Musuhku Menjadi Imamku

Musuhku Menjadi Imamku
Extra Part Lili-24


__ADS_3

Muachhhh, pagi sayang."


Lili tersenyum lembut dengan apa yang Arata lakukan, setelah pergulatan semalam. Yang membuat Lili begitu kelelahan, dia tidak habis pikir dengan kekuatan yang dimiliki Arata.


Arata bangun dari tempat tidur lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Selagi Arata didalam kamar mandi, Lili berusaha mengumpulkan tenaganya.


Beberapa saat kemudian Arata keluar dari kamar mandi, di tatapnya Lili yang masih berada di atas ranjang. Dia pun menghampirinya, sambil tersenyum dia berbisik "Apa kau mau lagi sayang?!"


Lili terkejut lalu sedikit mendorong tubuh Arata, sudah cukup tadi malam dalam benaknya. Semalam permainan Arata begitu liar, sehingga dia melakukannya lebih dari dua jam.


Lili berusaha berdiri untuk menuju kamar mandi, saat hendak berdiri kedua kakinya lemas. Arata terkekeh melihat Lili yang lemas tidak bisa berjalan.


"Huh inikan ulahmu! Yang terus saja menyerangku!" gerutu Lili yang kesal dengan tawa Arata.


Arata pun menggendong Lili menuju kamar mandi, senyuman selalu merekah di bibir Arata. Dia melihat Lili yang begitu membuatnya selalu ingin menerkamnya.


"Apa mau kumandikan juga?!"


Arata berbisik pada Lili, secara spontan Lili mendorong lembut Arata. Dia tahu jika Arata membantunya membersihkan diri, akan membutuhkan waktu yang lama. Arata terkekeh kembali melihat ekspresi Lili.


"Hentikan tawamu! Keluarlah!" Lili berkata dengan sedikit kesal.


Arata pun keluar dari kamar mandi, dia melepaskan Lili kali ini. Menurutnya semalam sudah cukup baginya melahap Lili. Beberapa saat kemudian Lili keluar dari kamar mandi. Dilihat sekeliling ruangan kamar, dia tidak melihat Arata.


"Fumiko!"


Lili terkejut mendengar teriakan Akhira yang memanggil-manggil Fumiko. Dalam pikiran Lili, apakah Fumiko menghilang lagi? Lili bergegas menghampiri Akhira. Ternyata sudah berkumpul, seluruh pelayan dan pengawal diperintahkan untuk mencari Fumiko.


Lili melihat Akhira begitu sedih, dia benar-benar mencintai Fumiko. Arata sudah pergi mencari Fumiko, lalu Akhira pergi juga untuk mencari. Lili meminta ijin pada ayah dan ibu untuk mencari Fumiko.


Lili berjalan mencari Fumiko, kakinya melangkah di daerah yang tidak dia kenal. Tibalah Lili di sebuah taman yang didalamnya ada sebuah danau yang cukup luas. Dia melihat seorang wanita sedang duduk sendiri, sembari memandangi danau.


Lili bergegas menghampirinya, ternyata benar wanita itu adalah Fumiko. Duduklah Lili disampingnya Fumiko, dia hanya diam tanpa kata-kata. Lili menunggu sesaat lalu bicara.


"Mengapa kau pergi?!"


Tanya Lili pada Fumiko yang sudah menyadari kehadirannya. Fumiko hanya diam, dia sibuk dengan pemikirannya. Yang pasti dia akan pergi meninggalkan semuanya lalu memulai hidup baru. Lili masih menunggu jawaban dari Fumiko, sembari mengirim pesan pada Arata.


Arata yang mendapatkan pesan dari Lili tentang keberadaan Fumiko segera menyuruh Akhira ke sebuah danau. Arata pun sama dia bergegas ke danau tersebut.


Lili bertanya kembali pada Fumiko, pertanyaan yang sama karena dia belum menjawabnya. Fumiko menarik napasnya, dia berusaha menguatkan diri untuk menjawab pertanyaan Lili.


"Aku sudah tidak pantas lagi berada di samping Akhira! Aku sudah cacat! Tubuhku menjijikan dengan bekas jahitan! Lagi pula aku sudah cukup membuat Akhira bersitegang dengan keluarganya! Aku sudah menyerah dengan semuanya! Aku kemari hanya ingin meminta maaf pada Tuan dan Nyonya Amida, setelah itu aku akan pergi selama-lamanya!"


Fumiko tidak menyadari bahwa di belakangnya sudah ada Akhira, mendengar perkataan Fumiko membuat Akhira sedih bercampur kesal. Mengapa Fumiko bisa menyerah begitu saja terhadap dirinya, batin Akhira.


"Apakah kau kan menyerah begitu saja lalu pergi meninggalkanku! Hanya sebesar itu kau mencintaiku!"


Fumiko terkejut mendengar Akhira berkata seperti itu, dia berdiri bergegas untuk pergi. Akhir yang melihat Fumiko hendak lari lagi darinya, segera mengejarnya dan memegang tangan Fumiko.


"Lepaskan aku Akhira! Aku sudah tidak pantas untukmu! Lebih baik kau mencari wanita yang tidak cacat sepertiku!"

__ADS_1


Fumiko berteriak sembari menangis, dia tidak tahan dengan semuanya. Dalam hatinya dia sangat mencintai Akhira, namun luka di dadanya membuat Fumiko tidak percaya diri.


"Apa maksudmu hah! Cacat?! Aku tidak melihat kecacatan dalam dirimu!"


Fumiko membuka kemejanya dan memperlihatkan dadanya yang sudah tak semulus dahulu, ada beberapa bekas jahitan yang tidak bisa menghilang. Fumiko berkata dengan nada sedihnya bahwa inilah yang membuatnya terlihat cacat.


Akhira terkejut dengan apa yang dilakukan Fumiko, dia menutup tubuh Fumiko dengan jas yang dia gunakan. Dipeluknya dengan erat Fumiko, dia berusaha menenangkannya. Namun Fumiko bersikeras untuk melepaskan diri dari dekapan Akhira.


"Tenanglah! Dengarkan aku, sampai kapanpun aku tidak akan melepaskanmu! Kau selamanya akan menjadi milikku dan kau tidak kuijinkan untuk pergi!"


Fumiko masih menangis dalam pelukan Akhira, dia sungguh tak mengira bahwa Akhira akan mengatakan semua ini. Dia begitu sangat mencintai Akhira, dari dulu hingga sekarang. Hanya Akhira seorang yang diinginkannya.


Lili begitu terharu melihat pernyataan Akhira pada Fumiko, hingga tidak terasa menitikan air mata. Arata yang melihat Lili menitikan air mata, memeluknya lalu mengecup keningnya.


"Kenapa?! Apakah aku tidak seromantis Akhira?"


Bisik Arata yang membuat Lili kegelian, dia tersenyum mendengar perkataan Arata. Dikecupnya sekilas bibir Arata, terjadilah kecupan hangat diantara mereka berdua. Mereka tidak menyadari ada orang yang sedang memperhatikan kemesraan mereka.


"Aku yang menyatakan cinta! Mengapa kalian yang bermesraan?!"


Lili langsung melepaskan kecupannya, dia terkejut bahwa Akhira dan Fumiko sedang memperhatikan mereka. Fumiko tersenyum melihat Lili serta Arata tersipu malu.


"Aku tidak menyangka bahwa Tuan Muda Arata bisa tersipu malu!"


Fumiko menggoda Arata yang merasa malu karena ketahuan sedang menikmati kecupan Lili. Semua tertawa dengan apa yang baru terjadi, merekapun memilih untuk segera kembali ke rumah.


Ayah serta ibu menunggu kedatangan anak-anaknya, mereka berharap Fumiko berhasil ditemukan. Beberapa saat kemudian Arata dan yang lainnya tiba, dilihatnya Fumiko ada bersama mereka. Hati ibu merasa lega, karena melihat Akhira yang tersenyum.


***


Akhira tidak ingin berlama-lama untuk menikahi Fumiko, karena sudah cukup penantian Fumiko untuk menunggunya. Ibu sangat senang dengan yang diminta oleh Akhira.


"Kau pun harus meminta ijin untuk menikah pada Ayah kandungmu!" Ayah berkata dengan sedikit hati-hati.


Mendengar perkataan ayah, Akhira terdiam. Yang dia ingat ayah kandungnya membuangnya begitu saja. Jika bukan karena ayah dan ibu mungkin dia sudah mati dalam kedinginan. Dia masih sangat marah dengan ayah kandungnya.


"Aku tidak perlu meminta ijin padanya! Ayah dan Ibuku adalah kalian, untuk apa aku meminta ijin pada orang yang tidak menginginkanku!"


Setelah mengatakan itu Akhira pergi meninggalkan semuanya, Lili merasa kebingungan dengan perkataan Akhira. Ayah dan ibu pun pergi kembali masuk ke dalam kamar, terlihat kesedihan dari wajah ibu dan ayah.


Arata mengajak Lili untuk ke kamar, dia akan menceritakan semuanya pada Lili mengenai Akhira. Arata duduk di sofa lalu Lili duduk disampingnya. Dia mulai menceritakan semuanya.


Ternyata begitu menderitanya Akhira, Lili merasakan bahwa begitu kejamnya ayah kandung Akhira. Dia sungguh tidak mempunyai perasaan sama sekali. Lili ikut menjadi kesal akibat perlakuan ayah kandung Akhira.


"Kau terlihat kesal?!"


Lili mengeluarkan semua emosinya, dia tidak menyangka ada ayah sekejam itu. Untung saja ada ayah dan ibu yang mengurus Akhira. Arata tersenyum melihat Lili yang menggerutu terus menerus. Untuk menghentikan gerutuan Lili, Arata mengecup sekilas bibir Lili. Mendapatkan kecupan sekilas dari Arata membuat Lili terdiam.


Hari berlalu begitu cepat, Arata memutuskan untuk segera kembali ke rumah. Lagi pula pekerjaannya sudah menunggu disana begitupun dengan Lili, Minami sudah setiap saat menghubunginya.


Akhira pun pamit untuk kembali bersama Fumiko, ibu dan ayah merasa kesepian. Karena rumah akan terasa sepi setelah kepulangan mereka, yang menjadi pikiran ayah sekarang mengenai pernikahan Akhira.

__ADS_1


Ayah memikirkan bagaimana caranya Akhira bisa membicarakan pernikahannya dengan ayah kandungnya. Ibu tahu apa yang ada dipikiran ayah, dia pun ikut memikirkan bagaimana caranya agar Akhira bisa memaafkan ayah kandungnya.


***


Seminggu sudah berlalu, pernikahan Akhira semakin dekat. Ayah dan ibu pun kembali ke rumah untuk mengurus pernikahan Akhira. Malam ini di rumah akan diadakan makan malam, ada seorang tamu undangan yang akan hadir.


Lili membantu ibu mempersiapkan semuanya, tak begitu lama Fumiko tiba. Dia langsung membatu Lili serta ibu yang masih sibuk, ibu tersenyum melihat kerangan Fumiko. Dia bersyukur mendapatkan menantu yang cantik-cantik.


Ayah, Arata serta Akhira duduk di sofa menunggu mereka berbincang-bincang mengenai bisnis. Ibu yang berjalan menghampiri ketiga pria tangguhnya, merasa bahagia inilah yang ingin dilihatnya selama ini.


Semua sudah duduk di sofa ruang tamu, mereka membicarakan semua yang menarik. Semua tampak bahagia, Lili bersama Arata, Akhira bersama Fumiko. Itu membuat hati ini ibu dan ayah bahagia.


"Kapan Arata akan memberikan ibu seorang cucu?!"


Suasana menjadi sunyi setelah ibu berkata seperti itu, Akhira berusaha mendinginkan suasana. Dia tahu bukan hal yang mudah untuk Lili dan Arata mendengar perkataan ibu.


"Haha Bu, bersabarlah sebentar lagi! Bukankan mereka baru merasakan jatuh cinta! Biarkan mereka menikmati semuanya! Nanti kalau sudah ada anak mereka sulit untuk bercinta!"


Mendengar perkataan Akhira membuat ayah terkekeh, begitupun dengan Fumiko. Ibu pun berkata hanya bercanda, karena ibu tahu Lili baru saja lepas dari rasa traumanya.


"Selamat malam?!"


Seorang pria paruh baya masuk lalu memberi salam. Akhira mendongak guna mengetahui siapa yang datang. Dia begitu terkejutnya melihat seorang pria yang tidak ingin dia temui. Dalam mata Arata yang ada hanya kebencian terhadap pria itu.


Lili menyadari bahwa yang baru saja tiba pasti ayah kandung Akhira, dia pun melirik Arata. Arata mengangguk seraya tahu apa yang ada dalam pikiran Lili. Akhira sungguh marah, dia berdiri dan melangkah untuk pergi meninggal semua orang.


"Akhira! Kembali ini perintahku!"


Ayah berkata dengan tegas, dia tidak ingin Akhira pergi begitu saja. Akhira menghiraukan perkataan ayah, namun ibu memanggilnya dengan lembut. Menyuruh Akhira untuk tidak pergi.


Fumiko yang sudah mengetahui bahwa dia adalah ayah kandung Akhira, berusaha untuk menenangkan Akhira. Tidak baik jika Akhira pergi begitu saja tanpa sepatah katapun. Kasihan ayah dan ibu Amida yang sudah menyiapkan makan malam hari ini


"Bersabarlah! Jika kau tidak mau melihatnya, cobalah lihat ayah, ibu, Arata serta Lili! Mereka sudah menyiapkan semuanya demi kita! Jadi hargai mereka yang menyayangimu!"


Mendengar perkataan lirih Fumiko terdiam, dia sadar dengan mereka yang menyayanginya. Ditatapnya wajah mereka satu per satu, dia pun kembali duduk tanpa sepatah katapun.


Ayah berusaha bersikap tenang, lalu dia mengajak semuanya menuju meja makan. Sudah saatnya makan malam, dia tidak mau makanan yang sudah disiapkan terbuang begitu saja. Selain itu ini salah satu cara untuk mencairkan suasana.


____________________________________________


Hai para pembaca setiaku, maaf kalau membingungkan ya, yang ingin tahu kelanjutan Alin dan Alex bisa lanjut baca di "Pembalasan si Kembar Wibowo" sudah bisa di baca ya, selamat membaca 😊😉


__________________________________________


Jika ada yang ingin ditanyakan padaku tentang karya dan bisa langsung menghubungi ku via akun Instagram.


Klik search di Instagram dengan nama akun :


@macan_nurul


Sekali lagi terimakasih untuk kalian semua 💋💋 jangan lupa ya like dan komen ya juga vote ya 😉 jangan lupa juga jadikan favorit ya 😉 😉

__ADS_1


__ADS_2