
Lili yang sudah bersiap akan memulai perjalanannya menelusuri jalanan kota Bali, dia menunggu Arata yang masih berada di dalam kamar mandi. Lili mulai sedikit kesal karena Arata sangat lama berada di dalam kamar mandi.
"Sayang, apakah masih lama?!" Lili bertanya dari balik pintu kamar mandi.
Sebelum menjawab pertanyaannya, Arata sudah keluar dari kamar mandi sembari tersenyum. Dia mengecup bibir Lili dengan lembut seraya ingin meminta maaf padanya karena sudah menunggu terlalu lama.
"Ayo kita pergi!" Arata berkata dengan lembut sembari menggenggam lengan Lili.
"Tunggu, memangnya kita mau kemana hari ini?" Lili bertanya pada Arata yang sedari malam tidak mengatakan akan pergi kemana.
"Kita akan pergi ke danau Batur Kintamani." Jawab singkat Arata.
Merekapun memulai perjalanan menuju danau Batur Kintamani, dalam perjalanan mereka hanya menikmati pemandangan yang dilewati. Mereka sangat menyukai semua pemandangan yang mereka lihat.
Tidak terasa mereka tiba di danau Batur Kintamani, Lili begitu senang dengan apa yang dia lihat. Saat sedang menikmati danau tersebut, Arata tidak menyadari ada yang memperhatikannya.
"Hallo Arata!" ucap seorang pria dari belakangnya.
Arata memalingkan wajahnya guna melihat siapa yang sedang menyapanya, dia sungguh terkejut melihat Akhira dan Fumiko. Dia langsung memeluk Akhira yang sudah laman tidak bertemu.
"Akhira..., Kau ada disini?" Arata berkata dengan rasa terkejutnya.
Fumiko terkekeh melihat ekspresi Arata yang sangat terkejut dengan kehadiran mereka. Dia memeluk Lili terlebih dahulu sebelum menggoda Arata, dalam benaknya dia sangat bahagia bisa bertemu dengan Lili di Bali.
"Sejak kapan kau berada di Bali?" Arata bertanya pada Akhira.
"Aku baru tiba kemarin malam, sebenarnya aku tidak berniat ke Bali. Namun Fumiko ingin berlibur ke Bali!" Akhira menjawab.
"Apa kau bilang? Aku yang menginginkan berlibur ke Bali?!" Fumiko berkata sembari melirik Akhira dengan tatapan yang tajam.
Lili terkekeh melihat perdebatan antara mereka berdua, dia sangat senang jika bertambahnya teman untuk acara berliburnya kali ini. Dalam benaknya dia berkata, kemarin baru meninggalkan Maru dan Sarada di Korea malahan sekarang bertemu dengan Akhira serta Fumiko.
"Bagaimana jika kita jalan bersama-sama?" Lili berkata seraya tidak ada yang boleh menentangnya.
Semua menyetujui apa yang Lili mau, akhirnya mereka menikmati pemandangan danau Batur Kintamani. Seperti layaknya para wisatawan, Lili masih ingin berlama-lama menikmati danau Batur Kintamani.
"Sayang, ayo kita naik perahu! Kau pasti menyukainya." Arata berkata dengan lembutnya pada Lili.
Lili tersenyum lalu dia memegang lengan Arata, mereka berjalan bergandengan tangan. Begitupun dengan Akhira dan Fumiko, mereka selalu mengikuti Lili dari belakang. Mereka berjalan dengan santai sembari menikmati semua pemandangan yang dilewatinya.
"Kau menyiapkan semua ini, sayang?" Lili bertanya pada Arata.
"Iya, bagaimana kau suka, sayang?" Arata berkata dengan senyumnya yang membuat Lili tenang.
"Aku tidak menyangka kau akan menyiapkan semua ini Arata!" Fumiko berkata dengan rasa tidak percaya.
Arata hanya tersenyum, dia menggandeng tangan Lili untuk menaiki kapal yang sudah dia sewa. Yang ada dalam hatinya adalah bagaimana membuat Lili selalu bahagia bersamanya. Dia tidak akan membiarkan Lili untuk bersedih lagi.
Mereka pun menikmati pemandangan menggunakan perahu, Lili sungguh sangat senang dengan yang dilakukan oleh Arata. Setelah bayinya meninggal, Arata selalu membuatnya merasa bahagia dan terlindungi.
"Sayang, terima kasih atas semua perhatian dan perlindunganmu." Lili berkats lirih.
Mendengar Lili berkata seperti itu Arata langsung memeluk Lili dengan erat sembari menikmati pemandangan yang sangat menenangkan hati.
"Tidak perlu berterima kasih kepadaku, karena aku begitu sangat mencintaimu. Itu sebabnya aku melakukan semuanya!" bisik Arata pada Lili.
Lili menggenggam erat lengan Arata yang memeluk tubuhnya, begitu tenang dan nyaman. Sehingga dia tidak ingin semuanya berakhir, sejenak dia melupakan semua pekerjaan kantornya dan semua pikiran yang selalu membuatnya lelah.
Lili melihat kesamping, sepasang suami-istri yang terlihat sangat menikmati perjalanan kali ini. Dia melihat Fumiko yang selalu mengeluarkan senyumnya yang merekah bak bunga yang baru saja merekah.
"Sayang, aku bahagia jika melihat Akhira dan Fumiko berbahagia seperti ini." Lili berkata lirih pada Arata.
Arata memalingkan wajahnya guna melihat apa yang Lili lihat, dia pun tersenyum dalam benaknya dia bersyukur jika Akhira bisa berbahagia bersama Fumiko. Karena menurutnya mereka berdua memang pantas untuk berbahagia.
Arata sudah melupakan semua perbuatan Akhira yang menjebaknya, sehingga terjadilah peristiwa yang membuatnya menyesal seumur hidupnya. Namun di balik semua itu ada rasa syukur yang tidak terkira, yaitu dia bisa memiliki seorang wanita yang tangguh untuk selalu berada di sisinya. Dialah Lili yang akan dia lindungi dan cintai sampai akhir hayatnya.
Arata juga tidak lupa memfoto semua kegiatan di atas perahu, dia selalu membidik lensa kameranya pada Lili. Sehingga begitu banyak foto Lili Yanga akan dia abadikan menggunakan kamera yang selalu dia bawa.
"Sini kameranya, aku akan memotretmu!" Lili berkata dengan lembut pada Arata.
Arata menyerahkan kameranya pada Lili, dia mulai membidik Arata yang sedang berpose di atas perahu. Dalam benak Lili berkata, Arata begitu menggoda baginya. Entah sejak kapan dia merasa tidak ingin kehilangan pria yang ada di hadapannya itu.
"Kemarilah!" Arata berkata, Lili pun melangkah mendekatinya.
Mereka berdua pun ber-selfie, karena Arata tidak ingin hanya di potret sendiri saja. Dia ingin mengabadikan semua momen kebersamaan dengan Lili. Sehingga saat di Jepang nanti dia akan bisa melihat kenangan berlibur bersama Lili yang penuh dengan kebahagiaan.
Setelah menikmati semua pemandangan menggunakan perahu, mereka memutuskan untuk kembali ke tempat mereka menginap. Sebelum itu mereka memutuskan untuk mencari sebuah tempat untuk makan.
Mereka berempat sangat bahagia, Arata sama sekali tidak melepaskan genggamannya terhadap Lili. Begitupun dengan Akhira yang selalu menggandeng Fumiko dengan lembutnya.
Namun rencana mereka tidak dapat terlaksana, karena Fumiko sudah merasa kelelahan sehingga Akhira memutuskan untuk kembali terlebih dahulu ke hotel. Akhirnya Lili pun memutuskan untuk kembali ke hotel juga, mereka memutuskan untuk memesan makanan yang sudah disediakan di hotel saja.
Setelah tiba di hotel Lili menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur, dia begitu lelah akan tetapi mengirimkan senang dengan segala pemandangan yang telah dia lewati. Dia menutup kedua matanya, akan tetapi dia kembali membuka kedua matanya setelah merasakan ada tangan jahil yang menyentuh tubuhnya.
__ADS_1
"Sayang, hentikan apakah kau tidak merasa lelah?" Lili berkata pada Arata yang terus saja menggoda.
"Aku tidak lelah, malahan aku ingin melahapmu, sayang!" bisik Arata.
Lili hanya tersenyum dia merubah posisi tidurnya yang semula terlentang sekarang menghadap Arata. Ditatapnya dengan lekat pria yang ada di sampingnya, lalu dia mulai bertindak nakal.
"Aku ingin membersihkan diri dulu, setelah itu kita bermain!" Lili berkaitan dengan lembut lalu bangun dari tidurnya.
Dia berjalan perlahan membuka satu per satu pakaiannya, lalu memasuki kamar mandi. Sedangkan Arata menunggunya untuk menyelesaikan rutinitas membersihkan dirinya. Sembari menunggu Lili dia membuka ponselnya guna mengecek email yang sudah masuk.
**
Setelah selesai dengan rutinitas membersihkan diri, Lili melihat Arata yang sedang serius menatap layar ponselnya. Dia tahu bahwa Arata sedang menghadapi pekerjaannya.
Lili berjalan perlahan mendekati Arata yang sedang duduk di atas sofa, muncul niat nakalnya untuk menggoda Arata. Dia sedikit kesal juga dengan Arata, karena ini adalah hari untuk mereka berdua. Dimana tidak boleh ada yang memikirkan tentang pekerjaan.
"Sayang, apakah kau sudah siap?" bisik Lili dengan nada menggoda di telinga Arata lalu dia mengigit lembut telinga Arata.
Arata terkejut dengan apa yang baru saja dilakukan Lili, dia menatap wajah Lili dengan lekat. Dia tersenyum, dalam hatinya berkata mengapa wanita yang ada di hadapannya begitu nakal dan menggoda. Tanpa basa-basi Arata menarik tangan Lili sehingga dia terjatuh di dalam pangkuan Arata.
"Kenapa kau nakal sekali, sayang?" lirih Arata sembari mengecup ceruk leher Lili.
Lili merasa kegelian akibat perbuatan Arata, dia berusaha menjauhkan lehernya sehingga Arata tidak bisa melakukan apa yang baru saja dilakukan. Namun Arata tidak membiarkannya begitu saja, dia menarik tengkuk leher Lili lalu mengecup bibirnya dengan lembut.
Lili terhayut oleh permainan Arata, sehingga dia pun menikmati permainan yang dilakukan Arata. Secara tidak langsung dia ikut dalam permainan tersebut, sekarang bukan hanya bibir yang bermain. Namun lengan Arata pun berjalan menelusuri setiap lekuk tubuh Lili.
Arata menggendong Lili dengan lembut lalu dia menghempaskan tubuh Lili secara perlahan ke atas tempat tidur. Lili tersadar jika Arata belum membersihkan dirinya, dia menyuruh Arata untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Setelah itu baru melanjutkan permainan mereka.
"Cepat, kau bersihkan dirimu! Nanti kita lanjutkan kembali!" lirih Lili dengan senyum manisnya yang membuat Arata tidak bisa menolak keinginan Lili.
Arata tersenyum dia menghentikan semua permainannya lalu berjalan menuju kamar mandi guna membersihkan diri. Lili hanya memandangi punggung Arata yang memasuki kamar mandi.
Saat Arata sudah keluar dari kamar mandi, dia melihat Lili yang sudah tertidur terlebih dahulu. Itu membuat Arata sedikit kesal, disaat dia sedang menginginkannya. Dia malah melihat Lili terlelap, sehingga muncul niat untuk menggodanya.
Arata berjalan perlahan mendekati Lili, didalam hatinya dia tidak akan mengijinkan Lili untuk bebas. Karena Lili yang terlebih dahulu menggodanya, maka dia harus bertanggung jawab atas semuanya.
Sekarang Arata sudah berada di atas tubuh Lili, dia menatap lekat wanita yang begitu dia cintai. Hingga dia tidak ingin kehilangan wanita yang sudah menjadi istrinya itu.
Jari-jemari Arata mulai berjalan di tubuh Lili, dia bermain dengan bagian tubuh yang terlewati oleh setiap jari-jemarinya. Sehingga membuat Lili menggeliat karena kegelian. Namun dia masih terlelap dalam tidurnya, Arata tersenyum karena untuk membangunkan istrinya membutuhkan waktu.
Arata secara perlahan namun pasti mengecup lembut bibir Lili yang tampak manis baginya. Dia bermain dengan kecupannya, sehingga membuat Lili terbangun dari tidurnya. Lili membelalakkan kedua matanya, karena melihat Arata sudah ada di atasnya dan lidah Arata sudah bermain dengan lidahnya.
Namun Lili tidak bisa menghindar kali ini, meski dia merasa mengantuk akan tetapi semua permainan yang dilakukan oleh Arata membuatnya kehilangan rasa kantuk tersebut. Lili mengikuti permainan Arata, kecupan lembut menjadi kecupan yang begitu menggila sehingga membuat Lili hampir kehabisan napas.
Arata menghentikan sejenak serangannya terhadap bibir Lili guna melihat wajah Lili yang sudah merona. Ditatapnya wajah Lili dengan seksama, dia melihat jika loli sedang tersengal-sengal setelah mendapatkan serangan darinya.
Arata tersenyum, tidak membutuhkan waktu yang lama untuk dia kembali menyerang bibir Lili dengan kecupan yang membuat istrinya menikmati semuanya. Tangan Arata mulai membuka satu per satu kancing pakaian tidur Lili, hingga semuanya terbuka.
Terpampanglah semua tubuh Lili, dia mengecup lekuk lehernya secara lembut lalu menjalar ke seluruh bagian tubuh Lili. Dia melihat Lili menggeliat kegelian karena kecupan yang dilakukannya.
Mereka terbuai oleh suasana yang begitu sepi sehingga membuat mereka lupa akan semuanya. Permainan Arata membuat Lili menikmatinya, setiap hentakan-hentakan begitu nikmat. Sehingga mereka berdua mencapai puncaknya secara bersamaan. Lili terlelap dalam pelukan Arata setelah pergulatannya begitupun dengan Arata.
Keesokan harinya mereka terbangun dengan suasana hati yang berbunga-bunga, Lili memandangi wajah Arata yang masih tertidur. Dia menyentuh wajah Arata dengan jarinya secara lembut.
Lili tersenyum melihat wajah Arata yang terlelap, sehingga tidak ada sedikitpun masalah yang bisa membuatnya terganggu. Namun saat dia hendak beristirahat untuk membersihkan diri, Arata menarik lengan Lili sehingga dia terjerembap dalam dekapan Arata.
"Sudah cukup, sayang! Lebih baik kita bangun lalu membersihkan diri!" Lili berkata dengan lembut pada Arata sembari mengecup keningnya.
"Tunggu sebentar lagi, biar aku memelukmu!" jawab Arata semabri memeluk erat Lili.
Mau tidak mau Lili menuruti keinginan Arata, dia diam tanpa mengucapkan sepatah katapun. Yang dia lakukan hanya membuat dirinya nyaman dan juga membuat Arata menikmati semuanya.
"Sayang, apakah hari ini kita akan pergi bersama dengan Akhira dan Fumiko?" Lili bertanya dengan lirih pada Arata yang masih memeluknya.
Arata terdiam sesaat, dia memikirkan apa yang baru saja Lili katakan. Sebenarnya dia hanya ingin pergi berdua saja dengan Lili. Mungkin itu pula yang ada di dalam hati Akhira dan Fumiko.
"Nanti aku tanyakan pada mereka, sayang apakah lebih baik kita tidak menggangu mereka? Mungkin mereka ingin berdua saja?" Arata berkata dengan lembut.
Lili pun berpikir kembali apa yang dikatakan Arata, itu semua mungkin saja. Karena mereka berdua berlibur pasti ingin dinikmati hanya berdua saja. Dalam benak Lili mungkin Arata pun ingin melakukan hal yang sama.
Setelah obrolan singkat mereka, Arata melepaskan pelukannya dari Lili. Dia memutuskan untuk membersihkan diri bersama dengan Lili. Dia menggendong Lili dengan lembut lalu berjalan secara perlahan menuju kamar mandi.
Rutinitas membersihkan diri sudah selesai, mereka pun bersiap. Namun mereka belum memastikan akan pergi kemana. Yang terpenting sekarang mereka sudah siap, sehingga jika sudah menemukan tempat untuk di kunjungi mereka tinggal melangkahkan kaki dan pergi ke lokasi yang dituju.
"Sayang, bagaimana? Apakah kita menghubungi Akhira atau tidak?" Arata bertanya pada Lili guna mendapatkan masukan darinya.
"Lebih baik kita tunggu saja mereka menghubungi kita! Jika mereka tidak menghubungi kita, itu nadanya mereka ingin berdua saja." Lili menjawab Arata.
Arata pun duduk di atas sofa sembari memainkan ponselnya dan menunggu Lili dengan keinginannya untuk mengunjungi destinasi wisata yang ada di Bali. Arata kembali sibuk dengan ponselnya, begitupun dengan Lili.
"Sayang, lebih baik hari ini kita di dalam kamar saja ya? Aku mendadak malas keluar kamar." Lili berkata pada Arata sembari melanjutkan membaca novelnya.
Arata mengatakan ya dan akhirnya mereka berdua hanya berdiam diri saja di dalam kamar dengan kesibukannya masing-masing.
__ADS_1
***
Hari sudah sore, Arata masih berkutat dengan semua email-nya. Sedangkan lili sudah menghentikan membaca novelnya. Dia melihat Arata yang sedang serius dengan memandangi Notebook. Yang sedari tadi menempel di meja, Lili muncul dengan ide nakalnya.
Lili berjalan perlahan mendekati Arata yang tengah duduk di depan Notebook-nya. Arata tidak menyadari bahwa Lili sudah berada disampingnya, saat dia menyandarkan tubuhnya kebelakang sofa. Secara tiba-tiba Lili duduk dipangkuan Arata.
"Apa yang kau lakukan, sayang? Kau membuatku terkejut saja!" ucap Arata pada Lili yang sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Lili.
"Ini kan acara liburan kita, mengapa pula kau sibuk bekerja?!" Lili menjawab dengan nada manjanya.
Arata tersenyum, dia melihat istrinya sedang bersikap manja padanya. Apakah Lili belum puas dengan apa yang dilakukan oleh Arata padanya. Apakah dia sengaja menggoda Arata, sehingga nantinya membuat Arata kembali menyerangnya dengan jurus yang akan membuat Lili mengerang kenikmatan.
"Sayang, apakah menggodaku? Jika kau seperti ini terus, aku takut kau tidak akan bisa berdiri di pagi hari!" Arata berbisik pada Lili sembari meniup lembut telinga Lili.
Seketika Lili beranjak dari pangkuan Arata, dia mundur beberapa langkah lalu dia mengatakan jika malam ini dia ingin pergi jalan-jalan keluar. Namun apa yang dilakukan Arata malah kembali fokus pada Notebook-nya.
Itu membaut Lili kesal, dia kembali fokus pada Notebook-nya. Lili tidak peduli lagi dengan apa yang akan dilakukan oleh Arata. Dalam benaknya dia ingin sekali pergi jalan ke luar, karena dia sudah puas dengan membaca novelnya.
Lili berjalan menuju balkon, dia memandangi pemandangan dari atas. Begitu indahnya akan tetapi rasa bosannya mulai menyelimutinya, dia ingin pergi berjalan-jalan ke luar. Akhirnya dia memutuskan untuk jalan sendiri saja jika Arata masih saja sibuk dengan pekerjaannya.
Sebelum membalikkan tubuhnya untuk bersiap-siap pergi jalan-jalan, tubuh Lili didekap erat oleh Arata.
"Kau mau jalan kemana? Sebentar lagi mau malam?" Arata berkata dengan lembutnya sembari memeluk Lili.
"Aku ingin melihat matahari terbenam di pantai Kuta." Lili menjawab dengan semangat, karena saat ini dia ingin melihat matahari terbenam di pantai.
"Oke, bersiap-siaplah. Kita akan jalan sekarang!" Arata berkata lalu melepaskan dekapannya pada tubuh Lili.
Arata berjalan memasuki kamar, dia mendengar ponselnya berdering. Dia berjalan mendekati nakas yang dimana ponselnya tergeletak. Dia melihat di layar ponsel siapa yang menghubunginya, rupanya Maru.
Arata mengangkat teleponnya lalu dia mendengarkan apa yang dikatakan oleh Maru. Setelah semua selesai dia menutup teleponnya, Lili bertanya siapa yang menghubunginya. Arata menjawab bahwa Maru sudah kembali ke Korea.
"Mengapa mereka begitu cepat kembali ke Korea? Bukankah masih tersisa beberapa hari waktu untuk mereka berlibur?" Lili bertanya pada Arata yang merasa kebingungan.
"Sudahlah, nanti saja kita membahas itu. Sekarang lebih baik kita segera jalan, kalau tidak kita tidak sempat melihat matahari terbenam." Arata berkata dengan senyumnya lalu menggandeng Lili yang sudah siap untuk pergi.
Merekapun berjalan keluar dari hotel guna untuk pergi menikmati suasana matahari terbenam di pantai. Arata sama sekali tidak melepaskan genggamannya dari tangan Lili. Itu membuat Lili merasa bahagia dan nyaman, dia merasa ada yang melindunginya.
Mereka pun tiba di pantai Kuta Bali, terlihat banyak para wisatawan yang berjalan sembari bergandengan tangan. Mereka para pasangan kekasih atau pasangan pengantin baru yang sedang menikmati pantai Kuta. Mungkin mereka juga sedang menunggu matahari terbenam di pantai ini.
Brugggg!
Ada seorang gadis kecil yang menubruk Lili sehingga gadis kecil itu terjatuh dan menangis. Namun gadis kecil itu berusaha menahan tangisnya hanya untuk meminta maaf. Karena gadis kecil itu merasa bersalah karena sudah menabrak Lili.
"Maafkan aku Nyonya, aku salah karena menubrukmu. Huaaaaaa...." Gadis kecil itu berkata lalu menangis karena kesakitan.
Lili tersenyum, dia membungkukkan tubuhnya lalu melihat wajah gadis kecil itu. Jika melihat gadis kecil itu, dia menjadi teringat tentang bayinya yang sudah tiada. Lili mengulurkan tangannya guna membantu gadis kecil itu berdiri.
"Sudah hentikan tangisanmu itu, sayang. Jika kau menangis maka kecantikanmu akan luntur," Lili berkata dengan lembut pada gadis kecil itu.
"Tidak! Aku tidak mau kecantikanku luntur," gadis itu berkata lalu menghapus semua air matanya yang sudah jatuh membasahi kedua pipinya.
Gadis kecil itu menerima uluran tangan Lili lalu dia berdiri dibantu oleh Lili, dia menatap lekat wajah Lili. Lalu dia tersenyum manis pada Lili, dia memberikan sebuah permen yang berada di dalam saku pakaiannya.
"Ini untukmu Nyonya, kau terlihat sangat cantik. Jika saja ibuku masih ada maka dia akan secantik dirimu!" Gadis kecil itu berkata.
"Yuki..., Yuki...."
"Aku disini Ayah!" Teriak gadis kecil itu setelah mendengar namanya di panggil.
Tidak berapa lama datang seorang pria, dia menghampiri Lili karena putri kecilnya berada tepat di samping Lili. Ternyata pria itu adalah ayah dari gadis kecil yang menabrak Lili. Jika dilihat secara jelas dan kata-kata yang diucapkannya dia adalah pria keturunan Jepang.
Lili mendapat dengan lekat gadis kecil itu, memang benar saja wajahnya terlihat seperti percampuran antara Asia dan Jepang. Namun gadis kecil ini terlihat sangat cantik, sehingga tidak akan pernah bosan untuk selalu melihatnya apalagi jika dia tersenyum.
"Namamu Yuki?" Lili bertanya dengan lembut.
Yuki menanggulangi sembari mendekatkan dirinya pada sang ayah yaitu pria yang baru saja tiba. Lili terlihat sangat sedih, andai saja bayinya masih ada mungkin dia akan membawanya kemanapun dia pergi.
"Terima kasih Nyonya, karena sudah membantu putri saya." Pria tersebut berkata.
"Anda berasal dari Jepang?" Arata bertanya karena dia terlihat seperti orang Jepang sama dengannya.
Akhirnya mereka pun saling berkenalan, nama pria urus adalah Kenzo. Dia berlibur ke Bali karena untuk memenuhi permintaan terakhir dari sang istri. Sebelum tiada sang istri meminta untuk berlibur ke Bali bersama putri cantiknya yaitu Yuki.
Namun sebelum semuanya terwujud sang istri sakit lalu meninggal dunia, pesan terkahnya adalah agar abunya di bawa terlebih dahulu ke Bali. Dimana Bali merupakan tempat kelahiran sang istri.
Mendengar cerita itu membuat Lili mendekap erat Yuki, dia merasakan apa yang dirasakan oleh gadis kecil itu. Dia merasa nasibnya sama, karena Yuki kehilangan sang ibu sedangkan dia kehilangan bayinya.
"Sayang bolehkah aku berjalan-jalan dengan Yuki?!" Lili berkata pada Arata secara tidak langsung meminta pada tuan Kenzo untuk mengijinkannya bermain sesaat dengan Yuki.
Tuan Kenzo tersenyum dengan kata lain dia mengijinkan Lili untuk bersama putrinya. Entah mengapa dia merasa bahwa Lili adalah wanita yang cocok untuk menjaga Yuki. Dia menggelengkan kepalanya, menghempaskan semua yang ada di dalam pikirannya.
"Tuan, istri Anda terlihat sekali aura keibuannya saat bersama Yuki." Kenzo berkata pada Arata.
__ADS_1
Arata tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Kenzo, dia berusaha memahami apa yang dikatakan oleh Kenzo. Namun belum bisa mengatakannya, lalu dia melihat Lili yang sangat bahagia bermain dengan Yuki sembari menikmati suasana Matari terbenam.
Arata sangat bahagia melihat Lili yang begitu bergembira bermain bersama Yuki, baru pertama kali semenjak dia kehilangan bayinya Lili tersenyum bebas seperti ini. Dia mengabadikan setiap momen kebersamaan Lili bersama Yuki, dia memotret mereka berdua yang penuh dengan kebahagian dengan kameranya.