
Pesta malam ini masih berlanjut, Sarada masih mengamati pria yang sedari awal kedatangan mereka terus memperhatikan Lili. Sarada meminta ijin pada Lili untuk pergi ke toilet, Lili mengangguk.
"Hallo Nona, bisakah kita berkenalan? Perkenalkan aku Natan! Sepertinya Nona bermasalah dari Indonesia!" ucap seorang pria bernama Natan pada Lili.
Lili tersenyum, namun dia menatap pria itu. Dia adalah pria yang sedari tadi memperhatikannya. Rupanya dia sudah mulai berani mendekatiku, kata hati Lili.
"Hallo Tuan Natan, anda bisa memanggil saya Nyonya Arata! Karena itu adalah nama suami saya." Lili berkata dengan maksud agar dia tidak terlalu berharap.
Namun apa yang dipikirkan Lili berbeda dengan kenyataanya, ternyata Natan masih saja tidak mengerti maksudnya, dia bersikap biasa saja. Sarada melihat pria itu sudah ada di dekat nyonya Lili, dia bergegas menghampiri nyonyanya.
Lili menyadari ketidaksukaannya terhadap Natan, untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan Lili mengajak Sarada untuk pergi. Karena pesta sudah hampir selesai, Lili memutuskan untuk pergi dari pesta tersebut.
Dalam perjalanan pulang Lili melihat Sarada masih kesal, Lili tersenyum sebegitukah dia melindungiku ucapnya dalam hati.
"Kau masih kesal?" Lili bertanya pada Sarada.
Seketika Sarada mengeluarkan kekesalannya, tanpa menggunakan jeda. Dia terus berkata ini dan itu, sehingga membuat Lili terkekeh. Melihat nyonyanya terkekeh, Sarada kesal entah mengapa dia sudah menganggap nyonyanya itu seperti kakaknya sendiri.
"Sudahlah Nyonya tidak menganggap aku serius!" Sarada mengegerutu, karena sang nyonya menertawakannya.
Lili tanpa mengatakan apapun langsung memeluk Sarada, dia tahu Sarada sangat menyayanginya. Oleh sebab itu Lili menganggap Sarada seperti adiknya sendiri, karena dia tidak memiliki adik.
"Kau mau menginap di rumah apa kembali ke apartemenmu?" Lili bertanya pada Sarada, karena dia tahu Maru belum pulang dari luar kota.
Sarada mengatakan dia akan kembali ke apartemennya, karena ada yang harus dia bereskan di apartemen. Lili pun menyuruh sopir untuk mengantar Sarada terlebih dahulu, baru setelah itu kembali ke rumah.
Tibalah Sarada di apartemennya, sebelum turun dari mobil Lili bertanya kembali. Apakah Sarada benar-benar akan tinggal di apartemen sendiri, Sarada mengangguk. Lili pun tersenyum lalu dia menyuruh sopir untuk jalan.
Sarada berjalan memasuki apartemennya, dia berjalan dengan santai. Karena yang dia tahu Maru tidak akan pulang malam ini. Sarada tiba di depan pintu apartemennya, dibukanya pintu itu.
__ADS_1
Sarada sangat terkejut karena dia melihat wanita yang tidak ingin dia temui. Dia adalah kakaknya Ayuka, Sarada bingung mengapa Ayuka bisa masuk ke apartemennya.
"Kau sudah pulang sayang?!" Maru berkata dengan lembut lalu berjalan menghampirinya.
Sarada mengangguk, Maru menatap Sarada terlihat aneh. Tanpa aba-aba Maru mengecup kening Sarada dengan lembut, sontak itu membuat Sarada tersadar dari lamunannya. Namu itu membuat Ayuka kesal, dalam benaknya mengapa dulu bukan dia yang menikah dengan Maru.
"Aku mau istilah dulu!" Sarada berjalan meninggalkan Maru dan Ayuka yang sedang duduk di atas sofa.
Ayuka pun pamit untuk masuk kedalam kamarnya, namun dalam batinnya dia sangat marah. Mengapa Sarada mendapatkan pria tampan sekaligus pria yang memliki apartemen semewah ini. Dia menyesali kenapa dia tidak merebut Maru waktu itu.
Maru berjalan menuju kamarnya, dia melihat Sarada sedang melepaskan pakaiannya. Dia pun melangkah dengan cepat, lalu dia membatu Sarada melepaskan resleting yang terletak di belakang.
Sarada terkejut, ditambah lagi kejahilan Maru yang meniup telinga Sarada. Sehingga membuat bulu kuduk Sarada berdiri, dia merasa kegelian yang luar biasa. Karena Sarada memiliki beberapa daerah sensitif. Salah satunya bagian telinganya dan itu sudah diketahui oleh Maru.
"Ada apa denganmu? Setelah melihat Ayuka ada di rumah?!" Maru berbisik pada Sarada.
Sarada hanya diam, dia merasakan kegelian sekaligus malas menjawab mengenai Ayuka. Melihat Sarada hanya diam, Maru mulai bertindak jahil. Tangannya berjalan menelusuri punggung Sarada, kalau berjalan ke depan. Dia memegang dua gundukan kembar yang begitu indah.
"Jika kau tidak menjawab! Maka aku akan bertindak lebih padamu!" bisik Maru sembari mengigit lembut telinga Sarada.
Sarada tahu baik dia menjawab atau tidak, Maru pasti akan bertindak lebih. Namun dia harus mengatakannya.
"Bagaimana Ayuka berada di rumah?!" Sarada bertanya pada Maru dengan menahan rasa nikmat yang di berikan permainan tangan Maru.
Maru menghentikan permainannya, lalu dia menceritakan yang terjadi satu jam yang lalu. Saat dia pulang, dia sudah mendapati Ayuka berada di depan pintu apartemen. Dia juga tidak tahu darimana Ayuka mendapatkan alamatnya, namun yang pasti mungkin dia mendapatkannya dari ayah atau ibu.
"Mmmm!" jawab Sarada.
Mendengar hanya itu yang dikatakan, Maru melepaskan pakaian Sarada yang masih menempel di tubuhnya. Dia menggendong Sarada, lalu menghempaskannya ke atas ranjang.
__ADS_1
Terpampang jelas semua lekuk tubuh Sarada, Maru melepaskan satu per satu kancing kemejanya. Sarada hanya menatap Maru yang begitu menggodanya.
Maru mulai melancarkan aksinya, dia menempatkan tubuhnya diatas tubuh Sarada. Dia mengecup kening Sarada dengan lembut, lalu kecupan itu berjalan dan berkahir di bibir merah Sarada.
Sarada begitu menikmati permainan Maru, sehingga Sarada pun terhayut. Kecupan mereka semakin menggila, tangan Maru mulai bermain. Tangannya menyentuh dua gundukan yang begitu kenyal seperti jelly.
Tubuh Sarada menggeliat, dia menikmati setiap permainan yang dilakukan oleh Maru. Maru melepaskan kecupannya, ditatapnya Sarada yang begitu menggoda. Apalagi ditambah dengan suara lirih Sarada, disaat tangannya bermain dengan bagian anggota tubuh Sarada yang sangat sensitif.
"Apa kau menyukainya sayang?" bisik Maru lalu menggigit telinga Sarada dengan lembut.
Sarada terus mengeluarkan suara lirih yang membuat Maru semakin bersemangat. Dia mulai bermain dengan cepat dan kuat, sehingga Sarada semakin menikmati setiap hentakan yang dilakukan oleh Maru.
Maru terus melakukan hentakan demi hentakan yang membuat Sarada tidak bisa lagi menahan suaranya. Sarada mendesau begitu keras, sehingga membuat Maru tidak ingin menghentikannya.
Mereka tidak menyadari ada sepasang bola mata yang sedang memperhatikan permainan mereka. Dia tak lain adalah Ayuka, dia mulai merasakan keinginan untuk memiliki Maru. Dalam benaknya dia harus memiliki Maru untuk selamanya.
Melihat permainan Sarada dan Maru membuat Ayuka berlari ke kamarnya, dia menutup pintu kamarnya lalu menguncinya. Dia mulai melepaskan satu persatu pakaiannya.
Lalu dia mulai menyentuh bagaian sensitifnya, sesekali dia menyentuh dua buah gundukan miliknya. Dia membayangkan jika itu adalah sentuhan Maru. Dia merasakan sentuhan Maru di seluruh tubuhnya, lalu dia mulai memasukkan jarinya kebagian bawah yang sangat sensitif.
Dia terus melakukan gerakan yang membuatnya mendesau, akhirnya dia mencapai tingkatan kenikmatan. Dia pun tidur terlentang dia tas ranjang tanpa menggunakan selembar kainpun.
__________________________________________
Jika ada yang ingin ditanyakan padaku tentang karya dan bisa langsung menghubungi ku via akun Instagram.
Klik search di Instagram dengan nama akun :
@macan_nurul
__ADS_1
Sekali lagi terimakasih untuk kalian semua 💋💋 jangan lupa ya like dan komen ya juga vote ya 😉 jangan lupa juga jadikan favorit ya 😉 😉
Karena like dan komen kalian sangat berarti bagi kami para penulis.