Musuhku Menjadi Imamku

Musuhku Menjadi Imamku
Extra Part Lili-63


__ADS_3

Arata berlari dengan cepat karena melihat Lili terjatuh tak sadarkan diri, saat dia mendekat dia melihat darah segar mengalir hingga membuat pakaian Lili berubah warna menjadi merah.


"Cepat panggil ambulance!" Teriak Arata


Maru langsung memanggila almbulance, Arata begitu terpukul karena dia tidak bisa melindungi Lili. Beberapa saat kemudian ambulance tiba, Lili segera dibawa ke rumah sakit. Arata ikut bersama Lili di dalam ambulance.


Dalam perjalanan Arata merutuki dirinya, andai saja dia bisa lebih cepat tiba mungkin semua ini tidak akan terjadi. Tibalah mereka di rumah sakit, Lili langsung di bawa ke sebuah ruangan untuk ditangani oleh dokter.


Arata dan Maru menunggu di luar ruangan ICU, Arata tidak bisa menenangkan dirinya sendiri. Dia terus mondar-mandir karena dia khawatir dengan keselamatan Lili dan bayi yang ada di dalam kandungannya.


Arata melihat seorang dokter keluar dari ruangan, dia langsung menghampiri dokter tersebut. Dia bertanya bagaimana dengan keadaan istrinya.


"Tuan, maafkan kami keadaan istri dan bayi Adam dalam keadaan kritis. Anda harus memilih antara menyelamatkan istri anda atau bayi yang ada di dalam kandungan!" ucap dokter pada Arata.


Arata terhenyak dia tidak bisa memilih karena keduanya begitu penting baginya. Jika dia memilih bayinya yang diselamatkan maka dia akan kehilangan Lili yang begitu dia cintai. Jika dia memilih Lili maka dia akan kehilangan bayinya dan yang pasti Lili akan sangat marah karena pilihannya itu.


Dokter bertanya kembali, karena semua keputusan ada ditangan Arata. Jika tidak dilakukan penangan dengan cepat maka keduanya akan tiada. Arata masih memikirkan apa yang harus dia lakukan.


"Selamatkan istriku!" jawab singkat Arata.


Dokter bergegas memasuki ruang ICU, dia akan melakukan penanganan dengan cepat. Untuk menyelamatkan nyawanya sang ibu, yang artinya mengorbankan nyawa sang bayi.


Arata tidak tahu apakah keputusannya sudah tepat atau belum, dia masih memikirkan bagaimana jika loli bertanya tentang bayinya. Apakah dia bisa menerima semuanya dengan lapang dada.


Operasi yang dilakukan dokter terhadap Lili selesai, Lili pun sudah ditempatkan dalam ruangan rawat inap. Arata bergegas menemuinya, dia ingin sekali memeluknya dengan erat.


Dibukanya pintu ruang rawat inap, Arata melihat Lili yang sedang terbaring tidak sadarkan diri. Dia berjalan perlahan mendekati Lili, hatinya sangat sakit melihat semua ini. Dia sungguh menyesal dengan semua yang terjadi.


Arata sekali lagi membuat kesalahan yang fatal, yang pertama adalah saat dia mencemarkan Lili. Yang kedua adalah hari ini dimana dia telah menghilangkan bayi mereka. Entah apa yang akan terjadi pada Lili jika dia mengetahuinya.


"Tuan, apa yang akan anda lakukan dengan Nathan Wijaya?!" tanya Maru pada Arata.


Arata merasa sangat marah, ingin rasanya dia menghabisi langsung Nathan. Namun dia urungkan semua pikiran itu karena dia tidak ingin menjadi seorang iblis lagi. Sudah cukup dia menjadi iblis yang membuat lilin menderita.


"Penjarakan dia! Siksa dia di dalam penjara! Biarkan dia merasakan penderitaan!" ucap Arta dengan dingin pada Maru.


Maru pun pergi untuk mengerjakan apa yang sudah di perintahkan oleh Arata. Dokter tiba dia ruang rawat Lili, dia mengatakan jika besok Lili terbangun maka masa kritisnya sudah lewat.


Arata terkulai lemas, dia terduduk di samping Lili yang sedang terbaring di atas ranjang. Dia begitu takut kehilangannya, sehingga dia tidak mau beranjak dari sisi Lili. Dia merebahkan tubuhnya di samping Lili, yang diinginkannya adalah selalu berada di dekatnya.


Di pagi hari yang cerah Lili terbangun, dia mendapati Arata yang tertidur disampingnya. Dia membelai lembut Arata, belaian itulah yang membuat Arata terbangun.


Arata langsung memeluk Lili, dia sangat bersyukur akhirnya Lili sudah sadar. Dia mengecup kening, kedua pipinya dan mengecup sekilas bibirnya. Dia sungguh bahagia dengan bangunnya Lili yang menandakan masa kritisnya sudah lewat.


Lili merasa ada yang aneh dengan dirinya, dia merasa ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Dia memegang perutnya, dia sungguh terkejut mengapa perutnya sudah kembali seperti semula di saat dia belum mengandung.


"Di mana bayiku? Cepat katakan padaku! Di mana bayiku?" Lili berteriak bertanya mengenai bayinya.


Arata berusaha membuat Lili tenang, dia memeluk erat Lili agar dia tidak terlalu banyak bergerak. Tidak terasa air mata Arata menentes membasahi kedua pipinya, dia tidak kuasa melihat Lili seperti ini.


"Katakan padaku dimana bayiku?" Lili menangis, dia bertanya pada Arata diamankan bayinya.


Namun Arata tidak kuasa untuk mengatakan bahwa bayi mereka sudah tiada. Dia tidak mau Lili mengalami penderitaan akibat kehilangan bayinya. Namun Lili terus memaksa Arata untuk mengatakan di mana bayinya.


"Bayi kita sudah tiada!" jawab Arata singkat namun tersirat rasa sedih yang mendalam.


Lili terhenyak setelah mendengar jawaban Arata, dia tidak percaya atas apa yang dikatakan Arata.


"Kau pasti bohong 'kan? Kau sedang menggodaku 'kan? Ayo jawab Arata!" Lili berkata dengan lirih.


Arata hanya diam, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Karena semua yang dia katakan memang adanya. Dia melihat Lili yang masih tidak percaya dengan apa yang dia katakan.


Melihat Arata yang hanya diam membisu, Lili tahu betul jika dia diam berati apa yang dikatakannya benar. Lili langsung berteriak histeris menginginkan bayinya, dia melepaskan selang infus yang terpasang di lengannya. Sehingga darah segar mengalir dari jarum selang infus yang terbuka karena di paksa.


"Kembalikan bayiku! Cepat kembalikan bayiku! Kau sudah berjanji padaku akan menjaga bayi kita! Kau berbohong padaku Arata! Cepat kembalikan bayiku!" Teriak Lili dengan berlinang air mata.


Dia terus histeris menginginkan bayinya, sehingga beberapa perawat masuk ke ruangan tersebut lalu menyuntikan obat penenang. Agar dia bisa menenangkan dirinya. Dia terus histeris hingga akhirnya dia tertidur akibat obat penenang yang di suntikan oleh seorang perawat.


Arata terduduk lemas di samping Lili, dia sungguh sedih melihat istrinya seperti ini. Beberapa saat kemudian tibalah mama dan papa Karim, mereka langsung mendekati Lili yang sedang tertidur.


Melihat mama dan papa Karim, Arata menjauh dari mereka dia keluar dari ruangan tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dia menangis hingga memukul tembok dengan kedua tangannya. Dia tidak menyadari jika kedua tangannya sudah terluka.


"Hentikan Arata! Jangan kau lukai dirimu!" ucap ayah Karim yang mengerti betul rasa sedih yang dirasakan oleh Arata.


Arata menghentikan melukai dirinya sendiri, dia menangis hanya menangis tidak. Papa Karim baru melihat Arata terpuruk seperti ini, dia merasakan bahwa Arata begitu mencintai bayi mereka.

__ADS_1


Namun dia juga harus memilih antara istri yang dicintainya atau anak yang disayanginya. Papa Karim mengajak araya untuk duduk agar dia bisa menenangkan dirinya.


Seorang perawat melewati mereka, papa Karim meminta bantuan pada perawat tersebut untuk mengobati luka di kedua tangan Arata. Perawat itu pun bergegas mengambil perlengkapan untuk mengobati Arata.


Beberapa saat kemudian perawat datang dengan membawa peralatan untuk mengobati luka Arata. Setelah luka Arata diobati dan dipasang perban, perawat tersebut meninggalkan papa dan Arata.


Papa hanya diam menemani Arata duduk, dia tidak akan memaksa Arata untuk menceritakan bagaimana peristiwa itu bisa terjadi. Papa melihat Arata kembali menangis, sungguh terpuruknya dia sehingga bisa membuatnya menjadi lemah seperti ini.


**


"Tidakkkkk! Dimana bayiku? Berikan bayiku? Mama aku mohon bawakan bayiku padaku! Arata tidak mau membawakan bayiku! Ma Lili mohon, bawa bayi Lili!"


Setiap Lili terbangun dia selalu saja histeris meminta bayinya, itu semakin membuat Arata sedih. Dia tidak ingin melihat Lili seperti ini, dalam benaknya berkata kemana Lili yang dulu pernah menghajarnya hingga tidak berdaya.


Dua hari telah berlalu keadaan Lili masih saja tidak ada perubahan, meski mama dan papa Karim sudah menasehatinya dia masih saja tidak bisa menerima semuanya. Dia masih saja histeris meminta bayinya, ibu dan ayah Amida pun terlihat sedih melihat menantu kesayangannya terpuruk seperti ini.


"Kembalikan bayiku! Aku bilang kembalikan!" Teriak Lili berulang setiap dia teringat akan bayinya.


Plak!


Arata menampar pipi Lili sehingga, semua terkejut melihat Arata yang memukul Lili. Dia sudah tidak tahan lagi melihat sikap Lili yang tidak bisa menerima atas kematian bayi mereka.


"Sudah cukup hentikan! Sampai kapan kau akan terpuruk seperti ini hah! Apa kau ingin menjadi gila! Kemana Lili yang bisa menghajarku hingga tidak berdaya? Kemana Lili yang selalu bisa menerima setiap penderitaan hidup? Kemana Lili yang selalu memiliki tujuan hidup? Kemana istriku yang tangguh pergi?" Arata berkata sembari memegang pundak Lili.


Tidak terasa air mata Arata mengalir, dia menyesali karena telah menampar Lili dengan sangat keras. Sehingga pipi Lili terlihat memerah akibat tamparan Arata, dia memegang pipi Lili dengan lembut. Lalu dia memeluknya dengan erat.


Tangisan Lili menyeruak di dalam pelukan Arata, baru kali ini dia mengeluarkan seluruh emosinya dengan menangis. Semua yang melihat semua ini merasakan kesedihan yang sangat mendalam.


Begitu terpuruknya Lili akibat kehilangan bayinya, sehingga membuat dia tidak bisa berpikir jernih. Setelah tertampar oleh Arata entah apa yang akan terjadi, apakah Lili akan kembali seperti dulu atau menjadi semakin terpuruk.


"Maafkan aku sayang, ini semua salahku! Sehingga kau menderita seperti ini, aku yang sudah tidak bisa menjaga kalian. Jika kau ingin menyalahkan atas kematian bayi kita, lebih baik kau salah aku saja! Namun yang aku mau kau kembali seperti Lili yang ku kenal!" ucap Arata sembari memeluk Lili yang masih menangis.


Setelah lelah dengan menangis Lili akhirnya tertidur dalam pelukan Arata, dia menggendong Lili lalu membaringkannya di atas ranjang. Dilihatnya pipi Lili yang memerah akibat tamparan yang dia lakukan. Hatinya sangat sakit.


Tidak terasa sudah waktunya Lili kembali ke rumah, meski dia masih dalam keadaan yang belum baik. Namun Lili meminta untuk kembali ke rumah, dia sudah tidak ingin berada di rumah sakit. Sebelum pulang ke rumah, Lili dan Arata menemui seorang dokter kandungan.


Setelah menemui dokter, Arata merasa lega karena Lili masih bisa menjalankan program untuk memiliki anak lagi. Karena tidak ada masalah dengan rahimnya, dokter berkata bisa melakukan program lagi setelah 1 atau 2 bulan berikutnya.


Tibalah Lili dan Arata di rumah, Lili merasa rindu dengan suasana rumahnya. Dia berjalan menelusuri setiap ruangan yang dulu pernah dia lalui sewaktu dia masih mengandung. Wajahnya penuh dengan kesedihan, dia sungguh tidak menyangka bahwa akan kehilangan bayinya.


Dia berjalan menuju sebuah gazebo lalu dia duduk di atas kursi, dia hanya diam pasangannya kosong. Arata yang melihat Lili seperti ini begitu sedih, Maru menghampirinya.


"Siapa dia?" tanya Arata pada Maru.


"Nona Sella, dia adalah istri dari Nathan Wijaya!" ucap Maru singkat.


Dalam benak Arata berkata mau apa dia datang ke mari, jika dia meminta untuk membebaskan Nathan. Jangan harap Arata akan membedakannya begitu saja, karena perbuatan Nathan telah membuat Lili menjadi seperti ini.


Arata menemui Sella yang sudah menunggunya di ruang tamu, namun Arata menyuruh Maru untuk membawa Sella ke ruang bacanya. Karena dia tidak mau jika Lili mendengar pembicaraan antara Arata dan Sella.


"Mari Nona ikuti saya! Tuan Arata sudah menunggu Anda di ruang bacanya!" Maru berkata lalu berjalan menuju ruang baca yang diikuti oleh Sella.


Tok!


Tok!


"Masuk!"


Maru membuka pintu ruang baca, lalu dia masuk diikuti Sella dari belakang badan Maru. Dia mempersilakan Sella untuk duduk sedangkan dia berdiri di belakang Arata.


"Ada apa anda menemui saya?!" ucap Arata pada Sella dengan dingin.


Sella tahu bahwa yang dilakukan oleh Nathan sengguh keterlaluan, mungkin tidak termaafkan. Namun dia adalah seorang istri yang ingin suaminya bebas dan mendapatkan maaf serta kesempatan untuk merubah diri.


"Saya datang kemari untuk meminta maaf atas segala kesalahan yang telah Nathan lakukan." Sella berkata dengan lirih ada perasaan malu atas perbuatan suaminya itu.


Arata terdiam mendengar perkataan Sella, dia masih ingin mendengar apa lagi yang diinginkan oleh wanita itu. Apakah dia tahu yang sudah dilakukan Nathan pada Lili.


"Apakah kau tahu apa yang sudah dilakukan suamimu pada istriku?!" ucap Arata dengan dingin.


Sella tidak mengetahui apa yang terjadi pada Lili, karena yang dia tahu Nathan telah menculik Lili. Selebihnya dia tidak tahu lagi, karena sangat sulit mencari informasi tentang Lili setelah penculikan itu.


"Saya tahu apa yang telah Nathan sudah keterlaluan, dia menculik Lili. Saya mohon maafkan suami saya, berikan kesempatan padanya untuk memperbaiki semuanya!" Sella berkata penuh harap.


"Lebih baik anda melihat sendiri apa yang telah Nathan lakukan pada istri saya!" Arata berkata lalu berjalan menuju Lili berada.

__ADS_1


Maru mempersilahkan Sella untuk mengikuti Arata, mereka pun mengikuti Arata dari belakang. Arata melihat Lili masih termenung, entah apa yang sedang dia pikirkan.


Sella terkejut melihat Lili yang sedang terduduk di gazebo, dia tidak tahu apa yang terjadi padanya. Terlihat jelas perbedaan Lili saat terkahir bertemu dengannya, sebenarnya apa yang telah terjadi batinnya.


"Anda melihat itu semua, Nona Lili telah kehilangan bayinya. Dan itu disebabkan oleh Nathan!" Maru berkata dengan penuh amarah.


Sella terhenyak, dia sungguh tidak menyangka bahwa Nathan bisa melakukan semua ini. Bukankah dia sangat mencintai Lili, jika seperti ini bukan cinta namanya namun ini adalah obsesi belaka.


"Bolehkah aku bicara dengan Lili?" Sella bertanya pada Maru.


Maru berjalan mendekati Arata dan bertanya apakah Sella boleh mendekat pada Lili. Karena Sella ingin bicara dengan Lili. Arata mengatakan bahwa Sella boleh mendekati Lili.


Maru memberi tanda pada Sella bahwa dia boleh mendekati Lili dan bicara padanya. Sella berjalan perlahan mendekati Lili, dia sungguh sedih karena semua ini adalah perbuatan Nathan. Bagaimana dia akan meminta Lili untuk memaafkan Nathan lalu membebaskannya.


"Lili...." Sella memanggil nama Lili, namun Lili menghiraukan sapaan Sella.


Sella duduk di depan Lili, dia menatap Lili dengan lekat. Tidak terasa air mata Sella menetes, dia melihat seorang wanita yang tangguh menjadi terpuruk dan itu di sebabkan oleh suaminya sendiri.


"Li maafkan aku, aku tidak bisa mencegah Nathan untuk melakukan semua ini! Maafkan aku Li..."


Sella terus berkata meminta maaf pada Lili namun dia hanya diam saja, dia tidak menanggapi semua perkataan Sella. Akhirnya Arata menyuruh Sella untuk pergi, karena sudah saatnya Lili untuk beristirahat.


"Maru antarkan dia untuk keluar! Sudah cukup dia bertemu dengan Lili! Dan satu lagi, aku belum bisa membebaskan orang yang telah membunuh anak kami yang tidak berdosa!" ucap Arata sembari memapah Lili untuk menuju kamarnya.


Lili melewati Sella, dia menghentikan langkahnya. Lalu dia berkata, "Ini bukan salahmu! Ini adalah salahku yang tidak bisa menjaga anakku!"


Arata terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Lili, apakah dia sudah bisa menerima semuanya? Apakah dia akan kembali menjadi Lili yang dia kenal? Semua pertanyaan itu bergelayut di otaknya.


**


Hari sudah malam Arata melihat Lili yang masih duduk terdiam di atas sofa, sudah saatnya membersihkan diri. Dia mendekati Lili lalu duduk disampingnya, dia berkata waktunya untuk membersihkan diri.


"Sayang, ayo aku bantu kau membersihkan diri!" Arata berkata lalu mengajak Lili untuk masuk ke kamar mandi.


Arata membuka pakaian Lili satu per satu hingga tidak sehelai kain pun menempel di tubuhnya. Dia memutar keran shower sedikit demi sedikit air menetes hingga akhirnya membasahi seluruh tubuh Lili. Dia mengambil sabun di tempatkanya di telapak tangannya, lalu dia membersihkan tubuh Lili menggunakan sabun yang sudah ada di telapak tangannya.


Setelah selesai membersihkan diri Lili, dia memakainkan Lili handuk dan mendudukkannya di atas kursi kecil yang sudah tersedia di dalam kamar mandi. Setelah itu Arata membersihkan dirinya.


Setelah selesai dengan rutinitas membersihkan diri Arata membantu Lili memakai pakaian tidurnya. Lalu dia mengeringkan rambut yang basah akibat siraman air, Arata sungguh mengurus Lili dengan sangat baik.


"Sayang, sampai kapan kau akan seperti ini? Aku sungguh rindu dirimu yang dulu! Cepatlah kau kembali menjadi Lili ku yang dulu!" ucap Arata pada Lili.


Setiap hari hanya menjaga dan merawat Lili, sudah seminggu Arata tidak masuk kantor. Dia memilih mengerjakan semua pekerjaannya di rumah, sehingga dia bisa merawat Lili.


Semua orang menjenguk Lili, mengajak bicara namun dia belum kembali seperti Lili yang dulu. Yang sering datang ke rumah adalah Novi dan Sarada, mereka berusaha mengajak Lili untuk bicara agar dia bisa kembali seperti dulu. Semuanya membutuhkan proses yang cukup lama.


Semua itu membuat Arata sangat sedih, karena sudah satu bulan Lili belum mengalami perubahan yang signifikan. Namun dia tidak merasa lelah dan putus asa, dia masih terus bersabar menghadapi sikap Lili yang hanya diam.


Malam ini tidak biasanya Lili tertidur lebih awal, ini adalah kesempatan bagi araya untuk mengerjakan semua pekerjaan yang belum terselesaikan. Dia berjalan menuju sofa lalu dia duduk dan membuka laptopnya.


"Lili sayang, kenapa kau bisa menjadi seperti ini? Apakah kau tidak sayang dengan suami dan keluargamu? Mereka masih membutuhkanmu? Suamimu sangat membutuhkanmu? Apa kau akan seperti ini selamanya?" ucap kakek pada Lili.


"Kakek, aku begitu merindukanmu! Aku belum bisa memaafkan diriku atas kehilangan bayiku! Jika saja aku bisa menjaganya dengan baik, maka sampai saat ini pasti bayiku masih hidup! Lebih baik aku tiada saja!" Lili berkata dengan beruraian air mata.


"Itu bukan salahmu sayang, semua ini sudah jalannya dari Yang Maha Kuasa kau tidak bisa menyalahkan dirimu terus. Kau harus ingat masih ada orang yang membutuhkanmu! Ada suamimu yang sangat mencintaimu dan membutuhkan perhatianmu! Apakah kau ingin membuatnya terpuruk sepertimu?" jawab kakek pada Lili.


Lili menangis dia membayangkan bagaimana jika Arata jatuh terpuruk akibat dirinya. Dia merasa bersalah karena tidak bisa menjaga baik-baik calon anak mereka, ditambah dengan dirinya yang tidak ingin menerima semua kenyataan bahwa bayinya sudah tiada.


"Kau harus ingat sayang, kau hidup bukan untuk dirimu sendiri namun juga untuk orang-orang yang mencintaimu! Teruslah berjuang demi mereka yang mencintaimu! Janganlah kau menyerah hanya dengan suatu kejadian yang menyebabkan kau kehilangan seseorang, karena masih ada orang yang membutuhkanmu!"


Setelah mengatakan semua itu, kakek pun menghilang secara perlahan. Lili terbangun dari tidurnya. Dia melihat Arata yang sedang duduk di atas sofa, terlihat jelas Arata sangat kurus. Tidak terasa air matanya mengalir, dia merasa bersalah karena telah menyusahkan suaminya.


"Maafkan aku sayang, karena aku kau pun ikut menderita!" ucapnya dalam hati.


Dalam benaknya Lili berkata, mulai detik ini dia akan kembali menjadi dirinya yang dulu. Dia tidak akan menjadi lebih terpuruk lagi, dia akan terus berusaha membahagiakan orang-orang yang dia cintai.


Lili terima gatel oleh Nathan, dia sungguh membencinya. Dia berniat akan memberinya pelajaran karena sudah berani menculiknya dan mengakibatkan dirinya kehilangan bayi yang begitu dia cintai.


Sudah cukup baginya terkukung dalam penyesalan yang tiada akhir, sekarang saatnya dia bangkit kembali. Meski dia tidak akan melupakan semuanya, namun yang pasti dia tidak ingin membuat semua orang menderita karenanya.


Keesokan harinya Lili bangun lebih awal dia berjalan memasuki kamar mandi, dia berniat untuk membersihkan diri lalu mengambil air wudu. Dia hendak salat karena semenjak dia terkurung dalam penyesalannya dia menjadi jauh dari Yang Maha Kuasa.


"Sayang, bangunlah ayo kita salat bersama!" Lili berbisik pada Arata lalu dia mengecup keningnya dengan lembut.


Arata terkejut lalu dia membuka kedua matanya, dia melihat Lili sudah mengenakan mukena. Dia menggosok-gosok kedua matanya menandakan dia tidak percaya apa yang dia lihat. Lili tersenyum lembut, lalu dia mengatakan agar Arata mengambil air wudu. Dia akan menunggunya untuk salat.

__ADS_1


Arata bergegas menuju kamar mandi, untuk membersihkan diri lalu mengambil air wudu. Setelah selesai dengan rutinitas membersihkan diri, Arata keluar dari kamar mandi dan bersiap untuk menjadi imam salat bersama Lili.


Betapa dia sangat bersyukur dengan perubahan Lili, dia tidak tahu apa yang menyebabkannya bisa kembali menjadi istrinya yang dulu. Dia pun memulai salat bersama dengan Lili


__ADS_2