
"Siapa pria tampan yang berada di belakangmu sayang?!"
Tanya nenek Salamah dengan lembut, karena dia penasaran dengan Arata. Nenek bingung biasanya jika Lili berkunjung tidak pernah membawa seorang pria. Yang pernah diajak Lili ke Bandung adalah kedua sahabatnya.
"Saya Arata, suami dari cucu kesayangan Nenek!"
Arata memperkenalkan dirinya pada nenek Salamah, mendengar perkataan Arata membuat nenek terkejut. Nenek Salamah menyuruh mereka berdua masuk ke dalam rumah. Mereka pun masuk dan duduk, meski kakek tidak memedulikan Lili. Setelah mendengar dia sudah menikah, kakek pun masih duduk ternyata dia ingin mendengarkan cerita Lili.
Lili menceritakan pernikahan mereka sangat mendadak, sehingga tidak memungkinkan kalau mengabari nenek. Karena saat itu nenek di rawat di rumah sakit, sehingga mama Hani tidak ingin merepotkan nenek. Lili tidak menceritakan atas pelecehan yang Arata lakukan, mendengar semua cerita Lili hati nenek sangat senang. Meski dia tak menghadiri pesta pernikahan cucunya itu.
Nenek Salamah menyuruh seorang pelayan untuk menyiapkan kamar untuk Lili dan Arata beristirahat. Melihat Lili yang kelelahan, nenek pun menyuruhnya untuk istirahat. Masih ada hari esok untuk berbincang-bincang. Kakek memperhatikan Arata dengan seksama, meski dia selalu ketus terhadap Lili. Namun dalam hatinya dia sangat senang melihat suami Lili yang menurutnya, Arata bisa melindungi dan membahagiakan cucunya.
Tidak ada yang tahu isi hati kakek meskipun itu nenek, dia selalu menyembunyikan semua rasa kasih sayangnya terhadap Lili. Dalam hatinya dia sudah memaafkan mama Hani, rasanya dia ingin memeluk Lili. Dia sangat merindukan kedatangan Lili, meski saat dia berkunjung perlakuannya terhadap Lili sangat kejam.
Memasuki kamar yang selama ini disediakan oleh nenek khusus untuk Lili, tidak seorang pun boleh menepati kamar ini. Arata yang memperhatikan Lili sejak awal masuk rumah ini, merasakan ada yang aneh dengannya. Begitu banyak kesedihan di matanya, rasanya dia ingin bertanya sebenarnya apa yang terjadi padanya.
Arata kelelehan, dia pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Melihat Arata tertidur di atas ranjangnya, dia memutuskan untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu. Setelah selesai membersihkan diri, dia masih melihat Arata tertidur.
"Arata bangun! Bersihkan dirimu, setelah itu kau bisa kembali tidur!"
Lili berusaha membangunkan Arata yang sedang tertidur pulas, Lili menggoyangkan tubuh Arata agar dia bangun. Namun Arata tidak bangun juga, akhirnya Lili membiarkan Arata tidur. Dia tidak bisa tidur dalam pikirannya, dia membutuhkan obat yang bisa membuatnya tertidur pulas tanpa terbangun oleh mimpi buruk.
Dia keluar menuju balkon, dipandanginya langit kota Bandung. Udara semakin dingin di saat malam hari. Dia memikirkan apa yang harus dia lakukan, setiap ada masukan dari pihak luar. Terasa mudah untuk di ucapkan namun sulit untuk di lakukan.
Pikirannya sedang melayang entah kemana, Arata mengenakan sebuah baju hangat pada tubuh Lili. Perbuatan Arata membangunkannya dari lamunan.
"Tidurlah, sudah malam! Aku tahu ini sulit bagimu, tapi cobalah untuk tidak bergantung pada obat-obatan!"
__ADS_1
Setelah berkata seperti itu Arata pergi menuju kamar mandi, dia berniat membersihkan dirinya sebelum kembali beristirahat. Lili pun kembali masuk, dia masih memikirkan apa yang baru saja Arata sampaikan. Dia pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dia berusaha menutup kedua matanya dan mencoba untuk tidur.
Arata melihat Lili yang sudah tertidur, rasa kantuknya belum muncul karena dia baru saja bangun. Dia memutuskan untuk berjalan-jalan keluar sebentar. Dilihatnya kakek sedang duduk sendiri memandangi langit yang penuh dengan kelap-kelip bintang.
Arata pun menghampiri kakek, meski Arata lahir dan tumbuh di Jepang. Namun dia bisa berbahasa Indonesia, karena ibu Rima selalu mengajarkan Arata bahasa Indonesia. Sesekali di rumah selalu menggunakan bahasa Indonesia, karena ibu tidak ingin lupa akan jati dirinya sebagai warga negara Indonesia.
Arata memutuskan untuk memulai pembicaraan dengan kakek, meski pada awalnya dia menghiraukan Arata. Lambat laun kakek pun mulai berbicara pada Arata. Dia bercerita mengenai kondisi semua putra dan putrinya. Kakek bercerita begitu sangat menyayangi mama Hani, hanya karena seorang pria yang di cintai mama Hani. Kakek marah dan mengusir mama Hani dari rumah.
Entah mengapa kakek menceritakan semuanya pada Arata, pada akhirnya ceritanya kakek berkata sangat menyayangi Lili. Hanya saja kakek tidak tahu harus memulainya dari mana. Aray yang mendengar itu langsung memikirkan sebuah cara agar mereka bisa saling bicara dan memahami.
Muncullah sebuah rencana dalam benak Arata, besok dia akan memulai rencana itu. Tapi dia membutuhkan bantuan nenek untuk rencana yang sudah dia buat. Karena hari sudah larut malam, kakek memutuskan untuk istirahat. Begitupun Arata, dia masuk ke dalam kamar dilihatnya Lili sudah tertidur pulas.
Arata pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang, dipandanginya wajah Lili dengan seksama. Dalam hati Arata sangat sedih, begitu banyak penderitaan dan kesedihan yang dialami Lili. Di tambah lagi dengan perbuatannya yang melecehkan Lili. Akhirnya Arata pun tertidur di samping Lili.
Keesokan harinya Arta meminta nenek untuk menyusun rencana, untuk menyatukan kakek dan Lili. Arata ingin mereka berdua dapat berbicara semua yang ada di isi hati mereka. Nenek yang mendengarkan rencana Arata sangat setuju, nenek akan membantu rencana Arata.
"Buka pintunya! Arata jika kau tidak membuka pintu ini! Maka aku akan menghajarmu hingga kau tidak bisa berdiri lagi!"
Teriak Lili yang kesal dengan sikap jahil Arata, kakek terkekeh yang mendengar teriakan Lili. Tak disangka cucu perempuannya sangat tangguh, dia berani mengancam akan menghajar suaminya hingga tak bisa berdiri. Lili terkejut mendengar suara tawa sang kakek, karena selam dia bertemu dengannya kakek tidak mengeluarkan suaranya.
"Apa kau sanggup menghajar suami mu? hingga tak bisa berdiri lagi!"
Lili menitikkan air mata, lama kelamaan air mata yang keluar semakin banyak dan membasahi kedua pipinya. Dia tak menyangka kakek berbicara padanya. Ini adalah kali pertama kakek bertanya pada Lili, tangisnya semakin menyeruak. Dia tak tahan lagi kesedihan dan kebahagian bercampur.
Mendengar tangisan Lili, nenek hendak membuka pintu kamar. Namun Arata menghalanginya, belum cukup waktu untuk mereka saling bicara. Menumpahkan isi hati mereka selama bertahun-tahun, nenek pun menuruti perkataan Arata.
Arata meminta nenek untuk duduk sembari menunggu cucu dan kakek selesai bicara. Satu jam mereka berada di kamar, di dengar mereka sudah mulai bicara panjang lebar.
__ADS_1
"Salamah buka pintunya! Kami sudah berbaikan, jadi kau sudah bisa membebaskan kami!"
Nenek tersenyum mendengar perkataan kakek, dia pun membuka kunci pintu kamarnya. Dilihatnya kakek sedang merangkul Lili, begitu bahagianya nenek melihat kebersamaan mereka. Suasana seperti inilah yang diinginkan oleh nenek selama bertahun-tahun. Mereka bertiga saling berpelukan, nenek merasa bersyukur atas keberhasilan rencana Arata.
Nenek pun memanggil Arata, akhirnya mereka berempat saling berpelukan. Selesai sudah semua kesalahpahaman dan keegoisan yang di miliki antara kakek dan Lili. Sekarang mereka sudah bisa bersenda gurau, sungguh pemandangan yang sangat indah.
Hari sudah siang, itu tandanya Lili serta Arata harus kembali ke Jakarta untuk menghadiri pernikahan Salma dan Rio. Mereka berpamitan pada kakek dan nenek, sebenarnya kakek masih kangen dengan Lili. Namun dia tidak bisa melarang Lili untuk tetap tinggal. Karena dia akan menghadiri pernikahan sahabatnya. Dengan berat hati kakek dan nenek mengantar mereka sampai depan pintu kepergian Lili.
"Arata pemuda yang baik, dia pasti bisa melindungi dan membuat bahagia cucu kita!"
Ucap kakek pada nenek, karena dilihat dari sudut pandang kakek Arata seperti itu. Nenek pun mengiyakan apa yang di ucapkan oleh kakek, semua itu sudah dilihat dengan mata kepalanya sendiri. Bahwa Arata bisa menyatukan kakek dan Lili yang sudah bertahun-tahun lamanya tidak saling bicara.
Nenek pun menelepon mama Hani, di ceritakan semuanya padanya. Mendengar semua cerita nenek, mama Hani menangis haru. Semua perjuangan yang dilakukan mama Hani untuk menyatukan kakek dan Lili tidak berhasil. Malahan semua itu berhasil berkat Arata, semua itu membuat mama Hani yakin bahwa Arata sudah berubah.
Dalam hatinya mama Hani berharap Lili bisa memaafkan Arata, sembuh dari traumanya dan hidup bahagia bersama Arata. Setelah mendengar cerita nenek, kakek mengambil telephonenya dan berbicara pada mama Hani. Mendengar suara kakek, tangis Mama Hani menyeruak sudah lama dia tak mendengar suara sang ayah yang sangat dicintainya.
Mama Hani dan kakek saling meminta maaf atas keegoisan selama ini, karena sifat mama Hani menurun dari kakek. Sehingga mereka teguh dengan pendiriannya. Itulah yang menyebabkan mereka tidak saling bicara selama bertahun-tahun lamanya.
Pembicaraan mama Hani dan kakek sudah selesai, mama Hani pun menceritakan semuanya pada papa Karim. Sungguh bahagian papa Karim mendengar semua cerita itu. Setelah sekian lama akhirnya gencatan senjata antara ayah, anak dan cucu sudah selesai.
__________________________________________
Jika ada yang ingin ditanyakan padaku tentang karya dan bisa langsung menghubungi ku via akun Instagram.
Klik search di Instagram dengan nama akun :
@macan_nurul
__ADS_1
Sekali lagi terimakasih untuk kalian semua 💋💋 jangan lupa ya like dan komen ya juga vote ya 😉 jangan lupa juga jadikan favorit ya 😉 😉