Musuhku Menjadi Imamku

Musuhku Menjadi Imamku
Extra Part Lili-64


__ADS_3

Kesembuhan Lili sudah diketahui oleh semuanya, sehingga semua orang berkumpul di rumah. Mama Hani, papa Karim, ibu dan ayah Amida, Novi, Maru serta Sarada semuanya berkumpul.


Suasana rumah menjadi hangat dengan kehadiran mereka semua, Arata terlihat sangat bahagia dengan kesembuhan Lili. Sudah begitu lama dia merindukan istrinya yang dulu.


Setelah acara selesai semuanya kembali ke rumah masing-masing, begitupun dengan ibu dan ayah Amida yang lebih memilih segera kembali ke rumah di pedesaan. Karena ada yang harus diselesaikan disana.


"Sayang, maafkan aku ya? Karena aku sudah membuatmu khawatir dan kesulitan untuk merawatku?" Lili berkata dengan lirih.


Arata tersenyum lalu dia menepuk-nepuk kedua pahanya, itu menandakan agar Lili duduk di pangkuannya. Lili tersenyum dia berjalan perlahan menuju Arata lalu dia duduk di pangkuan Arata.


"Untuk apa kau meminta maaf padaku? Seharusnya akulah yang meminta maaf padamu, karena aku tidak bisa melindungi kalian berdua!" ucap Arata yang terdengar ada kesedihan di dalamnya.


"Baiklah kita berdua bersalah pada anak kita! Sekarang kita harus mendo'akannya. Dan juga kita harus bisa saling melengkapi satu sama lain!" Lili berucap sembari memeluk Arata dengan erat.


Arata pun membalas pelukan Lili, dia sungguh bersyukur memiliki istri seperti Lili. Mulai dari sekarang dia akan menjaga Lili dengan ketat, sehingga tidak akan terjadi hal peristiwa yang sama.


Arata mengecup kening Lili dengan lembut, lalu kecupan itu berjalan menelusuri seluruh wajah cantik Lili dan akhirnya tiba di bibir Lili yang terasa manis. Dia mulai melakukan permainan yang sudah dirindukannya.


Lili menikmati setiap permainan bibir Arata sehingga dia pun membalas permainan Arata. Mereka saling menikmati kecupan yang mereka berdua rindukan, akhirnya mereka terhanyut dalam permainan yang membuat mereka merasakan kenikmatan.


Arata teringat akan pesan dokter untuk tidak terlalu bersemangat di dalam permainannya. Sehingga dia menghentikan permainannya, dia hanya memberikan permainan bagi Lili saja sehingga dia bisa mencapai puncaknya.


Akhirnya Lili terlelap dalam dekapan Arata di atas sofa, dia tahu jika tidur di atas sofa maka saat terbangun seleurh tubuh Lili akan terasa sakit. Sehingga dia menggendong Lili lalu menidurkannya di atas ranjang. Dia pun merebahkan tubuhnya di samping Lili.


Keesokan harinya Lili terbangun dengan perasaan yang lega, dia melihat Arata yang masih terlelap di sampingnya. Dia menatap Arata dengan lekat, disibakkannya rambut Arata yang menutupi matanya. Dia tersenyum lalu mengecup keningnya Arata dengan lembut.


"Apa semalam belum cukup?!" Arata bertanya dengan lirih lalu memeluk Lili yang hendak lari.


"Haha, iya sudah cukup! Yang aku tidak mengerti mengapa kau menghentikan pencapaian puncakmu? Tapi kau membantuku untuk mencapai puncak?" Lili bertanya karena dia merasa ada yang aneh dengan semua itu.


Arata tersenyum lalu dia berkata pada Lili, bahwa dia mengingat pesan dokter yang tidak boleh sampai dalam karena rahimmu belum sembuh total. Lili mengerti sekarang dia semakin mendekatkan diri pada Arata, dia merasa bersyukur memiliki Arata sebagai suaminya.


"Ayo kita berendam bersama!" bisik Arata pada Lili.


Lili tersenyum dia dengan manjanya ingin di gendong hingga memasuki kamar mandi. Arata terkekeh melihat sikap manja Lili, dia bangun dari posisi tidurnya tubuhnya tidak berbalut sehelai kainpun. Itu semua adalah sisa dari pergulatan mereka semalam begitupun dengan Lili.


Arata menggendong Lili dengan lembut, dia berjalan perlahan sembari menatap wajah Lili yang sedikit merona. "Jangan memandangku terus!" Ucap Lili.


Araya terkekeh mendengar ucapan Lili, semakin Lili mengatakan itu dia semakin melakukan apa yang tidak diinginkan oleh Lili.


"Bantu aku membuka pintu kamar mandi!" Araya berkata.


Lili pun membuka pintu kamar mandi, Arata menurunkan perlahan Lili lalu dia menyiapkan air di dalam bhatup. Setelah dirasa airnya cukup untuk mereka berdua.


Setelah selesai berendam, Arata bersiap untuk pergi ke kantor. Lili merengek untuk diijinkan untuk kembali bekerja. Dia mengatakan kasihan pada Novi yang selama ini mengurus semua pekerjaannya. Lagi pula Lili sudah merasa lebih baik, jika berada terus di rumah itu akan membuatnya teringat akan kejadian itu.


Arata berpikir sejenak, apa yang dikatakan Lili benar jika dia berada di rumah terus itu akan membuatnya semakin merasa bersalah. Lebih baik dia kembali bekerja sehingga pikirannya mengenai peristiwa itu akan teralihkan.


"Baiklah aku ijinkan kau kembali bekerja, namun kau harus terus mengajariku jika akan berpergian ke laut kantor dan kau harus mengatakan pergi kemana? Pergi dengan siap? Itu harus jelas!" Arata berkata penuh dengan penekanan.


Lili terkekeh dengan syarat yang diberikan oleh Arata, namun dia menyetujuinya yang terpenting akhirnya dia bisa kali bekerja. Karena itulah yang dibutuhkan olehnya untuk mengalihkan pikirannya.


Setelah mendapat ijin Arata, dia pun bersiap untuk pergi ke kantor. Araya masih khawatir dengan Lili, sehingga dia memutuskan untuk mengantarnya terlebih dahulu.


Dalam perjalanan menuju kantor Arata bersikap seperti seorang ayah yang mengingatkan putrinya untuk bersikap baik. Itu membuat Maru tersenyum, dalam benaknya bahwa tuannya sudah kembali. Dia sangat senang dengan kesembuhan nona Lili, sehingga bisa membuat tuannya kembali bersemangat.


"Hai Maru, jika kau ingin tertawa maka tertawalah! Aku tahu kau ingin menertawakan suamiku 'kan?!" ucap Lili sembari menggoda Maru yang sudah tidak bisa menahan lagi tawanya.


Arata kesal dengan sikap Maru yang bekerja sama dengan Lili untuk menggodanya. Arata terdiam saking kesal dengan ulah sang istri dan asistennya itu, dia merasa sekarang Maru telah menjadi kaki tangan sang istri.


Lili menghentikan tawanya, dia melihat wajah Arata yang tampak sangat kesal. Dia tahu apa yang akan menghilangkan kekesalannya itu. Dia mendekati Arata lalu dia mengecup sekilas bibir Arata.


Arata masih terlihat kesal meski Lili sudah mengecup bibirnya sekilas, di saat Lili akan mencoba untuk yang kedua kalinya. Arata memegang tengkuk leher Lili, sehingga dia tidak akan bisa dengan mudah terlepas dari kecupan hangat yang diberikan Arata.


Arata terus mengecup lili tanpa jeda, sehingga membuat Lili hampir kehabisan napas. Saat Lili memberi tanda untuk Arata menghentikan kecupannya itu, dia menghiraukannya. Permainannya semakin menggila, dalam benaknya ini adalah hukuman baginya karena sudah menertawakannya bersama Maru.


Dirasa hukumannya sudah cukup, Arata melepaskan bibir Lili yang sangat manis menurutnya. Setelah terlepas dari permainan Arata, Lili terengah-engah dia seperti seseorang yang habis berolah raga. Lalu Lili berusaha mengatur ritme pernapasannya.


"Apa kau mau ku hukum lagi hah?!" bisik araya penuh dengan penekanan.


Lili menatap Arata dengan lekat, dia tidak menyangka mendapatkan hukuman dari Arata di awal dia kali bekerja. Itu sedikit membuatnya kesal namun itu membuatnya merasa senang.


Maru menghentikan mobil, Lili melihat sekeliling ternyata sudah tiba di kantornya, dia bergegas turun dari mobil. Namun Arata menarik lengannya, lalu dia berkata pada Lili tentang persyaratan yang telah disetujui. Dia mengangguk lalu turun dari mobil.


**


Dalam perjalanan menuju kantor Arata mengatakan pada Maru untuk memperketat penjagaan terhadap Lili. Maru mengatakan sudah melaksanakan sebelum Arata memerintahkan itu padanya.


"Bagaimana dengan Nathan?!" Arata bertanya pada Maru.

__ADS_1


"Dia masih di penjara, namun ada beberapa orang yang mengunjunginya selain nona Sella! Sepertinya merekalah yang mempengaruhi Nathan untuk berbuat hal!" jawab Maru.


Arata terdiam, dia sungguh tidak menyangka Nathan yang hebat dalam bisnisnya bisa terpengaruh oleh orang di sekelilingnya. Dia kembali berpikir, mungkin Nathan sama sepertinya dulu yang terpengaruh oleh Akhira. Namun semua itu sudah berlalu, baik dia dan Akhira sekarang sudah tidak melakukan hal yang buruk.


Tibalah Arata di perusahaannya, dia langsung menuju ruangannya. Begitu terkejutnya dia saat melihat seorang pria sudah berada di ruangannya. Ternyata pria itu adalah Satria.


"Apa kabar Satria?" tanya Arata sembari berjabat tangan dan memeluknya.


"Aku baik-baik saja," jawabnya singkat.


Rupanya Satria adalah teman Arata, mereka sudah berteman semenjak masih kuliah. Namun setelah lulus mereka terpisah, karena Satria harus kembali ke Indonesia untuk mengurus perusahaan orangtuanya.


Mereka berbincang-bincang, Satria mengatakan dia akan tinggal dalam jangka waktu yang lama di Jepang. Karena dia akan mengurus bisnisnya yang berada di Jepang.


"Kalau begitu aku undang kau makan malam bersama istriku! Datanglah malam ini ke rumah ku!" Arata mengundang Satria.


Satria menyetujuinya, dia dengan senang hati menerima undangan Arata. Setelah berbincang-bincang akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke perusahaannya. Baginya Arata adalah sahabat yang mengerti akan dirinya.


Dia pun tahu Arata berubah menjadi seorang yang tidak punya perasaan dikarenakan pengaruh akhirat. Namun dengan berjalannya waktu akhirnya Arata bisa kembali seperti Arata yang sesungguhnya, pria yang tidak bisa menyakiti seorang wanita bahkan mencemarinya.


Arata menghubungi Lili tentang makan malam kali ini, bahwa ada sahabatnya yang akan makan malam di rumah. Sehingga untuk hari ini dia menyuruh Lili untuk pulang lebih awal untuk menyiapkan semuanya. Meski mereka memiliki banyak pelayan, jika mengundang seseorang untuk makan malam. Sudah menjadi kewajiban mereka untuk menyiapkan semuanya.


Tok!


Tok!


Masuk!


Maru membuka pintu lalu memasuki ruangan Arata, dia mengatakan bahwa Sella ingin bertemu dengannya. Araya bertanya apakah yang dia inginkan kali ini, jika dia memintanya untuk membebaskan Nathan. Itu tidak mungkin.


"Suruh dia masuk!" jawab Arata singkat.


Maru berjalan keluar, dia mempersilakan Sella untuk masuk. Sella melihat wajah dingin Arata. Sebenarnya dia tidak ingin melakukan ini, namun dia begitu mencintai Nathan. Apalagi setelah melihat keadaan Nathan di penjara, menurutnya itu sangat menyedihkan.


"Maafkan aku Tuan, aku hanya bisa memohon kepada anda agar membebaskan suami saya! Saya tahu saya tidak berhak meminta ini pada anda, karena perbuatan suami saya yang sudah sangat keterlaluan sehingga menghilangkan nyawa tidak berdosa." ucap Sella dengan penuh harapan dan kesedihan.


Arata terdiam, dia mengingat apa yang di ceritakan oleh Lili bahwa perlakuan Nathan pada istrinya sangat buruk. Tapi mengapa dia masih saja memintanya untuk membebaskan pria yang selama ini terus menyiksanya.


"Bukankah kau bisa pergi bebas setelah suamimu di penjara! Karena selam ini dia memperlakukanmu dengan sangat buruk?" Arata berkata.


Sella terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Arata, dia tidak menyangka bahwa apa yang menimpanya sudah diketahui oleh Arata. Karena selama ini dia tidak pernah membicarakan hal itu pada siapapun, kecuali Lili. Apakah Lili yang sudah menceritakan semuanya.


Arata berkata bahwa antara Lili dan dia tidak ada rahasia, mereka selaku berkata jujur. Karena dalam hubungan suami istri harus ada kejujuran dan kepercayaan. Sehingga Arata dan Lili selaku berkata jujur tentang apapun itu, meski nantinya akan menimbulkan argumentasi antara mereka.


"Lili berkata padaku sebelum penculikan itu terjadi! Dia mengatakan bahwa perlakuan Nathan pada istrinya sangat tidak dia sukai! Dia menganggap anda sebagai temannya. Sehingga dia berpikir untuk menyelamatkan Anda! Namun saya mengatakan padanya agar terus mendo'akan anda, karena setiap rumah tangga memiliki masalahnya masingmasing! Sehingga kami pihak luar tidak bisa ikut campur di dalamnya!" jawab Arata atas pertanyaan Sella.


Mendengar jawaban Arata membuat Sella terharu, ternyata Lili masih menganggapnya sebagai sahabatnya. Itu merupakan hal yang membuatnya bahagia meski dia menderita akibat Nathan.


"Lebih baik anda pulang saja! Karena baik saya atau Lili belum bisa memaafkan perbuatan dia! Lebih baik anda berdo'a agar Nathan bisa tersadar dari semua kesalahannya!" Arata berkata lalu menyuruh Maru untuk mengantarnya.


Sella sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dia pun memutuskan untuk pergi meninggalkan ruangan Arata. Dalam hatinya dia berkata mungkin ini yang harus dia dan Nathan jalani. Mudah-mudahan ini semua akan merubah Nathan menjadi orang yang lebih baik lagi.


Dalam benaknya Sella akan menemui Lili untuk meminta maaf atas segala perlakuan Nathan terhadapnya. Karena dia mendapatkan informasi bahwa Lili sudah sembuh dan kembali bekerja.


Dalam ruangan Arata terdiam, dia memikirkan Sella yang begitu mencintai Nathan. Sungguh beruntung Nathan memiliki istri yang begitu mencintainya, meski sudah di sakiti dia masih saja mencintai Nathan.


Arata memanggil Maru melalu jaringan telepon kantor, beberapa detik kemudian Maru sudah jadi diruanganya.


"Maru batalkan semua janjiku sore ini, ubah waktunya besok saja! Sore ini aku akan pulang lebih awal!"


Maru mengatakan iya, setelah itu dia kembali ke ruangannya untuk menyiapkan beberapa dokumen yang harus diperiksa oleh Arata sebelum dia pulang. Tiga puluh menit kemudian Maru mengetuk pintu ruangan Arata. Dia mendengar perkataan Arata untuk masuk. Maru memasuki ruangan Arata dengan membawa beberapa dokumen, lalu dia menyodorkan dokumen itu pada Arata.


Arata memeriksa dengan teliti satu per satu dokumen yang dibawa oleh Maru, setelah di periksa dan tidak ada kesalahan dia membubuhi tanda tangan di dokumen tersebut. Setelah itu Arata berkata pada Maru untuk menyiapkan mobil karena dia akan pulang. Sebelum itu dia akan menjemput Lili terlebih dahulu.


Maru pergi dengan membawa dokumen yang sudah di bubuhi tanda tangan oleh Arata. Lalu dia memasuki ruanganya untuk menyimpan semua dokumen tersebut. Setelah itu dia menyiapkan mobil untuk kepulangan Arata. Setelah semuanya siap Maru memberi tahukan pada Arata, merekapun berjalan keluar perusahaan untuk menjemput Lili terlebih dahulu.


Dilain tempat Lili yang sudah tahu akan di jemput lebih awal oleh Arata bersiap-siap. Novi yang mengetahui Lili akan pulang lebih awal menemuinya terlebih dahulu.


"Li ada beberapa dokumen yang harus kau periksa, namun dokumen tersebut belum rampung." ucap Novi.


"Jika sudah selesai kau bisa membawanya ke rumahku!" jawab Lili.


Novi mengangguk, dia akan membawa dokumen tersebut ke rumahnya, dia menyuruh semua timnya untuk segera menyelesaikan semua sebelum jam kerja mereka selesai.


**


Arata mengabari Lili bahwa dia sudah ada di parkiran, sehingga dia menyuruh Lili untuk segera turun. Lili pun bergegas menghampiri Arata, dia tidak ingin membuat suaminya menunggu terlalu lama.


Saat dia berjalan menuju parkiran Lili bertemu dengan Novi, dia mengingatkan Kemabli pada Novi untuk ke rumahnya dengan membawa dokumen yang harus dia periksa dan di bubuhi tanda tangannya. Novi mengangguk lalu merekapun berpisah.

__ADS_1


Lili melihat Maru yang sudah berdiri di kursi dekat pintu mobil, lalu dia membukakan pintu mobil seraya menyuruh Lili untuk masuk. Dia melihat araya sedang terduduk semabri memainkan ponselnya.


Lili memasuki mobil lalu duduk di samping Arata, namun kehadirannya tidak menyadarkan Arata karena dia sedang fokus dengan ponselnya. Muncul niat nakal Lili, dia berbisik pada Arata lalu meniup telinga Arata dengan lembut.


Arata terkejut dengan yang dilakukan Lili, tanpa kata dia menyerang Lili dengan kecupan hangat di bibirnya. Lili terperangah niatnya yang ingin menjahili Arata namun dia yang terkejut atas serangan Arata yang tidak terduga.


Arata terkekeh melihat wajah Lili lalu dia berkata, "Kau semakin nakal hah! Itu hukuman untukmu! Nanti malam akan ku hukum kau lebih lanjut!"


Wajah Lili langsung memerah, itu membuat Arata semakin ingin menggodanya. Namun saat ini dia mengurungkan niatnya, karena dia harus mengurus sesuatu lewat ponselnya.


"Dengan siapa kau berbalas pesan?!" Lili berkata dengan nada menyelidiki.


Arata tersenyum, niatnya tidak ingin menggoda Lili timbul kembali untuk menggodanya setelah mendengar apa yang ditanyakan oleh Lili. Arata menjauhkan diri dari Lili, seperti tidak ingin diketahui dia sedang berbalas pesan dengan siapa.


Sikap Arata seperti itu membuat Lili kesal, dia bertanya kembali pada Arata siap yang sedang berbalas pesan dengannya. Arata hanya mengatakan bahwa dia adalah rekan bisnisnya. Lalu Arata menghentikan kegiatannya membalas pesan, sehingga Lili merasa curiga.


"Ayo katakan siapa dia? Jika kau memiliki wanita lain, lebih baik aku turun dari mobil ini!" Lili berkata dengan nada kesal.


Arata bersikap dingin padahal dalam hatinya dia terkekeh melihat Lili yang sedang cemburu. Maru yang mendengarka Lili marah, hanya bisa tersenyum karena dia tahu dengan pasti bahwa Arata tidak mungkin akan tergoda dengan wanita lain.


Lili semakin kesal akhirnya dia hanya diam dalam perjalanan pulang, setelah tiba di rumah dia langsung keluar dari mobil dan berjalan dengan cepat meninggalkan Arata. Arata terkekeh melihat sikap cemburu Lili.


"Anda menjahili Nona, apakah anda tidak akan menyesalinya?!" ucap Maru pada Arata.


"Haha, kau tidak usah khawatir. Aku pasti akan membuatnya memelukku tanpa mau lepas dariku!" jawab Arata dengan percaya dirinya.


Setelah mengatakan itu pada Maru, dia pun berjalan memasuki rumah. Dia sengaja tidak menemui Lili yang dilihatnya sedang bersama beberapa pelayan untuk menyiapkan makan malam. Dia berjalan menuju ruang bacanya, dia mengerjakan apa yang belum dia selesaikan bersama Maru.


Lili yang masih kesal dengan Arata, semakin kesal karena dia tidak melihat Arata untuk menjelaskan semuanya. Malah langsung menuju ruang baca untuk melanjutkan pekerjaannya.


Semua persiapan untuk makan malam selesai, Lili memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Dia membuka satu per satu pakaiannya lalu memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri. "Awas saja, jika dia meminta sesuatu malam ini tidak akan ku berikan!" gumamnya.


Setelah selesai membersihkan diri, Lili melihat Arata yang sudah terduduk di atas sofa. Dia tidak ingin bicara sama sekali dengan Arata sehingga dia tidak peduli jika Arata ada di hadapannya sekalipun.


Lili mengambil pakaian yang dirasa cocok untuk makan malam kali ini, dia menggunakan pakaian yang sederhana namun memperlihatkan kecantikan yang ada didalam dirinya.


Lili terlihat mempesona sehingga Arata tidak bisa melepaskan pandangannya, Lili yang menyadari Arata yang terus memandangnya tanpa mengedipkan mata. Langsung keluar dari kamar, sebelum keluar dia menyiapkan setelan pakaian untuk Arata yang nantinya akan terlihat serasi dengan pakaian yang Lili kenakan.


Arata tersenyum melihat tingkah cemburu istrinya itu, dia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu dia bersiap karena sebentar lagi Satria akan tiba di rumahnya.


Satria sudah tiba di kediaman araya, dia disambut oleh Maru lalu di persilahkan untuk menunggu di ruang tamu. Satria duduk dengan santai, dia masih ingat betul dengan rumah ini. Karena dia selalu berkunjung ke rumah ini saat masih kuliah dulu.


Satria mengingat kehangatan dari keluarga Arata, apalagi ibunya Arata yang selalu menyambutnya dengan hangat. Dan selalu menyiapkan makanan dan camilan yang enak untuknya. Dia berkata dalam hatinya bahwa rumah ini tidak berubah sedikitpun, meski ada beberapa yang sudah tergantikan namun masih tetap sama.


Maru mengetuk pintu kamar Arata, dia memberitahukan bahwa tamu yang ditunggunya sudah tiba. Arata bergegas menemui Satria, dia bertanya pada Maru dimana Lili. Maru mengatakan bahwa Lili berada di pantry.


Sebelum menemui Satria, dia memutuskan untuk menemui Lili terlebih dahulu kalau dia akan menemui Satria bersama Lili. Arata masih berniat nakal panda Lili, setelah melihat Lili yang sedang mengecek kesiapan makan malam. Dia menghampirinya.


"Ayo aku kenalkan kau dengan orang yang sangat spesial!" ucap Arata pada Lili sembari menggandeng tangan Lili.


Lili yang belum terfokuskan masih mencerna apa yang dikatakan Arata, dalam benaknya hanya terngiang-ngiang orang yang spesial. Dia terdiam dengan mengikuti langkah Arata, dia Meliah betapa bahagianya Arata bertemu dengan orang spesialnya.


Lili terkejut saat melihat seorang pria yang duduk di atas sofa, dalam benaknya apakah Arata sudah tidak normal sehingga dia menyukai sesama jenis. Dia menghempaskan semua pikiran buruknya.


"Sayang, kenalkan ini Satria!" Arata berkata pada Lili.


Satria tersenyum saat melihat Lili, ternyata yang menjadi istri dari sahabatnya adalah Lili. Saudara dari wanita yang sedang dia kejar.


"Apa kabar Nyonya Lili, akhirnya kita berjumpa kembali." Ucap Satria.


Arata bingung dengan apa yang diucapkan Satria, bukankah ini pertama kali bagi mereka bertemu. Satria menceritakan awal pertemuan mereka, sehingga membuat Arata memahaminya.


"Jadi ini yang kau katakan orang spesial! Apakah kau sudah tidak waras? Apakah kau mencintai sesama jenis? Apakah aku sudah tidak membuatmu merasakan kenikmatan?" ucap Lili yang membuat Arata terkekeh-kekeh.


"Arata, apakah kau sedang menjahili istrimu? Sehingga dia beranggapan bahwa kita berhubungan! Dasar sial kau Arata!" ucap Satria dengan kesal namun dia pun ikut tertawa.


Saat Arata dan Satria tertawa, Novi tiba di rumah Lili. Dia melihat dua orang pria yang sedang terkekeh-kekeh, sedangkan Lili terdiam dengan pasangan yang penuh emosi.


"Kenapa denganmu Li?!" ucap Novi yang menghentikan tawa Arata dan Satria.


Betapa terkejutnya Satria melihat kehadiran Novi, dia tidak mengira akan bertemu dengannya secepat ini. Namun hatinya sangat senang, entah mengapa dia ingin terus melihatnya.


"Ini Nov, ternyata Arata sudah memiliki kekasih baru dan kekasihnya adalah pria yang ada di depanku!" Lili berkata dengan kesal namun di hatinya dia berbalik menjahili Arata dan Satria.


"Apa?!" Novi terbelalak setelah mendengar perkataan Lili.


Satria langsung memberikan klarifikasi bahwa semua itu tidak benar, semua itu adalah kenakalan Arata untuk menjahili istrinya.


"Aku masih pria tulen! Jadi aku masih menyukai wanita cantik yang ada di depanku!" Satria berkata semabari menghadap Novi.

__ADS_1


__ADS_2