
Udara malam ini terasa sangat dingin, Maru yang masih berada di kediaman Arata meminta ijin untuk tidak masuk kerja beberapa hari karena harus mengantar Sarada kembali kerumah orangtuanya. Arata hanya mengijinkan Maru untuk tidak masuk kerja dua hari saja, karena masih banyak pekerjaan yang harus dia tangani.
Setelah mendapat ijin dari Arata, dia bergegas kembali ke apartemennya karena malam ini Arata sudah tidak memerlukannya lagi. Dalam perjalanan pulang Maru merasakan begitu beruntungnya dia menjadi asisten Arata, karena Arata tidak pernah mempersulitnya.
Tibalah Maru di apartemennya, dia mencari keberadaan Sarada karena dia tidak melihatnya di pantry atau di ruang televisi. Dia melangkah menuju kamarnya, mungkin saja Sarada berada di dalam kamar. Benar saja dia melihat Sarada sedang duduk sembari membaca sebuah buku.
Maru berjalan mendekatinya lalu dia memeluknya dengan erat, Sarada terkejut karena tidak menyadari kedatangan Maru. Dia tersenyum lalu membalas pelukan Maru dengan kecupan sekilas di bibirnya.
"Bersiaplah, besok kita akan ke rumah orangtuamu!" ucap Maru pada Sarada.
Wajah Sarada seketika berubah dari cerah menjadi mendung, itu membuat Maru bertanya-tanya mengapa dia tidak senang jika kembali ke rumahnya. Dia bertanya kembali pada Sarada, apakah dia tidak menyukai rencananya untuk kembali ke rumah.
Sarada hanya diam, dia tidak tahu mengapa tidak ingin pulang dalam waktu dekat ini. Entah apa yang ada dalam pikirannya yang membuatnya ragu untuk kembali ke rumah orangtuanya.
"Aku tidak tahu, rasanya aku tidak ingin kembali ke rumah itu!" jawab Sarada lirih.
Maru tahu apa yang ada di hati istrinya, dia menggenggam tangan Sarada lalu berkata padanya apa pun yang terjadi disana dia akan selalu berada disampingnya. Jawaban Maru membuat hati Sarada tenang, dia tidak menyangka bahwa Maru dapat mengerti dia.
Sarada pun menyiapkan barang-barang yang akan mereka bawa untuk kembali ke rumah. Namun dalam hatinya dia lebih memilih kembali ke rumah orangtua Maru dibandingkan pulang ke rumah orangtuanya sendiri.
Di saat Sarada merapikan barang-barang, Maru memilih untuk masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sarada selesai merapikan barang yang akan di bawa esok hari. Lalu dia menyiapkan pakaian untuk Maru jika dia sudah selesai membersihkan diri.
Sarada duduk termenung di atas sofa, dia memikirkan apa yang akan terjadi di sana. Karena dia mengingat semua perkataan Ayuka sebelum dia pergi dari apartemennya. Entah apa yang akan Ayuka lakukan jika bertemu dengannya dan Maru.
Apakah Ayuka akan melancarkan rencananya untuk merebut Maru dari tangannya, semua pikiran buruk muncul dalam pikiran Sarada. Dia tidak tahu apakah rencana ayuka yang keberapa kali yang akan berhasil merebut Maru dari tangannya.
Mari selesai dengan rutinitas membersihkan diri, dia keluar dari kamar mandi hanya menggunakan sehelai kain handuk saja. Di saat dia hendak mengambil pakaian yang sudah disiapkan oleh Sarada, dia melihat Sarada yang sedang termenung di atas sofa.
Dia tahu apa yang dipikirkan oleh Sarada, namun dalam benaknya muncul ide menjahilinya. Dia berjalan perlahan mendekatinya setelah dekat dengan Sarada dia langsung mendekap erat Sarada.
Setelah itu dia mengecup pucuk kepala Sarada dengan lembut, dia membalikkan tubuh Sarada sehingga mereka saling berhadapan. Mata mereka saling beradu, sedikit demi sedikit mereka saling mendekat lalu Maru mulai mengecup keningnya berjalan menuju kedua matanya.
Kecupan itu berlanjut ke kedua pipinya yang sudah merona, lalu berjalan kembali hingga menemukan bibir Sarada yang terasa manis baginya. Mereka pun mulai bermain dengan indahnya, sehingga mereka menikmati setiap permainan.
Di saat Sarada sedang menikmati permainan Maru, tiba-tiba dia mengilikitik Sarada di bagian sensitifnya. Sehingga Sarada tertawa karena geli, dia berusaha menjauh dari Maru.
Sarada berusaha menjauhi Maru yang nakal malam ini, namun usahanya gagal karena Maru berhasil menangkapnya. Dan mulai mengilikitiknya lagi dan lagi, dia mulai sedikit kesal dengan kenakalan Maru.
Dalam benak Sarada juga muncul ide nakal yang akan dilakukannya pada Maru. Dia menarik handuk yang menempel di pinggang Maru, bukannya berhenti menjahili Sarada. Maru semakin berniat nakal padanya, Sarada menutup kedua matanya dengan kedua tangannya. Karena sekarang Maru tidak menggunakan sehelai kainpun untuk menutupi seluruh tubuhnya.
Saat Maru hendak mendekati Sarada, handphone-nya berbunyi sehingga dia mengurungkan niatnya untuk menggoda kembali Sarada. Dia mengangkat teleponnya, Sarada mengambil pakaian Maru lalu dia membatunya mengenakan pakaian namun tidak mengganggu kegiatan meneleponnya.
Mari tersenyum namun tetap fokus dengan orang yang bicara di seberang telepon. Setelah selesai menerima telepon, dia menutupnya lalu dia mengatakan bahwa yang meneleponnya ada ayah. Dia ingin tahu apakah kita akan pulang besok atau tidak.
Sarada terdiam kembali, Maru menggendong tubuh Sarada lalu berjalan menuju ranjang. Dia menidurkan Sarada di atas ranjang. Ditatapnya Sarada dengan lekat, dia tahu banyak yang dia khawatirkan jika kembali kerumahnya. Namun yang bisa Maru lakukan hanyalah memberinya keyakinan bahwa dia akan selalu ada untuknya.
"Tenangkanlah dirimu sayang, aku akan selalu ada untukmu!" ucap Maru dengan lembut lalu mengecup kening Sarada.
Maru merebahkan tubuhnya di samping Sarada, lalu menyuruhnya mendekat sehingga tubuhnya berada dalam dekapan Maru. Dia membelai lembut pucuk kepala Sarada dengan lembut, dia berusaha membuatnya tenang agar bisa tertidur dengan pulas.
__ADS_1
Keesokan harinya mereka sudah bersiap untuk pergi ke desa untuk bertemu dengan kedua orangtua mereka. Mereka pun pergi meninggalkan aparteman, Maru menjalankan mobilnya dengan perlahan. Dia ingin menikmati suasana jalanan bersama Sarada.
Dalam perjalanan Sarada tidak terlalu banyak bicara, dia hanya memandangi jalanan yang begitu indah namun tidak membuatnya senang. Maru sudah berusaha membuatnya tidak memikirkan itu, namun semua usahanya tidak berhasil. Tibalah mereka di rumah Sarada.
Saat hendak turun dari mobil Sarada menghela napas lalu turun dari mobil, dia melihat kedua orangtuanya sudah menunggunya di luar rumah guna menyambut kedatangannya. Terlihat juga Ayuka dengan tatapan dingin namun penuh rasa iri.
"Sayang, bagaimana kabarmu? Ibu sangat merindukanmu?" ucap sang ibu yang langsung memeluknya dengan erat.
Sarada membalas pelukan sang ibu, dia pun begitu sangat merindukan sang ibu. Karena hanya ibunyalah yang selalu memberinya kasih sayang tanpa pamrih, berbeda dengan sang ayah yang selalu memarahinya dan lebih menyukai Ayuka dibandingkan dengan dirinya.
Maru menghampiri Sarada yang sudah mau menangis karena rindu sang ibu, dia membungkukkan badannya dengan arti menghormati yang lebih tua darinya. Ibu tersenyum melihat Maru, dalam benaknya ternyata Maru bisa menjaga Sarada dengan baik.
"Kemarilah, bolehkah aku memelukmu juga? Kau adalah putra kesayanganku juga!" ucap ibu pada Maru.
Maru pun menghampirinya lalu memeluk sekilas sang ibu mertua, dia sudah menganggapnya sebagai ibunya juga. Di dalam keluarga Sarada yang menyayangi istrinya hanyalah sang ibu dan sepasang suami istri yang sudah melayani keluarga ini selama bertahun-tahun.
"Ayo kita masuk! Kalian pasti lelah bukan?" ucap ibu dengan lembut lalu berjalan terlebih dahulu dengan menggandeng lengan Sarada.
Mari melihat itu sangat senang, inilah yang diinginkan olehnya memberikan kesempatan pada Sarada dan sang ibu untuk melepas rindu. Karena dia tahu Sarada sangat merindukan ibunya.
"Apa kabar Maru?!" tanya Ayuka pada Maru dengan senyum manisnya.
Maru tersenyum, dalam benaknya dia masih merasa tidak suka dengan melihat wajah Ayuka. Menurutnya dia tidak terlihat malu atau merasa bersalah sama sekali, itulah yang membuat Maru tidak suka dengan Ayuka. Inilah salah satu alasan Sarada tidak ingin kembali ke rumahnya.
Maru masuk kedalam rumah dengan menghiraukan Ayuka, dia tidak ingin berurusan dengannya saat ini. Karena dia sangat lelah, dia melihat Sarada menghampirinya lalu mengajaknya untuk ke kamarnya. Maru pun mengikutinya dengan menggandeng tangan Sarada.
Mereka memasuki kamar, tanpa banyak kata Maru mendekap Sarada dan menjatuhkan tubuh mereka ke atas ranjang. Maru berbisik padanya untuk diam beberapa saat dengannya. Dia pun diam tidak banyak bergerak, tidak terasa Maru tertidur dengan mendekap Sarada. Begitupun Sarada tertidur dalam dekapan Maru.
Tok!
Tok!
Dia berjalan mendekati pintu lalu membuka pintu kamarnya, dia melihat sang ibu yang berada di balik pintu kamarnya. Ibu mengatakan bahwa sudah waktunya makan malam, semuanya sudah menunggu di meja makan. Setelah itu ibu langsung pergi meninggalkannya.
Sarada menutup pintu kamarnya, lalu dia berjalan mendekati Maru. Dia melihat Maru yang tertidur pulas, namun dia harus membangunkannya karena semuanya sudah menunggu di bawah.
"Sayang ... Sayang ayo bangun," bisik Sarada pada Maru.
Namun Maru sulit untuk dibangunkan, Sarada memiliki cara agar Maru bisa terbangun. Dia mengecup bibir Maru dengan lembut, dia mulai melakukan permainan yang akan membangunkan Maru. Namun dia sedikit kesal karena sudah beberapa menit dia melakukan itu, Maru tidak bangun juga.
Saat dia hendak melepaskan kecupannya, Maru membuka matanya lalu menarik tengkuk leher Sarada. Mereka pun melanjutkan permainan dan sama-sama menikmatinya. Mereka tidak tahu di balik pintu sudah ada Ayuka yang di suruh ayah untuk memanggil mereka berdua.
Dari balik pintu kamar terdengar desau Sarada yang menandakan bahwa mereka sedang bermain dan menikah. Ayuka hanya mendengarkan desauan yang dikeluarkan oleh Sarada. Karena dirasa sudah cukup lama, Ayuka memutuskan untuk mengetuk pintu kamar.
Sarada menghentikan permainannya karena ada yang mengetuk pintu kamarnya, dia ingat bahwa sudah ditunggu oleh semuanya di meja makan. Namun Maru tidak mau melepaskannya.
"Sudah hentikan ini, semuanya sudah menunggu kita di bawah!" ucap lembut Sarada pada Maru.
Mari pun melepaskan Sarada, dia pun bangun dari tidurnya begitupun sarada. Sarada merapikan pakaiannya lalu berjalan mendekati pintu untuk membukanya, betapa terkejutnya dia ternyata Ayuka yang mengetuk pintu kamarnya.
__ADS_1
Di saat pintu terbuka lebar Ayuka melihat kedalam, dia melihat Maru sedang membuka kemejanya. Lalu mengganti dengan pakaian yang baru karena pakaian yang tadi dia pakai kusut karena permainan Sarada dan Maru.
"Ada apa?!" tanya sarada singkat pada Ayuka.
Ayuka mengatakan bahwa ibu dan semuanya sudah menunggu di bawah, Sarada pun menutup sebagian pintu kamarnya. Karena dia tahu Ayuka sedang melihat Maru berganti pakaian.
"Aku akan segera kebawah!" Sarada berkata lalu menutup pintu kamarnya dengan rapat.
Mari bertanya pada Sarada siapa yang mengetuk pintunya, dia mengatakan bahwa yang mengetuk pintu adalah Ayuka. Melihat wajah sang istri yang cemberut, Maru segera mendekapnya dan mengecup keningnya.
Mereka pun memutuskan untuk segera kebawah, karena tidak enak menyuruh mereka semua menunggu. Maru berjalan sembari menggandeng tangan Sarada, itu membuat Ayuka merasa marah. Dia berpikir yang berhak ada di samping Maru adalah dia.
Namu sang ibu sangat bahagia dengan melihat kedekatan Maru dan Sarada, dia bersyukur Sarada menikah dengan Maru. Dia juga melihat bahwa Maru begitu sangat mencintai putrinya itu. Sedangkan sang ayah bersikap dingin, dia tidak memperlihatkan senang atau tidak senang.
Sarada menepati tempat duduk yang sudah tersedia untuknya, begitu juga dengan Maru dia duduk di samping Sarada. Setelah semuanya berkumpul acara makan malam pun dimulai. Semuanya tampak begitu hening, tidak ada pembicaraan sedikitpun.
Setelah makan malam selesai, Maru memilih untuk ke halaman belakang, karena disana ada sebuah kursi yang menghadap ke sebuah taman kecil. Maru duduk di atas kursi itu sembari menikmati suasana malam yang begitu tenang.
Maru tidak menyadari bahwa Ayuka berjalan mendekatinya, Ayuka duduk disampingnya. Dia tidak suka dengan kehadiran Ayuka di dekatnya, lalu dia beranjak dari duduknya. Dia hendak berjalan meninggalkannya, namun tangan Maru di tarik oleh Ayuka. Sehingga Maru terhenti.
"Kenapa kau menghindariku? Apakah aku salah jika aku menginginkanmu? Karena hanya aku yang cocok denganmu! Bukan Sarada yang tidak berguna itu!" ucap Ayuka dengan rasa percaya diri yang tinggi.
Maru menghempaskan tangan Ayuka, lalu dia mengatakan bahwa Sarada lebih baik daripada Ayuka. Dia lebih cantik dan berguna dibandingkan dengannya, bahkan Sarada lebih baik dibandingkan dirinya.
Ayuka merasa kesal karena mendengar semua pujian yang diberikan oleh Maru kepada Sarada. Karena selama ini yang selalu mendapatkan pujian adalah dirinya, dia tidak terima dengan semua itu. Ayuka langsung memeluk Maru dari belakang, dia benar-benar menginginkan Maru menjadi miliknya.
Sarada terhenyak begitu melihat Ayuka memeluk Maru dan Maru tidak berusaha untuk melepaskan diri. Tanpa kata Sarada pergi meninggalkan mereka, Maru yang melihat Sarada berlari langsung melepaskan pelukan Ayuka.
"Sarada!" Maru memanggilnya namun Sarada menghiraukannya.
Mari pun mengejar Sarada yang berlari menuju kamarnya, dia tahu pasti Sarada telah salah paham terhadap apa yang baru dilihatnya. Saat Maru mengejar Sarada, Ayuka tersenyum menandakan bahwa dia menang. Dalam benaknya dia akan merebut Maru lalu menjadikannya sebagai miliknya.
Ayuka tidak mengetahui semua perbuatannya dilihat oleh sang ayah, dia sangat kecewa dengan apa yang telah dilakukan oleh Ayuka. Dia tidak menyangka putri yang dia bangga-banggakan berprilaku seperti ini. Sedangkan putri yang dia hina ternyata putri yang baik hati.
Mari mengetuk pintu kamar Sarada, dia tidak bisa masuk karena Sarada menguncinya dari dalam. Dia terus mengetuk pintu kamar namun tidak jua membuat Sarada membukanya.
"Bukalah! Apa kau ingin aku membuat keributan sehingga semua orang membukakan pintu kamarmu!" ucap Maru dengan sedikit ancaman, karena hanya itu yang bisa dia lakukan.
Akhirnya Sarada membuka pintu kamarnya, Maru pun bergegas masuk ke dalam kamar. Dia mulai menjelaskan semuanya pada Sarada, dia mengatakan tidak akan pernah mengkhianatinya. Karena dia begitu sangat mencintainya, Sarada tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Maru.
Mari mendekap Sarada, lalu berkata bahwa dia akan selalu menjadi miliknya hingga mau memisahkan mereka. Dia tidak akan tergoda oleh rayuan wanita lain selain Sarada.
Tidak terasa air mata Sarada menetes membasahi kedua pipinya, itu membuat Maru sedih pula melihat Sarada menangis karena kesalahpahaman ini. Dia terus memeluk Sarada dan selalu mengucapkan maaf.
___________________________________________
Haiii para readers maafkan penulis yang banyak maunya ini ya xixixix....
Jangan lupa like di setiap episode, trus klik love biar dpt notif updatean terbaru dan klik bintang 5 biar penulis semakin semangat.
__ADS_1
Oia satu lagi jangan lupa komen juga ya, karena like dan komen kalian sangat berarti bagiku.
Satu lagi deh jangan lupa berikan poin kalian untuk ceritaku ya 😉😉