Musuhku Menjadi Imamku

Musuhku Menjadi Imamku
Extra Part Lili 2


__ADS_3

Lili pun kembali ke rumah, dia langsung menuju kamarnya dan mengunci rapat pintu kamarnya. Yang dia butuhkan adalah kesendirian, tidak mau ada orang yang mengganggunya. Sebenarnya mama Hani sangat khawatir dengan Lili, namun papa Karim memberi pengertian pada Mama Hani bahwa Lili membutuhkan waktu. Waktu untuk menenangkan dirinya, karena papa Karim yakin Lili bukan gadis yang lemah. Dia yakin bahwa Lili bisa menghadapi semua ini.


Setelah masuk dalam kamar Lili hanya diam, dia teringat kembali perbuatan Arata padanya. Dilihatnya tubuhnya, dia meresakan bahwa tubuhnya sangat kotor. Mungkin dengan membersihkan diri kotoran yang menempel pada tubuhnya akan menghilang. Lili melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Dia melepaskan satu persatu pakaian yang menempel pada tubuhnya. Diputarnya kran shower, air mengalir mulai membasahi kepala hingga akhirnya seluruh tubuhnya.


Diambilnya sabun cair yang ada di dekatnya, dia membilas tubuhnya dengan sabun. Meski sudah banyak sabun yang menempel pada tubuhnya, namun terasa kurang. Dia terus mengambil sabun cair dan membilasnya, tapi mengapa masih terlihat kotor.


"Kenapa masih terlihat kotor! Aku tidak mau aroma tubuhnya menempel di tubuhku! Aku benci dia! Aku tidak ingin melihatnya lagi!" Gumam Lili sembari menggosok-gosok seruluh tubuhnya sehingga menimbulkan kemerahan pada kulit ya.


Air mata menetes dan membasahi pipi Lili, ditambah dengan guyuran air sehingga tak terlihat bahwa dia sedang menangis. Akhirnya suara tangisnya menyeruak di dalam kamar mandi, dia sudah tak bisa menahannya lagi. "Mengapa kau melakukan ini padaku Arata!"


Sudah satu jam Lili berada di dalam kamar mandi, dia masih membilas tubuhnya namun kotoran itu tak mau menghilang dari tubuhnya. Wajah Lili sudah terlihat pucat pasi karena sudah terlalu lama di guyur air. Dia lelah rasanya ingin tidur dan tak bangun kembali. Diputarnya kran shower, sepersekian detik air pun tak muncul. Lili mengambil sebuah handuk jubah, dia mengenakannya dan keluar dari kamar mandi. Dia berjalan mendekati ranjang yang bewarna putih bersih tanpa noda.


Lili masih berdiri melihat sprei warna putih yang tanpa noda, dia membayangkan dirinya sudah tak suci lagi. Yang dia lindungi dengan kekuatannya selama ini, ternoda oleh pria berhati iblis. Lili menitikan air matanya lagi, dia menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang. Dia berusaha menutup matanya dan akhirnya dia tertidur.


"Tidakkkkk!"


"Tidakkkkk! Aku mohon lepaskan aku, jangan dekati aku! Jangan sentuh aku dengan tangan kotor mu!"


"Aaaaaaaaa tidakkkkk!"


Yang mendengar teriakan Lili mama Hani dan papa Karim langsung berhamburan dan berlari menuju kamar Lili. Saat akan membuka pintu kamar Lili, mereka tidak bisa masuk karena Lili mengunci pintu kamarnya. Papa Karim berlari untuk mengambil kunci cadangan, dan kembali dengan cepat untuk membuka pintu kamar Lili. Dia tidak mau terjadi sesuatu yang buruk pada putrinya tercinta. Mama Hani sudah sangat khawatir, dia menyuruh papa Karim untuk segera membuka pintu kamar Lili.


Pintu kamar terbuka, dilihatnya seorang gadis yang sedang merangkul kedua kakinya. Dia menangis dan menangis, begitu berat cobaan yang dia terima kali ini. Melihat putrinya terpuruk dalam kesedihan, mama Hani segera menghampirinya dan memeluk Lili. Dia sungguh tak kuasa melihat Lili seperti ini, mama Hani menginginkan putrinya yang dulu kembali. Namun untuk saat ini tidak mungkin, mama Hani harus kuat agar Lili bisa melewati di masa keterpurukannya.


"Tanamlah sayang, mama ada disini! Kau aman disini karena ini di rumah, ada Mama dan Papa bersamamu!" Mama Hani berkata guna menenangkan Lili.


Lili hanya menangis dia tak mendengarkan apa yang dikatakan mama Hani. "Lepaskan aku Ma! Lepaskan aku! Tubuhku sangat kotor, aku bukan putrimu yang dulu! Aku sudah kotor! Aku sudah kotor!" Tangis Lili pecah kembali. Dia terus meneriakan "aku sudah kotor!" Itu membuat mama dan papa semakin sedih. Mama Hani pun melepaskan Lili, mungkin dengan melepaskan pelukannya Lili bisa menghentikan teriakannya. Namun lili tak menghentikan teriakannya itu, sehingga papa Karim menarik Lili untuk berdiri.


Plak!


Mama Hani terkejut melihat papa Karim manampar Lili, karena selama ini dia tidak pernah melakukan tindakan kasar pada Lili. Dia begitu menyayangi Lili meski Lili bukan anak kandungnya. Bahkan jika mama Hani memarahi Lili, papa Karim selalu membelanya. Namun kali ini papa Karim menampar Lili, dilihatnya papa Karim meneteskan air mata. Dia langsung memeluk Lili dengan erat. Tangisan dan teriakan Lili terhenti seketika, dia memeluk kembali papa Karim. Meski masih terdengar isakan tangis Lili namun dia sudah tidak histeris lagi.


"Putri Ayah pasti kuat! Ayah yakin Lili bisa bertahan dan kembali seperti putri Ayah yang dulu! Baik Ayah atau Mama akan selalu berada di sisi Lili dan akan melindungi Lili sampai akhir hayat kami!"


Mendengar ucapan papa Karim, membuat mama Hani terharu dia langsung memeluk suami dan putrinya. Menyadari mama Hani memeluknya, papa Karim pun memeluk kedua wanita yang begitu dia cintai. "Sampai akhir hayat hanya kalian berdua yang aku cintai istri dan putriku!"


Setelah menangis bersama, mama Hani dan papa Karim meninggalkan Lili sendiri dalam kamar. Mereka berpikir bahwa Lili sudah tenang, sehingga mereka memberi ruang untuk Lili. Melihat mama dan papanya pergi meninggalkannya, Lili melangkah mendekati almari guna mengambil pakaian. Setelah memakai pakaiannya, dia berdiri di balkon kamarnya. Dilihat langit yang gelap dipenuhi bintang-bintang nan indah, hanya diam entah apa yang ada di dalam pikirannya.


Secara tak sadar dia menaiki tembok penghalang balkon, dia berdiri dan merentangkan tangannya. Terlihat seperti akan melompat kebawah, dia merasakan embusan angin malam yang menerpanya. Rambutnya yang hitam terurai tanpa ada yang mengikat helaian rambutnya. Matanya tertutup, entah apa yang ada dalam pikiran Lili. Dia membuka matanya dan berjalan setapak demi setapak diatas tembok balkon. Lili kembali terdiam dan berdiri sesaat, dia melihat kembali ke langit yang hitam penuh dengan bintang-bintang.


Dia terduduk diatas tembok balkon, dia merenungi semua yang telah terjadi. Sepintas dia berpikir untuk loncat saja dari atas balkon, mungkin itu yang bisa mengurangi rasa sakitnya. Tapi dia berpikir kembali, banyak orang yang mengalami tragedi lebih dari yang dia rasakan. Dia juga melihat perjuangan Alin, dari segala penghianatan Leo, kecelakaan yang menyebabkannya amnesia, bahkan harus menikah dengan Alex. Mungkin Alin sangat menderita dengan semua yang sudah dia alami, oleh sebab itu Lili akan berusaha untuk menjadi lebih kuat.


Dalam pikirnya dia tidak boleh kalah dengan semua ini, bunuh diri bukan cara terbaik untuk mengatasi semuanya. Dia pun turun dari atas tembok balkon, dia hanya berdiri memandangi langit yang indah dan di penuhi oleh bintang-bintang. Hari semakin malam dan dingin, Lili memutuskan untuk masuk ke dalam kamar. Dia memikirkan apa yang harus dia lakukan sekarang. Yang pasti untuk beberapa hari ini Lili tidak ingin keluar dari rumah. Yang dia inginkan hanya ketenangan saja, untuk menghilangkan semua hal-hal yang membuatnya gila.


Rasa kantuk sudah bergelayut namun Lili tidak ingin tidur, karena setelah dia tertidur mimpi buruk itu akan menghampirinya. Meski dia berusaha menahan rasa kantuknya, akhirnya dia tertidur. Berselang dua jam berikutnya dia terbangun dari tidurnya karena mimpi buruk. Keringat membasahi pakaiannya, sehingga mengharuskan dia berganti pakaiannya. Setelah itu dia mengambil air wudhu dan kembali tidur, dia berdo'a sehingga dia tertidur kembali.


Keesokan harinya Lili terbangun, dia membersihkan dirinya dan mengganti pakaian dengan pakaian olah raga. Dia memasuki sebuah ruangan, dimana ruangan itu menjadi ruangan latihan Lili. Dia mulai melakukan pemanasan sebelum memulai olahraga yang berat. Dia mengeluarkan semua jurus-jurus yang sudah dia pelajari selama ini, dia pun menyesali kenapa dia tidak terus mengasah ilmu beladirimya. Jika kemarin dia lebih kuat lagi, maka semua itu tidak akan terjadi. Nasi sudah jadi bubur, tidak bisa kembali seperti semula. Yang ada dalam pikiran Lili adalah harus terus hidup dan semakin kuat, dia tidak boleh lemah dan kalah oleh keadaan.


Bug!

__ADS_1


Bug!


Lili memukul bertubi-tubi samsak yang bergelantungan kuat, sesekali dia melayangkan tendangannya. Dia terbayang kembali saat Arata melecehkannya, dia terus memukul samsak itu sehingga tangannya terluka. Lili tak menyadari bahwa tangannya sudah memerah, bahkan sebentar lagi akan mengeluarkan darah jika dia terus memukul samsak itu. Dia pun menghentikan semua latihannya, dilihat tangannya memerah dia langsung menuju dibuah lemari pendingin. Dia membukanya, ambilnya beberapa es dan di masukkan kedalam sebuah tempat.


Dia memasukkan kedua tangannya kedalam es tersebut, Lili meringis kesakitan. Namun rasa sakit ini tak seberapa, dibandingkan dengan apa yang sudah dilakukan Arata kepadanya. Dia terus menahan rasa sakitnya, dengan semua ini dia harus menjadi lebih kuat lagi. Setelah selesai dengan semuanya, dia keluar dari ruangan latihan. Dilihatnya mama Hani sudah menyiapkan makanan untuk Lili. Mama Hani pun menyuruh Lili duduk dan makan bersama.


"Aku mandi dulu ya Ma, setelah itu aku kembali untuk sarapan!" ucap Lili pada mama sembari pergi dan menuju kamarnya.


Mama pun hanya melihat Lili pergi menuju kamarnya, papa Karim melihat kesedihan mama Hani dan berkata "tenanglah Ma, dia pasti akan kembali seperti dulu."


Mendengar ucapan papa Karim, mama pun segera mengusap air mata yang menetes di pipinya. Mama Hani berusaha untuk memberikan wajah kebahagian dan ketegaran, agar Lili tidak merasa sedih dengan semua yang terjadi. Beberapa saat kemudian Lili kembali ke meja makan, dia melihat mama dan papanya masih menunggunya untuk sarapan. Dia pun duduk di tempat biasanya, dilihatnya wajah mama dan papanya dengan seksama. Begitu banyak guratan kesedihan meski meski mereka tidak memperlihatkannya pada Lili.


"Apakah Papa dan Mama akan ke kantor hari ini?!" tanya Lili pada mama dan papanya.


Mama dan papa terkejut karena aku bertanya seperti itu, mereka hanya bisa diam. Lili bertanya sekali lagi apakah mereka akan pergi kerja atau tidak. Mama dan papa menggelengkan kepalanya, dengan artian mereka tidak akan bekerja. Mereka memilih untuk bersama putrinya beberapa hari ini. Meski Lili memaksa mereka untuk beraktivitas seperti biasa, mereka masih tidak mau.


"Besok Papa akan kemabali masuk kantor!" Jawab papa guna menenangkan Lili.


Setelah sarapan selesai Lili pun kembali ke kamarnya, sekarang hanya kamarnyalah menjadi tempat favoritnya untuk merenung. Tidak ada tempat lain selain kamar dan tempat latihannya, mama dan papa pun tidak bisa melarang Lili.


Hari berganti hari Lili mulai bersikap seperti semula, dia hanya berlatih di ruang latihannya. Dia merasa bosan dengan latihannya sendiri, dia pun menghubungi Alin untuk menemaninya berlatih. Alin pun langsung menerima ajakan Lili dan langsung pergi menuju rumah Lili bersama Alex tentunya. Karena semenjak kejadian yang menimpa Lili dan Alin, Alex tidak mau melepaskan pandangannya dari Alin.


Beberapa saat kemudian Alin dan Alex tiba di rumah Lili, mama Hani menyambut kedatangan mereka dengan hangat. Alin langsung menanyakan keberadaan Lili, sebelum mama Hani menjawab Lili sudah datang menghampiri Alin. Tanpa basa-basi Lili mengajak Alin untuk langsung menemaninya berlatih. Alin pun menerima tantangan Lili dengan semangat. Saat Lili dan Alin sudah berada di dalam ring untuk berlatih, mereka di kejutkan dengan kedatangan seseorang yang membuat Lili muak. Dia tak lain adalah Arata, dia datang bersama Ari entah apa yang akan dia lakukan.


Alin yang masih kesal karena perbuatan Arata terhadap Lili dan dirinya, Alin tanpa basa-basi menantang Arata untuk bertarung di dalam ring, Arata tersenyum kecut dan menerima tantangan Alin. Lili pun memberikan kesempatan pada Alin untuk bersenang-senang, hitung-hitung untuk melepaskan semua kekesalan yang diperbuat Arata. Saat Lili hendak keluar dari dalam ring, Arata berjalan dan memasuki ring guna melawan Alin. Lili dan Arata pun berpapasan, Lili bersikap dingin melihat Arata dia tidak ingin bicara dengannya.


"Kau akan menjadi milikku! Nona Lili!" ucapan Arata membuat bulu kuduk lili bergidik dan merasa jijik.


Arata pun memasuki ring, dia bersiap untuk melawan Alin. Alin terus mengatakan hal-hal yang membuat Arata marah, akhirnya terjadilah perkelahian antara mereka. Semua kekesalan yang ada di dalam hati Alin dia tumpahkan untuk menghajar Arata. Alin menyerangnya bertubi-tubi, tinjuan dan tendangan dia layangankan pada Arata. Arata sedikit mengalah karena Ari sudah mengancamnya sedari awal. Alin terus saja memancing amarah Arata, sehingga Arata sudah tidak bisa menahan lagi amarahnya.


Arata akhirnya mengeluarkan jurus-jurusnya untuk menyerang balik Alin, namun Alin bisa bertahan malah bisa menyerang balik Arata. Terlihat bahwa Arata sudah mulai kelelahan, akhirnya Alin memutuskan untuk mengakhiri semua serangannya. Arata aja ya terdiam di dalam ring, ternyata Alin bisa membuatnya merasa kelelahan akibat berkelahi.


Lili yang melihat Arata masih berdiam diri di atas ring, dia mendekatinya dan berkata, "bagaimana sudah lihat kehebatan kami?"


Arata menengadah dan melihat Lili dengan ekspresi merendah. 'aku tahu kau sangat membenci ku, kuharap aku bisa menebusnya!' ucap Arata dalam hati.


"Hahaha kau begitu sombongnya Nona Lili, aku hanya mengalah saja pada kalian. Kalau aku mengeluarkan semuanya kalian akan hancur." Sindir Arata sambil berdiri dan melangkah mendekati Lili.


Lili yang mengetahui Arata sedang mendekatinya, dia langsung memberi jarak. Namun Arata cepat sekali mendekatinya, secara refleks Lili melayangkan tinjunya dan tendangannya. Terjadilah perkelahian antara Arata dan Lili. Mereka saling menyerang dan menangkis, tidak ada yang mau mengalah baik Lili atau Arata. Stamina Arata memang sedang baik, meski dia baru saja melawan Alin dan kelelahan. Arata bisa dengan cepat mengumpulkan kembali tenaganya dan berkelahi dengan Lili.


"Sudah cukup hentikan!!" Teriak seseorang dari pintu masuk, tak lain adalah Tuan Amida.


Arata yang mendengar teriakan ayahnya langsung menghentikan gerakannya, namun Lili belum sempat berhenti sudah melayangkan tendangannya. Seketika Arata terjatuh karena tendangan Lili yang begitu kuat. Seketika terdengar tawa Alex yang melihat Arata terjatuh akibat tendangan Lili.


"Apa yang kau lakukan Arata, bukannya Dokter sudah bilang kalau Nona Lili harus beristirahat. Kau malah bertarung dengannya!" Tuan Amida berkata dengan nada tinggi.


Arata kesal mendengar semua ucapan ayahnya, apapun yang dia katakan tidak akan dia anggap benar olehnya. Karena Arata beranggapan bahwa ayahnya tidak pernah menyayanginya.


"Ahh sudahlah Ayah pasti tidak akan pernah percaya padaku, lebih baik aku pergi saja, Ayah urus saja putri kesayanganmu itu!" Arata berdiri dan berjalan meninggalkan ruangan.

__ADS_1


"Maafkan Arata ya Nona Lili, saya benar-benar tidak menyangka dia akan bertidak seperti ini, dulu dia tidak pernah berani menyakiti seorang wanita meski dia bersikap mesum tapi dia tidak pernah melakukan hal bejat, dia memang kejam dalam menjalankan usahanya. Tapi dia selalu menghormati wanita, entah sejak kapan dia menjadi seorang monster!" Tuan Amida berkata dengan raut muka yang sedih.


Lili hanya terdiam mendengar perkataan tuan Amida, dia heran kenapa ayahnya yang baik seperti ini memiliki seorang anak seperti monster.


"Yang sudah terjadi tidak dilupakan, waktu pun tidak dapat di putar, saya permisi dulu Tuan Amida!" Lili berkata sambil pamit pada tuan Amida dan pergi meninggalkannya bersama Alex dan Alin.


Alex pun meminta maaf pada tuan Amida karena sudah membawa Arata ke rumah Lili. Yang tuan Amida sesali mengapa Alex tindak mencegah Arata berkelahi dengan Lili. Alin mengatakan bahwa sebelumnya Arata berkelahi dengannya, setelah selesai berkelahi ternyata Arata memancing emosi Lili dan akhirnya mereka berkelahi. Alin mengatakan semua yang ingin dia katakan. Meski itu membuat tuan Amida merasa sedih, karena semua itu perbuatan Arata. Tuan Amida hanya bisa menerima semuanya dengan lapang dada.


Alin pun pergi meninggalkan tuan Amida dan Alex menuju mobil, Alex menyuruh Ari untuk menyusul Alin dan menjaganya. Ari pun pergi menyusul nonanya atas perintah Alex. Tuan Amida dan Alex berbincang beberapa saat. Alex berkata sedang mencari informasi kenapa Arata bisa berubah seperti ini. Tuan Amida menunggu kabar dari Alex siapa dalang dari semua ini. Setelah selesai bicara tuan Amida pun pergi di ikuti Alex dari belakang.


****


Beberapa hari kemudian tuan Amida mengundang Lili, mama dan papanya. Sebenarnya lili tidak mau datang begitu pula dengan mama dan papanya. Namun tuan Amida memohon sambil berlutut agar mereka mau datang ke acara makan malam. Saat makan malam tersebut semuanya mengetahui siapa yang telah membuat Arata berubah. Ternyata selama ini Arta di jebak oleh Akhira, dia telah menghasut Akhira untuk berbuat buruk.


Terjadi percekcokan antara Lili dan Akhira, karena Lili sudah tidak tahan dengan perkataan Akhira yang membuatnya jijik. Arata akhirnya tahu siapa Akhira itu, selama ini dia menganggapnya sebagai kakak. Tapi Akhira menyalahgunakan semua kasih sayang Arata. Dan Arata pun tahu bahwa Akhira memasukkan obat pada minumannya, sehingga dia tak sanggup menahan hasratnya. Dan Akhira menghasut Arata, bahwa Lili sedang dekat dengan ayah. Sehingga membuat Arata marah pada Lili dan melakukan hal yang menjijikkan pada Lili.


Akhira tersebut mengatakan hal-hal yang membuat Arata marah, akhirnya Arata melayangkan tinjuannya pada Akhira. Terjadilah perkelahian kecil antara merekam. Akhira terpojok dia menarik Lili dan menjadikannya sandera. Namun Akhira tak menyadari bahwa Lili bisa beladiri. Lili pun mengikuti Akhira, terjadilah perkelahian kecil diantara mereka.


Tuan Amida sangat marah dengan tindakan Akhira, akhirnya dia mengusir Akhira dari rumah. Akhira yang kesal dengan sikap tuan Amida, berjanji akan membalas semua perlakuan yang sudah di terimanya hari ini. Akhira pun sangat kesal pada Alex karena ulahnya sudah menggagalkan semua rencana Akhira. Akhirnya Akhira pergi dengan rasa sakit akibat di hajar oleh Arata dan Lili. Dalam hatinya muncul dendam yang begitu kuat pada Arata dan Lili.


Karena kekacauan yang dibuat Akhira, rencana tuan Amida untuk melamar Lili tak terucapkan. Setelah kepergian Akhira Lili memutuskan untuk segera pergi meninggalkan rumah tuan Amida. Begitu pun Alin dan Alex memutuskan untuk pulang. Setelah kepulangan Lili dan Alin, suasana rumah tuan Amida dipenuhi kesedihan dan rasa kesal yang memuncak. Arata terduduk memikirkan apa yang sudah terjadi selama ini, dia hanya ingin Akhira menjadi seorang kakak yang baik baginya.


Tuan Amida sungguh tak menyangka Akhira melakukan itu semua karena iri hati. Padahal selama ini dia tidak pernah membeda-bedakan antara Akhira dan Arata. Karena menurutnya mereka adalah kedua putranya, begitupun yang dirasakan oleh nyonya Rima. Nyonya Rima sangat menyangimu Akhira, selama ini dia tidak pernah lupa akan Akhira. Dia selalu mengutamakan Akhira dibandingkan Arata. Tapi kenapa Akhira bisa berlaku seperti ini. Nyonya Rima menitikan air matanya, dia menyesali karena sudah salah mendidik Akhira.


"Apa ada yang salah dengan cara mendidikku? Apa kasih sayangku kurang? Apa belum cukup semua yang kulakukan demonya?" ucap nyonya Rima sembari menangis.


Tuan Amida langsung memeluk nyonya Rima, dia merasa sedih melihat istrinya menagis dan berkata seperti itu. Yang dia lihat selama ini istrinya selalu mengutamakan Akhira dibanding Arata. Namun kenapa Akhira tidak bisa melihat itu semua. Arata hanya diam mendengar ibunya menangis seperti itu, karena selama ini yang Arata rasakan ibunya lebih sayang Akhira dibandingkan dirinya. Namun Arata bisa menerima semua itu, dia tetap sayang pada Akhira.


"Sudahlah lebih baik kita istirahat saja! Besok kita bicarakan rencana kita selanjutnya! Dan kau Arata obati luka-lukamu!" Tuan Amida berkata pada Arata dan nyonya Rima.


Arta mengangguk tanpa mengucapkan sepatah katapun, dia memberi hormat pada ayah dan ibunya dan pergi menuju kamarnya. Dia lam kamar dia hanya diam, mengaoa rasa sayangnya bisa dibalas dengan penghianatan seperti ini. Padahal dia selalu mengalah demi kebahagiaan Akhira. "Semuanya yang kulakukan untukmu tidak ada artinya kah Kak?!" gumamnya.


Tok!


Tok!


"Masuk!" Arata berkata.


Ternyata yang masuk adalah ibu Rima, dia membawa kotak P3K untuk mengobati luka-luka Arata. Dia duduk disampingnya Arata, dengan perasaan sedih dan akhirnya tetesan air mata mulai membasahi pipinya.


"Maafkan Ibumu ini! Yang selalu mengutamakan Akhira, aku melakukan ini agar dia tidak merasa bahwa dia bukan anak kandungku!" ucap ibu Rima pada Arata.


Arata hanya tersenyum, dia memeluk ibunya sudah lama dia tak merasakan pelukan seorang ibu. Karena selama ini dia tidak memikirkan tentang ibu dan ayahnya. Entah apa yang ada dalam pikirannya selam 2 tahun ini, karena selama itu akhir menghasut Arata untuk selalu jauh dari ibu dan ayahnya.


"Tidak usah meminta maaf kepadaku Bu! Aku sayang Ibu sampai akhir hayatku! Kau tetap Ibuku, jadi kau tidak usah merasa bersalah padaku!" Arata berkata dan memeluk kembali sang ibu.


Ibu Rima pun membalas pelukan Arata dengan lembut, setelah itu ibu Rima membuka kotak P3K dan mengeluarkan. Dioleskan nya obat tersebut pada luka di wajah Arata. Setelah selesai mengobati Arata, ibu Rima keluar dari kamar dan mengatakan pada Arata untuk beristirahat. Karena besok ada hal-hal yang harus di selesaikan.


____________________________________________

__ADS_1


Selamat membaca, saya usahakan sesuai alurnya ya. ini kita pakai sudut pandang dari Lili karena untuk part kali ini saya menceritakan tentang Lili.


Selamat menikmati, jangan lupa like, komen dan vote ya 😉😉


__ADS_2