
Akhirnya pekerjaan ku beres, wah sudah sore nih lebih baik aku langsung pulang deh sebelum Alex sampai rumah. Aku pun pamit pulang pada Ibu dan pak Dim. Setelah itu aku langsung pulang, jalanan di sore hari sangat macet. Sebenarnya lebih enak naik motor dari pada mobil, tapi Alex tidak mengijinkan ku pakai motor. Ahh sungguh merepotkan kalo sudah main perintah aku ga bisa berkutik.
Beberapa saat kemudian aku sampai dirumah, aku disambut oleh Adam dengan wajah yang berseri. Dia benar-benar membuatku sedikit kesal tadi siang, kenapa juga aku membela dia. Haha tapi lucu juga kalo liat ekspresi dia yang mau di lempar ke Afrika.
"Sore Mba ku tersayang." Ucap Adam dengan nada bahagia.
"Sore lagi Adam," jawab ku dengan senyum tipis.
"Mba makasih ya yang tadi siang, hehe kalau ga da Mba mungkin aku sudah terdampar di Afrika!"
"Ohh jadi kau menjadikan ku sebagai tameng hah!"
"Bukan Mba bukan begitu, ahh Mba jangan marah deh kenapa kalau liat Mba marah seperti macan betina pas banget sama Mas Alex kalau marah seperti macan. Ahh ternyata kalian memang pasangan yang cocok."
"Apa yang kau katakan tadi Adam!" Alex berkata dengan nada tinggi serasa mau menerkam mangsanya.
Aku kaget seketika dan memalingkan wajahku ke belakang dan tanpa sengaja bibirku bertabrakan dengan bibir Alex.
"Ahh kalian berdua memang benar-benar ya menghancurkan hati ku sebagai jomblo sejati. Aku jadi pingin kan punya istri, sana masuk kamar kalian kalau mau bermesraan!" Goda Adam padaku dan Alex, sambil berjalan meninggalkan kami.
"Ayo kita lanjutkan kecupan yang tadi, selagi Adam tidak mengganggu kita!" Bisik Alex di telinga Alin.
"Hentikan dasar mesum!" Aku berkata sambil berjalan meninggalkan nya.
'Hahaha dasar kau istri tengilku, malam ini aku akan menghukum mu karena sudah berani membela Adam.' gumam Alex dalam hati, dan berjalan mengikuti Alin dari belakang menuju kamar.
Lebih baik aku mandi dulu deh!
Sebelum suami mesumku masuk dan menarik ku ke dalam pelukannya. Selesai mandi, aku melihat Alex sedang duduk di sofa dengan nyamannya. Aku menghampirinya untuk menyuruhnya mandi.
"Yang mandi gih! Sekarang giliran kamu mandi."
Alex menghiraukan ku.
Apa yang sedang dia pikirkan sampai dia tidak mendengarkan perkataan ku?
Seketika muncul ide jahil ku untuk menggodanya.
Ku bungkukkan tubuhku, perlahan ku dekatkan wajahku pada bagian samping kepalanya. Dia masih tidak menyadari kehadiranku. Ku kecup bagian pipi belakangnya, hampir menyentuh telinganya. Alex kaget, lalu memundurkan sedikit kepalanya agar dapat menatapku. Aku tersenyum manis padanya.
Dengan sigap, Alex meraih tanganku kemudian menarikku hingga tubuhku terjun bebas ke atas pangkuannya.
"Kamu selalu saja menggodaku," lirih Alex.
"Habisnya kamu keasyikan melamun. Aku ajakin ngomong gak dengerin," ucapku bernada manja.
Alex tersenyum. Perlahan menarik tubuhku agar lebih dekat dengannya, lalu mengecup bibirku kilas.
Ku kalungkan kedua lenganku pada pundaknya, jarak wajah kami belum terlalu jauh, ku balas menciumnya. Ku nikmati bibirnya sebelum ku selipkan lidahku ke dalam mulutnya, untuk mengeksplor lebih jauh.
Kami saling mengecap, menikmati segala gerakkan dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Tadinya aku hanya ingin menggodanya, sekarang kenapa malah aku berbalik menikmati semua ini?
Sepertinya malah aku yang tergoda sekarang.
Tiba-tiba saja jemari Alex menyibak rambut dibahuku, lalu membelai lembut tengkuk leherku. Memperdalam ciuman lembut yang kini berubah perlahan menjadi sebuah lumatan.
Aku hampir saja kehabisan nafas, saat Alex terus saja mengecap lidahku. Sampai akhirnya ku dorong sedikit bahunya. Ia melepaskan lumatan itu.
"Loh kenapa?" tanyanya heran.
"Aku bisa mati sesak nafas kalau caranya seperti itu."
Alex terkekeh geli, "Maaf, sayangku."
Senyuman Alex sungguh manis, ia mengedipkan sebelah matanya, kembali menggodaku. Jemarinya masih saja bertengger di tengkuk leherku. Mengelus lembut yang membuatku perlahan mulai menikmati sentuhan itu. Ia kembali mengecup bibirku, aku terbuai.
Kini jemarinya kembali turun membelai punggungku. Sedangkan kecupan kami saling semakin mendalam. Alex perlahan menjadi rakus menikmati kecupan demi kecupan. Lalu di dekapnya tubuhku, mengangkatku menuju ranjang. Dihentikannya kecupan itu, di hempaskannya tubuhku ke atas ranjang.
Ku lihat wajah Alex yang tersenyum padaku. Dengan perlahan ia menaiki tubuhku, membelai lembut pipiku, kemudian mengecup keningku, kedua pipiku lalu berakhir pada bibirku.
****
Keesokan harinya, aku terbangun dan disampingku Alex masih tertidur pulas. Kupandangi wajahnya yang terlihat sangat tampan, inikah imamku. Aku akan selalu menjadi makmum mu sampai maut memisahkan kan kita. Ku kecup kening nya dengan lembut, lalu aku beranjak untuk membersihkan diri dari pergulatan ku semalam.
Setelah ku selesai mandi, ternyata Alex belum terbangun. Entah kenapa tingkat kejahilan ku meningkat, aku pun berniat menjahili nya lagi. Kuambil gelas yang berisi air, ku percikkan air ke wajahnya. Seketika dia terbangun dan langsung menarik tangan ku langsung memeluk ku.
__ADS_1
"Sayang kenapa semakin kesini tingkat kejahilan ku meningkat hah!" Bisik Alex di telingaku.
"Haha entahlah, sudah lepaskan mandi gih semuanya udah aku siapkan."
"Bentar lagi ya Yang, aku masih ingin memelukmu. Terimakasih ya Yang."
"Terimakasih untuk apa?" Jawabku keheranan.
"Terimakasih untuk yang semalam." Alex berkata sambil mengecup keningku dengan lembut.
Aku hanya tersenyum mendengar apa yang di ucapkan Alex.
"Ya udah mandi gih!"
"Yang mau sarapan di bawah apa di kamar?" Tanya ku pada Alex yang masih mandi.
"Suruh pelayan buat bawa sarapan kemari!" Jawab Alex.
"Tok ...."
"Tok...."
"Tok...."
Sura pintu kamar di ketuk, aku membuka pintu kamarku dan melihat siapa yang ada di balik pintu, ternyata seorang pelayan.
"Maaf Nona, Nyonya Rahma bertanya apakah Nona dan Tuan mau sarapan di bawah apa di bawa kemari?" Seorang pelayan bertanya dengan hormat.
"Bawa saja kemari!" Ucap Alex yang baru selesai mandi.
"Baik Tuan, saya akan antarkan kemari."
Aku pun menyiapkan pakaian Alex, dan bersiap untuk pergi ke kantor. Beberapa saat kemudian pelayan membawakan sarapan yang sudah disiapkan.
"Yang hari ini kamu ke kantor?" Tanya Alex padaku.
"Iya Yang, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan kasian Ibu Sinta, sepertinya dia sedang ada masalah entah apa masalahnya." Ucapku dengan nada sedih.
Alex mengecup ku keningku dan berkata, "sudah jangan sedih positif thinking saja ya Yang, Ibu Sinta ga akan kenapa-napa, berdoa saja sama Yang Maha Kuasa."
"Iya Yang, makasih ya!"
Drrrttttt...
Drrrttttt...
Drrrttttt...
Handphone ku berbunyi, kulihat di layar ternyata pak Dim kenapa pagi-pagi meneleponku.
Angkat.
"Hallo Nona Alin, Nona bisa kah ke rumah sakit sekarang!" Pak Dim berkata dengan nada khawatir.
"Rumah sakit! Siapa yang sakit?" Tanya ku pada pak Dim.
"Nona pokoknya Nona segera kemari nanti Nona akan tahu sendiri!"
"Apa ini ada hubungan nya dengan Ibu? Jawab pak Dim?" Nada ku mulai meninggi.
"Iya Nona, cepat lah kemari saya mohon!" Ucap pak Dim yang menandakan bahwa aku harus secepatnya ke rumah sakit.
"Oke aku akan kesana secepat mungkin, di rumah sakit mana?"
"Dimas Sakit xxx," Jawab pak Dim.
"Ok...!" Aku langsung menutup telepon dan langsung mengambil tas ku.
Alex yang melihat sikap Alin yang kalut entah apa yang dipikirkannya bertanya, "apa yang terjadi?"
"Alex, Ibu Sinta entahlah aku harus segera ke Rumah Sakit!"
"Tunggu, aku ikut dengan mu!"
Rumah Sakit.
Disana sudah ada Pak Dim yang sudah menungguku. Aku langsung mendekatinya, dan berkata "bagaimana dengan Ibu?"
__ADS_1
"Nyonya tadi jatuh tak sadarkan diri, saya langsung membawa Nyonya ke rumah sakit," Jawab Pak Dim.
"Katakan padaku sebenarnya Ibu sakit apa?"
"Nyonya menginap kanker stadium empat," jawab Pak Dim dengan nada sedih.
"Brugggg...!"
Aku tak kuasa mendengar apa yang baru saja Pak Dim katakan. Kaki ku terasa lemas, aku terkulai lemas kenapa Ibu bisa sakit separah ini? Dan tidak memberitahuku? Apakah aku sudah tidak dianggap sebagai putrinya. Tak terasa air mataku menetes keluar.
Alex yang melihatku terjatuh lemas langsung memegang bahuku seraya memberikan kekuatannya agar aku kuat. Aku pun berusaha berdiri di bantu Alex, dan Alex merangkul ku sehingga aku bisa bersandar padanya.
Beberapa saat kemudian seorang Dokter datang menghampiri kami. Dan berkata, "siapa keluarga Nyonya Sinta?"
Aku menjawab, "saya Dok? Bagaimana keadaan Ibu saya?"
"Baiklah Nona bisa ikut dengan saya?" Dokter berkata sambil berjalan menuju ruangan nya.
Aku dan Alex mengikuti Dokter dari belakang menuju ruangannya. Akupun masuk ke dalam ruangan dan duduk berhadapan dengan Dokter. Dokter menjelaskan bahwa Ibu mengidap kanker servik stadium empat. Aku kaget mendengar apa yang di ucapkan Dokter.
"Sejak kapan Ibu menderita penyakit ini? Kenapa aku tidak mengetahuinya?" Aku tak kuasa menahan tangisku.
"Nyoya sudah mengetahui hal ini sejak setahun yang lalu, tapi beliau tidak ingin siapapun mengetahuinya. Bahkan Nyonya pun tidak menginginkan di lakukan pengobatan yang nantinya akan membuat Nyonya berada di rumah sakit dalam jangka waktu yang lama."
"Kenapa bisa seperti ini sih? Yang kenapa Ibu tidak memberitahukan padaku tentang penyakit yang di deritanya?" Huhuhuhuhu tangisku menyeruak di dalam ruangan.
Alex hanya bisa memeluk dan menenangkan ku, "sabar sayang, kamu tidak boleh seperti ini! Ibu sangat membutuhkan kita, jangan Samapi kita terlihat lemah di depannya."
"Baik Dokter, terimakasih atas informasinya saya harap Anda bisa melakukan semua yang terbaik untuk kesembuhan Ibu kami!" Ucap Alex.
"Sama-sama Tuan, saya akan berusaha dengan semua kemampuan kami!" Dokter menjawab.
Alex pun membawaku keluar ruangan, kaki ku semakin lemas tak berdaya. "Kenapa setiap orang yang kusayangi selalu pergi meninggalkan ku? Apakah aku tidak pantas menerima kasih sayang mereka? Apakah aku adalah manusia berdosa?" Huhuhuhuhu.
"Tenangkan dirimu sayang, jangan sampai kamu menemui Ibu dengan keadaan seperti ini! Kamu harus kuat, dengarkan aku!" Alex berkata sambil memelukku.
Aku hanya bisa menangis, aku tidak bisa berpikir apa-apa. Meski dia bukan Ibu kandungku tapi aku sudah menganggapnya seperti Ibu kandungku sendiri. Aku sangat menyayanginya, kenapa harus seperti ini.
"Sayang dengarkan aku! Kamu harus kuat dan tidak boleh terlihat lemah di hadapan Ibu!"
"Iya Yang, kamu benar aku tidak boleh lemah dihadapan Ibu. Aku harus kuat aku ingin membahagiakannya walau sesaat."
____________________________________________
Sekilas Info kanker serviks
Kanker serviks stadium 4 adalah salah satu fase tertinggi dari kategori kanker serviks. Kondisi kanker seviks ini sudah masuk dalam tahap stadium lanjut. Salah satu penyebab angka kematian tertinggi penderita kanker serviks adalah terlambatnya proses pemeriksaan kanker. Di beberapa negara maju seperti Amerika, Inggris dan Eropa, kanker serviks lebih cepat ditangani karena biasanya ditemukan dalam kondisi yang masih awal. Sementara di negara berkembang (termasuk Indonesia) pemeriksaan kanker serviks belum terlalu dipahami oleh masyarakat.
Gejala Kanker Serviks Stadium 4
Kanker serviks stadium 4 adalah kondisi kanker yang sudah masuk dalam tahap lanjut. Kanker pada kondisi ini sudah menyebar ke berbagai organ lain dalam tubuh bahkan diluar bagian leher rahim. Kondisi kanker yang sudah menyebar ke bagian kandung kemih hingga rektum masuk dalam stadium 4A. Jika kanker telah masuk ke organ lain seperti paru-paru maka akan masuk dalam stadium 4B. Gejala dari kanker serviks stadium 4 adalah seperti di bawah ini.
pendarahan hebat saat tidak sedang menstruasi dan menjelang atau sesudah masuk tahap menopause.
Ada rasa sakit yang muncul pada tulang, otot dan panggul bagin bawah.
Muncul rasa sakit yang berlebihan saat buang air besar atau buang air kecil dan bahkan kadang disertai dengan pendarahan.
Mengalami gangguan nafsu makan, lelah dan badan menjadi lebih lemah.
Biasanya penderita akan mengalami penurunan berat badan yang terjadi dalam waktu yang sangat cepat.
Terkadang jika kanker telah menyebar ke bagian otot tubuh, maka seluruh badan akan merasa sakit dan tidak nyaman.
https://faktakanker.com/kanker\-serviks/kanker\-serviks\-stadium\-4\-gambar\-gejala\-ciri\-cara\-deteksi\-pengobatan
___________________________________________
Sampai bertemu di bab berikutnya 😊
___________________________________________
Jika ada yang ingin ditanyakan padaku tentang karya dan bisa langsung menghubungi ku via akun Instagram.
Klik search di Instagram dengan nama akun :
@macan_nurul
__ADS_1
Sekali lagi terimakasih untuk kalian semua 💋💋 jangan lupa ya klik dan komen ya juga vote ya 😉