Musuhku Menjadi Imamku

Musuhku Menjadi Imamku
Extra Part Lili-90


__ADS_3

Sudah 3 hari Maru dan Sarada di rumah kedua orangtuanya, hari ini mereka sudah kembali ke Tokyo. Karena Arata pun sudah membutuhkan bantuan Maru untuk mengurus beberapa pekerjaan. Dan Maru pun merasa tidak enak jika tidak bekerja lebih lama lagi.


"Sayang, apakah Sarada kembali hari ini?!" Lili bertanya pada Arata.


Arata mengangguk, dia mengatakan jika Maru dan Sarada sudah berada di apartemennya. Dan juga Maru sudah harus mulai masuk kerja karena Arata membutuhkan bantuannya.


Mendengar itu Lili berniat untuk berkunjung ke apartemen Sarada, dia tidak pernah menganggap Sarada sebagai istri dari bawahan suaminya. Arata bertanya pada Lili apakah dia akan ke apartemen Sarada.


Lili tersenyum, dia tidak menyangka Arata tahu apa yang dia pikirkan. Lalu Arata mengatakan agar tidak pergi sendiri karena dia sudah mulai merasa khawatir dengan kandungan Lili.


"Baiklah aku akan pergi bersama Novi," ucap Lili pada Arata untuk menghilangkan rasa khawatirnya.


Setelah mengatakan itu Lili memutuskan untuk segera pergi ke kantor, Arata sudah mulai bersikap posesif. Dia selalu mengantar jemput Lili ke kantor.


Tibalah Lili di kantor, saat dia baru duduk di kursinya Novi menghampirinya dengan beberapa dokumen yang ada di tangannya. Lalu Novi menyerahkan dokumen itu pada Lili untuk diperiksa dan di bubuhi tanda tangan.


"Novi, bisakah sore nanti kau ikut aku untuk mengunjungi Sarada yang baru tiba dari desa dengan bayinya?!" Lili bertanya pada Novi.


Novi terlihat senang mendengar Sarada sudah kembali ke Tokyo dan membawa bayi yang baru dilahirkan. Dia langsung menyetujui ajakan Lili untuk mengunjungi Sarada.


Bagaimana juga Sarada sudah banyak membantunya, dia sudah menganggap Sarada sebagai temannya juga. Dan juga dia ingin melihat bayi cantik milik Sarada.


Setelah membicarakan itu dia menunggu Lili selesai dengan dokumennya. Lalu dia mengambil dokumen yang sudah di bubuhi tanda tangan Lili. Dia kembali ke ruangannya untuk menyelesaikan semua pekerjaannya.


Beruntung saja kehamilan Novi tidak terlalu menganggu sehingga dia masih bisa bekerja seperti biasanya. Baik Novi atau Satria tidak mengalami apa yang dirasakan oleh wanita yang sedang hamil. Seperti rasa mual atau pusing hingga mengakibatkan tidak sadarkan diri.


Sehingga itu membuat Arata merasa iri karena Satria tidak merasakan apa yang dia rasakan saat tri semester kehamilan Lili. Namun, sensitivitas Novi yang sangat kuat, sehingga dia sering menangis hanya hal kecil.


Setelah selesai dengan pekerjaannya dan hari pun sudah sore, Lili bergegas menuju apartement Sarada bersama Novi. Dan dia pun memilih menggunakan mobil Novi, sehingga nanti Arata bisa menjemputnya di apartemen Sarada.


Dalam perjalanan mereka memutuskan untuk berhenti di sebuah toko perlengkapan bayi. Mereka mencari apa yang cocok untuk bayi Sarada, begitu banyak pakaian dan perlengkapan bayi yang sangat lucu dan cantik.


Setelah memilih barang yang mereka sukai untuk bayi cantik Sarada, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan menuju apartement Sarada.


Tibalah mereka di apartemen Sarada, mereka disambut dengan hangat sang suara tangisan putri mungil yang tidak tahu ingin apa. Lili langsung menuju keran yang ada di pantry lalu mencuci tangannya. Setelah itu dia meminta kain bersih pada Sarada.


Sarada memberikan kain bersih pada Lili dan Lili menempelkan kain bersih itu di tubuhnya lalu dia menggendong putri mungil Sarada dengan lembut. Meski dia sedang mengandung, dia tidak ingin melewatkan menggendong bayi cantik yang ada di pangkuannya saat ini.


Saat Lili sedang menggendong bayi mungil itu, Novi pun melakukan hal yang sama dengan Lili. Dia mencuci tangannya lalu kembali duduk di samping Lili yang sedang fokus pada bayi mungil itu.


Sarada yang melihat Lili dan Novi sedang asik bermain dengan bayinya, dia berjalan menuju pantry lalu membuatkan minuman hangat dan menyiapkan camilan. Setelah selesai dia membawanya lalu menyimpannya di atas meja.


Mereka pun mulai berbincang-bincang, mulai dari saat peristiwa penyerangan Sarada hingga melahirkan bayinya. Dan juga menganut Maru yang mencari para berandalan yang telah menyebabkan Sarada kesakitan. Akhirnya Maru pun menemukan mereka dan menghukum mereka dengan sangat kejam.


Beberapa saat kemudian, Maru tiba dengan Arata dan diikuti oleh Satria. Arata yang melihat bayi mungil Maru sangat senang sehingga dia tidak menyadari jika bayi tersebut membasahi pakaiannya.


Saat dia tersadar semuanya terkekeh, Sarada yang tidak enak dengan kejadian itu meminta maaf. Arata tersenyum lalu berkata dengan lirih jika akan menghukumnya kelak jika dia sudah besar.


Setelah berbincang-bincang cukup lama dan hari sudah semakin larut, mereka semua memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing. Sehingga apartement Sarada kembali sepi, hanya suara tangis bayi yang selalu terdengar.


Saat dalam perjalanan pulang Arata merasa sudah tidak sabar menanti kelahiran bayi yang ada di dalam kandungan istrinya. Lili yang melihat Arata tersenyum manis penasaran apa yang sedang dipikirkannya.


"Sayang, apa yang kau pikirkan?!" tanya Lili dengan kebutuhan pada Arata.


"Aku sudah tidak sabar menunggu kelahiran buah hati kita," jawab Arata semabari menyentuh perut Lili dengan lembut.


Lili tersenyum melihat apa yang dilakukan oleh suaminya,saat yang bersamaan bayi yang ada di dalam kandungannya bergerak-gerak. Sepertinya sang bayi menyadari sentuhan ayahnya yang lembut dan hangat.


"Sayang, kau lihat itu? Bayi kita bergerak?!" Arata merasa terkejut sekaligus bahagia.


Perjalan terasa sangat sebentar, mereka sudah kbali ke rumah. Lili langsung menuju kamarnya sedangkan Arata menuju ruang baca. Lili memutuskan untuk membersihkan diri lalu akan melihat Yuki sebentar.


Setelah selesai membersihkan diri, Lili berjalan keluar dari kamar mandi lalu dia melangkah menuju almari guna mengambil pakaian tidur. Setelah memakai pakaian dia berjalan keluar menuju kamar Yuki.


Lili membuka pintu kamar Yuki bsecara perlahan, lalu dia memasuki kamarnya dengan jalan perlahan. Dia melihat Yuki yang sudah terlelap, dipandanginya wajah Yuki dengan lekat. Entah mengapa dia sangat menyayangi Yuki seperti anak kandungnya sendiri.

__ADS_1


Dia meyakinkan dirinya jika nanti bayinya lahir dia tidak akan membeda-bedakan kasih sayangnya. Semuanya akan mendapatkan kasih sayang yang sama. Dia membelai lembut rambut Yuki yang tergerai, lalu mengecup keningnya dengan lembut.


Setelah itu Lili berjalan keluar kamar dan berjalan perlahan menuju kamarnya. Namun, dia merasa lapar lalu berjalan menuju pantry. Semua pelayan sudah tidur jadi dia tidak bisa meminta tolong untuk dibuatkan makanan.


Arata mengikuti Lili yang berlahan menuju pantry, dia ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh istrinya itu tengah malam begini ke pantry. Melihat Lili yang membuka lemari pendingin, Arata tahu pasti Lili sedang ingin makan sesuatu.


"Sayang, kau mau makan apa?!" tanya Arata dan itu mengejutkan Lili.


"Sayang— kau mengejutkanku saja! Untung bayi kita tidak langsung keluar!"


Arata terkejut ketika Lili mengatakan bahwa bayinya keluar, dia langsung mendekati Lili dan mecari bayinya. Dia bertanya di mana bayinya? Semua sikap Arata membuat Lili terkekeh.


"Mengapa kau tertawa? Bukankah kau mengatakan jika bayi kita sudah keluar?!" Arata bertaya dengan menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.


"Sayang, kau ini seperti anak kecil saja! Sudahlah aku ingin makan sesuatu, bisakah kau membuatkan makanan untukku?!" Lili berkata pada Arata dengan nada manjanya.


Arata pun mulai memasak untuk Lili, dia senang jika Lili memintanya untuk memasak sesuatu untuk dimakan olehnya dan calon bayi yang ada di dalam kandungannya.


***


Hari demi hari dijalani oleh Lili dan Arata dengan tenang, tidak terasa bulan pun berganti bulan. Dan Lili sedang menunggu hari-hari menjelang kelahiran bayinya.


Arata menyuruh Lili untuk tidak bekerja karena kandungannya sudah besar dan akan segera melahirkan. Lili pun menuruti apa yang dikatakan oleh Arata. Dia tidak mau jika Arata mulai bersikap cerewet jika tidak diikuti keinginannya.


"Sayang, apakah kau akan pergi kerja?!" Lili berkata dengan manja pada Arata yang sudah bersiap-siap.


"Kenapa kau manja sekali hari ini? Aku akanpulang nanti sore!" jawab Arata dengan lembut pada Lili.


Lili berjalan perlahan menuju pintu kamar lalu menguncinya. Arata bingung dengan apa yang ingin dilakukan oleh Lili, dia beranggapan jika dirinya sedang dikurung dan tidak boleh keluar.


Lili mengalungkan kedua tangannya di leher Arata, dia mengecup lembut bibir Arata. Lalu bermain dengan lembut, Arata merasa bingung karena beberapa hari ini Lili selalu menginginkan untuk bermain.


"Apa kau menginginkannya, sayang?!" Arata berbisik pada Lili dengan lembut.


Arata mengecup lembut dari kening, mata, pipi dan berkahir di bibir Lili yang terasa manis baginya. Dia bermain cukup lama dengan bibir Lili, lidahnya bermain di dalam rongga mulut Lili. Permainan lembutnya itu membuat Lili menikmatinya, sehingga dia pun ikut dalam permainan Arata.


Tangan Arata pun tidak ingin ketinggalan dalam permainan, tangannya mulai berjalan menelusuri setiap jengkal lekuk tubuh Lili. Dia memainkan tangannya di perut Lili dengan lembut sehingga membuat tenang bayi yang ada di dalam kandungan Lili.


Dia menghentikan kecupannya di bibir Lili lalu dia menatap dengan lekat wajah istrinya itu. Terlihat jelas jika Lili sangat menikmati permainan yang dilakukannya. Dia merasa khawatir dengan kandungan Lili buang sudah membesar.


Namun, dia teringat akan perkataan dokter jika berhubungan suami-istri bisa dilakukan pada saat ini. Akan tetapi, hsrus dilakukan dengan sangat perlahan agar tidak membuta sakit Lili. Dokter pun mengatakan jika hormonnya saat ini akan meningkat, sehingga rasa ingin bermain akan meningkat pula.


Arata melepaskan satu per satu kancing pakaian Lili, sehingga dia bisa melihat dengan jelas tubuh Lili yang sudah berisi karena sedang mengandung. Namun, tidak menghilangkan lekuk tubuhnya. Dia mengecup kembali bibir Lili dengan lembut sedangkan tangannya bermain dengan bagian dada Lili.


Lili merasakan kegelian yang sangat nikmat, sehingga tubuhnya menggelinjang. Arata berusaha menekan dengan lembut agar tubuh lili tidak terlalu bergerak cepat karena bisa membuat kandungannya bermasalah.


"Rileks saja sayang," bisik Arata di telinga Lili lalu mengecup daun telinga Lili dengan lembut.


Setalah membisikkan itu, bibir Arata mengecup bagian dada Lili dengan lembut dan bermain cukup lama di sana. Sehingga Lili tidak bisa menahan suara lirih nan lembut dari mulutnya. Itu membuat Arata semakin menikmatinya.


Arata mulai bermain dengan lembut di area sensitif bagian bawah Lili, dia tidak ingin membuat lili merasakan kesakitan. Permainan lembut Arata membuat Lili semakin menikamnya hingga mencapai titik puncak kenikmatan. Akhirnya mereka berdua mencapai titik kenikmatan secara bersamaan.


Setalah melakukan permainan, baik Lili atau Arata beristirahat sejenak untuk mengumpulkan tenaga yang sudah hilang. Beberapa saat kemudian Arata memutuskan untuk membersihkan dirinya lalu dia akan kembali bersiap untuk pergi ke perusahaannya. Karena ada yang harus dia selesaikan terlebih dahulu.


Setelah Arata selesai membersihkan diri, sekarang giliran Lili yang membersihkan diri. Tidak begitu lama rutinitas membersihkan diri sudah selesai. Dia masih melihat Arata masih berada di dalam kamar, lalu dia bertanya apakah akan sarapan di rumah atau tidak.


"Aku sudah kenyang," jawab Arata dengan lembut lalu tersenyum yang menandakan sesuatu yang mesum.


Lili merasa malu dengan perkataan Arata tadi karena dia yang memintanya terlebih dahulu. Dia juga merasa ada yang aneh dengan dirinya. Karena dia selalu menginginkan untuk bermain dengan Arata.


"Aku harus ke perusahaan dan akan kembali nanti sore, jadi kau harus bertahan menungguku ya!" ucap Arata yang menggoda Lili.


Seketika wajah Lili merona mendengar apa yang dikatakan oleh Arata, setelah itu dia menyuruh Arata untuk segera pergi agar Maru tidak menunggunya terlalu lama.


Arata kembali menggoda Lili dengan mengatakan ini semua ulahnya yang membuat Maru menunggu lama. Sehingga siapa yang harus dipersalahkan.

__ADS_1


"Sudah hentikan menggodaku terus, cepat pergi dan cepat kembali!" Lili berkata dengan lembut lalu mengecup sekilas bibir Arata.


Arata pun meminta Lili untuk mengantarnya ke depan, entah mengapa dia merasa tidak ingin pergi meninggalkan Lili. Namun, ada pekerjaan yang tidak bisa dia tinggalkan.


Lili mengantar Arata hingga masuk kedalam mobilnya dan tidak pergi hingga mobil yang ditumpangi oleh Arata tidak terlihat lagi. Ada perasaan yang aneh dalam hatinya, dia merasakan akan terjadi hal yang tidak mengenakan baginya. Namun, dia menghempas pikiran buruk itu dan kembali masuk ke dalam rumah.


Lili berjalan perlahan menuju taman belakang guna menemui ibu yang sudah menunggunya di taman seperti hari-hari sebelumnya. Lili melihat ibu melambaikan tangannya seraya menyuruh Lili untuk segera menghampirinya.


Lili berjalan dengan perlahan menuju ibu yang sedang duduk di gazebo. Setelah dekat dengan posisi ibu, Lili melihat meja yang sudah penuh dengan camilan dan minuman. Mereka pun mulai berbincang-bincang sembari menikmati semuanya.


Yuki yang melihat ibu dan neneknya sedang berbincang-bincang, menghampiri mereka. Dia ingin bertanya pada Lili apakah dia bisa pergi untuk membeli buku di toko buku.


Yuki pun menyapa mereka berdua dengan lembut lalu berkata, "Bu, apakah aku boleh keluar untuk membeli buku di toko buku?!"


"Kau bisa menyuruh seseorang untuk membeli buku itu,'kan?" Lili bertanya balik pada Yuki.


Namun, Yuki ingin pergi sendiri semabri membeli es krim di tempat biasa dia makan. Dia tahu jika lili tidak bisa menemaninya, jadi dia mengatakan jika dia akan pergi bersama beberapa pengawal agar Lili merasa tenang.


Lili belum bisa memutuskan semuanya, lalu dia menghubungi Arata dan mengatakan apa yang diinginkan oleh Yuki. Arata mengizinkan Yuki untuk pergi dengan di temani beberapa pengawal.


"Kau boleh pergi— tapi ingat kau tidak boleh pergi jauh dari para pengawal!" Lili berkata dengan tegas tetapi lembut sehingga tidak membuat Yuki merasa terkekang.


Yuki senang dia diizinkan untuk pergi, dia memeluk lili dengan lembut lalu pergi ke akarnya untuk mengambil barang yang dibutuhkannya untuk pergi ke toko buku.


Lili menyuruh beberapa pengawal untuk menjaga Yuki dengan baik dan jangan sampai terjadi sesuatu pada Yuki. Jika tidak mereka akan mendapatkan hukuman berat dari Arata atau Maru.


***


"Tuan, siang ini Anda harus menghadiri meeting di perusahan Aizawa!" Maru mengatakan itu untuk mengingat Arata.


Arata melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, lalu dia bertanya pada Maru bapakah semuanya sudah disiapkan. Maru mengangguk yang artinya semua sudah siap. Sekarang hanya tinggal menunggu Arata untuk ikut dengannya ke perusahaan Aizawa.


"Baiklah kita pergi!" Arata berkata sembari berjalan meninggalkan beruang kerjanya.


Dalam perjalan menuju perusahaan Aizawa, Arata mendapatkan sebuah pesan yang tidak dikenal. Pesan itu mengatakan jika Yuki dalam bahaya, Arata langsung memberitahukan Maru tentang hal ini.


Arata mencoba menghubungi nomor yang mengirimkannya pesan tetapi nomor tersebut tidak dapat dihubungi. Dia tahu jika saat ini Yuki sedang berada di luar rumah. Dia menyrih Maru untuk menghubungi pengawal yang melindungi Yuki.


Maru pun menghubungi pengawal yang melindungi Yuki, lalu dia bertanya pada pengawal itu. Setelah merasa puas dengan jawaban pengawal itu, Maru menutup sambungan teleponnya.


"Nona Yuki, dalam keadaan baik-baik saja! Pengawal mengatakan jika tidak ada yang mencurigakan." Maru berkata pada Arata.


Setelah mendengar laporan Maru, Arata merasa lega lalu dia menyuruh Maru untuk melanjutkan perjalanan menuju perusahaan Aizawa. Tibalah Arata di perusahaan Aizawa, dia langsung menuju ruang pimpinan perusahaan.


Setelah membicarakan tentang kerja sama mereka, akhirnya kedua perusahaan setuju dengan persyaratan yang telah diajukan oleh kedua belah pihak. Setalah selesai dengan pertemuan ini, Arata memutuskan untuk kembali ke perusahaan.


Saat dalam perjalanan menuju perusahaan, ponsel Arata berdering dia melihat pada layar tertera nama Yuki. Dia segera mengangkatnya, terdengar suara tangis Yuki yang meminta tolong padanya.


Arata berusaha tenang lalu dia bertanya pada posisi Yuki sekarang tetapi Yuki tidak mengetahui posisinya sekarang. Lalu Arata menyuruhnya untuk memberikan ponselnya pada salah satu pengawal.


Yuki mengatakan jika pengawal sedang berkelahi guna melindunginya, lalu Arata mengatakan padanya untuk mengirimkan lokasi melalui ponselnya. Yuki pun segera memutuskan sambungan teleponnya dan mengirim lokasi dia berada sekarang.


Arata mendapatkan pesan dari Yuki tentang posisi dia sekarang, lalu dia menyuruh Maru untuk segera menuju lokasi yang diberikan Yuki. Dia pun menyuruh Maru untuk mengirim pengawal untuk menuju posisi Yuki berada sekarang.


Maru dengan cepat melaksanakan semua perintah Arata, setalah itu dia menambah kecepatan mobilnya. Sehingga mobil melesat dengan kecepatan tinggi. Dalam benak Maru harus segera menyelamatkan Yuki, jika tidak Arata dan Lili akan merasa sedih serta merasa bersalah karena tidak bisa melindungi Yuki.


"Cepat Maru! Kita harus tiba disana dengan cepat, sebelum semuanya terlambat!" ucap Arata pada Maru. Sehingga Maru semakin menambah kecepatan mobilnya.


Dari kejauhan sudah terlihat beberapa orang yang sedang berkelahi, Arata yakin mereka adalah pengawal Yuki. Maru pun melihat dengan jelas apa yang ada di depannya. Dia menginjak gas dengan kuat lalu menghentikan mobil tepat di samping mobil yang di dalamnya ada Yuki.


Arata segera turun dari mobil lalu dia menghampiri mobil yang di dalamnya ada Yuki. Melihat Arata yang sudah tiba, Yuki segera membuka pintu mobil dan memeluk Arata. Dia terlihat ketakutan dengan apa yang sedang terjadi.


"Yuki, sayang lebih baik kembali masuk dalam mobil karena itu lebih aman untukmu!" Ara berkata dengan lembut pada Yuki.


Dia tidak ingin Yuki melihat semua perkelahian ini, setelah mendengar apa yang diucapkan oleh Arata. Yuki pun langsung masuk kedalam mobil dan menutup rapat pintu mobil.

__ADS_1


__ADS_2