dan kau peluk!" Lili berkata dengan manja pada Arata.
Arata tersenyum, dia mengatakan tidak akan pergi kemana-mana. Dia hanya akan mengambil Notebook-nya, lalu dia akan kembali duduk diatasnya ranjang bersama Lili.
Lili pun melapaskan pelukannya dia melihat terus Arata yang sedang mengambil Notebook-nya. Entah mengapa Lili bisa bersikap manja seperti ini, itulah terkadang yang dipikirkan olehnya. Namun dia tidak bisa menemukan jawabannya.
Arata pun berjalan menghampiri Lili dengan membawa Notebook-nya, dia menatap Lili yang masih saja melihat dirinya. Dia tersenyum lalu berkata dalam hatinya, begitu manja Lili namun dia sangat menyukai sikap manja Lili.
__ADS_1
Arata pun duduk disamping Lili yang sudah terbaring di atas ranjang, dia membuka Notebook-nya. Lalu mengecek email yang Maru kirimkan kepadanya, tidak terasa sudah satu jam Arata bekerja. Dia melihat kesamping ternyata Lili belum tertidur.
Arata bertanya kenapa Lili belum tidur, Lili menjawab dia tidak bisa tidur jika tidak dipeluk olehnya. Arata pun menutup Notebook-nya, lalu dia menyimpannya diatas meja dekat ranjang.
Dia ternyata lemnbut lalu mengecup kening Lili dengan lembut, tanpa disadari kecupan itu berjalan hingga ke bibir Lili. Arata bermain sejenak dengan bibir mandi Lili, sehingga membuat Lili terhayut oleh permainan Arata.
Mereka semakin menikmati permainannya, sehingga mereka tidak merasakan kantuk. Yang mereka rasakan adalah ingin terus melanjutkan permainannya, namun Arata berusaha agar tidak membuat lilin kesakitan.
Dia menatap Lili dengan lekat, betapa dia sangat mencintai Lili sehingga tidak ingin kehilangan dirinya. Arata berbisik pada Lili, apakah dia menikmatinya. Lili hanya bisa mengangguk, setelah selesai dengan permainan mereka. Akhirnya Lili tertidur, Arata menutupi tubuh Lili dengan selimut.
Papa Karim yang melihat mama sedang termenung berkata, "Ada apa Ma?!"
Mama terperanjat mendengar pertanyaan papa Karim sambil menepuk pundaknya, mama Hani pun menghela napas lalu mengatakan pada papa apa yang dia rasakan. Mendengar perkataan mama, papa pun mulai mengingat apa yang sudah dia lihat.
Ternyata apa yang dirasakan oleh mama sama dengan yang dirasakan oleh papa, namun demi menghilangkan kekhawatiran pada mama. Papa pun mengatakan mungkin yang kita rasakan atau pikirkan salah.
"Sudah, mungkin itu hanya perasaan kita saja! Lebih baik mama segera membersihkan diri, setelah itu kita beristirahat!" Papa berkata pada mama dan mama pun melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah mama Hani selesai dengan rutinitas membersihkan diri, dia melihat papa yang sudah tertidur pulas di atas ranjang. Mama Hani berjalan mendekati papa yang sedang tertidur, dikecupnya kening papa dengan lembut dengan mengatakan selamat malam.
Setalah itu mama Hani pun merebahkan tubuhnya diatas ranjang tepat disamping papa. Mama berusaha untuk tidur, namun kedua bola matanya tidak bisa diajak tidur. Karena mama Hani masih terpikirkan oleh sikap Nathan terhadap Lili dan Arata.
Dalam hati mama berharap tidak terjadi sesuatu hal yang buruk menimpa putri dan menantunya itu. Karena mereka sudah cukup menderita, sekarang saatnya bagi mereka untuk berbahagia.
Papa terbangun, dia melihat mama yang masih terjaga. Tanpa mengucapkan sepatah katapun papa memeluk Mama dengan hangat, dia ingin memberikan ketenangan pada mama.
Papa tahu yang sedang menjadi pikiran mama saat ini sehingga dia tidak bisa tertidur. Merasakan pelukan dari papa itu membuat hati mama menjadi tenang, mama pun semakin mendekatkan diri pada papa.
"Pa, semoga saja apa yang mama pikirkan itu salah ya! Karena mama tidak ingin terjadi sesuatu pada Lili dan Arata!" ucap mama pada papa yang masih belum saja bisa tertidur.
Mendengar perkataan mama yang terlihat jelas kekhawatiran di dalam dirinya, papa pun menjawab "Apapun yang terjadi Lili dan Arata adalah anak dan menantu kita! Jika terjadi sesuatu pada mereka, kita akan melindungi mereka dari bahaya apapun!"
Setelah mendengar apa yang dia katakan oleh papa membuat hati mama menjadi sedikit tenang. Dalam hatinya mama berdoa demi kesehatan dan keselamatan putri dan menantunya.
Papa memeluk mama dengan erat lalu terlelap dalam tidur, melihat papa yang sudah tertidur mama pun berusaha untuk mengistirahatkan seluruh otak, pikiran dan tubuhnya. Karena hari esok pasti akan lebih baik dari hari sebelumnya.
____________________________________________
Hai para pembaca setiaku, maaf kalau membingungkan ya, yang ingin tahu kelanjutan Alin dan Alex bisa lanjut baca di "Pembalasan si Kembar Wibowo" sudah bisa di baca ya, selamat membaca 😊😉
__________________________________________
Jika ada yang ingin ditanyakan padaku tentang karya dan bisa langsung menghubungi ku via akun Instagram.
Klik search di Instagram dengan nama akun :
@macan_nurul
Sekali lagi terimakasih untuk kalian semua 💋💋 jangan lupa ya like dan komen ya juga vote ya 😉 jangan lupa juga jadikan favorit ya 😉 😉
__ADS_1