Musuhku Menjadi Imamku

Musuhku Menjadi Imamku
Extra Part Lili-46


__ADS_3

Satu minggu sudah berlalu, kondisi Lili sudah membaik. Dia sudah bisa makan dengan lahap, meski rasa mual masih sering terjadi. Namu tidak separah waktu itu.


Setelah kesehatan Lili membaik Sarada pun meminta ijin untuk kembali ke apartemennya. Karena dia sudah lama meninggalkan apartemennya, Lili mengijinkan Sarada untuk kembali. Namun jika dia dibutuhkan kembali, dia harus bersedia kembali.


Sore ini Maru mengantar Sarada untuk kembali ke apartemennya, Arata pun memperbolehkan Maru untuk pulang lebih awal. Sehingga setelah mengantar Sarada, dia tidak usah kembali ke kediaman Arata.


Dalam hati Maru, masih bertanya apakah Ayuka masih berada di apartemennya? Ataukah dia sudah pergi meninggalkan apartemennya setelah dia menyuruhnya pergi.


"Ada apa denganmu?!" Sarada bertanya dengan lembut, karena dia melihat ada yang sedang dipikirkan oleh Maru.


Maru menjawab tidak ada apa-apa, dia tidak ingin membuat Sarada merasa khawatir saja. Dalam perjalanan Sarada melihat sebuah toko makanan Takoyaki.


"Maru bisakah kita berhenti di depan toko Takoyaki itu!"


Sarada berkata dengan menunjukkan jari telunjuknya ke arah sebuah toko Takoyaki. Maru pun menghentikan mobilnya, lalu mereka berjalan menuju toko tersebut. Mereka pun memesan beberpa takoyaki.


Setelah memakan takoyaki mereka pun kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju apartemen. Saat mereka masuk, mereka melihat Ayuka masih duduk di atas sofa sembari menonton televisi.


Maru sangat terkejut, dia tidak mengira bahwa Ayuka masih ada di apartemennya. Dia pikir dengan mengatakan semuanya kemarin, akan membuat Ayuka pergi.


Tanpa kata Maru langsung masuk ke dalam kamarnya, Sarada tahu bahwa Maru sedang kesal. Sarada berniat mengejar Maru ke dalam kamar, namun Ayuka menghentikannya.


"Aku ingin kau meninggalkan Maru! Berikan dia untukku! Karena yang cocok dengannya hanya aku bukan kau!"


Sarada berusaha menahan emosinya saat dia mendengar perkataan yang terlontar dari mulut Ayuka. Dalam hatinya Sarada merasa bahwa Ayuka sudah bertindak berlebihan.


Sarada menghiraukan apa yang dikatakan oleh Ayuka, dia berjalan meninggalkan Ayuka untuk mengejar Maru yang kesal. Sarada melihat Maru duduk di atas sofa, dia diam namun terlihat raut wajahnya yang sedang menahan kekesalannya.


"Kau terlihat kesal?!" Sarada bertanya sembari duduk di samping Maru.


Maru hanya diam mendengar pertanyaan Sarada, beberapa menit kemudian dia baru mulai bicara. Dia mengatakan bahwa dia sangat terganggu dengan kehadiran Ayuka.


"Aku sudah menyuruhnya pergi! Aku pikir dia akan pergi dari apartemen, tidak kusangka dia masih berada di sini!" ucap Maru pada Sarada dengan sedikit kekesalan yang ada di hatinya.

__ADS_1


Sarada memegang tangan Maru, dia berusaha menenangkannya. Dia berkata bahwa akan menyuruhnya untuk pergi dari sini, meski itu akan sangat sulit.


"Lebih baik kita istirahat saja, bukankah besok kau harus bekerja!?" Sarada berkata lalu berdiri dan berjalan menuju kamar mandi guna membersihkan diri sebelum istirahat.


Maru menunggu Sarada selesai membersihkan diri setelah itu giliran dia membersihkan diri. Dalam hati Maru tidak menyangka bahwa wanita seanggun Ayuka bisa melakukan hal seperti itu.


Sewaktu pertama kali bertemu Ayuka terlihat sangat baik, ramah dan bersahaja. Namu semua itu hanya kedok dia saja, untuk menutupi kebusukan yang dia miliki.


Maru melihat Sarada sudah selesai dengan ritual membersihkan diri, sekarang giliran dirinya untuk membersihkan diri. Sarada mengambil satu stel pakaian tidur dan handuk untuk Maru.


Maru pun masuk ke kamar mandi dengan membawa apa yang sudah disiapkan oleh Sarada. Setelah Maru masuk Sarada merapihkan ranjang untuk mereka beristirahat.


Dia masih memikirkan bagaimana caranya untuk menyuruh Ayuka pergi dari apartemennya. Jika nanti di berhasil menyuruhnya pergi, pasti akan terjadi sesuatu hal yang baru lagi.


Ayuka pasti akan mengadu pada ayah jika Sarada telah menyuruhnya pergi dari apartemennya. Karena Sarada tahu betul sifat Ayuka yang suka melebih-lebihkan sesuatu, bahkan Ayuka bisa berbuat nekat untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.


Maru keluar dari kamar mandi, dia melihat Sarada sudah tertidur di atas ranjang. Dia berjalan menuju pintu kamar guna mengecek apakah sudah terkunci atau belum.


Setelah pintu terkunci, Maru berjalan mendekati ranjang dia merebahkan badannya di samping Sarada. Dia melihat wajah Sarada yang sudah tertidur pulas.


Dilain tempat, Ayuka sedang memikirkan bagaimana caranya agar Sarada mau melepaskan Maru. Dia tidak tahu apakah dia jatuh cinta pada Maru atau hanya egonya yang menginginkan apa yang menjadi milik Sarada.


Dia berpikir bahwa jika Sarada pergi meninggalkan Maru, maka dia akan bisa mendapatkan hati Maru. Dia begitu yakinnya akan yang dia pikirkan, karena dia selalu berpikir apa yang dia pikirkan itu adalah benar.


"Apapun dan bagaimanapun caranya Maru harus menjadi miliku!" gumam Ayuka dengan tersenyum jahat.


Setelah memikirkan rencana-rencana jahatnya Ayuka tertidur dengan pulasnya. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi esok pagi yang sudah menantinya.


Keesokan harinya Sarada sudah bangun, dia berjalan menuju pantry guna menyiapkan sarapan untuk Maru. Sedangkan Maru sedang bersiap untuk pergi bekerja.


Ayuka melihat Sarada sedang sibuk di pantry, dia pun berjalan memasuki kamar Maru. Dia melihat Maru yang sedang bersiap, dalam benaknya Maru terlihat keren dengan setelan kemeja yang sudah dia kenakan.


Ayuka menghampiri Maru, dia berniat membatu Maru untuk bersiap. Maru terkejut dengan kehadirannya Ayuka di dalam kamarnya, dia memandang Ayuka dengan tatapan dingin.

__ADS_1


Maru pergi meninggalkan Ayuka, dia berjalan mendekati Sarada yang sedang ada di pantry. Dengan memegang dasi dan jas yang belum sempat dia kenakan, karena dia melihat Ayuka di kamarnya.


"Sudah siapkah?" Maru berkata pada Sarada lalu dia mengecup kening Sarada dengan lembut.


Sarada tersenyum, dia memperlihatkan sarapan yang sudah bertengger di atas piring. Maru pun memakan makanan yang sudah disiapkan oleh Sarada.


Setelah selesai sarapan, Sarada membantu Maru memasangkan dasinya dan mengenakan jasnya. Sarada tahu ada yang mengawasinya dari jauh, siapa lagi kalau bukam Ayuka.


Sarada membereskan pantry setelah kepergian Maru, dia melihat Ayuka sedang duduk. Lalu Sarada memberikan sepiring sarapan untuk Ayuka, meski dia tidak menyukai sikap Ayuka. Dia masih saja bertidak baik.


"Sebaiknya kakak pergi dari sini! Karena ini demi kebaikanmu dan juga diriku!"


Ayuka tidak suka dengan perkataan Sarada, dia sangat marah lalu melemparkan piring ke arah Sarada. Namun dengan cepat Sarada menghindar sehingga piring itu tidak mengenainya.


"Berani sekali kau mengusirku dari sini hah! Apa hakmu untuk mengusirku!" teriak Ayuka pada Sarada.


Sarada masih menahan emosinya, lalu dia mengatakan jika Ayuka masih bersikap seperti ini maka dia akan mengatakan pada ibu semua perbuatannya.


Ayuka terdiam, meski dia tidak takut kepada ibu. Namun ibu bisa berbuat sesuatu hal untuk menyelamatkan Sarada dari genggamannya. Dan ini juga memiliki sesuatu yang bisa membahayakan Ayuka.


"Kau menang sekarang! Aku akan pergi dari sini, tapi kau harus ingat aku akan kembali kesini dan merebut semua yang kau miliki!" ucap Ayuka sembari pergi meninggalkan Sarada.


____________________________________________


Hai para pembaca setiaku, maaf kalau membingungkan ya, yang ingin tahu kelanjutan Alin dan Alex bisa lanjut baca di "Pembalasan si Kembar Wibowo" sudah bisa di baca ya, selamat membaca 😊😉


__________________________________________


Jika ada yang ingin ditanyakan padaku tentang karya dan bisa langsung menghubungi ku via akun Instagram.


Klik search di Instagram dengan nama akun :


@macan_nurul

__ADS_1


Sekali lagi terimakasih untuk kalian semua 💋💋 jangan lupa ya like dan komen ya juga vote ya 😉 jangan lupa juga jadikan favorit ya 😉 😉


__ADS_2