Musuhku Menjadi Imamku

Musuhku Menjadi Imamku
Extra Part Lili-61


__ADS_3

Sella masuk ke dalam ruangan Lili, sesungguh dia tidak ingin menemui Lili. Namun dia harus bertemu dengannya, dia akan mengatakan pada Lili semua rencana Nathan padanya. Karena dia tidak ingin melihat Lili menderita akibat ulah Nathan, dia melihat Lili sudah hidup bahagia dengan suaminya.


"Maafkan aku karena mengganggu pekerjaanmu!" ucap Sella dengan lirih.


Lili tersenyum lalu dia mengajak Sella untuk duduk di atas sofa, dia siap untuk mendengarkan apa yang ingin Sella katakan padanya. Lili menghubungi seorang sekertaris untuk membuatkan minuman untuk dirinya dan Sella.


Sella masih belum bicara, dia hanya diam hingga tiba sekertaris Lili yang membawakan minuman. Setelah itu sekertarisnya pergi meninggalkan ruangan Lili, dia menutup rapat ruangan Lili.


"Ada apa kau menemui ku? Apakah masih ada yang ingin kau sampaikan padaku? Jika masalah memaafkan atas semua perbuatanmu dahulu, aku sudah memaafkannya!" Lili berkata pada Sella.


Mendengar apa yang dikatakan Lili membuat Sella semakin menyesali semua perbuatan yang sudah dia lakukan padanya. Dia berusaha menguatkan dirinya untuk memberikan peringatan pada Lili agar berhati-hati pada Nathan.


"Aku ucapkan terima kasih jika kau sudah memaafkan diriku! Sekarang aku sudah bisa bernapas lega. Aku hanya ingin memperingatkanmu agar berhati-hati terhadap Nathan! Dia merencanakan sesuatu untuk menghancurkan keluarga kecilmu! Dia sudah mulai mengacau perusahaan suamimu dan mulai mendekatimu. Aku tidak ingin kau menderita karena ulahnya, cukup aku saja yang menerima perlakuan buruknya. Karena semua itu adalah untuk penebusan segala dosa-dosaku!"


Entah mengapa setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Sella membuat hatinya merasa sedih. Lili tidak tahu apa yang sudah dilakukan Nathan terhadapnya, sehingga membuatnya menjadi seperti ini.


"Apa yang telah Nathan lakukan padamu?" Lili bertanya pada Sella karena penasaran.


Sella hanya tersenyum, dia tidak ingin membawa Lili lebih jauh kedalam masalahnya. Dia mengatakan pada Lili biar hanya dia yang merasakan semuanya, saat ini baginya pemberian maaf dari Lili sudah cukup. Jika suatu saat nanti terjadi sesuatu padanya, dia sudah bisa tenang.


"Biarlah aku yang tahu bagaimana perlakuan Nathan padaku! Sekarang yang terpenting aku sudah memberitahukanmu untuk berhati-hati dengan Nathan! Maafkan aku karena aku kau mengalami semua ini!" ucap Sella dengan lirih.


Lili tidak bisa memaksakan kehendaknya lagi, dia tidak ingin membuat Sella semakin sedih dengan masalah yang dia alami. Dia hanya bisa mendo'akan agar Sella bisa hidup bahagia.


Setelah mengatakan semua yang ingin dia katakan Sella pun pamit untuk pergi, karena dia sudah harus berada di apartemennya. Jika Nathan sudah pulang terlebih dahulu daripadanya, itu akan membuat Nathan marah besar.


Sebelum Sella pergi, Lili memeluk erat Sella lalu dia berbisik padanya untuk tetap kuat dan bersabar. Sella membalas pelukannya dia benar-benar menyesali perbuatannya itu, jika saja dia tidak malakukan semua itu mungkin sampai saat ini dia masih memiliki sahabat yang begitu baik.


Sella berjalan keluar dari ruangan Lili, entah mengapa dia merasakan sesuatu yang akan membuatnya semakin menderita. Mungkinkah hari ini dia akan mendapatkan hukuman dari Nathan lagi.


Sella bergegas menuju parkiran, dimana dia memarkirkan mobilnya. Meski hatinya merasa tidak tenang, dia tetap harus kembali ke apartemen. Dia akan berusaha melindungi Lili dari Nathan, hanya itu yang bisa dia lakukan saat ini meski rasa cintanya terhadap Nathan masih sangat besar.


Sella masuk ke dalam mobil lalu dia menyalakan mesin mobilnya, secara perlahan dia menginjak gas mobilnya. Setelah keluar dari area parkiran dia menambah kecepatan mobilnya. Dalam pikirannya dia harus segera tiba di apartemen.


Tibalah Sella di apartemennya, dia membuka pintu apartemen dia terhenyak melihat Nathan sudah duduk di atas sofa dengan segelas minuman yang masih terisi penuh. Dia berjalan perlahan masuk lalu berjalan menuju pantry untuk menyimpan semua belanjaan yang baru saja dia beli di supermarket.


Setelah menyimpan semua belanjaannya, dia berjalan menuju Nathan guna menanyakan apa yang dia butuhkan. Dalam hatinya dia merasakan ketakutan karena melihat tatapan Nathan yang begitu menusuk, seperti ingin menerkamnya saja.


"Apa yang sudah kau lakukan hah!" Nathan berkata dengan nada marah.


Sella terdiam dia tidak tahu apa yang dia katakan, dalam hatinya berkata apakah Nathan sudah tahu jika dia bertemu dengan Lili? Kalo memang benar, dia tahu darimana? Tidak mungkin Lili yang mengatakan padanya. Karena Lili pun terlihat kesal terhadap sikap Nathan.


"Apa yang kau maksud?" jawab Sella lirih.


Nathan beranjak dari duduknya, dia menyimpan gelas yang masih tersisa minuman. Ingin rasanya dia langsung memberinya hukuman atas apa yang sudah dia lakukan, namun diurungkannya.


Nathan berjalan perlahan mendekati Sella, melihat Nathan mendekatinya Sella pun mudur perlahan untuk menghindarinya. Sella tahu Nathan akan melakukan hal-hal yang akan membuatnya sakit dan merasa terhina sebagai seorang wanita.


Dalam pikiran Sella dia tidak ingin malam ini menerima perlakuan yang buruk dari Nathan. Dia berniat untuk lari lalu masuk ke dalam kamarnya dan mengunci rapat-rapat pintu kamarnya.


Disaat Nathan hampir mendekatinya, ponsel Nathan berbunyi. Itu membaut Nathan teralihkan dari Sella, mengetahui itu Sella berlari secepat mungkin lalu dia masuk dan mengunci rapat-rapat kamarnya.


Nathan menyeringai, dia tidak menyangka Sella sudah berani lari darinya. Itu membuatnya semakin tertantang untuk semakin menyakitinya. Dia berjalan mendekati kamar Sella, lalu dia mengetuk pintu kamarnya.


Tok!


Tok!


"Bukalah Sella sayang, suamimu ingin menghangatkanmu! Jika kau tidak ingin melayaniku maka kau akan sangat berdosa! Aku tidak akan menyakitimu! Ayo kelaurlah." Nathan berkata dengan nada yang begitu mengerikan, dia seperti seorang iblis yang hendak memangsa buruannya.


Sella hanya bisa diam, dia tahu semua perkataannya itu hanya bulannya saja. Dia ingin memberinya hukuman, dalam benaknya Sella tidak akan menyerah malam ini. Dia akan berjuang demi dirinya sendiri, dia ingin mencoba malam ini untuk menjauhi Nathan jika dia sedang marah.


Nathan sangat kesal karena Sella sudah mulai berani menentang perintahnya, dia mengetuk keras-keras pintu kamar Sella. Tidak hanya sekali dia mengetuk pintu dengan keras namun dia melakukannya beberapa kali. Namun Sella bergeming, dia tidak akan membuka pintu kamarnya sebelum Nathan tenang.


Setelah beberapa lama akhirnya Nathan berhenti mengetuk pintu kamar Sella, mungkin dia merasa lelah dengan apa yang dia lakukan. Akhirnya Sella merasa tenang, dia tidak akan keluar hingga malam tiba itulah yang terbaik saat ini.


Sella hanya terdiam, dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang karena dia merasa lelah dengan apa yang baru saja terjadi. Akhirnya diapun tertidur lelap, dia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya.


Hari sudah senja, Nathan mengambil sebuah kunci yang dia simpan di dalam nakas. Setalah itu dia berjalan mendekati kamar Sella, dia membuka pintu kamar Sella menggunakan kunci yang baru dia ambil di dalam nakas.

__ADS_1


Ceklek!


Pintu terbuka dengan mudahnya, Nathan merutuk mengapa dia tidak ingat bahwa ada sebuah kunci yang dia simpan dalam dalam nakas. Dimana kunci itu adalah kunci cadangan kamar Sella.


Nathan menyeringai, melihat Sella yang terlelap di atas ranjang. Dalam benaknya dia berkata, jika Sella tidak akan bisa lepas darinya. Dia pun tidak akan melepaskan Sella begitu saja.


Hari ini Sella telah membuatnya sangat kesal, karena menurutnya Lili mengetahui bahwa dirinya sudah menikah. Sehingga Lili tidak mau bertemu dengannya lagi, semua yang terjadi padanya adalah kesalahan Sella.


Nathan melepaskan dasi yang masih menempel di lehernya, lalu dia berjalan menghampiri Sella. Dia memegang kedua tangan Sella lalu mengikatnya dengan dasi yang baru saja dia lepaskan. Setalah itu dia melepaskan ikat pinggang dari tubuhnya dan mengikatkannya pada kedua kaki Sella.


Sella terbangun dia bingung mengapa Nathan bisa masuk ke kamarnya, karena dia merasa masih mengunci pintu kamarnya. Diapun sudah membuang semua kunci cadangan untuk kamarnya. Dia berusaha untuk bangun namun dia tidak bisa karena kedua tangan dan kakinya sudah terikat.


"Apa kau merasa bingung? Mengapa aku bisa masuk dengan mudah?" Nathan berkata dengan nada dingin.


Sella diam seribu bahasa, lalu Nathan mengatakan bahwa dia masih memiliki kunci cadangan kamarnya. Dengan apa yang sudah terjadi Sella hanya diam, dia sudah tidak ada tenaga atau keinginan untuk melawan Nathan. Dia menatap Nathan dengan rasa kasih dan cinta. Namun itu membuat Nathan merasa jijik, dia tidak menyukai tatapan itu.


Tanpa mengucapakan sepatah kata, Nathan mengambil sebuah alat yang akan digunakan untuk menghukum Sella. Dia membuka dengan pasak pakaian yang menempel di tubuhnya. Setelah terpangpang tubuh Sella yang putih, Nathan memberikan pecutan yang lembut pada tubuh Sella.


Pecutan yang semula terasa pelan sedikit demi sedikit Nathan menambahkan kekuatannya. Sehingga pecutan itu terasa sakit, tubuh Sella pun terlihat memerah akibat pecutan Nathan.


Sella hanya bisa Manahan semua yang dilakukan oleh Nathan, dia berusaha tidak mengeluarkan sedikitpun suara. Meski seluruh tubuhnya merasakan kesakitan akibat pecutan yang diterimanya.


Nathan semakin kesal karena Sella tidak memperlihatkan kesedihan dan penderitanya. Dia semakin menambahkan kekuatannya untuk memecut bagian tubuh yang yang sudah memerah. Sehingga membuat Sella mengerang kesakitan.


"Hentikan semua ini Nathan! Sampai kapan kau akan menyiksaku seperti ini hah?!" Sella berkata dengan beruraian air mata.


Nathan terkekeh mendengar ucapan Sella, dia mengatakan bahwa sampai kapanpun tidak akan melepaskannya. Dia akan terus menyakitinya seumur hidupnya, dan sampai kapanpun dia tidak akan pernah jatuh cinta padanya.


Mendengar semua itu Sella berkata, "Kau bilang tidak akan jatuh cinta padaku! Kita lihat saja nanti! Siapa yang akan kalah aku atau kau? Aku akan bertahan di sisimu hingga akhirnya kau jatuh cinta padaku!"


Nathan terkekeh-kekeh mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Sella kepadanya. Dia tidak mengira bahwa Sella sudah menjadi gila, sehingga dia bisa berpikiran bahwa dia bisa jatuh cinta padanya.


Dalam hati Nathan hanya ada Lili seorang, tidak ada yang bisa menggantinya hingga akhir hayatnya. Meski Sella menggunakan berbagai macam trik untuk membuatnya jatuh hati padanya, semua itu tidak akan berhasil.


"Ok kita lihat apakah yang kau katakan itu benar atau tidak! Aku akan membuatmu semakin menderita berada di sisiku sehingga kau tidak bisa berpikir untuk mati atau hidup!" Nathan berkata dengan melanjutkan memecut tubuh Sella.


**


Dia berjalan perlahan dengan menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, dia memasuki kamar mandi. Dilihatnya tubuhnya yang terpangpang di dalam pantulan cermin di dalam kamar mandi.


Ditatapnya dengan lekat tubuhnya itu, lalu dia tersenyum dan bergumam "Kita lihat saja suamiku! Kau pasti akan jatuh hati padaku! Yang aku punya saat ini adalah Tuhan, yang akan melindungiku dan mengabulkan semua permintaan umat-Nya."


Dia menyalakan keran shower lalu dia berdiri tepat di bawah shower, sehingga air yang jatuh langsung mengenai seluruh tubuhnya yang sudah dipenuhi dengan luka. Dia mengambil sabun lalu membasuhnya ke seluruh tubuhnya, semua itu terasa perih. Namun dia menahan semuanya.


Setelah selesai dengan rutinitas membersihkan dirinya, Sella bersiap untuk memask untuk sarapan Nathan. Dia membuka pintu kamarnya lalu melangkah menuju pantry. Dia tidak melihat Nathan di ruang televisi, mungkin dia masih terlelap di dalam kamarnya.


Sella pun langsung memasak sarapan untuk Nathan, setelah semuanya siap. Dia berjalan menuju kamar Nathan, dia ingin memberitahukan padanya jika sarapan sudah siap, sehingga dia bisa langsung menyantapnya.


Saat memasuki kamar Nathan terlihat sangat berantakan sekali, beberapa botol minuman yang berserakan di lantai. Dia melihat Nathan masih terlelap di atas ranjang. Sella membangunkan Nathan terlebih dahulu sebelum dia membersihkan kamar Nathan yang sangat berantakan.


"Nathan ayo bangun, ini sudah siang! Aku sudah memasakkan sarapan untukmu!" ucap Sella guna membangunkan Nathan.


Namun usahanya gagal Nathan masih saja terlelap, karena sudah membangunkan Nathan. Dia memutuskan untuk membersihkan kamar Nathan terlebih dahulu, setelah itu baru membangunkan Nathan kembali.


Setelah selesai merapihkan kamar Natha, Sella membangunkan Nathan kembali. Kali ini usahanya berhasil. Nathan terbangun dengan emosi yang meledak, karena Sella sudah menggangu tidurnya.


"Apa kau sudah tidak waras hah! Mengapa kau mengganggu tidurku! Apakah hukuman semalam belum cukup!" teriak Nathan pada Sella.


"Bangunlah, aku sudah menyiapkan makanan untukmu! Lebih baik kau segera memakannya kalau tidak makannya akan dingin!" Sella berkata lalu pergi meninggalkan Nathan di kamarnya.


Nathan masih terduduk karena kepalanya masih terasa nyeri, mungkin itu adalah efek dari semalam dia terlalu banyak minum. Setelah beberapa lama dia baru berdiri dari duduknya lalu berjalan memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah selesai dengan rutinitas membersihkan diri, Nathan kembali segar dia berjalan keluar kamar untuk menyantap makanan yang sudah disiapkan oleh Sella. Dia melihat Sella sedang merapikan pantry, terlihat jelas dia tidak merasakan kesedihan atas perlakuannya semalam.


Nathan duduk di meja makan yang terhubung dengan pantry, dia menyantap makanannya. Dia melihat Sella yang sedang merapikan pantry, entah apa yang dia pikirkan. Apakah ingin menyakitinya atau dia sudah mulai merasakan hal-hal yang dia tidak inginkan. Yaitu jatuh hati padanya.


Setelah selesai sarapan Nathan duduk di atas sofa dengan memangku laptop-nya, ponselnya berbunyi diapun mengangkat telepon. Dia mendapatkan kabar jika harus segera pergi ke kota Kitakyushu, karena ada masalah dengan bisnisnya disana. Dan dia mengharuskan membawa Sella, karena dia tidak ingin Sella menambah masalahnya dengan Lili.


Nathan berdiri lalu berjalan menuju kamar Sella, dia mengatakan padanya untuk berkemas karena akan pergi ke kota Kitakyushu. Mendengar itu Sella langsung berkemas, karena dia tidak ingin terkena marah Nathan lagi.

__ADS_1


Dalam benak Sella mulai hari ini dia berusaha tidak akan membuat Nathan marah, namun dia akan membuat Nathan jatuh hati padanya. Meski semua itu membutuhkan proses yang lama dia akan menjalankannya mungkin seumur hidupnya.


Setelah selesai berkemas Sella berjalan menuju kamar Nathan, dia hendak membantu Nathan untuk berkemas. Setelah semuanya rapi, Nathan mengajak Sella untuk pergi ke kota Kitakyushu. Dalam perjalanan mereka hanya diam, tidak ada perbincangan untuk mencarikan suasana.


**


Tibalah mereka di kota Kitakyushu, Nathan memesan sebuah hotel untuk mereka beristirahat. Setelah itu dia mulai melakukan pekerjaannya, dia meninggalkan Sella sendiri di hotel. Pekerjaan yang dilakukan Nathan kali ini cukup menyita waktunya.


Nathan hampir tidak bisa tidur dengan tenang, karena semau masalah harus diselesaikan dengan cepat. Agar dia bisa kembali ke tempat dimana dia bisa melihat dan bertemu dengan Lili.


Mereka sudah berada dua hari di kota Kitakyushu, malam ini Nathan mendapatkan undangan sebuah pesta dari client-nya. Tadinya dia hanya akan pergi sendiri, namun pesta itu mengharuskannya membawa pasangan.


Nathan terpaksa membawa Sella ke pesta tersebut, dalam benaknya jika saja yang menjadi pasangannya adalah Lili dia pasti sangat bahagia. Entah apakah ini yang dinamakan cinta atau hanya obsesinya saja ingin memiliki Lili.


Sella merasa senang karena malam ini Nathan mengajaknya ke pesta, karena baru pertama kali menikah sampai kemarin dia tidak pernah sekalipun di ajak ke pesta oleh math. Dia bersiap untuk pergi ke pesta, dia tidak ingin membuat Nathan merasa malu dengan mengajaknya.


Sella berdandan sangat cantik namun tidak berlebihan semua itu terasa serasi dengan gaun yang dikenakannya. Iya. Karena Sella adalah wanita yang modis sehingga dia pintar dalam memadu padankan gaun yang dia kenakan dengan make-upnya.


"Kali ini jangan sampai kau membuat masalah denganku! Ingat batasanmu!" ucap Nathan dengan penekanan dan tidak ingin ada bantahan.


Sella mengangguk, meski Nathan tidak berkata seperti itupun dia tidak akan membuatnya malu. Dia akan berusaha agar Nathan bangga karena memiliki istri sepertinya.


Tibalah mereka di tempat pesta, terlihat semua tamu undangan sudah berkumpul. Nathan langsung berbincang dengan para rekannya, sehingga Sella hanya menjadi alat pelengkap saja.


Sella merasa bosan dan kakinya sudah terasa pegal karena berdiri selama satu jam lebih. Karena dia menggunakan high heels, dia berbisik pada Nathan untuk membuta ijin mencari tempat untuk mengistirahatkan kedua kakinya.


Nathan pun mengangguk dengan arti dia menyetujuinya, Sella menyapu seluruh ruangan dengan kedua bola matanya guna mencari tempat yang nyaman. Matanya tertutup pada kursi yang bertengger di sebuah balkon, dia pun berjalan perlahan menuju kursi yang tepat di depannya.


Nathan memperhatikan Sella untuk mengetahui posisi dia beristirahat, agar dia tidak perlu repot-repot mencarinya. Setelah mengetahui posisi Sella dia kembali fokus dengan para client-nya.


Sella memandangi langit yang begitu indah namun terlihat begitu sendu tanpa kehadiran sang bintang dan bulan. Seperti itulah hatinya saat ini, yang dia inginkan hanya cinta dan kasih sayang dari Nathan. Namun semua itu membutuhkan proses yang sangat panjang.


Seorang pria yang memperhatikan Sella sedari dia duduk di balkon, akhirnya memutuskan untuk menghampirinya. Ada sedikit ketertarikan yang dirasakan oleh pria itu pada Sella.


"Hallo Nona, bisakah saya duduk di sini?" ucap seorang pria yang mengagetkan Sella.


Dia mendongak untuk melihat siapa yang sudah menganggunya untuk menukangi suasana malam ini. Dia melihat seorang pria dengan senyum hangatnya, dia meminta ijin untuk duduk di sebelahnya.


"Maaf Tuan, jika anda mau duduk silahkan saja! Kalau begitu saya permisi dulu!" jawab Sella dengan sopan agar tidak menyinggung pria tersebut.


Dalam benak Sella dia tidak ingin membaut Nathan marah, jika Nathan melihatnya berbicara dengan seorang pria maka dia akan marah. Entah dia harus senang atau harus sedih karena dia tidak tahu apakah marahnya Nathan itu rasa cemburu atau hanya ingin mengekangnya.


Pria itu tidak mengijinkan Sella untuk pergi, dia terus saja mengajak Sella untuk berbincang-bincang. Secara tidak sadar akhirnya Sella menikmati pembicaraannya dengan pria itu.


Dari kejauhan Nathan melihat Sella sedang berbicara dengan seorang pria, terlihat Sella begitu menikmatinya. Hingga dia bisa tertawa lepas dengan pria lain yang baru saja dia kenal.


Itu membuat Nathan sangat marah, dia sudah tidak bisa menahan emosinya lagi. Nathan bergegas menghampiri Sella, sorot matanya penuh dengan amarah. Sella terkejut melihat Nathan sudah ada di belakang pria itu dengan sorot mata yang ingin menerkam.


"Maat Tuan, saya ada perlu dengan istri saya!" ucapnya pada pria itu.


Tanpa menunggu jawaban dari pria itu Nathan langsung menarik tangan Sella dan membawanya ke mobil untuk kembali ke hotel. Sella melihat dengan jelas kemarahan di mata Nathan.


Kali ini dia pasti akan di hukum oleh Nathan, dalam benaknya mengapa pula dia harus bertemu dengan pria itu dan berbincang dengannya. Dan pada akhirnya Sella mendapatkan hukuman dari Nathan.


Dalam perjalanan pulang menuju hotel Sella merasakan hawa dingin yang membuatnya merasa tidak nyaman. Dia tahu kemarahan Nathan sedang memuncak.


Sella berusaha bersikap tenang, dia tidak mau memulai pembelaannya karena itu tidak penting. Nathan juga tidak akan percaya dengan apa yang akan dikatakan olehnya, jadi sekarang dia hanya bisa menerima hukuman yang diberikan oleh Nathan. Tibalah mereka di hotel, Nathan menarik tangan Sella.


Brugggg!


Sella terjatuh sehingga menyebabkan kakinya terkilir, Nathan tidak peduli dengan itu. Dia menyuruh Sella untuk bangun dan kembali berjalan, Sella berjalan dengan tertatih-tatih menahan rasa sakit di kakinya.


Akhirnya Sella tiba di kamar hotel, dia melihat Nathan sudah memegang sebuah alat cambuk. Dia menyuruh Sella untuk menghampirinya, Sella pun berjalan menghampirinya.


"Kau sudah tahu kesalahanmu hah!" bentak Nathan pada Sella.


Sella mengangguk, lalu mengulurkan kedua telapak tangannya pada Nathan. Tanpa kata-kata Nathan langsung memukul kedua telapak tangan Sella dengan begitu kerasnya. Sehingga membuat Sella meringis kesakitan, dia berusaha untuk tidak menangis.


Jika dia menangis maka Nathan akan melakukannya lebih keras lagi di tempat yang sama. Nathan menyuruh Sella menyibakkan gaunnya, sehingga terlihat bagian betis yang mulus. Nathan langsung mencambuk kedua betis Sella dengan sangat keras, sehingga muncul tanda merah bekas pukulan di kulit Sella yang putih.

__ADS_1


__ADS_2