
Sesampainya di Korea Arata mengajak Lili ke sebuah resort yang sedang menghadapi masalah. Disana Arata masih bisa bekerja namun bisa memperhatikan Lili, dia masih perlu memperhatikan Lili yang sedikit ceroboh.
Lili masih kesal karena harus ikut ke Korea, dia ingin di rumah saja sehingga dia bisa pergi ke kantor untuk bekerja. Karena selama beberapa hari semenjak terjatuh dari motor, dia tidak diperbolehkan pergi kemana-mana.
Di tempat lain Arata sedang membereskan semua kekacauan di resort. Dia ingin menyelesaikan semua pekerjaannya, karena dia ingin menemani Lili sang mengajaknya untuk berjalan-jalan.
"Hai Arata, bagaimana kabarmu?!"
Sapa seorang wanita yang langsung duduk di sampingnya, Arata mendongak dilihatnya wanita yang menyapanya. Ternyata dia adalah Fumiko. Arata memalingkan wajahnya dan kembali membaca dokumen yang di berikan Maru.
Mari yang terkejut melihat kedatangan Fumiko, segera melihat kesekeliling. Dia tidak ingin terjadi keributan jika nona Lili melihat semua ini.
Arata menyuruh Maru untuk mengambilkan dokumen yang dibutuhkan. Maru pun pergi untuk mengambil dokumen itu. Fumiko senang Maru pergi sehingga dia bisa berduaan dengan Arata.
Fumiko yakin 100 persen bahwa Arata masih sangat mencintainya, jika dia meminta maaf dan ingin kembali pada Arata. Maka Arata akan memaafkannya serta menerimanya kembali. Dalam benak Fumiko dia masih memegang kendali atas diri Arata.
Dia mulai melancarkan serangannya, dia mengecup sekilas bibir Arata. Perbuatan yang dilakukan Fumiko membuat Arata terkejut, dia tidak menyangka meski baru bertemu kembali dia sudah seagresif ini.
Di hati Arata memang masih ada rasa cinta untuk Fumiko, namun semua itu sudah berlalu. Sekarang dia sudah menikah dengan Lili, jadi yang akan dia lakukan sekarang adalah menjadi suami terbaik untuk istrinya.
Lili yang bosan berada di dalam kamar, memilih untuk keluar dan berjalan-jalan. Matanya tertuju pada Arata yang sedang duduk bersama seorang wanita cantik. Dalam benaknya mungkin dia adalah karyawannya.
Namun pemikiran itu hilang seketika setelah melihat wanita itu mengecup bibir Arata. Dilihat pula Arata tidak menghindar, sepertinya dia menikmati semuanya. Dia hanya diam dan memperhatikan apa yang mereka lakukan.
Jika dilihat dari sudut pandang Lili, wanita itu terlihat begitu agresif. Dia terus melancarkan serangannya pada Arata, yang membuat heran Lili mengapa Arata hanya diam. Batin Lili berkecamuk, dia tak menyadari bahwa kakinya melangkah mendekati Arata.
Fumiko merasa tidak nyaman karena ada seorang wanita yang berdiri melihat ke arahnya tanpa bicara.
"Siapa kau?! Mengganggu saja!" unjar Fumiko.
Arata yang ingin tahu siapa yang membuat kesal Fumiko, dia pun mendongak ternyata dia adalah Lili. Arata terhenyak dia langsung berdiri. Lili yang entah mengapa sangat kesal dengan apa yang dilihatnya, langsung pergi meninggalkan Arata.
Dia berlari meninggalkan Arata, kaki yang masih sakit dihiraukannya. Yang penting dia ingin pergi menjauh dari Arata, kenapa begitu sakit melihat Arata bersama wanita lain. Dalam benak Lili, jadi dialah wanita yang dicintai oleh Arata.
Arata yang melihat Lili berlari langsung mengejarnya, dia tidak ingin terjadi sesuatu pada Lili. Dia teringat bahwa kaki Lili masih belum sembuh total.
Maru melihat nona Lili berlari sedangkan tuan Arata mengejarnya. Dia pun ikut mengejar tuan dan nonanya, dalam pikirannya pasti semua ini ada hubungannya dengan nona Fumiko.
Maru benar-benar sangat kesal dengan kedatangan nona Fumiko, dia tidak ingin melihat tuan dan nona terus tidak saling bicara. Yang diinginkan Maru adalah melihat kebahagiaan dimata tuan Arta serta kebahagiaan nona Lili.
Lili terus berlari dia tidak tahu arah yang harus dia tuju, dalam hatinya hanya ingin berlari. Dia tidak menyadari bahwa arah yang ditujunya adalah sangat berbahaya.
__ADS_1
Arata terus mengejar Lili, dia tahu betul daerah ini sangat curam. Jika terjatuh maka bisa menghilangkan nyawa seseorang. Arata berlari dengan kecepatan penuh, dia harus segera menangkap Lili.
Akhirnya Arata berhasil memegang tangan Lili, dia langsung memeluk Lili dengan erat. Lili meronta agar Arata melepaskannya, dia tidak ingin dipeluk olehnya.
"Aku benci kau Arata! Lepaskan aku! Lebih baik kau bersama wanita yang kau cintai!"
Teriak Lili pada Arata, meski Lili meronta dan memukuli dadanya dia tetap tidak akan melepaskannya. Lili terus meronta dan meneriakinya untuk melepaskannya. Arata tetap mendekapnya dengan erat, hingga Lili tenang dan menghentikan teriakannya.
Arata mulai mengendurkan dekapannya, setelah dirasa sudah aman dia melepaskan dekapannya. Lili terdiam, dia sudah lelah dengan semua kegilaannya.
Brugggg!
Lili terjatuh, kakinya sudah tidak memiliki tenaga. Dia hanya terduduk di hamparan tanah. Arata berusaha membantunya untuk berdiri, Lili yang tidak mau dibantu oleh Arata menghempaskan lengan Arata.
"Tidak usah kau perduliin aku! Lebih baik kau urus wanita yang sangat kau cintai itu!"
Arata kesal dengan apa yang di ucapkan Lili, dia menggendong Lili serta berjalan menuju kamar resort. Lili sudah cukup lelah dia sudah tidak ada tenaga untuk melawan.
Arata mendudukkan Lili di atas sofa, dilihatnya kaki Lili dia merasa khawatir karena kakinya belum sembuh total. Dipijat perlahan kaki Lili guna melihat bagaimana reaksinya. Lili mengerang kesakitan, ternyata kakinya butuh istirahat.
Arata bangun guna mengambil obat untuk kaki Lili. Melihat Arata pergi meninggalkannya Lili hendak berdiri menuju kamar mandi, namun usahanya untuk berdiri gagal. Karena kakinya terasa sakit sehingga dia kembali terduduk.
Arata menghampiri Lili dengan obat ditangannya, dia berjongkok untuk memberi obat serta memijat kaki Lili. Setelah selesai dia duduk di samping Lili, dilihatnya Lili yang masih terlihat kesal.
Arata membuka pembicaraan, karena tidak mungkin jika menunggu Lili bicara terlebih dahulu. Lili hanya diam, dia masih lelah. Yang diinginkan sekarang adalah berendam di air hangat, karena tubuhnya sudah banyak mengeluarkan keringat.
"Aku ingin membersihkan diriku, badanku terasa lengket oleh keringat!"
Arata pun berdiri dia menyiapkan air untuk berendam Lili, sebernya masih ada yang ingin dia katakan. Dirasa sudah kuat, Lili pun bangun dari duduknya, dia melangkah perlahan masuk ke kamar mandi.
Brugggg!
Lili terjatuh di dalam kamar mandi, Arata sangat kesal dengan kelakuan Lili yang merasa kuat. Padahal dia masih lemah, dia butuh bantuan Arata namun dia tak mengakuinya.
"Dasar wanita kerasa kepala!"
Lili tahu perkataan itu ditujukan untuknya, "Kalau aku wanita keras kepala, tidak bisa diatur! Pergi saja kau pada wanita itu! Yang bisa kau atur, wanita yang tidak keras kepala!"
Kesabaran Arata sudah habis mendengar semua perkataan Lili, dia mengecup bibir Lili yang menurutnya sudah terlalu banyak bicara. Lili berusaha melepaskan diri dari perbuatan Arata.
Namun Arata tak melepaskan Lili, dia terus saja mengecup Lili dengan paksa. Pada akhirnya Lili mengigit bibir Arata, itu dia lakukan agar Arata melepaskannya.
__ADS_1
Bukannya menghentikan tindakannya, Arata malah semakin menggila. Dia membuka paksa pakaian Lili, melihat perbuatan Arata seperti ini mengingatkan Lili terhadap peristiwa itu.
Rasa takut Lili kembali, semua bayangan yang menjijikan kembali berputar diotaknya. Dia berteriak agar Arata menghentikan semua ini, dia tidak mau merasakan hal yang sama seperti dulu.
"Hentikan Arata! Aku mohon hentikan semua ini! Kau menyakitiku kembali! Sudah cukup Arata! Aku mohon ... Hentikan!"
Tangis Lili menyeruak di ruangan kamar mandi, entah iblis apa yang merasuki Arata. Dia masih saja melakukan hal-hal yang membuat Lili merasa jijik.
"Jika ini bisa membuatmu senang maka lakukanlah! Aku pasrah!"
Lili menghentikan perlawanannya, dia hanya diam menerima semua perlakuan Arata sembari menangis. Dia menahan semuanya, dia tak bisa melawan karena tenaganya sudah habis.
Arata tersadar dengan segala perbuatannya, dia melihat Lili yang terdiam dan menangis. Dia bingung dengan yang baru saja dia lakukan.
"Maafkan aku! Sungguh aku tidak bermaksud menyakitimu, maafkan aku!"
"Aku benci kamu Arata! Aku membencimu! Aku berusaha menghilangkan rasa trauma ini, namun kau menambhakan kembali rasa itu padaku!" gumam Lili.
Arata sungguh menyesali perbuatannya itu, entah iblis apa yang merasukinya sehingga dia tidak bisa menahan emosinya.
"Pergi kau! Biarkan aku sendiri!"
Arata pun pergi meninggalkan Lili, baik dia atau Lili membutuhkan waktu untuk menenangkan diri. Dia benar-benar tak habis pikir dengan apa yang baru dia lakukan pada Lili.
Bug!
Dia memukul tembok dengan sekuat tenaga, dia pergi ke ruang olahraga. Disana dia memukul samsak tanpa pelindung tangan, sehingga kedua tangannya memerah karena terus-menerus memukul samsak.
Disisi lain Lili berusaha mengumpulkan tenaganya, dinyalakannya keran air. Perlahan tetesan air mengalir membasahi kepala hingga seluruh tubuhnya. Dia terus membasuh tubuhnya dengan begitu banyak sabun, dia ingin menghilangkan semua yang menempel di tubuhnya
Angan-angannya hancur, Lili menginginkan hubungan suami-istri yang normal. Dia ingin melayani suaminya dengan sepenuh hati, namun kenapa Arata melakukannya lagi.
____________________________________________
Hai para pembaca setiaku, maaf kalau membingungkan ya, yang ingin tahu kelanjutan Alin dan Alex bisa lanjut baca di "Pembalasan si Kembar Wibowo" sudah bisa di baca ya selamat membaca 😊😉
__________________________________________
Jika ada yang ingin ditanyakan padaku tentang karya dan bisa langsung menghubungi ku via akun Instagram.
Klik search di Instagram dengan nama akun :
__ADS_1
@macan_nurul
Sekali lagi terimakasih untuk kalian semua 💋💋 jangan lupa ya like dan komen ya juga vote ya 😉 jangan lupa juga jadikan favorit ya 😉 😉