
Semua orang merasa bahagia dengan kabar gembira yang diberikan oleh Arata dan Lili mengenai kehamilan Lili saat ini. Yuki pun yang mengetahui jika ibunya akan melahirkan seorang bayi merasa senang.
Dia tidak merasa cemburu jika ibunya melahirkan seorang bayi, dia merasa beruntung karena mendapatkan ibu dan ayah yang menyayanginya. Dia akan menerima bayi itu sebagai adik kandungnya sendiri.
"Ibu, adikku perempuan atau laki-laki?" tanya Yuki pada Lili yang sedang duduk sembari membaca di samping Arata.
Lili tersenyum mendengar Yuki bertanya seperti itu, dia menjawab baik perempuan atau laki-laki itu sama saja masih tetap adik. Karena Tuhan yang sudah memberikan kepada kita, maka kita harus selalu bersyukur.
Yuki menghampiri Lili lalu mengelus lembut perutnya dan mengatakan agar sehat selalu dan cepat keluar. Sehingga bisa bermain bersama, dia pun berkata akan selalu menjaga adiknya dengan baik.
Melihat dan mendengar apa yang dilalui oleh Yuki membuat Arata senang. Dia merasakan telah memiliki seorang putri lalu sekarang dia akan memiliki anak kedua mereka.
Lili yang melihat Arata tersenyum merasakan kebahagiaan yang begitu sempurna. Dia tahu bahwa Arata sedang menikmati pemandangan seorang gadis kecil yang akan memiliki seorang adik.
Setalah mengatakan itu Yuki kembali ke kamarnya terlebih dahulu untuk mengambil buku pelajarannya. Karena seorang guru telah tiba untuk mengajarinya.
"Sayang, apakah kau sudah mendengar kabar mengenai Kenzo?!" tanya Lili pada Arata.
"Belum, aku tidak tahu apakah dia masih hidup atau sudah tiada. Namun, yang pasti kita harus selalu mengatakan pada Yuki tentang siapa dia sebenarnya, sehingga dia tidak melupakannya siapa orangtua kandungnya!" jawab Arata.
Lili mengangguk, dia tahu apa yang dimaksud dengan perkataan Arata. Yang dimaksudnya adalah agar Yuki bisa kembali merebut apa yang sudah semestinya menjadi miliknya. Dan juga berhati-hati pada orang yang telah mencelakai kedua orangtuanya.
Mungkin suatu saat nanti, jika Yuki sudah dewasa dan mengerti apa yang akan dia lakukan untuk mencari keberadaan Kenzo. Lili tidak mempermasalahkan itu karena Yuki berhak bertemu dengan ayahnya.
"Selama kita tidak menemukan jasad Kenzo, aku yakin dia masih hidup! Maka dari itu kita harus mempersiapkan Yuki untuk mencarinya!" Arata mengatakan dengan penuh keyakinan.
Lili menyetujui apa yang dikatakan oleh Arata, dia kan mendidik Yuki menjadi wanita tangguh. Yang bisa melindungi dirinya sendiri dan orang-orang yang dia sayangi.
Mulai saat ini Arata akan mencari seorang guru seni bela diri yang akan melatihnya di rumah. Karena saat ini tidak memungkinkan bagi Yuki untuk keluar dari rumah.
Asamu sampai saat ini masih terus berusaha mencari celah untuk merebut Yuki. Namun, Arata tidak akan membiarkan semua itu terjadi. Jika Yuki berada di tangannya maka gadis kecil ini akan sangat menderita.
Ponsel Arata berbunyi, dia mengangkat ponselnya karena yang menghubunginya adalah ayah. Ayah menyuruh Arata, Lili dan Yuki untuk berkunjung ke pedesaan.
Karena ibu sudah rindu untuk bertemu dengan Yuki dan juga memberikan Lili suasana yang sejuk di pedesaan. Arata tidak bisa menolak keinginan ayah dan ibu. Dia menyetujui akan berkunjung ke kota Nakanojo. Setelah mendengar kesediaan Arata, ayah menutup teleponnya.
"Ada apa?" Lili bertanya pada Arata.
"Ayah menyuruh kita bersama Yuki berkunjung ke pedesaan," jawab Arata.
"Baiklah, kita akan bersiap-siap! Lagi pula aku juga ingin bertemu dengan ibu dan membawa Yuki menikmati pemandangan yang begitu indah!" Lili berkata sembari berdiri dan berjalan menuju almari.
Lili merapikan pakaiannya dan Arata yang akan di bawa untuk pergi ke pedesaan. Setelah itu dia berjalan keluar kamar untuk menuju kamar Yuki. Dia menyiapkan pakaian serta barang yang akan di bawa nanti.
Lili lebih senang melakukan hal-hal kecil sendiri, menurutnya itu bisa membuatnya menghilangkan rasa jenuh. Karena selama kehamilannya kali ini dia lebih banyak di rumah.
Arata menyuruh Lili tidak terlalu banyak bekerja, itulah alasan Lili mulai jenuh berada di rumah. Untung saja perusahaan ada yang menangani dengan baik yaitu Novi dan Sella.
Setelah semuanya siap, Lili, Arata dan Yuki pergi ke pedesaan. Mereka pergi diantar oleh Maru, setelah mereka tiba di rumah ayah dan ibu Arata menyuruh Maru untuk kembali ke Tokyo. Karena Arata merasa khawatir jika meninggalkan Sarada yang sedang mengandung.
Lagi pula selama di pedesaan penjagaan sangat ketat, sehingga Maru tidak perlu mengkhawatirkan keselamatan Arata dan keluarganya.
Karena Arata memaksanya untuk kembali ke Tokyo, Maru pun berpamitan lalu dia kembali pulang ke apartemennya. Dia juga merasa khawatir jika meninggalkan Sarada yang sedang mengandung.
Ibu yang merasa bahagia melihat kedatangan Lili, Yuki dan Arata sehingga melupakan sang ayah yang sudah ingin diperhatikan. Yuki yang melihat kakek menatap nenek lalu muncul ide jahilnya.
"Nenek, lihat kakek mau nangis!" ucap Yuki.
Semua yang mendengar Yuki berkata terkejut lalu melihat sang ayah yang sedang cemberut. Melihat itu Lili dan semuanya terkekeh-kekeh.
"Apa yang terjadi padamu, Ayah?!" Araya bertanya dengan nada menggoda.
"Huh ... Terus saja kalian menertawakan! Dan kau gadis cilik ayo ikut denganku!" timpal ayah sembari mengajak Yuki menuju taman bunga di belakang rumah.
Lili, ibu dan Arata hanya bisa terkekeh melihat sikap ayah seperti anaknya kecil. Lalu Lili berkata, "Bu, sebaiknya jangan melupakan ayah jika ada kami."
__ADS_1
Ibu tersenyum mendengar perkataan Lili, lalu ibu menyuruh seorang pelayan untuk memasukkan barang-barang Lili dan Arata ke kamar. Sedangkan barang Yuki di tempatkan di kamar terpisah.
Yuki pun sudah terbiasa tidur sendiri dalam kamarnya, sehingga tidak menganggu Lili yang saat ini sedang mengandung. Yuki merupakan anak yang pengertian dan mudah diberi pengertian.
Arata berjalan menuju taman, guna melihat ayah dan Yuki. Sedangkan Lili bersama ibu lebih memilih duduk di sebuah kursi yang menghadap ke taman. Sehingga bisa melihat Yuki, ayah dan Arata yang bermain di taman.
"Bagaiman, apakah sudah ada kabar dari Kenzo?!" tanya ibu pada Lili sembari meneguk teh yang ada di dalam cangkir.
"Belum Bu, kami belum mengetahui apakah Kenzo masih hidup atau sudah tiada." Lili menjawab dengan melihat Yuki yang sedang bermain dengan Arata dan ayah.
Ibu mengatakan jika dia setuju dengan keputusan Lili dan Arata untuk mengurus Yuki. Namun, ibu memberikan masukkan agar selalu berhati-hati. Karena orang yang menginginkan Yuki pasti akan terus mengganggu.
Lili mengangguk, dia begitu sayang dengan ibu mertuanya karena sangat pengertian dan tidak banyak menuntut. Lili berkata, "Terima kasih ya Bu, karena sudah mendukung semua keputusanku dan Arata."
Ibu tersenyum, lalu mengatakan apa pun yang mereka berdua lakukan. Akan selalu mendukung dan selalu menghormati setiap keputusan yang sudah diambil. Yang terpenting adalah kebahagiaan Arata dan Lili sekarang ditambah Yuki dan calon bayi yang akan lahir ke dunia ini.
Yuki berlari dan menarik tangan ibu untuk mengikutinya bermain bersama ayah dan Arata. Melihat tatapan Yuki yang begitu lucu dan lembut membuat hati ini tidak sanggup menolaknya. Ibu pun berjalan mengikuti Yuki yang sudah berjalan di depannya.
Lili merasa bahagia memiliki ibu dan ayah mertua yang sangat menyayangi dan pengertian. Dia selalu bersyukur dengan nikmat yang sudah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.
Ponsel Lili berdering, dia mengangkatnya mendengar apa informasi yang diberikan oleh Novi. Novi mengatakan semua pekerjaan hari ini, Lili mengatakan pada Novi untuk melakukan apa pun yang menurutnya terbaik. Karena dia sudah percaya penuh akan kemampuan yang dimiliki oleh Novi.
***
Di ruangan kerja setelah Novi menghubungi Lili masalah pekerjaan, dia merasa lega karena Lili boercaya penuh akan dia. Sehingga dia akan bekerja dengan sebaik-baiknya. Dan tidak akan mengecewakannya.
Karena sibuk dengan pekerjaannya Novi melupakan semua masalah yang sedang dia hadapi. Dia mengira jika sudah kembali bersama Satria hidupnya akan kembali seperti setelah menikah dengannya. Namun, semua itu tidak seindah yang dia bayangkan.
Satria masih saja belum bisa bertindak tegas pada Faisal, sehingga membuat Novi merasa tidak dianggap penting. Meski Satria sudah tahu kebenarannya.
Ada sebuah pesan masuk di ponsel Novi, itu dari Satria yang mengatakan jika malam ini dia akan berada di apartemennya. Karena Faisal ingin mengatakan sesuatu padanya.
Novi tidak membalas pesan yang dikirim oleh Satria, dia sudah tidak peduli lagi apa yang akan dilakukan olehnya. Yang pasti malam ini dia akan menyelesaikan pekerjaan ini dulu baru kembali ke apartemennya.
Setelah menyelesaikan semua pekerjaannya Novi melihat jam yang menempel di dinding ruangannya. Setelah itu dia merapikan mejanya dan berjalan ke luar ruangan.
Novi tiba di apartemennya, dia langsung menyimpan tas lalu berjalan menuju kamar mandi guna membersihkan diri. Setelah selesai dengan rutinitasnya membersihkan diri Novi berjalan menuju almari. Dia mengambil pakaiannya setelah itu dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Dia menatap langit-langit kamarnya, betapa sedihnya dia jika mengingat tentang Satria. Rupanya apa yang dia katakan berbeda dengan apa yang dilakukan saat ini. Sebegitu sayangnya dia pada Faisal sehingga mengorbankan perasaan istrinya.
Ponselnya berdering, dia mengambil ponselnya di nakas. Melihat layar ponselnya tertera nama Satria. Dia mengabaikan panggilan dari Satria. Hingga akhirnya nada panggilan tersebut terhenti dan beberapa saat kemudian kembali berdering.
Sudah ada 5 kali Satria menghubungi Novi tetapi diabaikan. Yang diinginkan Novi malam ini adalah beristirahat dengan tenang. Dia tidak ingin memikirkan Satria untuk malam ini.
Satria yang merasa khawatir dengan Novi hendak pergi melihat di apartemennya. Namun, Faisal melarangnya karena dia ingin mengatakan sesuatu.
"Apa yang ingin kau bicarakan?!" tanya Satria pada Faisal yang sudah terduduk di hadapannya.
"Kak, apakah kau sayang padaku?" Faisal balik bertanya.
Satria bingung mengapa dia bertanya seperti itu, meski dia tidak bertanya seperti itu. Bisa terlihat bahwa Satria sangat menyayangi Faisal.
"Apa kau tidak bisa melihat betapa aku menyayangimu, aku mengorbankan semua yang aku miliki hanya untukmu. Dulu kau meminta kekasihku aku berikan!" jawab Satria pada Faisal.
Faisal hanya terdiam, dia mengingat kembali masa lalu dimana dia meminta sang kakak untuk melepaskan kekasihnya untuk dirinya. Namun, semua yang dilakukan Satria tidak pernah cukup baginya, sekarang yang dia inginkan adalah Novi.
"Aku tahu itu tetapi sekarang yang aku inginkan adalah kau memberikan Novi padaku! Ini adalah permintaan terkahirku padamu Kak!" ucap Faisal yang membuat Satria terkejut.
"Apa kau sudah tidak waras hah! Kau meminta apa yang tidak mungkin kau dapatkan!" jawab Satria dengan nada tinggi.
Satria kesal dengan permintaan Faisal yang menurutnya sudah keterlaluan. Baginya sudah cukup memberikan apa yang sudah menjadi miliknya pada Faisal.
"Aku masih waras Kak, karena aku sangat mencintai Novi maka berikanlah dia untukku!" Faisal berkata dengan serius tetapi dalam hatinya merasa puas melihat kakaknya merasa bimbang.
Faisal ingin melihat apakah sang kakak akan memilih kebahagiaannya atau mementingkan kebahagian dirinya sendiri. Hatinya merasa senang melihat Satria seperti ini, entah sejak kapan Faisal menginginkan apa yang sudah menjadi milik Satria.
__ADS_1
"Aku tidak akan memberikan istriku padamu! Karena kau yang sudah membuatnya sangat menderita! Yang kau rasakan di hatimu bukanlah cinta melainkan rasa ingin memiliki apa yang sudah aku miliki. Khusunya adalah wanitaku!" Satria berkata pada Faisal sembari berjalan keluar meninggalkannya.
Satria merasa jika adiknya sudah buka adik yang dulu, yang selalu bersikap baik dan tidak melanggar norma dan aturan. Entah sejak kapan dia berubah menjadi seperti ini.
Dia berjalan dan terhenti di depan apartemen Novi, menekan tombol yang ada di dekat pintu. Lalu pintu apartemen terbuka, dia masuk secara perlahan karena tidak ingin membangunkan Novi.
Hatinya sungguh kecewa dan sedih karena Faisal, untuk kali ini dia tidak akan menyerahkan Novi. Karena dia sangat mencintai Novi melebihi dirinya sendiri. Dia tidak ingin Novi merasakan kesedihan akibat Faisal.
Satria tahu jika Faisal tidak akan pernah bisa membahayakan Novi karena dia hanya menginginkan tubuhnya saja. Di berjalan perlahan menuju kamar, melihat Novi yang sudah terlelap.
Satria mendekatinya lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, tepat di samping Novi. Dia memeluk erat tubuh istrinya, dia tidak akan memberikan cintanya meski pada adik kandungnya sendiri.
Novi terbangun karena menyadari ada seseorang yang memeluknya tetapi dia bisa merasakan bahwa yang memeluknya adalah Satria. Sehingga dia merasa tidak perlu untuk melakukan apa-apa. Dia merasakan kehangatan dari pelukan Satria sehingga dia kembali tertidur.
Keesokan harinya Novi mendapatkan kecupan hangat dari Satria, itu membuatnya terbangun. Dia tersenyum melihat suaminya yang sudah pulang ke apartemennya.
"Good morning, sayanga." Satria berucap sembari mengecup kening Novi kembali.
"Aku pikir kau tidak akan kembali?!" Novi bertanya pada Satria yang setahunya tidak akan pulang.
Satria tidak menjawab, dia kembali memeluk Novi dengan erat. Seraya tidak ingin melepaskannya, yang dia inginkan saat ini adalah memeluk wanita yang sangat dia cintai.
Novi tahu jika Satria sedang gelisah karena dia hanya diam dan memeluknya saja. Novi memutuskan untuk diam dan tidak banyak bicara.
Setelah beberapa saat, Satria melepaskan pelukannya karena Novi hendak membersihkan diri. Dia pun melihat wanita yang dia cintai berlalu dan hilang saat masuk kedalam kamar mandi.
Satria teringat kembali apa yang dikatakan oleh Faisal dan itu membuatnya sangat kesal. Dia beranjak dari tempat tidur lalu berjalan menuju kamar mandi.
Dia membuka pintu kamar mandi yang tidak terkunci, dia melihat Novi yang sudah tidak menggunakan sehelai kain pun berdiri dan tubuhnya sudah basah oleh percikan air shower.
Satria membuka pakaiannya satu persatu lalu dia menghampiri Novi, dia memluknya dengan lembut lalu mengecup tengkuk lehernya dengan lembut.
Novi terkejut tetapi dia tidak menolak apa yang dilakukan Satria padanya. Dia membalikkan tubuhnya guna melihat Satria yang sudah membuatnya tergoda.
Ditatapnya Satria dengan lekat, tanpa memberi aba-aba Satria langsung mengecup bibirnya dengan lembut sehingga membuatnya menikmati semua permainan di dalam rongga mulutnya. Lengannya tidak ketinggalan untuk ikut bermain menelusuri setiap lekuk tubuh Novi.
***
Novi memasak sarapan untuk Satria setelah pergulatannya tadi di dalam kamar mandi. Dia merasa senang sudah bisa melayani suaminya dengan baik.
Satria yang baru keluar dari kamar, dia berjalan mendekati Novi yang berada di pantry. Melihat wanita yang dia cintai sedang memasak sarapan untuknya, membuat hatinya merasa senang. Inilah yang dia ingin selama ini melihatnya memasak sesuatu untuknya.
"Makanlah," Novi berkata sembari menyodorkan sepiring nasi goreng yang baru saja dia buat dengan rasa cinta.
Satria dengan senyum menatap Novi, dia mengajak Novi untuk makan bersamanya. Merekapun makan bersama dengan hati senang dan tenang.
Setelah Sapan selesai Satria mengajak Novi untuk duduk di atas sofa. Dia ingin membicarakan sesuatu mengenai Faisal, mendengar itu seketika hati Novi berubah menjadi sedih.
Novi duduk di samping Satria dengan perasaan yang tidak menentu karena yang dia tahu Satria tidak bisa bertindak tegas pada adiknya. Dia lemah terhadap adiknya, sehingga apa pun yang diinginkan oleh adiknya selalu dituruti.
"Faisal ingin aku berpisah denganmu, sehingga dia bisa menjadikanmu sebagai miliknya!" ucap Satria yang membuat Novi sangat terkejut.
"Lalu?" tanyanya singkat.
"Aku sudah memutuskan tidak akan menyerahkan wanita yang aku cintai untuknya! Sudah cukup aku mengalah selama ini padanya!" jawab Satria dengan penuh keyakinan.
Novi hanya diam, dia tidak tahu harus berbuat apa dan mengatakan apa. Karena dia belum bisa percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Satria.
Satria melihat Novi yang hanya diam, dia tahu jika Novi belum percaya sepenuhnya terhadap dirinya. Dia pun kembali meyakinkan Novi jika yang dikatakannya sekarang benar adanya.
Dia akan tersusun mempertahankan Novi untuk selalu ada di sisinya, meski adiknya meminta untuk berpisah. Novi melihat kesungguhan dari sikap dan perkataanya mulai percaya.
Namun, dia akan melihat apakah yang dia katakan itu benar atau dikala bertemu dengan Faisal dia akan berubah pikiran kembali. Sikap yang plin-plan seperti inilah yang tidak disukai oleh Novi pada Satria.
"Kita lihat nanti, apakah kau akan menepati janji pernikahan kita atau tidak! Yang pasti jika kau memutuskan untuk bersamaku maka aku akan selalu bersamamu! Akan tetapi jika kau memilih mengalah pada Satria maka aku akan pergi jauh darimu dan adikmu selamanya." Novi berkata sembari pergi meninggalkan Satria.
__ADS_1
Satria terdiam saat Novi mengatakan itu tetapi dia sadar itu pastas dia terima karena sikapnya yang tidak bisa tegas. Mulai sekarang dia akan bersikap tegas baik pada dirinya atau pada Faisal.