
"Sayang, hari ini kita pergi ke rumah Mama Hani kan?!" Arata berkata pada Lili yang baru saja selesai memakan sarapannya.
Lili teringat kembali bahwa dia sudah berjanji akan menginap di rumah mama Hani hari ini. Dia pun mengangguk, lalu berjalan mengeluarkan sebuah tas untuk merapikan pakaian yang hendak dia bawa.
Lili merapikan pakaiannya sendiri ditambah dengan pakaian Arata, karena Arata ingin ikut juga bersamanya menginap di rumah mama Hani.
Setelah selesai bersiap mereka pun langsung pergi menuju rumah mama Hani. Arata mengirim sebuah pesan pada Maru agar dia tidak usah ke rumahnya, sehingga dia bisa menghabiskan waktu bersama Sarada.
Akhirnya Maru bisa bersantai di apartemen bersama Sarada, dia ingin memberikan waktunya untuk Sarada sebelum Arata membutuhkan tenaganya.
"Kau terlihat senang? Ada apa?" Sarada bertanya pada Maru.
Maru mendekati Sarada yang sedang berdiri di pantry, dia melihat Sarada sedang memasak apa? Lalu dia mendekap Sarada dengan lembut.
"Hari ini aku akan ada untukmu!" Maru berbisik pada Sarada.
Sarada tersenyum, dia berusaha melepaskan diri dari dekapan Maru. Namun Maru tidak melepaskannya, dia membatu Sarada memasak. Bukannya membatu malah membuat Sarada semakin tidak bisa bergerak.
"Cepat lepaskan aku! Kau samasekali tidak membantuku, malah membuat kacau masakannya!" ucap Sarada yang sedikit kesal, karena ulah Maru.
Dilain tempat, Novi sedang membersihkan apartemennya. Handphone-nya berbunyi. Dia melihat siapa yang meneleponnya, nomor yang dia kenal. Namun dia tidak men-save nomor tersebut.
Dia ragu-ragu untuk mengangkatnya, karena yang menghubunginya adalah sang ayah. Bagaimana ayah bisa tahu nomor teleponnya yang baru, padahal dia tidak memberitahukan nomornya pada siapapun.
Novi mengabaikan telepon dari ayahnya, namun handphone-nya terus saja berbunyi. Akhirnya dia menjawab telepon ayahnya, dia mendengar suara yang begitu dia benci.
Dia sangat tidak ingin bertemu lagi dengan ayahnya, karena dia merupakan penyebab kematian Nova dan juga penderitaan Novi selama ini.
Setelah menerima telepon dari ayahnya, Novi hanya terduduk diam. Dia tidak bisa melakukan apapun. Dia merasa kesal dengan dirinya sendiri, mengapa dia tidak bisa melawan ayahnya sejak dulu.
Jika saja dia bisa melawannya dulu mungkin Nova masih hidup sampai sekarang. "Sudah cukup! Sudah cukup aku memberikan apa yang Ayah inginkan! Sekarang giliranku untuk menjalani hidupku berdasarkan keinginanku sendiri! Karena ini adalah hidupku!" gumam Novi.
__ADS_1
Dia berdiri lalu kembali mengerjakan semua pekerjaan yang belum terselesaikan. Dia menghempaskan semua masalah tentang ayahnya, dia sudah tidak ingin menjadi alat sang ayah untuk ambisinya.
Novi tidak mengetahui bahwa ayah dan ibunya sudah berada di Jepang, mereka merencanakan sesuatu agar Novi mau membantu mereka. Mereka menginap di sebuah hotel, mereka berusaha untuk tidak diketahui keberadaanya oleh mama Hani.
Jika mama Hani sembgetahui renacan mereka terhadap Novi, maka mama Hani akan melakukan apapun untuk melindungi Novi dari cengkraman kedua orangtuanya.
Hari semakin malam Novi memutuskan untuk berjalan-jalan keluar untuk mencari camilan. Dia tidak tahu bahwa dia sudah diawasi oleh beberapa orang.
Novi masih menikmati jalan-jalannya sembari menikmati camilan yang dia beli. Sampailah dia di sebuah taman, dia duduk lalu memakan camilannya. "Sungguh indah malam ini!" gumamnya.
"Kau begitu menikmati semua ini hah!?" ucap seorang pria paruh baya kepadanya.
Novi terhenyak begitu mendengar suara itu, dia tidak menyangka ayahnya bisa dengan mudah menemukannya. Novi terdiam seribu bahasa, dia tidak tahu apa yang ayahnya akan lakukan padanya.
"Sudah puas kau mengacaukan semuanya hah! Sekarang waktunya kau memperbaiki semuanya demi aku!"
Novi hanya diam, dia berkata dalam hatinya apakah belum cukup semua yang sudah dia lakukan untuk ayahnya. Mungkin jika dia sudah tiada baru dia merasa puas.
"Apa aku belum cukup membantumu Ayah?!" Novi bertanya dengan nada dingin, sehingga membuat kesal sang ayah.
Novi berusaha melepaskan diri namun tidak bisa, dia akhirnya dibawa masuk ke dalam mobil. Dia tidak tahu akan di bawa kemana, namun yang pasti akan terjadi hal buruk padanya.
Tibalah Novi di sebuah hotel, disana sudah menunggu sang mama, Novi berharap mamanya sudah berubah. Namun dia salah mamanya tidak akan pernah berubah, dia sama seperti ayah yang memiliki banyak ambisi dan mampu mengorbankan anaknya sendiri.
"Cepat dandani dia!" Perintah ayah pada mama.
Mama Della menarik Novi dengan keras sehingga membuat Novi kesakitan. Novi berusaha menahan semuanya, dalam benaknya berkata apakah dia tidak berhak untuk hidup bahagia?
"Kenapa? Sakit? Rasakan saja sakitku itu! Nanti juga tidak akan terasa sakitnya!" ucap mama Della pada Novi.
Semakin sakit hati Novi mendengar perkataan mama Della, dia sungguh tidak menyangka mama kandungnya sendiri bisa berlaku seperti ini. Andai saja Novi bisa memilih, dia lebih baik dilahirkan di keluarga sederhana namun penuh dengan kasih sayang keluarga.
__ADS_1
Selesai didandani, Novi segera dibawa ke suatu kamar. Dia melihat didalam kamar tersebut ada seorang pria tua hidung belang. Entah apa yang telah dilakukan ayah dan ibunya sehingga menjual Novi pada pria tua tersebut.
"Dengarkan aku! Kau harus memuaskan pria itu! Jika tidak aku akan menjualnya ke semua pria hidung belang lainnya!" Bisik mama Della pada Novi.
Setelah berkata seperti itu mama Della dan ayah Boby pergi meninggalkan Novi sendirian bersama pria tua itu. Hati Novi terasa teriris-iris mendapatkan perlakuan seperti ini dari kedua orangtuanya.
Pria tua itu menyuruh Novi untuk meminum minuman yang ada di dalam gelas yang sudah disediakan. Novi tidak ingin meminumnya, namun pria tua itu memaksanya untuk minum.
Novi berdiri, dia bertekad tidak akan menyerah kali ini. Dia berniat untuk pergi dari tempat yang mengerikan ini. Dia berlari menuju pintu kamar, namu dia berhasil ditangkap oleh pria tua itu.
"Jika kau berani lari, maka bisnis kedua orangtuamu akan hancur!" ucap pria tua itu pada Novi dengan nada mesumnya.
Novi terdiam sesaat, tangan pria tua itu mulai berjalan di tubuh Novi. Namu Novi tersadar apapun yang terjadi pada kedua orangtuanya sudah bukan tanggungjawabnya lagi.
Bug!
Novi menendang bagian sensitif pria tua itu, sehingga pria tua itu mengerang kesakitan. Novi bergegas membuka pintu kamar hotel itu, lalu dia berlari meninggalkan hotel itu.
Dia terus saja berlari tanpa memikirkan kakinya yang terluka, dia tidak mengenakan sepatunya lagi. Dia melepaskan semua atribut yang membuatnya bsulit untuk bergerak.
Yang dia harus lakukan saat ini adalah berlari sejauh mungkin agar tidak ditangkap oleh kedua orangtuanya. Atau tertangkap oleh pria tua mesum itu.
____________________________________________
Hai para pembaca setiaku, maaf kalau membingungkan ya, yang ingin tahu kelanjutan Alin dan Alex bisa lanjut baca di "Pembalasan si Kembar Wibowo" sudah bisa di baca ya, selamat membaca 😊😉
__________________________________________
Jika ada yang ingin ditanyakan padaku tentang karya dan bisa langsung menghubungi ku via akun Instagram.
Klik search di Instagram dengan nama akun :
__ADS_1
@macan_nurul
Sekali lagi terimakasih untuk kalian semua 💋💋 jangan lupa ya like dan komen ya juga vote ya 😉 jangan lupa juga jadikan favorit ya 😉 😉