Musuhku Menjadi Imamku

Musuhku Menjadi Imamku
Extra Part Lili-51


__ADS_3

"Kau sudah tidak bisa lari lagi! Dasar kau wanita tidak tahu diuntungkan!" ucap seorang pria yang menangkap lengan Novi.


Novi terkejut, dia mengira tidak ada yang mengejarnya. Dia berusaha melepaskan diri dari cengkraman pria tua itu, di lihatnya sekeliling taman tidak ada seorangpun yang bisa dimintai tolong.


Bug!


Brugggg!


Lengan Novi terlepas dari cengkraman pria tua itu, karena pria tua itu terjatuh sesudah dipukul dari belakang. Novi membalikkan tubuhnya guna melihat siapa yang sudah memukul pria tua itu. Dia melihat seorang pria sedang berdiri tegap, pria itu memeriksa apakah pria tua yang sudah dipukulnya masih sadar atau tidak.


Kepala Novi terasa berat, pandangan matanya mulai kabur dan dia merasakan suhu tubuhnya semakin panas. Dia tidak tahu apa yang terjadi padanya, pemuda yang baru saja memukul pria tua itu melihat keadaan Novi yang sudah tidak karuan.


Brugggg!


Novi terkulai lemas lalu dia terjatuh, pria tersebut membantu Novi untuk berdiri. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan, karena tidak ada satupun surat identitas yang dibawa Novi.


"Sepertinya wanita ini sudah dibius! Aku harus segera menolongnya, jika tidak akan membuat masalah!" ucap pria itu lalu menggendong Novi menuju mobilnya yang terparkir di depan taman.


Dia mendudukan Novi di jok depan, setelah itu dia memasangkan safety belt padanya. Pria itu menjalankan mobilnya dengan perlahan lalu sedikit demi sedikit menambah kecepatannya.


Dalam perjalanan Novi mulai merasakan panas di sekujur tubuhnya, mungkin itu adalah efek dari minuman yang diberikan oleh pria tua mesum itu. Dia mulai bergerak tidak karuan, itu membuat pria yang menyelamatkannya tadi bingung. Dalam benaknya berkata mungkin efek dari obat yang dia konsumsi mulai bekerja, dia langsung tancap gas.


Sampailah mereka di sebuah apartemen, pria itu bergegas menggendong Novi masuk ke dalam apartemennya. Novi mulai bertingkah aneh, dia meminta sesuatu yang tidak bisa dipenuhi oleh pria itu. Dia berjalan dengan cepat lalu dia menyalakan air untuk ditampung di dalam bhatup. Novi langsung di dudukan di dalam bhatup yang sudah terisi air dingin.


Novi terperangah lalu dia bertanya pada dirinya sendiri mengapa dia ada di tempat yang asing baginya. "Siapa kau? Kenapa aku ada di sini?" teriak Novi pada pria yang menolongnya itu.


Pria itu tersenyum lalu dia berkata, "Seharusnya kau berterimakasih padaku karena sudah menyelamatkanmu!"


Novi terdiam, dia mengingat kembali apa yang sudah terjadi padanya. Sekarang dia sudah bisa mengingat semuanya, namun seluruh tubuhnya basah. Dia mulai merasakan kedinginan, dia melipat kedua tangannya untuk menutupi bagian dadanya yang terlihat transparan karena air.


"Tenangkan dirimu! Setelah itu bersihkan dirimu, aku akan siapkan pakaian bersih untukmu!" Pria itu berkata lalu pergi meninggalkan Novi sendirian di dalam kamar mandi.


Novi membuka pakaiannya lalu dia mulai membersihkan dirinya, dia mengingat semua yang baru saja terjadi. Dia tidak menyangka kedua orangtuanya bisa melakukan ini padanya, apakah belum cukup yang dia berikan pada mereka? Batinnya.


Beberapa saat kemudian terdengar suara pintu diketuk, Novi melangkah mendekat pintu kamar mandi. Dia membuka sedikit pintu kamar mandi, ternyata pria itu memberikannya sebuah handuk dan pakaian bersih.


Novi mengambil handuk dan pakaiannya, dia mengeringkan seluruh tubuhnya yang basah dengan handuk itu. Lalu memakai pakaian yang sudah diberikan pria itu, pakaian yang dia berikan termyata pakaian yang sangat tertutup. Sebuah dress panjang hingga menutupi seluruh tubuh Novi.


Novi pun keluar dari kamar mandi, dia melihat sekeliling ruangan ternyata kamar mandinya berada di dalam sebuah kamar tidur. Terlihat rapi dan bersih, sepertinya dia pria yang menyukai kebersihan. Novi pun berjalan keluar kamar, dia mencari pria itu guna berpamitan untuk pergi.


Novi melihat pria itu sedang berdiri di pantry, entah apa yang sedang dimasaknya. Tercium aroma yang begitu menggugah perut Novi yang sudah keroncongan sedari tadi.


"Kau sudah selesai?!" Pria tersebut bertanya sembari meletakan sebuah mangkuk berisi bubur hangat di atas meja, lalu dia menyuruh Novi untuk duduk.


Novi melangkah perlahan mendekati pria itu yang sudah berdiri menunggunya di depan meja yang terletak di dekat pantry. Dia pun duduk di kursi yang sudah tersedia.


"Terimakasih karena sudah membantuku!" ucap Novi dengan lirih.


Pria itu tersenyum lalu dia menyuruh Novi untuk memakan bibir yang sudah dia siapkan. Sebenarnya Novi ingin menolaknya, namu dia tidak enak dengan pria itu yang sudah membantunya.


Novi berusaha memakan bibir itu meski sebenarnya dia tidak menyukai bubur sedari dulu. Namun entah mengapa bubur yang dimasak oleh pria tersebut tidak membuatnya memuntahkannya kembali.


Novi pun menghabiskan semua bubur yang ada di mangkuk dengan sangat lahap, itu membuat pria yang ada di hadapannya tersenyum.


"Kau mau tambah?" Pria tersebut berkata dengan lembut dengan menyunggingkan senyumannya.


Tanpa kata Novi menyodorkan mangkuknya dengan arti dia ingin tambah, melihat sikap Novi pria tersebut terkekeh. Karena baru pertama kali baginya memasak bubur untuk seorang wanita, bahkan wanita ini bukanlah teman atau saudaranya.

__ADS_1


Pria itu pun menyodorkan kembali mangkuk yang sudah dia isi kembali dengan bubur. Dia memikirkan bagaimana cara memulai pembicaraan, dia ingin tahu siapa wanita yang sudah dia tolong itu.


Novi melahap bubur yang ada di dalam mangkuk tanpa sisa, perutnya pun sudah merasa kenyang. Pria tersebut memberinya segelas air putih, yang didalam sudah diberi obat untuk menghilangkan efek obat bius yang masih ada di dalam tubuh Novi.


"Siapa namamu? Dan dimana kau tinggal?!" pria itu bertanya pada Novi.


Novi terdiam sesaat dia berpikir apakah pria ini benar-benar baik atau hanya di depan saja dia baik. Namun di belakang dia sama seperti yang lainnya seperti iblis, dia menatap Kemabli pria itu dengan seksama.


"Aku Satria!" ucap pria itu memperkenalkan dirinya pada Novi, karena dia melihat masih ada keraguan dari tatapan Novi terhadapnya.


Novi pun akhirnya dapat mempercayai Satria kalau dia mengatakan namanya, "Novi."


Satria tersenyum lalu dia bertanya di mana Novi tinggal, karena dia akan mengantarkan Novi sampai dengan selamat di rumahnya. Novi pun mengatakan dimana lokasi apartemennya.


Satria pun berjalan menuju sebuah almari dekat televisi, dia mengambil kunci mobilnya lalu dia berkata "Ayo aku antar kau ke apartemenmu!"


Mendengar Satria yang hendak mengantarnya ke apartemen, Novi pun berdiri dari duduknya. Dia melangkah mengikuti langkah Satria dari belakang, Satria terhenti dengan tiba-tiba sehingga membuat Novi menubruk punggung Satria.


Awwww!


Novi meringis kesakitan karena hidungnya bertubrukan dengan punggung Satria. Mendengar suara kesakitan Novi, secara spontan Satria berbalik lalu melihat apa yang membuat Novi kesakitan.


Menyadari Satria mendekatinya dia mundur beberapa langkah, menyadari dengan ketidaknyamanan Novi dia pun mengurungkan untuk memeriksanya. Lalu dia berbalik dan berjalan ke luar apartemen menuju tempat parkir. Novi pun mengikutinya dari belakang.


Setelah berjalan kurang lebih lima menit, mereka akhirnya tiba di area parkiran. Satria memijit sebuah tombol yang ada di kunci mobilnya, terdengar alarm yang menandakan keberadaan mobilnya.


Merekapun masuk kedalam mobil, Satria menyalakan mesin mobilnya lalu dijalankannya mobil secara perlahan untuk keluar dari area parkiran. Setelah keluar dari area parkiran mobilnya melesat dengan cepat.


Dalam perjalanan Novi hanya terdiam, dia tidak ingin banyak bicara. Dia menilai bahwa Satria adalah pria baik-baik, sehingga terbersit dalam benak Novi untuk menjauhinya. Karena dia berpikir bahwa dirinya adalah wanita yang sudah tidak suci lagi.


"Kenapa? Kok diam saja?" ucap Satria memecah keheningan.


Ckitttt!


Mobil berhenti, Novi tersadar bahwa dia telah sampai di depan pelataran apartemennya. Saat dia hendak turun, Satria menghentikannya dengan memegang lengan Novi. Novi terkejut lalu dia menghempaskannya dengan lembut agar tidak membuatnya tersinggung.


"Apakah kita bisa bertemu lagi?" Satria bertanya dengan lembut, dalam hatinya ingin mendapatkan jawaban yang diinginkannya.


Novi terdiam sesaat lalu dia berkata, "Lebih baik jika kita tidak bertemu kembali! Karena itu yang terbaik!" Novi berkata sembari membuka pintu mobil dan mengatakan terimakasih pada Satria.


Dalam hatinya berkata, semua ini adalah keputusan yang terbaik jika dia tidak bertemu kembali dengan Satria. Karena baginya dia tidak cocok untuk berteman dengan satria.


Mengapa Novi bisa berpikiran seperti itu, karena saat dia berada di apartemennya Satria. Dia melihat ada Al-Qur'an dan sajadah dan beberapa buku bacaan tentang keagamaan, pikirnya mungkin Satria adalah seorang muslim yang taat.


Bagi Novi dia tidak ingin mengakibatkan masalah bagi Satriani, dia adalah pria yang baik. Jika pria yang baik maka akan mendapatkan pasangan yang baik pula itu terlihat lebih indah.


Novi berjalan memasuki apartemennya, dia tidak menyadari bahwa Satria masih menunggunya hingga dia tidak bisa melihat lagi Novi. Setelah Novi tidak terlihat oleh kedua matanya, barulah Satria pergi meninggalkan apartemen Novi.


Novi menekan sebuah kode untuk memasuki apartemennya, setelah terbuka dia memasuki apartemen lalu menutup pintunya. Novi berjalan menuju kamarnya dia berpikir untuk merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


Saat ini dia begitu lelah dengan yang baru saja terjadi, kali ini dia bisa selamat namun dia tidak tahu apakah akan selamat lagi dari jebakan kedua orangtuanya. Direbahkannya tubuh yang sudah terkulai lemas di atas ranjang, dia berusaha untuk menutup kedua matanya.


Namun dia tidak bisa, dia begitu sedihnya sehingga air matanya mengalir membasahi kedua pipinya. Tidak begitu lama pecahlah tangisnya hingga dia memukul-mukul dadanya sendiri.


"Mengapa semua ini terjadi padaku! Apakah aku tidak pantas hidup dengan tenang sesuai dengan keinginanku! Aku tidak ingin hidup dengan kebusukan lagi!" gumamnya dengan tangisan yang sudah tidak tertahan lagi. Novi terus menangis hingga akhirnya dia pun tertidur.


Dalam tidurnya dia bermimpi bertemu dengan Nova, dia begitu bahagia bisa bertemu kembali dengan Nova. Dia tidak merasa jikalau yang sedang dialaminya adalah bunga tidur belaka.

__ADS_1


"Novi, aku yakin kau kuat! Kau pasti bisa melewatinya! Aku sayang kamu, aku akan selalu berada di sampingmu, menjagamu hingga kau menemukan sosok pria yang bisa melindunginya dari cengkraman Ayah dan Ibu!" ucap Nova sembari memegang kedua tangan Novi.


Novi tersenyum mendengar perkataan Nova, hanya dia yang mengerti akan dirinya. Namun dia mengatakan pada Nova tidak ada pria yang mau menerima wanita kotor sepertinya. Jika ada mungkin kedua orangtuanya akan menolak itu, semua yang ada dipikiran Novi hanya ketidakyakinan akan menemukan pria yang baik.


Menurutnya wanita yang baik akan mendapatkan pria yang baik pula, sedangkan wanita kotor akan mendapatkan pria yang kotor juga. Sehingga dia sudah tidak berharap atau memimpikan mendapatkan pasangan yang baik.


"Kau bodoh Novi! Siapa bilang kau wanita kotor? Semua wanita atau pria pasti pernah melakukan kesalahan, namun mereka bisa bertaubat! Karena yang bisa menilai baik buruknya seorang manusia hanyalah Yang Maha Kuasa!" Nova berkata dengan senyum yang membuat Novi merasakan kehangatan seorang saudara.


Sudah lama sekali dia tidak merasakan kehangatan seperti ini, andai waktu bisa terhenti maka dia ingin semua ini terus ada pikirnya. Entah mengapa Nova mengetahui dengan pasti apa yang sedang dipikirkan oleh Novi.


Nova menarik lengan Novi, dia mengajaknya untuk menikmati suasana indahnya sebuah taman. Seperti dulu mereka selalu berjalan-jalan di sebuah taman hanya mereka berdua yang ada di taman tersebut.


Novi sangat menikmati semua itu, dilihatnya bunga-bunga yang sedang bermekaran. Semabri berpikir apakah dia pantas mendapatkan kebahagiaan dengan menemukan seorang pria yang baik.


Namun di hempaskan semua pikirannya, dia melihat Nova yang sedang bermain dengan kupu-kupu. Saat ini dia ingin menikmati suasana dan kebersamaan dengan saudarinya itu.


Setelah menikmati semuanya, merekapun terduduk diatas hamparan rerumputan yang hijau. Lalu mereka merebahkan tubuh diatas hamparan rumput nan hijau itu, mereka memandangi langit yang bersahabat.


"Dengarkan semua yang aku katakan tadi! Aku akan selalu berada di sisimu!" ucap Nova.


Setelah mengatakan itu secara perlahan Nova menghilang seperti serpihan cahaya. Novi terbangun dari tidurnya, dia pun menitikan air matanya dia begitu merindukan saudarinya itu.


Dia mengingat kembali apa yang dikatakan Nova dalam mimpinya, mulai dari saat ini Novi mulia menumbuhkan rasa percaya dirinya. Karena dia yakin Nova akan selalu ada bersamanya.


Novi melihat jam yang bertengger di atas dinding, ternyata sudah pagi. Dia pun bangun dari tidurnya. Dia berjalan perlahan memasuki kamar mandi guna membersihkan dirinya.


Setelah selesai dengan ritual membersihkan diri, Novi pun berpakaian lalu dia berjalan menuju pantry. Guna melihat bahan apa yang bisa dia olah menjadi sebuah makanan untuknya sarapan.


Dia membuka lemari pendingin, dilihatnya bahan-bahan yang masih tersedia. Setelah mengambil beberapa bahan dia pun segera mengolah bahan tersebut, dia hanya membutuhkan beberapa menit untuk mengolahnya.


Setelah selesai dia menyiapkan makanannya di atas sebuah piring, lalu dia berjalan menuju sofa. Dia duduk di atas sofa lalu menyalakan televisi yang sudah terduduk dihadapannya.


Dia memilih channel yang ada disaluran televisi, setelah memilih acara yang ingin dia tonton. Dia pun melahap makanan yang baru saja dia buat, dia tidak memikirkan kembali apa yang sudah terjadi semalam.


Setelah menangis semalam laku bermimpi bertemu dengan saudarinya, hatinya merasa tenang. Dia tidak lagi memikirkan hal-hal yang membuatnya sedih, apalagi memikirkan kedua orangtuanya.


Handphone-nya berbunyi, dia melihat siapa yang menghubungi sepagi ini. Dia melihat layar telephonenya. Nomor yang menghubunginya bukanlah nomor yang dia kenal. Dia mengabaikan telepon tersebut, namun nomor itu terus saja menghubunginya.


Dia pun mengangkatnya, stelah mendengar siapa yang berbicara di sebrang telepon tersebut ternyata adalah ayahnya. Dia berteriak mencaci maki Novi karena sudah membuatnya mengalami kerugian.


Novi sungguh tidak peduli lagi dengan apa yang ayahnya katakan, dia menyimpan handphone-nya dia atas sofa. Tanpa memutuskan sambungan teleponnya, karena jika dia memutuskan sambungan teleponnya maka sang ayah akan terus menghubunginya.


Setelah puas dengan mencaci makinya, sang ayah menutup sambungan teleponnya. Terdengar samar dia mulai mengancam Novi dengan semua kelemahan yang dimiliki oleh Novi.


Namun semua ancaman itu tidak penting lagi bagi Novi, sekarang saatnya bagi dia untuk menjadi dirinya sendiri. Lalu dia ingin mengejar semua impian dan kebahagiaannya.


Jika sang ayah atau ibunya menghalangi semua kebahagian Novi, maka dia akan menjalani semuanya dengan tenang. Karena semua ini adalah penebusan segala dosa-dosanya di masa lalu.


____________________________________________


Hai para pembaca setiaku, maaf kalau membingungkan ya, yang ingin tahu kelanjutan Alin dan Alex bisa lanjut baca di "Pembalasan si Kembar Wibowo" sudah bisa di baca ya, selamat membaca 😊😉


__________________________________________


Jika ada yang ingin ditanyakan padaku tentang karya dan bisa langsung menghubungi ku via akun Instagram.


Klik search di Instagram dengan nama akun :

__ADS_1


@macan_nurul


Sekali lagi terimakasih untuk kalian semua 💋💋 jangan lupa ya like dan komen ya juga vote ya 😉 jangan lupa juga jadikan favorit ya 😉 😉


__ADS_2