Musuhku Menjadi Imamku

Musuhku Menjadi Imamku
Extra Part Lili-71


__ADS_3

Setelah acara berlibur dari Bali Lili dan Arata kembali ke Jepang. Lili sangat menikmati acara berlibur mereka kali ini, apalagi setelah dia bertemu dengan Yuki yang bisa membuatnya merasakan menjadi seorang ibu.


"Sayang, apakah kau akan bekerja hari ini?" Arata bertanya pada Lili.


Lili mengangguk, lalu dia mengatakan bahwa dia harus segera kembali ke kantor. Karena dia sudah lama meninggalkan kantor, dia merasa kasian pada Novi yang sudah mengurus kantor selama dia di Bali.


"Apa kau mau aku antar?" Arata bertanya karena dia sudah terbiasa mengantar Lili terlebih dahulu.


"Tidak usah, aku akan pergi dengan mobilku saja." Lili menjawab sembari tersenyum.


Arata membalas senyuman Lili dengan kecupan lembut di keningnya. Dia tidak ingin terlalu membatasi semua kegiatan Lili saat ini, karena Lili masih bisa melindungi dirinya sendiri. Namun Arata masih menyuruh beberapa pengawal untuk mengikuti kemanapun Lili pergi.


Ponsel Lili berdering, dia melihat di layar ponselnya siapa yang menghubunginya. Rupanya itu salah Novi, dia bertanya apakah hari ini akan ke kantor atau tidak. Lili mengatakan bahwa mulai hari ini dia akan kembali bekerja. Setelah itu Novi memutuskan sambungan teleponnya.


Lili mengantar kepergian Arata, dia melihat Maru sudah siap untuk mulai bekerja. Dia masih ingin tahu mengapa Maru dan Sarada hanya sebentar mengambil hari berliburnya. Namun dia hempaskan rasa ingin tahunya, karena semua itu bukanlah hal dia untuk mencampuri urusan orang lain.


Setelah kepergian Arata, seorang sopir mengatakan pada Lili bahwa mobilnya sudah siap. Sebenarnya Lili tidak ingin menggunakan sopir akan tetapi Arata memaksa dia untuk menggunakan sopir. Jika dia tidak mau maka Arata yang akan mengantar dan menjemputnya setiap hari.


Didalam perjalanan Lili memeriksa semua email yang belum dia baca sewaktu di Bali. Semua email itu dikirim oleh Novi, dia berpikir pasti Novi akan menggerutu padanya jika semua email-nya tidak di baca.


Tibalah Lili di kantor, dia disambut dengan ramah dan hangat oleh semua karyawan. Lili berjalan memasuki ruang kerjanya, baru saja membuka pintu ruangannya. Dia sudah melihat Novi berdiri merapikan setumpuk dokumen yang harus diperiksa oleh Lili.


"Apa kau ingin menghukumku?!" Lili berkata dengan mengerutkan dahinya.


Novi terkekeh mendengar yang diucapkan oleh Lili, dia merasa jika semua yang dia lakukan bukanlah hukuman. Namun mendengar Lili berkata seperti itu, dia semakin yakin jika Lili belum membaca semua email yang dia kirim.


"Apakah kau belum membaca semua email yang ku kirimkan padamu?" Novi berjata dengan nada menyelidiki.


Lili tersenyum, lalu dia berjalan menuju kursi kerjanya. Dia melihat tumpukan dokumen di atas mejanya. Dia berpikir mungkin dia akan pulang telat hari ini atau dia akan membawa semua pekerjaannya ke rumah.


Novi tahu pasti jika Lili tersenyum seperti itu, tandanya dia belum membaca semuanya. Novi berjalan meninggalkan Lili dengan semua pekerjaan yang sudah dia siapkan. Dia berjalan kembali ke ruangannya untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang belum dia selesaikan.


Lili menarik napasnya lalu dia mulai membuka satu per satu dokumen yang harus dia periksa. Lili tersenyum dan bernapas lega, ternyata Novi sudah bisa mengatasi semua pekerjaan semenjak dia berlibur.


Tidak terasa jam makan siang sudah tiba, Novi menemui Lili di ruangannya. Niatnya untuk mengajak Lili makan siang bersama.


"Li, kita makan siang dia luar." Novi bertanya pada Lili yang masih sibuk dengan dokumennya.


Lili menghela napasnya kalau dia menutup dokumen yang sudah dia periksa lalu membubuhi tanda tangannya. Setelah itu dia berdiri untuk meregangkan otot-ototnya karena sudah lama duduk.


"Ayo, kita makan di luar," Lili berkata sembari mengambil tasnya lalu berjalan ke luar ruangan dan diikuti oleh Novi.


Mereka berdua pun berjalan menuju parkiran mobil, Lili memutuskan menggunakan mobilnya dan Novi ikut bersama Lili. Dalam perjalanan dia bertanya pada Novi ingin makan di mana. Novi menjawab itu semua terserah pada Lili saja.


Lili mengatakan pada sopir untuk mengantarnya ke sebuah restoran Jepang tradisional. Saat ini dia menginginkan makanan Jepang, Novi mengangguk saja karena dia makan apapun jadi.


"Kita pergi ke Takaraya (Chiba)." Lili berkata pada sopir.


Sopir mengangguk lalu dia menambah kecepatan mobilnya, Lili mengeluarkan ponselnya untuk memesan terlebih dahulu tempat di restoran tersebut. Beberapa saat kemudian mereka tiba di restoran Takaraya (Chiba).


Lili keluar dari mobilnya diikuti oleh Novi, dia disambut dengan ramah oleh seorang pramusaji. Lalu pramsudaja tersebut bertanya apakah sudah memesan tempat terlebih dahulu atau belum.


Lili mengatakan, dia sudah memesan tempat atas nama Lili. Pramusaji tersebut melihat daftar pesanan. Setelah mengecek semuanya, dia mempersilakan Lili dan Novi untuk menempati ruangan yang sudah dipesannya.


Mereka duduk di sebuah ruangan, seorang pramusaji membawa daftar menu. Lili dan Novi membaca dafatr menu lalu memilih makanan yang akan mereka pesan. Setelah mereka memesan pramusaji tersebut pergi meninggalkan Lili guna menyiapkan pesan mereka.


"Bagaimana hubunganmu dengan Satria?" Lili bertanya pada Novi.


"Semuanya berjalan dengan baik, akan tetapi dia menginginkan agar pernikahan kami diselenggarakan dalam waktu dekat." Jawab Novi.


Lili tersenyum lalu memikirkan tentang rencana pernikahan Novi, dia ingin mengurus semuanya demi Novi. Karena hanya dia yang akan mengurus pernikahan Novi, karena kedua orangtuanya sudah tidak peduli dengan Novi.


Novi pernah bercerita pada Lili sewaktu dia berlibur di Bali, bahwa Novi menghubungi ayahnya untuk membicarakan pernikahannya dengan Satria. Namun jawaban dari sang ayah begitu menyakitkan, sang ayah berkata bahwa dia sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi dengan Novi.


Lili sungguh terkejut dengan apa yang diceritakan oleh Novi, lalu dia bertanya bagaimana dengan ibunya. Ternyata sama saja dengan apa yang dikatakan oleh sang ayah, sang ibu pun mengatakan agar Novi mengurus dirinya sendiri. Karena dia sudah tidak ingin mengurusi putri yang sudah membuatnya malu.


"Aku tidak menyangka mereka bisa berkata seperti itu padamu," Lili berkata dengan nada kesedihan di dalamnya.


"Aku sudah terbiasa dengan perlakuan mereka terhadapku, jika aku tidak menuruti apa mau mereka. Maka mereka akan membuang ku dengan sangat mudahnya." Novi berkata hingga menitikan air mata.

__ADS_1


Novi segera menghapus air matanya saat melihat beberapa pramusaji membawa pesanan mereka. Setelah semuanya tersimpan di atas meja, pramusaji tersebut pergi meninggalkan mereka.


"Kita makan dulu, setelah itu kita lanjutkan pembicaraan kita!" Lili berkata sembari menyantap hidangan yang sudah tersedia di atas meja.


Novi pun menyantap makanannya, meski dalam hatinya masih merasa sedih dengan perlakuan kedua orangtuanya. Namun semuanya sudah terjadi, lebih baik seperti ini dari pada dia harus terus menuruti apa yang menjadi keinginan kedua orangtuanya.


***


Setelah menyantap makan siangnya, Lili kembali membahas apa yang akan direncanakan oleh Novi. Dia mengatakan lebih baik jika semuanya dibicarakan bersama mama Hani dan papa Karim.


"Oke, ide yang bagus! Lebih baik besok kita adakan makan malam di rumah mama Hani," Novi berkata pada Lili.


"Oke kalau begitu biar aku yang mengatakan semuanya pada mama, kau bicarakan tentang makan malam besok pada Satria." Aku berkata pada Novi agar dia membicarakan pada Satria hari ini.


Setalah selesai membicarakan rencana untuk makan malam esok hari, Lili serta Novi kembali ke kantor. Karena masih banyak pekerjaan yang harus di selesaikan, setibanya di kantor. Lili bergegas memasuki ruangannya, dia ingin segera menyelesaikan semua pekerjaannya.


Begitupun dengan Novi dia memasuki ruangannya, guna menyelesaikan pekerjaan yang belum terselesaikan. Ponsel Novi berbunyi, dia mengambil ponselnya yang berada di dalam tasnya.


Dia melihat di layar ponselnya tertera nama Satria, lalu dia mengangkatnya. Mereka pun berbincang sesaat, lalu Novi mengatakan rencana makan malam di rumah mama Hani. Untuk membicarakan rencana pernikahan mereka.


Satria menyetujuinya, dia akan mengosongkan semua jadwal untuk esok hari khusus untuk acara makan malam. Setelah selesai membicarakan rencana mereka, Satria memutuskan sambungan teleponnya. Karena dia harus segera menghadiri sebuah rapat.


Novi pun kembali dengan pekerjaannya, dalam hatinya merasa senang sekaligus takut dalam menghadapi rencana pernikahannya. Namu dia berusaha menghempaskan semua pikiran negatif yang ada dalam otaknya.


Setelah selesai membuat laporan sebuah proyek baru, Novi membawa dokumen tersebut ke ruangan Lili guna untuk di periksa lalu di bubuhi tanda tangan Lili. Novi mengeruk pintu ruangan kerja Lili. Setelah mendengar kata masuk, diapun membuka pintu ruangan Lili lalu dia masuk.


"Apa lagi yang kau bawa itu?!" Lili berkata dengan pandangan mata tajam.


Novi tersebut lalu dia mengatakan, "Ini adalah tugasmu! Jadi jangan marah ya."


Lili hanya bisa menghela napasnya, dia tidak bisa berbuat apa-apa karena memang semua itu adalah tugasnya. Setelah mengatakan dokumen pada Lili, Novi undur diri untuk kali ke ruangannya.


Lili sungguh-sungguh ingin segera menyelesaikan semua pekerjaannya, akan tetapi dia melihat semuanya tidak akan selesai hingga jam kerjanya selesai. Niatnya ingin menyelesaikan semua pekerjaan di kantor. Namun apa boleh buat karena masih banyak yang harus di periksa sehingga Lili membawa beberapa dokumen yang belum dia periksa ke rumah.


"Pasti Arata akan komplain jika aku membawa pekerjaan ke rumah." Gumam Lili sembari menghela napasnya.


Tidak terasa hari sudah sore, Novi memasuki ruangan Lili dia melihat Lili masih sibuk dengan dokumennya. Dia tersenyum lalu menghampirinya, lalu dia mengatakan saatnya untuk pulang.


Lili pun memasuki mobil, dilihatnya sopir yang sudah siap untuk menjalankan mobilnya. Sopir bertanya apakah akan kembali ke rumah atau akan ke tempat lain. Lili mengatakan langsung pulang ke rumah, sopir mengangguk lalu menjalankan mobilnya secara perlahan untuk keluar dari area parkir. Setelah kelaut dari area parkiran dia membantah kecepatan mobilnya.


Tidskembutuhkan waktu yang lama untuk tiba di rumah, dia melihat keselek belum ada mobil Arata. Mungkin araya masih dalam perjalanan pulang atau masih rapat di kantornya.


Ini adalah kesempatan bagi Lili untuk menyelesaikan semua pekerjaan kantornya sebelum Arata kali ke rumah. Karena Arata pasti tidak senang dengan pekerjaan kantor yang di bawa pulang ke rumah.


Arata sudah kembali dari kantor, dia melihat Lili yang sedang serius mengerjakan pekerjaan kantornya. Sehingga Lili tidak menyadari kedatangan Arata, itu membaut Arata sedikit kesal. Karena sudah ada perjanjian jika tidak boleh membawa pekerjaan ke dalam rumah.


"Kau melanggar, maka harus dihukum!" bisik Arata di telinga Lili.


Lili terkejut bedengan bisikan Arata, dia mendongak terlihat jelas suaminya sudah ada disampingnya. Dia tersenyum lalu mengecup sekilas bibir Arata guna menghilangkan rasa kesal di dalam hati Arata. Namun yang dilakukan Lili tidak memperlihatkan hasil yang memuaskan, Arata masih terlihat sedikit marah.


"Sayang jangan marah ya, ini pertama dan terakhir kali aku membawa pekerjaan ke rumah!" Lili berkata dengan manja pada Arata sembari mengeluarkan trik jitunya yaniti senyum manis seperti anak kecil yang meminta maaf padanya.


Karena Arata tidak bisa menahan melihat ekspresi Lili yang seperti itu, akhirnya Arata memaafkan Lili dengan syarat tidak akan melakukan hal itu lagi. Sempat terpikirkan oleh Lili, dia merasa aneh jika Arata membawa pekerjaannya ke rumah dia tidak boleh marah. Namun jika Lili membawa pekerjaan kantornya ke rumah, maka Arata akan sangat marah.


"Sayang kenapa kau marah jika aku membawa pekerjaan kantor ke rumah? Sedangkan kau sering membawa pekerjaan kantor ke rumah!" Lili berkata seraya ingin membela diri.


"Itu sudah perjanjian kita sejak awal! Karena aku tidak ingin kau kelelahan dalam mengurus semua pekerjaanmu!" jawab Arata dengan penekanan seraya tidak ingin ada lagi bantahan.


Lili menghela napasnya, dia tahu jika sudah seperti itu maka dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Yang pasti pekerjaannya hari ini bisa diselesaikan dengan cepat, sehingga dia tidak akan lagiembawa pekerjaan kantornya ke dalam rumah.


Arata berisi lalu memasuki kamar mandi guna membersihkan diri sedangkan Lili masih mengerjakan satu buah dokumen yang harus dia periksa. Setelah itu semau pekerjaannya selesai.


Akhirnya semua pekerjaan Lili sudah rampung, dia menyandarkan tubuhnyake sofa. Dia menutup kedua matanya sejenak guna mengistirahatkan matanya yang sedari tadi membaca banyak dokumen.


Arata keluar dari kamar mandi, dia melihat Lili yang tertidur dia atas sofa. Dia berjalan perlahan mendekati Lili. Lalu dia duduk disampingnya dan berbisik kepadanya, "Sayang, bangun cepat bersihkan dirimu! Setalah itu kau bisa beristirahat."


Lili membuka kedua matanya, dia mengeluarkan jurus manjanya. "Sayang gendong aku, aku sudah lelah jika harus membersihkan diri sendiri."


Arata mengerti apa yang dimaksud oleh Lili, dia menggendong Lili dengan lembut kalau membawanya masuk kedalam kamar mandi. Dia menuturkan Lili dari gendongannya lalu membuka satu per satu pakaian yang menempel di tubuh Lili.

__ADS_1


Setalah terlepas semua pakaian yang menempel di tubuh Lili, Arata menyalakan keran shower. Tetes demi tetes air membasahi tubuh Lili, Arata mengambil sabun ke telapak tangannya. Dia membilas tubuh Lili emggunakan sabun yang sudah ada di telapak tangannya.


Setalah selesai dengan rutinitas membersihkan diri Lili keluar dari kamar mandi dengan di gendong oleh Arata. Dia mendudukan Lili di atas tempat tidur, lalu dia berjalan ke sebuah almari guna mengambil pakaian untuknya dan untuk Lili.


Merekapun menggunakan pakaian tidur, setelah itu mereka merebahkan diri di atas tempat tidur. Lili pun menelusup ke pelukan Arata guna mencari posisi ternyaman agar dia bisa terlelap.


***


Keesokan harinya Lili terbangun mendengar alarm ponselnya berbunyi, lalu dia menuju kamar mandi guna mengambil air wudu. Arata yang sudah terbangun terlebih dahulu sudah berusia untuk salat bersama Lili.


Setelah salat mereka selesai, mereka menaiki merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Lili teringat sesuatu yang hendak dia bicarakan pada Arata tadi malam. Karena lelahnya sehingga dia melupakan semuanya.


"Sayang, bisakah kau mengosongkan jadwalnya untuk makan malam di rumah mama Hani?" Lili bertanya pada Arata yang sedang memainkan rambut Lili.


"Bisa." Arata menjawab dengan singkat.


Namun dia ingin tahu ada acara apa sehingga Lili mengajaknya makan malam di rumah mama Hani. Dia pun bertanya pada Lili mengenai acara makan malam nanti, Lili pun menceritakan tujuan dari makan malam tersebut.


Arata tersenyum akhirnya dia mendengar kabar gembira dari Satria, karena sahabatnya ini sudah lama tidak memiliki pasangan. Namun sekali menemukan wanita yang pas dengan hatinya. Maka dia akan langsung melamarnya untuk dijadikan istrinya.


"Baiklah, apa hari ini aku mengantarmu ke kantor lalu menjemputmu sorenya!" Arata menawarkan diri untuk mengantarku ke kantor.


Lili mengangguk menyatakan kesediaannya, tanpa aba-aba Arata langsung mencuri kecupan bibir Lili di pagi hari. Lili membalas kecupan lembut Arata sehingga membuat Arata tidak bisa menahan gejolak ingin melahapnya.


Setelah melakukan permainan yang membuat mereka merasakan kenikmatan hingga ke puncak. Lili berjalan menuju kamar mandi guna membersihkan diri, dia berpikir mengapa Arata mudah terpancing hanya oleh kecupan singkat saja. Saat Lili berada di dalam kamar mandi, Arata masuk lalu dia membatu Lili membersihkan diri begitupun sebaliknya.


"Sayang, mengapa belakangan ini kau mudah terprovokasi hanya dengan kecupan saja dariku?" Lili memberanikan diri bertanya pada Arata.


Arata tersenyum, dia juga meradakan hal yang sama dengan Lili. Lalu dia menjawab, "Entahlah, aku merasa kau semakin membuatku terpesona. Sehingga aku tidak bisa menahan keinginanku untuk melahapmu."


Setelah selesai membersihkan diri mereka mulai bersiap untuk pergi ke kantor, sebelumnya Lili menghubungi mama Hani untuk mengatakan masalah makan malam hari ini di rumah mama Hani.


Mama Hani sangat senang mendengar apa yang dikatakan oleh Lili, setelah menerima telepon dari Lili dia bergegas menyiapkan semuanya untuk acara makan malam hari ini. Mama Hani pun menghubungi sekertarisnya bahwa dia hari ini tidak akan masuk ke kantor.


"Ada apa Mama? Kau terlihat senang?" tanya papa Karim yang hendak berangkat ke kantor.


Mama Hani menceritakan apa yang baru saja Lili katakan di jaringan telepon, sehingga membuat dia tidak jadi berangkat ke kantor. Terlihat jelas papa Karim pun sangat senang dengan kabar yang di dengarnya.


Papa Karim berencana mengosongkan beberapa acara hari ini guna pulang lebih awal untuk membantu mama Hani menyiapkan segala sesuatu untuk makan malam hari ini. Baik papa Karim dan mama Hani sudah tidak mengingat kelakuan Novi di masa lalu, karena Novi yang sekarang telah berubah. Mereka menyayangi Novi seperti mereka menyayangi Lili.


"Ma, Papa pergi dulu ya. Nanti Papa usahakan pulang lebih awal." Papa berkata sembari mengecup kening mama Hani lalu berjalan menuju mobilnya.


Dilain tempat Lili yang sudah tiba di kantor langsung berjalan menuju ruangannya dengan membawa dokumen-dokumen yang sudah dia periksa lalu di bubuhi tanda tangannya. Hari ini dia akan pulang lebih awal, begitupun dengan Novi.


Novi mengetuk pintu ruangan Lili, dia masuk setelah mendengar kalimat masuk dari mulut Lili. Dia melihat tumpukan dokumen yang sudah di periksa oleh Lili, dia tersenyum rupanya Lili sudah bekerja keras untuk memeriksa semua dokumen.


"Li, sore ini aku akan ke apartemen dulu, lalu aku akan pergi ke rumah mama Hani bersama Satria." Novi berkata pada Lili yang masih menghela napasnya karena baru tiba dengan membawa tumpukan dokumen yang begitu banyak.


"Oke." Lili menjawab singkat.


Setelah itu Novi mengambil semua dokumen yang berada di atas meja kerja Lili untuk disimpan dan diproses untuk pekerjaan selanjutnya. Dia pamit undur diri untuk kembali ke ruangannya.


Novi berjalan perlahan karena dokumen yang dia bawa banyak sekali, dalam hatinya dia sudah tidak sabar untuk acara makan malam nanti. Dia berharap Satria akan menjadi calon imam yang baik baginya. Calon imam yang bisa membawanya semakin dekat dengan Tuhan Yang Maha Kuasa.


Tibalah Novi di ruanganya, dia menghubungi seseorang untuk memulai proyek yang sudah mendapat persetujuan dari Lili. Setelah itu dia menutup sambungan teleponnya dan kembali mengerjakan pekerjaan yang harus dia kerjakan.


Tidak terasa waktu sudah sore, Novi merapikan meja kerjanya. Tiba-tiba Lili masuk ke ruangannya, untuk mengingatkan agar segera pulang dan bersiap untuk acara makan malam. Novi tersenyum dan mengangguk, lalu melangkah ke luar ruangan guna menuju parkiran. Setelah berada di dalam mobil dia bergegas kembali ke apartemennya untuk bersiap.


Tibalah Novi di apartemennya, dia berjalan memasuki kamar mandi guna membersihkan diri. Setelah itu dia bersiap untuk acara makan malam kali ini, ponselnya berbunyi. Dia mengambil ponsel yang tersimpan di atas nakas.


Dia mengangkat ponselnya karena yang menghubunginya adalah Satria, dia mengatakan sudah siap dan berada di depan pintu apartemennya. Novi bergegas membuka pintu apartemennya, lalu dia menyuruh masuk Satria karena dia harus mengambil tasnya di dalam kamar.


"Kau terlihat sangat cantik." Ucap Satria pada Novi.


Novi tersenyum mendengar apa yang diucapkan oleh Satria, setelah itu mereka pergi ke rumah mama Hani. Karena Lili sudah menghubunginya jika semuanya sudah siap, dalam perjalanan suasana dalam mobil sepi.


"Apa kau yakin dengan semua keputusanmu?!" Novi bertanya pada Satria yang memecahkan keheningan di dalam mobil.


Satria terdiam dia memikirkan bagaimana caranya meyakinkan Novi dengan semua keputusannya. Sembari mengontrol laju mobilnya Satria menarik napasnya lalu menjawab apa yang menjadi pertanyaan Novi.

__ADS_1


"Aku sudah mengatakan beberapa kali masalah ini, jika aku tidak yakin maka aku tidak akan memintamu menikah dalam waktu dekat ini! Aku sudah memantapkan hatiku untuk menjadikanmu sebagai istriku hingga akhir hayatku." Jawab Satria dengan penuh keyakinan pada Novi.


Novi merasa tenang kali ini, jika Satria sudah yakin akan semuanya maka Novi akan berusaha menjadi calon istri yang baik untuknya. Tibalah mereka di rumah mama Hani, mereka disambut dengan hangat oleh mama dan papa Karim.


__ADS_2