
Untuk hari ini Lili dan Arata memutuskan untuk tidak masuk ke kantor karena orang yang ingin bertemu dengan mereka akan tiba.
"Sayang, apakah kau kenal dengan orang itu?!" Lili bertanya pada Arata yang sedang memandangi wajah pria yang terekam di kamera CCTV.
"Dia adalah pengawal pribadi sekaligus asisten Kenzo," jawab Arata dengan yakin.
Lili penasaran apa yang membuatnya ingin bertemu, dia kembali berpikir mungkin pria itu akan memberitahukan posisi Kenzo sekarang.
Seorang pelayan mengatakan pada Lili dan Arata jika ada orang yang menunggunya di ruang tamu. Mendengar itu mereka bergegas menghampiri orang yang mencarinya itu.
Saat mereka sudah mendekati ruang tamu, terlihat Yuki yang sedang berbicara dengan seorang pria. Pria itu adalah pengawal sekaligus asisten dari Kenzo.
"Apa kabar Tuan dan Nona? Perkenalkan saya Daichi!" ucapnya dengan hormat.
Lili melihat Yuki yang masih duduk di dekat Daichi, merasa tidak enak jika bicara di depan Yuki. Dia menyuruh Yuki untuk masuk kedalam kamar dan kembali belajar.
Yuki mengerti jika yang akan dibicarakan adalah hal yang penting sehingga seorang anak tidak mungkin mendengarkan. Lalu dia pamit untuk kembali ke kamarnya.
"Lebih baik kita bicara di ruang bacanya!" Arata berkata sembari berjalan menuju ruang bacanya.
Begitu pula Lili yang mengikutinya dari belakang, sedangkan Daichi berjalan di belakang Lili yang berjalan perlahan. Daichi melihat Lili begitu sangat keibuan dalam mengurus Yuki.
Dalam benaknya dia merasa khawatir bagaimana jika Lili sudah melahirkan apakah dia akan sama sayangnya Anatar Yuki dan anak kandungnya.
"Apa yang sedang kau pikirkan?!" Lili bertanya pada Daichi.
Daichi hanya tersenyum lalu dia tidak mengatakan apa yang ada di dalam hatinya. Mungkin yang dia rasakan hanya kekhawatirannya saja. Dia pun mengikuti Lili dan Arata hingga masuk kedalam ruangan baca.
"Baiklah, apa yang ingin kau katakan?!" Arata bertanya pada Daichi.
Daichi mengatakan jika dia sengaja datang untuk bertemu dengan Arata dan Lili. Karena dia menyampaikan pesan dari Kenzo, dia mengatakan jika Kenzo meminta agar Yuki diajari ilmu seni beladiri dan juga pendidikan yang baik.
"Ada dimana Kenzo sekarang?!" Arata bertanya padanya, dia ingin mengetahui keberadaan Kenzo.
"Saya menyampaikan pesan Tuan Kenzo sebelum menghilang. Saya yakin Tuan masih hidup dan saya akan terus mencarinya. Jadi saya mohon agar Tuan Arata dan Nona Lili bisa menjaga dan merawat Nona Yuki! Saya mohon...."
Daichi memohon lalu memberi hormat agar permintaannya di kabulkan. Karena hanya mereka berdua yang bisa menjaga Yuki dari tangan Asamu.
Arata menyetujui semua keinginan Kenzo tetapi dia ingin Daichi selalu memberinya informasi tentang Kenzo. Karena itu sangat penting baginya, jika kelak Yuki sudah dewasa dia akan mencari keberadaan ayahnya.
Daichi setuju dengan syarat yang diminta Arata, dia selalu akan memberikan informasi yang dia dapatkan mengenai Kenzo. Setelah mengatakan itu Daichi pamit karena dia harus pergi guna mencari dimana keberadaan Kenzo.
Sebelum Daichi pergi meninggalkan ruang baca, Maru baru saja tiba. Dia melihat Daichi lalu dia menyapanya. Arata yang masih melihat Daichi berbicara dengan Maru penasaran.
Maru masuk ke ruang baca, dia melihat Arata dan Lili yang masih duduk. Namun, dia kembali terpikirkan tentang Daichi. Sebenarnya apa yang membuat dia datang ke rumah Arata.
"Kau kenal dengannya?" Arata bertanya dengan nada menyelidiki.
Maru mengangguk lalu dia menceritakan semuanya, dia mengatakan jika dulu pernah satu sekolah dengan Daichi. Dia juga mengatakan jika Daichi orang yang sangat setia sehingga bisa mengorbankan nyawanya demi orang yang dianggapnya penting.
Setalah mendengar itu Lili memutuskan untuk kembali ke kamarnya tetapi sebelum pergi dia bertanya bagaimana kabar Sarada. Maru menjawab jika Sarada dalam keadaan baik-baik saja.
Sekarang tinggal menunggu beberapa bulan lagi untuk proses kelahirannya. Lili merasa senang jika keadaan Sarada baik-baik saja, setelah itu dia pergi meninggalkan Arata dan Maru.
Lili berjalan dengan perlahan dia hendak menuju kamarnya tetapi ibu memanggilnya dan mengajak Lili untuk duduk di taman. Lili pun mengikuti ibu berjalan menuju taman. Mereka duduk di gazebo, saat tiba di gazebo terlihat sudah tersedia minuman dan camilan.
"Apa ibu sudah menyiapkan semuanya ini?!" tanyaku pada ibu.
"Iya— aku menyiapkannya untuk kita berdua!" jawab ibu dengan lembut.
Mereka pun duduk dengan santai sembari berbincang-bincang, semua mereka bicarakan dari hal terkecil hingga hal terbesar. Tanpa mereka sadari waktu sudah sore.
Lili memutuskan untuk beristirahat sejenak di kamar, sedangkan ibu bergegas menuju pantry guna melihat masakan apa yang akan disajikan untuk makan malam.
Saat Lili tiba di kamar, dia melihat Arata yang sudah duduk termenung di atas sofa. Dia berjalan perlahan menghampirinya, muncul ide makan dalam dirinya untuk menggoda Arata.
Saat dirinya sudah berada dekat sekali dengan Arata tetapi sang suami tidak menyadari kehadirannya. Dia membisikkan sesuatu di telinga Arata lalu mengecup lembut daun telinganya.
Arata yang terkejut dengan ulah nakal istrinya langsung menariknya kedalam pangkuannya. Dia menatap istrinya dengan lekat sembari memikirkan kenapa wanita yang dicintainya ini semakin nakal padanya. Apakah Lili sengaja menggodanya karena beberapa hari ini Arata selalu menahan dirinya untuk melakukan sesuatu yang nantinya akan mempengaruhi kandungannya.
"Sayang, kau semakin nakal saja?" bisik Arata pada Lili dengan lembut.
"Habis kau melamun saja," jawab Lili sembari memegang lengan Arata yang melingkar di perutnya.
Arata tersenyum lalu dia menjelaskan apa yang sedang ada didalam pikirannya. Dia masih berpikir tentang Daichi, apakah harus percaya padanya.
"Aku memiliki perasaan— jika dia benar-benar orang yang bisa kita percaya. Lagipula Maru cukup mengenalnya dan dia juga tahu pasti tentang Daichi." Lili mengatakan apa yang ada di dalam hatinya.
Semua perkataan Lili membuat Arata merasa tenang, mulai sekarang dia akan benar-benar melatih Yuki. Agar kelak dia bisa mencari keberadaan Kenzo. Jika benar Kenzo masih hidup atau dia disekap maka Yuki harus menyelamatkan ayahnya sendiri.
Arata mengecup bibir Lili dengan lembut, dia sedikit bermain dengan bibirnya itu. Sehingga Lili menikmatinya lalu terbawa oleh permainan Arata.
Permainan lembut Arata membuat Lili ikut bermain pula secara lembut, tangan Arata tidak mau ketinggalan, kedua tangannya berjalan menelusuri setiap jengkal lekuk tubuh wanita yang sangat dia cintai.
Arata menghentikan permainannya, dia menatap Lili dengan lembutnya. Terlihat jelas wajah Lili yang sudah memerah karena permainan Arata yang membuatnya merasakan kenikmatan.
Saat Arata hendak melanjutkan permainannya itu, ponselnya berbunyi. Dia mengangkat telepon tersebut karena itu dari Maru, dia meminta izin untuk kembali ke apartementnya sebentar setelah itu dia akan kembali ke rumah Arata.
Arata mengizinkan Maru untuk pulang ke apartemennya, mungkin Sarada membutuhkan bantuannya. Dia mengerti keadaan Maru yang sangat khawatir jika istrinya menghubungi dirinya.
"Ada apa? Apakah terjadi sesuatu dengan Sarada?!" Lili bertanya pada Arata dengan nada khawatir.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, jangan khawatir!" Arata menjawab lalu mengecup bibir Lili dengan lembut.
***
Tiga bulan berlalu dengan cepat, sekarang kandungan Sarada sudah membesar. Sarada tinggal menunggu hari menjelang kelahiran bayinya, sebelum tanggal yang di tentukan oleh dokter masih berjarak satu minggu menuju kelahiran.
Sarada meminta Maru mengantarnya ke desa untuk bertemu dengan ibunya. Dia mengatakan sebelum kelahiran bayinya ingin bertemu dengan ibu.
"Kita tunggu setelah bayinya lahir— baru kita berkunjung ke rumah ibu," Maru mengatakan itu karena dia merasa khawatir jika terjadi sesuatu saat di perjalanan nanti.
"Aku tidak apa-apa, aku mohon antarkan aku menemui ibu sebelum aku melahirkan!" Sarada berkata dengan nada memohon pada Maru.
Mari tidak tega melihat Sarada sedih, lalu dia menyetujui keinginan Sarada. Namun, dengan beberapa syarat yang harus Sarada penuhi. Dia setuju dengan syarat yang Maru berikan.
Maru menghubungi Arata untuk meminta izin tidak bekerja hari ini karena akan mengantar Sarada ke rumah ibunya. Arata memberikan izin tetapi besok pagi dia sudah harus ke rumahnya sebab ada pekerjaan yang harus diselesaikan.
"Bersiaplah, kita akan segera pergi!" ucap Maru pada Sarada.
Sarada terlihat sangat senang Maru mau mengantarnya ke rumah ibu. Entah mengapa dia sangat ingin bertemu dengan ibunya sebelum melahirkan bayinya.
Dalam perjalan menuju rumah sang ibu, Maru selalu memperhatikan gerak-gerik Sarada. Karena dia merasa khawatir dengan kandungan Sarada yang sudah besar dan tinggal menunggu hari untuk proses kelahirannya.
Tibalah mereka di rumah, ibu yang melihat kedatangan Sarada sangat senang. Begitu juga ayah yang sudah mulai baik terhadap Sarada semenjak dia kecewa terhadap sikap Ayuka yang dianggapnya sudah memperlakukan dirinya sendiri.
"Bagaimana kabarmu sayang?" Ibu bertanya dengan lembut.
"Aku baik-baik saja Bu," jawab Sarada dengan senyumnya.
Ayah melihat Sarada dengan lembut, dia ingin memeluknya dengan erat. Ingin mengatakan kata-kata maaf karena sudah membuatnya menderita selama bertahun-tahun. Dia tidak menyangka jika perlakuannya itu akan menyebabkan penderitaan bagi Sarada.
"Bagaimana kabarmu, Ayah? Apakah kau tidak akan memelukku?" Sarada bertanya pada ayah yang hanya berdiri menatap Sarada.
Ayah tersenyum lalu memeluk Sarada, dia begitu merasa bersalah dengan apa yang sudah dilakukannya. Membeda-bedakan perlakuannya pada kedua putrinya, sehingga salah satu putrinya yang selalu dia bangga-banggakan mengecewakannya.
Mereka pun duduk lalu berbincang-bincang, Maru yang mulai tidak tenang mengajak Sarada untuk kembali ke Tokyo. Namun, Sarada memohon untuk bisa menginap semalam saja di rumah ibu.
Maru menolak permintaan itu karena dia tidak akan bisa tenang jika tidak melihat Sarada. Jika di Tokyo dia bisa mengecek keadaan Sarada setiap saat. Namun, ini di desa yang membutuhkan waktu 3 jam perjalanan. Itulah yang membuatnya tidak tenang.
"Aku akan baik-baik saja, lagipula di sini ada Ayah dan Ibu yang akan menjagaku." Sarada mengatakan itu agar Maru bisa mengizinkannya menginap.
Maru masih berpikir tentang kepingan Sarada, ibu dan ayah juga tidak bisa memaksakan kehendak mereka. Meski mereka juga menginginkan Sarada menginap di rumah. Mereka melihat Maru begitu sangat menyayangi putrinya, sehingga mereka memaklumi yang menjadi kekhawatiran Maru.
Ponsel Maru berdering, dia meminta izin untuk mengangkatnya lalu dia berjalan sedikit menjauh dari Sarada dan kedua orangtuanya. Setelah menerima telepon tersebut, Maru mengatakan bahwa dia harus segera kembali ke Tokyo.
Melihat Sarada yang masih ingin menginap di rumah ayah dan ibu, dia tidak tega akhirnya dia mengizinkan Sarada untuk menginap. Seperti biasa Maru selalu memberikan beberapa syarat untuk dipatuhi oleh Sarada.
"Dengarkan aku, jaga kesehatan dan kandunganmu! Jika terjadi sesuatu kau langsung hubungi aku!" ucap Maru pada Sarada.
"Aku akan menjaga diriku, kau juga harus menjaga dirimu!" Sarada berkata dengan lembut lalu dia mengecup bibir Maru dengan lembut.
Setelah itu Maru pun pamit pada ayah dan ibu, dia juga meminta agar selalu memperhatikan Sarada setiap saat. Jika ada apa-apa mereka harus segera menghubungi Maru.
Ayah dan ibu tersebut, melihat Maru yang begitu tidak tega meninggalkan istrinya di rumah orangtuanya sendiri. Mereka benar-benar merasa bahagia dan beruntung memiliki menantu yang begitu baik, perhatian dan sayang pada putrinya.
Dalam perjalan menuju Tokyo hati Maru masih merasa tidak tenang. Namun, dia menghempaskan semuanya sebab dia harus bisa kembali fokus pada jalanan. Dan setelah tiba di Tokyo dia harus fokus dengan pekerjaannya.
Dalam hatinya berusaha mempercayakan istrinya pada kedua orangtuanya. Dia hamil jika ayah dan ibu akan menjaga Sarada dengan sangat baik.
Acara menginap Sarada lebih dari yang direncanakan sebab pekerjaan Maru yang banyak, sehingga dia tidak bisa menjemput Sarada. Namun, Sarada mengatakan jika dia baik-baik saja bersama ayah dan ibu.
Dan juga hari ini Sarada menginap di rumah ayah dan ibu Maru, itulah yang membuat Maru merasa lebih tenang. Dia percaya penuh pada kedua orangtuanya. Sehingga dia bisa fokus terhadap pekerjaannya dan sangat ayah pun mengatakan akagr tidak perlu khawatir terhadap Sarada.
Dilain tempat, Sarada yang menikmati kebersamaannya bersama ayah dan ibu Maru tidak memikirkan hal buruk akan terjadi padanya. Dia sama sekali tidak berpikir bahwa sesuatu sedang menantinya.
"Sayang, apakah kau mau berjalan-jalan pagi ini?" Ibu bertanya pada Sarada dengan penuh kasih sayang.
"Bolehkah Bu?" Sarada balik bertanya.
"Tentu saja, nanti biar Ayah yang menemanimu!" Ibu berkata pada Sarada sekaligus ayah yang duduk disampingnya.
Ayah pun tersenyum lalu mengajaknya berjalan-jalan karena itu yang dibutuhkan untuk wanita hamil yang sedang menunggu kelahiran bayinya. Namun, harus berjalan secara perlahan agar tidak menganggu kandungannya.
Sebenarnya Sarada selam beberapa hari ini tidak diizinkan untuk banyak berjalan. Menurut ibu lebih baik di rumah, mungkin ini merasa khawatir saja. Karena merasa kasihan, akhirnya ibu mengizinkan Sarada untuk berjalan-jalan di luar tetapi tidak boleh terlalu jauh dan kelelahan.
Sang ayah sudah di wanti-wanti agar menjaga Sarada dengan baik, dia tidak boleh terlalu banyak berjalan. Jika memungkinkan harus banyak beristirahat laku jalan kembali.
Ayah terkekeh mendengar ibu yang menjadi super cerewet jika sudah menyangkut Sarada. Dia merasa sang istri sudah tidak mempedulikannya dan hanya memperhatikan saja Sarada.
Untuk menghindari perkataan sang istri ayah pergi dan berkata, "Ayah dan Sarada pergi dulu ya Bu."
Ayah dan Sarada pergi berjalan-jalan menelusuri pedesaan yang begitu indah. Saat sedang berhenti untuk beristirahat, ada beberapa pria yang mendekati mereka.
"Pak tua— berikan kami semua uang yang kau miliki!" ucap seorang pria pada ayah.
"Pergilah kalian! Aku tidak membawa uang," Ayah berkata dengan pelan agar mereka tidak merasa tersinggung.
Namun, sungai dikatakan ayah tidak membuat mereka pergi, mereka melihat Sarada yang sedang duduk. Salah satu pria melihat di tubuh Sarada ada kalung yang melingkar di lehernya.
Pria itu mendekati Sarada tetapi ayah menghalanginya, "Nak— jangan seperti ini, kalian bisa bekerja untuk mencari uang,'kan?" Ayah berkata dengan baik-baik karena dia berusaha untuk melindungi Sarada.
"Minggir Kakek tua!" teriak pria itu dengan mendorong ayah sehingga terjerembab.
__ADS_1
"Ayah!" Sarada berteriak yang melihat ayah terjatuh.
Namun, ayah tersenyum lalu berdiri kembali. Ayah mengatakan pada mereka sudah bicara dengan baik-baik tetapi mereka masih saja tidak mengerti. Terlihat seorang pria masih mendekati Sarada lalu berniat untuk mengambil kalung yang melingkar di lehernya.
Ayah berjalan cepat lalu memegang pundak pria itu dan berkata, "Lepaskan tangan kotormu dari tubuh putriku!"
Pria tersebut terkekeh begitu pula dengan teman-temannya saat mendengar ayah berkata seperti itu. Tangan pria itu masih saja menuju kalung Sarada.
Brett! Ayah menarik tangan pria itu dengan sangat keras sehingga pria tersebut jatuh tersungkur di atas tanah. Teman-temannya terkejut saat melihat salah satu dari mereka tersungkur. Mereka mengira hanya berhadapan dengan seorang wanita hamil dan kakek tua.
Pria yang terjatuh itu kembali berdiri lalu dia memerintahkan semua teman-temannya untuk menyerang ayah. Terlihat ayah sudah siap dengan jurusnya. Yang menjadi prioritas utama bagi ayah kali ini adalah melindungi Sarada dari para berandalan ini.
Bug! Bug! Pukulan demi pukulan dilayangkan pada ayah oleh para berandalan itu. Namun, ayah dengan lihainya menangkis setiap serangan dari mereka. Terlihat ayah hanya bertahan dari serangan mereka, Sarada berpikir ayah seperti Maru. Yang banyak bertahan dari serangan tetapi mata dan pikirannya mencari celah atau kelemahan dari lawannya. Setelah itu barulah menyerang balik.
Bug! Bug! Whussss! Ayah balik menyerang mereka dengan pukulan bertubi-tubi lalu diakhiri dengan tendangan. Satu per satu dari berandalan itu terjatuh. Sarada tidak menyadari jika ada salah satu berandalan yang sudah siap menyerangnya dari belakang.
"Sarada awas!" teriak ayah yang menyadarkan Sarada jika ada yang hendak menyerangnya.
Sarada terkejut dengan refleks dia berguling untuk melindungi dirinya sendiri. Namun, dia lupa jika dirinya sedang mengandung. Saat sudah bisa menghindari orang itu, Sarada merasakan nyeri di perutnya yang sangat kuat. Sehingga dia mengerang kesakitan.
Ayah yang melihat Sarada kesakitan merasa marah pada berasal yang hendak menyerang Sarada dari belakang. Ayah berlari menuju pria itu lalu menghajar dengan kuat.
"Ayah— perutku sakit," lirih Sarada sembari memegang perutnya.
Ayah yang merasa khawatir langsung mendekatinya lalu berteriak meminta tolong.
"Tolong! Apakah ada orang yang bisa menolongku!" Ayah terus berteriak dengan sekuat tenaganya.
Melihat semua kejadian itu para berandalan lari karena takut akan banyak orang yang datang. Beberapa saat kemudian orang-orang berdatangan dan membatu ayah membawa Sarada ke rumah sakit.
Ada seseorang yang mengenal ayah lalu mengabari ibu di rumah bahwa Sarada dan ayah berada di rumah sakit. Ibu merasa terkejut dengan apa yang baru didengarnya. Dia bergegas menuju rumah sakit guna melihat keadaan putrinya dan suaminya.
Saat tiba di rumah sakit, ibu melihat ayah yang sedang duduk menunggu di luar ruang operasi. Ibu bergegas menghampiri ayah lalu bertanya dengan nada khawatir.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Ibu bertanya pada ayah.
Ayah terlihat sangat sedih lalu menceritakan apa yang sudah terjadi, mendengar itu hati ini terasa kesal dan sedih. Tidak terasa air matanya menetes membasahi kedua pipinya.
Tidak begitu lama ibu dan ayah Sarada tiba mereka terlihat sangat khawatir. Lalu bertanya pada ayah dan ibu Maru, setelah mengetahui ceritanya mereka semua berdoa demi keselamatan Sarada dan bayinya.
Ayah berdiri dan meminjam ponsel ibu guna menghubungi Maru, ibu memberikan ponselnya yang kebetulan dia bawa. Ayah berjalan sedikit menjauh lalu menghubungi Maru dan mengatakan jika Sarada berada di rumah sakit.
Maru yang menerima kabar dari ayah, bergegas menuju rumah sakit. Dia meminta izin terlebih dahulu pada Arata yang saat ini sedang di kantor. Arata memberi izin pada Maru untuk segera pergi dan menemui Sarada di rumah sakit.
Maru yang sudah mengantongi izin dari Arata, segera menuju mobilnya lalu dia memacu mobil dengan kecepatan tinggi. Dia merutuk dirinya sendiri, mengapa dia tidak ada di dekat Sarada saat sedang dibutuhkan.
Dia memang sudah merasakan hal aneh tetapi dia selalu menghempaskan semua pikiran negatif yang ada di otaknya. Perjalanan yang biasanya di tempuh dengan waktu 3 jam. Sekarang hanya 2jam saja Maru bisa tiba di desa dan langsung menuju rumah sakit.
"Bagaiman keadaan istriku?!" Maru bertanya pada ayah dan ibu dengan napas yang terengah-engah.
"Istrimu masih di ruang operasi!" Ayah menjawab dengan lirih.
Maru pun bertanya mengapa sampai bisa terjadi seperti ini, untuk kesekian kalinya ayah mengatakan yang sudah terjadi. Maru terlihat sangat kesal dengan berandalan itu, dia berniat akan menghukum mereka jika terjadi sesuatu pada anak dan istrinya.
"Siapa yang mengoperasi istriku?!" Maru bertanya kembali karena dia khawatir jika Ayuka yang menangani Sarada.
"Ayuka," jawab ayah singkat.
Apa yang dikhawatirkan Maru terjadi, dia semakin tidak tenang jika Ayuka yang menangani Sarada. Karena dia tahu jika Ayuka sangat membenci Sarada.
"Kau tenang saja, Ayuka tidak akan melakukan hal-hal yang bisa mencelakai anak dan istrimu!" Ayah Sarada berkata dengan yakin.
Ayah Sarada merasa yakin jika Ayuka tidak akan melakukan hal yang buruk pada Sarada. Karena Ayuka sudah berubah semenjak dia menikah dengan pria yang tidak dia cintai. Dan pria itu selalu membuat Ayuka menderita. Mungkin itu adalah hukuman bagi segala tindakan buruk Ayuka selama ini.
Maru hanya bisa berdoa demi keselamatan kedua orang yang sangat dia cintai. Jika terjadi sesuatu pada mereka berdua, hingga ujung dunia pun Maru akan mengejar para berandalan itu.
Ting! Terdengar bunyi yang menandakan operasi sudah selesai. Maru melihat lampu ruang operasi sudah padam. Pintu ruang operasi terbuka, keluarlah Ayuka bersama seorang perawat.
"Bagaimana istri dan anakku?!" Mari bertanya pada Ayuka.
"Mereka berdua baik-baik saja, kau bisa menemui merek setelah mereka dibawa ke ruang rawat inap!" Ayuka menjawab lalu dia pergi meninggalkan Maru dan semuanya.
Dia merasa tidak tahan jika bertemu dengan Maru, dia merasa bersalah karena sudah berbuat buruk padanya dan Sarada. "Kau beruntung Sarada— memiliki suami yang sangat mencintaimu," gumam Ayuka sembari berjalan menuju ruangannya.
Setelah Sarada di tempatkan di ruang rawat inap, Maru dan semuanya bergegas menuju ruangan dimana Sarada terbaring. Maru melihat Sarada yang belum sadarkan diri dari proses operasi.
Maru mendekati Sarada dengan wajah sedihnya, dia merasa bersalah karena semua rasa sakit yang dirasakan Sarada. Dia membelai lembut rambut Sarada dan mengecup keningnya dengan lembut.
Beberapa saat kemudian Sarada membuka matanya, dia melihat Maru yang berdiri di sampingnya. Lalu melihat sekeliling semua ayah dan ibu menatapnya dengan penuh kasih sayang.
"Bagaimana keadaanmu, sayang?!" Maru bertanya dengan lembut pada Sarada.
Dia tersadar saat memegang perutnya, "Dimana anaku?!"
Dia terlihat histeris karena tidak melihat atau mendengar tangis bayi yang dia harapkan. Maru berusaha menenangkan dirinya, dia mengatakan jika bayinya selamat dan sebentar lagi akan diantar menemuinya.
Tidak begitu lama setelah Maru mengatakan itu pada Sarada, seorang perawat membawa seorang bayi cantik. Lalu dia memberikan bayi itu ke atas pangkuan Sarada.
Melihat putri kecilnya itu Sarada menangis, dia begitu bahagia dengan kehadiran putri kecilnya itu. Dia merasa bersyukur jika putrinya itu tidak mengalami hal-hal buruk karena kejadian penyerangan itu.
Ayah dan ibu merasa bahagia mereka saling berebut untuk menggendong cucu kecil mereka yang sangat cantik. Mereka berempat saling menghitung waktu agar tiba giliran untuk menggendong cucu mereka.
__ADS_1
Maru sangat bahagia dengan apa yang dilihatnya, dia mengecup kening Sarada dengan lembut. Lalu dia berkata, "Terima kasih— I love you."