Musuhku Menjadi Imamku

Musuhku Menjadi Imamku
BAB 82


__ADS_3

Aku menyelesaikan pekerjaan ku dengan cepat, sehingga sore nanti aku bisa bertemu dengan Lili dan Salma di basecamp.


Drrrttttt...


Drrrttttt...


Drrrttttt...


Alex menghubungi ku, angkat.


"Hallo sayang, aku jemput sekarang ya?" Tanya Alex pada ku.


"Ga usah Yang, aku langsung ke basecamp saja! Nanti kau bisa menyusul ku kesana."


"Baiklah kalau begitu kita bertemu disana!" Alex berkata sambil menutup teleponnya.


Tak terasa waktu sudah sore, aku pun mengganti pakaian ku dengan pakaian yang nyaman dipakai untuk mengendarai sepeda motor. Aku menyuruh Pak Dim untuk menyiapkan sepedah motorku. Aku pun sudah siap dan menyalakan mesin motorku, kutarik gas aku pun melesat dengan kecepatan penuh menuju basecamp.


Ternyata yang sudah ada di basecamp adalah para lelaki. Sedangkan kami baru saja sampai dengan kendaraan roda dua kami. Arata terkesima yang baru pertama kali melihat kami bertiga mengendarai sepedah motor. Apalagi setelah melihat Lili pandangan nya tidak bisa lepas dari Lili.


Salma langsung menghampiri Arata dan berkata, "aku tidak mau basa basi lagi, sekarang jelaskan semuanya!"


"Biar aku cerita semuanya!" Ucap Lili dengan tegas.


Lili pun menceritakan dari awal terjadinya peristiwa itu sampai akhirnya dia menikah dengan Arata. Salma yang mendengarkan semua itu langsung memancarkan aura kemarahannya.


"Terus kenapa kamu bersedia menikah dengan dia, yang telah melecehkan kalian hah!" Salma berkata dengan nada marah.


"Mungkin semua ini sudah takdir ku, mungkin juga dia adalah jodoh ku. Namun cara mempertemukan kita dengan hal yang sangat menjijikkan," Jawab Lili.


"Bug...!"


Terdengar suara tinjuan dan seseorang terjatuh. Tak lain Mas Rio melayangkan tinjuan nya seketika Arata jatuh tersungkur.


"Berani sekali kau melakukan hal menjijikan kepada adik ku Alin dan Lili hah!" Mas Rio sangat marah dan tidak bisa mengendalikan amarahnya.


Terjadilah perkelahian antara mereka, Arata tidak melawan hanya bisa menangkis dan menghindar. Karena dia tahu semua ini salah kesalahannya, jadi dia tidak mau melukai Kaka dari Alin.


"Cukup Mas, udah ga da gunanya Mas memukulinya!" Teriak Salma.


"Ini belum cukup Sal! Dia udah berani melakukan hal yang menjijikkan pada Lili dan Alin!" Teriak Rio.


"Mas, sudah cukup! Mau mas pukul dia sampai tak bernyawa pun tidak ada gunanya," ucap Lili pada Rio.


Rio yang mendengar perkataan Lili langsung menghentikan tindakannya. Tapi Salma malah memberikan tonjokan dan tendangan pada Arata. Setelah itu Salma langsung memakai helmnya dan menjalankan motor nya dengan kecepatan tinggi untuk mengelilingi arena balapan. Lili yang melihat Salma sudah mulai memacu motornya mengikuti Salma dari belakang.


Begitupun dengan ku, aku tidak mau mereka terlalu berlebihan sehingga membuat mereka terluka. Akhirnya ku pacu motorku untuk mengejar mereka. Akhirnya terjadi saling salip menyalip antara kita bertiga. Itu membuat Salma dan Lili menikmati nya, adrenalin mereka terpacu begitu pun dengan ku.


Alex yang melihat kami memacu motor kami, hanya bisa memperhatikan saja sambil senyum-senyum. Begitupun dengan Mas Rio, karena sudah lama dia tidak melihat balapan kami bertiga. Sedangkan Arata yang masih menahan rasa sakitnya akibat di hajar oleh Rio dan Salma tadi. Tapi setelah melihat Lili rasa sakit itu pun berangsur menghilang.


"Sudah puas kalian?" Tanya Alex pada kami yang baru selesai balapan.


Aku pun membuka helm ku dan berkata, "hahaha aku puas sekali, malahan aku pingin sekali lagi tapi dengan mu sayang?"


"Bagaimana kalau kita semua balapan motor?" Sambung Lili dengan semangat.


"Oke siapa takut!" Rio berkata.


"Oke kalau itu mau mu sayang, Ari siapkan tiga motor untuk kami!" Ucap Alex padaku dan menyuruh Ari menyiapkan tiga motor untuk Alex, Mas Rio dan Arata.


Beberapa saat kemudian datang tiga motor, setelah motor datang Alex, Mas Rio dan Arata langsung bersiap-siap. Kami pun sudah siap di arena balapan. Ari bertindak sebagai pemberi aba-aba, sepersekian detik aba-aba sudah di lepaskan. Kami langsung menarik gas motor kami. Kami saling salip karena tidak ada yang mau mengalah.


Tiba-tiba motor Arata terjatuh, Arata terduduk karena lemas. Mungkin dia kelelahan karena tadi sudah berkelahi dengan Rio, Lili yang melihat Arata terjatuh langsung berbalik arah dan mendekati Arata. Entah kenapa Lili langsung mendekati Arata dan berkata, "kau tidak apa-apa?"


"Tidak, aku tidak apa-apa! Sebaiknya aku pulang duluan, jika kau masih mau bersama teman-teman mu lanjutkan saja." Arata berkata, dia berdiri dan berjalan meninggalkan Lili dan kawan-kawan.


"Li gimana kamu mau pulang juga?" Tanya ku pada Lili.

__ADS_1


"Sepertinya begitu Lin, aku pulang dulu ya!" Jawab Lili singkat.


"Ya udah sana kamu pulang Li, kasihan dia!" Sambung Salma.


"Ok kalau begitu aku pulang duluan ya Mas Rio dan Alex." Lili berkata sambil menyalakan mesin sepedah motor nya dan melesat cepat meninggalkan Alin dan semuanya.


"Sal, Lin kenapa kalian mengijinkan Lili untuk mengejar Arata?" Tanya Rio yang kesal karena mereka menyuruh Lili pergi menyusul Arata.


"Entahlah Mas aku juga tidak tahu, aku melihat Arata berbeda dengan yang di ceritakan Lili. Mungkin dia sudah berubah, tapi aku tidak tahu mengapa hati ku berkata dia adalah imam yang cocok untuk Lili," Jawab Salma.


"Iya Mas, aku pun merasakan hal itu dia sudah berubah!" Sambung ku pada Mas Rio.


"Aku masih belum mengerti dengan kalian!" Rio berkata dengan nada kebingungan dan kesal.


"Dia memang sudah berubah Mas Rio, dia sudah kembali seperti Arata yang dulu. Arata yang bisa berbuat kejam pada saingan dan musuhnya. Tapi dia tidak pernah akan menyakiti seorang wanita," ucap Alex dengan nyakin.


"Terserah kalian lah, mudah-mudahan apa yang kalian pikirkan itu benar dan baik buat Lili, ya udah Mas pulang dulu ya!" Mas Rio berkata.


"Mas ga marah sama Salma kan?" Sama berkata dengan nada sedih.


"Ga lah masa Mas marah sama calon istri Mas sendiri!" Sindir Rio pada Salma.


"Hahaha sudah sana pulang Mas, nanti Ayah dan Bunda cari kamu!" Aku berkata dengan menyindir Mas Rio.


"Halah adik kesayangan Mas udah bisa mengusir Mas, sedih banget Mas ini sudah mulai di tinggalkan adik kesayangan ku."


"Hahaha Mas jangan lebay deh ahh, jijik aku mendengar mu berkata seperti itu!" Jawab ku dengan tertawa.


"Ahh sudahlah aku pulang saja, Sal kamu langsung pulang ya! Ingat jangan kemana-mana kamu harus langsung pulang!"


"Siap calon imamku." Jawab Salma.


"Mas aku mohon jangan bilang Ayah dan Bunda ya tentang kejadian ini, aku tidak ingin membuat Ayah dan Bunda merasa sedih dan khawatir. Karena sekarang aku sudah tidak apa-apa," Ucapku pada Mas Rio.


"Baiklah, kali ini aku akan menuruti permintaan mu!" Jawab Rio singkat.


Mas Rio pun langsung pulang, karena sudah janji pada Ayah dan Bunda untuk segera pulang. Begitu pun Salma dia langsung pulang, karena di sudah tidak ada hal yang akan dilakukan lagi.


"Aku bawa motor Yang, kalau aku ikut kamu motor ku gimana?"


"Ari urus semua motor ini! Dan kau sayang harus pulang bersamaku, tidak ada bantahan lagi!"


" Baik Tuan Muda!" Jawab Ari.


"Hah baiklah lah terserah kau saja, lelah aku berdebat dengan mu."


Aku pun ikut pulang bersama Alex dan Asisten Ari. Tadinya aku masih ingin memacu motorku dengan sangat cepat untuk sampai di rumah. Ternyata suami ku sudah kembali sifat memerintahnya.


*****


Lili POV


Arata sudah kembali ke rumah, beberapa saat kemudian Lili pun sampai di rumah. Aku melihat Arata sedang membuka kemejanya, tapi dia kesulitan, mungkin karena tadi dia tidak melawan sama sekali saat bertarung dengan Mas Rio. 'Tapi kenapa aku harus memikirkannya, hai Li ngapain kamu perduli sama monster itu. Biarkan saja dia merasakan akibat yang telah dia perbuat.' Gumam ku dalam hati. Tapi kenapa kaki dan tangan ini ingin membantunya, aku melangkah mendekatinya.


"Sini ku bantu kau melepaskan pakaian mu!"


Arata yang kaget dengan kedatangan Lili, langsung mundur dan menghindar dari Lili. Karena dia tidak mau Lili teringat akan hal yang menjijikkan itu.


"Tidak perlu aku bisa sendiri, lebih baik kau istirahat saja." Ucap Arata sambil pergi masuk ke kamar mandi.


"Huh dasar kau monster, aku mau membantumu tapi kau tidak mau. Ya sudah kau lakukan saja semuanya sendiri." Aku berkata sambil meninggalkan dia sendiri.


'Maafkan aku Lili, aku tidak mau kau terus mengingat hal itu. Dan aku pun sebenarnya sakit sekali jika kau memanggilku monster. Tapi itu memang pantas untuk ku. Karena sifat mister ku yang dulu telah menghancurkan mu,' gumam Arata dalam hati.


Beberapa saat kemudian Arata selesai membersihkan lukanya, namun dia belum mengoleskan obat pada luka di tubuhnya. Banyak sekali memar-memar di tubuhnya, dia menahan semua rasa sakitnya. Dia berpikir ini belum seberapa dengan hal yang dia lakukan pada Lili dan Alin. Ini adalah hukuman baginya, karena telah melakukan hal yang menjijikkan. Arata pun merebahkan badannya di kasur, walau badannya terasa sakit. 'Lebih baik aku tidur saja, mungkin besok rasa sakit ini akan sedikit berkurang,' gumam Arata dalam hati.


Beberapa saat kemudian aku masuk ke dalam kamar, kulihat Arata sudah berbaring di kasur. Kenapa aku memikirkannya, tapi hati ini masih sangat membencinya. Lebih baik aku tidur saja, lagian dia juga pantas menerima semua ini seharusnya lebih parah dari ini. Kau lihat saja akan ku balas semua yang telah kau lakukan padaku. Aku ingin kau sangat menderita sampai akhir.

__ADS_1


Awwww...


Terdengar suara erangan kesakitan Arata saat dia akan membalikkan badannya. Dia hanya menggunakan kimono untuk tidur. Jadi terlihat jelas memar yang ada di tubuhnya. Aku pun langsung mendekatinya dengan membawa kotak obat. 'arrrggh apa yang kulakukan sih, biarkan saja dia merasakan kesakitan. Dia memang pantas mendapatkannya!' lebih baik aku tidur saja lah. Aku pun melangkah pergi keluar kamar, karena air persediaan di kamar habis.


Arata terbangun melihatku keluar kamar, dia melihat kotak obat di atas meja samping tempat tidur tersenyum tipis. Dan Arata kembali tertidur, anehnya rasa sakit yang dirasakan tadi berangsur menghilang.


Setelah aku mengambil minum, aku langsung menyimpannya di atas meja. Lebih baik aku tidur besok aku harus mengerjakan sesuatu. Aku pun menuju sofa yang cukup besar dan sengaja ku simpan di dalam kamar agar aku bisa tidur disana. Sebelum tidur aku membuka laptop ku guna mengecek email yang masuk. Tanpa terasa mataku semakin berat dan tak bisa menahan rasa kantukku, akhirnya aku tertidur.


Arata yang terbangun karena haus, melihat Lili tertidur di atas sofa. Dia mendekatinya dan menyelimutinya. 'Andai saja kita bertemu dengan cara yang berbeda, mungkin tidak akan menjadi seperti ini. Maafkan aku yang telah membuatmu sangat menderita,' gumam Arata dalam hatinya.


Keesokan harinya, aku terbangun dan melihat tubuhku tertutup selimut. Seingatku aku tidak memakai selimut tadi malam, apa mungkin aku lupa. Ahh sudahlah lebih baik aku ambil air wudhu dulu terus sholat. Pas aku mau masuk ke kamar mandi, aku kaget Arata keluar dari kamar mandi.


"Kita sholat bersama, cepatlah ambil wudhu mu!" Ucap Arata dengan lembut.


Aku pun tanpa berkata langsung menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu. 'Aku tak mengira bahwa dia sholat, yang aku tahu dia memang seorang keturunan Jepang Muslim,' gumamku dalam hati. Setelah mengambil air wudhu aku pun keluar dan bersiap menggunakan mukena ku, ternyata dia sudah menungguku, kami pun akhirnya sholat bersama.


Meskipun dia terlihat berbeda dan sudah menjadi lebih baik, aku masih belum bisa melupakan perbuatannya. Jika aku melihat dia aku selalu terbayang peristiwa itu rasanya aku ingin menghajarnya.


Drrrttttt...


Drrrttttt...


Drrrttttt...


Suara handphone ku berbunyi ternyata Mama menelepon ku.


Angkat.


"Hallo sayang, bagaimana kabarmu?" Tanya Mama Hani padaku di sebrang sana.


"Alhamdulillah Mah, gimana kabar Mama dan Papa disana?" Jawabku dengan lembut.


"Alhamdulillah baik sayang, oia sayang Mama bisa minta tolong ga?"


"Minta tolong apa Mah?"


"Kamu pergi ke Bandung ya, untuk bertemu dengan salah satu client sekalian kamu bertemu dengan Nenek disana!"


"Ohh gitu, oke deh tar siang sehabis meeting aku langsung ke Bandung!" Jawabku.


"Kamu pergi bersama Arata ya sayang, ingat Nenek tidak tahu tentang hal yang terjadi sebaiknya kamu bersikap baik pada suami mu!"


"Apa aku selama ini kurang bersikap baik padanya?" Ucap ku dengan nada kesal.


"Hanya kau yang bisa menilainya, karena Mama tahu kau belum bisa sepenuhnya menerima dia sebagai suami mu. Tapi belajarlah sayang berdamai dengan dirimu sendiri."


"Iya-iya Mama ku yang cantik dan baik hati, aku akan mengingat semua petuahmu," Jawabku.


"Hahha sekalian saja kau tambahkan dan tidak sombong, Mama pasti sangat senang mendengarnya hahahha."


"Haha Mama, sudah dulu ya aku mau pergi meeting dulu!"


"Iya tapi ingat pesan Mama ya!"


"Yes Mom!"


Bip... Mama pun menutup telepon.


___________________________________________


Sampai bertemu di bab berikutnya 😊


___________________________________________


Jika ada yang ingin ditanyakan padaku tentang karya dan bisa langsung menghubungi ku via akun Instagram.


Klik search di Instagram dengan nama akun :

__ADS_1


@macan_nurul


Sekali lagi terimakasih untuk kalian semua 💋💋 jangan lupa ya klik dan komen ya juga vote ya 😉


__ADS_2