Musuhku Menjadi Imamku

Musuhku Menjadi Imamku
Extra Part Lili-13


__ADS_3

Hari ini Lili bangun lebih pagi, dia menyiapkan pakaian untuk Arata ke kantor. Dia berjalan mendekati Arata yang masih tertidur pulas. Dia merasa bersalah karena tidak bisa menjalankan tugasnya sebagai istri.


"Maafkan aku! Ternyata aku belum bisa sepenuhnya melupakan kejadian itu! Tapi aku akan berusaha untuk menjadi istri yang baik! Terimakasih karena kau telah menyatukan aku dan kakek!"


Lili pun melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Arata yang sudah terbangun dari tadi, tersenyum mendengar perkataan yang terlontar dari bibirnya.


"Aku mengerti, aku akan menunggumu hingga kau bisa memaafkan semua perbuatan ku! Aku juga akan berusaha menjadi suami yang baik untukmu!"


Entah sejak kapan ada sedikit perasaan yang aneh di hati Arata. Mendengar suara pintu kamar mandi terbuka, Arata langsung berdiri dan masuk ke kamar mandi. Lili bersiap saat Arata sedang membersihkan diri.


Lili keluar untuk menyiapkan sarapan untuk Arata, meski pelayan sudah bersiap menyiapkannya. Lili pun kembali ke kamar dengan membawa nampan berisikan sarapan untuk Arata.


Arata yang sudah rapi menggunakan setelan kemejanya, dia tersenyum melihat Lili membawakan sarapan untuknya. Dia suka dengan apa yang baru dilihatnya, ternyata dia berusaha menjadi istri yang baik.


"Makanlah selagi hangat!"


Arata pun mendekati Lili yang tengah duduk di sofa. Arata pun memakan sarapan yang dibuat oleh tangan Lili, dia merasakan ada yang beda dari masakan biasanya.


"Siapa yang membuat sarapan ini?!"


Dalam hati Lili berkata, 'apakah makanannya tidak enak? Lebih baik kucoba makannya mungkin ada yang kurang!' Lili pun mencoba makannya, menurutnya tidak ada yang kurang semuanya pas.


"Aku yang menyiapkannya dengan tanganku sendiri! Kalau tidak enak tidak usah kau makan! Buang saja!"


Arata ingin menggoda Lili jika melihatnya sedang kesal, dia pun mengatakan bahwa makanannya ada yang kurang. Benar saja mendengar godaan Arata, semakin kesallah Lili. Dia mengambil kembali piring yang ada di depan Arata.


Arata terkekeh melihat sikap Lili, mendengar tawa Arata Lili yakin bahwa dia mulai menjahilinya. Muncul niat jahil Lili pada Arata, menurutnya sudah cukup kejahilan yang dia lakukan kepadanya. Lili mendekati Arata yang masih terkekeh, Arata tidak menyadari apa yang akan dilakukan oleh Lili


Tanpa mengucapkan sepatah kata, Lili langsung mencium sekilas bibir Arata. Setelah memberikan kejutan pada Arata, Lili pergi meninggalkannya. Arata terpaku dengan yang baru saja menempel di bibirnya, dia tidak menyangka Lili akan mencium bibirnya terlebih dahulu.


Melihat Arata yang masih terpaku, Lili menghampirinya dan berbisik "Apakah enak?!"


Lili terus saja menggoda Arata, dia tidak tahu bahwa Arata bisa membalas perbuatan yang dia lakukan. Saat Lili hendak menjauhinya, Arata dengan cepat menarik tangannya. Namun Lili sudah siap, dia berancang-ancang mengeluarkan jurus andalannya.


Arata pikir Lili akan terjatuh ke dalam pelukannya, namun dia salah Lili masih berdiri menahan tarikan lengan Arata. Dilihatnya Lili tersenyum tipis menandakan bahwa dia tidak akan kalah.

__ADS_1


Arata tidak mau kalah, dia berusaha untuk mengalahkan Lili. Terjadi sedikit pergulatan antara mereka berdua, di saat Lili sudah tak bisa berkutik. Arata hendak membalas kejahilan Lili, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.


Yang mengetuk adalah asisten Maru, dia diperintahkan ayah Amida untuk selalu berada di dekatnya. Ayah Amida khawatir dengan keselamatan Arata, karena Akhira masih berniat membalas pada Arata.


Arata kesal karena Maru tiba di saat yang tidak tepat, melihat Arata yang sudah tidak fokus, Lili segera melepaskan dirinya dari dekapan Arata. Dia pun langsung mengambil tasnya, lalu pergi membuka pintu.


Lili tersenyum pada Maru, berkat dia Lili bisa lepas dari genggaman Arata. Maru merasa senyum nonanya ini mengandung arti yang berbeda, dilihatnya tuan muda Arata yang mengeluarkan ekspresi kesal. Maru sudah bersiap-siap menerima amukannya.


"Kenapa kau tiba di waktu yang tidak tepat hah?!"


Maru hanya diam, dia tahu jika menjawab pertanyaan dari tuan Arata maka dia akan habis. Pasti tuan Arata akan memberikan banyak pekerjaan, sehingga dia tidak bisa menarik napasnya.


***


Di kantor Lili sedang sibuk mengerjakan proyek yang akan segera di presentasikan. Handphone-nya berbunyi, dilihatnya nomor tak dikenal. Dia pun mengangkatnya, ternyata yang meneleponnya adalah Malik.


Dia memintanya untuk bertemu, Lili tidak ingin bertemu dengannya. Memang sudah tidak ada yang harus dibicarakan lagi, saat hendak menutup teleponnya Malik mengancam Lili. Dia mendengarkan acanman yang Malik berikan.


Sebenarnya ancaman yang diberikan Malik tidak membuatnya takut, namun dia ingin tahu apa yang akan dia lakukan. Lili pun menyetujui akan bertemu dengannya di sebuah cafe saat makan siang.


Lili tak bisa fokus untuk mengerjakan designnya, itu semua karena Malik. Dia sudah menghancurkan ketenangan hati Lili, akhirnya dia menghentikan semua pekerjaannya. Dilihat waktu untuk bertemu sudah tiba. Lili pun pergi menuju cafe yang di janjikan.


Melihat Malik yang sudah tiba terlebih dahulu, Lili segera mendekati Malik. Dia duduk menunggu apa yang hendak dia katakan. Lili sudah tidak ingin bertemu dengannya lagi, baginya Malik adalah masa lalunya.


"Li, apakah sudah tidak ada kesempatan bagi hubungan kita?!"


Lili sudah bosan dengan semua perkataan Malik, sudah cukup semuanya. Dia pun sudah lelah harus menjelaskan semuanya, bahwa sekarang mereka sudah tidak bisa bersama. Karena Lili sudah menikah, meski dia tidak tahu apakah pernikahan ini benar atau tidak? Namun yang pasti dia tidak akan kembali pada Malik.


"Li aku sungguh-sungguh mencintaimu! Aku mohon berpisahlah dengan suamimu! Lalu kita bisa bersama!"


Malik mengatakan semua itu dengan lantangnya sembari memegang kedua tangan Lili. Mereka tidak menyadari bahwa ada yang memperhatikan mereka, serta mendengarkan percakapan mereka. Dia adalah Arata, mendengar semua yang dikatakan Malik entah mengapa ada rasa kesal dalam hatinya.


"Aku sangat mencintaimu Malik!"


Mendengar Lili mengatakan bahwa dia masih mencintai Malik, Arata pergi dari tempat itu dengan kemarahan. Entah mengapa perasaanya hancur ketika dia mendengar semua itu. Lili melihat Arata dan Maru pergi dari cafe, dia tidak tahu bahwa Arata ada disana.

__ADS_1


Malik yang merasa senang mendengar bahwa Lili masih mencintainya. Namun Lili belum selesai dengan apa yang di ucapkannya.


"Aku memang sangat mencintaimu! Namun itu dulu sebelum kau tidak bisa membela ku di hadapan keluargamu! Sebelum orangtuamu menghina Mamaku! Sekarang aku sudah menikah, maka aku akan setia pada suamiku hingga akhir hayatku!"


Lili pun pergi meninggalkan Malik sendiri, dia masih memikirkan Arata.' Apakah Arata mendengar semuanya?' batinnya.


Dilain tempat Arata yang masih tampak kesal pergi ke kantor. Maru khawatir dengan sikap tuannya itu, dia mengirim pesan pada nona Lili, jika suasana hati tuan Arata sedang buruk.


Beberapa saat kemudian Maru memberitahukan bahwa ada pertemuan dengan client, mereka mengadakan pertemuan di sebuah bar. Sebenarnya Arata ingin mengubah tempat pertemuannya, namun client-nya tidak mau. Arata pun terpaksa menemui mereka di bar X.


Perasaan Maru tidak tenang, pasti akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Oleh sebab itu Maru menyuruh beberapa pengawal untuk mengikuti mereka ke bar X. Arata yang masih kesal, menghiraukan apa yang dilakukan oleh Maru.


Tibalah Arata di bar X, mereka membicarakan tentang bisnis. Client-nya memberikan seorang wanita. Dia pikir Arata masih seperti dulu, yang suka bermain-main dengan seorang gadis bahkan lebih.


Arata kesal dengan sikap client-nya ini, dia meminum minuman di gelas yang sudah tersedia. Dia tidak tahu bahwa minuman itu sudah dimasukkan obat yang bisa membangkitkan rasa antusias terhadap hubungan intim.


Arata tahu bahwa dia sudah diracuni, dia bergegas pergi. Dia menyuruh Maru untuk membawanya ke sebuah hotel, dia tidak mau kembali ke rumah. Dia takut bisa menggila jika melihat Lili di rumah, dia takut terjadi kembali peristiwa yang membuat Lili merasa jijik padanya.


Maru pun membawa Arata ke sebuah hotel, dia memesan sebuah kamar VVIP. Dia melihat keadaan tuannya sangat menderita menahan efek dari obat tersebut. Arata langsung membenamkan seluruh tubuhnya kedalam bathub yang berisikan air dingin.


Menurutnya hanya itu yang bisa meredam rasa panah di tubuhnya. Maru terus berpikir apa yang harus dia lakukan, yang dibutuhkan tuannya saat ini adalah nona Lili.


Maru mencoba menghubungi Lili namun handphone-nya tidak tersambung. Jaringan sibuk terus, Maru sangat khawatir dengan keadaan tuannya. Jika di terus berendam di air dingin, itu bisa membahayakan dirinya.


Usaha Mari tidak sia-sia akhirnya dia berhasil menghubungi nona Lili. Dia mengatakan semuanya pada nona Lili tentang keadaan tuan Arata. Lili yang mendengar kabar dari Maru segera pergi untuk menghampiri Arata di hotel.


____________________________________________


Hai para pembaca setiaku, maaf kalau membingungkan ya, yang ingin tahu kelanjutan Alin dan Alex bisa lanjut baca di "Pembalasan si Kembar Wibowo" sudah bisa di baca ya selamat membaca 😊😉


__________________________________________


Jika ada yang ingin ditanyakan padaku tentang karya dan bisa langsung menghubungi ku via akun Instagram.


Klik search di Instagram dengan nama akun :

__ADS_1


@macan_nurul


Sekali lagi terimakasih untuk kalian semua 💋💋 jangan lupa ya like dan komen ya juga vote ya 😉 jangan lupa juga jadikan favorit ya 😉 😉


__ADS_2