
Keadaan mama Hani masih belum ada perubahan, mama masih belum sadarkan diri. Hingga malam tiba, saat Lili sedang tertidur tangannya menggenggam erat tangan sang mama. Kepalanya dia tidurkan di samping lengan sang mama.
Tangan mama Hani bergerak secara perlahan, kedua matanya terbuka sedikit demi sedikit. Lili menyadari itu lalu dia terbangun dan segera memanggil dokter.
Beberapa detik kemudian dokter dan perawat masuk ke dalam ruangan. Dan mereka memeriksa keadaan mama Hani, mereka memeriksa dengan teliti.
Arata dan papa Karim terkejut saat tiba di dalam ruangan sudah ada dokter dan perawat. Perasaan papa Karim sudah mulai tidak karuan, dia takut terjadi hal buruk pada istrinya.
Namun, setelah melihat Lili yang tersenyum membuat hati papa Karim tenang begitu pula dengan Arata. Mereka berdua memutuskan untuk menunggu di luar karena tidak menginginkan ruangan menjadi pengap.
Setelah dokter memeriksa mama Hani, ayah mengikuti dokter guna mengetahui kondisi mama saat ini. Sedangkan Arata memasuki ruangan untuk melihat keadaan mama dan juga menemani Lili.
"Bagaimana keadaanmu, Ma?" Arata bertanya dengan lembut pada mama Hani.
Mama Hani hanya bisa tersenyum melihat Arata di hadapannya dan Lili berada disampingnya. Kepalanya masih terasa nyeri, seluruh tubuhnya masih lemah. Hanya senyum yang bisa dilakukan saat ini.
Beberapa saat kemudian papa Karim datang, setelah berbicara dengan dokter. Menurut dokter mama harus banyak istirahat dan tidak boleh terlalu lelah dalam bekerja.
"Mulai sekarang mama sudah tidak usah ke perusahaan lagi, ya! Aku yang akan mengurus semuanya." Lili menyuruh mama Hani untuk tidak usah memikirkan masalah perusahaan.
Bagi Lili kesehatan mama sangat penting, dia akan mulai mengurus perusahaan mamanya. Arata merasa khawatir jika Lili mengurus dua perusahaan sekaligus. Namun, untuk kali ini dia membiarkan Lili dengan keputusannya karena dia masih khawatir dengan kondisi mama Hani.
"Kalian pulanglah! Biar Papa yang menjaga Mama!" Papa Karim menyuruh Lili dan Arata untuk pulang.
Karena papa Karim tidak ingin melihat Lili yang sangat khawatir terhadap mamanya. Lagi pula sekarang kondisi mamah sudah membaik.
Papa Karim juga memikirkan kembali apa yang dikatakan Lili, jika dia akan mengurus perusahaan mamah Hani. Dia tidak ingin Lili mengurus perusahaan mamah Hani. Karena saat ini perusahaan dalam keadaan bahaya. Ada seseorang yang ingin menghancurkan perusahaan mamah Hani. Mungkin ini sebabnya mamah Hani terjatuh di kamar mandi.
Lili bersikeras ingin tinggal di rumah sakit untuk menemani mamah Hani. Namun, papa tetap dengan pendiriannya jika Lili harus pulang. Lagi pula dia besok pagi bisa kembali ke rumah sakit untuk menjenguk.
"Sayang, yang Papa katakan itu benar! Besok pagi kita akan kembali ke rumah sakit!" Arata berusaha membujuk Lili, dia tahu papa melakukan semua ini demi Lili.
Arata merasa ada yang aneh dengan sikap papa Karim, dia akan mencari tahu apakah ada masalah yang sedang mereka hadapi. Namun, mereka tidak memberitahukan baik padanya atau Lili.
"Sayang, mengapa kau memintaku untuk pulang? Dia mamaku! Jika ibu berada di rumah sakit aku juga akan melakukan hal yang sama?!" Lili berkata pada Arata, dia merasa kesal karena mengajaknya pulang ke rumah.
Arata diam, dia tidak ingin menjawab pertanyaan Lili karena jika dia menjawab maka akan memancing keributan. Saat ini Lili sedang sedih sehingga tidak bisa berpikir dengan jernih.
Tibalah mereka di rumah, ayah dan ibu masih berada di ruang keluarga. Mereka menunggu kedatangan Lili dan Arata tetapi Lili langsung berjalan masuk kedalam kamar karena masih kesal dengan Arata.
"Ada apa?!" Ibu bertanya pada Arata yang melihat Lili langsung masuk ke kamarnya.
Arata mengatakan semuanya mengapa Lili tampak marah padanya, ibu mengerti dengan sikap Lili. Dia juga tahu bagaimana dengan putranya sendiri.
"Kau pasti belum makan, -kan?" tanya ibu.
Arata terdiam, dia tidak merasa lapar karena melihat mama Hani yang terbaring tidak sadarkan diri. Ditambah dengan Lili yang terlihat sangat sedih.
Ibu berjalan meninggalkan Arata bersama ayah, dia menyuruh pelayan menyiapkan makanan hangat. Setelah itu ibu berjalan memasuki kamar Lili.
Tok!
Tok!
"Sayang, apakah ibu boleh masuk?" tanya ibu pada Lili yang berada di dalam kamarnya.
Lili membuka pintu kamarnya, dia mempersilahkan ibu untuk masuk. Terlihat jelas oleh ibu jika Lili sedang menangis, dia mendekati Lili yang baru saja terduduk di atas sofa.
"Menangislah, jika kau ingin menangis! Ibu akan ada untukmu, sayang!" Ibu berkata pada Lili dengan lembut.
Seketika tangis Lili menyeruak lalu memeluk sang ibu, dia juga mengatakan sangat kesal dengan Arata yang mengajaknya pulang. Karena dia sudah bekerja sama dengan ayah untuk mengusirnya pulang.
Ini hanya mendengarkan apa yang menjadi masalah dalam hati menantunya itu. Dia tidak bisa menyalahkan sepenuhnya jika Lili marah pada Arata. Karena saat ini pikirannya tidak bisa di ajak untuk berdebat.
"Sayang, apakah sejahat itu Arata padamu? Jika iya, biar ibu yang memarahinya!" Ibu berkata dengan nada yang di tinggikan, seraya benar-benar ingin memarahi Arata.
"Tidak— Bu, dia tidak jahat! Jadi jangan marahi dia. Hanya Jaja aku kesal padanya!" ucap Lili agar ibu menghentikan niatnya untuk memarahi Arata.
Ibu tersenyum, rupanya Lili sangat mencintai Arata. Meski dia sangat kesal dengannya tetapi jika ada yang hendak memarahinya dia langsung menghentikannya.
"Apa kau tahu? Jika suamimu belum makan sedari pagi?!" Ibu bertanya pada Lili.
__ADS_1
Lili menggelengkan kepalanya, lalu ibu bertanya kembali apakah Lili sudah makan atau belum. Dia menjawab jika tadi siang sudah makan karena Arata yang memaksanya.
"Kalau begitu, temani Arata makan! Dia sedari pagi belum makan karena mengkhawatirkan mama Hani dan kau, sayang!" Ibu menyuruh Lili untuk menemani Arata yang belum makan sedari pagi.
Lili terkejut dengan yang ibu katakan, jika Arata belum makan sedari pagi. Rasa bersalah dalam hari Lili pada Arata muncul, dia sudah bertidak egois padanya.
Seharusnya dia tidak perlu marah-marah pada Arata yang sudah menemaninya sedari pagi. Dan malahan dia tidak memperhatikan Arata sama sekali.
Ibu melihat Lili terdiam, dia tahu jika menantunya itu merasa bersalah karena sudah tidak memperhatikan suaminya. Ibu mengatakan pada Lili jika pelayan sudah menyiapkan makanan. Dan menyuruh Lili untuk turun ke bawah.
Lili pun mengikuti ibu yang berjalan kebawah lalu menuju meja makan. Dia melihat Arata yang sudah duduk ditemani ayah tetapi sama sekali tidak menyentuh makanan yang ada di atas piringnya.
Setelah melihat Lili dan ibu berjalan menuju meja makan, ayah berdiri dan menghampiri ibu lalu mengajak ibu masuk ke dalam kamar. Ayah ingin memberikan ruang bagi mereka berdua untuk bicara.
Lili duduk disamping Arata, dia memandang dengan lekat wajah suaminya yang sedang memainkan makanannya dengan sendok. Dia sungguh merasa bersalah karena sudah marah-marah padanya.
"Makanlah, selagi masih hangat!" Lili berkata pada Arata dengan lembut tetapi ada rasa bersalah di dalam perkataannya.
Arata melihat Lili yang baru saja duduk disampingnya, melihat kedua mata sitrinya yang sembab akibat menangis. Dia tidak ingin melihat istrinya seperti ini.
"Maafkan aku— aku yang salah karena tidak memperhatikanmu! Aku yang egois hanya memikirkan hatiku saja." Lili meminta maaf pada Arata dengan air mata yang mengalir di kedua pipinya.
Arata langsung memeluk Lili dengan erat, dia tidak ingin melihat istrinya menangis seperti ini. Lalu dia berbisik padanya untuk tidak meminta maaf karena dia sama sekali tidak bersalah.
Setalah tangisan Lili mereda, Arata menyuapi lili dengan makanan yang ada di piringnya. Begitu juga Lili yang menyuapi Arata, mereka makan dalam satu piring berdua.
"Terlihat romarins, -kan sayang?" tanya Arata sembari tersenyum.
Lili tersenyum mendengar gombalan Arata, dia sungguh tidak ingin membuatnya kembali bersedih. Karena selama ini jika dia bersedih Arata selalu ada untuknya.
***
Novi yang memutuskan untuk menjauh dulu dari Satria, biar dia bisa menenangkan diri. Dan mengambil keputusan apa yang harus diambilnya.
Dia tidak ingin mengambil keputusan terburu-buru dikala emosi masih menyelimutinya. Di saat rasa cinta mulai tumbuh tetapi di hempaskan begitu saja oleh orang yang baru saja dicintai.
Saat ini Novi sedang berada di prefektur Khoci yang berlokasi di barat daya kepulauan Shikoku, Jepang. Dia memutuskan untuk melakukan perjalanan seorang diri saja.
"Hanya sebesar ini rasa cinta dan kepercayaan mu terhadapku, Satria?" gumam Novi sembari duduk di atas tempat tidur hotel.
Dia tidak menyangka begitu mudahnya dia percaya perkataan orang dan tanpa meminta penjelasan padanya. Apakah ini yang dinamakan cinta? Tidak ada rasa percaya antara pasangan.
Di sebuah restoran Jepang Satria yang sedang menunggu client-nya melihat Faisal bersama seorang temannya. Mereka duduk tepat di samping ruangan yang hanya tertutup oleh sekata bambu dan kertas berlukiskan bambu.
"Ceritakan padaku Faisal, bagaimana caramu agar wanita itu pergi dari apartemen kakakmu?" tanya seorang teman pada Faisal.
Faisal terkekeh saat mengingat kembali peristiwa malam ini, dia merasa bahwa kakaknya masih sama bodohnya dari dulu hingga sekarang.
Faisal pun mengatakan pada temannya jika dia berhasil membuat hubungan antara kakak dan kakak iparnya merenggang. Itu yang membuatnya merasa puas.
"Setelah mereka berdua berpisah, aku akan kembali mengejar wanita itu! Karena wanita itu hanya akan menjadi miliki, jika aku sudah bosan dengannya aku akan membuangnya. Jika kau mau aku akan memberikannya padamu." ucap Faisal dengan rasa percaya diri.
"Aku ingin tahu bagaimana kau bisa menjinakkan wanita itu?!" Temannya bertanya kembali.
Faisal menjawab jika dia menyemprotkan obat bius pada wajah Novi, sehingga dia tidak bisa melawanku. Namun, dia sangat kesal karena Satria keburu masuk ke apartement.
Lalu Faisal mengarang cerita bahwa Novi yang menggodanya dan juga mengatakan bahwa Novi membawa pria lain ke dalam kamarnya.
"Apa kau tahu, sewaktu di Indonesia aku dan Novi pernah bermalam di sebuah hotel! Itu adalah malam yang tidak bisa aku lupakan! Meski aku tahu jika saat itu aku sedang sakit dan didiagnosis oleh dokter memiliki penyakit kelamin." Faisal berkata dengan tidak tahu rasa malu.
Temanya terkekeh lalu dia berkata, "Hahah ... Tentu saja kau terkenal penyakit itu. Karena kau selalu bercinta dengan wanita yang berbeda setiap malam! Itu artinya kau menularkan penyakitmu itu pada Novi?"
Faisal berkata jika dia pernah bertemu di rumah sakit dengan Novi, dia juga mengetahui jika Novi sudah tertular oleh penyakitnya. Setelah itu dia tidak tahu keberadaan Novi dan dia melakukan penyembuhan atas penyakitnya itu.
"Aku tidak mengira akan bertemu kembali dengan wanita itu, meski dia sudah menutup sedih tubuhnya menggunakan pakaian yang tertutup. Itu semua tidak menghilangkan hasratku untuk memilikinya. Dan begitu bodohnya kakakku itu— dia percaya sepenuhnya padaku!" Faisal Berta dengan santainya.
Faisal tidak tahu jika di ruangan samping ada Satria yang mendengarnya. Dia sedang menahan semua emosi yang ada di dalam hatinya.
Satria tidak menyangka jika adik yang dia sayangi dan dipercaya bisa melakukan ini padanya dan Novi. Sekarang dia hanya bisa menyesali karena sudah tidak percaya pada istrinya dan menyuruhnya pergi dari apartement.
'Sungguh bodoh kau, Satria! Kau bisa dengan mudah diperdayai oleh adikmu sendiri dan kau tidak memberikan kesempatan pada Novi untuk menjelaskan semuanya!' batinnya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian client yang ditunggu Satria tiba, mereka pun membicarakan bisnis yang akan mereka kerjakan bersama. Meski saat ini pikiran Satria sedang menyesali semua kesalahannya pada Novi.
Selagi Satria membicarakan tentang bisnis, Faisal dan temannya sudah selesai lalu mereka pergi meninggalkan restoran tersebut. Setelah pembicaraan tentang bisnis selesai, Satria bergegas mencari Novi ke apartemennya.
Satria membuka pintu apartemen Novi, dia bisa masuk dengan bebas karena mengetahui kata sandi apartement Novi. Namun dia tidak menemukannya di seluruh ruangan.
Setelah itu dia berlari menuju apartementnya lalu mengecek ke kamarnya apakah semua barang-barang Novi masih ada. Dia begitu terkejut ada beberapa pakaian Novi yang sudah tidak ada di dalam almari.
Dan juga beberapa barang penting Novi lainnya, seperti paspor dan lain sebagainnya. Kakinya begitu lemas, dia tidak bisa berpikir apa-apa lagi. Dia terduduk di atas tempat tidur.
Dia menyesali dengan semua yang terjadi, mengapa dirinya tidak bisa mempercayai Novi. Dan mengapa dia tidak memberikan kesempatan Novi untuk menjelaskan semuanya.
Satria mengambil ponselnya, guna menghubungi Novi. Nada sambung terdengar tetapi Novi tidak mengangkatnya. Dia masih sangat kesal dan sedih dengan perlakuan Satria padanya.
Dia mencoba kembali menghubungi Novi tetapi sekarang nomor yang ponselnya tidak dapat dihubingi. Mungkin Novi sudah tidak mengaktifkan ponselnya.
Satria teringat pada Lili, dia berniat menghubunginya tetapi dia tidak yakin jika Lili mau mengatakan keberadaan Novi saat ini. Pasti Lili akan melindungi Novi karena dia sudah membuatnya menderita.
Dia terus berpikir siapa lagi yang bisa dihubungi selain Lili, akhirnya dia mencoba menghubungi Arata. Dia mengajak Arata untuk bertemu.
Arata berkata jika dia tidak bisa keluar dari kantor hari ini. Dia menyuruh Satria untuk menemuinya di kantornya. Setelah itu Arata memutuskan hubungan sambungan teleponnya.
"Akhirnya kau menyadarinya Satria!" gumam Arata sembari melanjutkan pekerjaannya.
Namun dia masih merasa khawatir dengan keadaan sang mama yang masih dirawat di rumah sakit. Dia juga merasa tidak tega melihat Lili yang mengurus dua perusahaan sekaligus.
Akan tetapi Lili sangat keras kepala, dia tidak mau membiarkan perusahaan mama hancur begitu saja. Dia berharap jika dia yang bisa membantu Lili dalam menjalankan perusahaan mama Hani.
Arata berpikir lebih baik menyuruh Lili untuk mencari orang yang bisa dipercaya untuk menangani perusahaan mama Hani. Ini lebih baik jika dibandingkan dengannya yang mengerjakan kedua perusahaan sekaligus.
Tok! Tok! Terdengar suara ketukan pintu, Arata mengatakan masuk. Dia melihat Maru yang baru hari ini mulai masuk bekerja, dia membawa beberapa dokumen.
Lalu dia menyodorkan dokumen dari tangannya, lalu dia memberitahukan beberapa informasi mengenai perusahaan mama Hani. Dia juga mengatakan jika ada seseorang yang ingin menghancurkan perusahaan mama Hani.
Dan orang itu adalah orang yang sama, yang berniat untuk menghancurkan perusahaan Lili. Arata terkejut dengan informasi itu, dia berpikir siapa sebenarnya musuh dari Lili dan mama Hani. Apa motif dibalik semua yang dia lakukan, semua pertanyaan muncul dalam benak Arata.
***
Setelah Maru mengatakan informasi yang dia dapat, dia pergi meninggalkan Arata dengan Satria yang baru saja tiba. Arata menyuruh Satria untuk duduk di atas sofa.
"Ada apa kau mencariku?!" tanya Arata pada Satria.
Satria terdiam, dia masih ragu untuk mengatakan apa yang ingin dia tanyakan pada Arata. Dia merasa tidak yakin jika Arata akan membantunya untuk bertemu dengan Novi.
"Jika kau hanya diam saja, lebih baik aku kembali bekerja!" Arata kembali berkata guna menyadarkan Satria dari diamnya.
"Bantu aku— menemukan Novi!" jawabnya singkat.
"Apa yang sebaiknya terjadi pada kalian?" tanya Arata.
Satria pun mengatakan semuanya pada Arata, dia sungguh menyesali semua yang sudah terjadi. Dia tidak ingin kehilangan Novi karena sangat mencintainya.
Arata hanya diam, dia tidak menyangka jika Satria bisa bertindak seperti itu pada Novi. Dia tahu persis bagaimana Novi, semua perjuangan dan perubahan yang terjadi padanya.
"Lebih baik kau tidak usah menemui Novi dulu, pastinya dia masih merasa kecewa dan emosinya belum stabil. Berikan dia waktu untuk menenangkan dirinya sendiri!" kata Arata.
Satria tidak bisa diam begitu saja karena dia tidak bisa tenang sebelum bertemu dengan Novi. Dia ingin menyelesaikan semua masalah diantara mereka berdua secepatnya.
Arata mengatakan baik dirinya atau Lili tidak mengetahui keberadaan Novi. Karena Novi hanya meminta izin pada Lili untuk tidak masuk kerja selama beberapa hari.
Melihat Satria yang begitu menyesal Arata memutuskan untuk membantunya. Dia menghubungi Maru untuk segera menemuinya, beberapa saat kemudian Maru sudah berada di ruangan.
"Cepat kau cari keberadaan Novi? Aku ingin hasilnya dalam satu jam dari sekarang!" perintah Arata pada Maru.
Maru mengangguk lalu dia pergi untuk melakukan tugas yang sudah diberikan oleh Arata. Dengan cepat di menghubungi seluruh pengawal dan bagian IT untuk melacak keberadaan Novi.
Satria menunggu kabar dari Maru yang sedang mencari keberadaan Novi. Sedangkan Arata kembali mengerjakan semua pekerjaan yang masih banyak.
Namun Arata merasa tidak enak dengan Lili jika tidak mengatakan apa yang terjadi dengan Novi dan Satria. Akan tetapi dia tidak mau membuat Lili semakin khawatir. Karena saat ini dia sedang khawatir dengan kesehatan mama Hani dan juga perusahaan.
Arata mengurungkan niatnya untuk memberitahukan semua masalah Novi. Jika dia tahu Arata membatu Satria untuk menemukan Novi maka Lili akan sangat marah padanya.
__ADS_1