Musuhku Menjadi Imamku

Musuhku Menjadi Imamku
Extra Part Lili-67


__ADS_3

Tibalah Lili dan yang lainnya di Korea, mereka langsung menuju pulau Jeju. Arata sudah menyiapkan semuanya di pulau Jeju. Dia sudah menyiapkan sebuah vila untuk tinggal mereka selama beberapa hari ke depan.


"Sayang, terimakasih ya," ucap Lili lirih sembari memeluk Arata dari belakang.


Arata tersenyum, dia memegang erat kedua tangan yang leingkar di tubuhnya. Dalam hatinya dia ingin selalu membuat istrinya selalu bahagia, dia melakukan perjalanan kali ini untuk menebus rasa bersalahnya juga atas peristiwa kemarin yang menyebabkan bayinya tiada.


"Lebih baik kita istirahat dulu, besok kita akan jalan-jalan!" Arata berkata lalu mereka berjalan menuju tempat tidur yang sudah tertata rapi.


Lili terbangun karena alarm yang dia setting dalam ponselnya, dia melihat Arata yang terlelap di sampingnya. Dia menatap dengan lekat pria yang selalu ada untuknya, baik dalam suka dan dukanya. Dia tersenyum lalu di sibakannya rambut yang menghalangi mata Arata.


Dia mengecup lembut kening Arata, kecupan itu membuat Arata terbangun. Dia menatap Lili yang sudah ada di hadapannya, dia tersenyum lembut melihat wanita yang dia cintai seumur hidupnya.


"Pagi sayang," Arata berkata dengan suara paraunya yang menandakan dia baru terbangun dari tidurnya.


"Pagi," Lili menjawab lalu mengecup sekilas bibir Arata lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah selesai membersihkan diri Lili keluar dari kamar mandi, dia melihat Arata yang sedang terduduk di atas sofa. Dia menghampiri Arata lalu berkata, "Sayang mandi sana!"


Arata langsung menarik lengan Lili sehingga dia terduduk di pangkuannya, ditatapnya wajah Lili dengan lekat. Menurutnya Lili terlihat lebih menggoda saat selesai membersihkan diri.


"Kau selalu membuatku tergoda, sayang!" bisik Arata lalu meniup telinga Lili dengan lembut.


Lili tersenyum lalu mengecup sekilas bibir Arata, "Masa?" Lirih Lili yang membuat Arata semakin ingin melahapnya saja.


"Ayo cepat mandi! Bukankah hari ini kita akan ke suatu tempat!" Lili berkata lalu berjalan menuju almari guna mengambil pakaiannya.


Arata pun beranjak dari duduknya, dia berjalan memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri. Lili berpikir lebih baik Sarada dan Maru pergi ke tempat lain, karena mereka pasti ingin menikmati hari-harinya berdua saja.


Arata selesai dengan rutinitas membersihkan diri, dia langsung memakai pakaian yang sudah di siapkan oleh Lili yang di simpan di atas tempat tidur. Setelah selesai bersiap, mereka berencana untuk langsung jalan.


"Sayang, bagaimana jika kita pergi berdua saja! Sedangkan Maru dan Sarada biarkan mereka menikmati hari-harinya berdua saja!" Lili berkata dengan senyum manisnya pada Arata.


Sesudah keluar dari kamar, Lili melihat Sarada yang sedang duduk di atas sofa. Dia terlihat santai sekali, terlihat jika dia tidak bersiap untuk pergi kemanapun. Lalu Lili menghampirinya.


"Kenapa kau tidak bersiap?!" tanya Lili pada Sarada.


Sarada tersenyum bahwa hari ini dia memutuskan untuk tidak kemana-mana dahulu. Sehingga Maru bisa mengerjakan tugasnya dengan baik yaitu melindungi Ararat dan Lili. Meski dalam hatinya dia ingin berduaan bersama Maru walaupun hanya berdiam di kamar saja.


Tidak berapa lama Maru dan Arata menghampiri Lili, melihat Arata berdiri tepat di depannya Lili mengedipkan matanya. Seraya mengisyaratkan bahwa Arata harus mengatakan apa yang tadi mereka bicarakan. Arata tahu isyarat yang di tunjukan Lili.


"Maru, hari ini kau bebas! Karan aku ingin berduaan saja dengan wanitaku!" ucap Arata yang terlihat tegas agar Maru mau menuruti perintahnya.


Maru mengangguk dengan apa yang diperintahkan oleh Arata, setelah melihat persetujuan Maru akhirnya Lili dan Arata pergi meninggalkan mereka berdua. Setelah itu terserah mereka mau pergi berjalan-jalan atau hanya tinggal di kamar saja.


"Apakah kau ingin keluar atau hanya di kamar saja?" Mari bertanya sembari duduk di samping Sarada.


Sarada terdiam dengan mengetuk-ngetuk bibirnya dengan jari tengahnya, itu menandakan dia sedang berpikir apa yang akan dia lakukan. Maru yang melihat Sarada seperti itu merasa tergoda karena dia terlihat sangat manis.


Srettt!


Maru mengangkat Sarada dengan lembut lalu mereka berjalan menuju kamarnya, Sarada terkejut dengan yang dilakukan Maru. Namun dia senang dengan apa yang dia lakukan, terlihat senyum lembut dari bibir Sarada. Itu membuat Maru mencuri kecupan sekilas di bibir Sarada yang menggoda.


"Apa sebaiknya kita juga pergi keluar?" tanya Sarada pada Maru yang masih menggendongnya.


Maru tersenyum, dia tidak menjawab pertanyaan yang lontarkan Sarada. Dihenpaskannya tubuh Sarada secara lembut di atas tempat tidur. Ditatapnya Sarada dengan lembut, dalam mata Maru dia sangat memesona. Sehingga tidak ada satu wanita pun yang bisa menggantikannya.


"Maru, aku ingin jalan ke suatu tempat. Bisakah kita pergi saja sekarang?" Sarada membujuk Maru yang sudah tidak tahan untuk melahapnya.


"Sebentar saja, setelah aku puas melahapmu kita pergi!" bisik Maru di telinga Sarada dengan lembut.


Merekapun mulai dalam permainan yang bisa membuat mereka merasakan kenikmatan yang bisa membuat mereka lupa akan semua hal. Setelah bergelut selama satu jam, mereka membersihkan diri lalu bersiap untuk pergi ke luar.


"Aku sudah siap! Ayo kita pergi!" Maru berkata sembari memeluk Sarada yang masih berdiri di depan cermin.


Sarada tersenyum, dia memegang lengan Maru yang memeluk tubuhnya. Lalu melepaskannya perlahan agar mereka bisa melangkah keluar untuk berjalan-jalan. Mereka pun pergi berdua untuk menikmati suasana liburan mereka, Sarada menginginkan berkunjung ke Camellia Hill .


Tibalah Sarada dan Maru di Camellia Hill, sebuah taman yang tumbuh pohon Camelia dari 80 negara. Sarada sangat menikmati acara jalan-jalan mereka kali ini, dia tidak menyadari bahwa sedari tadi ada seseorang yang selalu memperhatikannya dan mengikutinya.


"Sayang, bagaimana kalau kita istirahat sejenak? Aku haus." Sarada berkata pada Maru sembari memegang lengannya.


"Baiklah, kita akan mencari sebuah cafe!" jawab Maru pada Sarada.


Mereka pun berjalan mencari sebuah cafe yang bisa membuat nyaman untuk mereka sembari menikmati pemandangan. Akhirnya mereka menemukan sebuah cafe yang membuat mereka nyaman. Mereka memesan minuman dan camilan, sembari menunggu pesannya tiba Maru memainkan ponselnya guna mengecek email.


"Sayang, bukankah ini adalah hari kita untuk berlibur? Bisakah kau tidak memikirkan pekerjaanmu!" ucap Sarada yang kesal dengan yang dilakukan oleh Maru.


Maru tersenyum lalu dia menyimpan ponselnya, lalu meminta maaf pada Sarada. Tidak lama dari itu pramusaji membawakan pesanan mereka, saat mereka sedang menikmati minuman dan camilan mereka. Ada seseorang yang berjalan menghampiri.


"Bagaimana kabarmu Sarada?" ucap seorang pria pada Sarada.

__ADS_1


Sarada mendongak, dia begitu terkejut dengan apa yang dia lihat. Maru melihat dengan jelas raut wajah Sarada, dia penasaran siapa pria yang menyapanya ini. Tanpa ijin pria tersebut duduk bersama mereka.


"Sudah lama kita tidak bertemu? Aku mencari-carimu namun aku tidak menemukanmu! Akhirnya aku bisa bertemu denganmu lagi." Pria itu berkata dengan santainya.


Sarada tidak suka dengan kehadiran pria tersebut, dia tidak banyak bicara. Maru merasa aneh dengan perubahan sikap Sarada.


"Hallo Tuan, perkenalkan saya suami dari Sarada! Nama saya Maru." Maru berkata dengan mengirimkan tangannya untuk berjabat tangan.


Pria tersebut tersenyum, rupanya Sarada sudah menikah katanya dalam hati. Dengan percaya dirinya dia menyambut uluran tangan Maru dengan mengatakan bahwa namanya Mike. Dia adalah pria perpaduan Indonesia dan Inggris, Mike bertemu dengan Sarada sewaktu mereka masih menempuh pendidikan.


"Sayang, aku sudah kenyang. Bisakah kita pergi dari sini!" Sarada berkata sembari beranjak dan berjalan meninggalkan Mike.


Maru bergegas mengejar Sarada yang sudah berjalan dengan cepat meninggalkannya. Dalam benak Maru, apakah dia pria yang pernah dia sebut dalam tidurnya. Karena Maru pernah mendengar Sarada mengigau memanggil-manggil nama Mike.


Maru berlari guna mengejar Sarada yang sudah berada jauh di depannya, di saat sudah dekat di menarik lengan Sarada. Sehingga Sarada menghentikan langkah cepatnya, Maru melihat apa wajah Sarada yang penuh dengan rasa marah dan benci.


"Siapa dia?!" Mari bertanya dengan lembut pada Sarada.


Sarada hanya diam, dia tidak ingin menjawab apa yang ditanyakan oleh Maru. Lalu dia mengajak Maru untuk berjalan kemabali. Namun Maru tidak ingin melanjutkan perjalanannya, sebelum dia tahu siapa Mike itu.


"Aku tanya sekali lagi, siapa dia?!" Maru berkata dengan penekanan, dengan arti dia ingin Sarada menjawabnya.


"Aku akan beritahu jika kita sudah sampai di villa," jawab Sarada.


Merekapun memutuskan untuk menghentikan acara jalan-jalan, Sarada sudah tidak berniat lagi untuk melanjutkannya. Dalam hatinya penuh dengan rasa sedih, kesal dan marah terhadap Mike. Dia ingat dengan pasti apa yang sudah dilakukan Mike padanya.


Maru melihat Sarada sedari tadi, dia tidak banyak bicara. Namun itu membuat Maru semakin ingin mengetahui siapa Mike sebenarnya, sebelumnya dia tidak mempermasalahkan masa lalu Sarada. Akan tetapi jika sudah melihat seperti ini, dalam hatinya ingin mengetahui semua masa lalu Sarada.


Tibalah mereka di villa, Sarada berjalan menuju kamarnya. Maru memarkirkan mobil lalu mengejar Sarada masuk ke dalam kamar. Maru memasuki kamar, dia melihat Sarada sedang berdiri di balkon sedang termenung.


Maru menghampirinya lalu berkata, "Jika kau tidak mau mengatakannya, tidak apa-apa! Dari awal aku bertemu denganmu, aku sudah mengatakan bahwa aku tidak peduli dengan semua masa lalunya. Namun setelah bertemu dengan Mike, rasa ingin tahuku memuncak. Karena kau pernah mengigau namanya sewaktu tertidur dalam dekapanku."


Sarada terkejut dengan kalimat terkahir yang Maru katakan padanya, dia memandangnya berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


"Apakah yang dia katakan? Aku mengiyakan nama Mike sewaktu aku tertidur dalam dekapannya!" gumam Sarada.


Sarada berjalan masuk ke dalam kamar, dia duduk di atas tempat tidur menunggu Maru keluar dari kamar mandi. Pintuku kamar mandi terbuka, dia melihat Maru baru saja keluar.


"Akan aku ceritakan semuanya padamu," ucap Sarada pada Maru.


Maru pun melangkah mendekati Sarada lalu dia duduk di samping Sarada. Dia menunggunya untuk menceritakan semuanya. Sarada mulai menceritakan siapa Mike, bagaimana dia bertemu dengan Mike, apa hubungannya dengan Mike. Sarada ceritakan semuanya tanpa ada yang dia sembunyikan.


"Lalu!" ucap Maru singkat.


"Saat itu aku belum bisa bela diri sehingga aku tidak bisa membela diriku sendiri. Aku berusaha lari dari jebakannya, akan tetapi aku berhasil ditangkap olehnya lalu dia memaksaku untuk meminum minuman yang sudah dia sediakan. Ternyata dia sudah memasukkan obat bius ke dalam minuman tersebut. Namun aku tidak ingin hidupku hancur karena pria tidak bermoral itu, aku berusaha untuk melarikan diri. Akhirnya aku berhasil lari darinya."


"Saat pelarianku, aku bertemu dengan ayah dan ibumu! Mereka menyelamatkan aku, mereka berusaha agar aku bisa terlepas dari obat bius yang sudah aku minum. Mereka membawakan aku seorang dokter, untuk memriksaku karena aku begitu menderitanya. Ibumu merawatku dengan baik, dia merendam seluruh tubuhku dengan air dingin untuk meredam rasa panas di tubuhku!"


"Kapan itu terjadi?" Maru bertanya.


"Kejadian itu saat aku masih duduk di bangku sekolah menengah atas, dulu aku selalu percaya akan kata-kata manisnya. Dan juga selalu percaya bahwa Ayuka adalah Kakak yang baik untukku. Namun semua itu adalah semu, semuanya hanya topeng saja. Pada kenyataanya mereka menginginkanku hancur hingga tidak dapat bangkit lagi."


"Selain Mike, kedua orangtuanya juga menyakiti perasaanku. Mereka menghinaku dengan status dan pendidikanku, mereka mengira aku adalah gadis bodoh yang tidak bisa dibanggakan. Mereka hanya memandang Ayuka yang cantik dan pintar dalam segala hal. Mereka mengatakan bahwa aku tidak cocok untuk bersanding dengan Mike. Ditambah lagi Ayuka yang mengatakan bahwa aku bukanlah anak dari kedua orangtuaku. Ayuka tidak mengakui mu sebagai adik kandungnya."


Tidak terasa air matanya menetes membasahi kedua pipi Sarada, Maru merasa sedih mendengar semua cerita Sarada. Kedua orangtuanya tidak mengetahui semua yang dilakukan oleh Ayuka kepada Sarada. Isakan tangis terdengar jelas oleh Maru.


Maru memeluk Sarada dengan erat, dia tidak menyangka Ayuka bisa melakukan semua itu pada adiknya sendiri. Ditambah lagi Ayuka bekerja sama dengan Mike untuk menyakiti Sarada. Dalam hatinya berkata, mulai sekarang dia akan melindungi Sarada dari orang-orang yang hendak menyakitinya.


"Maafkan aku, karena telah membuka luka lamamu kembali," ucap Maru dengan lirih.


"Tidak apa-apa, aku juga merasa lega setelah menceritakan semuanya padamu. Sehingga kelak tidak ada alahi keraguan diantara kita, aku ingin hubungan kita dilandasi dengan kejujuran dan kepercayaan. Karena bagiku itu sangatlah penting!" jawab Sarada dengan lembut.


Ponsel Maru berdering, dia mengangkat langsung ponselnya karena yang menghubunginya adalah Arata. Maru mengerutkan keningnya mendengar perkataan Arata, rupanya dia sudah ditinggalkan oleh Arata dan Lili. Mereka berdua pergi ke Bali, karena Arata ingin menikmati suasana Bali kali ini.


Arata mengatakan bahwa untuk beberapa satu Minggu ini Maru dan Sarada tetap berada di pulau Jeju. Itu adalah hadiah darinya untuk mereka berdua, karena selama ini merupakan dan Sarada belum menukangi bulan mandi mereka.


Di bandara, Lili tersenyum memikirkan bagaimana ekspresi Maru dengan semua rencana yang sudah dia buat. Karena selama ini Maru tidak ingin melakukan perjalanan bulan madu, yang ada di pikirannya hanya kerja dan kerja. Sehingga Lili merasa kasihan pada Sarada.


"Sayang apa rencana kita akan berhasil? Apakah Maru tidak akan mengejar kita ke Bali?" ucap Lili pada Arata.


"Dia tidak akan mengejar kita ke Bali, aku tahu Maru juga membutuhkan waktu berduaan bersama istrinya. Sebenarnya aku pun membutuhkan waktu hanya berdua denganmu sayang," Arata berkata semabri memeluk Lili.


Penerbangan mereka menuju Indonesia sudah tiba, mereka berdua pergi dengan suasana hati yang gembira. Akhirnya mereka bisa memberi hadiah untuk Maru dan Sarada.


"Siapa yang menelepon?" Sarada bertanya karena melihat Maru yang mengerutkan keningnya.


Maru mengatakan apa yang dikatakan Arata, bahwa mereka sudah ditinggal pergi oleh Arata dan Lili. Sarada terkekeh mendengar perkataan yang di ucapkan oleh Maru.


"Rupanya ini rencana Nona Lili untuk kita!" ucap Sarada sembari tersenyum.

__ADS_1


Melihat Sarada yang menertawakannya Maru sedikit kesal, muncul dalam pikirannya untuk menggodanya. Dia mendorong tubuh Sarada hingga terjatuh di atas tempat tidur. Dia menatap lekat kedua mata Sarada, mata mereka saling bertautan.


Secara perlahan Maru mendekati Sarada hingga akhirnya dia mengecup lembut bibirnya. Sarada menikmati kecupan yang di mainkan oleh Maru, sehingga dia pun mengikuti permainan Maru.


***


Sarada terbangun di pagi hari karena mendengar ponselnya berdering, dia mengambil ponselnya di atas nakas. Dilihatnya layar ponsel tersebut, nomor yang tertera tidak dia kenal. Dia mengangkatnya.


"Hallo!" ucap Sarada dengan suara parau yang terdengar baru bangun tidur.


"Bagaimana sayang, apakah tidurmu nyeyak?" jawab seorang pria di seberang telepon.


Sarada terdiam, dia tahu betul dengan suara pria itu. Dia tidak lain adalah Mike, dalam benaknya dia berkata dari mana Mike mendapatkan nomor ponselnya. Dia terus mendengarkan ocehan Mike yang membuatnya merasa kesal.


"Dari mana kau mendapatkan nomor ponselku hah?!" tanya Sarada dengan nada marah, sehingga membangunkan Maru.


"Kau pasti sudah tahu betapa mudahnya aku mendapatkan semua informasi tentangmu! Kau pun tahu aku mendapatkannya dari siapa lagi kalau bukan dari Ayuka." Jawab Mike di seberang telepon.


"Dengarkan aku! Jangan pernah kau menghubungiku lagi! Bagiku kau adalah masa lalu yang membuatku merasa muak!" Sarada berkata lalu menutup sambungan teleponnya.


Dia langsung memblokir nomor yang baru saja menghubunginya, dia benar-benar sudah tidak ingin berhubungan lagi dengan Mike. Jika dia mengingat Mike maka dia akan mengingat semua kenangan buruk di masa lalunya. Meski Mike belum berhasil membuatnya merasa terhina. Namun penghinaan kedua orangtuanya kepada Sarada sangatlah menyakitkan.


"Siapa yang menghubungimu?" Maru berkata dengan lirih.


"Mike." Sarada menjawab singkat.


"Bagaimana dia tahu nomor ponselmu?" Maru yang penasaran siapa yang memberitahukan nomor ponsel Sarada pada Mike.


"Ayuka yang memberikannya nomor ponselku padanya, dia juga memberitahukan semua informasi tentangku padanya!" Sarada menjawab lalu menghempaskan tubuhnya ke tas ranjang.


Maru memeluk Sarada dengan lembut, dia berusaha menenangkannya agar dia tidak terlalu berpikir tentang masa lalunya yang begitu menyakitkan.


"Sudahlah sayang, tenangkan dirimu! Jika dia berani macam-macam lagi aku akan bertindak!" Maru berkata guna menenangkan Sarada.


Sarada merasa tenang dengan ucapan dan pelukan Maru, dia merasa beruntung memiliki Maru sebagai suaminya. Dia tidak menyangka jika akan memiliki suami sepertinya.


"Ayo kita membersihkan diri, aku akan membantumu membersihkan diri," bisik Maru dengan nada menggoda Sarada.


Maru menggendong Sarada tanpa persetujuannya, itu membuat Sarada terhenyak. Namun itu juga membuat Sarada tersipu malu, wajahnya memerah. Maru tersenyum melihatnya tersipu malu, dia semakin ingin melahapnya saja.


"Kenapa mesti malu, aku sudah melihat seluruh tubuhmu tanpa sehelai kainpun yang menutupinya." Bisik Maru yang membuat Sarada semakin merasa malu.


Maru melangkah perlahan semabri menggendong Sarada memasuki kamar mandi, Sarada membuka pintu kamar mandi lalu mereka masuk ke dalam kamar mandi. Maru menurunkan secara perlahan Sarada lalu menyalakan keran shower, mereka mulai untuk rutinitas membersihkan diri


Setelah selesai membersihkan diri mereka bersiap untuk melanjutkan acara jalan-jalan mereka dengan lokasi yang berbeda dari yang kemarin. Sarada berusaha melupakan kejadian kemarin dan tadi pagi, dia ingin menikmati suasana bahagia bersama Maru hanya dengan Maru seorang.


"Sayang hari ini tujuan kita kemana?" tanya Maru dengan lembut pada Sarada.


"Hari ini kita ke Gunung Halla, besok sore aku ingin ke air terjun Cheonjiyeon." Jawab Sarada.


Setelah semua siap, mereka pun berjalan keluar kamar lalu menuju mobil yang sudah siap beserta sopir yang akan mengantar mereka. Dalam perjalanan menuju Gunung Halla, entah mengapa hati Sarada tidak tenang. Dia merasakan akan terjadi sesuatu akan tetapi dia tidak tahu apa yang akan terjadi.


Tibalah mereka di Gunung Halla, mereka mulai mendaki dan menikmati alam yang begitu indah. Mereka ditemani oleh seorang tour guide untuk menjelajahi Gunung Halla.


"Selamat pagi menjelang siang Tuan dan Nona, ijinkan saya untuk memberikan beberapa informasi mengenai Gunung Halla," seorang tour guide berkata pada Maru dan Sarada.


Maru pun mengijinkan tour guide tersebut untuk menjelaskan mengenai Gunung Halla.


"Baik Tuan, terimakasih saya akan mulai. Hallasan yang berarti Gunung Halla adalah gunung tertinggi di Korea Selatan. Gunung berapi dengan ketinggian 1.950 meter ini merupakan bagian dari kawasan konservasi Hallasan Gungnip Gongwon atau Taman Nasional Hallasan. Di gunung ini terdapat kuil Buddha tertua di Jeju, yaitu Gwaneumsa yang dibangun pada masa Dinasti Goryeo. Sementara di puncaknya terdapat sebuah danau kawah yang dikenal dengan nama Baengnokdam, berarti kolam yang dihuni rusa putih."


"Kawasan Gunung Halla memiliki kondisi alam yang unik, sebab terbagi atas beberapa iklim yang berbeda. Puncak gunungnya beriklim dingin dan kadang diselimuti salju, sementara bagian tengahnya beriklim sedang, dan daerah pesisir yang letaknya di dasar gunung memiliki iklim subtropis. Karena itulah di daerah pegunungan ini bisa ditemui berbagai tumbuhan khas daerah dingin dan tropis sekaligus."


"Sekian informasi yang bisa saya berikan untuk perjalanan kita kali ini, saya harap Tuan dan Nona bisa menikmati perjalanan hari ini." Tour guide berkata dengan ramah dan tersenyum lalu dia melanjutkan perjalanannya untuk menemani Maru dan Sarada.


Disaat mereka sedang menikmati pemandangan yang begitu indah, Sarada dikejutkan dengan kehadiran Mike. Dalam hatinya berkata Pakah Mike mengikutinya sedari tadi. Apakah dia mulai menguntitnya, apakah kejadian di masa lalu akan terulang lagi. Semua pertanyaan muncul di dalam pikiran Sarada.


"Hai Sarada, bolehkah aku bergabung denganmu?!" ucap Mike dengan tidak mengenal rasa malu terhadap Maru.


Maru hanya memperhatikan bagaimana Mike ingin mengganggu Sarada, dia mengeluarkan ponselnya. Dia menghubungi seseorang untuk menyelidiki Mike. Dia meminta dalam waktu 24 jam mendapatkan semua informasi yang dia inginkan.


___________________________________________


Haiii para readers maafkan penulis yang banyak maunya ini ya xixixix....


Jangan lupa like di setiap episode, trus klik love biar dpt notif updatean terbaru dan klik bintang 5 biar penulis semakin semangat.


Oia satu lagi jangan lupa komen juga ya, karena like dan komen kalian sangat berarti bagiku.


Satu lagi deh jangan lupa berikan poin kalian untuk ceritaku ya 😉😉

__ADS_1


__ADS_2