
"Novi, bagaimana meeting-nya tadi?" Lili bertanya pada Novi yang baru saja tiba di kantor.
"Semuanya berjalan dengan yang kita harapkan," jawab Novi dengan senyum khasnya.
Mendengar jawaban Novi membuat Lili merasa lega, akhirnya Novi sudah bisa menghandle pekerjaan dia dengan baik. Sehingga dia bisa meninggalkan Novi untuk beberapa minggu ini untuk mengurus perusahaanya.
"Novi, malam ini apakah kau tidak sibuk?" Lili bertanya.
"Tidak, Memangnya ada apa?" jawab Novi singkat.
"Kita makan malam, sebelum keberangkatan ku selama beberapa hari untuk pergi bersama Arata." Lili berkata sembari duduk di kursinya.
"Baiklah," jawab Novi sembari berjalan meninggalkan ruangan Lili.
Dalam benak Lili berkata, mungkin ini adalah cara membatu kalian menyelesaikan semua permasalahan antara kalian. Dia sangat menginginkan Novi mendapatkan kebahagiaanya. Jika dia marah itu akan di urus ya nanti.
Lili memutuskan untuk makan malam di apartemen Satria, karena Satria sudah menyiapkan semuanya untuk Novi. Lili baru mengetahui bahwa apartemen Satria dan Novi berdekatan. Dalam hatinya mungkin Satria sengaja pindah ke apartemen yang sama dengan Novi.
"Hallo sayang," sapa Arata pada Lili yang sedang duduk di kursi kerjanya.
"Sayang, kau sudah menjemputku jam segini?" Lili berkata dengan senyum merekah.
Arata berjalan mendekatinya lalu memberi kecupan hangat di kening Lili. Lalu dia berjalan menuju sofa untuk duduk menunggu Lili selesai bekerja. Lili menyelesaikan semua pekerjaannya, dia merasa tidak nyaman karena Arata selalu memandanginya.
"Sudah cukup, kau memandangiku?" Lili berkata dengan nada sedikit kesal.
Arata terkekeh mendengar itu, rupanya Lili merasa terganggu jika terus-menerus dipandanginya. Bukannya menghentikan memandang Lili dia semakin nakal, Arata berjalan menghampiri Lili. Dia menarik Lili dari tempat duduknya, lalu dia duduk di kursi yang Lili duduki tadi. Lili memicingkan matanya, Arata tidak peduli dengan tatapan Lili. Dia langsung mendudukan Lili di pangkuannya.
"Sekarang kau boleh melanjutkan pekerjaanmu!" ucap Arata dengan tenangnya.
"Bagaimana aku bisa bekerja? Jika kau seperti ini!" gerutu Lili yang terlihat kesal dengan ulah Arata.
Arata terkekeh akan tetapi di masih tidak mau beranjak, sehingga Lili terpaksa duduk di pangkuan Arata. Meski dia merasa tidak nyaman jika bekerja duduk di pangkuan seseorang. Lili menghela napasnya lalu melanjutkan pekerjaannya, dia ingin segera menyelesaikan semua dokumen yang harus dia cek lalu di bubuhi tanda tangannya.
Arata mulai berniat menganggu Lili, tangannya mulai melakukan hal nakal. Arta tersenyum, tangannya mulai menelusup ke dalam pakaian Lili, sehingga membuat Lili terkejut.
"Apa yang kau lakukan? Ini sedang di kantor!" guamamnya yang masih bisa terdengar oleh Arata.
"Lanjutkan saja kerajaanmu! Dan aku dengan pekerjaanku," bisik Arata.
Tangan Arata terus saja berjalan di punggung Lili, sesekali dia mengecupnya dengan lembut. Sehingga membuat Lili merasa kegelian, bukan hanya di punggung saja. Tangan Arata terus berjalan hingga ke bagian tubuh Lili yang berada di depan. Dia memainkan bagian dada yang membuat Lili tidak bisa menahan desaunya, itu membuat Arata sangat menikmati itu.
"Hentikan Arata, bagaimana jika ada yang masuk!" Lili berkata lirih sembari menahan semua serangan dari Arata.
Arata turus melakukan serangannya, dia tidak peduli dengan siapa yang akan masuk. Karena dia sudah menyuruh Maru untuk berjaga agar tidak ada yang masuk ke kantor Lili. Maru mengerti apa yang akan dilakukan oleh Arata, dia mengangguk lalu mulai berjaga di luar ruangan Lili.
Arata menyuruh Lili membalikkan badannya, sehingga mereka sekarang saling berhadapan. Kedua bola mata mereka saling menatap, Lili tidak bisa menahannya lagi. Secara perlahan kedua bibir mereka saling mendekat, Arata mengecup bibir Lili dengan lembut. Tangan Arata tidak berhenti begitu saja, dia membuka satu per satu kancing dari kemeja yang dikenakan oleh Lili.
Arata menghentikan kecupannya yang membuat Lili terbuai oleh permainannya, sehingga dia tidak menyadari bahwa kancing kemejanya sudah terlepas. Terpangpanglah tubuh bagian depan Lili yang membuat Arata tidak bisa menahan untuk menikmatinya.
"Sudah cukup hentikan ini, sayang!" Lirih Lili dengan menyentuh wajah Arata dengan kedua tangannya.
"Sebentar saja sayang, biarkan aku menikmatinya." Lirih Arata yang sudah tidak bisa menahan lagi untuk menyerang Lili.
Arata pun mengecup leher Lili dengan lembut, lalu menjalar menuju dada Lili yang begitu sensitif. Lidahnya terus memainkan bagian sensitif Lili, sehingga membuat Lili menggeliat tetapi menukangi semua permainan Arata.
Tok!
Tok!
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, Arata menghentikan semua kegiatannya. Lalu membatu Lili untuk merapikan pakaiannya yang sudah di hancurkan oleh permainan Arata. Dia tersenyum saat melihat ekspresi wajah Lili yang masih merona akibat menikmati semua permainannya. Dengan napas yang belum beraturan, Lili berdiri guna mengatur kembali ritme pernapasannya.
Sedangkan Arata beranjak dari kursi kerja Lili, lalu merapikan pakaiannya dan berjalan menuju sofa. Dia duduk dengan santai, sehingga tidak terlihat jika dia sudah melakukan tindakan nakal pada istrinya.
"Masuk!" ucap Lili singkat.
Pintu terbuka, seorang sekretaris mendekati Lili dengan membawa beberapa dokumen untuk diperiksa oleh Lili. Dia juga meminta dokumen yang sudah di bubuhi tanda tangan Lili. Dengan senyum khasnya Lili memberikan beberapa dokumen yang sudah selesai dia cek dan yang sudah dia bubuhi tanda tangannya. Setelah menerima dokumen dari Lili sekertaris itu bergegas kembali ke ruangannya.
"Bagaimana ini sayang? Pekerjaanku semakin banyak?" Lili berkata pada Arata yang sedang duduk di atas sofa.
"Kerjakan apa yang bisa kau kerjakan di sini, sisanya kau bawa ke rumah saja!" jawab Arata dingin.
Lili tersenyum mendengar jawaban dari Arata, dia tahu jika Arata sedang kesal karena permainannya di ganggu. Lagi pula itu salahnya sendiri mengapa bermain di kantor, batinnya.
Lili tersenyum lalu melanjutkan pekerjaannya sedangkan Arata dia membuka Notebook-nya untuk mengecek beberapa pekerjaannya. Tidak terasa waktu berlalu sangat cepat, sudah waktunya mereka untuk pergi makan malam bersama Satria.
"Novi, kita pergi bersama saja! Lagi pula tempatnya dekat apartemenmu, sedangkan mobilmu bisa kau simpan di parkiran kantor saja!" ucap Lili pada Novi.
Novi mengangguk lalu dia mengikuti lili dari belakang, dalam hatinya entah mengapa mengatakan akan terjadi sesuatu. Namun dia menghempaskan semua pikiran negatif di hatinya.
Dalam perjalanan hati Novi semakin tidak karuan, dia merasakan pasti akan terjadi sesuatu. Entah itu akan membuatnya menderita atau merasa bahagia, dia hanya termenung selama dalam perjalanan.
Tibalah mereka di apartemen Satria, Novi merasa aneh mengapa mereka berhenti di apartemennya. Dia tidak mengetahui bahwa yang mengundangnya makan malam adalah Satria. Dia juga tidak tahu bahwa Satria sudah pindah apartemen sehingga menjadi lebih dekat dengan Novi.
"Li, sebenarnya kita mau makan malam dengan siapa? Dan ini apartemen dekat dengan apartemenku!" tanya Novi pada Lili.
__ADS_1
"Kita lihat nanti ya, dia adalah teman Arata. Ayo kita jalan jangan membuat Tuan rumah menunggu kita." Jawab Lili dengan lembut pada Novi sembari menggandeng tangannya.
Mereka berjalan menuju apartemen Satria, ini semua membuat Novi semakin penasaran. Karena apartemennya tidak begitu jauh dengan apartemennya hanya terpisahkan oleh satu apartemen orang lain.
***
Arata memijit bel apartemen temannya, tidak begitu lama keluarlah seorang pria yang membuat Novi terkejut. Dia baru mengetahui bahwa Satria yang tinggal di apartemen ini.
"Ayo masuk! Aku sudah siapkan semuanya," Satria berkata dengan membuka lebar-lebar pintu apartemennya.
Arata dan Lili masuk dengan santainya sedangkan Novi terdiam sesaat, dia merasa ragu apakah harus masuk atau tidak. Karena dia tidak ingin terlalu berdekatan dengan Satria, baginya sudah cukup tahu saja.
"Masuklah! Tidak enak dengan Lili dan Arata jika kau pergi begitu saja!" Satria berkata dengan lirih.
Novi pun masuk karena dia melihat Lili serta Arata sudah ada di dalam, dia menghempaskan semua perasaan yang ada di hatinya. Novi duduk di atas sofa menunggu semua siap, kali ini yang menyiapkan semuanya Satria yang di bantu Arata.
"Maaf ya, Novi aku tidak bermaksud membohongimu. Namun aku melakukan semua ini atas permintaan Satria." Lili berkata dengan nada penyesalan.
"Tidak apa-apa, kau tidak usah meminta maaf padaku! Santai saja," jawab Novi sembari tersenyum meski hatinya tidak ingin tersenyum.
Setelah semuanya siap, para pria memanggil Lili dan Novi. Mereka sudah membukakan kursi untuk para wanita duduk, terlihat sangat manis bagi Lili. Mereka pun duduk dan mulai menyantap makan malam yang sudah tersedia di atas meja.
Satria tidak tahan untuk melihat ke arah Novi, dia selalu mencuri pandang dan itu terlihat jelas oleh Lili dan Arata. Sehingga mereka berdua menertawakan Satria, menurut Lili.
Acara makan malam pun selesai, tiba-tiba Arata menerima sebuah panggilan dari ponselnya. Setelah menerima telepon dia bergegas pamit undur diri lebih awal, akhirnya Lili dan Arata pergi lebih dulu di saat Novi sedang berada di dalam toilet.
Novi bingung saat dia keluar tidak melihat batang hidung Lili dan Arata, dia hanya melihat Satria yang sedang berdiri di balkon. Dalam hatinya, jika Lili sudah pulang maka dia pun memutuskan untuk kembali ke apartemennya. Novi menghampiri Satria yang sedang berada di balkon.
"Karena semuanya sudah pulang, aku akan kembali ke apartemenku!" Novi berkata dengan maksud untuk undur diri.
"Tunggu! Apa kau tidak rindu padaku?" ucap Satria sembari memandangi langit.
Novi hanya terdiam, dia tidak tahu jawaban apa yang harus dia katakan. Karena baginya dengan sebulan Satria tidak menghubunginya mendandakan bawa dia harus mundur.
"Apa kau tidak mau tahu apa yang telah aku putuskan," Satria berkata.
"Aku sudah tahu apa keputusannya, kalau begitu aku pergi dulu!" Novi berkata lalu berjalan meninggalkan Satria.
Srettt!
Satria menarik tangan Novi sehingga Novi terjatuh ke dalam pelukannya, dia memeluk dengan sangat erat. Dia tidak ingin kehilangan Novi, karena baginya wanita yang sedang dia peluk ini adalah calon istrinya.
"Memangnya kau tahu apa keputusanku? Sehingga kau memutuskan untuk mundur dan pergi dariku!" bisik Satria dengan lembut.
"Lepaskan aku!" Novi berkata sembari berusaha melepaskan diri dari dekapan Satria.
Namun usahanya tidak berjalan dengan baik, semakin dia berusaha melepaskan diri maka semakin erat dekapan Satria padanya. Akhirnya Novi terdiam, dia tidak berusaha lagi untuk melepaskan diri.
"Aku ingin kau menjadi istriku." Lirih Satria.
Mendengar itu, Novi menitikan air matanya. Dia tidak menyangka dengan apa yang baru dia dengar dari bibir Satria. Apakah ini rasanya jika seseorang melamar seorang wanita yang sudah kotor. Apakah dia berhak mendapatkan pria yang baik ini? Apalah kelak Satria tidak akan menyesal jika menikah dengannya? Semua pertanyaan itu muncul dalam benak Novi.
"Ada apa denganmu?" Satria bertanya karena mendengar isakan tangis Novi, lalu dia melepaskan dekapannya.
"Apa kau tidak akan menyesal dengan keputusan yang kau ambil? Karena aku bukanlah wanita yang bersih! Aku adalah wanita yang kotor, wanita yang sudah di jamah oleh beberapa pria yang tidak di kenalnya!" Novi berkata dengan beruraian air mata.
Satria memeluknya kembali, dalam hatinya dia ingin menenangkan Novi yang sedang sedih. Dalam hatinya berkata meski Novi sudah tidak suci lagi baginya dia adalah wanita yang masih putih dan bersih. Dia akan menerima semua masa lalunya dengan ikhlas. Dan dia tidak akan mengungkit masa lalu Novi yang akan membuatnya merasa sedih dan kotor.
"Aku tidak akan menyesali apa yang sudah kuputuskan! Aku akan tetap menikahimu." Satria berkata dengan tegas.
Itu membuat Novi merasa tenang, dalam hatinya berkata mungkin Satria adalah calon suami yang telah di takdir kan baginya. Dia mengambil keputusan untuk menerima Satria, dia tidak peduli apa yang akan terjadi dalam hidupnya setelah menikah dengan Satria.
"Apakah kau menerima lamarannya?" Satria bertanya sekali lagi untuk mengetahui apa keputusan Novi.
Novi mengangguk lalu mengatakan dengan lirih, "Iya."
Betapa senangnya Satria mendengar jawaban dari Novi, dia memeluk erat Novi. Tanpa disadari Satria mengecup bibir Novi dengan lembut, Novi terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Satria. Namun permainan satria membuatnya terbuai sehingga dia membalas permainan Satria.
Satria tersadar apa yang dia lakukan salah, dia menghentikan semua itu. Lalu mengatakan pada Novi, jika mereka sudah sah menjadi sepasang suami-istri maka kita berhak melakukan semua ini. Dan dia pun mengatakan maaf pada Novi karena sudah bertindak lancang.
Novi tersenyum, dia memaafkan perbuatan Satria tadi. Setelah itu Novi pamit undur diri, dia kembali ke apartemennya. Dia sangat senang dengan apa yang baru saja terjadi, akhirnya dia bisa merasakan kehangatan seorang pria yang akan menjadi suaminya.
Novi berjalan memasuki kamar mandi guna membersihkan diri, dibukanya satu per satu pakaian yang menempel di tubuhnya. Dia menyiapkan air untuk berendam, karena malam ini dia ingin merendam seluruh tubuhnya. Dengan memikirkan kembali apa yang baru saja terjadi.
"Apakah keputusan yang kuambil sudah tepat? Apakah aku akan merasakan kebahagian jika menikah dengannya? Aku takut kelak masa laluku akan kembali dan menghancurkan kebahagianku!" Gumamnya.
Dia kembali termenung, memikirkan semuanya. Karena begitu banyak pertanyaan yang ada dalam otaknya. Namun dia masih merasakan ketakutan jika masa lalunya Kana hadir kembali menghancurkan semua kebahagiaanya.
Setelah selesai berendam Novi berjalan keluar kamar mandi, dia menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Dia berusaha menutup kedua matanya untuk beristirahat. Namun dia tidak bisa tidur lalu dia berjalan menuju balkon dan melihat langit yang begitu indah.
Dia tidak menyadari seseorang sedang memandanginya dengan lembut, dalam bola matanya hanya ada Novi yang sedang menikmati langit pada malam hari. Dia begitu ingin segera menikahi wanita yang selalu berdiri di balkon saat malam hari.
**
Pagi ini Lili datang lebih awal ke kantor, dia hendak membereskan semua pekerjaan sebelum dia pergi bersama Arata. Mereka berencana untuk berlibur dalam dua minggu saja, karena Arata ingin berduaan bersama Lili tanpa ada yang menganggu mereka.
__ADS_1
Lili mengajak Sarada untuk pergi bersama mereka, sebenarnya dia juga ingin mengajak Novi. Namun dia urungkan karena Novi belum menikah, jika dia ikut bersama mereka itu akan membuat Novi kesepian. Andai saja Novi sudah menikah pasti dia akan mengajaknya.
"Kapan kau akan pergi?" Novi bertanya pada Lili yang sudah sibuk sedari tadi.
"Nanti malam," jawab singkat Lili.
"Ok, kalau begitu kau beritahu aku apa saja yang harus aku lakukan! Setelah itu sisinya serahkan padaku!" Novi berkata dengan mengeluarkan senyuman yang begitu indah.
Lili baru menyadari ada yang aneh dengan Novi, dia terus memperhatikan Novi yang sedang duduk di hadapannya. Benar saja suasana hati Novi sepertinya sedang berbunga-bunga.
"Apa yang terjadi padamu? Apakah dia melamarmu? Dan kau jawab apa?" Pertanyaan bertubi-tubi dilayangkan Lili pada Novi.
Novi terkekeh mendengar pertanyaan yang dilayangkan oleh Lili, sebegitu ingin tahunya dia tentang apa yang sudah terjadi. Lili terus menunggu jawaban dari Novi, namun Novi diam saja. Sehingga membuat Lili sedikit kesal.
"Cepat jawab! Jangan kau membuatku menderita karena penasaran!" Lili berkata dengan nada kesal.
Akhirnya Novi mengatakan semuanya, tentang Satria yang menghilang selama satu bulan setelah mengetahui masa lalunya yang kelam. Dan akhirnya Satria melamarnya tadi malam, dia menjawab iya untuk lamaran Satria.
Betapa senangnya Lili mendengar kabar yang membahagiakan bagi Novi. Itu berarti tidak sia-sia dia melakukan sandiwara bersama Arata yang meninggalkan mereka berdua untuk berbicara.
"Kapan kalian akan menikah?" tanya Lili dengan penuh antusias.
"Mungkin dalam waktu dekat ini, karena dia tidak ingin menunggu lama lagi!" jawab Novi dengan tersipu malu.
"Bagaimana jika kalian menikah setelah kepulanganku dari pulau Jeju? Setelah itu aku akan membatu kalian mempersiapkan pernikahan kalian?" ucap Lili yang membuat senang Novi.
Novi setuju dengan keputusan Lili, nanti dia akan mengatakan pada Satria tentang tanggal pernikahan.
"Kau terlihat bahagia? Bukannya aku yang akan menikah?" Novi berkata karena melihat Lili yang begitu bahagia melebihi dirinya sendiri.
"Iya 'lah aku bahagia, karena kau bisa menemukan pria yang baik untuk menjadi suamimu! Karena aku bisa melihat dia akan selalu membuatmu bahagia dan merasa terlindungi!" jawab Lili dengan senyumnya yang manis.
Lili teringat dengan kedua orangtua Novi, karena mereka juga harus mengetahui semua ini. Lili berusaha menenangkan diri untuk bertanya tentang ini, dia menarik napasnya lalu membuangnya.
"Bagaimana dengan kedua orangtuamu? Bukankah mereka berhak mengetahuinya?" Lili bertanya dengan sangat berhati-hati.
Novi terdiam, dia tahu bahwa dia harus mengatakan semua rencananya pada kedua orangtuanya. Namun dia masih ragu untuk mengatakan semua itu, dia tidak ingin kedua orangtuanya menghancurkan semuanya. Karena dia tahu mereka pasti akan menggagalkan rencana pernikahannya dengan Satria.
Kedua orangtua Novi menginginkan Novi menikah dengan pria yang sudah mereka pilihkan untuknya. Namun Novi menolaknya karena dia disuruh menikah dengan pria yang lebih tua darinya bahkan bisa di bilang pria itu seperti kakeknya sendiri.
"Aku tidak tahu, apakah aku harus memberitahukan kepada mereka atau tidak? Aku takut jika mereka akan menghancurkan semuanya. Karena mereka tidak pernah merasa puas dalam hidupnya!" Novi berkata dengan nada sedih.
Lili tahu apa yang akan orangtuanya lakukan, akan tetapi mereka juga berhak tahu. Masalah mereka akan menggagalkan atau tidak bisa dilihat nanti, Lili mengatakan agar Novi meminta restu dari kedua orangtuanya karena itu penting.
Lili juga mengatakan akan melindunginya dari kedua orangtuanya, dia tidak akan membiarkan mereka menghancurkan kebahagian Novi. Karena sudah cukup mereka memanfaatkan anaknya sendiri untuk kepentingan mereka sendiri.
Semua pekerjaan sudah di selesaikan Lili, dia memutuskan untuk segera kembali ke rumah. Karena jadwal penerbangan sudah di tentukan, Novi tersenyum melihat tingkah Lili seperti anak kecil yang mau pergi berlibur.
"Kenapa? Kau menertawakanku?" Lili bertanya dengan nada menyelidiki.
"Haha..., Tidak apa-apa. Pergilah nanti kau terlambat!" Novi menjawab sembari mendorong perlahan Lili agar segera pergi karena Arata sudah menunggunya di lobi.
"Ingat pesanku ya! Dan juga jaga kesehatanmu, aku menyayangimu saudariku!" Lili berkata dengan senyum manisnya lalu memluknya.
"Iya!" Jawab singkat Novi.
Setelah itu Lili pergi meninggalkan Novi dengan segudang pekerjaan, akan tetapi dia sudah membereskan sebagian pekerjaan. Sehingga tidak terlalu memberatkan Novi saat dia pergi. Lili melihat Arata yang terduduk di atas sofa, dia terlihat sangat berbeda kali ini. Entah mengapa dia terlihat semakin menggoda saja, batinnya.
"Sudah lama kah? Kau menungguku?" Lili berkata sembari membungkukkan tubuhnya guna melihat wajah Arata yang sedang serius memandangi ponselnya.
Arata tersenyum lalu dia mencuri kecupan dari Lili, betapa terkejutnya Lili dengan apa yang dilakukan Arata. Dia merasa malu karena Arata mengecupnya di depan umum, sehingga para karyawan melihatnya. Wajah Lili seketika memerah, melihat itu Arata terkekeh lalu berdiri dan berjalan menuju mobil yang diikuti oleh Lili.
Lili terkejut karena jalan yang ditempuh bukanlah jalan menuju rumah, dia bingung sebenarnya Arata mau mengajaknya kemana.
"Sayang, bukankah kita harus bersiap terlebih dahulu sebelum ke bandara?" tanya Lili yang penasaran pada Arata.
Arata tersenyum lalu dia berkata, "Kita akan langsung ke bandara, karena semuanya sudah disiapkan!"
Lili sedikit kesal karena pasti saja ada barang yang tertinggal sehingga dia harus membeli barang yang baru. Arata tersenyum dia tahu bahwa Lili sedang kesal, dia merangkulnya lalu mengatakan "Semuanya sudah dirapikan sehingga kau tidak usah khawatir, Sarada sudah menunggu kita di bandara."
"Ya sudahlah!" Lili menjawab singkat dengan menghela napasnya.
Arata hanya tersenyum melihat wajah Lili, dia terlihat menggemaskan baginya. Jika saja tidak akan ke bandara mungkin dia akan melahapnya saat ini juga. Namun dia tidak bisa menahan ingin mencuri ciuman dari bibirnya.
Tanpa sepatah katapun dia mencium Lili yang sedang terdiam, kedua mata Lili terbelalak dengan kelakuan suaminya ini. Dia berusaha melepaskan diri dari Arata akan tetapi tidak bisa, Arata bermain begitu lembut sehingga membuat Lili terhayut dan mengikuti alur permainannya.
Ckitttt!
Mobil berhenti itulah yang menghentikan permainan mereka, segera mungkin mereka merapikan apa yang sudah terjadi. Entah mengapa sekarang Arata semakin mesum pada Lili, setiap melihat Lili dia selalu saja tergoda.
Turunlah mereka dari mobil, terlihat Sarada yang sudah menunggu sedari tadi. Lili menghampirinya lalu memeluknya dengan lembut. Dia bertanya, "Apakah kau sudah lama menungguku?"
Sarada tersenyum lalu menjawab, "Tidak Nona, aku juga baru saja tiba."
"Ayo kita pergi, sudah sudah waktunya kita ke Korea!" Arata berkata dengan lembut sembari menggandeng Lili.
__ADS_1