
"Sayang, apakah kau serius dengan keputusanmu dengan mengajak Sella bekerja sama untuk mengurus perusahaan mama Hani?!" Arata bertanya pada Lili untuk meyakinkan dirinya sendiri.
Lili tersenyum lalu duduk di samping Arata lalu dia mengatakan yakin dengan keputusan yang sudah diambilnya. Jika suatu saat dia mengkhianati maka biarlah dia mendapatkan balasan dari Yang Maha Kuasa.
Mendengar rasa yakin yang begitu besar sehingga membuat Arata kembali tenang. Sebenarnya yang dikhawatirkan oleh Arata adalah musuhnya adalah paman kandung Sella.
"Lebih baik sekarang kita berpikir positif saja pada Sella, sekarang kita istirahat saja!" ucap Lili pada Arata.
Arata berjalan mendekati tempat tidur lalu dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Sedangkan Lili memasuki kamar mandi guna membersihkan diri terlebih dahulu baru setelah itu beristirahat.
Saat keluar dari kamar mandi, Lili melihat Arata yang belum tertidur. Dia malah sedang memainkan ponselnya, Lili tahu jika Arata sedang bekerja.
Lili berjalan menghampirinya lalu dia mengambil ponsel Arata dan berkata, "Bukannya sudah perjanjian kalau di atas tempat tidur tidak boleh bekerja."
Arata tersenyum, tanpa aba-aba dia langsung menarik lengan Lili. Seketika tubuh Lili bjatuh dalam pelukannya, dia melihat dengan lekat wajah Lili yang begitu membuatnya tidak ingin mengedipkan kedua matanya.
Tak terasa bibir Arata langsung mengecup bibir Lili yang begitu menggodanya. Sehingga mereka terhayut dalam permainan kecupan yang begitu hangat dan menggoda.
Arata tidak hanya bermain dengan lidahnya yang berada di rongga mulut Lili. Namun, kedua tangannya juga berjalan di setiap lekuk tubuh wanita yang dia cintai.
Arata menyalakan simponi yang begitu indah dan lembut, sehingga mereka berdua terhayut dalam alunan musik. Permainan mereka semakin menggelora. Setelah selesai dengan pergulatan mereka akhirnya beristirahat dengan kepuasan yang sudah mencapai tingkatnya.
Keesokan harinya Lili yang sudah membersihkan diri lalu bersiap untuk ke kantor. Sebelum ke kantornya dia akan menuju kantor mama Hani, untuk memberikan arahan apa saja yang harus dikerjakan dan juga untuk memperkenalkan kepada seluruh karyawan di perusahaan.
"Sayang, cepat bangun! Apakah kau tidak akan masuk kerja?!" Lili bertanya semabari menggoyangkan tubuh Arata yang masih terlelap.
"Bentar lagi ya sayang, kepalaku terasa berat sekali!" lirih Arata.
Lili langsung memeriksa kening Arata, rupanya benar dia sedang demam. Lili bertanya apakah mau dipanggilkan dokter untuk memeriksa keadaannya.
Namun, arata menolak dia malah menyuruh Lili pergi saja karena dia tahu jika istrinya itu sedang banyak pekerjaan yang harus diurusnya.
Lili mengambil ponselnya lalu dia menghubungi Maru, dia menyuruh untuk segera datang ke rumah. Dia juga mengatakan jika Arata sedang demam.
Maru langsung mempercepat laju mobilnya, setelah Lili menghubunginya. Beberapa saat kemudian Maru tiba di rumah Arata. Dia bergegas menuju kamar Arata lalu mengetuk pintu kamar.
Lili keluar saat ada yang mengetuk pintu kamarnya, dia melihat Maru yang sudah ada dibalik pintu. Lili menyuruhnya Maru masuk, dia sudah mengompres kening Arata.
"Aku titip Arata sebentar karena ada pekerjaan yang tidak bisa aku tinggalkan! Setelah selesai aku akan segera kembali, jika ada apa-apa kau hubungi aku secepatnya!" ucap Lili pada Maru.
Maru mengangguk, Lili yakin jika Maru dapat menjaga araya selama dia masih mengurus pekerjaannya. Hatinya masih tidak tenang jika meninggalkan araya sedang demam tetapi hari ini adalah hari pertama Sella bekerja di perusahaan mama.
"Sayang, sungguh kau tidak masalah aku pergi ke kantor sebentar?" tanya Lili yang masih tidak tenang meninggalkan Arata.
"Pergilah, aku tidak apa-apa! Lagi pula ada Maru yang bisa menjagaku!" jawab Arata dengan lemah.
Lili mengatakan pada Maru untuk memanggil dokter ke rumah, setelah mengatakan itu dia pergi untuk ke kantor. Dia lebih memilih menggunakan sopir untuk mengantarnya ke kantor. Karena dia merasa khawatir dan menimbulkan gugup.
Lili pun tiba di kantor mama Hani, dia melihat Sella yang baru saja tiba. Mereka pun akhirnya berjalan bersama untuk memasuki kantor. Semua karyawan menyambut kedatangan Sella dengan hangat.
Setelah semuanya selesai, Lili pergi untuk kembali ke rumah. Sella merasa ada yang aneh dengan Lili, lalu dia bertanya ada apa? Lili menjawab bahwa dia tidak tenang karena meninggalkan Arata yang sedang sakit di rumah.
Setelah mengatakan alasannya Lili bergegas kembali ke rumah, dalam perjalanan dia menghubungi Novi. Bahwa dia tidak bisa masuk ke kantor hari ini karena Arata sedang demam.
Tibalah Lili di rumah, di berjalan menuju kamar. Dia melihat Maru yang beru saja keluar dari kamar. Lalu dia bertanya bagaimana keadaan Arata dan Maru menjawab jika keadaan Arata sudah membaik.
"Apa yang dokter katakan tadi?" tanya Lili.
Maru menjawab, "Dokter berkata jika tuan Arata hanya kelelahan saja, sehingga membutuhkan istirahat yang cukup dalam beberapa hari ini."
Setelah menjawab pertanyaan itu Maru meminta izin pada Lili untuk kembali ke kantor karena ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan.
Lili mengizinkan Maru untuk pergi karena sekarang sudah ada dirinya untuk menjaga Arata. Setelah kepergian Maru, dia pun masuk ke dalam kamar.
Melihat Arata yang tertidur, dia mendekatinya lalu memegang keningnya. Masih terasa hangat, rupanya demamnya belum kembali normal.
Ponselku bergetar, Maru mengirim pesan padaku apa yang harus dilakukan saat Arata terbangun. Karena itu semua adalah pesan dari dokter yang harus dilakukan.
Lili masih terus menjaga Arata, dia mengganti Kompress beberapa kali untuk meredakan demamnya. Sehingga dia tidak menyadari jika dirinya tertidur.
Arata terbangun, dia melihat Lili yang tertidur di atas kursi yang posisinya tepat disampingnya. Melihat Lili yang tertidur untuk menjaganya membuatnya merasa senang karena sangat diperhatikan oleh wanita yang sangat dia cintai.
Mengelus rambut Lili dengan lembut, entah mengapa membuatnya merasa tenang. Rasa sakit di kepalanya sudah memudar, dia berdiri lalu menggendong Lili yang masih terduduk di atas kursi. Dan menidurkannya di atas tempat tidur secara perlahan.
Namun, Lili terbangun dia melihat Arata yang baru saja menidurkannya di atas tempat tidur.
"Apa kau sudah baikan?" Lili bertanya sembari menyentuh kening Arata dengan tangannya yang lembut.
Arata tersenyum lalu berkata, "Jika dia sudah membaik, istirahatlah!"
Lili menggubris perintah Arata, dia bangun lalu menuju meja di dekat sofa. Dia mengambil beberapa obat yang harus diminum Arata. Sebelum meminum obat Arata hari makan terlebih dahulu.
Tok! Tok! Terdengar suara ketukan pintu kamar, Lili menyuruhnya masuk. Seorang pelayan pria membawa masuk semangkuk bubur yang sudah disiapkan untuk Arata. Dia menyimpan nampan yang berisi semangkuk bubur di atas meja, lalu dia membungkuk dan pergi meninggalkan kamar.
Lili berjalan mendekati meja guna mengambil mangkuk yang berisi bubur untuk di makan Arata. Setelah mangkuk berada di tangannya dia mendekati Arata.
Dia menyuapi Arata dengan lembut, setelah buburnya sudah habis dia menyuruh Arata untuk meminum obatnya. Lalu beristirahat kembali.
***
Tiga hari setelah kesembuhan Arata dari demamnya, Lili sudah kembali beraktivitas seperti biasanya. Namun, sekarang dia mulai akan menjalankan rencana yang sudah dirancang olehnya dengan Novi serta Sella untuk menghadapai paman Abimanyu.
Karena tindakan Abimanyu kali ini sudah keterlaluan, sehingga dibutuhkan gebrakan untuk membuatnya terdiam. Sekarang adalah tugas Sella untuk memberikan gebrakan itu.
__ADS_1
"Apa kau sudah siap dengan rencanamu itu?!" tanya Nathan pada Sella yang sedang bersiap-siap menuju kantornya.
"Aku sudah siap! Jadi kau tidak perlu mengkhawatirkan aku!" jawab Sella dengan nada penuh keyakinan.
Nathan sudah tidak bisa mencegahnya, yang bisa dia lakukan saat ini adalah melindungi dari belakang.
"Lakukanlah yang terbaik, aku akan selalu ada di belakangmu!" ucap Nathan pada Sella lalu berjalan keluar dari rumah.
Sudah beberapa hari ini Sella dan Nathan menempati rumah baru mereka. Dan tidur dalam satu kamar tetapi mereka tidak pernah melakukan hubungan intim layaknya suami-istri.
Karena Nathan tidak ingin memaksa Sella, dia ingin hubungan intim mereka bisa di rasakan bersama. Tidak ada unsur pemaksaan, itulah sebabnya Sella mulai memikirkan keseriusan Nathan.
Sella melihat Nathan sudah pergi lebih dulu dibandingkan dia, setelah tidak melihatnya. Dia pun memilih untuk bergegas ke kantor.
Dia sudah menyiapkan beberapa hadiah untuk paman Abimanyu dan dia ingin mengirimkannya sendiri. Selagi sang paman masih berada di Jepang.
Sella tiba di kantor, dia melihat Lili yang sudah menunggunya. Hari ini Lili akan ikut bersamanya untuk menemui paman Abimanyu. Namun, yang akan berperan besar di hari ini adalah Sella.
"Apakah semuanya sudah siap?" tanya Lili pada Sella.
"Semua sudah siap!" jawab Sella dengan penuh keyakinan dan percaya diri.
Lili tersenyum, dia melihat Sella yang berbeda saat bertemu. Sekarang dia sudah tidak lagi merasa menderita akibat perlakuan Nathan, sehingga dia bisa fokus terhadap pekerjaannya.
Nathan pernah menghubungi Lili dan mengatakan jika Sella masih bersikap dingin padanya. Namun, Lili mengatakan pada Nathan bahwa semuanya butuh proses. Yang bisa dia lakukan adalah berusaha dan berdoa agar Sella bisa kembali hangat padanya.
"Ayo Li ... Kita berangkat!" ucap Sella yang membuyarkan lamunan Lili.
Lili mengangguk lalu pergi bersama Sella menuju sebuah perusahaan dimana sang paman berada. Dia sudah tidak sabar untuk melihat kegarangan Sella dalam menghadapi musuh-musuhnya.
Tibalah Lili dan Sella di perusahaan paman Abimanyu, dia melihat raut wajah Abimanyu terkejut saat melihat dirinya dan Sella berada di perusahaannya.
"Mau apa kalian kemari?!" tanya Abimanyu dengan nada dingin bercampur rasa ingin tahu.
Lili hanya diam, dia ingin tahu bagaimana Sella menangani semua ini. Tanpa banyak bicara Sella menyerahkan amplop berwarna putih di atas meja kerja Abimanyu.
"Lihat dan bacalah, Paman!" Sella berkata dengan tegas.
Abimanyu membuka amplop putih tersebut di dalamnya ada beberapa dokumen. Dia sungguh terkejut dengan isi dokumen tersebut, terlihat sorot matanya yang berubah seketika menjadi kemarahan.
"Apa yang kau inginkan hah? Jika kau menghancurkan aku— maka perusahaan keluarga kita akan hancur!" pekik Abimanyu.
"Yang aku inginkan— Paman berhenti menggangguku dan juga perusahaan Lili! Apa pun yang berhubungan dengan kami berdua, lebih baik Paman menjauh!" Sella menjawab dengan tegas.
"Kau pikir dengan mengancamku seperti bisa menghentikanku?!" Abimanyu bertanya dengan nada sumbongnya.
Lili begitu kesal dengan semua perkataan yang terlontar dari mulut Abimanyu. Ingin rasanya di langsung memberikan tinjuannya pada wajahnya yang begitu menyebalkan. Namun, Lili berusaha menahan emosinya, dia tidak ingin apa yang sudah direncanakan gagal akibat emosinya.
"Aku tidak mengancam kau Paman! Melainkan memerintahmu agar berhenti menganggu kami! Jika tidak— kau tahu sendiri!" lirih Sella.
Lili terus memperhatikan raut wajah Abimanyu, dia ingin melihat apakah dia akan mengikuti aturan yang sudah di buat atau dia masih ingin melawan.
"Lebih baik kau dengar ini Sella, aku tidak akan melepaskanmu dan juga wanita itu! Jadi bersiap-siaplah kalian berdua!" Abimanyu berkata dengan nada mengancam pada Sella dan Lili.
"Jika itu sudah menjadi keputusan Anda Tuan Abimanyu, maka dengarkan keputusanku. Aku Liliana akan menghancurkanmu hingga tak bisa bangkit lagi!" Lili berkata lalu menyuruh Sella untuk pergi meninggalkan ruang Abimanyu.
Lili berjalan dengan penuh rasa kesal, rupanya Abimanyu bukan orang yang mudah di hadapi. Lebih baik mulai bersiap-siap untuk serangan selanjutnya.
"Li— apakah kau serius dengan yang kau ucapkan tadi?!" tanya Sella sembari berjalan menuju mobil.
"Iya, aku serius dengan apa yang kukatakan tadi di depan Abimanyu! Jika kau tidak siap dan merasa takut— kau bisa mundur!" jawab Lili
Sella terdiam, dia tidak menyangka jika Lili yang terlihat kalem dengan hijabnya. Ternyata memiliki sisi garang, dia ingin melihat apakah Lili bisa menghadapi sang paman.
Namun, tumbuh rasa ingin ikut berperang dalam menghadapi sang paman bersama Lili. Akhirnya dia memutuskan untuk ikut mendampingi Lili untuk melawan sang paman.
"Aku tidak takut! Aku akan ikut berperang melawan paman Abimanyu! Mari kita bersiap!" ucap Sella pada Lili.
Lili tersenyum, dia tidak salah memilih Sella sebagai partner melawan orang yang hendak menghancurkan perusahaan mama dan perusahaannya. Dia mengantar terlebih dahulu Sella ke kantornya, lalu dia menuju kantornya untuk melanjutkan pekerjaannya.
Tibalah Lili di kantornya, dia langsung berjalan menuju ruangannya. Tidak berapa lama Novi masuk ke ruangannya dengan membawa dokumen yang harus di periksa oleh Lili.
"Bagaimana pertemuanmu dengan Abimanyu?" Novi bertanya pada Lili yang masih terlihat kesal.
"Kita sudah harus siap-siap, dia tidak bisa di ajak kompromi. Mungkin kita akan mulai dalam bahaya! Jika kau ingin mundur, aku izinkan!" Lili berkata pada Novi dengan serius.
Karena Abimanyu bukan orang yang bertindak dengan cara halus, dia pasti akan bertindak dengan cara kotor. Mungkin dia bisa menghabisi siapa saja yang menghalanginya.
"Apa kau ingin membuang ku? Dengan menyuruhku pergi meninggalkan dirimu di saat menghadapi masalah?" tanya Novi dengan nada kesal.
Karena Novi tidak suka jika Lili menyuruhnya pergi di saat dia membutuhkan bantuannya. Novi sudah berjanji pada dirinya sendiri akan selalu berada di sisi Lili. Meski dia akan tiada demi melindungi Lili.
Lili tersenyum dia merasa beruntung dikelilingi oleh teman dan saudara yang selalu berada di sisinya. Dia menjadi teringat dengan akun dan Salma.
Dia mendengar kabar jika Alin selalu menghadapi masalah karena musuhnya. Di saat Lili hendak membantunya, Alin melarangnya. Karena Alin menyuruh Lili fokus pada kehidupannya.
Namun, mereka masih tetap saling berhubungan. Tidak ada yang bisa memisahkan persahabatan mereka meski jarak dan waktu yang memisahkan mereka bertiga.
Setelah menerima dokumen yang sudah dibubuhi tanda tangan Lili, Novi kembali ke ruangannya guna menyelesaikan pekerjaannya. Sedangkan Lili yang rindu akan Alin segera menghubunginya.
Mereka berbincang-bincang melalui sambungan telepon selama satu jam. Lili merasa sedih karena tidak bisa membantu Alin, karena dia selalu bersikeras tidak ingin dibantu.
Alin pernah berkata pada Lili, bahwa kehidupan rumah tangga kita memiliki masalah yang berbeda. Dan itu harus dihadapi oleh diri kita sendiri.
__ADS_1
"Aku tahu kau Lin, sesulit apa pun hidupmu tidak akan pernah meminta bantuan pada aku atau Salma! Kau mengerti kami dengan tidak mengizinkan membantumu tetapi kau selalu membantu kami dari kejauhan!" gumam Lili sembari melanjutkan pekerjaannya.
***
Lili yang mendapatkan telepon dari Arata untuk segera kembali ke rumah. Membuatnya merasa khawatir, sebenarnya apa yang sudah terjadi karena Arata tidak mengatakan apa-apa.
Tibalah Lili di rumah, dia sangat terkejut melihat pakaian Arata yang sudah kotor terkena noda darah. Dia bergegas menghampiri Arata, lalu bertanya ada apa sebenarnya.
"Sayang, apa yang terjadi padamu?!" lirih Lili.
"Aku tidak apa-apa! Sekarang kau temui Yuki, dia membutuhkanmu!" Arata berkata lalu menyuruh Lili menemui Yuki yang ada di sebuah kamar.
Arata membawa Lili ke kamar tamu, di sana sudah ada Yuki yang sedang diobati oleh dokter. Terlihat seluruh tubuhnya terluka, gadis kecil itu hanya menangis untuk menahan rasa sakit.
Lili tidak bisa mendekati Yuki, jika dia mendekatinya maka itu akan menyulitkan dokter untuk mengobatinya.
"Sebenarnya apa yang terjadi?!" tanya Lili boada Arata.
"Ada yang menyerang Yuki dan Kenzo, aku hanya bisa menyelamatkan Yuki. Sedangkan Kenzo— belum diketahui keberadaanya. Karena dia pergi guna mengalihkan perhatian para musuh, sehingga Yuki dan aku berhasil menyelamatkan diri." Arata menjawab sembari melihat Yuki.
Dokter sudah selesai dengan mengobati Yuki, sekarang gadis kecil itu sedang tertidur karena kelelahan menangis terus-menerus. Dan dokter pun sudah memberikan obat perkasa sakit.
Lilin mendekati Yuki yang sedang tertidur, tidak terasa air matanya menetes. Dia tidak tega melihat Yuki yang menderita luka seperti ini. Sebenarnya siapa yang sudah melakukan semua ini pada gadis kecil yang cantik ini.
"Biarkan dia istirahat, ada perawat yang akan menjaganya!" Arata berkata lalu berjalan menuju kamarnya.
Arata sudah tidak bisa menahan lagi akhirnya dia terjatuh, Maru yang melihat Arata terjatuh menyuruh dokter untuk memeriksanya. Lili yang mendengar jika Arata jatuh tak sadarkan diri, berlari ke kamar guna melihat keadaan suaminya.
Dia melihat dokter sedang menjahit luka Arata dan membersihkan semua luka yang ada di tubuhnya. Lili menyesal tidak memperhatikan Arata, dia malah memperhatikan luka Yuki.
"Tenanglah Nona, tidak akan terjadi apa-apa pada Tuan Arata!" Maru berkata pada Lili guna menghilangkan rasa khawatirnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi?!" tanya Lili pada Maru.
Maru menceritakan pada Lili, jika Arata mendapatkan telepon dari Kenzo yang meminta bantuan. Arata bergegas pergi untuk menyelamatkan Kenzo tanpa Maru, karena dia saat itu sedang menangani sebuah masalah di perusahaan.
"Tuan menghubungi saya, ketika sudah berada di rumah! Maafkan saya Nona, saya tidak bisa melindungi Tuan!" Maru berkata dengan membungkukkan badannya dengan rasa penuh penyesalan karena tidak bisa melindungi Arata.
"Itu bukan salahmu! Pergi dan cari mereka yang sudah melakukan semua ini pada Arata dan Yuki!" perintah Lili pada Maru.
Maru pergi setelah mendapat perintah dari Lili, dia tidak ingin membuat kecewa Lili akibat kelalaiannya.
Dokter pergi setelah melakukan perawatan pada Arata, Lili bertanya pada dokter apakah harus ke rumah sakit atau tidak. Dokter mengatakan jika tidak perlu ke rumah sakit karena lebih aman merawat di rumah.
Lili mengerti apa yang dikatakan oleh dokter, karena dokter tersebut sudah menjadi dokter pribadi selama bertahun-tahun. Sehingga dia tahu jika keluarga Arata banyak sekali memiliki musuh.
Arata tersadar, dia bertanya bagaimana keadaan Yuki. Lili tersenyum dia mengatakan jika Yuki sudah bangun dan sekarang sedang makan bersama pelayanan setelah itu diberi obat.
"Tenangkan dirimu, sayang!" ucap Lili pada Arata.
"Aku menyesal tidak bisa melindunginya," jawab Arata.
Lili memeluk Arata dengan lembut, dia tidak menyangka Arata akan sesedih ini. Karena tidak bisa melindungi Yuki, meski sekarang Yuki dalam keadaan selamat.
Arata mengatakan tidak tega melihat luka yang berada di tubuh Yuki. Dia merasa gagal menjaga Yuki karena dia sudah berjanji untuk menjaga Yuki.
Keesokan harinya Maru memberikan informasi pada Arata siapa yang telah menyerang Kenzo dan Yuki. Ternyata dia adalah adik dari Kenzo yang ingin merebut semua kekuasaan yang dipegang oleh Kenzo.
"Rupanya ini adalah perebutan kekuasaan Anatar keluarga! Aku tidak menyangka dia tega melukai gadis kecil demi kekuasaan!" ucap Arata dengan nada kesal.
"Ada apa? Apakah sudah ada informasi siapa dibalik penyerangan Yuki?!" Lili bertanya yang baru saja masuk ke dalam kamar.
Arata memberikan sebuah dokumen yang disana tertulis dengan jelas siapa dalang penyerangan itu. Terlihat jelas dari sorot matanya ada kemarahan.
Lili memerintahkan Maru untuk memperketat penjagaan di rumah. Karena dia yakin jika musuh masih ingin menghabisi Yuki, saat ini nyawa gadis kecil itu dalam bahaya.
Maru mengangguk, sebelum mendapatkan perintah dari Lili dia sudah memperketat penjagaan rumah. Namun, dia kembali berpikir jika penjagaan rumah harus lebih diperketat kembali. Dia pun pamit untuk melakukan sesuatu lalu pergi meninggalkan kamar.
"Bagaimana Yuki?!" tanya Arata pada Lili.
"Dia masih seperti kemarin, hanya diam tidak mau bicara sedikit pun. Jika mengingat kembali peristiwa itu dia kembali menangis, apakah sudah ada informasi tentang keberadaan Kenzo?" jawab Lili lalu disertai pertanyaan pada Arata.
Arata menggelengkan kepala secara perlahan, yang artinya dia belum menemukan Kenzo. Namun, yang pasti dia berharap Kenzo selamat dari kejaran musuh.
"Bagaimana dengan lukamu, sayang?" tanya Lili sembari duduk di samping Arata.
Arata tersenyum dia mengatakan bahwa lukanya sudah mulai membaik. Yang perlu di khawatirkan bsaat ini adalah Yuki, bagaimana caranya menyembuhkan luka di hatinya.
Arata yakin jika butuh waktu yang lama untuk menyembuhkan Yuki menjadi gadis kecil yang ceria. Karena dia sudah banyak melihat kekejaman dari pamannya sendiri.
Tok! Tok! Terdengar ketukan pintu kamar, Lili menyuruhnya masuk. Maru yang berada di balik pintu pun masuk, dia mengatakan jika ada seseorang yang ingin bertemu dengan Arata dan Lili.
"Siapa dia?!" tanya Arata.
"Lebih baik Tuan dan Nona menekuninya langsung!" jawab Maru.
Karena Maru berkata seperti itu, maka Lili dan Arata menuju ruang tamu. Guna melihat siapa orang yang ingin bertemu dengan mereka berdua.
"Apa kabar Tuan Arata, perkenalkan saya Hino pengacara dari Tuan Kenzo!" Hino memperkenalkan dirinya pada Arata dan Lili.
Dia mengatakan kedatangannya ke rumah Arata adalah untuk memberikan sebuah surat yang ditinggalkan Kenzo sebelum kejadian penyerangan kemarin.
Kenzo menyerahksn hak asuh Yuki sepenuhnya pada Arata dan Lili. Hingga saatnya nanti dia akan diserahkan semua harta dan perusahaan yang dimiliki Kenzo.
__ADS_1
Hino pun mengatakan agar Arata badan Lili bisa menjaga Yuki dengan baik. Mungkin selama beberapa tahun ini akan banyak penyerangan terhadap Yuki.