Musuhku Menjadi Imamku

Musuhku Menjadi Imamku
Extra Part Lili-55


__ADS_3

"Sayang, apa kau hari ini akan ke kantor?!" Lili berkata dengan lembutnya pada Arata yang masih terduduk di atas sofa. Namun dia tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Lili.


Lili penasaran apa yang dipikirkan oleh suaminya, sehingga dia tidak mendengar apa yang baru saja dilontarkan padanya. Dia menghampiri Arata, dia ingin melihat apakah dia bisa menghancurkan lamunan Arata.


"Sayang!" Lirih Lili di telinga Arata lalu dia mengigit telinga Arata dengan lembut dan melepaskannya.


Arata terperanjat setelah apa yang dilakukan oleh Lili, dia sungguh tidak menyangka istrinya bisa menjahilinya di saat dia sedang tidak siap. Ditariknya tangan Lili sehingga dia terjerembab di atas pangkuan Arata.


"Kenapa akhir-akhir ini kau nakal sekali hah!" Arata berbisik dengan penekanan namun terasa sangat manis jika di dengar oleh Lili.


Lili hanya tersenyum lalu dia mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, sehingga dia mengulangi apa yang dia tanyakan tadi. Arata pun berpikir sejenak apakah dia akan menceritakan pada Lili atau tidak, namun berpikir jika Lili sudah menjadi istrinya maka dia harus berkata jujur pada istrinya.


Arata pun mengatakan pada Lili bahwa hari ini pasti sangat sibuk baginya dan Maru, karena dia akan bertemu dengan beberapa musuhnya. Dia ingin memberi peringatan pada mereka agar tidak berlaku macam-macam terhadapnya dan perusahaannya apalagi terhadap keluarganya.


"Apakah kau harus pergi sendiri menghadapi mereka?" Rasa khawatir timbul dalam hati Lili, dia tidak ingin Arata dalam bahaya.


Arata memeluk Lili dengan lembut, dengan arti bahwa tidak perlu khawatir. Yang menjadi kekhawatirannya adalah Lili, sehingga dia menyuruh Lili agar tidak ke kantor. Karena Lili lebih aman berada di dalam rumah dengan penjagaan yang ketat.


"Maafkan aku! Andai saja kau tidak menikah denganku, mungkin hidupmu akan jauh dari marabahaya!" Arata berkata dengan menyandarkan kepalanya pada punggung Lili.


Lili tidak suka jika Arata berkata demikian, dia membalikkan tubuhnya sehingga dia bisa melihat wajah Arata dengan jelas. Ditatapnya wajah Arata dengan lekat, dia tidak menyangka Arata yang dulu sangat berbeda dengan yang sekarang.


"Aku memang menyesal menikah denganmu bahkan aku sangat membencimu! Tapi itu dulu, sekarang aku sangat mencintaimu dan menyayangimu! Karena aku sedang mengandung anak kita, maka aku akan menuruti apa yang kau katakan! Agar kau bisa menyelesaikan semua musuh-musuhmu tanpa mengkhawatirkan keselamtanku dan calon anak kita."


Mendengar apa yang dikatakan oleh Lili membuat hati Arata merasa tenang, dia pikir akan sangat sulit membuatnya mengerti akan situasi saat ini. Namun semua yang dia pikirkan salah, Lili sangat mendukung apa yang dikatakan Arata. Tidak ada bantahan apapun yang keluar dari mulut Lili.


Arata memeluk Lili dengan lembut begitu pula Lili membalas pelukan yang diberikan oleh Arata. Lili mengecup kening Arata dengan lembut tanpa disadari kecupan itu berjalan hingga mencapai bibir Arata.


Arata menerima kecupan lembut dari Lili, dia pun membalas kecupan itu dengan permainan yang membaut Lili akan menikmatinya. Permainan mereka mulai memanas, tanpa disadari posisi Lili hampir terjatuh jika saja Arata tidak langsung memegang Lili.


Arata terkekeh dengan peristiwa ini, begitupun dengan Lili. Akhirnya mereka mengakhiri permainannya, karena Arata harus segera pergi ke kantor. Lili tidak jadi pergi ke kantor karena ingin membuat Arata bisa bekerja dengan leluasa tanpa memikirkan keselamatan dirinya dan calon anaknya.


"Terimakasih sayang, kau sudah mau mengerti!" Arata berucap lalu dia mengecup kening Lili dengan lembut.


Lili tersenyum lalu merangkul lengan Arata, dia hendak mengantar Arata menuju depan rumahnya. Arata sangat bahagian dengan sikap dan perlakuan Lili akhir-akhir ini, sehingga dia tidak terlalu banyak memikirkan hal-hal yang bisa membuatnya kelelahan berpikir.


Maru sudah berada di depan, dia membukakan pintu mobil seraya menyuruh Arata untuk segera masuk kedalam mobil. Lili tersenyum lembut mengantar Arata pergi ke kantor. Dilihatin mobil yang membawa Arata hingga keluar dari halaman rumah, hingga tidak terlihat oleh kedua matanya. Setelah itu dia kembali ke kamarnya.


Di dalam kamar Lili duduk di atas sofa lalu membuka laptopnya, dia mengambil handphone-nya guna menghubungi Novi. Untuk mengatakan bahwa dia tidak akan masuk kantor hari ini, jika ada dokumen penting yang membutuhkan persetujuan dan tanda tangannya Novi bisa mengirim dokumen tersebut ke rumahnya.


Lili mulai teringat dengan sikap Novi kemarin, namun dia belum sempat bertanya padanya apa yang sudah terjadi. Namu jika ditanyakan hanya di saluran telepon saja itu tidak baik, sehingga Lili mengurungkan niatnya untuk bertanya pada Novi.


Terdengar suara ketukan pintu, Lili menyurhnya untuk masuk. Ternyata yang mengetuk adalah seorang pelayan yang membawakan sarapan untuknya. Lili menyuruh pelayan untuk meletakkan nampan yang berisi sarapan di atas meja, lalu menyuruh pelayan tersebut untuk kembali melakukan pekerjaan yang belum terselesaikan olehnya.


Setelah meletakkan nampannya pelayan tersebut bergegas pergi dari kamar. Lili melihat sarapan yang dibuatkan oleh juru masak di rumahnya langsung menyantapnya. Karena semuanya terlihat sangat enak.


Lili menghabiskan sarapannya tidak membutuhkan waktu yang lama, setelah selesai sarapan seorang pelayan masuk untuk mengambil nampan bekas sarapan. Lili meminta pelayan itu untuk membuatkan jus jeruk, karena dia menginginkan jus jeruk itu sekarang.


Pelayan pun langsung pergi meninggalkan Lili, dia berjalan cepat untuk menyiapkan pesanan Lili. Dalam beberapa menit jus jeruk pun sudah tersedia di dalam sebuah tempat yang cukup besar sehingga Lili tidak perlu meminta lagi dan lagi. Dalam benak lili, ternyata pelayan ini mengerti akan maksudnya.

__ADS_1


Saat Lili sedang asik dengan pekerjaannya, handphone-nya berbunyi yang menghubunginya adalah Novi. Dia berkata akan ke rumah untuk meminta persetujuan dan tanda tangannya.


Lili pun dengan senang hati menyuruh Novi untuk datang ke rumahnya, dalam hatinya kebetulan sekali dia ingin bertanya pada Novi apa yang sudah terjadi padanya. Dia ingin tahu semuanya, karena bagaimanapun Novi adalah saudarinya sehingga sudah kewajibannya untuk menolongnya jika dalam kesulitan.


Novi pun menutup sambungan teleponnya dengan Lili, dia bergegas mengambil dokumen yang akan di tanda tangani oleh Lili. Dia berkata pada seorsng sekertaris bahwa dia akan ke rumah Lili untuk meminta tanda tangannya, sehingga jika ada yang bertanya keberadaanya semua tidak bingung mencarinya.


Novi berjalan keluar kantor menuju parkiran mobil, setelah sampai dia memasuki mobilnya. Lalu dinyalakannya mesin mobil secara perlahan dia menjalankan mobilnya untuk keluar dari area perkiran kantor. Novi langsung tancap gas setelah keluar dari area perkiran.


Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi Novi untuk tiba di rumah Lili, dia disambut oleh para pengawal dan seorang pelayan. Lili sudah berpesan jika Novi tiba, dia langsung menyurhnya untuk menemui Lili di gazebo.


Novi pun mengikuti pelayan yang akan mengantarkannya kepada Lili, dia melihat Lili yang sedang duduk di gazebo sembari fokus bekerja di depan laptopnya. Lili menyadari jika Novi sudah tiba di rumahnya, dia menyuruh Novi suntuk duduk disampingnya.


Novi pun duduk lalu menyerahkan berkas atau dokumen yang memerlukan persetujuan dan tanda tangan Lili. Setelah menerima dokumen tersebut Lili membacanya terlebih dahulu, dia memeriksa dengan teliti agar tidak terjadi kesalahan pada dokumen yang akan dia bubuhi tanda tangannya.


"Berapa dokumen yang harus aku periksa dan ku tanda tangani?!" Lili bertanya pada Novi guna mencairkan suasana yang begitu sepi.


Novi mengatakan hanya ada dua dokumen penting yang perlu di tanda tangani oleh Lili. Setelah membaca salah satu dokumen dan tidak ada kesalah sedikitpun, dia menanda tangani dokumen tersebut. Lalu dia membaca dokumen yang satunya lagi, dia pun menanda tanganinya karena semuanya sudah pas.


"Novi, apakah ada yang ingin kau ceritakan padaku?" Lili memberanikan diri untuk bertanya pada Novi.


Novi terdiam, dia berpikir apakah harus menceritakan semuanya atau tidak. Lili yang menunggunya sudah tidak sabar, karena dia yakin Novi menyembunyikan sesuatu darinya. Lili tersebut saja memekasa Novi untuk menceritakan semuanya, tanpa ada pemotongan cerita.


Akhirnya novienagatakan semuanya pada Lili, tentang dia di culik oleh kedua orangtuanya lalu diberikan kepada pria tua hidung belang. Sampai dia diselamatkan oleh seorang pria bernama Satria.


Lili yang mendengar cerita Novi merasa geram, dia menyuruh Novi untuk pindah dari apartemennya ke rumah mama Hani. Karena Novi akan aman jika berada di rumah mama Hani, karena di sana juga Arata sudah menyiapkan beberapa pengawalnya untuk menjaga keselamatan kedua orangtuanya.


Lili mengerti dengan semua perkataan Novi, sehingga dia tidak memaksanya lagi untuk tinggal bersama mama Hani. Namun Lili akan meminta mama Hani dan papa Karim untuk mengurus om Boby dan Tante Della. Karena mereka berdua hanya akan menyakiti Novi hingga dia tidak bisa melawan lagi.


"Apa kedua orangtuamu masih berada di Jepang?!" Lili bertanya pada Novi, dia ingin memastikan jika mereka masih berada di Jepang. Itu artinya Novi akan selalu dalam bahaya.


"Aku tidak tahu! Tapi mungkin saja mereka masih berada di sini sedang mencari cara untuk mengikatku dalam ketidakmampuan!" jawab Novi yang dari setiap perkataannya ada perasaan takut dan pasrah.


Lili mengatakan akan memberinya beberapa pengawal untuk melindungi Novi, namun dia menolaknya secara lembut. Dia tidak ingin hidupnya yang normal diikuti oleh pengawal. Sehingga akan terlihat bahwa dia sedang dalam keadaan genting.


Lili bingung karena Novi menolak semua rencana yang dia berikan untuk melindungi dirinya. Dia tidak ingin Novi kembali seperti dulu yang terjermbab dalam dunia yang menjijikan.


"Kau tidak usah khawatirkan aku! Aku masih ada Tuhan yang selalu melindungiku, jika memang terjadi sesuatu padaku Tuhan pasti memberikan jalan-Nya padaku." Novi berkata dengan senyum.


Lili terkejut mendengar apa yang baru dikatakan oleh Novi, ternyata Novi yang sekarang sungguh jauh berbeda dengan yang dulu. Meski dia tidak berhijab namun cara berpakaiannya sudah mulai menutupi auratnya.


"Baiklah aku akan kembali ke kantor jika kau sudah tidak membutuhkanku lagi!" Novi berkata sembari mengambil dokumen yang sudah di bubuhi tanda tangan Lili.


Lili pun mengangguk, lalu mengatakan agar Novi selalu berhati-hati. Setelah itu Novi pergi meninggalkan Lili, dia berniat untuk kembali ke kantornya. Saat ini hanya do'a yang bisa Lili panjatkan untuk keselamatan Novi.


Siang ini Lili belum mendapatkan kabar dari Arata, tidak bisanya Arata belum menghubunginya. Mungkin dia sedang sibuk batinnya, namun dia begitu khawatir. Dia mengambil handphone-nya lalu mencari nomor yang akan dia tuju, nada sambung terdengar namun Arata tidak mengangkatnya.


Dalam benaknya mungkin Arata sedang sibuk, dia pun melanjutkan pekerjaannya. Tiga puluh menit kemudian Lili menghubungi Arata kembali, namun Arata tidak mengangkat teleponnya. Dia semakin khawatir dengan keadaan Arata, karena sesibuk apapun jika dia yang menghubunginya Arata pasti akan mengangkatnya.


Hati Lili semakin cemas, dia takut terjadi sesuatu padanya. Dia menghubungi Maru mungkin saja Maru akan mengangkat teleponnya. Nada sambung terdengar namun Maru juga tidak mengangkatnya. Lili berusaha bersikap tenang, dia pun menelepon ke kantor Arata.

__ADS_1


Saat menghubungi ke kantor, sekertaris Arata pun hanya mengatakan jika dia sedang bernegosiasi. Lili tahu Arata tidak akan mengatakan yang sesungguhnya pada sekertarisnya.


Lili terus saja menghubungi Arata namun tidak pernah ada satupun yang diangkat, dia semakin cemas. Hari sudah menjelang senja namun Arata belum juga mengabarinya atau kembali ke rumah.


Hari sudah malam hati Lili semakin tidak karuan, dia berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Memikirkan bagaimana keadaan Arata, kecemasan yang begitu kencang sehingga membuat perut Lili terasa sakit.


Lili berusaha menenangkan dirinya, dia tahu jika terus bersikap seperti itu akan berpengaruh pada kandungannya. Dia berjalan perlahan lalu duduk di atas ranjang dengan menahan rasa sakitnya.


"Tenanglah anakku, Ayahmu pasti akan segera kembali!" Lili berkata dengan mengelus lembut perutnya. Namun perutnya masih terasa sakit, diaencoba untuk mengatur ritme pernapasannya.


Meski Lili berusaha menenangkan hatinya dia tetap tidak bisa tenang, perutnya pun masih terasa sakit malah semakin meningkat rasa sakit yang dia rasakan. Sampai-sampai membalutnya mengeluarkan air mata.


Lili terus menahan rasa sakit di perutnya, dia memanggil-manggil nama Arata. Dia sangat membutuhkan Arata, dia terduduk mengerang kesakitan air matanya tidak bisa berhenti keluar sehingga membasahi bantal yang menjadi tumpuan kepalanya.


Mungkin sudah tiga puluh menit Lili merasakan nyeri di perutnya, Arata yang baru saja tiba bergegas masuk ke dalam kamarnya. Karena dia melihat total panggilan di handphone-nya mungkin sudah berpuluh-puluh panggilan tidak terjawab.


Saat memasuki kamarnya, dia sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya. Terlihat Lili yang sedang menangis dengan lirih memanggil namanya. Arata berlari dia melepas jas yang dia pegang di tangannya.


"Sayang, ada apa denganmu?!" Arata bertanya dengan rasa khawatir.


Arata membalikkan tubuh Lili lalu menyandarkan tubuh Lili di pangkuannya, Lili yang menyadari kepulangan Arata langsung memeluknya. Dia menangis sejadi-jadinya, dia sungguh merasa cemas jika tidak mendapatkan kabar darinya.


"Kenapa kau tidak menghubungiku! Aku sangat khawatir padamu, lalu aku menghubungimu namun kau tidak menjawabnya!" Tangis Lili menyeruak di dalam pelukan Arata.


Arata sungguh tidak menyangka bahwa Lili bisa khawatir seperti ini, dia sungguh menyesal karena tidak bisa menghubunginya atau menjawab teleponnya. Terdengar erangan kesakitan dari Lili, itu semakin membuat Arata khawatir padanya.


"Mana yang sakit?" tanya Arata pada Lili yang masih merasakan kesakitan di daerah perutnya.


Lili mengatakan bahwa perutnya sangat sakit, Arata mengajak Lili untuk ke Dokter namun Lili tidak mau. Dia hanya perlu menekan dirinya pasti semuanya akan baik-baik saja.


Arata pun memeluk Lili dengan lembut, dielusnya perut Lili dengan lembut sembari berbicara dengan anak yang masih ada di dalam kandungan Lili. Dia membaringkan Lili di atas ranjang agar dia bisa tidur dengan posisi yang nyaman.


Dilihat Lili sudah semakin tenang dan tidak mengeluh sakit di bagian perutnya, Arata berniat untuk membersihkan dirinya. Dia melepaskan genggamannga dari tangan Lili.


"Kau mau kemana?" Lirih Lili seraya tidak ingin ditinggalkan oleh Arata.


Arata mengatakan bahwa dia akan membersihkan diri setelah itu dia akan kembali menemaninya. Lili pun melepaskan genggaman tangannya, setelah itu Arata berjalan memasuki kamar mandi.


Tidak begitu lama Arata selesai membersihkan diri, dia melihat Lili yang masih terjaga. Lalu dia mendekati Lili dan tidur disampingnya, dia memeluk Lili agar merasa tenang. Akhirnya Lili tertidur lelap begitupun dengan Arata.


___________________________________________


Haiii para readers maafkan penulis yang banyak maunya ini ya xixixix....


Jangan lupa like di setiap episode, trus klik love biar dpt notif updatean terbaru dan klik bintang 5 biar penulis semakin semangat.


Oia satu lagi jangan lupa komen juga ya, karena like dan komen kalian sangat berarti bagiku.


Satu lagi deh jangan lupa berikan poin kalian untuk ceritaku ya 😉😉

__ADS_1


__ADS_2