Musuhku Menjadi Imamku

Musuhku Menjadi Imamku
Extra Part Lili-59


__ADS_3

Setelah kesalahpahaman yang membuat Sarada sangat sedih dan kecewa terhadapnya, Maru sekarang lebih berusaha untuk menjaga perasaan Sarada. Dia meminta ijin untuk menginap di kediaman orangtuanya. Sebelum mereka kembali ke kota, ibu yang masih rindu pada Sarada meminta untuk menginap satu malam lagi.


"Biarkan mereka pergi! Maru juga berhak mengunjungi kedua orangtuanya!" ucap ayah dengan tegas.


Ibu sangat terkejut dengan perkataan ayah, tidak biasanya ayah ikut campur masalah Sarada selama ini. Entah apa yang ada di pikiran ayah, sehingga menyuruh Sarada dan Maru pergi dari rumah secara tidak langsung.


Ayuka yang mendengar perkataan ayah langsung mendekatinya, dia berpura-pura membujuk ayah untuk membantu ibu agar Minami menginap semalam lagi di rumah. Ayah beranjak dari duduknya lalu mengatakan dengan tegas bahwa Maru dan Minami tetap akan pergi ke rumah orangtua Maru.


"Ayah kau tidak kasihan terhadap Ibu! Ibu masih merindukan Sarada!" ucap Ayuka yang berusaha membuat Maru dan Sarada berada di rumah malam ini.


Sarada tahu maksud dari Ayuka, dalam benaknya pasti sedang merencanakan sesuatu untuk membuat hubungannya dengan Maru hancur. Sarada tidak bisa banyak bicara, karena dia menghargai ibu yang masih ingin bersamanya. Namun hatinya sudah tidak ingin berada di rumah, karena semua rencana Ayuka yang ingin merebut Maru dari sisinya.


"Hentikan ocehanmu itu Ayuka! Jika kau sebagai kakaknya tidak memberikan kesempatan pada adikmu untuk berbakti kepada kedua oranrtua suaminya, maka kau begitu egosi!" ayah berkata lalu pergi meninggalkan mereka semuanya.


Ayuka merasa aneh dengan sikap ayahnya, mengapa ayah bisa berkata seperti itu padanya. Biasanya sang ayah selalu bersikap baik dan selalu menuruti apa maunya, dia tidak pernah mengalami penolakan dan sang ayah.


Ibu yang sudah tahu betul dengan ayah, akhirnya mengijinkan Sarada dan Maru untuk pergi ke rumah orangtua Maru. Ibu berpikir pasti ada sesuatu yang terjadi pada ayah, sehingga sikapnya berubah seperti ini.


"Pergilah kalian, sampaikan salamku pada mertuamu! Semoga kau selalu berbahagia putriku tersayang!" Ibu berkata sembari memeluk Sarada.


Setelah mendapat ijin dari ayah dan ibu, Sarada berjalan menuju kamarnya diikuti oleh Maru. Ayuka merasa sangat kesal, jika mereka sudah tidak ada di rumah lagi itu artinya dia tidak bisa melakukan sesuatu untuk mendapatkan Maru.


Dalam benak Ayuka memiliki sebuah rencana agar Sarada dan Maru tidak jadi pergi dari rumah. Dia bergegas menuju kamarnya, lalu mengambil sebuah botol obat dimana dia akan memberikan obat tersebut pada ibu. Jika ibu meminumnya maka ibu akan jatuh sakit, sehingga Sarada tidak akan pergi meninggalkan ibu begitu saja.


Ayuka membawakan segelas teh yang di dalamnya sudah diberi obat, dia mencari keberadaan ibu. Setelah menemukan ibu yang sedang duduk di teras belakang, dia langsung menghampirinya.


"Bu, aku sudah buatkan teh untukmu! Minumlah selagi masih hangat!" Ayuka berkata dengan lembut agar sang ibu segera meminum teh yang sudah dia buat.


Ayuka menanti dengan tidak sabar agar sang ibu meminum teh yang dia buat, dia berharap ibu akan bisa membuat Sarada tinggal di rumah malam ini. Ibu yang melihat Ayuka yang membawakan teh untuknya, langsung tanpa kata dia meminumnya. Ibu tidak menyadari niat buruk dari sikap manis Ayuka.


Ayuka tersenyum saat sang ibu sudah menghabiskan teh yang dia buat, sekrang hanya menunggu efek dari obat yang dia berikan pada ibu. Hanya dalam beberapa menit obat itu bereaksi, ibu tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri.


"Ayah...! Ayah tolong aku! Ayah...!" Ayuka berteriak dengan sekuat tenaganya guna memanggil ayah dan semua orang.


Ayah yang mendengar teriak Ayuka bergegas menghampirinya, ayah berlari menuju teras belakang. Saat tiba di teras belakang, sungguh terkejutnya ayah melihat ibu yang sudah terjatuh tidak sadarkan diri.


"Ada apa dengan Ibumu?!" teriak ayah pada Ayuka.


"Aku tidak tahu Ayah! Saat aku sedang berbincang-bincang dengan ibu, tiba-tiba saja Ibu terjatuh tidak sadarkan diri!" ucap Ayuka pada ayah dengan wajah tidak merasa bersalah.


Ayah langsung menggendong ibu menuju kamar dan menyuruh Ayuka untuk mengambil peralatan dokternya untuk memeriksa keadaan ibu. Ayuka pun berlari menuju kamarnya, dia mengambil perlengkapan dokternya. Saat akan menuju kamar ayah, dia bertemu dengan Sarada dan Maru yang ingin mengetahui apa yang terjadi.


"Ada apa? Kenapa kau berteriak?!" tanya sarada pada Ayuka.


Ayuka mengatakan pada Sarada bahwa ibu terjatuh tidak sadarkan diri, mendengar itu Sarada bergegas menemui ibu di kamarnya diikuti Maru dari belakang. Ayuka yang sudah tiba di kantor ibu langsung memeriksa keadaannya, dia dengan serius memeriksa ibu. Namun dalam hatinya sangat senang dengan apa yang sudah dilakukannya.


"Bagaimana keadaan Ibumu?" tanya ayah dengan nada khawatir.


Ayuka berkata pada ayah jika ibu tidak apa-apa, ibu hanya perlu istirahat saja. Mungkin juga ibu masih rindu pada Sarada. Sehingga ibu terlalu banyak berpikir, lalu dia mengatakan pada Sarada agar tetap tinggal dulu di rumah agar ibu kembali sehat.


Mendengar itu hati Sarada sangat sedih, begitu masih rindunya sang ibu terhadapnya. Sehingga sang ibu jatuh sakit dan tidak sadarkan diri, akhirnya dia menyetujui apa yang dikatakan oleh Ayuka untuk tinggal semalam lagi di rumah.


Mendengar itu Ayuka tersenyum tipis, dia tidak menyadari bahwa sang ayah melihatnya. Sarada pun meminta maaf kepada Maru karena belum bisa ke rumah orangtuanya. Maru tersenyum , dia mengerti dengan kekhawatiran yang dirasakan oleh Sarada. Sehingga Maru akan tetap tinggal bersama Sarada di rumahnya.


Beberapa saat kemudian ibu tersadar, ibu tidak tahu apa yang terjadi mengapa dia sudah berada di dalam kamar. Seingatnya dia tadi berada di teras belakang lalu dia melihat semua orang berada di kamarnya.


"Apa yang terjadi padaku?" ibu bertanya pada semuanya, karena saat ini dia belum bisa mengingat semuanya.


Ayuka dengan cepat menceritakannya apa yang terjadi, dia tidak ingin ibunya menyadari ada sesuatu di dalam teh yang di buat. Setelah mendengar itu ibu terdiam, dia menutup kedua matanya untuk menghilangkan rasa sakit di kepalanya.

__ADS_1


"Karena ibu Sadahurip tidak apa-apa, lebih baik kalian segera pergi! Mungkin orangtua Maru sudah menunggu!" ucap ayah pada Sarada dan Maru.


Lalu ayah berkata jika kondisi ibu tidak apa-apa, lagipula di rumah masih ada Ayuka dan ayah. Sehingga ibu ada yang menjaga serta mengawasinya, Ayuka sungguh kesal dengan yang ayah katakan.


Ayuka langsung memotong pembicaraan ayah dengan lembut dan manja, dia mengatakan ibu masih merindukan Sarada. Dengan adanya Sarada di rumah itu akan mempercepat penyembuhannya.


Ayah semakin yakin semua ini adalah ulah Ayuka yang ingin mencegah kepergian Sarada dan Maru. Tapi yang ayah tidak menyangka adalah dia menggunakan kesehatan ibunya untuk mencapai semua tujuannya.


"Tidak apa-apa Ayah, kami akan tinggal semalam lagi di sini." Maru berkata agar ayah tidak terus memaksa Sarada untuk pergi, karena dia tahu Sarada masih ingin bersama ibunya.


Setelah mendengar apa yang diucapkan oleh Maru, akhirnya sang ayah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Namun dalam hatinya dia harus selalu berjaga-jaga agar Ayuka tidak melakukan hal-hal yang diluar batasannya.


Maru pun ijin untuk kembali ke kamarnya, dia hendak menghubungi kedua orangtuanya karena tidak bisa berkunjung ke rumah hari ini. Sedangkan Sarada masih berada di dalam kamar menemani sang ibu.


Ayuka keluar dari kamar sang ibu guna menyimpan semua peralatan dokternya, dalam hatinya dia sangat senang akhirnya rencananya berhasil. Malam ini dia akan memulai rencana berikutnya, dia akan mendekati Maru.


"Mengapa kau bersikeras untuk tinggal?" ayah bertanya pada Sarada yang terduduk disamping ibu.


Saradan bingung harus menjawab apa, karena jawabnya yang diinginkan ayah sendiri sudah tahu jawabannya. Sarada mengatakan bahwa dia sangat menyayangi ibu, sehingga dia ingin membuatnya bahagia.


"Jika kau menyayangi Ibumu, maka jagalah rumah tanggamu!" timpal ayah yang membuat Sarada semakin tidak mengerti.


Sarada tidak mengerti dengan sikap ayahnya, karena selama ini sang ayah tidak pernah memperhatikan dirinya seperti ini. Apa yang sebenarnya ada di dalam pikiran ayah, Sarada tidak mengerti sama sekali perubahan sang ayah.


Terbersit dalam hatinya apakah sang ayah sudah mengetahui sifat sesungguhnya syuka, Sarada menghempaskan pikiran itu. Karena yang dia tahu sang ayah sangat percaya pada Ayuka dan sangat menyayangi Ayuka dibandingkan dengan dirinya.


"Kau temani suamimu, masalah Ibumu biar aku yang menjaganya!" ucap ayah pada Sarada.


Sarada pun menuruti perintah ayah, dia sungguh belum mengerti semua perubahan sikap ayah terhadapnya. Dia berjalan menuju kamarnya, dia melihat Ayuka berjalan di depannya.


"Lebih baik kau lepaskan Maru! Biarkan dia bersalah, karena dia lebih cocok bersamaku dibandingkan denganmu!" ucap Ayuka yang penuh dengan percaya diri.


Sarada menghiraukan apa yang baru saja dikatakan oleh Ayuka, dia berjalan meninggalkannya lalu memasuki kamarnya. Dia melihat Maru yang sedang berbicara di telepon, mungkin di sedang menghubungi orangtuanya.


Maru duduk di atas sofa lalu dia menyuruh Sarada untuk duduk di pangkuannya, dia ingin membuat Sarada tenang dan nyaman berada di dekatnya. Sarada pun menghampirinya dan duduk di atas pangkuan Maru.


"Sayang, apakah kau merasa ada yang aneh dengan sikap ayah?!" tanya Sarada pada Maru.


Maru tidak bisa berkata apa-apa karena yang bisa merasakan semua itu hanya Sarada seorang. Namun dia pun merasakan memang ada yang berbeda dari sikap ayah pada Sarada. Karena saat kali bertemu sikap ayah selalu dingin pada Sarada.


"Sudahlah sayang, kau tidak usah terlalu memikirkan semua itu! Ada baiknya juga kan jika ayah mulai bersikap baik padamu!" jawab Maru pada Sarada guna menenangkannya.


Sarada pun menghempaskan semua pikirannya lalu di menyandarkan kepalanya pada dada Maru. Menghirup lembut aroma rambut Sarada membuat Maru ingin menggodanya. Dia terus menghirup aroma rambut Sarada, sehinga desiran napasnya terasa di tengkuk leher Sarada.


Sehingga membuat Sarada merasa kegelian, dia berusaha merubah posisi duduknya agar tidak memancing Maru untuk bertindak lebih jauh. Namun usahanya gagal karena Maru sudah mendekapnya dengan erat.


Saat Maru sedang bermain dengan Sarada tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, mereka pun menghentikan permainannya. Lalu merapikan pakaian yang berantakan. Sarada langsung membuka pintu kamarnya, ternyata yang mengetuk pintu kamarnya adalah seorang pelayan.


Dia mengatakan sudah saatnya makan siang, Sarada pun menyuruh pelayan itu untuk melanjutkan pekerjaannya. Pelayan itu pun pergi meninggalkan kamar Sarada untuk melanjutkan pekerjaan yang belum terselesaikan.


"Ada apa?!" tanya Maru pada Sarada.


Sarada berkata bahwa sudah saatnya makan siang, setelah mendengar itu Maru pun mengajaknya untuk makan siang. Mereka berjalan ke bawah bersamaan, saat sudah tiba di meja makan yang terlihat hanya Ayuka seorang diri. Sarada terpaksa duduk begitulah dengan Maru, dalam benak Maru lebih baik makan siangnya di bawa saja ke kamarnya.


"Ayo kita makan!" ucap Ayuka dengan senyum manisnya.


Mereka pun mulai menyantap makan siang yang sudah di sediakan, Maru seperti biasa selalu memiliki rencana dalam otaknya. Dia bersikap sangat manja pada Sarada, dia meminta Sarada untuk menyiapkan satu piring saja. Dengan kata lain mereka makan dalam satu piring.


Itu terlihat romantis bagi Ayuka, sehingga dalam hatinya semakin tumbuh rasa ingin memiliki Maru. Ayuak semakin tidak sabar ingin memiliki Maru seutuhnya, malam ini dia akan melancarkan rencananya.

__ADS_1


Acara makan siang pun sudah selesai, Sarada dan Maru kembali ke kamarnya. Namun saat sudah berada di dalam kamar Sarada meminta ijin pada Maru untuk melihat ibunya. Maru mengijinkannya sehingga dia seorang diri di dalam kamar.


Sarada pun pergi meninggalkan Maru, lalu Maru mulai membuka laptopnya guna menyelesaikan beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan olehnya. Tidak terasa hari sudah malam, Sarada masih berada bersama ayah dan ibunya.


Ayuka mengubdang seorang teman pria ke rumahnya guna melancarkan rencananya. Dia ingin membuat malu Sarada, dengan menjebaknya untuk bermesraan bersama pria lain sehingga akan membuat Maru meninggalkan Sarada. Sedangkan dia akan bermesraan bersama Maru.


Yang pertama Ayuka lakukan adalah menyuruh ayah keluar rumah terlebih dahulu, setelah itu barulah Ayuka memberi minuman kepada Maru dan Sarada yang sudah diberi obat yang bisa membangkitkan keinginan untuk melahap siapa yang dia lihat di depannya.


Setelah kepergian ayah, Ayuka meminta Sarada dan Maru untuk mengobrol bersama dengan temannya. Dia menyiapkan empat gelas minuman dimana dua gelas minuman yang disodorkan kepada Maru dan Sarada sudah diberi obat.


Dalam benak Maru merasa tidak tenang, dia berkata mungkin Ayuka sedang merencanakan sesuatu. Matanya tertuju pada minuman yang sudah tersedia, mengapa ada yang aneh dengan itu. Maru pun mencari cara agar bisa melakukan sesuatu dengan minuman yang ada di depannya.


Prang!


Gelas yang ada di depan teman Ayuka terjatuh sehingga air di dalamnya tertumpah mengenai celana pria itu. Ayuka terkejut lalu membatu temannya untuk membersihkan noda di celana temannya sembari menyuruh pelayan untuk membersihkan pecahan gelas yang berserakan.


Setelah Ayuka pergi dua orang pelayan datang yang satu membawa segelas minuman dan yang seorang lagi membawa perlengkapan untuk membersihkan pecahan gelas. Setelah semuanya bersih mereka pun kembali untuk melakukan pekerjaan mereka.


Maru dengan sigap mengganti posisi gelas yang ditujukan untuknya dan Sarada, sehingga minuman untuk mereka berdua nantinya akan diminum oleh Ayuka dan temannya. Sarada bingung apa yang dilakukan oleh Maru.


"Apa yang kau lakukan?" ucap sardar dengan mengerutkan keningnya.


Maru belum tahu apakah yang dirasakannya benar apa tidak, sehingga dia belum bisa memastikan semuanya. Saat mereka sedang bicara, Ayuka dan temannya tiba lalu duduk kembali di posisi mereka masing-masing. Maru bersikap seperti tidak ada apa-apa begitu juga dengan Sarada. Karena Maru sudah mengatakan pada Sarada agar bersikap biasa saja.


Ayuka menyuruh Maru untuk meminum minuman yang sudah dia sediakan, mereka pun meminum minumannya. Ayuka tersenyum temannya pun tersenyum membayangkan malam ini dia akan bersenang-senang dengan Sarada. Karena dia sedari awal sudah menyukai Sarada, namun dia terlambat karena Sarada menikah dengan Maru.


Beberapa saat kemudian Ayuka dan temannya merasa ada yang aneh dengan diri mereka. Maru melihat ada yang aneh dengan sikap mereka setelah meminum minuman yang tadinya akan diminum olehnya dan Sarada.


Maru menyuruh Sarada untuk membawa Ayuka ke kamarnya, sedang Maru akan membawa teman Ayuka ke kamar tamu. Setelah itu Maru dan Sarada masuk ke dalam kamar mereka. Maru mengatakan pada Sarada mungkin ini rencana busuk Ayuka untuknya dan Sarada.


Sarada sungguh tidak menyangka bahwa Ayuka akan melakukan hal serendah ini untuk memisahkan dia dan Maru. Dalam benaknya hanya berharap mudah-mudahan Ayuka mendapatkan buah dari perbuatannya.


Di dalam kamar Ayuka merasa tidak enak efek dari obat sudah mulai bekerja, keinginan untuk memuaskan dirinya menggila. Dia berjalan keluar untuk mencari Maru, dia berjalan menuju kamar Maru namun pandanganya kabur sehingga dia masuk ke kamar tamu. Dimana di kamar tersebut sudah ada temannya yang sudah menginginkan bermain sehingga dia bisa merasakan kenikmatan.


Ayuka melihat ada seseorang yang sedang tidur di atas ranjang, dia mengira itu adalah Maru. Dia menutup pintu kamar lalu berjalan menghampiri pria yang ada di atas ranjang. Akhirnya mereka berdua melakukan yang mereka butuhkan dan tidak menyadari siapa yang ada di hadapan mereka.


Keesokan harinya Ayuka terbangun dari tidurnya, dia melihat seorang pria tidur di sampingnya. Dia tidak bisa melihat wajah pria itu, dia mengira itu adalah Maru. Dalam hatinya dia berkata rencananya berhasil.


Aaaaaaaaa!


Ayuka berteriak dengan sekuat tenaga, sehingga ayah, ibu dan beberapa pelayan menghampiri suara teriakan Ayuka. Sungguh terkejutnya mereka semua dengan apa yang mereka lihat. Ayuka mulai dengan rencananya, dia menggatakan bahwa Maru sudah menodainya.


Ayah dan ibu terkejut kenapa Maru bisa berlaku seperti itu, Ayuka terus saja histeris dia memperlihatkan bahwa dia adalah seorang korban. Semua yang berkumpul merasa kasihan padanya, Maru dan Sarada tiba di kamar.


Semua terkejut dengan apa yang dia lihat begitupun dengan Ayuka, dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Ayah pun berjalan mendekati pria yang ada di samping Ayuka, lalu menyuruh seorang pelayan mengambil seember air. Seorang pelayan Mambawa air yang di minta tuannya, lalu ayah menyuruh pelayan itu untuk menyiram pria itu.


Byurrr!


Seketika pria itu terbangun dia tidak mengerti apa yang sudah terjadi, dia melihat kesamping sudah ada Ayuka yang terdiam. Ayuka terlihat sangat kesal karena sencana yang dia buat hancur begitu saja.


"Bersihkan diri kalian! Lalu temui aku di ruang tamu!" Perintah ayah lalu pergi meninggalkan mereka.


Dalam benak ayah sangat kecewa dengan apa yang dilakukan oleh Ayuka, dia merencanakan hal yang begitu menjijikan untuk menjebak suami dari adiknya sendiri. Ayah duduk di atas sofa dengan perasaan marah dan kecewa, ibu menghampirinya lalu duduk di samping ayah tanpa berkata apa-apa.


Maru dan Sarada pun duduk, beberapa saat kemudian Ayuka bersama temannya menghampiri mereka. Ayuka dan temannya duduk di hadapan ayah, mereka berdua hanya diam.


"Ajak kedua orangtuamu untuk merencanakan pernikahan kalian!" ucap ayah dengan nada marah pada temannya Ayuka.


Ayuka tidak terima dia tidak ingin menikah dengan pria itu, karena dia tidak mencintainya. Dia terus saja membantah perintah ayah, dari perkataan yang sopan hingga mengeluarkan perkataan yang buruk. Namun ayah tetap dengan keputusannya, bahwa mereka berdua harus menikah.

__ADS_1


Keputihan sudah ditentukan, ayah meminta alamat dan nomor telepon kedua orangtua pria itu. Ayah langsung menghubungi orangtua pria itu lalu menyuruhnya untuk bertemu hari ini juga.


Beberapa saat kemudian kedua orangtua pria itu tiba, mereka sangat marah pada putranya karena sudah berbuat hal buruk. Akhirnya mereka setuju dengan keputusan ayah, bahwa Ayuka dan pria itu harus menikah.


__ADS_2