
"Ada apa denganmu sebenarnya?" Satria bertanya pada Novi dengan nada tinggi.
Karena Satria sudah merasa kesal dengan sikap diamnya Novi semenjak kedatangan Faisal. Dia tidak mengerti dengan semuanya, jika memang dia salah maka Novi bisa langsung bicara padanya. Namun, Novi hanya diam seribu bahasa.
"Rendahkan suaramu! Aku tidak apa-apa, sebaiknya aku istirahat saja." Novi menjawab dengan nada dingin.
Satria sangat kesal mengapa menjadi seperti ini, dia mengambil kunci mobilnya lalu pergi meninggalkan apartementnya. Faisal yang melihat kakaknya pergi merasa senang, akhirnya dia memiliki waktu untuk bersama dengan Novi.
Faisal berjalan dengan cepat ke kamar Novi, dia membuka pintu kamar Novi secara perlahan agar tidak membangunkannya. Lalu dia mematikan lampu kamar, dia berjalan perlahan menuju tempat tidur.
Lalu dia merebahkan tubuhnya secara perlahan di samping Novi. Dia memeluk Novi dengan erat, lalu mengecup tengkuk lehernya dengan lembut. Novi merasa kegelian, dia mengira bahwa yang melakukan ini adalah Satria.
Lengan Faisal mulai berjalan disetiap bagian tubuh Novi, hingga dia menghentikan di bagian dadanya. Dan bermain disana dengan waktu yang lama.
Namun Novi menyadari ada perbedaan dari sentuhan dan kecupan yang biasanya dilakuna oleh Satria. Dia membalikkan tubuhnya lalu mendorong tubuh Faisal.
"Kau— keluar dari kamarku!" teriak Novi.
"Aku tidak akan keluar karena malam ini aku ingin menikmatinya!" jawab Faisal dengan suara menggoda.
Novi berdiri, dia memutuskan untuk keluar dari kamarnya jika memang Faisal tidak ingin keluar. Akan tetapi, Faisal menarik tangan Novi lalu menyemprotkan sesuatu pada wajahnya.
Bug! Novi menyikut perut Faisal dengan kuat sehingga melepaskan dekapannya. Mengetahui dirinya sudah terlepas Novi bergegas keluar dari kamarnya.
Namun, dengan cepat Faisal menangkap kembali Novi dia berusaha mengecup bibirnya. Meski Novi berusaha menolaknya, tubuhnya merasa lemas.
"Apa yang kau semprotkan padaku?!" tanya Novi pada Faisal karena tubuhnya merasa panas dan tenaganya hilang.
Faisal terkekeh, dia tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh Novi. Dia masih berusaha untuk menikmati semua tubuh wanita yang sudah beberapa hari ini dia inginkan.
Brakkk!
"Apa yang kalian lakukan?!" Satria berteriak.
Saat Novi hendak mengatakan sesuatu untuk membela dirinya, Faisal sudah membela dirinya. Dia mengatakan bahwa semua ini Novi yang menggodanya.
Faisal terus mengatakan semua keburukan Novi, dia juga mengatakan jika tidak ada Satria di apartemen selalu menggodanya. Dan juga Novi pernah membawa seorang pria ke dalam kamarnya.
Satria sangat marah, dia percaya pada semua perkataan Faisal. Karena menurutnya adiknya itu selalu berkata jujur dan bukanlah pria yang berpikiran mesum.
"Apa kau percaya dengan ucapan adikmu itu hah?!" Novi berkata dengan nada tinggi.
"Iya, aku percaya pada Faisal. Aku pikir kau sudah berubah tetapi aku salah!" bentak Satria yang masih terbawa emosi.
Batin Novi sangat sakit mendengar semua perkataan Satria, dia memutuskan untuk pergi dari apartemen dan langsung berjalan menuju apartementnya yang tidak begitu jauh dari apartement Satria.
Novi berjalan terhuyung-huyung karena efek dari semprotan yang diberikan oleh Faisal mulai bekerja. Dia tiba di pintu apartemennya lalu menekan kata sandi. Pintu terbuka, dia berjalan memasuki apartementnya dan pintuku tertutup secara otomatis terkunci.
Dia berjalan dengan melepaskan satu persatu pakaiannya memasuki kamar. Lalu menuju kamar mandi, dia menyalakan air dengan suhu air yang sangat dingin di dalam bhatup.
Setelah air di dalam bhatup penuh Novi memasukkan seluruh tubuhnya ke dalam bhatup. Di merendam tubuhnya dengan air yang begitu dingin agar menghilangkan rasa panas di dalam tubuhnya.
Novi terus merendam tubuhnya hingga rasa panas dalam tubuhnya hilang. Dua sampai tiga jam berlalu akhirnya dia bisa merasa lebih baik. Dia keluar dari bhatup dan membersihkan dirinya karena dia menghilangkan bekas sentuhan Faisal.
Dia berjalan keluar dari kamar mandi lalu melangkah perlahan menuju almari guna mengambil pakaian. Untung saja dia tidak membawa seluruh batangnya ke apartemen Satria. Sehingga masih ada barang-barang yang bisa digunakan.
"Aku tidak menyangka kau akan percaya begitu saja pada Faisal! Apakah sekotor itukah diriku dimatanya?" gumam Novi sembari merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Dia merasa lelah dengan apa yang baru saja terjadi, begitu sakit hatinya karena suaminya sendiri tidak percaya akan dirinya. Memang dulu dia nakal dan hidup di dunia gemerlap tetapi semua itu sudah ditinggalkannya.
Air matanya menetes hingga akhirnya tangisnya keluar, dia meluapkan semua emosinya. Berteriak sembari menangis dan memukul dadanya untuk menghentikan rasa sakit yang ada.
Dia terus menangis hingga akhirnya terlelap, begitu sakit hatinya sehingga tidak ingin kembali pada orang yang sudah tidak mempercayainya.
Dilain tempat Satria yang masih merasa marah hanya bisa duduk di atas sofa kamarnya. Dia sungguh tidak menyangka jika Novi akan melakukan semua itu. Dia mengira istrinya itu sudah berubah tetapi itu hanya sandiwaranya saja.
"Jika kau ingin bebas? Seharusnya kau katakan padaku, jangan kau menghancurkan kepercayaanku seperti ini?" gumamnya Satria sembari menyalakan sebatang rokok.
Keesokan harinya Novi terbangun dengan kepala yang terasa berat dan kedua matanya yang sembab. Karena terlalu lama menangis, dia berusaha untuk berjalan menuju kamar mandi guna mencuci wajahnya.
Novi mendekati almari guna melihat apakah dia masih menyimpan salah satu ponsel yang dulu sempat dia gunakan. Dia menyalakan ponselnya tersebut guna menghubungi Lili jika untuk beberapa hari ini dia tidak akan masuk kerja.
Dia mengatakan jika akan menjelaskan semuanya jika dia sudah kembali masuk kerja. Lili merasa ada yang aneh dengan Novi, dia yakin telah terjadi sesuatu dengannya.
Namu Lili tidak akan memaksanya untuk menceritakan semuanya, mungkin dia membutuhkan waktu untuk menenangkan pikirannya. Nanti juga kalau dia sudah tenang akan menceritakan semuanya.
Lili mengijinkan Novi untuk tidak masuk kerja, dia menyuruh Novi untuk menenangkan diri. Sedangkan pekerjaan di perusahaannya masih bisa di atasi.
Setalah mendapat izin dari Lili, Novi hanya bisa diam dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Saat ini yang dia butuhkan adalah suasana yang bisa menenangkan pikirannya.
Terdengar suara seseorang menekan bel apartemen Lili, dia tahu jika itu adalah Satria. Tidak ada niat dalam hatinya untuk membuka pintu itu.
Hatinya masih sangat sakit dengan semua perkataan Satria dan ketidak percayaannya pada Novi. Dia mengabaikan semua itu dan suara itu pun berhenti.
"Aku harus mengambil barang-barang di apartemennya!" gumam Novi.
__ADS_1
Dia menunggu hingga siang karena Faisal pasti sudah pergi. Setelah menunggu hingga siang, dia memasuki apartement Satria. Dia melangkah cepat menuju kamarnya lalu membereskan barang yang akan dia perlukan.
Melihat seluruh kamar ini yang penuh dengan kebahagiaan tetapi itu hancur hanya seketika. Dan itu hancur juga oleh kesalahpahaman dan pitnah yang dilakukan oleh Faisal.
Namun, dia tidak menyalakan sepenuhnya kesalahan pada Faisal. Karena yang menjadi masalah adalah Satria yang tidak mempercayainya.
Setelah barang yang dia butuhkan rapi di dalam sebuah tas ransel, dia bergegas meninggalkan apartement. Karena dia tidak ingin melihat wajah kedua adik kakak yang sudah membuatnya menderita.
***
Dilain tempat Sarada yang sudah berada di apartemen di jaga dengan baik oleh Maru. Karena masih lemah sehingga Maru tidak memperbolehkan Sarada untuk banyak bergerak.
"Aku sudah membaik, pergilah kau bekerja! Tidak enak jika kau tidak masuk terus-menerus," Sarada berkata pada Maru yang duduk di sampingnya.
"Hari ini aku akan menemanimu, besok aku akan kembali bekerja!" jawabnya pada Sarada.
Maru terus memegang perut Sarada yang saat ini sedang mengandung calon anaknya. Dia berharap bayi yang ada dalam kandungan Sarada sehat selalu hingga kelahirannya nanti.
Sarada tersenyum melihat perhatian Maru pada calon anaknya, meski terkadang dia merasa cemburu karena Maru lebih memperhatikan kandungannya dibanding dengan dirinya sendiri.
Namun, dia juga merasa senang akhirnya dia bisa mengandung dan memberikan seorang anak bagi Maru. Baginya memberikan seorang anak pada Maru hal yang sangat membahagiakan.
Ponsel Maru berdering, dia mengangkat ponselnya. Dia tidak tahu nomor siapa yang menghubunginya. Setelah mengangkatnya dia mengetahui jika nomor yang menghubunginya adalah Kenzo.
Kenzo meminta bertemu dengannya dan Sarada karena Yuki ingin bertemu dengan mereka. Yuki merengek pada Kenzo untuk mempertemukannya dengan Sarada dan Maru.
Namun, Kenzo tidak enak jika meminta pada Lili dan Arata. Karena jika mereka yang meminta makan Maru akan bergegas datang ke rumahnya tanpa memperhatikan kesehatan Sarada.
Kenzo meminta alamat Maru, karena dia sudah berada di jalan bersama dengan Yuki. Maru pun memberikan alamat apartementnya. Setelah itu dia menutup sambungan teleponnya.
"Siapa yang menghubungimu?!" tanya Sarada dengan lembut.
"Tuan Kenzo dan Nona Yuki akan tiba sebentar lagi! Katanya Yuki ingin sekali bertemu denganmu!" jawab Maru pada Sarada.
Sarada tersenyum, laku dia bangun dari posisi duduknya guna mempersiapkan semua camilan dan minuman untuk Yuki. Maru melarangnya untuk bergerak terlalu cepat dan tidak boleh kelelahan.
Karena tidak ingin melihat istrinya kelelahan, Maru pun membatu Sarada untuk mempersiapkan semuanya, dia tidak bisa melarangnya untuk menghentikan semua ini.
Terdengar suara bel apartemen, Maru bergegas membuka pintunya. Dia melihat Kenzo yang sedang menggendong Yuki, gadis kecil itu tanpa mengatakan apa-apa langsung memeluk Maru.
Sehingga membuat Kenzo terkejut, secara refleks dia mendekatkan tubuhnya pada Maru agar Yuki tidak terjatuh. Maru tersenyum lalu mengambil Yuki dari pengakuan Kenzo.
Maru mempersilakan Kenzo untuk masuk sembari menggendong Yuki. Kenzo pun masuk lalu duduk di atas sofa, dia melihat Sarada yang sudah memegang nampan berisikan minuman dan camilan.
Maru bergegas mendekati Sarada guna membantu, Yuki yang menyadari jika Maru harus membantu Sarada meminta turun dari gendongannya.
Mereka pun berbincang-bincang, Yuki bertanya pada Sarada bagaimana dengan keadaanya dan calon adik yang ada di perutnya sembari memegang lembut perut Sarada.
"Aku baik-baik saja begitu juga dengan calon bayi yang ada di perutku," jawab Sarada dengan lembut pada Yuki.
Yuki senang dengan jawaban yang Sarada katakan, lalu dia terus mengelus perut Sarada dengan lembut. Dia juga membisikan sesuatu yang bengitu manis di perut Sarada seraya mengajak bicara calon bayi yang ada di perut Sarada.
Semua yang melihat sikap Yuki tersenyum betapa manisnya Yuki memperlakukan calon bayi Sarada yang masih ada di dalam perut. Gadis kecil ini meminta maaf pada Sarada dan Maru, karena dia merasa bersalah atas yang terjadi pada Sarada.
Sarada memeluk Yuki dengan lembut lalu dianggarkan jika tidak perlu meminta maaf. Karena semua yang terjadi bukan salahnya, ini semua salah orang yang sangat jahat itu. Lagi pula sekarang keadaannya dan kandungannya baik-baik saja.
Setelah berbincang-bincang, Kenzo meminta izin untuk pulang. Karena masih ada pekerjaan yang harus dikerjakannya. Sebelum pergi dia mengatakan permintaan maaf yang sebesar-besarnya dan membungkukkan tubuhnya pada Sarada dan Maru. Setelah itu Kenzo pergi meninggalkan Maru dan Sarada yang masih terkesima dengan sikap Kenzo.
"Dia orang yang sangat baik! Entah mengapa jika orang yang baik selalu saja menjadi incaran para manusia jahat!" Sarada berkata dengan nada kesal jika mengingat kembali cerita Yuki.
"Sayang, tenangkan dirimu! Ingat di dalam perutku ada calon bayi kita!" Maru berkata semabri memeluk erat Sarada lalu mengelus lembut perutnya.
Maru membantu Sarada membersihkan semua benda kotor sedangkan Sarada hanya diam memperhatikan saja duduk di atas kursi dekat pantry.
Maru yang seperti ini membuatnya sangat bahagia, dia merasa beruntung memiliki dia sebagai suaminya. Ponsel Maru berdering, Sarada melihat siapa yang menghubungi Maru.
Melihat nama ayah yang tertera di layar ponsel Maru, Sarada mengatakan pada Maru bahwa ayah menghubunginya. Maru menyuruhnya untuk mengangkatnya.
Sarada pun mengangkat teleponnya, ayah mengatakan jika malam ini akan tiba di apartemen. Dia begitu terkejut dengan yang ayah katakan, setelah mengatakan itu ayah langsung menutup sambungan teleponnya.
"Ayah akan tiba malam ini di sini!" Sarada berkata pada Maru.
"Kenapa ayah tidak mengatakan terlebih dahulu padaku? Jika aku tahu ayah hendak kemari, aku bisa menjemputnya." ucap Maru pada Sarada, tetapi dia juga tidak bisa marah pada ayah.
"Aku siapkan kamar untuk ayah dan ibu," Sarada mengatakan itu sembari berjalan menuju slash satu kamar yang kosong dan biasa digunakan jika ada tamu yang mengunjunginya.
Setelah selesai dengan membersihkan barang-barang yang ada di pantry, Maru berjalan menghampiri Sarada yang sedang merapikan kamar untuk ayah dan ibu.
"Hentikan itu! Biar aku yang melakukannya, kau duduk saja di atas sofa dan perhatikanku saja." Maru mengatakan itu lalu mengerjakan apa yang belum terselesaikan oleh Sarada.
Sarada tersenyum melihat apa yang dilakukan oleh Maru semenjak dia kembali dari rumah sakit. Dia merasakan seperti seorang majikan yang melihat bawahannya merapikan rumah.
Dia tahu jika Maru selalu memerintah semua pelayan yang ada di rumah Lili. Dia bisa di bilang begitu tegas sehingga tidak ada pelayan yang berani membantahnya tetapi dia juga akan membela jika ada pelayan yang mendapatkan masalah.
"Bagaimana Nyonya Maru? Apakah yang aku kerjakan sudah rapi?" Maru bertanya pada Sarada seraya seorang pelayan memberikan semua pelayanan yang baik.
__ADS_1
Sarada tersenyum, dia menghampiri Maru yang berdiri dengan membungkukkan tubuhnya. Lalu dia memiliknya dengan erat, dia membisikkan padanya bahwa dirinya merasa puas mendapatkan pelayanan dari suaminya yang tercinta.
Mendengar itu Maru membalas pelukan Sarada dengan lembut lalu dia mengecup bibir Sarada dengan kelembutannya. Sehingga Sarada pun membalas kecupannya.
"Aku lelah, bisakah aku beristirahat sejenak?" Sarada bertanya pada Maru.
Maru tersenyum lalu dia menggendong Sarada dengan lembut, dia berjalan perlahan menuju kamarnya. Lalu membaringkan Sarada secara perlahan.
"Istirahatlah, biar aku yang menunggu kedatangan ayah dan ibu!" Maru berkata sembari mengecup kening Sarada dengan lembut.
***
Di dalam kamar Arata merasa bingung dengan sikap Lili setelah dia kembali dari kantornya. Dia menghampirinya yang sedang berdiri di balkon kamar. Lalu memeluknya dengan lembut.
"Ada apa, sayang?!" Arata bertanya dengan lembut pada Lili yang sedang memandangi langit.
Lili memegang lengan Arata yang melingkar di dadanya lalu dia berkata, " Sepertinya ada masalah dengan Novi, karena dia meminta izin tidak masuk kerja selama beberapa hari kedepan. Aku yakin telah terjadi pertengkaran antara dia dan Satria."
Arata hanya diam semabri berpikir apa yang sudah dikatakan oleh Lili. Karena dia tidak tahu apa yang terjadi pada Novi dan Satria, jika memang benar mereka sedang bertengkar dia berharap masalah mereka bisa cepat terselesaikan.
"Dengar, sayang untuk saat ini yang terbaik adalah berdoa untuk kebaikan mereka berdua! Jika mereka membutuhkan kita sebagai penengah maka kita akan melakukan semuanya dengan sebaik mungkin. Namun, jika mereka bisa mengatasi semuanya itu lebih bagus!" ucap Arata pada Lili guna menenangkannya.
Setelah berbincang di balkon, Arata menggendong Lili dengan lembut lalu membawanya masuk ke dalam kamar. Dia menghempaskan tubuh Lili dengan lembut ke atas tempat tidur.
"Istirahat, aku tahu hari ini begitu melelahkan bagimu! Jangan memikirkan hal-hal yang buruk, pikirkan saja yang baik-baik." Arata berucap lalu merebahkan tubuhnya di samping Lili.
Mereka pun beristirahat karena hari ini baik untuk Lili atau Arata sangatlah melelahkan. Karena Asisten yang biasa membantu mereka tidak masuk kerja.
Keesokan harinya Lili terbangun karena suara ketukan pintu kamarnya. Dia segera berdiri dan berjalan menuju pintu kamarnya lalu membuka pintu.
Pintu kamar terbuka dia melihat sang ibu yang sudah berdiri di depan pintu. Terlihat wajah sedih di wajah ibu tetapi Lili tidak tahu apa yang terjadi pada ibunya.
"Ada apa, Bu?!" tanya Lili yang sudah mulai khawatir karena wajah ibu yang terlihat sedih.
"Mama Hani ...," Ibu tidak bisa melanjutkan kata-katanya lagi.
Air mata ibu langsung mengalir deras di kedua pipinya, itu semua membuat Lili semakin khawatir. Apakah sudah terjadi sesuatu maka mama Hani? Sebenarnya ada apa ini? Semua pertanyaan melayang di dalam pikiran Lili.
"Katakan padaku, Bu? Apa yang terjadi pada mama?!" terikat Lili yang sudah tidak tahan dengan diam dan tangisan sang ibu.
Sehingga membuat Arata terkejut dan terbangun dari tidurnya. Lalu dia menghampiri Lili dan ibu yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya. Dia bertanya ada pa sebenarnya mengapa semuanya terlihat sangat sedih dan khawatir.
"Mama Hani ... Masuk rumah sakit, dalam keadaan kritis." Ucap ibu sembari menangis.
Mendengar itu Lili terhuyung kebelakang dan Arata dengan cepat memegang pundak Lili agar dia tidak terjatuh. Lili berlari keluar guna pergi ke rumah sakit.
Arata mengejarnya karena Lili tidak menggunakan sandal atau sepatu. Dia khawatir jika kedua kakinya terluka tetapi larinya begitu cepat. Namun, Arata tidak akan membiarkan dia terluka.
"Hentikan ini, sayang! Tenangkan dirimu!" Arata berkata pada Lili, dia berhasil menarik lengannya dan memeluknya dengan erat.
Arata berusaha menenangkan Lili, dia mengatakan akan mengantarnya ke rumah sakit. Lili sudah tidak meronta lagi tetapi tangisnya tidak dapat dihentikan.
Seorang pelayan membawakan sepatu untuk di gunakan oleh Lili, setelah itu dia pergi ke rumah sakit guna melihat kondisi mama Hani. Sebelum berangkat ke rumah sakit, ibu mengatakan pada Arata untuk selalu memberinya kabar.
Setalah mendengar perkataan ibu, Arata langsung tancap gas mobilnya sehingga melesat meninggalkan rumah menuju rumah sakit. Dalam perjalanan Lili hanya menangis dia sangat takut jika terjadi sesuatu pada mamanya.
Tibalah Arata dan Lili di rumah sakit, Lili keluar dari mobil lalu berlari memasuki rumah sakit. Lalu dia bertanya pada seorang perawat tentang dimana ruang rawat mamanya.
Arata yang mengejar Lili berusaha menenangkannya lagi, karena Lili terus bertanya tentang ruang mama Hani. Seorang perawat mengatakan di mana ruang rawat mama Hani.
Lili mengucapkan terima kasih laku berlari menuju ruang rawat mama Hani. Tibalah dia di depan pintu ruang rawat mama Hani dengan napas yang terengah-engah.
Dia berusaha membuka pintu itu tetapi ada rasa takut dalam dirinya. Arata yang melihat Lili hanya diam tahu apa yang harus dia lakukan untuk membatu istrinya.
Arata membuka secara perlahan pintu ruang rawat mama Hani dan dia memegang pundak Lili dengan lembut. Seraya memberikan kekuatan pada Lili.
Mereka pun masuk ke dalam ruangan rawat inap, terlihat papa Karim yang sedang berdiri sembari melihat kondisi istrinya. Terlihat kesedihan di wajahnya.
"Bagaimana keadaan Mama?" tanya Lili dengan lirih.
Papa yang mendengar suara Lili langsung membalikkan tubuhnya guna melihat putri yang dia cintai. Tanpa mengatakan apa-apa lagi Lili bergegas memeluk ayah.
Setelah itu Lili melepaskan dirinya dari pelukan ayah, lalu berjalan mendekati mama Hani yang sedang terbaring tidak sadarkan diri. Dia hanya melihat dengan sorot mata yang sangat sedih.
Arata bertanya pada ayah Karim sebenarnya mengapa bisa terjadi hal seperti ini. Sebenarnya apa tidak tahu kejadian yang pastinya tetapi yang pasti mama Hani terjatuh di dalam kamar mandi.
Saat papa Karim melihat keadaan mama Hani sudah tidak sadarkan diri. Lalu papa menghubungi sebuah rumah sakit untuk mengirim sebuah ambulance ke rumah.
Dokter sedang melakukan tes apakah kepala Mama Hani mengalami geger otak atau tidak. Namun, yang pasti mama Hani belum tersadar sedari terjatuh hingga saat ini.
Sekarang hanya bisa menunggu kesadaran dari mama Hani, Lili hanya bisa menangis sembari memegang erat lengan mama. Sungguh dia belum siap untuk kehilangan mama Hani karena dia belum bisa membahagiakannya.
"Ma, bangunlah! Bukankah kau masih ingin melihatku memiliki seorang bayi? Aku mohon Ma, bangunlah! Jangan buat aku menjadi anak yang tidak berbakti karena tidak bisa membahagiakanmu!" lirih Lili.
"Tenangkan dirimu, sayang! Jika kau lemah seperti ini maka Mama akan merasa sedih! Jadi kau harus kuat demi Mama Hani!" bisik Arata pada Lili.
__ADS_1
Lili pun berusaha untuk tenang dan tidak menangis lagi, dalam hatinya mengatakan jika yang dikatakan oleh Arata benar. Dia tidak boleh menangis dan lemah di hadapan mama.