Musuhku Menjadi Imamku

Musuhku Menjadi Imamku
Extra Part Lili-49


__ADS_3

"Tenangkan dirimu!" Lili berkata pada Maru yang sudah mulai emosi.


Maru menghela napasnya guna untuk meredakan emosinya setelah mendengar perkataan Lili. Beberapa saat kemudian Arata menghampiri Lili dan Maru, dia melihat ada yang aneh dengan mereka berdua.


"Ada apa?!" Arata bertanya pada Lili dan Maru.


Tidak ada jawaban dari mereka berdua, mereka hanya diam. Lalu Lili mengatakan akan membicarakannya setelah tiba di rumah. Arata tahu pasti yang diucapkan oleh Nathan lah yang membuat Maru dan Lili menjadi seperti ini.


"Lebih baik kita masuk sebentar lalu kita pamit pada Tuan Jim!" ucap Arata pada Lili dan Maru.


Arata menggenggam tangan Lili lalu mereka berjalan beriringan yang diikuti Maru dari belakang. Mereka menghampiri Tuan Jim, mereka berbincang-bincang sesaat lalu pamit untuk untuk pulang.


Dalam perjalanan pulang Arata merasa ada yang aneh dengan Lili. Dia tidak seperti biasanya, jika Arata menyentuh tangannya dia selalu menghindar secara lembut.


"Apa yang terjadi? Kenapa kau menghindar dariku?" Arata bertanya pada Lili karena merasa ada yang salah dengan Lili.


"Tidak ada apa-apa!" Jawab Lili singkat.


Maru yang tahu persis tentang kejadian yang sebenarnya hanya bisa diam. Dia merasakan bahwa Lili sedang bergulat di dalam hatinya, apalagi setelah mendengar perkataan Nathan Wijaya.


Tibalah mereka di rumah, Lili langsung berjalan menuju kamarnya. Sedangkan Arata menyuruh Maru untuk ke ruang baca terlebih dahulu sebelum dia pulang.


"Katakan padaku, apa yang terjadi?!" Arata langsung bertanya pada Maru.


Maru mengatakan apa yang dikatakan oleh Nathan Wijaya, Arata menghela napas setelah mendengar jawaban dari Maru. Setelah selesai menjelaskan apa yang terjadi, Arata menyuruh Maru untuk pulang.


Arata berjalan perlahan menuju kamarnya, dia masih memikirkan apa yang baru saja dia dengar. Apakah Lili masih membencinya atas semua perbuatannya yang mengakibatkan dia trauma.


Semua pertanyaan mulai bergelayut dalam benak Arata, dia sungguh tidak ingin Lili merasakan kesedihan lagi. Arata sudah cukup berusaha dengan keras agar Lili bisa menerimanya dan memaafkannya.


Arata membuka pintu kamarnya, dia melihat Lili yang masih kesulitan membuka ritsleting di bagian belakangnya. Arata menghampiri Lili lalu dia membatu Lili membuka ritsleting secara perlahan.


Lili terhenyak lalu melihat kebelakang ternyata Arata sudah ada di belakangnya. Dia mundur beberapa langkah, entah apa yang dipikirkan Lili. Namun itu membuat Arata sangat sedih.

__ADS_1


"Kau takut denganku sayang?" Arata bertanya dengan lirih, karena dia merasa bahwa Lili sedang menjauh darinya.


Mendengar itu Lili terdiam, dia memikirkan apa yang baru saja dikatakan oleh Arata. Dalam benaknya apakah benar dia takut dengan suaminya sendiri.


"Aku tidak tahu!" ucap Lili singkat lalu dia berjalan masuk ke kamar mandi.


Arata sangat sedih melihat sikap Lili yang menjauhinya, dia berjalan menuju sofa lalu dia duduk di atas sofa dengan pikiran yang melayang. Apakah dia memang masih membenciku sampai saat ini? batinnya.


Lili keluar dari kamar mandi, dia melihat Arata yang tertidur di atas sofa. Dia berusaha kuat untuk tidak memikirkan kembali peristiwa itu, dia mendekati arata.


"Sayang bangun, bersihkan dirimu dulu setelah itu baru kau bisa tidur!" Lili berkata dengan lembut, meski ada sedikit rasa takut dihatinya.


Setelah melihat Arata terbangun, Lili berdiri lalu berjalan menuju meja riasnya. Arata tahu Lili sedang bimbang, dia akan memberikan waktu padanya untuk menenangkan dirinya.


Arata pun berdiri lalu berjalan memasuki kamar mandi, dia tidak menyangka perkataan Nathan Wijaya bisa membuat Lili menjadi seperti ini.


Arata keluar dari kamar mandi dia hanya menggunakan sehelai handuk yang bertengger di pinggangnya. Dia melihat Lili sudah tertidur diatas ranjang.


Arata berjalan mendekati Lili dikecupnya keningnya dengan lembut, lalu dia merebahkan tubuhnya di samping Lili. Dia belum bisa memejamkan matanya, hatinya masih saja dipenuhi oleh banyak masalah yang melayang di pikirannya.


Arata menyadari Lili yang melihatnya, diapun kembali menatap Lili dengan lembut namun tersirat penyesalan yang begitu mendalam.


"Maafkan aku!" Lili berkata dengan lirih.


Arata langsung memeluk Lili dengan erat, dia sungguh tidak ingin kehilangan Lili. Entah kapan dia mulai mencintai Lili begitu besarnya, sehingga jika melihat Lili sedih dia merasakannya juga.


"Seharusnya aku yang meminta maaf padamu sayang," bisik Arata pada Lili.


Tidak terasa air mata Lili menetes lalu dia menangis, semenjak hamil Lili menjadi sangat sensitif. Sehingga mudah terbawa oleh perasaannya, Arata memahami hal itu sehingga dia selalu mengalah.


"Sudahlah sayang, hentikan tangisanmu itu! Sekarang lebih baik kau istirahat!" Arata berkata pada Lili.


Saat Arata akan melepaskan dekapannya, Lili semakin erat mendekap Arata. Serasa dia tidak ingin lepas dari Arata, merasakan Lili yang semakin mendekapnya Arata pun kembali mendekapnya dengan lembut. Akhirnya Lili tertidur dalam dekapan Arata, begitu pula Arata dia bisa tidur dengan pulas.

__ADS_1


Keesokan harinya Lili bangun di dalam dekapan Arata, entah mengapa hatinya merasa senang. Di menyentuh rambut Arata yang menutupi matanya, dia menyibakkan rambut Arata dengan lembut.


Arata terbangun akibat belaian lembut Lili, dia tersenyum lalu mengecup kening Lili dengan lembut.


"Jangan nakal! Aku ingin tidur sebentar lagi sambil memelukku!" Arata berkata lalu dia memeluk Kiki dan kembali tertidur. Lili hanya bisa diam dan memandangi Arata yang kembali tertidur. Dia memberikan kesempatan untuk Arata terus memeluknya.


Lili melepaskan dekapan Arata secara perlahan, dia hendak membersihkan diri lalu sarapan. Karena perutnya sudah merasa lapar sekali.


Saat Lili berada di dalam kamar mandi, Arata langsung memberi pesan pada pelayan untuk membawakan sarapan ke kamar. Beberapa saat kemudian terdengar suara ketukan pintu, Arata menyuruhnya masuk.


Seorang pelayan mengantarkan sarapan untuk Lili dan Arata, setelah itu pelayan kembali pergi meninggalkan kamar Arata guna kembali menyelesaikan pekerjaannya.


Saat Lili sudah selesai dengan ritual membersihkan dirinya, dia keluar dari kamar mandi. Dia melihat Arata yang sudah duduk di atas sofa, Lili melihat sudah ada sarapan di atas meja dekat Arata duduk santai.


Tanpa berkata apa-apa, Lili melangkah mendekati Arata. Dia duduk disamping Arata, lalu mulai mengambil sarapannya. Arata tersenyum melihat Lili seperti itu.


"Begitu laparnya istriku ini?" Arata bertanya dengan sedikit menggoda.


"Iya aku mudah lapar setiap hari, ini karena ada seseorang yang mengatakan ingin makan terus!" Lili berkata dengan santainya.


Arata mendekati Lili lalu berkata makan harus pelan-pelan, karena tidak akan ada yang merebut makanannya. Tangan Arata menyentuh lembut perut Lili. Dia berkata, "Katakan pada Ibumu, kalau makan tidak usah terburu-buru!"


____________________________________________


Hai para pembaca setiaku, maaf kalau membingungkan ya, yang ingin tahu kelanjutan Alin dan Alex bisa lanjut baca di "Pembalasan si Kembar Wibowo" sudah bisa di baca ya, selamat membaca 😊😉


__________________________________________


Jika ada yang ingin ditanyakan padaku tentang karya dan bisa langsung menghubungi ku via akun Instagram.


Klik search di Instagram dengan nama akun :


@macan_nurul

__ADS_1


Sekali lagi terimakasih untuk kalian semua 💋💋 jangan lupa ya like dan komen ya juga vote ya 😉 jangan lupa juga jadikan favorit ya 😉 😉


__ADS_2