
Rio masuk kedalam rumah setelah kepergian Lili, dia mencari sekeliling ruangan rumah tidak menemukan Salma. Rio berpikir mungkin Salma ada didalam kamarnya.
Disaat Rio membuka pintu kamarnya, keadaan kamar sangat gelap. Dia mencari saklar lalu menyalakan lampu kamar. Dilihatnya Salma yang sedang duduk.
"Sayang?!"
Salma hanya diam tidak mengeluarkan sepatah katapun, dia tahu Rio sudah tiba. Namun malam ini rasanya tidak ingin bicara dan melihatnya, Salma pun berdiri lalu melangkah keluar kamar. Dia melewati Rio tanpa menatap matanya. Rio menarik lengan Salma agar dia berhenti untuk meninggalkannya, Salma menghempaskan lengan Rio.
"Kita perlu bicara, Mas akan jelaskan semuanya padamu!"
Salma masih kesal dengan yang baru dilihatnya serta mas Rio tidak mengejarnya malah terus bersama wanita itu. Salma sungguh memerlukan waktu untuk menenangkan diri.
Rio sudah kehabisan kesabaran karena sikap diamnya Salma. Di menarik lengan Salma lalu mendudukkannya di atas ranjang. Perlakuan Rio sedikit kasar menurut Salma. Karena selama ini Rio tidak pernah berlaku kasar seperti ini.
Rio pun mulai menceritakan semuanya, namun Salma tidak percaya begitu saja. Dia lebih percaya dengan mata kepalanya sendiri yang melihat begitu perhatiannya Rio terhadap wanita itu.
"Aku butuh waktu mas! Lebih baik bersihkan dirimu dari sentuhan dan aroma parfum wanita lain! Aku akan buatkan minuman hangat untukmu!"
Salma pun berdiri lalu pergi ke pantry untuk membuat minuman hangat, entah mengapa dia masih tidak percaya dengan yang baru saja dijelaskan oleh suaminya. Tidak terasa air matanya menetes membasahi kedua pipinya.
Suara tangispun mulai terdengar sayup, dia tidak bisa menahan rasa sakit dihatinya. Jika wanita itu memang temannya, mengapa dia tak menceritakan terlebih dahulu. Mengapa dia pergi bersama wanita itu hanya berdua saja, apakah dia tidak memikirkan perasaan Salma.
Rio yang baru saja selesai membersihkan diri, keluar dari kamar mandi. Dia tidak melihat Salma dikamar. Setahunya jika membuat minuman hangat untuknya tidak memerlukan waktu yang lama.
Rio pun keluar dari kamarnya, terdengar suara tangis. Dia langsung menuju arah tangisan Salma. Dilihatnya Salma yang sedang menangis sendirian di pantry. Dihampirinya Salma, Rio langsung memeluk Salma dengan lembut. Dia merasa bersalah karena tidak jujur dari awal tentang Karin.
"Lepaskan aku! Aku tidak mau kau sentuh! Aku tidak mau kau peluk! Aku merasa sakit jika mengingat semua sentuhan dan pelukanmu bekas wanita lain!"
Salma berusaha keras untuk melepaskan diri dari pelukan Rio, namun Rio tidak melepaskannya. Dia semakin memeluk erat Salma, meski Salma memukul dadanya.
"Tenangkan dirimu! Aku sama sekali tidak pernah memegang atau memeluk wanita lain selain dirimu! Percaya sama Mas ya! Mas sangat sayang sama kamu Sal, kamu adalah wanita pertama dan terkahir buat Mas!"
Tangis Salma semakin menyeruak, dia sungguh tidak tahan lagi. Meski Rio mengatakan hal seperti itu. Anehnya itu membuat hatinya semakin sakit.
"Aku benci kamu Mas! Jika benar wanita itu adalah kekasihmu? Jujur saja padaku! Aku tahu aku bukan wanita sempurna, aku tidak bisa memberikanmu keturunan! Jadi pergi saja kamu Mas! Aku rela jika itu membuatmu bahagia!"
Rio terkejut dengan perkataan Salma, selam ini dia tidak pernah membicarakan tentang kekurangannya. Dia berusaha untuk membuat hati Salma tidak memikirkan hal itu lagi. Namun Salma masih mengatakan hal-hal yang membuat kesabaran Rio habis.
"Sudah cukup! Hentikan semua perkataanmu yang sudah keluar jalur! Mas tidak suka jika kamu berpikiran seperti itu! Mas mohon kamu percaya sama Mas!"
Dia berteriak sehingga membuat Salma terhenyak lalu menghentikan tangisannya. Dia benar-benar tidak menyangka orang yang tidak pernah membentaknya sedikitpun. Sekarang membentaknya ini semua hanya karena wanita itu.
Rio sadar dia sudah membentaknya, itu membuat hati Rio sakit juga. Rio langsung memeluk kembali Salma yang kembali menangis. Dia berkata bahwa baru kali ini Rio membentaknya dan itu hanya karena wanita itu.
Hati Rio semakin sakit dia benar-benar merasa bersalah dengan sikapnya terhadap Salma. Karena sudah tidak kuat dengan semuanya, Salma pun berlari meninggalkan Rio, dia masuk ke kamarnya.
Rio hanya terduduk di sofa, dia tidak berani untuk masuk ke kamar saat ini. Karena jika dia masuk, maka Salma akan semakin meradang dan itu akan membuat masalah di antara mereka semakin meruncing.
Satu jam berlalu, Rio pun berdiri lalu melangkahkan kakinya menuju kamar. Dibukanya pintu kamar, terlihat Salma sudah tertidur. Didekatinya Salma, di belainya kepala Salma dengan lembut.
__ADS_1
"Kenapa kau tidak percaya padaku! Apakah kau tidak tahu sebesar apa aku mencintaimu! Meski kau tidak bisa memberikan keturunan, kau akan tetap menjadi istriku hingga maut memisahkan kita."
Rio pun merebahkan badannya di samping Salma, dia merasa lelah hari ini. Yang diinginkannya Salma menjadi istri yang riang, selalu menunggunya dirumah dengan senyum manisnya. Tapi malam ini dia disambut dengan tangisan dan kemarahan.
Salma terbangun mendengar perkataan Rio, namun hatinya masih terasa sakit. Dia berusaha menutup kedua matanya namun tidak bisa, lama kelamaan akhirnya Salma pun tertidur.
"Sayang bangun! Kita subuh berjamaah yu!?"
Rio membangunkan Salma dengan lembut, karena setiap Subuh inilah yang dilakukan Rio. Salma pun terbangun, meski kedua matanya sudah untuk dibuka. Terlihat kedua matanya yang sembab karena banyak menangis.
Salma pun bangun lalu mengambil air wudhu, Rio menunggunya. Mereka pun menjalankan sholat berjamaah. Setelah selesai, Salma bergegas menuju pantry.
Seperti biasa dia menyiapkan sarapan sebelum Rio pergi bekerja. Setelah pekerjaan di pantry beres, Salma kembali ke kamar. Ditatapnya Rio dengan lekat, dalam benaknya apakah yang dikatakannya benar.
Rio berdiri menatap Salma yang sedang menatapnya, Rio sungguh sangat sedih jika hubungannya dengan Salma renggang seperti ini. Salma pun mendekati Rio, dia merapikan pakaian Rio lalu memasangkan dasi di lehernya.
"Bersiaplah kita akan pergi ke suatu tempat!"
Rio berkata dengan lembut namun tidak ingin ada penolakan. Salma pun bersiap, entah mau kemana Rio membawanya. Yang pasti sekarang dia hanya akan menuruti apa yang dimaui Rio.
Setelah sarapan selesai, merekapun pergi ke suatu tempat. Saat tiba Salma bingung tempat yang dituju adalah sebuah rumah sakit. Tanpa banyak kata Rio mengajak Salma untuk memasuki rumah sakit.
Dia menuju sebuah ruangan perawatan, dibukanya pintu ruangan tersebut. Terlihat sesosok wanita sedang terbaring diatas ranjang rumah sakit. Salma mendekatinya, sekarang terlihat jelas yang terbaring adalah kharin.
Melihat kedatangan Rio yang mengajak Salma, dalm hati Kharin sudah tahu. Bahwa Rio tidak bisa menjelaskan pada Salma, sehingga Rio membawanya kemari. Kharin pun berusaha duduk, dia tersenyum pada Salma lalu pada Rio.
"Apakah kau tidak bisa menjelaskannya! Dasar laki-laki kalian tidak bisa menjelaskan hal seperti ini!"
Akhirnya Kharin menceritakan semuanya pada Salma, tidak terasa Salma menitikan air mata. Dalam benaknya, sungguh kasihan Kharin dia begitu menderita. Tapi dia terus mempertahankan bayi yang ada di kandungannya.
Salma pun memeluk Kharin semabri menangis. Kharin berusaha menenangkan Salma. Dalam hatinya dia sudah menemukan siapa yang akan merawat bayinya.
Perasaan Kharin lega melihat kedua suami-istri ini, keduanya memang pasangan yang baik. Pasti kelak anak yang diurus oleh mereka pasti akan tumbuh menjadi anak yang baik.
"Maafkan aku Mas! Aku tidak percaya padamu! Entah mengapa aku begitu sakit melihatmu bersama wanita lain yang tidak aku kenal!"
Rio tersenyum lalu memeluk Salma dengan lembut, sehingga siapapun yang melihat mereka akan sangat iri. Kharin terkekeh melihat kemesraan mereka, dia mengatakan pada mereka untuk menghentikan bermesraan di depannya.
Mendengar khatib tertawa, Salma pun tersenyum kalau memeluknya. Kharin pun tidak ragu untuk mengatakan yang menjadi keinginannya, tapi diurungkannya. Mungkin nanti jika sudah tiba waktunya baru dia akan memintanya pada Salma dan Rio.
Kesalahpahaman antara Salma dan Rio sudah teratasi, karena Kharin harus instirahat mereka pun pamit untuk pulang. Niat Rio akan kembali ke kantor dirungkannya. Hari ini dia ingin istirahat di rumah, karena semalam dia tidak bisa tidur.
Mereka pun akhirnya kembali ke rumah, terlihat jelas dari wajah jika Salma dan Rio sangat lelah karena kurang tidur. Akhirnya mereka tertidur dengan pulasnya.
Salma terbangun oleh sentuhan yang dilakukan oleh Rio, semakin lama semakin menjadi. Salma berusaha melepaskan diri, namun Rio tidak mengijinkan Salma untuk pergi.
"Aku menginginkannya?!"
Salma tahu jika Rio sudah berkata seperti itu berarti dia sudah tidak bisa membuat alasan untuk pergi. Salma pun tersenyum, mereka saling memandang. Rio langsung melayangkan kecupan hangat di bibir Salma.
__ADS_1
Merasakan permainan yang dilakukan Rio membuat Salma terbawa oleh permainan Rio. Dibukanya satu persatu kancing baju Salma, setelah terbuka semuanya terpanggang lah seluruh tubuh yang selalu tertutup. Kecupannya menjalar ke seluruh tubuh, Salma sangat menikmati semua yang dilakukan oleh Rio.
"Sayang aku akan mulai ya!"
****
Pekerjaan Arata sudah selesai hari ini, sekarang waktunya dia memanjakan Lili. Dia mengajak Lili untuk berjalan-jalan, namun Lili sedang tidak ada mood untuk pergi keluar. Dia hanya ingin berada di kamar hotel saja. Apalah daya Arata, dia tidak bisa berbuat apa-apa jika sang istri tak ingin pergi. Akhirnya mereka pun hanya berdiam di kamar hotel.
"Sayang?! Kita bermain yu? Aku ingin memberikan cucu pada Ibu!"
Arata memangil Lili dengan lembut, Lili terkekeh mendengar keinginan suaminya itu. Dia mulai merengek seperti anak kecil, dia mengatakan seharian dikamar hotel membuatnya selalu ingin bermain. Mendengar itu tawa Lili semakin menjadi.
Ternyata Arata sangat gampang terprovokasi untuk melakukan hubungan suami-istri. Aku berkata pada Arata kalau hari ini dia sedang tidak enak badan. Jadi dia meminta waktu untuk istirahat sejenak.
Arata langsung memegang kening Lili, tapi tidak demam. Arata mengajak Lili untuk ke dokter, namun Lili menolak. Yang dia butuhkan kali ini adalah istirahat.
Arata pun menyuruh Lili untuk tidur, setelah Lili tertidur Arata membuka laptopnya untuk mengerjakan pekerjaannya. Dia sedikit merasa khawatir, dia takut ada apa-apa dengan Lili. Pikiran jeleknya dihempaskan begitu saja. Dia yakin Lili sehat dan tidak akan terjadi hal yang membuatnya khawatir.
Hari semakin sore Lili pun terbangun, dilihatnya Arata sudah tertidur disampingnya. Ditatapnya wajah Arata secara lekat, "Aku mencintaimu sayang!" gumam Lili.
"Aku sangat-sangat mencintaimu!" Arata berkata sembari mengecup bibir Lili dengan lembut.
Arata pun bertanya bagaimana akeadaan Lili, dia tersenyum mendengar pertanyaan Arata. Itu menandakan bahwa Lili sudah membaik, handphone Lili berbunyi. Ternyata Salma yang menghubunginya, dia mengajak Lili serta Arata untuk makan malam dirumahnya.
Lili pun segera bersiap untuk pergi ke rumah Salma, setibanya di sana terlihat wajah Salma yang sudah ceria. Itu menandakan bahwa masalah diantara Salma dan Rio sudah terselesaikan.
Mereka pun mulai berbincang-bincang, dari masalah a hingga b semua dibahas mereka. Makan malam pun berjalan dengan lancar, Arata mengatakan bahwa besok pagi akan kembali ke Jepang.
"Begitu cepat kalian kembali ke Jepang? Tinggallah beberapa hari lagi!"
Salma berkata pada Lili, apa daya Lili karena pekerjaan araya sudah selesai sehingga mengharuskannya segera kembali ke Jepang. Lili pun sudah terlalu lama meninggalkan perusahaannya, dia merasa kasihan pada Minami yang sudah mengurus perusahaanya.
Arata pun mengundang Salma dan Rio untuk menghadiri pernikahan Akhira bersama Fumiko. Salma pun mengiyakan bahwa mereka akan ke Jepang untuk memenuhi undangan Arata.
Acara makan malam pun selesai Lili pun pamit undur diri, mereka kembali ke hotel untuk bersiap. Karena besok pagi mereka sudah harus ke bandara. Sebelum Lili meninggalkan kediaman Salma, Lili memeluk erat Salma.
Rasanya kurang waktu untuk mereka bersama, terus ada yang terasa kurang. Yaitu tidak adanya Alin bersama mereka, karena Alin sedang sibuk dengan perusahaannya dan kandungannya.
____________________________________________
Hai para pembaca setiaku, maaf kalau membingungkan ya, yang ingin tahu kelanjutan Alin dan Alex bisa lanjut baca di "Pembalasan si Kembar Wibowo" sudah bisa di baca ya, selamat membaca 😊😉
__________________________________________
Jika ada yang ingin ditanyakan padaku tentang karya dan bisa langsung menghubungi ku via akun Instagram.
Klik search di Instagram dengan nama akun :
@macan_nurul
__ADS_1
Sekali lagi terimakasih untuk kalian semua 💋💋 jangan lupa ya like dan komen ya juga vote ya 😉 jangan lupa juga jadikan favorit ya 😉 😉