Musuhku Menjadi Imamku

Musuhku Menjadi Imamku
Extra Part Lili-77


__ADS_3

Saat hati Sella mulai terbuka lagi untuk Nathan, dia dikejutkan dengan mendengar percakapan Nathan dengan seseorang yang sedang bicara melalui ponsel.


"Jadi semalam adalah palsu! Sebabnya apa niatmu Nathan?!" teriak Sella pada Nathan.


Sehingga membuat Nathan terkejut, dia tidak menyangka jika Sella berada di kamar. Karena yang dia tahu Sella sedang pergi keluar untuk membeli sesuatu.


"Tunggu sayang, biar aku jelaskan padamu!" ucap Nathan sembari berjalan mendekati Sella dan menutup sambungan teleponnya.


Sella mundur beberapa langkah karena tidak ingin Nathan mendekatinya. Dia sungguh tidak mengira bahwa semalam itu Nathan bersandiwara dan itu membuatnya kecewa kembali atas sikap Nathan.


"Apakah rasa cintaku belum cukup? Aku sudah tidak memiliki apa-apa lagi, apa yang kau inginkan dariku?" Sella bertanya dengan nada sedih pada Nathan.


Nathan hanya diam, dia tidak bisa menjawab apa yang Sella tanyakan. Itu membuat Sella semakin kesal lalu dia pergi meninggalkan Nathan sendiri di kamar hotel.


Sella berjalan menelusuri hotel lalu keluar, dia hanya berjalan tidak tahu harus kemana. Dalam pikirannya begitu kacau, dia tidak tahu harus berbuat apa lagi pada Nathan.


Apakah dia bisa memaafkannya lagi atau memang harus menyerah, tiba-tiba ponselnya berdering. Dia melihat siapa yang menghubunginya, dilihat nama Lili yang tertera.


Dia mengangkat telepon dari Lili, lalu mendengarkan apa yang mau dikatakan oleh Lili. Namun, Lili merasa ada yang aneh dengan suara Sella. Lalu dia bertanya ada apa? Karena Lili merasa khawatir dengan Sella.


Akhirnya Sella mengatakan apa yang terjadi, setelah mendengar cerita dari Sella Lili tidak bisa berkata apa-apa. Karena Sella belum tahu alasan Nathan melakukan itu.


Namun yang pasti Lili memberikan saran pada Sella agar memikirkan semuanya dengan tenang. Jangan karena emosi bisa membuatnya menyesal dikemudian hari.


Mendengar yang diucapkan Lili membuat hati Sella menjadi tenang, lalu dia menutup sambungan teleponnya karena semua urusan sudah dibicarakan.


"Benar yang diucapkan oleh Lili, aku tidak akan membiarkan Nathan begitu saja! Aku akan membuatnya menyesal karena sudah membuatku menderita selama ini! Sekarang giliran aku memberinya pelajaran!" gumamnya.


Setelah hatinya tenang dan emosinya mereda, Sella memutuskan untuk kembali ke hotel. Dia melihat di kamar sudah tidak ada Nathan.


Dia bergegas merapikan barang-barangnya, lalu meninggalkan hotel menuju bandara untuk kembali ke Jepang. Karena saat ini dia akan memulai serangannya terhadap sang paman yang sudah melewati batasannya.


Dilain tempat Nathan yang masih mencari keberadaan Sella tidak berhasil menemukannya. Dia berusaha menghubunginya tetapi ponselnya tidak aktif. Dia tidak mengetahui jika Sella sudah ada di bandara dan pulang ke Jepang terlebih dahulu.


Nathan memutuskan kembali ke kamar hotel, mungkin Sella sudah ada di sana pikirnya begitu. Saat tiba di kamar hotel dia tidak melihat Sella. Dia tersadar ada yang hilang yaitu tas dan barang-barang Sella.


Setelah mengecek semuanya Nathan tersadar mungkin Sella telah kembali ke Jepang terlebih dahulu. Dia berniat mengejar Sella tetapi dia tidak bisa kembali sekarang. Karena urusannya belum selesai.


Dia ingin menjelaskan semuanya pada Sella sebenarnya apa yang terjadi. Namun, karena emosi Sella yang meledak membuatnya kesulitan untuk menjelaskan semuanya pada Sella.


"Lebih baik aku jelaskan semuanya jika sudah berada di Jepang," gumam Nathan.


Nathan berusaha menfokuskan pikirannya untuk menyelesaikan semua pekerjaannya di Qatar. Agar dia bisa cepat kembali ke Jepang.


Dilain tempat Lili yang sedang bekerja, teralihkan kembali oleh cerita Sella. Dia sungguh tidak mengerti dengan Nathan, apakah pria itu tidak merasakan jera atau tidak merasakan cinta Sella yang besar untuknya.


"Arrgghhhh sudahlah lupakan semua itu, lebih baik sekarang fokus pada pekerjaanku saja!" gumam Lili sembari melanjutkan pekerjaannya.


Tok! Tok! Terdengar suara pintu kamar diketuk dari luar, Lili menyurhnya masuk. Ternyata yang mengetuk pintu ruangannya adalah Novi. Dia membawa beberapa design yang sudah di buat oleh para arsitek.


Lalu Novi menempelkan gambar itu di sebuah papan berdiri khusus untuk melihat hasil gambar yang sudah dibuat. Lili melihat satu per satu gambar itu dengan teliti agar tidak ada kesepahaman sedikit pun.


Dia memberi tanda pada bagian yang perlu diperbaiki karena dia tahu setiap design yang diinginkan oleh client-nya. Setelah itu dia mengecek gambar yang satunya lagi.


Setelah selesai dengan pengecekan yang dilakukan oleh Lili, gambar tersebut dibawa kembali oleh Novi untuk diberikan pada arsitek yang mengerjakannya.


Tidak begitu lama setelah Novi meninggalkan ruangan, Lili mendapatkan telepon dari Arata. Dia mengatakan untuk langsung pulang ke rumah. Karena ayah dan ibu berada di rumah untuk beberapa hari.


Mendengar itu Lili merasa senang, akhirnya dia bisa merasakan kembali rumah yang hangat. Karena semenjak kepulangan Yuki rumah terasa sepi baginya.


Tidak terasa waktu sudah sore sudah saatnya Lili kembali ke rumah, dia teringat jika ayah dan ibu sudah berada di rumah. Saat berjalan menuju parkiran Lili bertemu dengan Novi. Dia mengajak Novi dan Satria untuk makan malam bersama di rumah.


Namun, Novi menolaknya dengan halus karena malam ini dia sudah merencanakan makan malam bersama Satria dan adiknya yang baru saja tiba di Jepang.


"Lain kali ajak juga adiknya Satria untuk makan malam bersamaku dan Arata!" ucap Lili sembari memasuki mobilnya.


Dalam perjalanan pulang Lili teringat sesuatu yang menjadi kesukaan ayah dan ibu. Dia turun di sebuah kedai untuk membeli makanan kesukaan ayah dan ibu.


Setelah memesan makanan tersebut untuk dibawa pulang, lili kbali melanjutkan perjalannya. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan ayah dan ibu. Karena mereka lebih sering berada di pedesaan.


Tibalah Lili di rumah, saat turun dari mobil dia sudah melihat mobil Arata terparkir. Rupanya Arata sudah tiba terlebih dahulu sebelum Lili.


Lili berjalan dengan cepat guna melihat ayah dan ibu. Dia tidak memperhatikan seorang pelayan yang menyambutnya. Pelayan itu tersenyum dia tahu jika nyonya mudanya pasti sudah tidak sabar bertemu dengan nyonya besar.


"Ibu," teriak Lili yang berlari menghampiri sang ibu lalu memeluknya dengan erat sembari memegang bungkusan makanannya di kedua tangannya.


Melihat sikap Lili seperti itu membuat ayah Amida dan Arata terkekeh-kekeh. Lili tidak peduli dengan tawa ayah serta suaminya, dia masih saja bersikap manja pada sang ibu.


Sembari memperlihatkan makanan yang sudah dia bawa, ayah Amida melihat ada makanan kesukaannya. Lalu dia menghampiri Lili dan sang istri.


"Pasti ayah mau ini, -kan?" Lili berkata dengan nada menggoda.


Sekarang giliran ibu yang terkekeh melihat ayah yang sepertibseorsng anak kecil. Yang menginginkan sesuatu dari tangan Lili. Arata yang melihat semua itu merasa senang akhirnya bisa melihat suasana seperti ini lagi.


Selagi ayah dan Lili bercanda, ibu menyuruh seorang pelayan untuk mengambilkan tempat untuk makanan yang dibawa Lili. Setelah semua makanan berada di atas piring. Ayah langsung menyantapnya begitu juga dengan ibu.


"Sayang, kau melupakan aku juga! Kau hanya peduli pada Ayah dan Ibu saja!" Arata berkata dengan raut wajah sedihnya.


"Rasakan itu! Sudah biarkan saja dia di sana, Lili makan saja bersama Ayah!" Ayah berkata pada Lili seraya menggoda Arata.


"Tuh, -kan Ayah sudah jahat padaku! Sebenarnya yang anak kalian itu siapa?" tanya Arata pada ayah.

__ADS_1


"Lili!" jawaban ayah dan ibu serentak.


Lili terkekeh mendengar perdebatan antara Arata dan kedua orangtuanya. Untuk menghilangkan kesedihan Arata, dia menghampirinya lalu mengecupnya sekilas.


"Ini untukmu!" bisik Lili lalu mengecupnya kembali.


"Sudah-sudah, jika kalian mau bermesraan jangan di sini pergi sana ke kamar! Menghalangi pemandangan kami saja yang sedang menikmati makanan ini!" ucap ayah semabri terkekeh.


Ibu juga terkekeh-kekeh mendengar apa yang diucapkan oleh ayah, rupanya ayah masih bisa bercanda seperti biasanya. Suasana rumah menjadi ramai. Akhirnya Lili dan Arata duduk di kursi meja makan, guna ikut menyantap makanan yang dibawa oleh Lili.


Setalah selesai menyantap makan malam mereka kali ini, ibu dan ayah kembali pergi ke kamar untuk beristirahat. Begitu pula dengan Arata yang mengajak Lili untuk masuk kedalam kamar.


"Sayang, apa kau mau membersihkan diri bersamaku?" bisik Arata pada Lili yang sedang membuka balzer-nya.


Lili tersenyum, tanpa mendengar jawaban dari Lili. Arata langsung menggendongnya menuju kamar mandi. Setalah berada di dalam kamar mandi, secara perlahan Arata membuka pakaian Lili satu per satu begitu juga dengan Lili membuka kancing kemeja Arata.


Mereka saling menatap satu sama lain, tanpa meminta Arata mengecup bibir Lili dengan lembut. Lili pun membalas kecupan manis Arata. Sehingga mereka berdua menikmati permainan mereka.


Setelah mereka bergulat selama satu jam di dalam kamar mendsi, Lili merasa kesal karena itu sangatlah lama. Sehingga membuat tubuhnya menggigil. Arata merasa bersalah karena permainannya terlalu lama.


Sehingga untuk menebus rasa bersalahnya dia memeluk Lili sembari tidur agar dia merekam kehangatan. Baik dari selimut yang sudah menutupi seluruh tubuhnya atau pun dari tubuh Arata yang memeluknya.


"Ini semua ulahmu, sehingga aku kedinginan!" cetus Lili yang masih merasa kesal.


Arata terkekeh yang tadinya merasa bersalah sekedang malah tidak bisa menahan tawanya. Sehingga membuat Lili semakin merasa kesal.


"Sudah-sudah, aku minta maaf! Istirahatlah aku sudah lelah! kau juga pasti lelah bukan?" Arata berkata lalu memeluk Lili agar dia bisa beristirahat.


Mereka pun akhirnya terlelap dalam gelapnya malam, dilaib tempat. Novi yang masih sangat terkejut karena pertemuannya dengan adiknya Satria.


"Ada apa denganmu, sayang?" Satria bertanya dengan lembut pada Novi sembari memeluknya.


"Tidak ada apa-apa, lebih baik kau membersihkan diri dulu! Setelah itu giliran aku." Novi menjawab dengan senyum lembutnya lalu menyuruh Satria untuk membersihkan diri.


Satria pun mengangguk lalu dia berjalan menuju kamar mandi guna membersihkan diri. Beberapa saat kemudian dia selesai dengan rutinitas membersihkan diri lalu keluar dari kamar mandi.


Saat dia keluar dari kamar mandi, Satria melihat Novi yang hanya berdiri diam sembari memandangi malamnya kota Jepang dari balik jendela kamar.


Satria tahun pasti terjadi sesuatu karena semenjak pulang dari makan malam bersama Faisal, sikap Novi berubah menjadi murung. Dia tidak tahu apa yang terjadi dengan istrinya itu.


Satria berniat untuk bertanya pada Novi sebenarnya apa yang terjadi padanya. Namun, saat dia hendak bertanya Novi melihatnya sudah keluar dari kamar mandi. Lalu Novi berjalan menuju kamar mandi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Saat di dalam kamar mandi, Novi merasa kesal dan takut. Karena kehadiran Faisal akan membuat hidupnya yang baru saja dia jalani, akan menjadi bencana.


"Mengapa dia hadir kembali dalam hidupku?" gumam Novi.


Tidak terasa air matanya mengalir, salah hatinya merasakan ketekutan. Bagaimana jika Satria tahu tentang masa lalunya bersama Faisal.


Akan tetapi dia merasa bersyukur dengan musibah yang terjadi padanya. Sehingga dia bisa lepas dari cengkeraman kedua orangtuanya yang mengharuskannya melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hati nuraninya.


Setelah puas menangis Novi keluar dari kamar mandi, lalu berjalan menuju almari guna mengambil baju tidurnya. Satria yang melihat Novi berwajah muram hanya bisa menerka-nerka apa sebenarnya yang terjadi.


"Aku mau istirahat dulu," Novi berkata pada Satria lalu berjalan menuju tempat tidur dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Satria terdiam dia hanya duduk di atas sofa sembari memikirkan apa yang sedang terjadi pada Novi. Semakin dia berpikir keras, dia tidak menemukan jawabannya.


Akhirnya Satria memutuskan untuk beristirahat pula, besok jika Novi sudah tenang dia akan bertanya secara pelan-pelan padanya. Karena jika ditanya dengan cara keras, Novi tidak akan menjawabnya.


Malam ini Novi tidak bisa tidur dengan nyenyak, dia selalu terbayang masa lalunya. Saat dia bertemu dengan Faisal sehingga mereka berhubungan intim layaknya seperti suami-istri. Meski mereka belum menikah.


Hingga akhirnya Novi menyadari bahwa dia menderita penyakit kelamin. Butuh perjuangan untuk bisa sembuh dari penyakitnya yang menjijikan.


Meski Novi selalu melakukan permintaan kedua orangtuanya untuk menemani minum para lelaki hidung belang. Namun, dia sama sekali tidak pernah melakukan hubungan intim.


Karena hal yang membuatnya kesal membuat Novi banyak minum dan mabuk. Sehingga Novi bermain bersama Faisal, dia tidak tahu jika pria itu akan menularkan penyakitnya.


Satria tahu jika Novi belum tertidur, dia mendekatinya lalu memeluknya dengan erat. Guna memberinya kehangatan dan rasa tenang, sehingga bisa beristirahat.


Novi pun membalikkan tubuhnya sehingga dia memasukkan kepalanya kedalam dada Satria. Hingga akhirnya mereka pun terlelap.


Keesokan harinya Novi terbangun karena mendengar ponselnya berbunyi. Dia mengambil ponselnya yang berada di atas nakas, lalu dia melihat layar ponselnya. Tertera nomor tidak dikenal, dia berpikir sejenak siapa yang menghubunginya.


Nada dering berhenti karena tidak diangkat oleh Novi, beberapa saat kemudian ponselnya berdering kembali. Akhirnya Novi mengangkat teleponnya.


Sungguh terkejutnya Novi karena yang menghubunginya adalah Faisal. Dia mementa Novi untuk menemuinya di sebuah restoran siang ini, jika tidak mau maka dia kan mengatakan pada Satria siapa sebenarnya Novi.


Mendengar ancaman itu membuat Novi menyetujui permintaan Faisal untuk bertemu siang ini. Setelah itu Faisal menutup sambungan teleponnya.


"Siapa yang menghubungimu, sayang?" tanya Satria yang terbangun karena pembicaraan Novi bersama Faisal.


Novi terusan sesaat, lalu mengatakan jika yang menghubunginya adalah temannya. Dan temannya itu mengajak bertemu siang ini, sehingga Novi sekalian meminta izin pada Satria untuk pergi.


Satria mengizinkan Novi untuk pergi siang ini, lagi pula hari ini dia masih harus mengerjakan sesuatu di kantornya. Meski semua orang libur bekerja tetapi dia harus menyelesaikan apa yang harus segera diselesaikan.


Novi menghubungi Lili sebelum pergi menemui Faisal, dia mengatakan pada Lili untuk bertemu dengannya. Karena ada yang ingin dibicarakan.


Lili pun menyuruh Novi untuk ke rumahnya karena hari ini masih ada ibu dan ayah. Karena ibu mengatakan pada Lili ingin bertemu dengan Novi.


Novi menyetujuinya, lalu dia mulai bersiap untuk pergi ke rumah Lili. Dia tidak bisa menceritakan semua ini pada Satria karena bagaimanapun Faisal adalah adik kandungnya.


Lebih baik Novi menceritakannya pada Lili sehingga dia bisa tahu langkah apa yang harus dilakukan. Dalam hatinya merasa gelisah karena dia sungguh tidak menyangka jika pria yang sudah menularkan penyakit padanya adalah adik Satria.

__ADS_1


Novi berniat pergi ke rumah Lili setelah kepergian Satria, setelah itu dia bisa pergi. Saat pergi meninggalkan Novi, Satria masih merasakan hal yang begitu membuatnya penasaran.


Rasa ingin tahunya mengenai masalah Novi begitu besar tetapi pekerjaannya selalu membuatnya melupakan sejenak masalah Novi.


Tibalah Novi di rumah Lili, dia disambut dengan hangat oleh ibu. Karena rindu dengan Novi, ibu salngsung memeluknya. Sekarang ibu sudah menganggapnys seperti putrinya sendiri.


Karena ibu tahu jika Novi sudah berubah, sehingga sudah sepatutnya dia dimaafkan. Lagi pula ibu kesal dengan kedua orangtua Novi yang sudah bertidak keterlaluan pada putrinya sendiri.


"Kau, sudah sarapan?" Ibu berkata dengan lembut pada Novi.


Novi tersenyum lalu dia menjawab sudah sarapan bersama dengan Satria. Ibu yang mengerti jika Novi ada perlu dengan Lili, mengatakan jika lili sedang ada di taman belakang rumah bersama Arata.


"Pergilah ke taman belakang, Lili dan Arata ada di sana!" Ibu mengatakan itu pada Novi lalu menyuruh seorang pelayan untuk mengantarnya ke taman.


Novi mengikuti pelayan tersebut, lalu dia melihat Lili yang melambaikan tangannya. Dengan maksud agar Novi segera menghampirinya.


Novi berterima kasih karena pada pelayan karena sudah mengantarnya, setelah itu pelayan pun pergi meninggalkannya. Dia berjalan menuju Lili dan Arata.


"Maafkan aku yang sudah menganggu waktumu!" ucap Novi yang sudah duduk di atas kursi taman.


"Tidak usah formal begitu!" ucap Arata sembari meminum teh.


Tidak berapa lama seorang pelayan menghampiri mereka dengan membawa secangkir teh untuk Novi karena ibu yang menyuruhnya. Setelah itu pelayan pun pergi meninggalkan mereka untuk melakukan pekerjaannya.


Novi berpikir sejenak, apakah dia bisa menceritakan semua ini dengan Lili dan Arata. Apakah mereka akan membatunya menemukan solusi untuknya.


"Jika kau ingin bicara berdua sedang Lili, aku bisa meninggalkan kalian!" Arata berkata karena dia melihat Novi yang masih ragu untuk bercerita.


"Kau tidak usah pergi, karena kau juga tahu tentang apa yang akan aku ceritakan!" Novi berkata lalu dia mulai menceritakan semuanya yang membuatnya gelisah semalaman.


Setalah mendengar cerita Novi, terlihat rasa kesal di wajah Lili. Karena pria itu yang sudah membuat Novi menderita hadir kembali dalam hidupnya. Sedangkan Arata hanya diam, dia berusaha berpikir dari sudut pandangnya.


"Apa yang harus aku lakukan? Faisal mulai memintaku untuk bertemu dengannya! Aku takut jika dia terus saja mengancamku untuk bertemu denganku!"


"Beritahukan semuanya pada Satria, karena itu adalah jalan yang terbaik. Jika dia tahu darimu itu lebih baik dibandingkan dia tahu dari orang lain." Arata berkata pada Novi dan itu dibenarkan oleh Lili.


Setalah membicarakan semua itu, ponsel Novi bergetar. Rupanya yang mengirim pesan padanya adalah Faisal. Dia mengingatkan kembali tentang pertemuannya.


"Aku harus pergi, Faisal sudah menungguku! Aku ucapkan terimakasih karena kalian sudah mau menjadi tempatku mencurahkan semua masalahku." Novi berkata lalu pergi meninggalkan Lili dan Arata.


"Sayang, apakah kita harus membantunya bicara pada Satria?" tanya Lili pada Arata.


Arata menjawab jika itu belum perlu karena semua ini yang harus dilakukan oleh Novi seorang. Jika dia tidak bisa mengatasinya barulah kita jadi penengah bagi mereka.


Setalah mendengar jawaban Arata Lili menghela napas lalu hanya diam. Dia memikirkan betapa sedihnya Novi, disaat dia baru saja merasakan kebahagiaan. Namun, dia harus menghadapi masalah ini.


Dan lagi yang harus dia hadapi adalah adik iparnya sendiri, apakah dia bisa mengatasi semuanya. Semua pertanyaan itu melayang dipikiran Lili.


"Kau tidak usah khawatir, dia sudah berubah! Dia bukan Novi yang dulu! Aku yakin dia pasti bisa mengatasi semua ini." Arata berkata guna menghilangkan rasa khawatir di dalam diri Lili.


Setelah mengatakan itu Arata mengajak Lili untuk ke suatu tempat. Dan itu akan membuatnya melupakan semua rasa khawatir terhadap Novi.


"Mau kemana kita?" Lili bertanya karena dia tidak tahu Arata akan mengajaknya pergi.


"Ikut saja! Kau pasti akan menyukainya." Arata berkata dengan senyum nakal lalu berjalan pergi meninggalkan Lili.


Lili yang ingin tahu Arata akan mengajaknya kemana hari ini mengejarnya. Dia mengejar Arata hingga kedalam rumah, dia terus saja bertanya pada Arata tetapi tidak ada jawaban dari Arata.


Arata sudah siap untuk pergi begitu juga dengan Lili. Mereka berpamitan pada ayah dan ibu untuk pergi sebentar, mereka pun mengizinkan Arata pergi bersama Lili.


Dalam perjalanan Lili masih saja merengek tetapi Arata tetap menutup mulutnya dengan rapat. Mobil terhenti, Lili melihat dimana mobilnya berhenti.


Lili bingung sebenarnya rumah siapa yang dikunjungi oleh Arata, saat pikirannya masih melayang bertanya-tanya rumah siapa ini. Arata sudah keluar dari dalam mobil tetapi Lili tidak menyadarinya.


Tok! Tok! Arata mengetuk jendela mobil guna menyadarkan Lili blalu menyuruhnya untuk keluar dari mobil. Lili tersadar dari lamunannya lalu dia keluar dari dalam mobil.


Setelah turun Arata menggandeng Lili untuk masuk ke rumah itu, seorang pelayan yang sudah menunggu mereka mempersilakan untuk mengikutinya.


Lili masih bingung sebenarnya ini rumah siapa, sedangkan Arata tersenyum melihat wajah istrinya yang masih merasa kebingungan.


"Hentikan senyummu itu, sayang? Sebenarnya ini rumah siapa?!" cetus Lili.


Sebelum Arata menjawab pertanyaan Lili sudah terdengar teriakan seorang gadis kecil yang memanggil Lili. Sungguh terkejutnya dia tetapi merasa bahagia juga. Karena yang memanggilnya adalah Yuki.


Yuki berlari dan langsung memeluk Lili, di belakangnya ada Kenzo yang sedang berjalan menuju arah Lili dan Arata. Saat Yuki mengajak Lili berjalan-jalan, Kenzo mengajak Arata untuk berbincang-bincang.


"Bagaimana kabar wanita yang menyelamatkan Yuki?" Kenzo bertanya pada Arata.


"Sarada sudah membaik, sekarang sedang istirahat di rumahnya." Jawab Arata.


Kenzo merasa lega akhirnya Sarada membaik dan kandungannya juga tidak mengalami masalah apa-apa. Lalu Kenzo mulai menceritakan tentang semuanya.


Jika selama ini ada seseorang yang ingin mencoba membunuh Yuki karena dia adalah satu-satunya pewaris seluruh kekalahannya. Setalah membunuh istrinya sekarang yang menjadi target Yuki.


Arata bertanya apakah Kenzo sudah mengetahui siapa yang menjadi dalang semuanya. Dia mengatakan sudah mengetahui siapa yang menjadi dalang dari semuanya.


Sehingga saat ini dia berusaha untuk melindungi Yuki dengan sekuat tenaganya. Apa pun yang terjadi meski nyawanya jadi taruhan. Dia akan menyelamatkan Yuki.


"Aku mohon jika aku sedang ke luar kota untuk menjaga Yuki! Karena aku tidak percaya siapa pun selain kau dan istrimu." pinta Kenzo pada Arata.


Entah mengapa Arata memiliki pirasat yang tidak enak dengan apa yang dikatakan oleh Kenzo. Dia merasakan jika akan terjadi sesuatu yang sangat besar salah hidupnya.

__ADS_1


Namun, Arata menghempaskan semua pikiran buruk di dalam hatinya. Dia tidak ingin pikiran buruk itu mempengaruhi hatinya yang nantinya bisa berpengaruh pada Lili. Karena Lili sangat peka terhadap perasaannya.


__ADS_2