
Tidak terasa sudah dua bulan berlalu sehingga rasa mual yang di derita Arata mulai berkurang. Dia sudah bisa beraktivitas seperti biasanya.
Sedangkan Lili bisa beraktivitas normal karena dia tidak merasakan apa yang dirasakan layaknya seorang wanita yang sedang mengandung.
"Bagaimana kandunganmu Li?" tanya Sella pada Lili yang sedang duduk sembari membaca dokumen yang baru diberikan oleh Novi.
"Alhamdulillah baik-baik saja begitu pula dengan Arata yang sudah tidak terlalu repot seperti satu bulan kebelakang." Jawab Lili sembari membaca kembali dokumen yang ada di tangannya.
"Aku ingin mengadakan makan malam, apakah kau dan Novi mau hadir? Jangan lupa kalian ajak para suami!" Sella mengundang Lili serta Novi untuk makan malam di rumahnya.
Lili dan Novi menyetujui untuk hadir malam ini di rumah Sella. Setelah mengundang Lili Sella pun pamit untuk kembali ke kantornya karena masih ada yang harus dia kerjakan.
Sella bergegas kembali ke kantornya, setelah menyelesaikan pekerjaannya dia akan segera kembali ke rumahnya. Untuk menyiapkan segala sesuatu untuk makan malam hari ini.
Dia menghubungi Nathan masalah makan malam kali ini bersama Lili, Novi serta pasangan mereka masing-masing. Dia tidak peduli jika Nathan akan hadir atau tidak yang terpenting dia sudah memberitahukan padanya.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya Sella bergegas untuk kembali ke rumah untuk mempersiapkan untuk makan malam. Dia mampir dahulu ke supermarket untuk membeli bahan makanan yang belum tersedia di rumah.
Malam ini Sella berniat untuk memasak semuanya sendiri karena sudah lama dia ingin memasak untuk Lili dan Novi. Setelah selesai berbelanja dia segera pulang ke rumah.
Saat tiba di rumah, dia melihat Nathan yang sedang duduk di atas sofa sembari memainkan ponselnya dengan serius. Sella langsung menuju pantry yang tidak jauh dari posisi Nathan duduk.
"Kau sudah pulang, aku bantu memasak ya?" Nathan berkata sembari mendekati Sella yang sedang membongkar belanjaannya.
Sella hanya diam, sikap dinginnya terhadap Nathan belum berubah. Namun, Nathan tidak mudah menyerah untuk membuat Sella kembali percaya padanya. Sekarang Nathan yang sangat begitu menginginkan Sella.
Karena Nathan terus berusaha membabru Sella, akhirnya Sella tidak bisa berkata apa-apa lagi. Mereka berdua memasak untuk makan malam kali ini.
Nathan sangat senang bisa melakukan ini berdua dengan Sella, dia berharap jika hal ini akan berlangsung sangat lama. Namun, tidak terasa semua persiapan makan makan malam sudah selesai.
"Pergilah bersihkan diri lalu bersiap!" Sella berkata pada Nathan dengan nada dingin.
Nathan pun pergi ke kamar untuk membersihkan diri lalu bersiap, sedangkan Sella merapikan semua barang yang kotor sehingga pantry akan terlihat bersih saat Lili dan yang lainnya tiba.
Setelah selesai merapikan pantry, Sella pun masuk ke dalam kamar guna membersihkan diri lalu bersiap. Saat memasuki kamar dia melihat Nathan yang masih menggunakan handuk di pinggangnya.
"Ada apa? Kenapa kau belum selesai bersiap?" tanya Sella pada Nathan.
"Pilihkan baju untukku!" jawab Nathan pada Sella.
Sella pun berjalan menuju almari, dia memulai pakaian yang akan digunakan oleh Nathan. Setelah memilihkan pakaian untuk Nathan, dia berjalan ke kamar mandi guna membersihkan diri.
Sesudah selesai dengan rutinitas membersihkan diri dia keluar dari kamar mandi. Sella melihat sebuah gaun di atas tempat tidur, rupanya Nathan yang sudah memilihkan gaun yang tidak terlalu formal. Namun, terlihat sederhana dan cocok untuk acara makan malam kali ini.
"Pakailah! Aku sudah memilihkan itu untukku!" ucap Nathan sembari duduk menunggu Sella untuk bersiap.
Sella mengambil pakaian yang sudah Nathan siapkan untuknya karena dia juga menyukai pilihan Nathan. Entah mengapa ada sedikit perasaan aneh yang membuatnya ingin memaafkannya tetapi hatinya selalu menolaknya.
Mungkin perasaan Sella masih belum bisa memaafkan perbuatan Nathan yang terakhir kali. Padahal itu semuanya merupakan kesalahpahaman semata.
Nathan melihat Sella yang begitu memesona malam ini hingga tidak bisa mengedipkan kedua matanya. Rasanya ingin memeluknya dengan erat dan tidak melepaskannya lagi. Namun, dia menghempaskan keinginannya itu sebab dia tidak ingin membuat Sella terpaksa menerimanya.
Terdengar bunyi bel rumah, Sella bergegas keluar dari kamar dan membuka pintu rumahnya. Dia sudah melihat siapa yang sudah menekan bel rumahnya. Mereka tak lain adalah Lili, Novi beserta para suami mereka.
Mereka disambut dengan hangat dan senyum lembut Sella, tidak begitu lama Nathan keluar dari kamar dan menyambut mereka semuanya. Sebelum memulai acara makan malam mereka berbincang-bincang terlebih dahulu.
"Bagaimana keadaanmu Arata?" tanya Nathan sembari tersenyum karena dia tahu satu bulan kebelakang dia mengalami yang dialami seorang wanita yang sedang mengandung.
"Aku sudah mulai membaik, mungkin sudah melewati trisemester pertama sehingga rasa mualnya mulai berkurang." Arata menjawab dengan senyum.
"Ayo kita makan malam, semuanya sudah siap!" Sella berkata lalu membawa mereka semua ke meja makan.
Lili dan yang lainnya pun berjalan menuju meja makan, terlihat makanan yang sudah tertata rapi dibatas meja.
"Apa semua ini kau yang memasak?!" Lili bertanya pada Sella.
"Iya aku yang memasak dan di bantu oleh Nathan," jawab Sella.
Lili tersenyum, dia menyukai jika Sella sudah berbaikan dengan Nathan. Namun, dia bisa melihat bahwa mereka berdua belum berdamai. Karena bisa terlihat dengan jelas sikap Sella pada Nathan yang masih dingin.
Lili juga melihat Novi dan Satria, terlihat jelas jika masalah diantara mereka berdua belum selesai. Hatinya sangat sedih melihat hubungan suami-istri teman dan sahabatnya tidak bahagia.
Dia berharap agar hubungan suami-istri teman dan sahabatnya bisa membaik. Serta mereka juga merasakan kebahagiaan yang dia rasakan. Dan juga dia ingin melihat Sella dan Novi mengandung sanak mereka masing-masing.
Acara makan malam pun sudah selesai, setelah menyantap makanan yang ada di atas meja. Mereka kembali ke ruang tamu, lalu mereka berbincang-bincang sesaat. Setelah itu Lili dan yang lainnya pamit untuk pulang.
Setelah kepulangan Lili dan yang lainnya, Sella merapikan meja makan. Karena di rumah tidak ada pelayan, Sella sengaja tidak mempekerjakan pelayan yang menginap di rumah.
Dia hanya memperkerjakan pelayan yang datang dua hari sekali untuk membersihkan rumah. Karena dia lebih suka seperti itu lagi pula dia belum terlalu membutuhkan seorang pelayan. Mungkin dia sudah terbiasa dengan kehidupannya selama di apartemen.
__ADS_1
Nathan melepaskan jasnya lalu dia membantu Sella untuk membersihkan peralatan makan yang kotor. Dia ingin meringankan pekerjaan Sella karena jika di kerjakan bersama maka akan selesai dengan cepat.
Setelah selesai merapikan dan membersihkan pantry Nathan meninggalkan Sella yang masih di pantry menuju kamar. Dia duduk di atas sofa sembari membuka laptopnya guna memeriksa email yang masuk.
Pikirannya melayang, dia mengingat acara makan malam tadi. Melihat Lili yang sedang mengandung dan kebahagiaan Arata yang akan menjadi seorang ayah.
Nathan menginginkan Sella mengandung anaknya, meski semua itu terlihat sangat sulit. Mungkin Sella masih trauma atas keguguran kandungannya yang pertama. Dan juga sikapnya yang buruk pada Sella yang membuat Sella tidak ingin mengabdikan dalam waktu dekat ini.
Sella masuk kedalam kamar, dia melihat Nathan yang sedang berhadapan dengan laptopnya tetapi terlihat sedang melamun. Dia menatapnya dengan lekat, ada rasa ingin segera memeluknya tetapi itu terhalang oleh egonya yang masih belum bisa memaafkan Nathan.
Dia masih sangat mencintai Nathan tetapi rasa kecewa yang sudah dia rasakan akibat ulah Nathan yang menghalanginya. Dia pun kembali bersikap dingin saat Nathan menyadari kehadirannya.
***
Keesokan harinya Nathan mengatakan pada Sella akan pulang terlambat karena dia akan bertemu dengan client di sebuah rumah makan.
Sella yang sibuk dengan pekerjaannya tidak ambil pusing jika Nathan akan pulang terlambat. Sehingga dia tidak perlu untuk memasak makan malam hari ini.
Sella memeriksa sebuah email dimana itu adalah laporan mengenai perusahaan pamannya yaitu Abimanyu. Perusahaan itu sudah mulai berjalan dengan baik. Karena Sella sudah mengurusnya dengan baik pula melalui tangan seorang teman yang dia percaya untuk mengurusnya.
Sella masih memiliki beberapa persen saham di perusahaan keluarganya sehingga dia tidak menyerah untuk memajukan perusahaannya kembali. Meski dia sekarang sedang fokus pada perusaahan mama Hani.
Dia merasa sudah nyaman dengan pekerjaannya saat ini, bukan hanya bisa membantu mama Hani dan Lili tetapi dia juga menyukai bidang yang di geluti oleh perusahaan mama Hani.
Tidak terasa hari sudah malam, Sella terlalu sibuk hingga tidak menyadarinya. Ponselnya berdering dia mengangkat telepon karena yang menghubunginya adalah Nathan.
Nathan meminta bantuan Sella untuk menjemputnya di sebuah hotel. Suara Nathan begitu aneh bagi Sella, dia berpikir mungkin Nathan dalam masalah.
Sella pun bergegas menuju hotel dimana Nathan berada, setelah tiba di hotel tersebut dia melihat Nathan yang sedang duduk di lobi. Namun, ada yang aneh dengannya, dia pun bergegas mendekati Nathan.
"Ada apa? Apa kau tidak sehat?!" Sella bertanya pada Nathan dengan nada khawatir.
"Bantu aku! Lebih baik kita pergi dari sini secepatnya!" Nathan menjawab dengan lirih.
Sella pun membatu Nathan untuk berdiri dan memapah Nathan untuk masuk dalam mobil. Dia merasa aneh mengapa dia tidak bersama asistennya.
Dia menghempaskan semua pikiran yang lain, sekarang saatnya dia kembali dulu ke rumah atau ke rumah sakit untuk memeriksakan keadaan Nathan.
"Kau mau ke rumah atau kita ke rumah sakit?!" Sella bertanya guna mengetahui apa yang harus dia lakukan.
"Ke rumah," jawab singkat Nathan.
"Sebenarnya apa yang terjadi?!" Sella bertanya dengan lembut.
"Ada yang membiusku, lebih cepat kita sampai rumah itu lebih baik!" jawabnya pada Sella sembari menahan efek bius yang sudah mulai bekerja.
Sella pun tancap gas setelah mendengar jawaban Nathan. Mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi dan akhirnya tibalah mereka di rumah.
Sella ke luar dari mobil dan melangkah ke arah pintu mobil lainnya guna membatu Nathan untuk keluar dari dalam mobil. Dia berusaha untuk memapah Nathan masuk kedalam rumah. Lalu berikan menuju kamar.
Nathan menyuruh Sella untuk segera keluar dari kamar karena itu demi kebaikannya. Jika Sella tidak keluar entah apa yang akan dilakukan oleh Nathan padanya.
Nathan tidak ingin memaksa Sella untuk membantunya karena jalan satu-satunya adalah dia bisa melepaskan semuanya dengan berhubungan intim dengan Sella.
"Pergilah keluar! Jangan masuk hingga esok pagi!" Nathan memerintahkan Sella untuk keluar kamar.
Sella keluar dari kamar tetapi dia merasa kasihan dengan Nathan, dia tahu salah satunya cara untuk membatu Nathan adalah dengan berhubunga suami-istri.
Dia membiarkan Nathan saat lalu dia kembali masuk kedalam kamar. Dia terkejut karena Nathan tidak ada di dalam kamar, dia berusaha mencari ke kamar mandi.
Setalah masuk ke kamar mandi dia melihat Nathan yang sedang berdiri dengan pakaian masih lengkap. Sella merasa kasihan melihat Nathan yang merasa tersiksa. Sella mendekati Nathan dia menyentuh pundaknya untuk melihat dengan jelas apa yang dirasakan oleh suaminya itu.
"Apa yang kau lakukan di sini! Cepatlah keluar sebelum aku tidak bisa mengendalikan diriku!" Nathan berkata dengan ada penekanan balam kalimatnya sembari menahan efek dari obat bius dalam tubuhnya.
"Biarkan aku membantumu," lirih Sella semabri memalukan lembut Nathan.
"Maafkan aku!" Nathan berkata lalu dia mengecup bibir Sella dengan kuat.
Dia sudah tidak bisa menahannya lagi, kecupannya begitu kuat sehingga membaut Sella hampir kehabisan napas. Natha melepaskan sejenak kecupannya lalu dia menggendong Sella keluar dari kamar mandi.
Dan berjalan menuju tempat tidur, dia menghempaskan tubuh Sella dengan kuat sehingga membuat Sella merasakan kesakitan. Namun, Sella bisa memaklumi semua ini karena saat ini Nathan dalam keadaan tidak bisa menahan dirinya sendiri.
Nathan membuka pakaiannya satu persatu setelah itu dia melepaskan pakaian yang ada di tubuh Sella dengan cepat. Setelah itu dia mengecup bibir Sella dengan lembut tetapi penuh dengan keinginan yang tidak bisa dia kontrol.
Permainan yang dilakukan Nathan membuat Sella menikmatinya, lidahnya yang bermain di rongga mulut Sella membayar Sella ikut bermain pula.
Tangan Nathan ikut bermain juga menelusuri setiap lekuk tubuh Sella dengan lembut. Setelah puas dengan kecupan di bibir, kecupannya menjalar ke ceruk leher Sella. Lalu menelusuri dada Sella dia bermain cukup lama di sana.
Sehingga membuat Sella menggelinjang dengan setiap permainan yang dilakukan oleh Nathan. Setalah itu mereka mulai melakukan permainan yang membuat mereka mencapai titik kenikmatan bersama.
__ADS_1
Terdengar suara yang keluar dari mulut Sella yang membuat Nathan semakin menikamnya. Deru napasnya beraturan seirama dengan Sella. Mereka berdiri begitu menikmati permainan malam ini, meski Sella tahu Nathan saat ini sedang tidak bisa mengontrol keinginannya.
Malam ini Nathan begitu sangat hebat karena dia tidak hanya melkuaknnya sekali atau dua kali. Sehingga membuat Sella merasakan sangat lelah akibat permainan Nathan.
***
Sella terbangun karena pantulan sinar matahari yang menembus rongga tirai kamarnya. Dia melihat Nathan yang masih terlelap di samping. Dia berpikir untuk membersihkan diri tetapi Nathan memeluknya sehingga Sella tidak bisa berdiri.
"Tunggulah sebentar lagi, izinkan aku memelukmu sebentar saja!" bisik Nathan.
Sella pun diam sesaat guna memberikan kesempatan bagi Nathan untuk memeluknya. Dalam hatinya mulai merasakan kehangatan pelukan Nathan. Mungkinkah dia sudah mulai bisa memaafkan Nathan.
"Terimakasih karena sudah mau menolongku," ucap Nathan lirih pada Sella.
Sella hanya diam, dia tidak tahu apa yang harus dia katakan. Dalam hatinya ingin memeluknya kembali tetapi ada secuil perasaan yang tidak mengijinkannya untuk memeluk Nathan.
Nathan melepaskan pelukannya, dia bangun dari posisi tidurnya lalu menggendong Sella dan berjalan menuju kamar mandi. Setelah berada di dalam kamar mandi dia menurunkan Sella perlahan.
Dinyalakannya keran shower sehingga tetes demi tetes air membasahi tubuh Sella. Saat ini yang ingin Nathan lakukan adalah memanjakan Sella dengan sebaik mungkin.
Namun, Nathan tidak bisa menahan dirinya untuk mengecup bibir Sella dengan lembut. Dia begitu sangat mencintai Sella sehingga tidak ingin melepaskannya atau kehilangan dirinya.
Sella kembali berlaku dingin tidak begitu lama dia membalas kecupan Nathan dengan lembut. Nathan sedikit terkejut karena Sella membalas kecupannya dengan lembut.
Nathan memegang tengkuk leher Sella sehingga kecupan mereka berdua tidak bisa berakhir dengan cepat. Tubuh merek berdua sudah basah oleh air yang berasal dari shower.
Setelah puas dengan kecupannya, Nathan menghentikan permainannya. Lalu dia mengambil sabun cair ke telapak tangannya dan mengusapkan secara lembut ke seluruh tubuh Sella.
Selesai membersihkan diri Nathan menggendong Sella kembali lalu keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju sofa. Dia mendudukan Sella dengan lembut di atas sofa.
Nathan berjalan menuju almari guna mengambil pakaian untuknya dan juga Sella. Setelah itu dia memberikan pakaian pada Sella yang sudah duduk di atas sofa menunggunya.
"Pakailah!" perintah Nathan pada Sella setelah itu dia berjalan keluar dari kamar.
Nathan berjalan menuju pantry lalu dia mulai membuat lemari pendingin. Guna melihat apa yang bisa dia oleh untuk sarapan pagi ini. Dia memilih beberapa bahan lalu mengeluarkannya satu per satu.
Setelah itu dia mulai memasak sesuatu untuk sarapan, kali ini dia ingin memasak untuk Sella. Sebagai rasa terima kasih karena sudah mau menolongnya.
Nathan kembali teringat dan dia akan mencari tahu siapa yang sudah berani memasukkan obat bius kedalam minumannya. Setelah selesai memasak dan sarapan dia akan mulai menyuruh asistennya untuk mencari tahu siapa yang sudah menjebaknya.
Sella keluar dari kamar dia melihat Nathan yang sudah berada di pantry. Dia menghampirinya untuk melihat apakah yang sedang dia lakukan.
"Kau memasak?" tanya Sella yang sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Nathan.
"Duduklah!" Nathan berkata seraya memerintah Sella dan tidak ingin ada bantahan.
Sella duduk di menjadi yang menghadap pantry, dia menunggu apa yang akan Nathan sajikan untuk sarapan kali ini. Sembari menunggu Nathan, dia menatapnya dengan lekat dari belakang. Punggung Nathan begitu membuatnya tenang.
Nathan berbalik lalu dia menghidangkan sebuah menu sarapan yang menggoda. Sehingga Sella tanpa mengucapkan kata-kata langsung mengambil sendok lalu menyuapkannya ke dalam mulut.
"Bagaimana— enak?" Nathan bertanya dengan lembut dan senyum khasnya.
Sella dengan cepat menyuapkan makanan pada Nathan, dengan maksud agar Nathan bisa merasakan dari masakannya. Setelah mereskana masakannya sendiri, Nathan kembali tersenyum dia puas dengan hasil masakannya tidak terlalu buruk.
Setelah selesai sarapan Nathan meminta Sella untuk duduk bersamanya di ruang televisi. Dia ingin membicarakan sesuatu hal pada Sella dengan serius.
"Ada apa?!" tanya Sella pada Nathan yang sudah duduk di atas sofa.
"Aku ingin meminta maaf padamu, berikan aku kesempatan lagi untuk bisa melihat senyummu dan kehangatan dari perhatianmu." Nathan menjawab dengan penuh harapan agar Sella memaafkannya dan bisa kembali seperti dulu sewaktu di Qatar sebelum terjadi kesalahpahaman antara mereka.
Sella terdiam mendengar apa yang diinginkan oleh Nathan, dia tidak tahu harus mengatakan apa. Dia masih bingung dengan perasaannya sendiri. Sebagian hatinya ingin memaafkan Nathan dan sebagian hatinya lagi masih belum bisa memaafkannya. Namun, dia melihat kersriusan Nathan dalam matanya, sehingga Sella memutuskan untuk memaafkannya.
"Aku sudah memaafkanmu, lebih baik sekarang kita mulai dari awal untuk mempererat hubungan kita!" Sella menjawab dengan yakin, mungkin ini adalah kesempatan terakhir bagi Nathan.
Mendengar itu Nathan sangat bahagia sehingga dia langsung memeluk Sella dengan erat. Dia tidak menyangka Sella akan mengatakan itu. Karena dia mengira Sella akan menolaknya dan dia harus siap dengan penolakan Sella.
"Ini adalah kesempatan terakhir bagi kita untuk menjalani hubungan suami-istri guna membina rumah tangga kita." Sella menambahkan jawabannya yang tadi, sehingga membuat Nathan sedikit terkejut.
Namun, meski ini adalah kesempatan terakhir baginya, Nathan akan berusaha untuk menjadi suami yang baik baginya. Dia juga sempat berpikir untuk memiliki akan dengan Sella.
Setelah pembicaraan itu Sella kembali ke dalam kamar guna mengambil ponselnya. Nathan pun meminta Sella untuk sekalian mengambil ponselnya juga.
Sella berjalan masuk kedalam kamar lalu mengambil ponselnya dan Nathan. Setelah itu dia kembali menuju Nathan, dia duduk di samping Nathan sembari mengecek email yang masuk.
Sedangkan Nathan menghubungi asistennya untuk mencari tahu siapa yang sudah menjebaknya. Karena dia yakin jika ada seseorang yang ingin menjebaknya dengan memasukkan obat bius kedalam minumannya.
Dia ingin mendapatkan informasi itu dalam satu jam karena dia tidak akan membiarkan orang itu bebas begitu saja. Dia akan memberikan hukuman yang setimpal dengan yang sudah dia lakukan. Setalah itu dia menutup teleponnya.
"Apakah ada yang ingin menjebakmu?" tanya Sella yang sedari tadi mendengar Nathan bicara dengan asistennya.
__ADS_1
Nathan mengangguk lalu dia mengatakan jika kejadian kemarin sangat aneh. Mungkin ada yang ingin menjebaknya sehingga orang yang menjebaknya itu bisa mengambil keuntungan.