
Hari pernikahan Mas Rio dan Salma akhirnya tiba. Hari ini mereka akan mengucapkan ijab kabul sehingga mereka sah menjadi sepasang suami istri. Aku bahagia akhirnya sahabatku menikah, Salma dengan Mas Rio dan Lili sudah menikah dengan Arata semoga saja Lili dan Arata bisa hidup berbahagia. Entah kenapa aku melihat Arata cocok dengan Lili, mudah-mudahan mereka samawa.
Ibu Sinta juga sudah membaik, beliau menghadiri pernikahan Mas Rio dan Salma. Aku melihat ketiga Ibu ku berjajar sedang mengobrol seru. Melihat itu aku sangat bahagia, terimakasih Ya Allah karena telah memberikan kebahagian ini pada hambamu yang penuh dosa ini.
"Sayang sedang apa kau disini?" Tanya Alex lembut padaku sambil mengecup keningku.
Dia selalu mengecup keningku dengan lembut, aku pun sangat menyukai yang dia lakukan padaku kecupan di kening setiap dia menginginkan nya.
"Sayang kenapa melamun?" Ucap Alex yang menunggu jawaban dari pertanyaan nya.
"Tidak aku tidak melamun, aku senang melihat suasana seperti ini penuh dengan kebahagiaan." Jawabku pada Alex dengan senyum manis ku.
"Muachhhh," Alex mencium bibirku sekilas dan tersenyum tipis.
"Apa yang kau lakukan ini di depan umum malu kan!" Ucap ku pada Alex.
"Hahaha biar saja kau kan istri ku, siapa yang berani larang aku mencium istri ku tercinta." Alex menjawab dengan sedikit tertawa puas.
"Ahh sudahlah kenapa aku selalu kalah kalau berdebat dengan mu!"
"Hahaha karena kau sangat mencintai ku sehingga kau tidak bisa berdebat dengan ku!"
"Huh kau percaya diri sekali sih!"
"Mas, Mba disuruh Bunda kesana!" Ucap Adam pada kami.
Kami pun beranjak dari duduk, langsung menghampiri Bunda dan yang lainnya. Semua berkumpul dan penuh kebahagiaan, Salma sudah bersanding dengan Mas Rio, Lili sudah berdampingan dengan Arata meskipun belum tumbuh rasa cinta diantara mereka. Tapi aku nyakin jika mereka berjodoh pasti mereka akan saling mencintai. Dan aku pun bahagia dengan Alex yang dulu adalah musuhku sekarang dia menjadi imamku.
Disaat kita sedang berbahagia, beberapa saat kemudian datang Malik bersama kedua orang tuanya. Mas Rio memang mengundang mereka. Malik terbakar api cemburu, yang melihat Lili berdampingan dengan Arata. Lili yang tidak nyaman dengan tatapan Malik, pergi menghindari Malik dan keluarganya. Dia teringat akan semua penghinaan yang dilontarkan oleh orang tuanya Malik.
Lili POV
Kenapa juga aku harus bertemu dengan dia, padahal aku sudah tidak kau bertemu dengan dia lagi. Aku selalu teringat akan penghinaan yang keluarganya berikan padaku. Lebih baik aku diam disini saja lah jauh dari penglihatan mereka. Aku sedang malas berdebat, ga enak juga nanti ada keributan ini kan pestanya Mas Rio dan Salma.
"Lili!" Sapa seseorang tak lain adalah Malik.
"Buat apa kau kemari?" Jawab Lili ketus.
"Li aku ingin bicara sama kamu Li, beri aku waktu sebentar saja."
"Apa yang mau kau katakan?"
"Aku ingin kita kembali, kita mulai dari awal lagi. Orang tua ku sudah menyetujui tentang hubungan kita," Jawab Malik.
"Hanya itu yang ingin kau ucapkan?"
"Li aku mau kita kembali dan kita menikah!"
"Semuanya sudah terlambat! Lebih baik kau mencari pasangan yang sesuai dengan keinginan orang tua mu. Jangan lah kau menjadi anak yang durhaka, karena menentang keinginan orang tuamu." Jawab ku pada Malik.
Ahh lebih baik aku pergi saja dari sini, malas aku berhadapan dengannya. Yang dibicarakan hanya hal yang sudah tidak mungkin lagi terjadi. Lebih baik kita sama-sama berhenti memikirkan masa lalu yang menyakitkan.
"Li tunggu! Aku belum selesai bicara denganmu!" Malik berkata dengan menarik tanganku dan mencengkram tanganku dengan erat.
"Lepaskan tangan mu! Kita bukan muhrim jadi kau tidak berhak memegang ku!"
"Tidak akan kulepaskan, karena aku belum selesai bicara dengan mu!" Ucap Malik dan cengkraman nya semakin kencang.
"Awwww sakit tau, lepaskan tanganku Malik!!"
"Akan aku lepaskan jika kau tidak pergi meninggalkan ku!"
"Tuan saya harap Anda melepaskan tangan istri saya! Karena istri saya kesakitan dengan yang Anda lakukan!" Ucap Arata dengan nada dingin.
Malik terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar, "apa kau sudah menikah Li?"
"Iya aku sudah menikah dan dia adalah suami ku!" Jawabku singkat.
"Aku tidak percaya! Kau pasti berbohong padaku kan!" Ucap Malik.
"Kalau kau tidak percaya ya sudah, itu bukan urusan ku jadi sekarang lepaskan cengkeraman mu dari tangan ku sakit tahu!!"
Lili tidak bisa melawan malik, karena tidak memungkinkan untuk dia melakukan gerakan yang ekstrim. Malik tidak melepaskan cengkramannya, Arata yang melihat Lili kesakitan akibat cengkraman Malik, langsung mendekati Malik dan menarik dan memelintir tangan Malik sehingga terlepas dari tangan Lili.
"Sudah kubilang lepaskan tangan mu dari istriku! Kenapa kau semakin menyakitinya hah!!" Ucap Arata dengan nada marah.
__ADS_1
"Aku tidak percaya kalau kau adalah suami dari Lili!" Jawab Malik yang masih tidak percaya tentang pernikahan Lili.
"Lepaskan dia Arata, tidak ada gunanya kau menghajarnya!" Ucapku pada Arata.
Seketika Arata melepaskan Malik dan berkata, "buat apa aku berbohong tentang hal pernikahan!"
"Tidak aku tidak percaya, aku tidak percaya kalian sudah menikah!" Teriak Malik.
Aku yang kesal dengan sikap Malik yang ke kanak-kanakan. Langsung mendekati Arata dan mencium bibir Arata, Arata kaget dengan tidakan Lili. Tapi Arata tahu bahwa ini adalah sandiwara yang harus dia lakukan untuk membatu Lili lepas dari Malik. Arata pun membalas ciuman Lili dengan lembut dan hangat, aku kaget dengan yang dilakukan Arata. Tapi anehnya aku menikmatinya, dan tidak ada rasa benci dan jijik dengan apa yang dia lakukan.
Malik yang melihat adegan itu langsung tertunduk pergi meninggalkan ku dan Arata. Aku yang tersadar langsung melepaskan diri dari ciuman hangat Arata. Arata hanya tersenyum tipis melihatku, wajahku terasa panas dan malu dengan apa yang baru saja aku lakukan.
*****
"Sayang, aku lelah berdiri terus aku duduk disana ya! Dan kau bisa lanjutkan mengebrak dengan yang lain," Ucap ku pada Alex.
"Iya sayang, tapi kamu ga apa-apa kan jalan sendiri aku ga enak sama Ayah!" Bisik Alex padaku.
"Iya!" Aku berkata lanjut berjalan meninggalkan Alex dan Ayah yang sedang asik mengobrol.
Lebih baik aku duduk disini untuk istirahat, belum duduk lama tiba-tiba Lili dagang dan duduk di sebelahku.
"Kenapa wajahmu Li? Kamu demam?" Tanya ku pada Lili.
"Engga aku ga demam kok, coba kamu pegangan keningku, ga demam kan?" Lili berkata sambil menarik tangan ku dan di sentuhan ke keningnya.
Aku melihat Lili seperti ini, jadi teringat Lili yang dulu sewaktu masih sekolah. Aku rindu dengan Lili yang ini, Lili yang cerewet, Lili yang suka lama mengolah kejadian. Sekarang sudah menjadi Lili yang berbeda, dia sudah dewasa cantik masih cerewet sih dan kupikir dia masih Lili yang lama mengolah kejadian (lola \= loadingnya lama).
"Terus kanapa?" Tanyaku pada Lili.
"Aku kan liat Malik datang kesini sama orang tuanya."
"Iya terus!"
"Aku malas kan Lin liat wajah nya dan keluarga nya, dari pada aku nanti bikin rusuh lebih baik aku pergi keluar sekalian cari udara segar. Ehh Malik malah ngikutin aku keluar dan dia minta balikkan sama aku, dia bilang orang tuanya sudah menyetujui hubungan kita."
"Loh kok bisa gitu sih Li?"
"Iya aku bingung dengan mereka yang pertama bilang ga setuju sekarang bilang setuju, plin-plan banget kan!"
"Ya aku bilang semuanya sudah terlambat, aku sudah menikah tapi dia ga percaya. Lagian aku ga mau balik lagi sama dia, soalnya dia plin-plan dan lagi orang tuanya tidak suka dengan semua statusku dan lain sebagainya."
"Mmm laki-laki sungguh tidak bisa di prediksi ya, dulu ku pikir Leo orang nya baik tapi pada kenyataanya berbeda. Sekarang Malik kupikir dia bisa tegas ternyata dia plin-plan. Terus apa yang kamu katakan sehingga Malik percaya bahwa kamu sudah menikah?"
"Terus Arata datang menghampiri kami, saat itu tangan Malik mencengkram tanganku dengan keras. Arata langsung menarik dan memelintir tangan Malik, sehingga aku terlepas dari cengkraman nya. Malik masih tidak percaya dengan perkataan ku kalau aku sudah menikah dengan Arata. Akhirnya aku mencium bibir Arata."
"Apa!! Kau mencium bibir Arata!" Teriakku mendengar perkataan Lili.
Seketika Lili langsung menutup mulutku, karena aku berteriak.
"Stttt jangan teriak malu tau, kamu lihat tuh orang-orang pada lihat kemari!" Ucap Lili padaku dan melepaskan tangannya dari mulutku.
Aku pun melihat sekitar sedang memperhatikan kami, "hahha iya-iya aku minta maaf deh, haha tapi aku ga nyangka loh kamu agresif juga." Goda ku pada Lili.
"Ahh udah deh Lin jangan godain aku!" Lili berkata sambil cemberut tapi wajahnya masih memerah.
"Haha pantas saja wajahmu memerah seperti kepiting rebus teryata kau mencium suami mu terlebih dahulu."
"Alin udah ahh jangan bahas itu lagi!"
"Bahas apa sih?" Ucap Alex yang datang bersama Arata.
"Ini loh Yang, Lili...!" Sebelum kulanjutkan perkataan ku Lili menutup mulutku lagi.
"Jangan bicara lagi please!" Bisik Lili di telingaku dengan nada memelas dan akhirnya melepaskan tangannya dari mulutku.
"Hahha ga da apa-apa ko Yang! Sini duduk di sebelahku!" Aku menyuruh Alex duduk di sampingku.
Alex pun duduk di sampingku dan tersenyum, dalam pikirnya 'pasti istriku menyembunyikan sesuatu.'
"Arata duduk lah disamping Lili, tuh masih kosong!" Perintahku pada Arata.
Arata pun mengikuti arahan ku, dia duduk disampingnya Lili dengan tenang seperti tidak terjadi sesuatu. Aku yang teringat cerita Lili tidak bisa menahan tawa ku, akhirnya aku tertawa "hahahaha."
"Kenapa sih Yang? Kamu lagi senang ya?" Tanya Alex yang bingung aku mendadak tertawa.
__ADS_1
"Hahaha iya Yang aku lagi senang, aku teringat cerita temanku jadi aku tertawa." Jawab ku pada Alex sambil melanjutkan tawa ku.
"Sudah hentikan tawa mu itu Lin!" Ucap Lili sambil cemberut.
Aku langsung memeluk Lili dan berkata aku sayang dengan sahabatku ini. Aku rindu dengan tingkah mu ini, selamanya jangan kau berubah ya. Tak lama kemudian Salma menghampiri kami.
"Kalian curang kenapa aku di tinggal!" Ucap Salma sambil memasang wajah pura-pura sedihnya.
"Hahaha pengantin jangan memasang muka sedih dong! Hahaha." Celetuk Lili pada Salma yang sudah tahu bahwa dia sedang acting.
"Tuh kan, Lili mulai menindas aku!" Jawab Salma.
"Heiii siapa yang sering menindas dulu?" Timpal Lili.
Aku tak kuasa menahan tawa ku dengan tingkah kedua sahabatku ini.
"Hahhaa aku rindu dengan suasana seperti ini." Aku berdiri memeluk Salma dan Lili langsung memeluk kami.
"Best friend forever" ucap kami bertiga.
Mas Rio yang melihat kami berpelukan tersenyum bahagia.
"Alhamdulillah akhirnya Mas bisa melihat kalian seperti ini lagi."
Alex dan Arata yang melihat kami hanya bisa tersenyum.
"Haii kalian sedang apa disini semuanya?" Tanya Bunda pada kami.
"Ga lagi apa-apa kok Bun!" Jawab ku dengan lembut.
Tak terasa bulir air mata Bunda menetes di pipinya, aku bertanya " kenapa Bunda menangis?"
"Bunda bahagia melihat ketiga putri Bunda sudah tumbuh dewasa, dan sudah memiliki pasangan untuk seumur hidup."
Aku yang mendengar perkataan Bunda langsung berhambur dan memeluk erat Bunda, begitu pula Lili dan Salma.
****
Salma POV
Hahhh akhirnya acaranya selesai juga, lelah rasanya lebih baik aku mandi dulu deh sebelum Mas Rio kembali ke kamar. Setelah selesai mandi aku melangkah keluar dari kamar mandi. Ternyata dia sudah berada di kamar dan sedang tidur, mungkin dia kelelahan. Lebih baik aku juga beristirahat rasanya badan ku pegal-pegal. Aku pun merebahkan badanku di samping Mas Rio.
Kupandangi wajahnya dengan seksama, inikah imamku yang selama ini selalu menjagaku dan melindungi ku. Aku bersyukur telah memilihmu menjadi imamku. Kalau ku teliti wajah nya mirip Alin, dia tampan juga haha aku jarang melihat wajahnya dengan jangka waktu yang cukup lama.
"Sudah puas melihat wajah tampan ku?" Ucap Rio yang membuka matanya.
Aku kaget, seketika wajahku memerah aku langsung membalikkan badanku menghindari tatapan hangat nya. Dadaku berdebar, entah apa yang terjadi padaku.
Tangan Rio memeluk ku dengan erat dan berbisik," sudah puas melihat wajah tampanku?"
"Siapa bilang aku melihat wajahmu?" Jawabku dengan nada lembut.
Rio membalikkan badanku dan berkata, "kenapa kau malu padaku?"
"Tidak aku tidak malu padamu! Mas mandi gih biar Segeran terus tidur kita istirahat, besok kan kita akan pergi." Ucap ku pada Mas Rio agar dia melepaskan ku dari pelukkannya.
Tanpa kata dan aba-aba dia langsung mengecup keningku, berlanjut kedua mataku, pipi kanan dan kiri ku berakhir di bibirku. Dia mencium bibirku dengan lembut dan tanpa kusadari aku pun terhanyut olehnya.
Tangannya mulai berjalan menelusuri tubuhku, ciuman nya semakin panas, sehingga aku hampir kehabisan napas. Perlahan dia memberikan ku waktu sesaat untuk mengambil nafas dia hanya tersenyum tipis. Tanpa berpikir lama dia mencium bibirku kembali.
Tapi aku teringat bahwa aku sedang datang bulan. Langsung aku hentikan segala tindakan yang dilakukan Rio.
"Ada apa?" Tanya nya padaku.
"Aku sedang datang bulan Mas!" Jawabku pelan.
"Tidak apa-apa, aku tidak akan melakukan hal yang dilarang kok. Jadi ijinkan Mas melakukan yang masih bisa kita lakukan."
Alhamdulillah dia mengerti, jadi aku masih bisa melayani suami ku. Setelah kecupan mesra yang dilakukan. Rio beranjak dan masuk ke kamar mandi untuk mandi. Aku yang tertidur karena ulah nya yang tidak melepaskan ku dari belaian dan kecupan panasnya.
___________________________________________
Sampai ketemu di bab berikutnya 😊
aku siap menampung poin kalian kalau mau mendukung novel ku 😚😚
__ADS_1
ku tunggu dukungan kalian ya jangan lupa vote biar aku semakin maju ke depan kalau tidak juga tak masalah 😏