
"Ibu!"
Teriak Lili yang baru tiba di rumah, dia melihat ibu Rima sedang duduk menikmati suasana di taman depan. Ibu terperanjat melihat kedatangan Lili beserta Arata. Tanpa basa basi ibu memeluk Lili, Arata yang sudah siap merentangkan kedua tangannya dengan harapan dipeluk sang ibu.
Namun harapan Arata sirna sang ibu malah memeluk Lili terlebih dahulu dibandingkan dia anaknya sendiri. Ayah terkekeh yang melihat kekecewaan di wajah Arata.
"Kau sudah tak disayang Ibumu!"
Yang berkata dengan nada menggoda Arata, seketika ibu menyadari apa yang sedang ayah katakan. Ibu pun langsung memeluk Arata dengan lembut, namun hatinya sudah merasa terlupakan.
Ayah semakin menggoda Arata, karena sangat terlihat jelas kalau Arata sangat kecewa. Entah mengapa Arata menjadi seperti anak kecil jika ada hal yang tidak sesuai dengan harapannya.
"Sudahlah sayang! Sekarang yang menjadi kesayangan ibu adalah aku bukan kau!"
Lili malah membantu ayah dengan ikut menghidangkan Arata, itu membuat Arata kesal. Ayah dan istrinya terus menggodanya, dia pun pergi melangkah masuk kedalam rumah.
Lili yang tahu Arata sedang marah, dia bergegas menyusulnya masuk. Ibu dan ayah terkekeh melihat sikap Arata yang seperti anak kecil. Lili memasuki kamar, terlihat Arata sedang duduk di atas sofa.
Lili tersenyum, dia merasa aneh dengan sikap Arata beberapa hari ini. Dia seperti bukan Arata yang biasanya, entah mengapa Lili berpikir Arata seperti seorang anak kecil.
Didekatinya Arata yang terduduk di atas sofa, Lili duduk perlahan disampingnya. Arata menyadari Lili ada disampingnya, tanpa sepatah katapun dia langsung menyerangnya dengan kecupan hangat.
***
Dilain tempat tepatnya di Paris, Salma mendapatkan kabar bahwa kondisi Kharin memburuk. Salma serta Rio bergegas ke rumah sakit, ternyata memang benar Kharin sudah tidak bisa bertahan.
Dokter memutuskan melakukan penyelamatan pada bayinya, akhirnya dokter melakukan operasi. Salma mendekati Kharin yang masih terkulai lemas.
Kharin tersadar setelah merasakan kehadiran Salma dan Rio, dia tersenyum lemah. Sepertinya dia sudah tidak ada kekuatan lagi untuk berjuang hidup.
Seorang perawat membawa seorang bayi lalu menidurkannya di dalam box bayi yang sudah tersedia. Kandungan Kharin memang sudah cukup untuk melahirkan, karena kondisi tubuhnya lemah sehingga dokter melakukan operasi.
Kharin meminta Salma untuk menggendong bayinya, Salma pun menuruti permintaan Kharin. Ditatapnya bayi perempuan yang sangat cantik, dia sama seperti Kharin memliki warna kulit putih bersih.
Didekatkannya putri kecilnya itu, Kharin menitikan air matanya. Dia benar-benar menyayangi anaknya, namun yang dia sesali adalah dia tidak bisa merawat, membimbing serta membesarkannya.
Namun Kharin merasa lega karena dia sudah menemukan calon orang tua bagi putri kecilnya itu. Dia berniat memberikan putrinya pada Salma dan Rio. Karena menurutnya merekalah yang cocok untuk merawat putrinya.
"Aku ada satu permintaan, ini yang pertama dan terakhir bagiku! Aku mohon pada kalian untuk merawat putriku, aku yakin kalian pasti bisa membimbing dia menjadi anak yang baik dan berbakti!"
Salma dan Rio terkejut mendengar permintaan Kharin, mereka sungguh tidak mengira bahwa Kharin sudah merencanakan semua ini. Terlihat jelas di wajahnya banyak kesedihan namun ada sedikit kelegaan.
Salma dan Rio saling menatap, Rio mengangguk menyatakan dia setuju dengan permintaan kharina. Salma pun setuju dengan permintaan Kharin. Mendengar persetujuan Salma, dengan napas yang terengah-engah Kharin mengucapkan terimakasih.
Itulah kata-kata terkahir yang terucap dari Kharin, dia tidak akan bisa bersama putri kecilnya. Salma menangis melihat kepergian Kharin, dia begitu sedih melihat perjuangan Kharin untuk mempertahankan bayinya hingga akhir hayatnya.
Sebelum Kharin tiada, dia pernah berpesan pada Rio. Jika suatu saat dia meninggal, dia ingin dimakamkan di sebelah makam ibu dan ayahnya di Indonesia. Rio pun memenuhi permintaan Kharin, dia memakamkan Kharin di Indonesia.
Beberapa hari kemudian, kesibukan Salma semakin padat. Dia mengurus putri kecilnya dengan sepenuh hati. Terkadang Rio cemburu karena sudah tidak diperhatikan lagi. Salma terkekeh melihat sikap Rio.
"Mas, masa kamu cemburu dengan Kharin putri kecil kita?!"
Rio mendekati Salma yang sedang menggendong Kharin, lalu dia memeluk mereka berdua. Rio bahagia akhirnya bisa melihat Salma tersenyum bahagia dengan putri kecilnya. Mungkin ini jalan dari Allah untuk mereka berdua.
***
Persiapan pernikahan Akhira sedikit-sedikit mulai rampung, namun masih ada yang mengharapkan pernikahan itu tidak berlangsung yaitu tuan Ryota. Dia masih bersikeras tidak menyetujui pernikahan Akhira dan Fumiko.
Akhira pun tidak akan pernah membatalkan pernikahannya, karena Fumiko adalah wanita yang dia cintai. Akhira pun teringat akan pesan sang ibu yang harus bisa memperjuangkan wanita yang dia cintai.
"Sayang, apakah kita undur saja pernikahan kita! Sampai Ayah Ryota menyetujui pernikahan kita?!"
Akhira marah dengan apa yang diucapkan Fumiko, dia tidak suka kalau Fumiko menyerah begitu saja. Lagipula menurut Akhira yang terpenting adalah persetujuan ayah dan ibu Amida, karena merekalah yang merawat serta melindunginya.
"Dengarkan aku Fumiko! Sampai kapanpun aku tidak akan menyerah dengan cintaku! Dan aku tidak akan mengundur hari pernikahan kita!"
Fumiko menitikan air mata lalu memeluk Akhira, dia tidak menyangka dengan apa yang baru dia dengar. Akhira pun membalas pelukannya, dalam hatinya dia tidak akan melepaskan Fumiko. Dia akan terus berjuang mempertahankan dan melindunginya.
"Jadwal kita hari ini kemana?!"
Akhira bertanya pada Fumiko yang masih memeluknya, Fumiko pun melepaskan pelukannya. Lalu dia menjawab untuk hari ini melihat gaun pengantin yang sudah dipesan.
Akhira pun berdiri lalu mengajak Fumiko untuk bersiap, sebelum melihat gaun pengantin Akhira mengajak Fumiko untuk makan siang. Mereka pun pergi untuk makan siang terlebih dahulu di sebuah restoran.
Setelah selesai makan siang, mereka bergegas untuk melihat gaun pengantin. Akhira merasa aneh, kenapa sopir berjalan ke arah jalanan yang sepi. Lalu sopir tersebut menghentikan mobilnya.
__ADS_1
Akhira mulai merasa khawatir, pasti ada seseorang yang ingin mencelaku Fumiko. Sopir tersebut keluar dari mobil, lalu dia menghampiri sekelompok orang yang sudah menunggu.
Akhira mengirimkan pesan pada Arata, bahwa dia dalam bahaya. Arata pun bergegas menghampiri Akhira yang kebetulan dia sedang ada di luar.
"Maru cepat kita menuju Akhira! Aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya!"
Maru pun menginjak gas mobil, sehingga mobil melaju dengan cepat. Arata pun menyuruh beberapa pengawal untuk segera ke tempat Akhira berada. Disisi lain Lili serta Minami sedang melakukan pemeriksaan di sebuah gedung yang sedang dia garap.
Melihat Fumiko yang ketakutan Akhira berusaha membuatnya tenang, dia berkata sebentar lagi akan ada bantuan. Fumiko pun lega dengan perkataan Akhira. Dalam hatinya, dia tidak ingin membuat Akhira kesulitan.
Beberapa orang menghampiri mobil Akhira, mereka menyuruh Akhira dan Fumiko untuk keluar. Akhira pun menuruti apa mau mereka, namu dia tidak mengijinkan Fumiko untuk keluar dari dalam mobil.
"Siapa kalian sebernya? Apa mau kalian? Dan siapa yang menyuruh kalian?!"
Mereka menyeringai, tidak menjawab pertanyaan yang dilayangkan oleh Akhira. Tanpa basa-basi mereka langsung menyerang Akhira. Tinjuan dan tendangan dilayangkan pada Akhira.
Akhira memilih bertahan dengan serangan mereka, sembari melihat celah untuk membalas serangan mereka. Serangan mereka sedikit melemah, Akhira pun mulai melayangkan tinjuannya lalu melayangkan tendangannya.
Satu persatu musuh terjatuh, akan tetapi mereka masih bisa berdiri dan bersiap menyerang Akhira kembali. Fumiko yang melihat ada seorang musuh yang hendak menikamnya dari belakang, bergegas keluar dari mobil lalu mendorong musuh yang membawa senjata tajam.
Musuh tersebut jatuh tersungkur, Akhira menyadari bahwa Fumiko sudah berada di dekatnya. Dia langsung melindungi Fumiko, dia tidak bisa bergerak dengan leluasa. Karena dia belakangnya ada Fumiko yang harus dilindungi.
Akhira pun tersudut, dia terus bertahan sampai Arata tiba membantunya. Beberapa menit kemudian Arata tiba bersama Maru, mereka pun langsung menyerang para musuh yang mengelilingi Akhira.
Satu per satu musuh berjatuhan, mereka pikir semua itu akan berakhir. Namun perkiraan mereka salah, musuh semakin bertambah. Mereka menghubungi untuk mengirimkan bala bantuan.
"Maru kamana para pengawal? Kenapa mereka belum tiba disini?!"
Teriak Arata pada Maru, dia kesal kenapa pengawal yang di kirim belum tiba juga. Mari tidak tahu apa yang harus dia jawab, setiap menghubungi mereka selalu tidak berhasil. Apakah terjadi sesuatu pada para pengawal.
Whuuss!
Seorang musuh menendang ke arah Mari, dia berhasil menghindar. Lalu dia membalas balik dengan melayangkan tinjuannya disertai tendangan. Seorang pengawal berhasil menghubungi Maru, dia berkata bahwa mereka dihadang oleh musuh. Sehingga mereka belum bisa ke lokasi Arata dasar ini, Maru pun memberikan informasi itu pada Arata.
Arata yakin ini semua sudah direncanakan, cuma dia penasaran siapa yang berada di balik semua ini. Dia tahu bahwa Akhira banyak musuh, tapi musuh-musuhnya tidak akan bertindak senekat ini.
Mereka bertiga kembali berkelahi sekaligus melindungi Fumiko yang sama sekali tidak bisa bela diri. Seberapa kuat mereka melumpuhkan musuh, mereka tetap terpojok. Karena musuh selalu bertambah.
Lili beserta Minami hendak kembali ke kantor, dia melewati sebuah jalanan sepi. Dia tidak menyangka akan melihat sekelompok orang sedang mengepung 3 orang pria dan 1 wanita.
Lili pun melihat kembali kerja mereka, ternyata benar yang dikatakan oleh Minami. Dia menyuruh Minami untuk mendekati mereka, Minami pun menuruti perintah Lili.
Minami pun menghentikan mobilnya, para musuh memperhatikan siapa yang hendak mengganggu mereka. Arata menyadari yang berhenti adalah mobil Lili.
Minami keluar terlebih dahulu, selanjutnya Lili keluar dari dalam mobil. Para musuh meremehkan kedua wanita ini, mereka berpikir kalau Lili wanita biasa saja.
Tanpa sepatah katapun Lili berlari, lalu melayangkan tendangannya setelah itu dia melayangkan tinjuannya. Melihat Lili sudah mulai beraksi, itu membuat Minami semakin bersemangat. Minami pun mulai melancarkan serangannya.
"Sayang apa kau perlu bantuan dariku?!" Lili berkata pada Arata
Arata tersenyum mendengar perkataan Lili, dia pun kembali bersemangat. Dia sangat senang melihat Lili beraksi kembali. Maru serta Akhira pun kembali melakukan serangan pada para musuh.
Fumiko terkejut melihat Lili yang bisa ilmu bela diri, karena selama ini Fumiko melihat Lili seperti wanita biasa. Perkelahian semakin sengit, mereka saling melayangkan tendangan dan tinjuan.
Whuuss!
Brugggg!
Arata terjatuh terkena tendangan dari salah seorang musuh, Lili yang melihat itu bergegas mendekati Arata. Dia membalas musuh yang sudah menendang Arata. Musuh tersebut terjatuh oleh tendangan yang dilayangkan oleh Lili.
Lili pun membatu Arata untuk berdiri, dia merasa khawatir dengan Arata. Arata sudah terlihat kelelahan, "Apakah kau masih bisa berdiri?!"
Arata mengangguk, dia berusaha berdiri lalu bersiap untuk kembali bertarung. Lili tersenyum dia masih bisa melihat semangat di mata Arata untuk bertarung.
Satu per satu musuh berjatuhan, mereka sudah tidak berdiri lagi karena sudah tidak memiliki tenaga untuk kembali bertarung. Melihat para musuh sudah bisa diatasi, Maru menghubungi pihak berwajib mengenai penyerangan ini.
Beberapa saat kemudian tibalah beberapa pengawal Arata, mereka terlihat sudah lemas dan terlihat luka lebam pada tubuh mereka. Dia yakin mereka berhasil membereskan semuanya lalu menuju posisi Arata.
Salah seorang pun menceritakan semua kejadian yang menimpa mereka, disaat mereka hendak menuju lokasi penyerangan. Mereka dihadang oleh beberapa kelompok, sehingga mereka datang terlambat.
Arata tidak mempermasalahkan hal itu, yang penting saat ini semuanya sudah terkendali. Arata pun memutuskan untuk kembali bersama Lili, sedangkan Maru menunggu pihak keamanan untuk mneguruh para musuh yang sudah dilumpuhkan.
"Siapa sebenarnya yang menyerang kalian?!" Lili bertanya pada Arata.
Arata tidak tahu siapa yang menyerangnya, namun Arata mengatakan bahwa mereka lebih dulu menyerang Akhira dan Fumiko. Sedangkan dia serta Maru datang untuk membantu Akhira.
__ADS_1
Lili mendengar kan semua cerita Arata, dia pun berpikir siapa yang ingin mencelakai mereka. Kutanyakan pada araya apakah Akhira memiliki musuh yang bisa bertidak ekstrim.
Arata menjawab, Akhira memang memiliki banyak musuh. Namun semua musuhnya tidak akan berani senekat ini. Biasanya mereka hanya menyerang perusahaan yang dipegang oleh Akhira.
"Aku antar kalian pulang ke rumah ya!"
Ucapan Minami membangunkan ku dari lamunan ku yang memikirkan siapa yang menyerang Akhira. Kulihat Arata sudah lelehan dan ada luka lebam, Lili pun menyetujui usulan Minami.
Setelah mengantar Lili kembali pulang ke rumah, Lili menyuruh Minami untuk segera pulang ke rumah. Dia tidak usah kembali lagi ke kantor, Minami pun mengangguk.
***
Sebenarnya dia ingin ke rumah sakit dulu untuk melihat keadaan mamanya. Namun dia tidak ingin membuat mamanya khawatir dengan luka yang ada ditubuhnya.
Diapun memutuskan untuk kembali ke rumah, dalam hatinya dia sungguh lelah. Apalagi nanti di rumah dia harus berhadapan dengan Toru.
Tibalah Minami di rumah, dia langsung memasuki kamar. Dia berniat untuk membersihkan diri, pikirannya melayang entah kemana. Sehingga dia tidak menyadari bahwa Toru sudah duduk diatasnya sofa. Minami menyimpan tas dengan sembarang lalu melepaskan pakaiannya satu per satu. Lalu dia berjanji perlahan menuju kamar mandi.
"Apa kau sedang menggodaku hah?!"
Minami terkejut mendengar suara Toru di dalam kamar, dia memalingkan wajahnya guna melihat apakah yang dia dengar itu benar Toru.
Ternyata benar itu Toru, Minami bergegas masuk ke kamar mandi. Dia tidak menyangka bahwa Toru sudah pulang dari kantor. Biasanya dia tiba saat malam hari, sedangkan sekarang masih sore.
Toru tersenyum melihat betapa cerobohnya dia, membuka pakaian dengan tidak melihat sekeliling. Dalam benak Toru, malam ini dia ingin menikmati Minami.
Pirasat Minami pasti malam ini Toru akan berniat buruk padanya, entah mengapa muncul pirasat seperti itu. Minami pun membersihkan badannya, kakinya terasa sakit. Mungkin itu efek dari tendangan musuh yang mengenai kakinya.
Minami pun keluar dari kamar mandi, dia sudah tidak melihat Toru. Mungkin Toru pergi, dia berharap agar Toru tidak kembali malam ini. Karena malam ini dia benar-benar ingin istirahat.
Minami pun merebahkan badannya diatas ranjang, tidak terasa dia pun tertidur. Toru yang memasuki kamar melihat Minami sudah tertidur, dia tidak terima jika dia belum tidur maka Minami tidak boleh tidur.
Toru mengunci pintu kamarnya, lalu dia membuka pakaiannya satu persatu. Setelah itu dia naik keatas ranjang, setelah itu dia mulai menegang kedua tangan Minami lalu mengikatnya.
Minami terbangun, dia menyadari bahwa kedua tangannya sudah terikat. Dia berusaha melepaskan ikatan ditangannya, namu itu sia-sia. Dia berusaha menggerakkan kedua kakinya, namu tidak bisa karena Toru sudah mengikat kedua kakinya juga.
Toru mulai menyerang Minami dengan melayangkan kecupan dibibir, Minami berusaha menghindar dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. Toru dengan cepat memegang kepala Minami dan memaksanya untuk menerima kecupannya.
Minami menggigit bibir Toru hingga berdarah, agar Toru menghentikan tindakannya. Bukannya berhenti, Toru semakin beringas dia menggigiti bagian leher Minami lalu menjalar keseluruhan tubuh.
Dia menggigit bagian tubuh Minami yang dia inginkan, Minami mangan semua rasa sakitnya itu. Jika dia teriak maka Toru akan semakin berisik kejam. Dia hanya bisa diam menahan rasa sakit sembari menangis.
"Dengar jika kau mengigitku kembali maka aku akan mengigit seluruh bagian tubuhmu yang kuinginkan!"
Entah mengapa setiap melihat air mata Minami itu membuat Toru merasa menang. Karena selama ini tidak ada satu wanita pun yang berani menolaknya.
Minami semenjak awal tidak ingin menikah, dia menolak pernikahannya dengan Toru. Pernah sekali Minami mencoba lari dari Toru, namun dia berhasil tertangkap Toru.
Setelah itu Minami terpaksa menikah dengan Toru, karena dia tahu bahwa Toru adalah penyebab ayahnya tiada. Ayah Minami berhutang pada Toru untuk biaya pengobatan istrinya. Namun entah apa alasannya sehingga ayah tiada.
Setelah itu Toru mengancam akan membuat mama Minami tiada, jika dia tidak mau menikah dengannya. Akhirnya Minami pun bersedia menikah dengannya. Minami tahu jika dia menikah dengan Toru hidupnya akan semakin menderita.
Toru terus saja melakukan hal-hal yang menyebabkan Minami kesakitan, semakin Minami merasakan kesakitan dia semakin menikmati semuanya. Entah sejak kapan Toru merasa bahwa melihat Minami kesakitan dia merasakan kenikmatan.
Tapi jika pada wanita lain yang dengan mudah dia dapatkan, dia tidak pernah melakukan hal-hal yang dilakukan pada Minami. Entah dendam apa yang ada dalam hatinya, sehingga tega berbuat seperti itu.
Toru pun menghentikan semua serangannya kepada Minami setelah merasakan puas. Dia pun melepaskan ikatan ditangan dan kaki Minami, dia berkata agar dia tidak diijinkan untuk menolak keinginannya.
Setelah itu Toru pergi keluar menuju ruang bacanya, jika sedang memikirkan sesuatu Toru selalu berada di ruang bacanya. Tidak ada seorangpun yang diperbolehkan masuk kesana. Kecuali kepala pelayan untuk membersihkan ruang baca.
Toru terduduk di kursinya, dia memandangi sebuah foto. Akhirnya dia pun masuk kedalam lamunannya. Dia mengingat semua kejadian yang sudah terjadi.
"Inilah pembalasanku padamu! Jangan harap kau bisa lepas dariku! Minami!"
____________________________________________
Hai para pembaca setiaku, maaf kalau membingungkan ya, yang ingin tahu kelanjutan Alin dan Alex bisa lanjut baca di "Pembalasan si Kembar Wibowo" sudah bisa di baca ya, selamat membaca 😊😉
__________________________________________
Jika ada yang ingin ditanyakan padaku tentang karya dan bisa langsung menghubungi ku via akun Instagram.
Klik search di Instagram dengan nama akun :
@macan_nurul
__ADS_1
Sekali lagi terimakasih untuk kalian semua 💋💋 jangan lupa ya like dan komen ya juga vote ya 😉 jangan lupa juga jadikan favorit ya 😉 😉