
Suara alarm ponsel Maru membangunkannya, dia segera membuka kedua matanya. Lalu melihat bagaimana keadaan Sarada, ternyata dia belum juga terasadar.
“Bamgun sayang, aku membutuhkanmu! Aku belum siap untuk kehilanganmu!” gumamnya.
Maru mengecup kening Sarada dengan lembut, tidak terasa air matanya menetes mengenai wajah Sarada. Dia menyeka air matanya yang mengenai wajah Sarada dengan jarinyabdengan lembut.
Ponsel Maru berbunyi, itu adalah panggilan dari Arata. Dia hendak keluar untuk mengangkat ponselnya. Namun, dia terhenti saat lengan Sarada memegangnya.
Maru begitu terkejut sekaligus merasa senang, lalu dia pergi memanggil dokter. Tidak begitu lama dokter tiba dengan seorang perawat. Dokter memeriksa keadaan Sarada, setelah memeriksanya dokter berkata akan menyuruh seorang dokter kandungan untuk memeriksa kandungan Sarada.
Setelah memeriksa Sarada dokter pun pergi, Sarada masih terlihat lemah. Maru memengang tangan Sarada lalu dia mengecup punggung telapak tangannya.
"Sayang, kamu harus cepat sembuh! Karena di dalam perutmu ada bayi kita." Maru berkata dengan lembut lalu mengecup kembali punggung telapak tangan Sarada.
Saat mendengar itu hati Sarada sangat senang, dia akhirnya akan memiliki seorang anak. Tidak terasa air matanya mengalir ke luar, itu adalah air mata kebahagiaan.
Tidak berapa lama Lili tiba di rumah sakit, dia melihat Sarada yang sudah tersadar. Dia bergegas mendekati Sarada lalu bertanya bagaimana keadaannya dan masih banyak pertanyaan yang dilayangkan olehnya.
Sarada terkekeh karena Lili bertanya begitu banyak padanya dan tidak ada jeda sama sekali. Itu juga membuat Maru tersenyum, rupanya Lili begitu mengkhawatirkan istrinya.
"Sayang, apa kau tidak bisa santai sedikit?" ucap Arata sembari tersenyum.
Lili pun menyadari bahwa dia sudah terlalu berlebihan sehingga dia merubah kembali sikapnya. Sarada tersenyum laluengatakan bahwa dia baik-baik saja. Mungkin sekarang membutuhkan instirahat saja.
"Bagaimana dengan Yuki? Apakah dia baik-baik saja?" tanya serasa yang terlihat dia mengkhawatirkan Yuki.
Jika mengingat kembali apa yang dikatakan oleh Yuki pada Sarada, itulah yang membuat Sarada mengkhawatirkannya. Dia tahu jika orang itu masih akan terus berusaha untuk menghabisi Yuki.
"Kau tidak usah khawatir, sekarang Yuki sudah bersama ayahnya!" jawab Lili pada Sarada.
Lili tidak ingin membuat Sarada khawatir karena saat ini Sarada memerlukan istirahat yang cukup dan tidak boleh banyak pikiran. Karena semua itu bisa berpengaruh pada kandungannya.
Ponsel Lili berdering, dia keluar ruangan untuk mengangkat ponselnya. Yang menghubungi adalah Novi, dia mengatakan bahwa Lili harus segera kembali ke kantor.
Setelah menerima telepon dari Novi, dia pun kembali masuk ke ruangan. Dan dia pamit pada Sarada karena ada urusan penting di kantor.
Arata pun ikut pamit karena dia pun harus mengurus sesuatu di perusahaan. Dan dia mengatakan pada Maru untuk menemani Sarada. Dia memberikan waktu beberapa hari untuk tidak ke kantor.
"Sayang, sepertinya aku akan kembali larut malam!" Arata berkata pada Lili.
Lili tersenyum dia tidak mempermasalahkan jika Arata pulang terlambat. Karena banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan apalagi Maru tidak masuk kerja.
"Jangan lupa untuk makan ya!" jawab Lili dengan senyum manisnya.
Mereka pun berpisah karena Lili menggunakan mobil sendiri untuk ke kantornya. Dalam perjalanan menuju kantor Lili mendapatkan sebuah pesan dari Sella.
Sella ingin bertemu dengannya untuk makan siang tetapi Lili tidak bisa meninggalkan kantor siang ini. Sehingga dia menyuruh Sella untuk mengunjunginya di kantor.
Sella menyetujui usulan Lili dan dia juga akan membawakan makan siang untuk Lili serta Novi. Dia ingin makan bersama.
Lili tidak tahu apa yang akan dikatakan oleh Sella karena semenjak Nathan dibebaskan dari penjara. Dia tidak pernah lagi mendengar kabarnya sama sekali.
Tibalah Lili di kantornya, dia melihat Novi yang sudah berdiri menunggunya di ruangan kerjanya. Apakah terjadi sesuatu sehingga Novi menunggunya.
"Ada apa? Kau terlihat khawatir?" tanya Lili pada Novi yang merasa khawatir juga.
"Ada masalah dengan design kita! Client meminta kita untuk membatalkan kontrak!" jawab Novi.
Lili terkejut, itu tidak mungkin jika pembatalan konteks karena pembangunan gedung itu sudah berjalan. Jika di hentikan makan yang akan mendapatkan kerugian adalah dirinya.
"Di mana client-nya? Kita temui dia agar tidak menghentikan kontrak!" Lili bertanya pada Novi.
Novi menjawab jika client itu saat ini sedang berada di Kairo. Lalu Novi bertanya apakah harus ke Kairo mengejar client tersebut.
Lili berpikir sejenak, dia memikirkan semuanya dengan pikiran tenang. Beberapa saat kemudian dia Lili memutuskan dia dan Novi harus pergi ke Kairo.
"Bersiaplah kita akan ke Kairo!" Lili berkata pada Novi.
"Tidak usah ke Kairo!" ucap Sella yang membuka pintu kantor Lili tanpa mengetuk pintu.
Lalu dia meminta maaf pada Lili karena sudah tidak sopan masuk ke dalam ruangan tanpa izin. Lili penasaran kenapa Sella mengatakan tidak usah pergi ke Kairo.
"Kenapa kau melarangku untuk ke Kairo?" tanya Lili pada Sella.
Sella mengatakan jika client yang menjadi masalah ini adalah pamannya. Dia juga mengatakan jika semua masalah yang terjadi bukan sepenuhnya salah Lili.
Semua ini adalah rencana pamannya untuk menuntut Lili. Sehingga dia bisa meminta ganti rugi dan juga dia ingin menghancurkannya perusahaan Lili.
"Mengapa dia ingin menghancurkan Bisnisku?!" Lili bertanya karena dia tidak pernah bermusuhan dengan pamannya Sella.
Sella mengatakan jika pamannya berniat balas dendam pada ayah Karim. Karena ayah Karim pernah membuatnya masuk ke dalam penjara, sehingga dia mengalami banyak kerugian.
Setelah dia keluar dari penjara, dia terus mencari kekejaman ayah Karimun. Dan kelemahannya itu adalah Lili. Itu alasannya untuk menghancurkan Lili terlebih dahulu.
Lili tidak habis pikir dengan pola pikir pamannya Sella mengapa dia bisa merencanakan untuk balas dendam.
"Untuk saat ini kau jangan mencari masalah dengannya dulu! Aku sudah mengatasi paman agar dia tidak menyentuhmu!" ucap Sella.
Lili berpikir mengapa paman Sella bisa setuju begitu saja dengan keinginan Sella. Apakah Sella mengorbankan sesuatu atau menukar sesuatu guna menyelamatkan perusahaan.
"Apa yang sudah kau tukar dengan pamanmu! Sehingga pamanmu menyetujui apa maumu?" tanya Lili pada Sella.
Sella terdiam saat Lili bertanya seperti itu, sebenarnya dia tidak ingin mengatakan apa yang sudah dia tukar pada pamannya.
Namun Lili terus saja memaksa Sella agar mengatakan apa yang sudah dia korbankan untuknya. Akhirnya Sella menjawab pertanyaan Lili.
"Aku memberikan semua sahamku di perusahaan yang berada di Indonesia." jawabnya Sella atas pertanyaan Lili.
__ADS_1
Begitu terkejutnya Lili saat mendengar itu, dia tidak menyangka jika Sella akan mengorbankan semua sahamnya untuk menyelamatkan dirinya.
"Kenapa kau melakukan ini semua? Aku masih bisa mengatasi masalah ini!" Lili berkata sembari duduk di sofa.
Lili menyuruh Sella duduk juga begitu pun dengan Novi. Mereka duduk bersama guna membicarakan secara rinci.
"Saham itu tidak ada artinya dibanding dengan kau! Karena kau adalah sahabatku, aku tidak ingin kehilangan sahabat sepertimu. Masalah harta bisa aku cari bersama Nathan." jawab Sella sembari tersenyum.
Lili pun bertanya bagaimana keadaan Nathan sekarang. Karena dia sudah tidak menerima lagi telepon atau pesan darinya.
Sella menjawab jika Nathan baik-baik saja, meski dia masih bersikap dingin. Namun, dia sudah berubah, dia tidak seperti dulu.
Mendengar itu Lili senang karena Nathan sudah mulai melupakan dirinya. Dia berharap jika Nathan akan jatuh hati pada Sella karena Sella adalah wanita yang cocok untuk menemaninya sampai akhir hayat.
Beberapa saat kemudian terdengar suara ketukan pintu. Lili menyuruhnya masuk, dia terkejut karena yang masuk adalah beberapa karyawan yang membawa makanan.
"Aku yang menyiapkan semuanya, aku juga yang memasak itu untuk kau dan Novi!" Sella berucap dengan senyum yang lembut.
Semua hidangan di siapkan dan disimpan di atas meja. Karena jam makan siang sudah tiba, mereka pun menyantap makanannya.
Setelah makan siang selesai, Sella memutuskan untuk pergi. Dia tidak ingin menganggu pekerjaan Lili dan juga urusannya sudah selesai.
"Kau harus ingat, jangan mencari masalah dengan pamanku untuk beberapa hari kedepan!" Sella mengingatkan kembali Lili lalu berjalan meninggalkan ruangan.
Sella melangkah perlahan meninggalkan ruangan Lili menuju parkiran. Dalam hatinya berkata, 'semua ini sepadan, apa yang aku korbankan demi keselamatan sahabatku.'
Sella memasuki mobilnya, saat dia hendak menyalakan mesin mobil ponselnya berdering. Rupanya itu adalah Nathan.
Nathan mengatakan jika hari ini akan terbang ke Qatar. Dia menyuruh Sella untuk bersiap-siap karena akan mengajak Sella juga.
Sella merasa bingung kenapa Nathan mengajaknya pergi. Bukankah dia pergi untuk urusan bisnis, dia menghempaskan dulu yang ada di pikirannya. Lalu dia menjalankan mobilnya untuk kembali ke apartemen untuk bersiap.
Tibalah Sella di apartemennya, dia merapikan barang-barang yang hendak di bawanya. Setelah selesai merepikan barangnya. Dia lanjut merapikan barang Nathan.
Setelah semuanya rapi, seperti biasanya Sella memasak untuk makan malam. Karena kepergiannya ke Qatar besok pagi.
Acara memasak makan malam sudah selesai, sekarang menunggu Nathan pulang dari kantornya. Diaenunggi tanpa lelah, sehingga tidak menyadari dia tertidur di atas sofa.
Beberapa saat kemudian Nathan kembali dari kantornya. Dia melihat meja makan yang sudah tertata rapi beraneka macam masakan.
Lalu dia berjalan menuju kamarnya tetapi dia melihat Sella yang tertidur di atas sofa. Menurutnya mungkin Sella tertidur karena kelelahan menunggunya pulang.
Nathan memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu baru dia menyantap makanan bersama Sella. Dia berjalan perlahan memasuki kamar mandi guna membersihkan diri.
Setelah selesai dengan rutinitas membersihkan dirinya, dia berjalan menuju almari mengambil baju tidur lalu memakainya. Lalu dia berjalan keluar kamar guna manyantap makan malam yang sudah di masak oleh Sella.
Nathan melihat Sella yang masih tertidur, dia ragu membangunkannya. Namun dia berpikir kembali, mungkin Sella belum makan malam.
Akhirnya dia membangunkan Sella dengan pelan dia menyentuh pundak Sella. Lalu dia memanggil Sella untuk bangun dan ikut makan malam bersamanya.
Nathan duduk di atas sofa sembari menyalakan televisi guna menunggu Sella. Yang sedang menyiapkan makan malam untuknya.
Sella selesai menyiapkan makan malam, dia berjalan mendekati Nathan. Lalu dia berkata jika makan malamnya sudah siap.
Nathan pun berjalan menuju meja makan, dia duduk lalu menyantap hidangan yang sudah disiapkan oleh Sella.
"Apa kau bertemu dengan pamanmu?!" tanya Nathan pada Sella.
Sella terkejut bagaimana Nathan tahu bahwa dirinya pergi menemui paman.
"Kau tahu dari mana?" Sella balik bertanya pada Nathan.
Nathan mengatakan jika paman Sella menghubunginya. Lalu mengatakan bahwa Sella menyerahkan seluruh saham yang dimilikinya untuk menjamin keselamatan Lili.
Sella terdiam kembali, mengapa Nathan terlihat sangat dekat dengan pamannya. Apakah Nathan bekerja sama dengan pamannya untuk menghancurkan Lili. Semua pertanyaan itu melayang di pikiran Sella.
"Mengapa kau tidak menjawab?" Nathan berkata dengan menambahkan sedikit penekanan pada setiap kalimatnya.
"Apa kau bekerjasama dengan paman untuk menghancurkan Lili?!" Sella bertanya penuh dengan menyelidiki. Karena dia ingin mengetahui mengapa sang pamannya menghubungi Nathan.
"Dulu aku bekerjasama dengannya tetapi sekarang tidak! Karena aku sudah tidak membutuhkannya lagi! Jadi kau tidak usah khawatir." jawab Nathan dengan nada dingin.
Sella menghela napasnya, jika memang Nathan masih ingin membuat masalah pada Lili. Namun, kali ini dia tidak akan diam dan akan melindunginya.
"Apakah itu sepadan kau menyerahkan seluruh sahammu?" Nathan kembali bertanya.
Sebenarnya Nathan ingin bertanya pada Sella mengenai sahamnya yang di berikan kepada pamannya. Karena itu adalah satu-satunya yang dia miliki dari kedua orangtuanya.
'Apakah ini alasannya? Apakah dia menginginkan saham itu juga?' Jika benar, mengapa dia tidak memintanya dari dulu.' Batin Sella.
Sella hanya diam dia lalu melanjutkan makannya, meski di dalam batinnya pertanyaan itu melayang-layang.
Nathan kembali bertanya karena Sella tidak menjawab pertanyaannya. Namun, Sella tetap diam setelah itu dia berdiri dan membawa mangkuk bekas dia untuk dicuci.
Nathan berpikir mungkin Sella tidak ingin membicarakan masalah ini padanya. Sehingga dia berhenti untuk bertanya kembali padanya.
Nathan sudah selesai makan, dia memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Guna menyelesaikan pekerjaannya sebelum keberangkatan besok ke Qatar.
Dia membuka sebuah email, dia membacanya lalu melihat semua informasi yang dia dapat mengenai paman Sella. Rupanya paman Sella masih ingin membuat masalah dengan Lili.
Sebenarnya Nathan tidak ingin ikut campur dengan urusan Lili sekarang. Dia sedang berusaha untuk memperbaiki dirinya sendiri dan ingin memperbaiki hubungannya dengan Sella.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya Nathan pun berniat untuk beristirahat. Namun, dia keluar kamar menuju pantry guna mengambil air minum karena air minum yg ada di kamar sudah habis.
Saat dia hendak kembali masuk ke dalam kamarnya, entah mengapa kakinya melangkah ke kamar Sella. Dia membuka pintu kamar Sella secara perlahan agar tidak menggangu tidurnya.
Pintu kamar terbuka, dia melihat Sella yang sudah tertidur di atas tempat tidur. Nathan berjalan masuk ke kamar Sella lalu dia mendekati Sella.
__ADS_1
Ditatapnya Sella dengan lekat, dia merasa bersalah karena sudah membuatnya menderita. Dia merasa bodoh membalas dendam pada Sella. Padahal dia tahu benar betapa besar rasa cinta Sella padanya.
Nathan mengelus lembut kepala Sella, dia sungguh menyesali semuanya. Dia teringat kembali perlakuan Sella saat dia berada di balik jeruji.
Semua perhatian yang ditunjukkan Sella padanya itu sangat berarti banginya. Dia tidak menyangka jika Sella akan selalu berada di sisinya. Karena jika Sella mau dia bisa pergi jauh darinya.
Nathan mengecup kening Sella dengan lembut, dia berusaha agar tidak membangunkannya. Setelah itu dia berjalan keluar dari kamar Sella lalu menutup kembali pintu kamarnya.
Sella terbangun, dia tidak menyangka Nathan akan bertindak seperti itu. Hatinya senang tetapi dia tidak akan percaya begitu saja. Karena dia harus mengetahui alasan Nathan bertanya padanya mengenai saham.
Keesokan harinya, Sella sudah bangun lalu dia menyiapkan sarapan terlebih dahulu. Sebelum mereka penerbangan mereka ke Qatar.
Nathan pun sudah siap, sebelum pergi mereka sarapan terlebih dahulu. Nathan berkata, "Tidak usah membereskan semuanya, nanti ada seseorang yang akan membereskan apartement saat kita berada di Qatar."
Sella mengangguk, setelah selesai sarapan mereka bergerak untuk pergi ke bandara. Dalam perjalanan suasana hening, tidak ada pembicaraan antara mereka.
***
Tibalah mereka di Qatar
"Kau istirahat saja di hotel, aku akan pergi untuk menemui client dulu!" Nathan berkata Sella lalu dia pergi meninggalkannya di hotel.
Ponsel Sella berdering, dia mengangkat ponselnya. Betapa terkejutnya dia mengetahui jika pamannya masih menjalankan rencana untuk menghancurkan Lili.
Dia sangat kesal dengan apa yang sudah di perbuat oleh pamannya. Setelah menutup sambungan teleponnya, Sella memikirkan cara apa agar pamannya berhenti.
Dia mencari nomor di dalam ponselnya, lalu dia menghubungi seseorang. Dia menyuruhnya untuk mencari semua informasi mengenai pamannya.
Informasi yang dia minta adalah informasi kebusukan pamannya. Dia harus tahu semua itu, mungkin sekarang saatnya dia melawan.
Dulu dia mengalah demi kedua orangtuanya, agar mereka tidak di ganggu terus-menerus oleh sang paman. Namun, sekarang dia sudah keterlaluan.
Sella tidak akan membiarkan pamannya menghancurkan Lili. Karena baginya Lili adalah sahabatnya, dia sudah membatu dan memaafkan semua kesalahannya di masa lalu.
Hari sudah malam, Nathan belum kembali ke hotel. Sella memilih memesan makanan karena dia merasa lapar. Dia berpikir mungkin Nathan sudah makan malam di luar.
Makanan yang di pesan sudah tiba, Sella menyantapnya dengan lahap. Sembari berpikir apa yang akan dia lakukan selanjutnya.
Dia masih terpikirkan dengan pamannya itu, sebenarnya Sella masih memiliki saham di perusahaan keluarganya. Namun, tidak ada yang mengetahuinya karena dia menyembunyikan semuanya.
Karena saham itu akan dia gunakan sebagai kekuatannya untuk melawan sang paman. Tidak ada yang tahu tentang pemilik saham itu termasuk sang paman.
Saat Sella sedang makan, Nathan kembali dia berjalan mendekatinya lalu duduk disampingnya. Dia hanya duduk saja seraya dia menemani Sella.
"Kau, sudah makan?" tanya Sella pada Nathan.
Nathan mengangguk lalu mengambil ponselnya karena ada pesan yang masuk. Saat dia membuka pesan tersebut, dia sedikit kesal.
"Bisakah kau tidak berurusan dengan pamanmu?!" ucap Nathan dengan sedikit penekanan.
Sella terkejut mengapa Nathan mengatakan itu, apakah dia menguntitnya. Atau mencari tahu tentang apa yang dilakukannya.
"Apa kau mengawasiku?" tanya Sella bedengan sedikit nada kesal.
Entah mengapa jika menyangkut dengan sang paman, keberanian Sella semakin tinggi. Sehingga dia tidak mau menyerah dengan apa yang menjadi keputusannya.
"Kau semakin berani— sekarang? Apa kau tidak mengkhawatirkan dirimu sendiri hah?" pekik Nathan yang sudah tidak tahan dengan sikap Sella.
"Aku tidak peduli! Lagipula aku sudah tidak memiliki siap-siap lagi, kedua orangtuaku sudah tiada. Yang aku miliki hanya sahabat yang telah membatuku menyelamatkanmu!" balas Sella pada Nathan lalu dia berjalan pergi menuju kamar mandi.
Nathan terdiam setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Sella. Sekarang dia tahu apa alasannya Sella untuk melawan pamannya.
"Apa pun yang kau lakukan Sella, aku akan selalu melindungimu! Karena kau adalah istriku, tidak akan aku biarkan kau bertempur sendirian!" gumam Nathan.
Nathan merasa badannya lengket, dia berniat untuk membersihkan diri. Dia mengetuk pintu kamar mandi, lalu mengatakan pada Sella bahwa dia hendak membersihkan diri.
Beberapa saat kemudian Sella keluar dari kamar mandi, dia sudah terlihat segar dan berganti pakaian untuk tidur. Setelah melihat Sella keluar Nathan masuk ke kamar mandi guna membersihkan diri.
Sella tersadar jika di dalam kamar hanya ada satu tempat tidur. "Aku harus tidur di mana? Lebih baik aku tidur di sofa saja itu lebih baik!" gumamnya.
Lalu Sella mengambil bantal dan selimut untuk dia gunakan tidur di atas sofa. Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi Sella untuk terlelap. Mungkin dia kelelahan selepas penerbangan dari Jepang ke Qatar.
Nathan keluar dari kamar mandi, dia melihat Sella yang sudah terlelap dibatas sofa. Sebenarnya dia sengaja memesan kamar hotel hanya menggunakan satu tempat tidur.
Nathan berjalan mendekati Sella yang sudah tertidur, dia menggendongnya lalu berjalan mendekati tempat tidur. Dia menidurkan Sella dengan lembut, karena tidak mau membangunkannya.
Nathan tersenyum lembut saat melihat wajah Sella yang terlihat begitu memesona. Entah sejak kapan dia selalu mengingat Sella jika tidak bertemu dengannya.
Dia mengecup lembut kening Sella lalu berjalan meninggalkannya untuk beristirahat. Nathan kembali duduk di sofa dan membuka Notebook-nya.
Nathan memeriksa semua pekerjaannya, ada beberapa pekerjaan yang belum terselesaikan. Hari semakin larut malam, dia memutuskan untuk beristirahat.
Nathan berjalan perlahan menuju tempat tidur, dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Sebelum menutup kedua matanya, dia melihat Sella dan tidak terasa matanya tertutup.
Sella terbangun mendengar suara ponsel Nathan, yang selalu berdering. Dia sangat terkejut saat melihat dirinya sudah berada di atas tempat tidur.
Dan melihat Nathan berada disampingnya, dia berusaha bangun dengan perlahan. Agar tidak membangunkan Nathan yang masih tertidur.
Sella berjalan perlahan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Dia lupa membawa handuknya tetapi dia tidak berani keluar kamar. Karena dia takut jika Nathan sudah terbangun.
Dia membuka sedikit pintu kamar mandi secara perlahan, lalu melihat apakah Nathan masih tertidur atau sudah bangun.
Sella melihat Nathan yang masih terlelap, dia mencari posisi handuknya. Terlihat, jaraknya tidak begitu jauh dari posisinya. Dia bersiap-siap untuk berlari guna mengambil handuknya.
Saat sudah tiba mengambil handuk, dia terkejut saat Nathan terkekeh. Dia memalingkan wajahnya guna melihat Nathan sembari menutup tubuhnya dengan handuk.
Sella hanya memandang Nathan yang terkekeh karena sudah lama dia tidak melihat tawanya. Semenjak mereka menikah Nathan tidak pernah sekali pun tertawa lepas seperti ini. Dia tersadar lalu dia memakai pakaiannya, dengan wajah yang sudah memerah karena malu.
__ADS_1